Selasa, 14 Juni 2011

MAKA BERPIKIRLAH, MONYET ....

(Tulisan ini pernah dimuat dalam rubrik Kolom Majalah PAKAR Vol. IV. No. 1 edisi Januari-Februari 2007, halaman 50-51)


Manusia adalah makhluk yang menarik. Itu kata Plato.

Di satu sisi, filosof Yunani kuno itu melihat ada substansi dalam diri manusia yang selalu gandrung terhadap alam ide, alam ‘’atas’’, abadi dan terhormat. Manusia mengetahuinya secara tersamar. Ibarat orang bawa obor di dalam gua, dia melihat bayang-bayang di dinding gua itu sebagai samar dan semu, meski dia tahu persis bahwa itu adalah bayang-bayang dirinya sendiri. Di sisi lain, Plato juga melihat ada substansi lain dalam diri manusia yang selalu cenderung menggeluti alam ‘’bawah’’, sifatnya dayus, gelap, tidak kekal, kurang terhormat.

Kedua substansi ini saling tarik-menarik. Kata Plato, itu ibarat dua ekor kuda menarik satu pedati: kuda yang satu selalu ingin terbang dan menarik pedati ke atas, semantara kuda lainnya senantiasa menarik pedati ke bawah. Siapa sais pedati? Akal pikiran, kata Plato. Jika si sais cerdas dan cermat, kedua ekor kuda itu bakal bisa dikendalikan dan pedati akan berjalan seimbang.

Orang dengan mudah menemukan kesamaan antara filsafat Plato ini dengan ajaran Islam. Banyak ustadz dan guru ngaji di surau, misalnya, mengingatkan kita tentang adanya hawa nafsu yang inheren dalam diri manusia. Hawa nafsu ini –substansi di mata Plato -- selalu mengajak pada kejahatan, kerendahan budi pekerti, dengan kenikmatan sesaat sebagai iming-imingnya. Setelah itu bisa ditebak. Si ustadz biasanya segera mengingatkan jamaahnya tentang peran nurani yang juga inheren dalam diri manusia, yang selalu mengajak manusia melakukan kebaikan. Akal pikiran biasanya selalu cocok dengan bisikan nurani ini – meski kebanyakan orang pura-pura tuli dan cenderung menuruti kata hawa nafsu.

Konsep inilah yang membuat manusia, dalam Islam, jadi punya tanggung jawab penuh atas apa saja yang mereka putuskan. Mereka bebas menurunkan jiwa yang terjebak dalam jasad kasar mereka ke derajat apa saja, entah setaraf dengan tumbuh-tumbuhan, setingkat binatang, atau semulia martabat malaikat. Tentu itu dengan konsekuensinya sendiri-sendiri. Pendek kata, eksistensi manusia diukur dari penuhnya kebebasan yang mereka peroleh dan penuhnya tanggung jawab yang harus mereka pikul. Dalam kalimat Tuhan, ‘’Beruntunglah orang yang menyucikan jiwa. Dan merugilah orang yang menistakannya.’’

Jika Plato hanya membuat dikotomi adanya jiwa rendah dan jiwa tinggi yang tarik-menarik dalam diri manusia, beberapa filosof Muslim, misalnya Ibnu Sina, mengembangkan pemikiran itu lebih detil dan menarik. Kata mereka, dalam diri manusia terdapat tiga jiwa – tumbuh-tumbuhan, binatang, dan malaikat. Manusia bebas memilih jiwa mana yang mau dia kembangkan. Karena itu, lagi-lagi mereka harus bertanggungjawab atas pilihan eksistensial mereka.

Pikiran ini bukan cuma menarik, tapi juga bisa terkesan main-main kalau orang tak serius merenungkannnya. Buat sebagian ini malah sulit dimengerti. Bagaimana mungkin manusia bisa sederajat tumbuhan-tumbuhan? Tapi begitulah faktanya. Seperti manusia, tumbuh-tumbuhan juga makhluk hidup. Ia punya hasrat untuk makan, minum, tumbuh berkembang mempertahankan keturunannya – sebagian malah lewat aktivitas seks dalam cara yang berbeda.

