Rabu, 16 November 2011

Kisah Perjalananku: Pesan Terakhir Seorang Supir Truk

Tanjakan Padalarang di siang hari

Lega  rasanya hati setelah lepas dari tikungan terakhir di tanjakan Padalarang yang memaksa tanganku menari mengikuti kelokan demi kelokan tajam di jalan yang terus menanjak. Kadang aku terpaksa sabar mengikuti truk yang merayap terengah memuat batu kapur menapaki tanjakan yang cukup terjal, meski hatiku sebenarnya mengumpat,  
  • “Bagaimana mungkin kendaraan yang mengeluarkan asap hitam pekat itu bisa lolos UJI/KIR !” 
  • “Bagaimana pula jika remnya tidak berfungsi  dengan baik ?”
Mengingat asap yang semakin  pekat  hampir tak dapat ditembus lampu halogenku dan aku terlambat menututup jendela  yang sejak awal tanjakan kubuka tuk hirup udara segar, maka beberapakali aku "meminta ijin" untuk mendahului dengan memainkan Dim (lampu jauh) tapi karena jarak antar tikungan cukup pendek, berkali-kali pula sang supir tak mengijinkanku tuk mendahului dengan isyarat lambaian tangannya.
Mereka para supir truk tentu orang yang kenal medan, tindakanku yang spekulatif hanya akan menimbulkan bencana dan aku tak ingin perjalananku berakhir disini.

Kuputuskan untuk menjauh dari “Big Brother” - tulisan yang tertera pada bak belakangnya -    ada juga tulisan lain dengan aksara yang lebih kecil diatasnya  yang setidaknya menghibur kekesalanku dan memaksaku tersenyum sendiri, “Kutunggu Jandamu” dan satu tulisan lagi dibawahnya "Roda Berputar, Dapur Lancar".

Setelah agak lama menjauh sambil mengusir asap yang berbau solar keluar, kutekan power windows tuk menutup semua kaca samping dan ambil ancang-ancang mendahuluinya sebelum tikungan berikutnya, tiba tiba pandanganku terhalang, semua gelap!  Kali ini bukan karena asap hitam tapi seperti kabut pekat.

Ya Tuhan..! aku lupa hidupkan AC, karena terbuai oleh segar dan dinginnya udara pagi pegunungan yang jarang kunikmati. Sambil menurunkan setengah bukaan kaca dan menekan switch AC, aku mengumpat kebodohanku sendiri. Rupanya suhu diluar yang jauh lebih rendah mengundang butiran embun bermain dikaca.

Lamunanku terhenti, ketika melihat traffic light didepan, ada petunjuk jalan yang besar berwana hijau melintang dengan gagah membelah jalan, aku memilih menghindari kota Bandung dan segera belokan stir ke kiri memasuki jalan Tol Padaleunyi (Padalarang-Cileunyi) yang  hanya sekitar 35,6 km panjangnya dan ketika itu belum lama diresmikan . Tak lama beranjak, di depan sudah terlihat gerbang (pembayaran) Tol. Kulirik jam digital pada dash-board menunjukan angka 4. Itu berarti 2 jam sudah menyusuri jalan sunyi, Tol Jagorawi-Ciawi-Puncak-Cianjur-Padalarang

“Hampir subuh”, kataku bergumam, sambil mengurangi kecepatan masuki gerbang tol Padaleunyi yang dibangun Desember 1987 – 30 April 1992 itu.
         
Gerbang Tol Padalarang di siang hari.
Lagi-lagi aku terkejut sekaligus senang melihat pemandangan yang tidak biasa, ketika kuturunkan kaca samping tuk membayar, ternyata penjaga tolnya wanita muda.... cantik pula.
Tidak biasa...? Ya..., bukankah shift malam biasanya untuk laki-laki? Ooh... mungkin ini bagian dari ‘promosi’ untuk Tol yang baru beroperasi, entahlah...

Kulihat spion tengah, ternyata tak ada kendaraan lain selain aku dan sebuah sedan polisi yang siaga diparkir bersebelahan dengan pos/kantor Jasa Marga.

“Amaan....”, pikiran usilku muncul.

Diusiaku yang lebih dari seperempat abad  ketika itu dan belum juga punya “gandengan” rasanya perasaan itu wajar dan normal saja. Yaah.... namanya juga usaha.

“Selamat Pagi pak....”, sapa  si Neneng ramah tapi cukup membelah sunyi, namanya memang tertera jelas diatas saku bajunya.  Tapi rasanya kelembutan suara dan keramahan senyum  Neneng agak “ternoda” karena dia memanggilku dengan sebutan “Pak”.

“Pagi Neng...”  Jawabku datar terganjal kecewa.

 “Ada uang pas, pak...?”, tanyanya masih dengan senyum manisnya.

Hadeeuuh..... “Pak” itu lagi yang kudengar. Kalau saja kau sapa aku dengan panggilan Bang, Mas atau Kak apalagi Aa,  bukan cuma ‘uang pas’ bahkan ‘uang tidak pas’ plus kartu namapun akan rela kuberikan. Apakah hanya itu yang diajarkan ‘bos’mu...., jika pria kau panggil “Pak” dan wanita kau panggil “Bu”. Protes itu cuma kupendam dalam hati karena mungkin menurut Neneng seharusnya aku sudah menjadi bapak.

“Sebentar saya cari,” jawabku singkat.

Disini usilku berperan. Sebenarnya, bukan uang pas yang ku cari, sengaja aku malah  mencari nominal terbesar agar dia sibuk menghitung kembaliaannya. Sementara aku bisa agak berlama-lama menatap wajah manisnya, sambail memasang jerat asmara.

“Maaf Neng, semuanya seperti ini...,” kataku agak jaim sambil sodorkan 100 ribuan padahal hanya tersisa beberapa lembar saja di dompet.

Dia hanya tersenyum menerima uang itu sebaliknya aku malah cemberut, maksud hati “memamerkan” uang licin berbahan plastik (polimer) itu  dengan membeberkannya lebar-lebar, apa daya uang itu pula yang menghalangi kehalusan jemarinya dari tanganku.

Aku kagum dengan keterampilannya bekerja, jemarinya sibuk menari diatas keyboard, matanya  menatatap tajam ke arah monitor sementara mulutnya terus berbicara sambil sesekali melirik kearahku, mungkin sekedar memastikan kalau aku masih ada. Ia pasti berbicara padaku karena tak ada orang lain disitu. Tapi sepertinya aku terlalu khusyu’ menatapnya hingga tak mendengar apapun karena mata dan hatiku sibuk menelusuri inci demi inci paras manis mojang Priangan ini. Selama dia bicara aku hanya menangkap 2 kata: jurang dan truk. Maka ketika ia sodorkan kembalian dan karcis sambil mengatakan,

“Terima Kasih Pak..., selamat jalan”.

Aku malah balik bertanya, “maaf Neng..., tadi Neng ada sebut jurang dan truk. Ada apa ya..?"

Kali ini si Neng yang melongo, bingung dan pasti kesal, matanya membulat, bibirnya  terkatup rapat. Sumpah... pasti bukan karena terpesona melihat ketampananku (itu fitnah). Dia pasti kecewa merasa diacuhkan, kalau saja boleh marah dia pasti teriak, “Woooii.... dari tadi gue nyerocos, kemane aje loe!”

“Pak...., tadi saya bilang ada kecelakaan, truk yang masuk jurang” katanya tetap berusaha ramah.

Oh ya...., timpalku sekenanya sambil pura-pura sibuk memasukan kembalian kedalam dompet, karena merasa tak enak hati. Tak kulanjutkan tanyaku yang masih banyak tersimpan, dimana? sudah dievakuasi belum?, ada korban apa tidak?, dll.

“Mari Neng....,” aku pamit sambil sambil bersodaqoh dengan senyum.  Ku injak gas perlahan tapi Corolla merah marunku tetap enggan beranjak,  kulihat lampu indikator brake pada panel masih menyala merah tanda rem tangan belum dilepas. Hahaa.. bukan cuma tuanmu, rupanya engkaupun betah berlama-lama disini kali ini kulimpahkan kesalahanku padanya. Berjalan perlahan, kututup rapat kaca samping, menutup malu.

Acara pernikahan kerabat di sebuah desa yang berjarak 300-an km dari tempatku itu memang baru di mulai pkl. 10:00 pagi, tapi targetku adalah 4 jam diperjalanan dan 4 jam untuk istirahat melepas penat, sebelum prosesi akad nikah

Jalan tol Padalenyi di siang hari
   
Sengaja alunan musik yang agak nge-beat kuputar sekedar melepas rasa jenuh,  adapun rasa kantukku sudah hilang di usir senyum si mojang geulis tadi.  Mengemudi seorang diri memang menjemukan, apalagi menyusuri jalan tol yang sepi menjelang subuh seperti ini.

