Selasa, 27 September 2011

Oleh-oleh dari makam Bung Karno

Pelataran Makam Bung Karno  (gambar 1)
Catatan ini merupakan oleh-oleh seorang sahabat -mba' Intan Wijayanti- dari ziarahnya ke makam Bung Karno yang terletak dikelurahan Bendogerit, Kecamatan Sananwetan, sekitar 2 km ke arah utara pusat Kota Blitar. Makam ini didominan oleh arsitektur 'Joglo'. Bergaya Jawa Timuran dan dikombinasi dengan gerbang candi Bentar. Selain bangunan utama yang berupa cungkup makam Bung Karno, kompleks makam ini juga dilengkapi dengan bangunan-bangunan pendukung yaitu; Gapura Agung, Masjid dan Bangsal; yang dapat membuat para pengunjung betah untuk berziarah dilokasi ini. Ada juga bangunan pelengkap yang terdiri rumah pengurus makam, tempat peristirahatan umum, halaman parkir, dan pertamanan. Kesannya sangat megah, sebesar beliau sewaktu masa hidupnya.

Keterangan diatas sebenarnya bukan hal yang ingin diceritakan oleh Intan, baginya ada yang lebih menarik perhatian untuk di-share kepada pembaca blog ini, yaitu tulisan dibawah yang didapat dari ziarahnya itu.

Tulisan ini -meski berbahasa jawa- menurutnya agak sulit untuk difahami bahkan olehnya sendiri yang nota bene orang Jawa Timur. "Bahasanya tinggi kang", jawabnya singkat ketika admin meminta Ibu Dosen ini untuk menerjemahkan poin demi poin pada tulisan tsb. "Aku terpaksa minta bantuan beberapa orang untuk bantu terjemahkan", ujarnya lagi.

Karena setidaknya ada 2 versi terjemahan, dan admin tidak faham betul bahasanya maka diputuskan untuk mencantumkan keduanya. Itu sebabnya ada "a" dan "b", dimana hasil terjemahan bapak Bambang Hardjono (Yogyakarta) ditandai dengan "a", sedang hasil terjemahan bapak Noegroho Dewo ditandai dengan "b" adapun cak Mat, "c" hanya menyelesaikan beberapa saja krn kondisi beliau yg kurang sehat.

Untuk itu admin menghaturkan rasa terima kasih kepada beliau semua yang sudi meluangkan waktu tenaga dan pikirannya untuk berbagi dengan pembaca.

Catatan:

Patung Bung Karno (gambar 2)
* Mengingat nara sumbernya terdiri dari beberapa orang, maka tentunya hasil terjemahan dibawah ini tidak sepenuhnya sama. Meski demikian semoga satu dan lainnya bisa saling melengkapi sehingga dapat pembaca pahami.
* Diantara pembaca tentunya ada yang mengerti maksud atau makna dari tulisan dibawah, untuk itu jika terdapat kesalahan baik penulisan ataupun makna dari terjemahannya, mohon maklum adanya. Jauh lebih penting tentu adalah koreksinya sehingga bacaan ini menjadi lebih lugas dan membumi.
* Terjemahan ditulis miring



"HAMBANGUN KAPRIBADEN BANGSA KANTHI BUDAYA BUCENG GUYUP"
(MEMBANGUN KEPRIBADIAN BANGSA DENGAN BUDAYA HIDUP RUKUN)


1. Jumbuh kalian dhawuh para Nabi, para Wali dan para bentuah suhada' dalah Gurune kang nyebarake ngelmu Pangeran Kang Maha Suci Meling mring putu buyut leluhur mulyane mulyo dudu bandha donya ingkang angantheni sowan marang Pangeran.

1a. Berpegang pada perintah para Nabi, wali dan para guru yang menyebarkan ilmu kebaikan kepada Allah terhadap anak cucu akan kemuliaan sesungguhnya bukanlah harta dunia yang membimbing kita menghadap Allah.

1b. Sehubungan dengan perintah Nabi dan para wali yang menyebarkan ajaran Tuhan yang maha suci kepada para keturunannya..kemuliaan itu bukan harta dunia yang di bawa kehadapan Tuhan YME


1c. Mengingat petunjuk Rasul dan para ulama tentang Ilmu dari Allah Swt, kemuliaan sejati bukan harta yang bisa mempertemukan hamba dng Allah.

2. Pra Leluhur sowan ngarso Gusti luwih mulya nalika anulat urioe anak turune kang tansah guyup rukun reruntungan tulus ing ati. tan ono sesongkrahan serta tindak dudu tulung tinulung sapadha. tinebihna saking niat srei, drengki luputa ing panadhang.

2a. Para leluhur menghadap Allah lebih mulia jika melihat anak keturunannya rukun tanpa ada perpecahan dan saling tolong menolong kepada sesama, dijauhkan dari iri dengki.

2b. Para leluhur menghadap kepada Tuhan YME lebih mulia ketika memperhatikan keturunannya yang hidup dengan rukun dan damai tanpa ada gesekan yang membahayakan serta hidup saling tolong menolong tanpa di sertai cemburu dan dengki

3. Buceng guyub tansah mengku werdi tandha gegayuhanne wong tuwa. nggayuh guyub nak turune lelambang wohing tuwuh teuwuhan lumahing bumi. ono pala kesempar uga pala gandul, pala pendhem uga sarto rinakit wujud bebucengan sayekti nuwuhne kesantosan.

3a. Kebersamaan selalu jadi harapan orang tua yang menghendaki kerukunan selayaknya pepohonan yang memberi pengayoman, dan menjadikan kesentosaan.

3b. Hidup rukun menjadi doanya dan harapan orang tua......artinya.. seperti buah yang jatuh pun kan jatuh ke tanah..kalau buah terkena kaki/ke tendangpun juga tetap jatuh ke tanah...itu semua harus menuju pada kehidupan yg sentosa...

4. Ana maneh kudu di sarati mawa kurban sato belehan kewan darat wujutanne tambahan kewan banyu beriberan ojo nganti kari. sarono ngedohke balak. raharja jinangkung sumber pitu ujukannya mundhut saking sumur tangga kanan kering.

4a. Ada syarat yg harus dipenuhi yaitu sembelihan hewan korban dan ikan jangan ketinggalan guna menjauhkan dari malapetaka ( tolak bala ), termasuk air 7 sumur dari tetangga .

4b. Syarat berikut..harus menyembelih hewan dan ikan jangan sampai lupa ini adalah untuk menjauhkan kemalangan...juga ambil air sumur dari 7 sumber dari tetangga sebelah menyebelah

5. Panyuwunan kanthi muja-muji marang Gusti maga kasembadan kepenak urip burine, umpama sugih mbrewu bennya golek kudu nastiti, aja mung angger nabrak lali saru siku, elingo marang piwulang sapa nandur bakal ngundhuh tembe mburi kuwi lakonne kodrat.