Sampai di sini, bukankah tak ada beda antara manusia dan tumbuh-tumbuhan? Kalau pun ada, itu karena manusia memiliki dan menggunakan kelima alat inderawinya, mencabut kakinya dari tanah, lalu bergerak dan berlari. Tapi, bukankah monyet juga bisa? Ya, monyet juga bisa bergerak dan berlari, makan dan minum, melihat, mendengar, meraba dan merasa seperti manusia. Cara monyet beraktivitas seksual malah sama dengan manusia. Bahkan, dengan tempurung otak yang tak terlalu besar, monyet mampu mengembangkan daya khayalinya: ia gesit menyerang, mempertahankan diri, juga membangun piramida sosial lengkap dengan struktur pemimpin dan yang dipimpin.

Nah, kalau begitu, apa beda antara manusia dan monyet?

Kalau obrolan ini kita hentikan sampai di sini, jawabnya tentu tak ada beda. Apalagi anatomi monyet – lebih-lebih anggota serumpunnya yang lain semisal Gorila, Simpanse, Gibon atau Orangutan – tak jauh berbeda dengan manusia.

Tapi, seperti kata seorang kawan mengutip Aristoteles, manusia bisa berpikir; bahkan berpikir tentang apa saja -- tentang masa lalunya, masa sekarang, juga masa depannya. Pengertian berpikir di sini luas, tidak melulu berarti memikirkan jawaban soal-soal ujian. Ada keajaiban ketika seseorang berpikir, terutama ketika dia berpikir tentang masa lalu, masa depan, dan masa sekarangnya. Karl Jaspers (1910-1969) malah mewanti-wanti agar manusia selalu merenungkan masa lalunya sebagai landasan dalam menentukan masa depannya. ‘’Man must know what he was, to realize what he can be,’’ kata Jaspers. ‘’His historic past is inevitable basic factor of his future.’’

Berpikir tentang masa lalu dan masa depan berarti berpikir tentang yang tak tampak, yang gaib. Memikirkan besok makan apa buat mereka yang tak punya duit termasuk berpikir tentang yang gaib, sama ketika orang berpikir bagaimana jiwa mereka yang bakal tidur panjang di alam kubur nanti bakal dibangkitkan kembali, lalu berjalan, lalu entah tertunduk lesu atau mendongak girang ketika kemilau cahaya Tuhan menerangi Gurun Mahsyar tempat mereka dikumpulkan. Ada keasyikan tersendiri – sampai mabuk dalam ekstase kata Al-Hallaj -- ketika kita berpikir tentang masa depan – suatu ‘masa’ yang benar-benar jauh di depan.

Berpikir tentang masa sekarang tak kalah asyik. Kita malah lebih sering terjebak di dalamnya: berpikir tentang yang nyata, yang mewaktu dan meruang, terpenjara oleh kesadaran detik dan menit, terjebak dalam kesadaran terbit dan tenggelamnya Matahari; pokoknya pikiran sehari-hari -- mulai dari memilih merek sabun mandi sampai gemar duduk berjam-jam di bangku diskotek menikmati goyang penyanyi dangdut.

Singkat kata, Aristoteles benar bahwa berpikir adalah segala-galanya buat manusia. Ia menyebut manusia sebagai hayawaan naatiq alias binatang berpikir. Rene Descartes malah punya jargon yang lebih ekstrem dan populer, cogito ergo sum – aku berpikir maka aku ada. Demikian besarnya peran berpikir buat makhluk manusia, sampai-sampai Allah menganggap manusia yang mengabaikan potensi berpikirnya lebih hina dari binatang di dunia ini seraya menjebloskan mereka ke neraka Jahanam di akhirat nanti. ‘’Sesungguhnya Kami jadikan isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka punya akal tapi tidak digunakan untuk berpikir, punya mata tapi tak digunakan untuk melihat, dan punya telinga tapi tak digunakan untuk mendengar. Mereka seperti binatang, bahkan lebih sesat lagi. Mereka adalah orang-orang yang lalai.’’ (QS 7:179)

Pendek kata, kata kawan tadi, kekuatan berpikir inilah yang membuat manusia luar biasa sekaligus membedakannya dengan monyet. Potensi berpikir inilah yang membuat manusia – bukan monyet – mampu meraba dasar laut dan menari di atas bulan, melubangi kawah gunung dan menguruk danau, atau merancang masa depannya menjadi apa saja. Tuhan tidak sedang tidur ketika Ia berkata: ‘’Telah Kami ciptakan manusia dalam sebaik-baiknya bentuk.’’ (QS 95: 4)

Ukuran ‘’terbaik’’ di sini tentu bukanlah semata fisik, tapi juga terutama nonfisik. Toh, banyak juga orang tergila-gila dengan fisik anjing sampai membuat fesitival anjing segala, atau begitu marah ketika anjing disia-siakan – meski mereka diam saja ketika ratusan ribu manusia tak berdosa di Bosnia, Irak, Afghanistan dan banyak tempat lainnya dibantai secara lebih terhina ketimbang anjing.

