Kamis, 14 Juli 2011

Marhaban Yaa.... Ramadhan

Sudahkah Kita Ber "Marhaban" dengan sesungguhnya kepada "Ramadhan"?.

Marhaban diambil dari kata dalam Bahasa Arab yang artinya "Selamat datang". Demikian pula dengan ungkapan "Ahlan Wa Sahlan" dalam bahasa kita memiliki arti sama. Tapi dari sisi makna ternyata berbeda.

Apa bedanya?

Ahlan Wa sahlan diambil dari kata "Ahl" dan "Sahl". Ahl berarti saudara atau keluarga, dan Sahl berarti mudah juga berarti dataran rendah. Apabila anda mengungkapkan kata "Ahlan wa Sahlan ya Akhi" kepada teman yang berkunjung ke rumah anda, maka anda seolah menyatakan bahwa teman anda sudah anda anggap sebagai keluarga dan mereka harus mempermudah urusan mereka di rumah anda. Dalam bahasa kita sering kita katakan kepada tamu yang akan menginap di rumah kita dengan ungkapan "Anggap saja di rumah sendiri".

Marhaban diambil dari kata dasar "rahb" yang berarti "luas" atau "lapang". Dari akar kata yang sama dengan "marhaban" dalam bahasa Arab dapat terbentuk kata "Rahbat" yang berarti ruangan yang luas untuk kendaraan agar memperoleh perbaikan atau juga untuk kebutuhan pengendara mempersiapkan segala sesuatu agar dapat melanjutkan perjalanan. Jadi apabila kita mengatakan "Marhaban yaa Ramadhan" yang artinya "Selamat datang Ramadhan" mengandung makna bahwa kita menyambut Ramadhan dengan lapang dada, penuh kegembiraan dan menyediakan tempat seluas-luasnya serta memberikan kesempatan sebebas-bebasnya bagi "tamu" kita untuk hadir dan berinteraksi dengan kita.

Jelas sekali kalau begitu, dari sisi makna ada perbedaan antara ahlan wa sahlan dengan marhaban. Kalau kita kiyaskan kepada sambutan terhadap teman, maka ahlan wa sahlan lebih diarahkan kepada tamu yang membutuhkan kita, membutuhkan tempat berteduh di rumah kita dan kita bertindak sebagai orang yang menolong teman kita. Akan tetapi Marhaban memiliki makna bahwa kita menyambut teman kita yang akan memberikan manfaat yang besar atas kedatangannya di kediaman kita. Sehingga kita dengan suka rela memberikan tempat seluas-luasnya kepada tamu kita tersebut dimanapun dia suka. Karena besarnya manfaat yang akan kita peroleh atas kedatangannya, maka hati kita pun akan dengan lapang dada menerima kedatangannya bahkan hati ini akan sangat merasa senang dan gembira jika tamu kita merasa betah dan ingin selamanya tinggal bersama kita. Sebaliknya kita akan merasa sedih jika tamu kita merasa tidak kerasan berada di antara kita, sehingga kepergiannya kelak pasti akan kita tangisi. Itulah makna Marhaban.

Sangat tepatlah kiranya jika Ramadhan kita sambut dengan Marhaban. Karena orang yang merasa senang dengan kedatangan Ramadhan menurut suatu riwayat, Rasulullah mengatakan akan dijauhkan dari api neraka. Disamping itu, banyak lagi keistimewaan-keistimewaan yang akan diperoleh orang yang menyambut dan menikmati kedatangan Ramadhan. Bayangkan, hanya karena merasa senang saja! Akan tetapi, sudahkah hati kita benar-benar menyatakan marhaban terhadap Ramadhan dalam arti hati ini terasa lapang dan terbuka dipenuhi rasa suka cita? Atau, hati kita sebenarnya terasa biasa-biasa saja walaupun mulut ini mengungkapkan Marhaban ? Atau, hati ini malah menggerutu dengan kedatangan Ramadhan dan berharap segera berlalu karena kedatangannya sangat mengganggu aktifitas kita? Naudzubillah. Hanya kitalah yang mampu mengukur bagaimana suasana hati dalam menyambut datangnya Bulan nan Suci ini. Jika ternyata suasana hati terasa biasa-biasa saja tanpa ada kegembiraan sedikitpun, betapa besar kerugian yang akan diperoleh dan betapa besar penyesalan yang akan datang kelak. Apalagi jika ternyata suasana hati ini malah menjadi gundah dan risau atas kedatangannya. Bukan saja kerugian dan penyesalan yang akan melanda, bahkan suasana gundah dan risau akan terus membayangi hati walaupun bulan Ramadhan telah pergi.