5a. Memohon dengan doa kepada Allah agar enak hidupnya, semisal kaya biar tetap hati-hati dan hemat jangan sampai asal grusa grusu dan memalukan, ingatlah pada pepatah " siapa menabur dia akan menuai " itulah hukum alam.

5b. Memohon pada Tuhan YME agar di beri hidup tentram kelak..kalau hidup kaya ya jgn sombong..jgn asal2an...ingat kpada SIAPA YG MENANAM..DIA YG MEMETIK....itu adalah kodrat.

6. Mula tansah paring sembah Gusti, Gusti ingkang akarya jagad awujud bebucengane kang aran buceng guyub kang kadamel kanggo mranani guyube keluarga, trusing anak putu, tangga teparo diundang bareng saperlu ngamini guyube kasembadan.

6a. Maka selalu bersujud menyembah kepada Allah yang memiliki jagad raya agar menjadikan kehidupan keluarga selalu rukun sampai ke anak cucu, tetangga kiri kanan diundang untuk mengamini setiap permohonan yang kita sampaikan kepada Allah agar diijabah.

6b. Oleh karena itu selalu berdoa kpd Tuhan YME yang membuat dunia ini agar tentram untuk anak cucu dan keluarga tetangga..dan tetangga diajak untuk mengamini doa tsb...


Intan Wijayanti  (gambar 3)
Catatan tentang Intan Wijayanti

Banyak catatan mba' Intan yang pernah posting ke blog ini, karenanya admin tak perlu repot-repot lagi memperkenalkannya. Jangan kaget kalau dari beberapa notenya yang ada di blog ini tak satupun fotonya yang sama (Ssstt.. jangan bilang-bilang yaa.... meski sudah ijin tapi admin mengambil foto yang  terbaru dan belum pernah ditempel diblog, mumpung banyak stocknya... hehee..)
Oh.. yaa mba' Intan juga berpesan agar disampaikan ucapan terimakasihnya kepada orang yang telah membantunya menerjemahkan tulisan diatas, ini ucapannya: "terima kasih kepada bapak yang sudah ku anggap orangtuaku Bambang Hardjono, pak Noegroho Dewo, dan cak Mat... yang membantu menerjemahkan.... tulisan ini".

Ucapan yang sama telah admin ungkapkan diatas, sehingga pada kesempatan ini admin ingin menghaturkan rasa terimakasih pada mba' Intan Wijayanti, yang tengah malam kemarin direpotkan admin untuk tulisan ini, "Matur suwun, mba'...."



Sumber Foto:
Gambar 1 : baguspewe.wordpress.com
Gambar 2 : mbah Google
Gambar 3 : Akun FB Intan Wijayanti

Sayap Yang Tak Pernah Patah


Menapaki waktu, mencatat Kisah..

Berbicara tentang orang-orang patah hati. Atau kasihnya tak sampai. Atau cintanya tertolak. Seperti sayap-sayap Gibran yang patah. Atau kisah kasih Zainuddin dan Hayati yang kandas ketika kapal Vanderwicjk tenggelam. Atau cinta Qais dan Laila yang membuat mereka 'majnun' lalu mati. Atau, jangan-jangan ini juga cerita tentang cintamu sendiri, yang kandas dihempas takdir, atau layu tak berbalas.

Itu cerita cinta yang digali dari mata air, air mata. Dunia tidak merah jambu disana. Hanya ada Qais yang telah majnun dan meratap di tengah gurun kenestapaan sembari memanggil burung-burung:

O burung, adakah yang mau meminjamkan sayap
Aku ingin terbang menjemput sang kekasih hati

Kita ikut berbelasungkawa untuk mereka. Mereka orang-orang baik yang perlu dikasihani. Atau jika mereka adalah kamu sendiri, maka terimalah ucapan belasungkawaku, dan belajarlah mengasihani dirimu sendiri.

Tetapi.....

Di alam jiwa, sayap cinta itu sesungguhnya tak pernah patah. Kasih selalu sampai di sana. "Apabila ada cinta di hati yang satu, pastilah ada cinta dihati yang lain," kata Rumi, "sebab tangan yang satu takkan bisa bertepuk tanpa tangan yang lain." Mungkin Rumi bercerita tentang apa yang seharusnya. Sementara kita menyaksikan fakta lain.

Kalau cinta berawal dan berakhir pada Allah, maka cinta pada yang lain hanya upaya menunjukkan cinta pada-Nya, pengejawantahan ibadah hati yang paling hakiki: selamanya memberi yang bisa kita berikan, selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai. Dalam makna memberi itu posisi kita sangat kuat: kita tak perlu kecewa atau terhina dengan penolakan, atau lemah dan melankolik saat kasih kandas karena takdir-Nya. Sebab disini kita justru sedang melakukan sebuah "pekerjaan jiwa" yang besar dan agung: mencintai.

Ketika kasih tak sampai, atau uluran tangan cinta tertolak, yang sesungguhnya terjadi hanyalah "kesempatan memberi" yang lewat. Hanya itu. Setiap saat kesempatan semacam itu dapat terulang. Selama kita memiliki cinta, memiliki "sesuatu" yang dapat kita berikan, maka persoalan penolakan atau ketidaksampaian jadi tidak relevan. Ini hanya murni masalah waktu. Para pencinta sejati selamanya hanya bertanya: "Apakah yang akan kuberikan?" Tentang kepada "siapa" sesuatu itu diberikan, itu menjadi sekunder.

Jadi kita hanya patah atau hancur karena lemah. Kita lemah karena posisi jiwa kita salah. Seperti ini: kita mencintai seseorang, lalu kita menggantungkan harapan kebahagiaan hidup dengan hidup bersamanya! Maka ketika dia menolak untuk hidup bersama, itu lantas menjadi sumber kesengsaraan. Kita menderita bukan karena kita mencintai. Tapi karena kita menggantungkan sumber kebahagiaan kita pada kenyataan bahwa orang lain mencintai kita!

Sayyid Quthb, dalam Risalah ila Ukhti Muslimah, pun memberikan gambaran yang serupa dalam hal pemberian dan pengambilan. Beliau memetaforakannya dari keberanian dirinya untuk menghadapi kematian.

“Aku tidak lagi takut terhadap kematian,” ujarnya, “Meskipun ia datang mendadak. Aku sudah mengambil banyak dari kehidupan ini, yakni ‘sudah memberi’. Adakalanya kamu sulit membedakan antara pengambilan dan pemberian, karena keduanya memberikan pengertian dalam satu alam ruhani. Setiap kali aku memberi, setiap itu pula aku sudah mengambil. Ini bukan berarti ada seseorang yang memberikan sesuatu kepadaku, tetapi maksudku, adalah bahwa aku telah mengambil imbalan atas apa yang aku berikan, karena kepuasan dan kegembiraan yang kudapatkan dengan pemberian itu tidak kurang dari kepuasan dan kegembiraan yang mereka dapatkan.”