Jika pendapat kawan tadi benar, berarti cuma berpikirlah satu-satunya faktor yang membedakan manusia dengan monyet!

Maka, berpikirlah, monyet! Engkau akan diterima dalam komunitas manusia.

Berpikirlah, monyet! Manusia tak akan lagi sesumbar bahwa merekalah makhluk terbaik di jagad raya ini.

Berpikirlah, monyet! Engkau tak akan lagi cuma berkelahi dengan taring dan cakar, tapi dengan panah, tombak, pedang dan senjata nuklir.

Berpikirlah, monyet! Engkau akan mampu bermain golf di bulan.

Berpikirlah, monyet! Engkau bisa menikah di dasar lautan, atau bertukar cincin kawin sambil bergelantungan di payung terjun.

Berpikirlah, monyet! Engkau akan ngobrol lewat satelit dari hutan tropis Borneo dengan saudara iparmu di gunung-gunung Skandinavia atau hutan-hutan Afrika.

Berpikirlah, monyet! Engkau akan terkesima melihat indahnya kehidupan di perut ibu, terkesiap ketika alat kelaminmu disunat, menjadi pengantin dalam akad nikah berdasar cinta, lalu berharap bisa segera tidur panjang di dasar kubur yang dingin sambil tersenyum ingin segera melihat wajah Allah SWT di Gurun Mahsyar ….

Tapi, monyet tetaplah monyet. Anda tak bisa berharap banyak dari monyet. Amanah untuk menerima kemampuan berpikir begitu berat buat monyet. Tapi tidak untuk manusia. Mereka justeru makhluk berpikir.

Karena itu jangan berhenti berpikir, kalau Anda tak mau disebut .....monyet!

Jakarta, 4 Januari 2007
Oleh Helmi Hidayat · 16 Januari 2009

 Catatan Admin ttg Helmi Hidayat::

Beliau adalah sosok kakak sekaligus ustadz (guru) bagi Admin, alumni PonPes Gontor thn 1983 ini melanjutkan kuliahnya  ke IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta - angkatan 1990, kemudian mengambil gelar Master of Arts-nya (S2) di The University of Hull - Social Anthropology. Pernah menjabat sbg Senior Editor di Republika Daily Newspaper dari Oktober 1992 - Maret 2003. Si "Abang" -begitu sapaan akrabku, meski sebagian besar sahabat memanggilnya Ustadz- yg lahir di Jakarta tanggal 26 April 1965 ini, sekarang memusatkan tenaga dan fikirannya sebagai Dosen, disamping beragam kegiatan sosial keagamaan lain tentunya. Lebih jelasnya ikuti penuturan abangku berikut ini:
Sejak 1990-2003, saya adalah wartawan di dua media, Pelita dan Republika. Kini saya mengabdikan diri dalam dunia ilmu pengetahuan sebagai dosen di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Universitas Muhammadiyah Jakarta. Di bidang media, saya kini menjadi salah satu narasumber tetap TVRI acara keagamaan, HIKMAH PAGI, yang ditayangkan pagi hari pukul 05:00-06:00; di Jak TV saya presenter program SILATURAHIM, ditayangkan setiap Jumat pukul 17:30 dan Sabtu pagi pukul 05:30. Di organisasi, saya menjabat salah satu ketua Baitul Muslimin Indonesia, organisasi sayap Islam Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.

Untuk mengenal lebih jauh ide dan pemikirannya-yg cerdas, lugas, kadang terkesan beringas dan tdk jarang tampil agak sedikit "sexy"- silahkan sahabat klik atau klik saja judul tulisan diatas - khusus tuk tulisan ini - Admin akan mengantar sahabat langsung ke blognya.  