Jarum pada speedometer  hampir menunjukan  angka 120 km/jam. Upss... rupanya hentakan musik ini, tanpa sadar turut menghentak kaki hingga menekan pedal gas agak dalam. Jalan dengan aspal hot-mix yang mulus ini sepertinya disediakan khusus untukku,  hanya ada satu dua mobil yang melintas di seberang jalur  berlawanan yang menuju Jakarta, sedang pada lajurku tak terlihat ada teman, baik di depan atau dibelakang. Lajur kiri masih terlihat basah bekas guyuran hujan, kecepatan seperti ini pasti lebih cepat menuntunku kearah Rumah Sakit.

Kepingan CD kuganti, kali ini mas Ebiet yang mengusik rasaku.
“Perjalanan ini... terasa sangat menyedihkan..... Sayang engkau tak duduk disampingku kawan....” 
Yah... “Berita Kepada Kawan” dan berita yang kudapat dari si Neng tadi rupanya  ampuh meredam kecepatan  menjadi 80 km/jam, cukuplah...

Tak sampai setengah jam aku sudah berada dipintu keluar Tol dekat perempatan Cileunyi. Aku agak menyesal tak menanyakan dimana TKP kecelakaan itu. Kalau ada di arah Cadas Pangeran, aku akan menghindar dengan berbelok ke kanan mengambil jalur Nagrek ke arah Malangbong berputar ke arah Sumedang karena desa yang kumaksud berada diantara keduanya, begitu sebaliknya. Akhirnya kuputuskan tuk lurus ke arah Cadas Pangeran, selain jarak yang lebih singkat, pemandangan yang indah, udara yang sejuk akupun beberapa kali melewati jalur ini disiang hari. Aku merasa akrab dengan jalur ini. 

(Cadas Pangeran adalah nama suatu tempat, kira-kira enam kilometer sebelah barat daya kota Sumedang, yang dilalui jalan raya Bandung—Cirebon. Pemberian nama ini terkait dengan pembangunan Jalan Raya Pos Daendels [Anyer-Panarukan] yang melintasi daerah ini. Karena medan yang berbatu cadas, lima ribuan jiwa pekerja kehilangan nyawanya. Hal ini membuat marah penguasa Kabupaten Sumedang, Pangeran Kusumadinata IX (1791-1828) yang lebih populer dengan sebutan Pangeran Kornel, dan ia memprotes Daendels atas kesemena-menaan dalam pembangunan jalan itu. Lalu terjadilah peristiwa Pangeran Kusumah Dinata bersalaman dengan tangan kiri menyambut tangan kanan Marsekal Daendels, sementara tangan kanan siap menghunus keris; seperti tergambarkan pada patung di Ciherang yang menghiasi jalan raya Bandung – Sumedang memasuki segmen Cadas Pangeran.)
  

“Jalur Maut” begitu julukannya ketika itu, jalan yang sempit dengan tebing batu (Cadas) yang tinggi disatu sisi, dan jurang yang dalam disisi lain dengan banyak tikungan yang “nyaris patah” lebih dari 90 derajat.

Pada siang hari, jika kita menoleh kesisi jurang, hanya ujung pohon tinggi yang terlihat jauh dari jalan entah berapa puluh meter kedalamannya. Sehingga jika ada dua kendaraan besar berpapasan, maka yg berada disisi tebing harus berhenti mengalah dan merapat mampersilahkan kendaraan lain disisi jurang untuk melaju. Pada tanjakan tertentu tak jarang sang kenek harus berlari mengikuti laju mobilnya sambil membawa ganjal dari balok yang besar. Pada waktu itu untuk kendaraan besar, memang tak ada alternatif tersingkat lain untuk  Bandung – Sumedang selain melewati jalur ini.

Sayup-sayup kumandang adzan subuh terdengar.... masih sangat sepi jama’ah shalat subuh di masjid yang terletak dipinggir jalan itu. Padahal ada puluhan tempat kost mahasiswa disekitar situ, mengingat letaknya yang relatif dekat dengan salah satu perguruan tinggi ternama di Indonesia milik Dept. Dalam Negeri, yang kerap diberitakan miring karena kesadisan mahasiswa seniornya.

“Baru ya dek, mampir di mesjid ini,” tanya seseorang sambil menepuk pundakku ketika berjalan kearah pintu keluar  masjid, ba’da shalat subuh.

Ketika menoleh, aku mengenalinya sebagai imam yang tadi memimpin shalat sekitar 20-an jamaah itu. Bacaannya tartil, tajwidnya tepat, makhrojnya pas.  Setidaknya pantas kalau para jamaah yang menyalaminya tadi memanggilnya ustadz. Belum sempat menjawab sapanya, disusul lagi pertanyaan kedua,

“Mau ke arah Sumedang atau ke Jakarta nih”?, dengan logat Sundanya yang medok.
Tadi, pada waktu kubelokan mobilku ke pelataran parkir di depan masjid, sang ustadz memang belum hadir, sehingga ia tak tau dari arah mana aku datang.

“Eeh.. iya ustadz, saya mau ke arah Sumedang,”, jawabku agak gugup diberondong pertanyaan seperti itu.

“Kelihatannya buru-buru ya...?”

“Aah.. nggak juga tadz.”

“Sumedangnya dimana?”

“Di satu desa sebelah tenggara Sumedang yang berbatasan dengan Majalengka.”

“Ooo... paling tinggal satu setengah jam lagi dari sini, kalau nggak buru-buru kita ngobrol aja dulu disini... baru juga jam 5”

Aku cuma mengangguk dan kamipun duduk diberanda mesjid beralas hambal warna hijau.

“Rumah saya yang itu...,” katanya memulai percakapan.

Ooo... ternyata cuma terhalang satu rumah dari mesjid, kataku dalam hati.

“Sebentar saya mau minta bikinin kopi sama gorengan dulu yaa... biar seger “ katanya sambil beranjak.

“Ga usah repot-repot, ustadz”, jawabku basa-basi. Padahal dalam hati bilang “agak cepat ya, Ustadz...”

Langkahnya masih tegap, wajah lumayan ganteng usianya pasti belum sampai 50 thn-an. Begitu ramah, baik dan santunnya ustadz ini. Kalau saja ia punya anak gadis, pasti iapun cantik  pintar dan ramah seperti ayahnya, mudah-mudahan nanti yang menyajikan kopi itu anak gadisnya. Tak perlulah bersolek, karena kata ayahku, “kalau kamu mau melihat wajah asli seorang gadis, lihatlah pada waktu dia baru bangun  tidur”.  Hehehee.... aku senyum-senyum sendiri mengingat nasehat itu, gadis mana yang mau menampakan diri pada saat itu, kecuali ada kebakaran.

Satu lagi nasehat ayahku yang kuingat, “kalau mau  dapat gadis yang sholehah, carilah ditempat yang baik dimesjid, pesantren misalnya jangan dibioskop apalagi diskotiq.  ”Hmm.... gimana kalau di gerbang Tol, ayah.....?”  hehee...  lagi-lagi aku senyum-senyum sendiri. Rupanya udara dingin ini membawa  lamunanku pergi kemana-mana, “ngelantur” istilahnya.

Tapi ada satu nasehat ayahku yang tak pernah kulupa sampai saat ini tentang “strategi menjerat gadis” Ssttt... itu cuma istilahku. “kalau kamu benar-benar ingin dapat wanita yang baik, maka perbaiki dulu dirimu, sebab Allah hanya akan memasangkan laki-laki yang baik/shaleh dengan perempuan yang baik/shalehah.”

Kadang aku merenung agak lama memahami nasehat demi nasehat beliau, yang rupanya tak sabar ingin segera mendapat cucu dariku, entah mengingat usiaku atau karena aku “dilangkahi” dua orang adikku yang telah memberinya 2 orang cucu.

“Maaf..., kelamaan ya dek?”, suara itu datang dari arah depanku. Tidak keras tapi cukup mengejutkanku yang sedang bercengkrama dengan lamunan. Kecewa..., ternyata pak ustadz sendiri yang membawa baki berisi dua gelas kopi dan sepiring gorengan.

“Oh.. nggak kok tadz, maaf nih... saya jadi merepotkan.”, lagi-lagi jawaban klise, karena hatiku sebenarnya mengharap hidangan itu bahkan dibenakku terpikir, kenapa bukan anak gadis ustadz aja yang disuruh.