Maka, seandainya mencintai itu dimaknai sebagai kesempatan memberi dan diejawantahkan dalam tindakan untuk selalu memberi sesuatu, adanya kekuatan dalam hati bahwa harapan adalah sebuah kesempatan yang datang dan pergi, serta posisi jiwa yang tepat dalam memperlakukan ‘siapa’, maka tidak mungkin ada sayap yang patah.

Terlebih lagi jika sayap yang Tuan dan Nyonya miliki itu adalah sayap yang senantiasa terkepak, yang menahan laju angin dan mengangkangi samudera-samudera, yang menolak bumi dan menopang jasadnya untuk membumbung mengangkasa di langit jiwa, yang menantang matahari dan menembus awan-awan kelabu pengundang hujan badai salju. Maka, sayap itu tidak akan pernah patah, selamanya. Bahkan, ia akan mengangkat, melesat, meninggi, menembus alam ruh di langit ketujuh, dimana hanya ada bahagia dan cinta dalam mencintai.

Oleh: Anis Matta

Selasa, 20 September 2011

TAWADHU


“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat-Ku, mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya” (QS. Al-A’raaf/7 : 146).

Tawadhu’ adalah salah satu akhlak mulia yang menggambarkan keagungan jiwa, kebersihan hati dan ketinggian derajat pemiliknya. Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang bersikap tawadhu’ karena mencari ridho Allah maka Allah akan meninggikan derajatnya. Ia menganggap dirinya tiada berharga, namun dalam pandangan orang lain ia sangat terhormat. Barang siapa yang menyombongkan diri maka Allah akan menghinakannya.Ia menganggap dirinya terhormat, padahal dalam pandangan orang lain ia sangat hina, bahkan lebih hina daripada anjing dan babi” (HR. Al Baihaqi)

Pengertian Tawadhu’

Tawadhu’ adalah lawan kata dari takabbur (sombong). Ia berasal dari lafadz Adl-Dla’ah yang berarti kerelaan manusia terhadap kedudukan yang lebih rendah, atau rendah hati terhadap orang yang beriman, atau mau menerima kebenaran, apapun bentuknya dan dari siapa pun asalnya.

Seseorang belum dikatakan tawadhu’ kecuali jika telah melenyapkan kesombongan yang ada dalam dirinya. Semakin kecil sifat kesombongan dalam diri seseorang, semakin sempurnalah ketawadhu’annya dan begitu juga sebaliknya. Ahmad Al Anthaki berkata : “Tawadhu’ yang paling bermanfaat adalah yang dapat mengikis kesombongan dari dirimu dan yang dapat memadamkan api (menahan) amarahmu”. Yang dimaksud amarah di situ adalah amarah karena ke-pentingan pribadi yang merasa berhak mendapatkan lebih dari apa yang semestinya diperoleh, sehingga membuatnya tertipu dan membanggakan diri (Kitab Ihya ‘Ulumuddin, Al Ghazali).

Sekarang ini kesombongan menjadi “pakaian” yang dikenakan banyak orang. Suka membang-gakan diri, merasa tinggi melebihi orang di sekitarnya, merasa orang lain membutuh-kannya, suka memamerkan apa yang dimilikinya, tidak mau menyapa lebih dahulu menjadi fenomena yang mudah dilihat dimana-mana. Padahal kesombongan menghalangi seseorang untuk masuk surga. Rasulullah saw bersabda : Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan, walaupun seberat biji sawi (HR. Muslim).

Mengukur ketawadhu’an

Sa’id Hawwa dalam bukunya Al Mustakhlash fi Tazkiyatun Nafs, menyebutkan ada beberapa percobaan yang dapat dilakukan untuk mengukur apakah di dalam jiwa seseorang terdapat kesombongan atau ketawadhu’an.

1. Hendaknya ia berdiskusi dengan orang lain dalam suatu masalah. Apabila ia keberatan mengakui kebenaran dari perkataan lawan diskusinya dan tidak berterima kasih atas bantuan lawannya untuk mengetahui hal tersebut, maka di dalam hatinya masih terdapat kesombongan. Sebaliknya, bila ia mengakui dan menerima kebenaran lawannya tersebut, berterima kasih kepadanya dan lisannya mengakui kelemahan dirinya dengan tulus, misalnya dengan mengatakan, Alangkah bagusnya perkataanmu terhadap sesuatu yang belum aku ketahui. Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan atas ilmu yang dibukakan oleh Allah untukku melalui kamu!, maka jika hal itu dilakukan berulang-ulang, sehingga manjadi tabiat dirinya berarti ia telah memiliki sifat tawadhu’ dan terbebas dari kesombongan.

Dalam suatu riwayat disebutkan tatkala Umar bin Khatab ra selesai menyampaikan pidato untuk membatasi mahar wanita, seorang wanita berdiri seraya berkata, “Wahai Umar, apa urusanmu dengan mahar kami, padahal Allah saw berfirman, “…sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak…” (QS. 4 : 20). Menanggapi hal itu Umar berkata, “Benarlah wanita itu dan salahlah Umar.

2. Hendaklah berkumpul bersama teman-teman sebaya dalam berbagai pertemuan, lalu mendahulukan mereka atas dirinya, tidak menonjolkan diri di tengah-tengah mereka, dan berjalan di belakang atau di tengah, bukan di depan. Bila hal itu terasa berat, berarti masih ada kesombongan di dalam dirinya. Sebaliknya, jika hal itu terasa ringan baginya, berarti sifat ketawadhu’an telah ada dalam dirinya. Abu Darda ra berkata: “Seseorang akan bertambah jauh dari Allah selama (ia menyukai) orang yang berjalan di belakangnya”.

3. Hendaklah memenuhi undangan orang miskin atau yang lebih rendah statusnya dari dirinya. Apabila ia merasa berat melakukannya berati masih ada kesombongan dalam hatinya. Dalam suatu riwayat dikisahkan, Rasulullah saw melihat ada orang kaya yang duduk di sebelah orang miskin lantas ia menjauh dari si miskin dan melipat pakiannya, maka Rasulullah berkata kepadanya, “Apakah kamu takut kefakirannya menular padamu?” (HR. Ahmad).

4. Hendaklah membawa barang-barangnya atau barang yang dibutuhkan keluarganya sendiri, tanpa dibawakan orang lain. Apabila ia merasa berat untuk melakukan hal tersebut, meski tidak ada orang yang melihatnya maka itu adalah kesombongan dan apabila ia tidak merasa berat kecuali bila dilihat oleh orang banyak, maka ia termasuk riya’ (ingin diperhatikan orang lain). Keduanya merupakan penyakit jiwa dan lawan dari sifat tawadhu.’