Manusia memang lemah, selalu berkeluh kesah, sulit bersyukur, sering tidak mau memilih jalan yang sesungguhnya mulia karena pengaruh hawa nafsu, dan masih banyak lagi kecenderungan yang membuat mereka jadi sasaran empuk iblis dan syetan untuk dijadikan pengikut dengan iming-iming kenikmatan yang semu. Akan tetapi, manusia juga dibekali akal yang sebetulnya dengan akal tersebut dapat menutupi kelemahan-kelemahan dirinya bahkan mampu membuat mereka kuat, tidak mudah menyerah, mudah bersyukur dan menjadi mulia. Marilah kita ber"Marhaba" atas kedatangan "Ramadhan" dengan sebenar-benarnya "Marhaba" melalui peningkatan amal sholeh dengan jalan mempertajam akal melalui penelaahan dan lantunan Firman Allah dalam Al-Qur'an yang Mulia. Wallahu A'lam.

Oleh: Abah Achmad, pada catatannya di group tertutup FB "Tutur Luhur"
Catatan admin tentang Abah Achmad:
Sahabat dan saudara admin ini biasa di panggil Abah, berasal dari kota kembang Bandung, sosok pria yg mature dan humble ini lahir pada tanggal 1 Juni 1967. Setelah lulus dari SMAN 8 beliau melanjutkan pendidikannya di UPI Bandung jurusan Tehnik Bangunan, dan terus menimba ilmunya disana, gelar S2-nya didapat dalam bidang Pendidikan Matematika,  hingga sekarang beliau tengah dalam proses penyelesaian disertasinya tentang "Pembelajaran Matematika Berbantuan Komputer" yang akan beliau proses di Universty of Sidney atas beasiswa dari DIKTI, admin do'akan semoga diberi kemudahan dan kelancaran dalam meraih gelar Doktornya, Aamiin. Sejak tahun 2007 sampai sekarang beliau mengabdikan diri sebagai Dosen di UNINUS.
Namun ada satu hal yang mengganjal dibenak admin dan tentunya pengunjung blog yang pernah membaca tulisan-tulisan beliau yang tajam, kritis, cerdas dan lugas dalam memaparkan masalah-masalah keagamaan (tulisan/pemaparan yang seyogyanya hanya dapat disajikan oleh orang yang memang benar-benar mendalami ilmu agama) jika dilihat/disandingkan dengan background pendidikan beliau diatas yang notabene "kering" dari pendidikan keagamaan. Untuk itulah admin sekali lagi bertanya dimana abah pernah mendalami ilmu agamanya? Dan inilah jawaban beliau 
(sengaja admin tidak mengedit jawabannya agar kita bisa belajar banyak hal dari seorang yang tawadhu seperti beliau):
"Aduh Kang Ahmad Suganda... Saya jadi malu nih. tapi apakah itu diperlukan? Saya memang tidak mengenyam pendidikan pesantren sama sekali. Saya hanya jebolan pengajian subuh di Masjid Nuurussalam jalan Jaksa di Dewi Sartika Bandung. Tapi Sejak kuliah di Teknik Bangunan tingkat 2 (tahun 1988) saya sudah mengajar (bahasa Inggris dan Matematika) di Pesantren dan mukim di Pesantren sampai sekarang. Alhamdulillah, karena saya sangat senang membaca, saya tak pernah berhenti belajar apakah dari guru-guru yang ada di pesantren Sumur Bandung, maupun dengan cara membaca sendiri. Bahkan saya juga mencari guru Alfiyah dari luar Pesantren yang kebetulan ada. Jadi, kalau dikatakan saya alumni Pondok Pesantren Sumur Bandung Cililin juga bukan. Tapi saya belajar dari guru-guru di Pondok ini iya. Istilah sundanya saya sering: "Ngendagkeun bari mulungan". Belajar dari guru-guru dipesantren yang nota bene sebetulnya rekan satu profesi. Saya belajar bahasa Arab dari Alumni gontor dan Al-Amin yang kita panggil untuk mengembangkan bahasa Arab di pondok kami. Waktu itu saya sudah menjabat Kepala SMA dan Ketua Pendidikan. Walaupun mereka tergolong guru baru, saya juga tidak sungkan untuk bertanya dan langsung belajar bercakap-cakap dengan mereka. Awalnya mereka sering tertawa (tentu saja ditahan) melihat saya ngomong bahasa Arab belepotan. Tapi, saya justru ingin menanamkan pada mereka bahwa belajar itu tidak terhalang oleh kedudukan dan jabatan. Bahkan salah seorang alumni gontor (Dindin Sofyan Abdullah) waktu itu langsung saya angkat sebagai guru bahasa Arab saya walaupun dia masih baru. Itu sedikit pengalaman saya yang tak berarti tapi sangat saya syukuri Kang. Mudah-mudahan tak ada yang membuat Kang Ahmad Suganda kecewa. Hatur Nuhun.."
Demikianlah jawaban yang sekaligus resep bagaimana seharusnya kita belajar, bagi saudaraku yang tak "bergelar" jangan patah semangat karena belajar bukan untuk mencari gelar contohlah sosok abah diatas yang meski kandidat Doktor tapi tak sungkan tuk selalu mencari, bertanya dan menimba ilmunya dari siapapun yang beliau kenal, dan rela melepas segala atribut kebesarannya demi tuk mendapat ilmunya.
Kita teruskan ta'arufnya yaa... 
Pada tanggal  23 Oktober 1988 beliau menyunting wanita pilihannya teteh Petty Fathiyah darinya lahirlah 5 generasi penerusnya (1 putra dan 4 putri). Semoga Kandidat Doktor yg law profile ini senantiasa diberi kesehatan dan kemudahan dalam meraih citanya dan tentunya tuk dapat berbagi ilmunya kepada kita semua. Aamiin.
Haturnuhun abah.... sukses ! 
 