“Kemarin putri saya yang kuliah di Unpad pulang...” katanya sambil duduk. “Horee....  hatiku bersorak suka cita” ternyata dugaanku benar, ustadz ini punya seorang putri. Kopi dan gorengan yang tadinya siap ku sikat, kulirikpun tidak. Aku pura-pura tenang menyimak meski jantungku gegap gempita. .

“Silahkan diminum dulu kopinya dek...,” katanya mempersilahkan, sambil melanjutkan, “nah putri saya ini kebetulan suka masak..., termasuk gorengan ini dia yang bikin.” 
Aku hampir berbarengan mengangkat gelas kopi itu, tapi aku urungkan dan ganti dengan mencomot comro (panganan terbuat dari singkong yang dihaluskan dan isi oncom didalamnya sebelum digoreng) demi mendengar bahwa putrinyalah yang buat. Aku membayangkan tangan halusnya pada comro.

“Kopinya masih panas tadz,  saya coba gorengannya aja dulu.” Kataku berkilah karena ingin segera mencoba gorengan buatan si cantik... tak tahu laah.. dibenakku mojang inipun tak jauh parasnya dari Neneng dan mungkin berjilbab. Ups..... hampir saja comro itu kulepas, ternyata lebih panas dari kopi !

Pak ustadz cuma senyum melihat aku yang dibuat repot oleh comro. Agar tak kelihatan terlalu menggebu hasrat tuk tahu tentang putrinya, aku memperkenalkan diri adapun namanya aku sudah tau jama'ah memanggilnya ust. Rahmat setelah berdiskusi tentang beberapa hal  baru kemudian  kulontarkan pertanyaan sederhana tapi menjurus.

“Emang dah semester berapa sekarang si Eneng tadz?” (Eneng/Neng=Nduk dlm bhs. Jawa)

“Dia baru semester IV, namanya Zahratunnisa..., teman-teman kampus memanggilnya Nisa tapi kalau dirumah biasa dipanggil Zahra atau neng Rara”, anaknya agak pemalu dan manja, ustadz terus melanjutkan celotehnya tapi seperti biasa aku justru sibuk menghitung berapa lama lagi neng Rara siap disunting. Kuperkirakan saja dia ambil S1 maka dengan PPL dan Skripsi setidaknya 2-3 tahun lagi dia sarjana.

Waduuh kelamaan dong nunggunya kata hatiku sedikit kecewa, padahal belum tentu ortu atau si comro eeh.. si Raranya setuju. Hehehee.... akupun tak mengerti padahal belum pernah melihat bunga itu tapi semerbak wanginya seakan-akan menghampiriku. Biarlah tak kudapat cintamu, setidaknya aku telah meluluh-lantakan comromu. Oh..... dasar jomblo eeh.... cinta.

Kembali aku jaim, pura-pura kualihkan pembicaraan pada warning si Neneng tadi.
“Apa ustadz dengar tentang kecelakaan truk yang masuk jurang”? kataku setengah hati. Karena sebenarnya aku masih ingin menggali lebih dalam lagi tentang Rara. Itu pula sebabnya pandanganku sesekali kutujukan pada pintu depan rumahnya. Semoga saja ada bunga yang keluar dari balik pintu.

“Oh ya... emang beritanya sudah sampai Jakarta yaa..? kejadiannya baru kemarin, ditanjakan yang paling terjal di Cadas Pangeran. Saya baru saja pulang mengajar dekat Masjid Agung (Sumedang) kira-kira jam 4-an lah. Biasanya ngga pernah macet seperti itu. Tapi karena saya bawa motor yaa.. bisalah selap-selip. Saya penasaran, kebetulan petugas polisi  yang juga murid saya ada disitu.

"Assalamu'alaikum..., ada apa Dan...?” (Dan maksudnya Komandan.)

"Wa'alaikumsalam.., ada truk yang masuk jurang tadz.”

“Kapan kejadiannya?”

“Persisnya belum ada yang tahu, mereka rombongan 3 truk dari Medan ke Cirebon. Kemudian bongkar muat barang disana dan langsung menuju Bandung. Dari Cirebon memang tidak berbarengan, tapi mereka berjanji tuk berkumpul lagi di Tanjung Sari. Nah.. kedua temannya ini sudah berkumpul disana sejak jam 7 pagi. Merekapun heran kenapa si korban yang jalan duluan ini belum sampai, mereka tunggu sampai jam 12 siang tadi. Nah singkat cerita ditemukanlah jejak roda yang mengarah ke jurang di ujung tanjakan ini. Melihat TKPnya mobil ini bergerak mundur. Mungkin tidak kuat menanjak.

“Korban sudah dievakuasi”?

“Pengemudi sudah ditemukan tewas terjepit, dan sudah di evakuasi. Hanya saja, menurut rekan-rekannya, dia berdua dengan kernet/kenek. Dia yang masih kita cari, apakah dia keluar menyiapkan ganjal ketika menanjak, lalu kabur ketika truk ini mundur tak tertahankan dan jatuh kejurang, atau dia tetap berada didalam truk dan terpental keluar, sebab posisi truk tertahan 2 pohon besar”

“Kenapa supirnya tak berusaha keluar ketika truknya mundur Dan”?

“Dari jejak roda belakang yg merapat ke pohon besar dipinggir jalan itu, sepertinya si supir sudah berusaha membenturkan bak belakangnya ke pohon tadi agar laju truk tertahan. Tapi sepertinya dia juga berusaha mengerem sehingga pada posisi seperti itu dan dengan muatan seberat itu, maka roda depan agak terangkat dan lepas kendali, hingga mobil tidak berbelok mengarah ke pohon tapi melaju lurus kejurang.”

“Innalillahi wa inna ilaihi raajiuun... semoga keluarganya tabah mendengar musibah ini”

“Oh yaa ustadz, bicara soal keluarganya, ada hal yang membuat saya terharu dan sempat meneteskan air mata. Pada waktu korban ditemukan, dia masih menggenggam kertas yang kelihatannya belum lama dia tulis. “ Polisi itu terdiam sejenak menahan haru, kemudian melanjutkan.

“Rupanya korban tidak langsung tewas pada saat itu juga, ia masih sempat menulis wasiat berupa pesan untuk istrinya, awalnya saya juga bingung bagaimana dia bisa menemukan kertas dan pena tuk menulis, ternyata itu dia dapatkan dari bekas wadah sarung yang berisi surat-surat kendaraan lengkap yang dia ikat pada penghalang cahaya diatas kepalanya” (kelengkapan yang ada dipojok kanan atas setiap kendaraan, yang bisa dilipat/diputar dan berguna untuk mereduksi cahaya matahari yang mengarah langsung ke mata pengemudi).

“Dan, karena saya bukan petugas saya mungkin tak boleh tahu apa isi surat yang membuat komandan menitikkan air mata, apakah bisa diceritakan kembali apa poin dari isi pesan surat itu?”

“Ustadz... tak ada yang rahasia saya kira dari isinya malahan bagus untuk kita, surat itu sudah saya titipkan pada teman satu kampungnya sesama supir agar disampaikan pada istrinya, tuuh... teman-temannya sedang duduk warung itu, mari saya antar.” 

Kami berdua menuju tempat yang ditunjuk itu. “Boleh kami pinjam sebentar surat itu...?”, sapa petugas pada teman korban.

“Silahkan pak, saya punya banyak teman pengemudi yang meninggal karena kecelakaan dijalan, saya sedih tapi tak pernah meneteskan air mata seperti sekarang ini.” Kata teman korban sambil serahkan surat itu ke saya.

Cadas Pangeran ketika longsor (sebelum pelebaran jalan)

Aku yang sudah tak sabar, terpaksa memotong cerita ustadz. “Apakah ustadz masih ingat isi pesan dari surat yang ustadz baca kemarin itu?”

“Suratnya cukup panjang, secara persisnya tentu saya tidak hafal tapi poinnya saya ingat. Tapi jangan khawatir, kemarin saya ijin kepada petugas untuk meng’copy’ surat itu yaa... untuk kebutuhan dakwah saya jugalah...”  kata ustadz tersenyum.

Aku tak tahu harus gembira atau terharu mendengarnya. Yang jelas aku tersentak kaget bercampur senang ketika, ustadz memanggil seseorang.

“Neeeng....!”

“Raraaaa..... !” (belum ada jawaban)

“Zahraaaa... !” teriak ustadz agak keras

“Iya abaah..., maaf tadi Rara di dapur” jawab suara dari dalam rumah lembut.

Aku yang sedari tadi miris dan tegang mendengar cerita ustadz, menjadi plooong, lega, kembali relax rasanya seluruh persendian ini. Sepertinya aku baru saja diurut selama dua jam.