5. Hendaklah memakai pakaian yang sangat sederhana. Apabila ia merasa berat melakukannya di hadapan orang banyak, maka ia riya’ dan bila ia tidak mau melakukannya saat tidak dilihat orang banyak, maka itu adalah kesombongan. Zaid bin Wahab berkata, “Saya meilhat Umar bin Khatab ra menuju pasar dengan membawa susu dan mengenakan pakaian yang padanya terdapat empat belas tambalan, sebagiannya tertambal dengan kulit binatang”.

Allah 'alam bisawab.

oleh:  abufaiz97

Sumber

Dari admin tuk penulis:

Ini adalah tulisan beliau yang kesekian kalinya yg saya posting ke Blog. Haturnuhun teteh Nizma Agustjik atas perkenannya menghadirkan catatan ini tuk para sahabat pengunjung Blog, semoga bermanfaat adanya. 

Jazakillah Khairan Katsiran...

Senin, 19 September 2011

KERENDAHAN HATI


Kerendahan hati merupakakan salah satu bahan (ingredients) yang paling penting dalam karakter seseorang yang telah menemukan jati dirinya, disamping intergritas, pasrah,rela memaafkan dan pengendalian diri.

Kerendahan hati juga merupakan salah satu indikator dari tingginya kecerdasan spiritual seseorang. Seseorang yang tidak bisa menunjukkan sikap atau karakter rendah hati , berarti belum mencapai kedamaian dengan dirinya.

Dari hasil riset yang dilakukkan oleh Gay Hendrick, PhD dan Kate Ludeman, PhD terhadap 800-an manajer perusahaan yang meraka tangani selama 25 tahun, salah satu kesimpulannya adalah bahwa para pemimpin yang berhasil membawa perusahaan atau organisasi ke puncak kesuksesan biasanya adalah pemimpin yang sukses ini ternyata memiliki kecerdasan spiritual yang jauh lebih tinggi dari manusia rata-rata.
Berikut ini adalah sejumlah karakteristik atau ciri-ciri dari seseorang yang memiliki sifat rendah hati. Jika kita memiliki salah satu aja dari ciri-ciri ini, berarti kita memiliki kecerdasan spiritual yang lebih baik dibanding kita tidak memilikinya.

- Mau melayani
- Memandang individu Unik, Istimewa dan Penting
- Mau Mendengar dan Menerima Kritik
- Menang Tanpa Ngasorake dan, Ngalah Tapi Ora Kalah
- Berani Mengakui Kesalahan dan Meminta Maaf
- Rela Memaafkan
- Lemah Lembut dan Penuh Pengendalian Diri
- Utamakan Kepentingan Yang Lebih Besar

Rendah hati tentunya tidak sama dengan rendah diri. Dengan rendah hati orang mau memahami orang lain. Dengan rendah hati, orang juga mau menghormati orang lain, mau mendengarkan orang lain bahkan mau belajar dan juga mau bekerja sama dengan orang lain.

Rasa rendah hati bisa  membuat orang tidak merasa lebih dalam segalanya dan lalu menganggap orang lain tidak penting. Dengan rendah hati pula orang bisa menjadi lebih maju karena ia merasa masih kurang dalam segala hal, dan itu dapat memicu diri untuk lebih maju.

Dari berbagai sumber
London, 17 September 2011

Sumber
Nizma Agustjik pada 17 September 2011 jam 18:30 

Teh Nizma in Red


Kamis, 15 September 2011

Tiga Langkah Meraih Kebahagiaan Rumah Tangga



dakwatuna.com - Allah swt. berfirman,

وَمِنْ ءَايَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ 

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” Ar Rum:21

Menikah Bukti Keagungan Allah

Ayat ini sebenarnya bagian dari cerita tanda-tanda keagungan Allah swt. dan kekuasaan-Nya. Bahwa semua yang ada di langit dan di bumi dan segala yang terjadi datang dari-Nya. Termasuk diciptakannya manusia berpasang-pasangan yang dengannya terjadi kelanjutan hidup, seperti yang disebutkan pada ayat di atas. Karenanya hakikat pernikahan dan rumah tangga bagi Allah swt. adalah ikatan yang sangat agung. Karena dengannya nampak keagungan-Nya.

Sebaliknya, ketika manusia hidup di alam perzinaan, yang nampak hanyalah kebinatangan. Bila kebinatangan yang menonjol dalam hidup manusia, kerusakan pasti akan meraja lela. Paling tidak yang pertama kali hancur adalah kemanusiaan. Manusia tidak lagi perduli dengan rumah tangga. Bila rumah tangga hancur, garis nasab akan hilang. Lama ke lamaan manusia tidak tahu lagi siapa sebenarnya yang ia gauli. Tidak mustahil suatu saat – bahkan ini sudah banyak terjadi – akan lahir seorang anak dari hubungan ayah dengan anaknya, atau hubungan ibu dengan anaknya, atau hubungan antara saudara seayah dan sebagainya.

Karena itu pada ayat di atas, Allah swt. menjadikan hakikat berpasang-pasangan sebagai bukti keagungan-Nya, supaya manusia tidak begitu mudah merendahkan dirinya dengan menganggap bahwa berhubungan dengan siapa saja boleh-boleh saja. Tidak, janganlah sekali-kali perbuatan ini dilakukan. Sebab dengan melakukan perzinaan seseorang tidak saja mengahancurkan kemanusiaannya sendiri melainkan lebih dari itu ia telah merendahkan Allah swt. dengan meremehkan tanda-tanda keagungan-Nya.

Jelasnya bahwa dari ayat di atas setidaknya ada tiga langkah yang bisa kita bahas secara mendalam dalam tulisan ini untuk mencapai kebahagiaan dalam rumah tangga:
(a) Bangun Jiwa Sakinah
(b) Hidupkan Semangat Mawaddah
(c) Pertahankan Spirit Rahmah.

Dan ketiga langkah ini adalah bekal utama setiap rumah tangga. Bila salah satunya hilang, rumah tangga akan rapuh dan mudah retak. Karena itu hendaklah ketiga langkah tersebut benar-benar dicapai secara maksimal, atau paling tidak mendekatinya.

Bangun Jiwa Sakinah

Allah berfirman: litaskunuu ilaihaa, artinya agar kau berteduh wahai para suami kepada istrimu. Kata litaskunuu diambil dari kata sakana yaskunu artinya berdiam atau berteduh. Dari kata sakana ini di ambil istilah sakinah yang kemudian diartikan tenang. Memang bisa saja kata sakana diartikan tenang, tetapi pengertian dalam ayat ini lebih dalam lagi dari sekedar tenang.