Catatan Admin tuk sobat (pengunjung blog ini) ttg tulisan bang Helmi   "MAKA BERPIKIRLAH, MONYET......"
Tugas pertama yang agak berat tuk admin adalah "membumikan" kata2 pd tulisan diatas agar bisa diserap dan disergap oleh sahabat yg kebetulan-maaf-tdk seberuntung bang Helmi dan Helmi2 lainnya dlm hal latar belakang pendidikan, yaa.. minimal mau IQRA lah biar ga alergi sama tulisan2 yg agak susah dikunyah.  ("Lagian siapa jg seeh... yg ngasih tugas ke elo...?!", kata yg baca sewot- hehehe nyantai aja bro, ini cuma sharing kok)

Ada juga sobat admin yg sebetulnya cukup cerdas tuk "sekedar" mencerna tulisan2 spt itu-tp malas, (ngapain sih baca yg kaya gitu, mikirin kerjaan aja dah pusing.... hehehe sah-sah aja sih argumennya. "Siapa jg yg maksa lu baca...!"- waaah giliran adminnya yg sewot neeh..)
Nih sob ane bilangen yee... kalo kita sering2 baca yg kaya gitu berarti kita sering "mengolahragakan nalar" kan sehat tuh bisa fresh mikirnya, jangan ngutang mulu ente pikirin... ha ha ha.... sotoy jg nih admin, padahal justru utangnya admin bejibun!)

Lhaa.. kapan mulainya nih?  ayo ah... tarik mang.....!

Dengerin dulu.. eeeh salah.. baca dulu nih penjelasan Admin. Maksudnya bukan mengambil intisari tulisan itu trus ditulis disini.. apalagi menerjemahkan aliea-per-alinea maksud dari tulisan diatas... (enak di elu ga enak di gue... ga pinter2 dong lu.... sama kaya Adminnye  hehehe.... becanda sob, maklum.. kalo dah siang gini memorinya rada lemot malah kadang2 nge-heng..!).

Disini admin cuma mo kasih tips/cara biar bisa dan biasa ngunyah bacaan kaya gitu...

Coba lihat judulnya cukup menarik kan? karena ada "saudara" kita disebut disitu. (Enak aja sodara lu kalee...)
Itu trik penulis profesional biar tulisannya menarik dan dibaca...coba pikir deh,  masa ente rela sih dibilang "Monyet"? trus kalo ga rela..? ya baca tulisannya biar ngerti, kalo blm ngerti juga?  ya Mikir dong lebih keras lg... tp ane males mikir.. trus kalo ga mau mikir...? ya berarti ente sama dong dengan...... (yaaah ga tega deh ngomongnye) trusin aja ya.....

Pertama kita baca tulisannya sdh langsung dihadapkan sama org yg namanya serem2 ada Plato, Aristoteles, Karl Jaspers, Rene Descrate, dll. tenang aja sob... mereka cuma para "tukang" filsafat yg biasa disebut filosof, ga beda sama "tukang" insinyur, tukang bangunan bahkan tukang sayur- sama2 mikir! (bedanya cuma apa yg dipikirin.... Plato suka mikirin utang ga seeeh?.)
Pokoknya ga masalah bro jgn malu bertemu mereka trusin aja deh bacanya... anggap aja kita sedang "ber-arung jeram".. ikuti aja arusnya kalo ketemu batu atau nyangkut itu biasa jgn nyerah kalo blm sampe. Ok...
Dengan kata lain.. kalau pas lagi enak2 baca, trus ketemu sama kata2 yg aneh..., ya jangan berhenti trus klik youtube, kapan kelarnye ente baca? malah yg dah dibaca lupa lagi... tul ga bro...? bagusnya ditulis deh tuh tuk nambahin perbendaharaan kata ente ntar belakangan baru cari deh dikamus atau tanya sama Om Google. Nah.... yg kaya gitu namanya metode scanning (awas jgn tanya artinya yaa admin jg bingung).

Jadi baca satu alinea trus kalo ada yg ga ngerti tulis. begitu trus smp abis bacanya. Masa sih dari -misalnya- dari 100 kata dlm satu alinea ga ngerti 70%-nya... jgn2 ente bukan org Indonesia lg.
Nah.. kalo dah selesai bacanya dan blm ngerti jg-krn ada kata2 asing td -cari deh tuh artinya.... trus baca sekali lg... pasti lebih paham dari sebelumnya. "Tapi sob..., males banget kalo harus buka2 kamus buat cari arti kata yg kita ga ngerti.." paling gitu cara ente ngeles. (padahal admin dulu jauh lebih parah... malasnya... he.he.he).
Paling ga bro dengan kata2 yg keren yg tadi...,  malem minggu (biar duit rada cekak) kan bisa begaye... biasalah didepan bokin... atau didepan cewe yg ente mo tembak dgn bhs. yg intelek.  Tapi awas nih jangan cuma tau artinya doang.., bro jg harus bisa meletakan kata tsb dalam kalimat dengan tepat dan benar! dan itu butuh latihan membaca artikel berbobot secara berkesinambungan -tumben nih admin ngomongnya rada lurus...