“Tolong bawa surat foto copy-an yang kemaren neng....,” kata ustadz dengan suara yang tidak lagi keras. Sementara aku bersiap-siap dengan kejutan selanjutnya, menatap wajahnya.

“Saya biasanya ngobrol pake bahasa sunda sama Rara, tapi kalau ada tamu yang kurang faham bhs. Sunda, yaa pake bahasa Indonesia saja.” begitu kata ustadz sambil menunggu. Sebelumnya aku memang bilang kalau aku kurang faham bhs. Sunda.

“Yang ini abah...”, kata suara lembut dan manja yang baru saja muncul di depan pintu, sambil menunjukan secarik kertas yang sedikit menghalangi wajahnya..  

Aku tidak tertarik dengan kertas yang diacungkannya meski kertas itu yang dari tadi kutunggu, justru risau kenapa kertas itu menghalangi sebahagian wajahnya... dia berjilbab putih dengan gamis biru atau ungu belum jelas.

“Yaa betul.... bawa kesini neng..,”

Hahaaii.... ustadz tau aja apa mauku. Rara berjalan pelan ke arah abahnya dan kertas itupun tak lagi menutupi wajahnya...Subhanallah.... sulit kugambarkan kecantikannya kalau si Neneng tadi nilainya 7, maka yang ini mungkin 8. (Kalau sekarang..., wajahnya itu mirip sekali dengan artis Meyda Sefira pemeran Husna di film KCB.)
Kali ini nasehat ayahku terbukti..”kalau cari pendamping yang shalehah maka carilah di mesjid jangan di bioskop” sayangnya aku memahami nasehatnya secara tekstual ‘apa-adanya’, sehingga aku sering berargumen  dengan canda ‘disana ngga ada wanita yang kudamba yang ada ibu-ibu pengajian plus nenek-nenek yang sudah bau tanah.’ Biasanya ayahku cuma tersenyum menanggapinya.

“Ini abah..., “ tiba-tiba neng Rara sudah berdiri di dekatku kemudian diduduk bersimpuh disebelah abahnya.

Kali ini aku benar-benar mati kutu.., abahnya  duduk tepat berhadapan denganku bagaimana mungkin aku menatap nakal putrinya yang super geulis ini. Sesekali aku memang berusaha curi pandang mojang yang "hobby" menunduk ini sambil kuingat-ingat lagi pesan ayah, kalau mau lihat wajah asli wanita, lihatlah ketika ia baru bangun tidur (maksudnya sebelum bersolek). Si Rara yang bersimpuh disebelah abahnya dan menghadap kearahku ini nampak baru terkena air wudhu saja, tak ada polesan apapun diwajahnya, benar-benar natural. Kalau dalam kondisi seperti ini saja sudah mampu meruntuhkan hatiku entah bagaimana kalau dia sudah berdandan, rontok mungkin jantungku.  

“Kenalkan ini kak Ahmad dari Jakarta”, kata ustadz ramah, menghalau lamunanku

Terus terang aku ragu di tempatku untuk kenalan yaa.. biasa saja berjabat tangan, tapi inikan didepan ustadz yang juga abahnya, ditambah lagi adat sunda biasanya sekedar merapatkan telapak tangan dan mendekatkannya saja tanpa sentuhan bagi yang bukan muhrim. 
Lalu yang mana yang biasa berlaku disini?
Kulihat neng Rara merapatkan kedua telapak tangannya dan dengan sigap akupun mengikutinya tangan kamipun berdekatan mungkin kurang dari 2 cm jaraknya “Zahratunnisa”, katanya pelan.
Kupikir toh dia sudah tau namaku, maka aku cuma pasang senyum sambil bergumam “ustadz please..... salaman biasa aja deh...”

“Kamu mau bacain ceritanya disini neng...,” tanya abah

“Iyalah.... neng aja deh yang baca... ,” aku menimpali sok akrab.

“Ngga ah.. Rara malu takut nangis disini” jawabnya manja.

"Tapi emang semalam Rara nangiskan waktu habis baca ini?" kata si abah menggoda putrinya

Entah pantulan cahaya mentari yang mulai muncul atau memang dia malu digoda abahnya, kulihat wajahnya merona...dihias sungging senyumnya.. Oooh... rasanya pemandangan Sun Rise di gunung Bromo pun tak seindah ini. Mungkin takut digoda lagi Rara segera beranjak pamit:

“Abah..., kak...,  Rara masuk dulu yaa... temenin umi masak”

“Manggaa... neng...,” jawabku sambil mengiringi langkahnya dengan kerling mataku, sementara abahnya cuma mengangguk.

“Silahkan kalau mau dibaca dek, biar saya bereskan ini dulu” kata ustadz sambil mengangkat gelas kopi yang kosong sementara dipiring yang masih tersisa 2 comro, tak diangkatnya. Aduh ustadz kenapa nggak Rara aja yang beresin tadi sekalian kata hatiku. Rupanya itu cuma alasan saja agar ustadz tidak mengganggu kekhusyukanku membaca.  

Kuharap dua comro tersisa buatan Rara ini cukup memupus bayangan wajahnya yang bermain diatas kertas yang akan kubaca. Akupun membalikan badan ke arah kiblat karena khawatir Rara mengintip dan melihatku menitikkan air mata.

Bismillahirrahmanirrahim....
Akupun mulai serius membaca dan merasakan jika aku yang jadi supir truk itu dalam kondisi kaki yang remuk terjepit, darah bercucuran dan sakit tak terperi. Tak ada orang yang tahu apalagi berusaha menolong. Sementara tangan berusaha menggapai kertas dan pena demi pesan terakhir yang akan dia kirim pada istri tercintanya yang beribu km jaraknya.
Betapa dalam dan agung cinta yang dapat mengalahkan semua rasa sakit itu.

Inilah isi surat itu:

Tak ada orang yang ingin menulis surat dalam kondisi seperti ini, tapi aku cukup beruntung memiliki kesempatan untuk mengatakan apa yang sering lupa kukatakan. Aku mencintaimu sayang...

Kamu sering berkelakar bahwa aku lebih mencintai truk dari pada kamu karena aku lebih banyak menghabiskan waktu dengannya. Aku memang mencintai mesin ini – ia baik padaku. Ia menemaniku dalam masa yang sulit di tempat yang sulit. Aku selalu dapat mengandalkannya dalam perjalanan panjang dan ia dapat melaju cepat. Ia tak pernah mengecewakanku.

Tapi tahu tidak? Aku mencintaimu karena alasan yang sama. Kamu juga selalu menemaniku diwaktu yang sulit di tempat yang sulit.

Ingat truk kita yang pertama? Truk rongsokan yang selalu membuat kita bangkrut. Tapi selalu mengumpulkan cukup uang untuk kita makan. Kamu harus mencari pekerjaan supaya kita dapat bayar sewa rumah dan bon tagihan warung. Setiap rupiah yang kuhasilkan dipakai untuk truk, sementara uangmu memberi kita makanan dan atap untuk bernaung.

Aku ingat, aku pernah mengeluhkan truk itu. Tapi aku tak pernah mendengarmu mengeluh waktu pulang kerja dengan lelah. Aku bahkan meminta uang darimu untuk pergi lagi. Seandainyapun kamu mengeluh, mungkin aku tak mendengarnya. Aku terlalu terlena oleh masalahku sendiri sehingga tak pernah memikirkan masalahmu.

Aku memikirkannya sekarang, semua yang kau korbankan untukku, pakaian, liburan, teman, keluarga.  Kamu tak pernah mengeluh dan entah bagaimana aku tak pernah ingat untuk berterima kasih padamu untuk semua pengorbanan itu.

Saat aku duduk minum kopi bersama teman-teman, aku selalu membicarakan trukku, kendaraanku, pembayaranku. Rupanya aku lupa bahwa kamu adalah mitraku meskipun kamu tak berada bersamaku.
Pengorbanan dan keteguhan hati darimu dan dariku jugalah yang akhirnya membelikan kita truk baru. Aku begitu bangga dengan truk itu hingga rasanya ingin meledak. Aku bangga akan dirimu juga, tapi aku tak pernah mengatakannya. Aku menganggap kamu pasti sudah tahu, ketika aku lupa mengatakannya. Bertahun-tahun selama aku mendera aspal, aku selalu tahu do’amu mengiringiku. Tapi kali ini do’a itu tidaklah cukup. Aku cedera parah sayaaang....