Syaikh Ibn Asyur dalam tafsirnya At Tahrir wat Tanwiir mengartikan kata litaskunuu dengan dengan tiga makna:

(1) lita’lafuu artinya agar kamu saling mengikat hati, 
seperti uangkapan ta’liiful quluub. Dalam surah Al Anfal: 63 Allah berfirman: wa allafa baina quluubihim (Dialah Allah yang telah mempersatukan hati di antara mereka). Dengan makna ini maka antara suami istri hendaknya benar-benar membangun ikatan hati yang kuat. Dan sekuat-kuat pengikat hati adalah iman. Maka semakin kuat iman seseorang, semakin kuat pula ikatan hatinya dalam rumah tangganya. Sebaliknya semakin lemah iman seseorang, bisa dipastikan bahwa rumah tangga tersebut akan rapuh dan mudah retak.

(2) Tamiiluu ilaihaa artinya kau condong kepadanya. 
Condong artinya pikiran, perasaan dan tanggung jawab tercurah kepadanya. Dengan makna ini maka suami istri bukan sekedar basa-basi untuk bersenang-senang sejenak. Melainkan benar-benar dibangun di atas tekad yang kuat untuk membangun masa depan rumah tangga yang bermanfaat. Karenanya harus ada kecondongan dari masing-masing suami istri. Tanpa kecondongan pasti akan terjadi keterpaksaan.

Karena itu orang tua jangan memaksakan kehendaknya jika memang ternyata dalam diri anaknya tidak ada kecondongan. Saya sering menemukan seorang anak muda mengeluh karena dipaksa orang tuanya untuk menikah dengan si fulanah. Sementara dalam diri anak muda tersebut tidak ada kecondongan sama sekali. Tapi orang tuanya mengancam dan bahkan menganggap ia bukan anaknya jika tidak mengikuti keinginannya.
Ini tentu sikap yang tidak pada tempatnya. Orang tua harus tahu bahwa sakinah dalam rumah tangga tidak akan di capai tanpa adanya kecondongan. Pun orang tua harus tahu bahwa yang akan hidup bersama istrinya adalah sang anak. Maka tidak benar menggunakan kartu merah orang tua, untuk memaksakan kecondongannya supaya anak mengikutinya.

Seringkali rumah tangga hancur karena orang tua tidak meperhatikan kecondongan sang anak. Karena itu untuk membangun sakinah harus ada dalam diri masing-masing suami istri kecondongan.

(3) Tathma’innuu biha artinya kau merasa tenang dengannya.
Dalam surah Ar Ra’d:28 Allah berfirman: alaa bidzikrillahi tathma’innul quluub (Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram). Dari sini nampak bahwa untuk mencapai ketenangan dalam rumah tangga hanya dengan banyak berdzikir kepada Allah.

Para ulama menyebutkan bahwa dzikir ada tiga dimensi: dzikurullisan (dzikir dengan lidah), dzikrul qalb (dzikir dengan hati) maksudnya hatinya selalu sadar dan ingat kepada Allah, dan dzikrul haal (dzikir dengan perbuatan), maksudnya seluruh perbuatannya selalu dalam ketaatan kepada Allah swt. Maka sungguh tidak mungkin mencapai sakinah rumah tangga yang penuh dengan kemaksiatan kepada Allah swt.

Termasuk kemaksiatan ketika masing-masing suami suka berbohong. Banyak rumah tangga yang retak karena ketidak jujuran masing-masing suami istri. Bila seorang suami suka berbohong pasti sang istri akan gelisah. Selanjutnya ketenangan akan hilang dalam rumah tangga. Sebaliknya bila istri suka berbohong, sang suami pasti tidak akan merasa tenang bersamanya. Bila suami tidak tenang, bisa jadi kelak rumah tangga akan terancam. Dari sini perceraian demi perceraian terjadi. Asal muasalnya karena kebiasaan tidak jujur dan dosa-dosa.

Hidupkan Semangat Mawaddah

Mawaddah artinya cinta. Imam Hasan Al Bashri mengartikan kata mawaddah sebagai metafor dari hubungan seks. Jelasnya bahwa mawaddah adalah perasaan cinta dan senang dengannya rumah tangga menjadi bergairah dan penuh semangat. Tanpa mawaddah rumah tangga akan kering. Mawaddah biasanya sangat personal. Ia tidak tergantung kepada kecantikan istri atau ketampanan suami. Boleh jadi di mata banyak orang wanita itu tidak cantik, tetapi sang suami sangat mencintainya. Pun boleh jadi wanita itu disepakati sebagai wanita cantik, tetapi sang suami ternyata sangat membencinya.

Sebagian ulama tafsir mengatakan bahwa cinta biasanya sering menggebu di masa muda atau di awal-awal pernikahan. Lama ke lamaan setelah masuk dalam rutinitas rumah tangga, getaran cinta menjadi melemah. Karenanya Allah swt. bekali rahmah sebagai pengimbangnya, supaya ketika sinyal cinta mulai redup, masih ada semangat rahmah yang akan menyelamatkan rumah tangga tersebut. Lain halnya dengan orang-orang yang membangun rumah tangga hanya dengan modal cinta, rumah tangga rentan mudah roboh dan tidak kokoh.

Ibarat mesin, mawaddah adalah dinamo penggerak yang mengairahkan. Dengan mawaddah rumah tangga menjadi dinamis dan produktif. Sebaliknya bila jiwa mawaddah hilang, rumah tangga akan menjadi monoton tanpa dinamika sama sekali. Dalam penelitian saya minimal ciri mawaddah ada tiga:

(a) Katsratut tahaady (selalu saling memberi hadiah), karena seperti kata Nabi saw. dengan saling memberi hadiah cinta akan selalu hangat.

(b) Katsratu dzikrihi (selalu saling mengingat kebaikannya). Sebab dengan mengingat kebaikannya seseorang akan selalu merasa berhutang budi. Hindari melihat keburukan dan kekurangannya, karena itu akan menumbuhkan kebencian dan perselisihan tiada henti.

(c) Katsratul ittishaali ma’ahu (selalu saling berkomunikasi) sebab dari kemunikasi akan hilang prasangka. 

Banyak hal yang sebenarnya dimaksudkan untuk kebaikan, tetapi karena lemahnya komunikasi seringkali kesalahpahaman terjadi.

Pertahankan Spirit Rahmah

Rahmah artinya kasih sayang, diambil dari kata rahima yarhamu. Dari kata ini pula diambil kata ar rahmaan salah satu nama Allah swt. Bahwa Allah Maha Penyayang. Para ahli tafsir mengatakan bahwa rahman-Nya Allah meliputi seluruh mahluk-Nya: manusia, binatang, dan mahluk-mahluk lainnya. Termasuk orang-orang yang tidak beriman, karenanya mereka masih bisa hidup dan bisa menikmati fasilitas kehidupan dari Allah, padahal mereka setiap hari tidak mentaati-Nya. Kata rahmah lebih bermakna kesungguhan untuk berbuat baik kepada orang lain, apa lagi kepada keluarga.