Coba deh bro bayangin kalau kita  bertandang kerumah camer (calon mertua) berbekal kosa kata yg keren-keren, TAPI ga tau cara nempatkan katanya. Misalnya kita datang tuk memperkenalkan diri ke-camer: " Om saya datang kesini sekedar ingin menunjukan "eksistensial" saya yg sarat dengan "anatomi dan potensi" diri, saya harap Om tidak mengadakan "dikotomi" thd saya karena "substansi faktualnya" adalah....... " Admin yakin  camer langsung bilang:  "stop...!" trus manggil si "honey" yg ikut bengong denger mantra2 ente.. sambil tanya: "Lu ga salah neng... bawa berondong apek kaya gitu, nemu dimane lu..? sementara sang bunda yg dari tadi ikut menyimak, terduduk lemas di sofa (untung ga pingsan)

Jadi Pointnya sob, ada banyak manfaat yg bisa kita petik dari kebiasaan dan kegemaran membaca disamping bisa menambah wawasan juga untuk merefresh otak kita yg jenuh memikirkan segala macam (mudah2an ga di pakai berlatih berfikir ttg gimana cara korupsi yg baik dan benar atau selingkuh yg aman terkendali) he..he..he.. mulai error nih admin. Sebentar.... ngopi dulu yaaa....

Sekarang Admin rada serius...!

Apa yg diuraikan oleh bang Helmi -melalui tulisan diatas- sepertinya mengalir begitu saja tanpa beban dari nalarnya, sehingga sebenarnya cukup ringan bagi pembaca untuk mencernanya. Diawal ia bertutur tentang "alam atas" dan "alam bawah" nya Plato dengan uraian dan contohnya untuk kemudian menyandingkannya dengan ajaran Islam, dengan konsekwensi yg cukup jelas digambarkannya.

Admin tidak bermaksud untuk mengulas isi tulisannya, melainkan menunjukan betapa membaca tulisan2nya menciptakan pengalaman tersendiri -layaknya kita sedang ber-arungjeram- dimulai dengan arus yang tenang untuk kemudian arungi arus yang makin deras dan liar bahkan tak jarang seperti dibentur2 kan pada batu logika yg sulit dihindari. Coba lihat sepenggal contoh ketika penulis berusaha menjelaskan ayat ini:

Tuhan tidak sedang tidur ketika Ia berkata: ‘’Telah Kami ciptakan manusia dalam sebaik-baiknya bentuk.’’ (QS 95: 4)
Ukuran ‘’terbaik’’ di sini tentu bukanlah semata fisik, tapi juga terutama nonfisik. Toh, banyak juga orang tergila-gila dengan fisik anjing sampai membuat fesitival anjing segala, atau begitu marah ketika anjing disia-siakan – meski mereka diam saja ketika ratusan ribu manusia tak berdosa di Bosnia, Irak, Afghanistan dan banyak tempat lainnya dibantai secara lebih terhina ketimbang anjing.

Sesuatu yang pernah atau  sering kita lihat, dengar dan rasakan, dicoretannya menjadi sesuatu yg kadang seperti asing sehingga memaksa nalar kita untuk kembali menoleh kebelakang.

Tulisannya ditutup dengan elok -ibarat memasuki etape akhir menjelang finish  dari wisata arung jeram,
Airnya mengalir cukup tenang tapi dalam, sehingga kita tidak disibukan lagi dengan bebatuan dan bisa menikmati pemandangan indah bait demi bait untaian puisinya meski agak "angker dan garang" sebagai ciri tulisannya.

Jadi kenapa penulis "mengajak" Monyet tuk berpikir layaknya manusia? di balik yang tersurat pasti ada yang tersirat. So... kalau anda jeli -dan mau berpikir- pasti temukan jawabannya.

Akhirnya admin menutup catatannya dengan sebuah support dari bang Helmi: 
"Jangan berhenti, berkreasi  teruslah berkarya, supaya Allah lebih sibuk lagi menggelontorkan pahala-Nya buat kita dan orang2 yg tak pernah berhenti berkarya untuk kemanusiaan karena Dia ..."

Oleh: Ahmad Suganda

Tidak ada komentar:

Posting Komentar