Ini perjalananku yang terakhir dan aku ingin mengatakan semua yang harusnya kukatakan sebelumnya. Hal yang terlupakan karena aku terlalu sibuk dengan truk dan pekerjaan. Aku memikirkan ulang tahunmu dan ulang tahun pernikahan kita yang terlupakan. Acara anak kita disekolah dan undangan resepsi teman yang kau hadiri sendirian karena aku sedang di jalanan. Aku memikirkan malam-malam sepi yang kau lewatkan seorang diri, bertanya-tanya dimana aku berada dan bagaimana keadaanku. Aku memikirkan semua saat aku ingin meneleponmu sekedar menyapa, tapi tak pernah jadi.

Aku memikirkan perasaan ku yang damai karena tahu kamu berada dirumah bersama anak-anak menungguku. Tiap kali ada acara keluarga, kau selalu harus menghabiskan seluruh waktumu untuk menjelaskan kepada keluargamu mengapa aku tak dapat hadir. Aku sibuk mengganti oli, aku sibuk mencari onderdil, aku sedang tidur karena harus berangkat pagi esoknya.
Selalu ada alasan, tapi rasanya alasan itu sekarang menjadi tidak penting.

Waktu kita menikah, kamu tak tahu cara mengganti lampu, tapi setelah beberapa tahun kamu malah tahu bagaimana cara memperbaiki genteng, sementara aku dipelabuhan menunggu muatan. Kamu menjadi montir yang cukup baik, membantuku memperbaiki kerusakan. Dan aku bangga sekali akan dirimu saat aku masuk kehalaman dan melihatmu tidur dimobil menungguku.

Apakah itu jam dua pagi atau jam dua siang kamu selalu kelihatan seperti seorang artis bagiku, kamu cantik sekali. Mungkin aku tak mengatakannya akhir-akhir ini tapi kamu memang cantik. Aku banyak berbuat kesalahan dalam hidupku, satu-satunya keputusan terbaik dalam hidupku adalah ketika aku memutuskan tuk melamarmu.

Kamu tak akan bisa mengerti apa yang menyebabkan aku terus mengemudikan truk, sebenarnya aku juga tak mengerti. Tapi itulah cara hidupku.

Masa susah, masa senang kamu selalu ada, aku mencintaimu sayang.... dan aku mencintai anak-anak. Tubuhku sakit..... tapi hatiku jaaaauhh.. lebih sakit karena kamu tak  hadir saat aku mengakhiri perjalanan ini.
Untuk pertama kalinya sejak kita bersama, aku benar-benar sendirian.... dan aku takut.......
Aku sangat membutuhkanmu dan aku tahu sudah terlambat.
Lucu juga yaa..ternyata yang bersamaku mengakhiri perjalanan hidupku sekarang adalah truk ini. 
Truk terkutuk ini yang mengatur hidup kita begitu lama ternyata truk ini tak dapat membalas cintaku.
Hanya kamu yang bisa.... kamu beribu km jauhnya, tapi aku merasakan dirimu bersamaku disini maniiis..

Aku dapat melihat wajahmu dan merasakan cintamu...
dan aku takut melakukan perjalanan terakhir ini sendirian.....
katakanlah pada anak-anak bahwa aku sangat mencintai mereka
dan jangan ijinkan mereka bekerja sebagai supir truk.

Mungkin cuma ini bidadariku.....
Ya Tuhan..... aku benar-benar mencintainya...

Jagalah dirimu dan ingatlah selalu bahwa aku mencintaimu melebihi segala yang ada dalam hidupku.
Aku cuma lupa mengatakannya..... maafkan aku sayaaang.......

Tuhan.... ampuni aku... jaga keselamatannya untukku.... biarkan kami bertemu disurga-Mu

Aku.... yang begitu mencintaimu.

=======================================================================

Cahaya matahari mulai berjalan merambat di karpet hijau mendekatiku,
seolah ingin mengintip apakah aku dapat merasakan kesedihan yang sama.
Aku memang belum berkeluarga tapi ketika kubayangkan bahwa supir itu adalah aku
dan Rara beserta anak-anak dengan setia menungguku nun jauh disana....
tak bisa kubendung airmata ini.

Rara... kalaupun kita ditakdirkan bersama, bisakah aku memiliki cinta seagung itu?
cinta yang mengalahkan derita,
cinta yang mengalahkan rasa sakit tak terperi.
cinta yang masih terkait meski ajal datang menjemput,
cinta yang tak pernah terucap tapi tertancap jauh dilubuk hati.
Ku akui Rara, cintaku baru sebatas kata entah cinta macam apa yang ku punya.
Begitu cepat ia hadir secepat ia pergi.
Seperti nasehat ayahku, sebaiknya aku memantaskan diri dulu untukmu,
agar Allah memilihku untuk mendampingimu kelak.

Yaa Rabb.... aku akan belajar mencintai-Mu dengan tulus.
Sehingga Kau ijinkan aku... miliki cinta yang agung
yang kan kuberikan pada siapapun pendampingku
termasuk jika Kau pilihkan Rara untukku.


Terima kasih abang supir truk...
aku telah belajar banyak darimu, aku janji kan mampir ditempat perjalanan akhirmu nanti, 
dan berdo'a untuk mu disana.

Jakarta, 161111
AS


(Sebenarnya masih panjang kisah perjalanan ini, tapi berhubung ku letakkan di Label Cerpen, terpaksa dibuat per-segmen. Jadi, sampai jumpa di Thema yang sama dengan Judul yang berbeda)

Minggu, 06 November 2011

Keteladanan Nabi Ibrahim As dan Nabi Isma’il As Dalam Melaksanakan Perintah Allah SWT

( Intisari khutbah Jum’at tanggal, 31 Desember 2006 M)
oleh : Prof. Dr. Nazaruddin Umar

Salah satu dimensi kebesaran Nabi Ibrahim ialah besarnya pengorbanan yang ditunjukkan kepada Allah melalui ketulusannya dalam mengorbankan putra kesayangannya. Nabi Isma’il lahir setelah melalui penantian yang cukup panjang dari keluarga ini.Kisah keluarga Nabi Ibrahim sarat akan pesan-pesan moral. Nabi Ibrahim adalah simbol bagi manusia yang rela mengorbankan apa saja demi mencapai keridhaan Tuhan, rela menyembelih anaknya, bahkan rela mengorbankan diri dalam kobaran api.

Setiap orang mempunyai kelemahan terhadap sesuatu yang dicintainya. Kelemahan Ibrahim terletak pada anak kesayangannya yang sudah lama didambakannya, dan dari sini pula kembali diuji Tuhan berupa godaan setan, tetapi Nabi Ibrahim lulus dari ujian itu. Ia secara tulus dan ikhlas mau mengorbankan putra kesayangannya.Nabi Isma’il adalah simbol bagi sesuatu yang paling dicintai dan sekaligus berpotensi melemahkan dan menggoyahkan iman, simbol bagi sesuatu yang dapat membuat kita enggan menerima tanggung jawab.

Simbol bagi sesuatu yang dapat mengajak kita untuk berpikir subyektif dan berpendirian egois. Tegasnya, simbol bagi segala sesuatu yang dapat menyesatkan kita.Mari kita  mengintrospeksi  dan mengukur diri kita masing-masing. Seandainya kita adalah figur “Ibrahim”, sudahkah kita memperoleh iman setangguh  beliau? Sudahkah kita menunjukkan pengorbanan yang optimal ke jalan-jalan yang diridhai Tuhan?

Jika kita misalnya berada di puncak karir, sudah relakah kita mengorbankan segalanya demi mempertahankan prinsip-prinsip ajaran yang dianut?“Nabi Isma’il” simbol bagi sesuatu yang amat kita cintai, sudah barang tentu kita semua memiliki sesuatu yang dicintai. Boleh jadi “Isma’il-Isma’il” kita berbentuk harta kekayaan, semisal kendaraan baru, rumah mewah, jabatan penting, deposito, atau kekayaan lainnya. Apakah kita sudah rela mengorbankannya untuk mencapai tujuan hidup yang sebenarnya, yaitu mencapai ridha Tuhan?

Jika kita sebagai suami, sudah sanggupkah kita meniru ketangguhan iman Nabi Ibrahim, mengorbankan sesuatu yang paling dicintainya, demi mengamalkan perintah Tuhan? Jika kita sebagai istri, sudah sanggupkah kita meniru ketabahan dan ketaatan Hajar, merelakan suaminya menjalankan perintah Tuhan dan menghargai jiwa besar anaknya? Jika kita sebagai anak, sudahkah kita memiliki idealisme yang tangguh setangguh Nabi Isma’il yang rela menjadi korban untuk suatu tujuan mulia?