Memang setiap orang mempunyai kekurangan, dan tidak ada seorang pun yang mecapai kesempurnaan. Maka jika setiap manusia selalu mempersepsikan adanya pasangan yang sempurna, pasti pada akhirnya ia tidak akan pernah punya pasangan. Dalam pepatah Arab dikatakan: “Man talaba akhan bilaa ‘aibin laqiya bilaa akhin (orang yang mencari kawan tanpa cacat, pasti pada akhirnya ia tidak akan punya kawan).

Kata rahmah lebih mencerminkan sikap saling memahami kekuarangan masing-masing lalu berusaha untuk saling melengkapi. Sikap rahmah menekankan adanya sikap saling tolong menolong dalam bersinergi, sehingga kekurangan berubah menjadi kesempurnaan.

Sikap rahmah seringkali berperan ketika semangat cinta mulai menurun. Biasanya itu terjadi setelah usia suami istri sama-sama mencapai tahap tua. Cucu sudah mulai banyak. Badan banyak sakit-sakitan. Pada saat itu kebertahanan rumah tangga sangat ditopang oleh kekuatan rahmah (kasih sayang).

Karena itu mawaddah dan rahmah ibarat dua sayap bagi burung. Bila kedua sayap itu berfungsi dengan baik, maka rumah tangga akan berjalan penuh kebahagiaan. Ibarat burung terbang di angkasa, ia menikmati keindahan alam semesta dan penuh dengan kelapangan dada. Tanpa sedikit pun ada beban di hatinya. Terbang ke mana saja ia mau, tidak ada hambatan dan kesulitan.

Kesadaran Akhirat

Pada penutup ayat di atas Allah swt. berfirman: inna fiidzaalika laayatil liqawmiyyatafakkaruun maksudnya bahwa itu semua merupakan bukti bagi orang-orang yang berpikir. Yaitu orang-orang yang menggunakan akalnya untuk memahami ajaran Allah swt.

Dalam Al Qur’an banyak sekali penegasan bahwa kelak di hari Kiamat banyak manusia menyesal karena selama di dunia tidak menggunakan akalnya. Allah swt. berfirman,
“Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.” Al Mulk:10

Dari sini nampak bahwa yang membedakan antara manusia dan mahluk lainnya adalah karena manusia Allah bekali akal. Dan di antara ciri orang-orang berakal bahwa ia selalu menegakkan kedamaian dalam hidupnya terutama minimal dalam rumah tangganya. Maka ketika ia tidak bisa membangun kedamaian dalam rumah tangganya, bisa dipastikan ia akan gagal dalam lapangan kehidupan yang lain.

Bila seseorang gagal dalam rumah tangga otomatis ia menyesal. Menyesal karena telah menyia-nyiakan kesempatan untuk berbuat baik selama di dunia. Penyesalan itu terjadi kelak setelah ia tahu bahwa ternyata Allah tidak menyia-nyiakan sekecil apapun yang dilakukan manusia. Famayya’mal mitsqaal dzarratin khairay yarah wamay ya’mal mitsqaala dzarratin syarray yarah (Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.” Qs. Az Zalzalah:7-8.

Kesadaran akhirat seperti inilah yang harus selalu dicamkan oleh setiap suami istri, karena hanya dengan kesadaran ini semua prilaku akan menjadi baik dan rumah tangga akan dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Wallahu’ alam bishshwab.

Sumber : http://www.dakwatuna.com/2008/tiga-langkah-meraih-kebahagiaan-rumah-tangga/

Senin, 12 September 2011

MEMETIK PANEN DARI KESABARAN


Penulisan yang excellent dan kisah yang luar biasa membuat saya menangis dikereta dalam perjalanan ke London kota, kemarin Ahad. Saya ingin share kisah kesabaran dan kegigihan seorang insan yang boleh saya klarifikasikan sebagai  yang layak menyandang  predikat 'HAMBA' ...yang betul2 telah mengHambakan dirinya untuk Allah. Saya tidak tahu siapa penulisnya, ini saya dapatkan dari Daarut Tauhid MAILING LIST. Selamat membaca ~ Teteh --------

Kisah Nyata

Ditengah gemuruhnya kota, ternyata Riyadh menyimpan bayak kisah. Kota ini menyimpan rahasia yang hanya diperdengarkan kepada telinga dan hati yang mendengar. Tentu saja, Hidayah adalah kehendak NYA dan Hidayah hanya akan diberikan kepada mereka yang mencarinya.

Ada sebuah energi yang luar biasa dari cerita yang kudengar beberapa hari yang lalu dari sahabat Saya mengenal banyak dari mereka, ada beberapa dari Palestina, Bahrain, Jordan, Syiria, Pakistan, India, Srilanka dan kebanyakan dari Mesir dan Saudi Arabia sendiri. Ada beberapa juga dari suku Arab yang tinggal dibenua Afrika. Salah satunya adalah teman dari Negara Sudan, Afrika.

Saya mengenalnya dengan nama Ammar Mustafa, dia salah satu Muslim kulit hitam yang juga kerja di Hotel ini. Beberapa bulan ini saya tidak lagi melihatnya bekerja. Biasanya saya melihatnya bekerja bersama pekerja lainnya menggarap proyek bangunan di tengah terik matahari kota Riyadh yang sampai saat ini belum bisa ramah dikulit saya. Hari itu Ammar tidak terlihat. Karena penasaran, saya coba tanyakan kepada Iqbal tentang kabarnya.

"Oh kamu tidak tahu?" Jawabnya balik bertanya, memakai bahasa Ingris khas India yang bercampur dengan logat urdhu yang pekat.

"Iyah beberapa minggu ini dia gak terlihat di Mushola ya?" Jawab saya.

Selepas itu, tanpa saya duga iqbal bercerita panjang lebar tentang Ammar. Dia menceritakan tentang hidup Ammar yang pedih dari awal hingga akhir, semula saya keheranan melihat matanya yang menerawang jauh. Seperti ingin memanggil kembali sosok teman sekamarnya itu. 

Saya mendengarkan dengan seksama. Ternyata Amar datang ke kota Riyadh ini lima tahun yang lalu, tepatnya sekitar tahun 2004 lalu. Ia datang ke Negeri ini dengan tangan kosong, dia nekad pergi meninggalkan keluarganya di Sudan untuk mencari kehidupan di Kota ini. 

Saudi arabia memang memberikan free visa untuk Negara Negara Arab lainnya termasuk Sudan, jadi ia bisa bebas mencari kerja disini asal punya Pasport dan tiket. Sayang, kehidupan memang tidak selamanya bersahabat. Do'a Ammar untuk mendapat kehidupan yang lebih baik di kota ini demi keluarganya ternyata saat itu belum terkabul. Dia bekerja berpindah pindah dengan gaji yang sangat kecil, uang gajinya tidak sanggup untuk membayar apartemen hingga ia tinggal di apartemen teman temannya.