Hadits tentang keutamaan-keutamaan Ramadhan:
من فضائل شهر رمضان...

خطبنا رسول الله صلى الله عليه وسلم في آخر يوم من شعبان فقال : يا أيها الناس قد أظلكم شهر عظيم مبارك شهر فيه ليلة خير من ألف شهر ، شهر جعل الله صيامه فريضة ، وقيام ليله تطوعا ، من تقرب فيه بخصلة من الخير كان كمن أدى فريضة فيما سواه ، ومن أدى فريضة فيه كان كمن أدى سبعين فريضة فيما سواه ، وهو شهر الصبر ، والصبر ثوابه الجنة ، وشهر المواساة ، وشهر يزاد في رزق المؤمن فيه ، من فطر فيه صائما كان مغفرة لذنوبه ، وعتق رقبته من النار ، وكان له مثل أجره من غير أن ينقص من أجره شيء ، قالوا : يا رسول الله ليس كلنا يجد ما يفطر الصائم ، قال صلى الله عليه وسلم : يعطي الله هذا الثواب من فطر صائما على تمرة أو شربة ماء أو مذقة لبن ، وهو شهر أوله رحمة وأوسطه مغفرة وآخره عتق من النار ، من خفف عن مملوكه فيه غفر الله له وأعتقه من النار ، واستكثروا فيه من أربع خصال : خصلتين ترضون بهما ربكم وخصلتين لا غنى بكم عنهما ، فأما الخصلتان اللتان ترضون بهما ربكم : فشهادة أن لا إله إلا الله وتستغفرونه ، وأما الخصلتان اللتان لا غنى بكم عنهما : فتسألون الله الجنة وتتعوذون به من النار ، ومن سقى صائما سقاه الله من حوضي شربة لا يظمأ بعدها أبدا .

الراوي: - المحدث: الهيتمي المكي - المصدر: الزواجر - الصفحة أو الرقم: 1/197
خلاصة حكم المحدث: في سنده من صحح ، وحسن له الترمذي لكن ضعفه غيره

6 komentar:

  1. Tulisan ini diinspirasi oleh materi tentang puasa pada buku Wawasan Al-Qur'an karya M. Quraish Shihab hal 520 terutama tentang makna "ahlan wa sahlan" dan makna "marhaban". Mohon maaf kalau dalam isi tulisannya sumber tersebut tidak disebutkan. Mudah-mudahan komentar ini dapat sedikit menutupi kekurangan tersebut.
    Terimakasih...
    Abah Achmad

    BalasHapus
  2. Hatur nuhun abah, tuk tambahan infonya.

    Wassalam

    BalasHapus
  3. wahh.... saya baru tau tentang ini .......blog ini mnambah wawasan saya..... terima kasih abah ........ hehe ......

    BalasHapus
  4. Makasih Nana dah berkunjung ke blog ini semoga bermanfaat. Sering-sering berkunjung yaa... hehe..

    BalasHapus
  5. Abah emang hebat....................
    seorang ayah juara 1 sedunia, beribu-ribu like bwt abah ^_^

    BalasHapus
  6. siipp.....hatur nuhu abah....

    BalasHapus