Kisah-kisah yang ditampilkan Al-Qur’an sangat patut menjadi pembelajaran buat kita semua. Nabi Ibrahim melahirkan anak paling sejati dalam Al-Qur’an (Q.S. 37. al-Shaffat : 102). Ia bukan hanya anak biologis, melainkan sekaligus anak spiritual. Bandingkan dengan putra Nabi Nuh, meskipun ia seorang putra biologis Nabi, tetapi ia menjadi pembangkang dan kufur. Itulah sebabnya ia dicap hanya sebagai anak biologis, tetapi bukan anak spiritual ayahnya (Q.S.11. Hud : 46).

Fir’aun adalah sosok manusia paling angkuh yang tersebut dalam al-Qur’an, tetapi isterinya mendapatkan pujian sebagai isteri salehah yang beriman (Q.S. 66 At-Tahrim : 11). Bandingkan dengan istri paling pengkhianat dalam Al-Qur’an ternyata istri Nabi Luth dan Nabi Nuh (Q.S. 66 At-Tahrim : 10). Ini merupakan pelajaran penting buat kita bahwa kehebatan atau kelemahan sosok figur dalam keluarga bukan jaminan bagi keluarga lainnya untuk melakukan hal yang sama.

Semoga anak keturunan kita tidak hanya menjadi anak keturunan biologis kita, tetapi sekaligus anak keturunan spiritual kita. Semoga istri/suami kita bukan hanya istri/suami biologis kita, melainkan sekaligus istri/suami spiritual kita.Hari raya Idul Adha ini juga momentum yang baik untuk mempersiapkan generasi milenium ketiga, suatu generasi yang betul-betul terpilih (the chosen people) atau umat pilihan (khairu ummah) menurut istilah Al-Qur’an (Q.S. 4 Ali Imran : 110).

Al-Qur’an memberikan warning bagi kita agar tidak meninggalkan generasi lemah dan tidak punya daya saing : وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka generasi yang lemah… “ (Q.S.  An-Nisa : 9)Sebaliknya, Al-Qur’an memberikan dorongan untuk mempersiapkan generasi yang betul-betul professional, memiliki kemampuan kompetisi yang handal, generasi yang kuat dan terpercaya, sebagaimana dilukiskan dalam al-Qur’an : إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ اْلأَمِينُ
….sesungguhnya generasi yang paling baik yang kamu pilih untuk bekerja ialah generasi yang kuat lagi dapat dipercaya” (Q.S. 28 Al-Qashash : 26)

Generasi al-qawiyy al-amin menurut ulama Tafsir ialah generasi yang sehat jasmani dan rohani, serta memiliki berbagai kecerdasan, keterampilan, dan keunggulan, di samping kejujuran dan amanah. Dengan demikian, generasi untuk milenium ketiga ialah generasi al-qawiyy al-amin, yakni generasi tangguh dan terpercaya.Prasyarat untuk mencapai umat ideal (khairu Ummah) ialah terbentuknya pribadi-pribadi utuh dan keluarga-keluarga tangguh sebagai cikal bakal warga umat.

Sulit membayangkan umat yang ideal tanpa pribadi utuh dan keluarga yang sakinah. Itulah sebabnya Al-Qur’an dan hadis lebih  banyak berbicara tentang pembentukan pribadi dan keluarga, bukannya banyak berbicara tentang masyarakat dan negara.Keluarga sakinah sebagai cikal bakal umat dan warga bangsa yang ideal merupakan obsesi Al-Qur’an.

Keluarga sakinah hanya dapat diwujudkan melalui institusi perkawinan sah dan Allah SWT melarang keras perzinahan. Itulah sebabnya perkawinan dalam Islam, menurut Imam syafi’i, bukan sekedar kontrak sosial (‘aqd al tamlik), melainkan juga memiliki makna sakral (‘aqd al ‘ibadah). Institusi perkawinan menuntut berbagai syarat dan ketentuan agar rumah tangga yang terbentuk kelak melahirkan generasi-generasi pilihan. Keluarga dan rumah tangga yang normal dan utuh berpotensi melahirkan generasi yang tangguh, sebaliknya keluarga dan rumah tangga yang berantakan berpotensi melahirkan generasi yang lemah.

Wajarlah kiranya jika Rasulullah pernah mengingatkan bahwa, “Sesuatu yang halal tetapi paling dibenci Allah ialah perceraian” Perceraian adalah lambang kegagalan sebuah rumah tangga. 

Posted on by Ahmad Suganda

Sumber: 
http://khutbahistiqlal.wordpress.com/2008/03/17/keteladanan-nabi-ibrahim-as-dan-nabi-isma%E2%80%99il-as-dalam-melaksanakan-perintah-allah-swt/ 

 

Haji Mabrur Puncak Keshalehan Manusia

(Intisari khutbah Jum’at tanggal, 06 Januari 2006 M / 05 Dzulhijjah 1426 H)
Oleh : Drs. H. Anshor Syafi’ie, MA


Gua Hira, Jabal Noor

Seorang muslim yang telah menyadari bahwa kelebihan rizki yang ada pada dirinya merupakan amanat Allah untuk didistribusikan secara halal, yang salah satunya adalah menggunakannya untuk beribadah haji. Dengan penuh kekhudhu’an ia mempersiapkan segalanya, baik mental, fisik, dan spiritual untuk mengunjungi baitullah disertai tekad untuk mencapai keridhaan Allah dan mencapai derajat Haji Mabrur yang akan membawahnya ke surga Allah s.w.t., sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w. :

أَنَّ رَسُـوْلَ اللهِ صَلَّي اللهُ عَـلَـيْـهِ وَسَـلَّمَ قَـالَ : اَلـْعُـمْرَةُ إِلَـى الْـعُـمْـرَةِ كَـفَّـارَةٌ لِـمَـا بَـيْـنَـهُمَـا, وَلْـحَجُّ الْـمَـبـْرُوْرُ لَـيـْسَ لَـهُ جَـزَاءٌ اِلاَّ الْـجَـنَّـةَ
Artinya : “Sesungguhnya Rasulullah SAW telah bersabda : Pelaksanaan umrah hingga umrah yang akan datang adalah penebusan dosa yang ada antara keduanya, dan haji mabrur itu tidak ada balasannya melainkan surga” (HR. Muttafaq ‘alaih dari Abi Hurairah).
 
Lebih dari itu, haji mabrur pun diidentikkan oleh Rasulullah s.a.w. sebagai bentuk jihad yang terbaik. Hal ini nampak pada sabda Rasulullah s.a.w. :
Aisyah r.a. berkata : Saya berkata kepada Rasulullah “kami perhatikan jihad itu seutama-utamanya amal kebaikan, tidakkah lebih baik kami berjihad ? Rasulullah s.a.w. bersabda : tetapi seutama-utama jihad ialah haji mabrur (HR Bukhari)
 
Namun, pertanyaan besar yang muncul dalam benak kita adalah : apakah setiap muslim yang berangkat ke tanah suci Mekkah untuk beribadah haji pasti mencapai derajat haji mabrur ? Jawabnya jelas, bahwa setiap manusia akan menerima hasil suatu perbuatan sesuai dengan kualitas usaha yang dilakukannya dalam perbuatan tersebut. Dengan demikian tidak semua muslim yang beribadah haji dipastikan mencapai derajat haji mabrur, bahkan tidak mustahil ada yang tidak mendapatkan pahala ibadah apapun.
 
Marilah kita simak bagaimana ritual-ritual dalam ibadah haji bisa membawa manusia kepada kesejatiannya dan menanggalkan sifat-sifat hayawiniyah-nya yang merupakan wujud konkrit seorang haji yang mabrur :

Pertama, ibadah haji dimulai dengan niat sambil menanggalkan pakaian biasa dan mengenakan pakaian ihram. Di sini nampak, bahwa titik awal ibadah haji adalah menanggalkan berbagai atribut-atribut duniawi yang membedakan status sosial dan ekonomi serta pengaruh psikologis darinya. Secara vertikal hal ini menunjukkan bahwa setiap muslim haruslah memiliki niat tulus ikhlas tanpa kepura-puraan dalam setiap pengabdiannya kepada Allah, dan secara horisontal mereka dituntut untuk tidak membada-bedakan manusia berdasarkan status sosial, ekonomi, ras, bangsa, dan sebagainya. Maka, seorang haji mabrur adalah mereka yang mampu bermuamalah ma’allâh dengan penuh ketulusan dan kejujuran hati tanpa ada kepalsuan, dan bermu’amalah ma’annâs tanpa mengenal perbedaan status apapun.