Meski demikian, Ammar tetap gigih mencari pekerjaan. Ia tetap mencari kesempatan agar bisa mengirim uang untuk keluarganya di Sudan. Bulan pertama berlalu kering, bulan kedua semakin berat... Bulan ketiga hingga tahun tahun berikutnya kepedihan Ammar tidak kunjung berakhir.. Waktu bergeser lamban dan berat, telah lima tahun Ammar hidup berpindah pindah di Kota ini. Bekerja dibawah tekanan panas matahari dan suasana Kota yang garang. Tapi amar tetap bertahan dalam kesabaran. 

Kota metropolitan akan lebih parah dari hutan rimba jika kita tidak tahu caranya untuk mendapatkan uang, dihutan bahkan lebih baik. Di hutan kita masih bisa menemukan buah buah, tapi di kota? Kota adalah belantara penderitaan yang akan menjerat siapa saja yang tidak mampu bersaing.

Riyadh adalah ibu kota Saudi Arabia. Hanya berjarak 7 jam dari Dubai dan 10 Jam jarak tempuh dengan bis menuju Makkah. Dihampir keseluruhan kota ini tidak ada pepohonan untuk berlindung saat panas. Disini hanya terlihat kurma kurma yang berbuah satu kali dalam setahun..

Amar seperti terjerat di belantara Kota ini. Pulang ke suddan bukan pilihan terbaik, ia sudah melangkah, ia harus membawa perubahan untuk kehidupan keluarganya di negeri Sudan. Itu tekadnya. Ammar tetap tabah dan tidak berlepas diri dari keluarganya. Ia tetap mengirimi mereka uang meski sangat sedikit, meski harus ditukar dengan lapar dan haus untuk raganya disini. Sering ia melewatkan harinya dengan puasa menahan dahaga dan lapar sambil terus melangkah, berikhtiar mencari suap demi suap nasi untuk keluarganya di Sudan. 

Tapi Ammar pun Manusia... 

Ditahun kelima ini ia tidak tahan lagi menahan malu dengan teman temannya yang ia kenal, sudah lima tahun ia berpindah pindah kerjaan numpang di teman temannya tapi kehidupannya tidak kunjung berubah. Ia memutuskan untuk pulang ke Sudan. Tekadnya telah bulat untuk kembali menemui keluarganya, meski dengan tanpa uang yang ia bawa untuk mereka yang menunggunya. Saat itupun sebenarnya ia tidak memiliki uang, meski sebatas uang untuk tiket pulang. 

Ia memaksakan diri menceritakan keinginannya untuk pulang itu kepada teman terdekatnya. Dan salah satu teman baik amar memahaminya ia memberinya sejumlah uang untuk beli satu tiket penerbangan ke Sudan. Hari itu juga Ammar berpamitan untuk pergi meninggalkan kota ini dengan niat untuk kembali ke keluarganya dan mencari kehidupan di sana saja. 

Ia pergi ke sebuah Agen di jalan Olaya- Riyadh, utuk menukar uangnya dengan tiket. Sayang, ternyata semua penerbangan Riyadh-Sudan minggu ini susah didapat karena konflik di Libya, Negara tetangganya. Tiket hanya tersedia untuk kelas executive saja. Akhirnya ia beli tiket untuk penerbangan minggu berikutnya. Ia memesan dari saat itu supaya bisa lebih murah. 

Tiket sudah ditangan, dan jadwal terbang masih minggu depan. Ammar sedikit kebingungan dengan nasibnya. Tadi pagi ia tidak sarapan karena sudah tidak sanggup lagi menahan malu sama temannya, siang inipun belum ada celah untuk makan siang. Tapi baginya ini bukan hal pertama. Ia hampir terbiasa dengan kebiasaan itu.

Adzan dzuhur bergema..

Semua Toko Toko, Supermarket, Bank, dan Kantor Pemerintah serentak menutup pintu dan menguncinya. Security Kota berjaga jaga di luar kantor kantor, menunggu hingga waktu Shalat berjamaah selesai. Ammar tergesa menuju sebuah masjid di pusat kota Riyadh. Ia mengikatkan tas kosongnya di pinggang, kemudian mengambil wudhu.. memabasahi wajahnya yang hitam legam, mengusap rambutnya yang keriting dengan air. Lalu ia masuk mesjid. Shalat 2 rakaat untuk menghormati masjid. Ia duduk menunggu mutawwa memulai shalat berjamaah. 

Hanya disetiap shalat itulah dia merasakan kesejukan, Ia merasakan terlepas dari beban Dunia yang menindihnya, hingga hatinya berada dalam ketenangan ditiap menit yang ia lalui.  Shalat telah selesai. Ammar masih bingung untuk memulai langkah. Penerbangan masih seminggu lagi. Ia diam. Dilihatnya beberapa mushaf al Qur'an yang tersimpan rapi di pilar pilar mesjid yang kokoh itu. Ia mengmbil salah satunya, bibirnya mulai bergetar membaca taawudz dan terus membaca al Qur'an hingga adzan Ashar tiba menyapanya. Selepas Maghrib ia masih disana. Beberapa hari berikutnya, Ia memutuskan untuk tinggal disana hingga jadwal penerbangan ke Sudan tiba. 

Ammar memang telah terbiasa bangun awal di setiap harinya. Seperti pagi itu, ia adalah orang pertama yang terbangun di sudut kota itu. Ammar mengumandangkan suara indahnya memanggil jiwa jiwa untuk shalat, membangunkan seisi kota saat fajar menyingsing menyapa Kota. Adzannya memang khas. Hingga bukan sebuah kebetulan juga jika Prince (Putra Raja Saudi) di kota itu juga terpanggil untuk shalat Subuh berjamaah disana. Adzan itu ia kumandangkan disetiap pagi dalam sisa seminggu terakhirnya di kota Riyadh. Hingga jadwal penerbanganpun tiba. Ditiket tertulis jadwal penerbangan ke Sudan jam 05:23am, artinya ia harus sudah ada di bandara jam 3 pagi atau 2 jam sebelumnya. 

Ammar bangun lebih awal dan pamit kepada pengelola masjid, untuk mencari bis menuju bandara King Abdul Azis Riyadh yang hanya berjarak kurang dari 30 menit dari pusat Kota. Amar sudah duduk diruang tunggu dibandara, Penerbangan sepertinya sedikit ditunda, kecemasan mulai meliputinya. Ia harus pulang kenegerinya tanpa uang sedikitpun, padahal lima tahun ini tidak sebentar, ia sudah berusaha semaksimal mungkin.