Terlihat para jamaah haji sedang melakukan tawaf di Masjidil haram mengelilingi Ka'bah
 Kedua, thawaf yang secara formalistik adalah tindakan mengelilingi Ka’bah, namun secara esensial adalah pernyataan manusia bahwa Allah adalah titik orientasi kepatuhan dan perilaku mereka. Dengan kata lain, thawaf mengajarkan setiap haji agar senantiasa menjadikan Allah sebagai titik orientasi segala perbuatan, baik dalam bentuk ibadah ritual maupuan dalam mu’amalah keseharian serta memunculkan kesadaran bahwa dirinya hanyalah unsur kecil dalam jagad raya yang tunduk dan patuh terhadap ketetapan Allah s.w.t.. Maka, seorang haji mabrur adalah mereka yang senantiasa “menghadirkan” Allah dalam setiap aktivitas mereka sehari-hari. Artinya, dalam setiap perbuatan apapun, seorang haji mabrur menjadikan ajaran-ajaran Allah sebagai tolak ukur dilaksanakan atau tidak dilaksanakannya suatu perbuatan, serta menanggalkan sifat sombong dan memunculkan sifat tawadhu’.

Ketiga, sa’i secara praktikal adalah berlari-lari kecil antara shafa dan marwa. Adakah nilai yang dapat diambil dari praktek ibadah yang terkesan seperti oleh raga ini ? setidaknya ada dua nilai yang dapat diambil dan diaplikasikan dari sa’i, yaitu : sa’i mengandung nilai sikap kasih sayang manusia terhadap sesama, yang disimbolkan dari bagaimana Hajar istri Nabi Ibrahim yang karena kasih sayangnya kepada anaknya, Isma’il berusaha mencari air guna melepas dahaga anaknya. Sa’i juga mengandung nilai ikhtiar dan tawakal bagi manusia dalam menjalani kehidupan di dunia, yang disimbolkan dari sikap Hajar yang tanpa lelah terus berusaha mencari air di tanah yang tandus disertai keyakinan bahwa Allah akan menolongnya. Maka seorang haji mabrur adalah sosok yang penuh dengan kasih sayang terhadap sesama dan selalu menyatukan antara ikhtiar dan tawakal dalam urusan-urusannya.

Di Jabal Rahmah inilah diriwayatkan sebagai tempat bertemunya Nabi Adam dan hawa seteah berpisah selama 200 tahun.Di puncak jabal Rahmah ada sebuah tugu yang menandai tempat pertemuan itu, untuk mencapai tempat itu hanya berjarak 150 m dari bawah. Cuma diperlukan waktu 15-20 menit untuk mendakinya

Keempat, wuquf di Arafah merupakan puncak dari ibadah ibadah haji : al-hajju ‘arafah (haji ialah Arafah). Jika kita perhatikan, tidak banyak aktivitas yang dilakukan para haji di Arafah, mereka hanya duduk berzikir, berdoa, dan membaca bacaan-bacaan yang mampu dilakukan. Namun mengapa intinya haji adalah Arafah ? sebab, di Arafah inilah manusia mengintrospeksi kembali segala sifat, sikap, dan perilaku mereka selama ini. Dengan proses muhasabah di Arafah inilah manusia akan mengidentifikasi berbagai sifat hayawaniyah yang selama ini ada dalam dirinya, memohon ampun kepada Allah karenanya, dan bertekad menanggalkannya. Sungguh kekeliruan besar, jika di Arafah ini seorang haji hanya mengahafal bacaan-bacaan yang diajarkan kepadanya tapi pikiran dan nuraninya sama sekali tidak mengintropeksi perbuatannya. Maka seorang haji mabrur bukan saja individu yang senantiasa berzikir mengingat Allah, tapi juga senantiasa mengintrospeksi sifat, sikap, dan perbuatan hayawaniyah yang telah dilakukan, menanggalkannya, dan kemudian memunculkan perilaku mulia.

Adapun puncak dari pembentukan karakter manusia sejati melalui ibadah haji adalah munculnya sikap solidaritas sosial melalui qurban. Qurban yang secara simbolik adalah penyembelihan hewan, secara esensial adalah pemusnahan individualitas dan egoisme manusia untuk kemudian membangun sifat solidaritas sosial dalam dirinya. Maka, seorang haji mabrur adalah yang memiliki kepekaan sosial yang tinggi tidak egois dan individualis serta siap mengorbankan apa yang berharga yang dimilikinya kepada sesama. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Posted on by Ahmad Suganda

Sumber:
http://khutbahistiqlal.wordpress.com/2008/02/09/haji-mabrur-puncak-keshalehan-manusia/

Kamis, 03 November 2011

Kisah inspiratif untuk para istri dan suami

(Sesal dan kecewa memang selalu datang terlambat, tapi sebagaimana pepatah "It's never too late to mend" tak ada kata terlambat tuk memperbaiki diri atau bertobat maka semoga cerita di bawah ini membuat kita mampu belajar bersyukur/mensyukuri atas apa yang kita miliki)

Foto diambil dari: http://www.weberita.com/kisah-paling-sedih.html

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.

Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi,  ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. 

Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. 

Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat  pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya  dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”

Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. 

Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.


Sumber:
http://bundaiin.blogdetik.com/2011/10/07/kisah-inspirasi-untuk-para-istri-dan-suami/

Haruskah Shaum Arafah Sama Harinya dengan Wukuf?

T. Djamaluddin
Anggota Badan Hisab Rukyat Kementerian Agama RI


Terkait dengan perbedaan Idul Adha, saya sudah menjelaskan sebab-sebabnya di


Namun yang masih sering ditanyakan adalah “mengapa kita tidak mengikuti saja wukuf di Arafah?” Persoalan yang paling mendasar adalah apakah ada dalil yang secara tegas memerintahkan shaum Arafah bersamaan saat jamaah haji berwukuf? Menurut kaidah fikih, suatu ibadah hanya dilaksanakan bila ada dalil yang memerintahkannya.

Dalil yang ada (merujuk pada situs HTI) hanya ini:

«فِطْرُكُمْ يَوْمَ تُفْطِرُوْنَ وَأَضْحَاكُمْ يَوْمَ تُضَحُّوْنَ، وَعَرَفَةُ يَوْمَ تُعَرِّفُوْنَ»

Hari Raya Idul Fitri kalian adalah hari ketika kalian berbuka (usai puasa Ramadhan), dan Hari Raya Idul Adha kalian adalah hari ketika kalian menyembelih kurban, sedangkan Hari Arafah adalah hari ketika kalian (jamaah haji) berkumpul di Arafah. (HR as-Syafii dari ‘Aisyah, dalam al-Umm, juz I, hal. 230).

Tidak ada seorang pun yang mengingkari hadits ini bahwa wukuf dilaksanakan pada hari Arafah. Hari Arafah hanya penamaan 9 Dzulhijjah, sama halnya dengan Yaum Nahar untuk 10 Dzulhijjah, dan Yaum Tasyrik untuk 11-13 Dzulhijjah. Karena Yaum Arafah hanya penamaan hari, maka sebagian besar ulama di Indonesia dan Malaysia serta beberapa negera lainnya memahaminya bahwa hari itu bisa ditentukan secara lokal tergantung kondisi hilalnya.

Di wilayah sekitar Arafah, shaum Arafah dilaksanakan bersamaan dengan wukuf karena di sana pun 9 Dzulhijjah. Di tempat lain, shaum Arafah juga dilaksanakan pada hari Arafah (artinya 9 Dzulhijjah) yang ditentukan secara lokal, namun belum tentu bersamaan dengan wukuf. Kalau pelaksanaan shaum Arafah yang tidak bersamaan dengan wukuf dianggap kesalahan, anggapan itu haruslah didukung dalil qath’i yang tegas memerintahkan shaum Arafah saat jemaah haji sedang wukuf. Sayangnya dalil qath’i (tegas) seperti itu tidak ada atau belum saya temukan.

Belum lagi masalah beda waktu untuk wilayah yang jauh dengan Arab Saudi yang juga harus difahami. Tidak sekadar menyamakan hari (misalnya Senin wukuf, shaum juga harus Senin) yang pada dasarnya merujuk pada definisi hari garis tanggal internasional (hasil konvensi manusia), bukan hari menurut garis tanggal qamariyah (murni aturan Allah sesuai sunnatullah). Tanpa pemahaman fisik bulatnya bumi, kita bisa terjebak pada konsep kesamaan hari konvensi buatan manusia dengan mengabaikan hakikat hari menurut kaidah qamariyah. Dengan kata lain, karena ketidaktahuan konsep fisisnya, niat ikhlas menerapkan syariat bisa terbelokkan oleh penafsiran manusiawi yang mementingkan kesamaan hari dalam konsep garis tanggal internasional dan mengabaikan konsep hari menurut garis tanggal qamariyah.

Perbedaan pemaknaan hari Arafah dan implementasinya bisa berdampak pada perbedaan penentuan hari Idul Adha. Hari Idul Adha adalah tanggal 10 Dzulhijjah, arinya keesokan hari setelah Hari Arafah.

Sumber:
http://tdjamaluddin.wordpress.com/2010/11/16/haruskah-shaum-arafah-sama-harinya-dengan-wukuf/

Memahami Perbedaan Idul Adha 1431/2010 dan Keseragaman Idul Adha 1432/2011

Thomas Djamaluddin
Profesor Riset Astronomi Astrofisika/Peneliti Utama IVe di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dan Anggota Badan Hisab Rukyat Kementerian Agama.


Perbedaan Idul Fitri 1432/2011 baru lalu telah mendorong keingintahuan masyarakat tentang sebab terjadinya perbedaan. Walau awalnya banyak memicu ketidaksukaan dengan kritik keras atas kriteria wujudul hilal yang masih diamalkan saudara-saudara kita di Muhammadiyah, namun keriuhan itu ada juga dampak posisitifnya. Masyarakat makin banyak yang menyadari bahwa perbedaan hari raya bukan disebabkan oleh perbedaan metode hisab (perhitungan) dan rukyat (pengamatan), tetapi oleh perbedaan kriteria hisab-rukyat. Di kalangan intern Muhammadiyah  juga mulai tumbuh kesadaran untuk memahami hakikat hisab yang tidak sekadar bertaqlid pada hisab wujudul hilal (asal hilal di atas ufuk), tetapi memungkinkan juga hisab imkanur rukyat (kemungkinan bisa dirukyat).

Untuk penetapan Idul Adha 1432/2011, perbedaan Idul Fitri baru lalu seolah masih terbawa. Banyak dugaan bahwa karena Idul Fitri berbeda, maka Idul Adha mestinya berbeda juga. Nyatanya tidak ada perbedaan. Kok bisa?  Ya, potensi keseragaman Idul Adha 1432/2011 dapat diprakirakan jauh-jauh hari sebelumnya. Metode hisab (baik wujudul hilal maupun imkan rukyat) memang bisa menghitung posisi dan kondisi ketampakan hilal. Jadi, bukan hanya ormas Muhammadiyah yang dapat menghitung jauh hari sebelumnya, tetapi juga semua ormas Islam lainnya. Saat ini hisab hanya memerlukan pengetahuan dasar soal komputer, walau untuk pendalaman nantinya perlu juga pemahaman konsep astronomi. Perangkat lunak astronomi yang dimanfaatkan oleh ahli dan peminat hisab kini mudah diperoleh, baik yang gratis diunduh di internet maupun yang bersifat komersial.

Untuk memahami terjadinya perbedaan dan keseragaman penentuan hari raya, khususnya dalam penentuan Idul Adha yang melibatkan Arab Saudi, berikut ini dibahas hasil hisab awal Dzulhijjah 1431/2010 dan 1432/2011. Visualisasi dalam bentuk kontur hasil hisab menggunakan peta garis tanggal dari perangkat lunak hisab “Accurate Time” oleh Mohammad Odeh yang ditampilkan di dalam situs ICOP (Islamic Crescents Observation Project).


Pertama kita kaji penetapan awal Dzulhijjah 1431/2010. Garis ketinggian bulan nol ditandai dengan kontur yang memisahkan wilayah berarsir merah dan wilayah tanpa arsir. Wilayah berarsir merah merupakan wilayah yang mustahil untuk melihat hilal karena pada saat maghrib bulan telah berada di bawah ufuk. Di wilayah tanpa arsir, bulan telah berada di atas ufuk, tetapi tidak mungkin bisa dirukyat karena cahaya hilal terganggu cahaya senja. Garis merah yang ditambahkan adalah garis ketinggian bulan 2 derajat yang menjadi kriteria imkan rukyat yang disepakati di Indonesia. Atas dasar kontur posisi bulan (atau hilal) tersebut, Muhammadiyah menetapkan bahwa pada saat maghrib 6 November 2010 hilal sudah di atas ufuk (wujudul hilal) sehingga 1 Dzulhijjah 1431 jatuh pada 7 November 2010 dan Idul Adha 10 Dzulhijjah 1431 jatuh pada 16 November 2010. Sementara menurut kriteria imkan rukyat, hilal yang terlalu rendah itu tidak mungkin bisa terlihat dan dibuktikan juga dengan hasil rukyat saat maghrib 6 November 2010 yang tidak berhasil sehingga 1 Dzulhijjah 1431 jatuh pada 8 November 2010 dan Idul Adha jatuh pada 17 November. Itulah keputusan Pemerintah RI saat sidang itsbat. Maka di Indonesia terjadi perbedaan Idul Adha 1431/2010 karena perbedaan kriteria.

Pada sisi lain, Arab Saudi menerima kesaksian pada maghrib 6 November 2010, walau secara astronomi itu tidak mungkin terjadi.Atas dasar klaim rukyat itu, Arab Saudi menetapkan 1 Dzulhijjah 1431 jatuh pada 7 November 2011 sehingga wukuf pada 15 November 2010 dan Idul Adha pada 16 November 2010. Saudara-saudara kita yang merayakan Idul Adha berdasarkan penetapan Idul Adha di Arab Saudi juga melaksanakan Idul Adha 16 November 2010, berbeda dengan penetapan Pemerintah RI. Maka berbedaan Idul Adha juga bisa disebabkan oleh perbedaan penetapan dengan Arab Saudi. Perlu diketahui bahwa di Indonesia sebagian besar ulama berpendapat bahwa shaum (puasa) Arafah dan Idul Adha ditentukan secara lokal. Nama shaum Arafah tidak harus dikaitkan dengan wukuf di Arafah, karena hari Arafah dimaknai secara umum sebagai 9 Dzulhijjah. Sama dengan penamaan hari lainnya, seperti hari Tarwiyah pada 8 Dzulhijjah, hari Nahar (qurban) pada 10 Dzulhijjah, dan hari Tasyriq pada 11 – 13 Dzulhijjah. Pada hari Arafah di wilayah Arafah (di Arab Saudi) dilaksanakan wukuf, sedangkan di tempat lain dilaksanakan shaum Arafah, tidak harus bersamaan harinya, tetapi bersamaan tanggal qamariyahnya 9 Dzulhijjah.


Bagaimana garis tanggal awal Dzulhijjah 1432/2011? Hasil hisab menunjukkan bahwa garis ketinggian hilal 0 derajat dan garis imkan rukyat 2 derajat jauh di sebelah Utara Indonesia. Di wilayah Indonesia ketinggian hilal sudah cukup tinggi, sekitar 6 derajat. Berdasarkan kriteria astronomi, pada saat maghrib 27 Oktober 2011 hilal memungkinkan untuk bisa dirukyat, walau memerlukan alat optik seperti teleskop. Dan itu terbukti dengan hasil pengamatan di Gresik yang saksinya disumpah Pengadilan Agama setempat. Ada saksi lain di Cakung Jakarta Timur dan Bas Mall Jakarta Barat yang tidak disumpah Pengadilan Agama. Dengan hasil hisab dan rukyat itu, Pemerintah pada sidang itsbat menetapkan awal Dzulhijjah 1432 jatuh pada 28 Oktober 2011 sehingga Idul Adha jatuhn pada 6 November 2011. Garis tanggal tersebut juga menunjukkan potensi hasil rukyat di Arab Saudi sama dengan di Indonesia. Dengan demikian seperti diduga sebelumnya keputusan Arab Saudi menetapkan awal Dzulhijjah 1432 jatuh 28 Oktober 2011, wukuf di Arafah pada 5 November 2011, dan Idul Adha pada 6 November 2011.

Alhamdulillah tahun ini Idul Adha seragam, baik secara nasional di Indonesia, maupun bila dibandingkan dengan Arab Saudi. Tetapi suatu saat nanti kita akan dipusingkan lagi dengan potensi perbedaan selama kriteria yang digunakan ormas-ormas Islam berbeda. Marilah kita mencari titik temu kriteria hisab rukyat, sehingga keseragaman hari raya dan awal Ramadhan benar-benar keseragaman yang hakiki, bukan karena posisi bulan yang cukup tinggi yang jauh dari potensi perbedaan. Sedangkan perbedaan dengan Arab Saudi, mungkin suatu saat akan terjadi lagi karena ketampakan hilal bisa saja berbeda antara Indonesia dan Arab Saudi. Tetapi itupun hanya masalah Indonesia lebih dahulu atau belakangan, tidak mungkin sama waktunya dengan Arab Saudi.

Sumber:
http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/11/02/memahami-perbedaan-idul-adha-14312010-dan-keseragaman-idul-adha-14322011/