Tapi inilah kehidupan, ia memahami bahwa dunia ini hanya persinggahan. Ia tidak pernah ingin mencemari kedekatannya dengan Penggenggam Alam semesta ini dengan mengeluh. Ia tetap berjalan tertatih memenuhi kewajiban kewajibannya, sebagai Hamba Allah, sebagai Imam dalam keluarga dan ayah buat anak anaknya. 

Diantara lamunan kecemasannya, ia dikejutkan oleh suara yang memanggil manggil namanya. Suara itu datang dari speaker dibandara tersebut, rasa kagetnya belum hilang Ammar dikejutkan lagi oleh sekelompok berbadan tegap yang menghampirinya. Mereka membawa Ammar ke mobil tanpa basa basi, mereka hanya berkata "Prince memanggilmu". Ammarpun semakin kaget jika ia ternyata mau dihadapkan dengan Prince. Prince adalah Putra Raja, kerajaan Saudi tidak hanya memiliki satu Prince. Prince dan Princess mereka banyak tersebar hingga ratusan diseluruh jazirah Arab ini. Mereka memiliki Palace atau Istana masing masing. 

Keheranan dan ketakutan Ammar baru sirna ketika ia sampai di Mesjid tempat ia menginap seminggu terakhir itu, disana pengelola masjid itu menceritakan bahwa Prince merasa kehilangan dengan Adzan fajar yang biasa ia lantunkan. Setiap kali Ammar adzan prince selalu bangun dan merasa terpanggil.. Hingga ketika adzan itu tidak terdengar, Prince merasa kehilangan. Saat mengetahui bahwa sang Muadzin itu ternyata pulang kenegerinya, Prince langsung memerintahkan pihak bandara untuk menunda penerbangan dan segera menjemput Ammar yang saat itu sudah mau terbang untuk kembali ke Negerinya. 

Singkat cerita, Ammar sudah berhadapan dengan Prince. Prince menyambut Ammar dirumahnya, dengan beberapa pertanyaan tentang alasan kenapa ia tergesa pulang ke Sudan. Amarpun menceritakan bahwa ia sudah lima tahun di Kota Riyadh ini dan tidak mendapatkan kesempatan kerja yang tetap serta gaji yang cukup untuk menghidupi keluarganya. 

Prince mengangguk nganguk dan bertanya: "Berapakah gajihmu dalam satu bulan?" Amar kebingungan, karena gaji yang ia terima tidak pernah tetap. Bahkan sering ia tidak punya gaji sama sekali, bahkan berbulan bulan tanpa gaji dinegeri ini. Prince memakluminya. Beliau bertanya lagi: "Berapa gaji paling besar dalam sebulan yang pernah kamu dapati?" Dahi Ammar berkerut mengingat kembali catatan hitamnya selama lima tahun kebelakang. Ia lalu menjawabnya dengan malu: "Hanya SR 1.400", jawab Ammar. Prince langsung memerintahkan sekretarisnya untuk menghitung uang. 1.400 Real itu dikali dengan 5 tahun (60 bulan) dan hasilnya adalah SR 84.000 (84 Ribu Real = Rp. 184. 800.000). Saat itu juga bendahara Prince menghitung uang dan menyerahkannya kepada Amar. 

Tubuh Amar bergetar melihat keajaiban dihadapannya. Belum selesai bibirnya mengucapkan Al Hamdalah, Prince yang baik itu menghampiri dan memeluknya seraya berkata: "Aku tahu, cerita tentang keluargamu yang menantimu di Sudan. Pulanglah temui istri dan anakmu dengan uang ini. Lalu kembali lagi setelah 3 bulan. Saya siapkan tiketnya untuk kamu dan keluargamu kembali ke Riyadh. Jadilah Bilall dimasjidku.. dan hiduplah bersama kami di Palace ini" Ammar tidak tahan lagi menahan air matanya. 

Ia tidak terharu dengan jumlah uang itu, uang itu memang sangat besar artinya di negeri Sudan yang miskin. Ammar menangis karena keyakinannya selama ini benar, Allah sungguh sungguh memperhatikannya selama ini, kesabarannya selama lima tahun ini diakhiri dengan cara yang indah.  Ammar tidak usah lagi membayangkan hantaman sinar matahari disiang hari yang mengigit kulitnya. Ammar tidak usah lagi memikirkan kiriman tiap bulan untuk anaknya yang tidak ia ketahui akan ada atau tidak.  Semua berubah dalam sekejap! 

Lima tahun itu adalah masa yang lama bagi  Ammar. Tapi masa yang teramat singkat untuk kekuasaan Allah. Nothing Imposible for Allah, Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah.. Bumi inipun Milik Allah,.. Alam semesta, Hari ini dan Hari Akhir serta Akhirat berada dalam Kekuasaan Nya. 

Inilah buah dari kesabaran dan keikhlasan. Ini adalah cerita nyata yang tokohnya belum beranjak dari kota ini, saat ini Ammar hidup cukup dengan sebuah rumah di dalam Palace milik Prince. Ia dianugerahi oleh Allah di Dunia ini hidup yang baik, ia menjabat sebagai Muadzin di Masjid Prince Saudi Arabia di pusat kota Riyadh.

Subhanallah...

Seperti itulah buah dari kesabaran. "Jika sabar itu mudah, tentu semua orang bisa melakukannya. Jika kamu mulai berkata sabar itu ada batasnya, itu cukup berarti pribadimu belum mampu menetapi kesabaran karena sabar itu tak ada batasnya. 

Batas kesabaran itu terletak didekat pintu Syurga dalam naungan keridhaan Nya". (NAI)

مَا يُلَقَّاهَا إِلا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا ذُو
حَظٍّ عَظِيمٍ

oleh Nizma Agustjik pada 12 September 2011 jam 16:33 
Catatan:

Note diatas dikirim oleh teteh Nizma ke wall di akun FB admin,  yang kemudian diposting ke Blog ini.

Semoga narasi diatas dapat menggugah hati kita dalam memaknai kesabaran.

Terimakasih teh Nizma untuk kirimannya insyaAllah bermanfaat tuk pembaca.

Minggu, 11 September 2011

Seuntai Prosa tuk Sahabat: Episode Nasehat Diri

Berpikirlah positif, berkhusnudzanlah
atas dirimu, pada sesama juga Tuhanmu

agar...

kau bisa melihat sisi dunia yang lebih indah
dan bertindak selaras dengan kebaikan yang ada dalam hati dan pikiranmu

karena sebenarnya...

dunia tak butuh penilaian apapun darimu
ia hanya memantulkan apa yang ingin kau lihat
ia hanya menggemakan apa yang ingin kau dengar
ia hanya menyajikan apa yang ingin kau cari dan gali

Jika..

kau melihat dirimu kecil > dunia kan tampak sempit > tindakanpun jadi kerdil
kau melihat dirimu besar > dunia kan terlihat luas > tindakanpun jadi penting dan berharga

maka...

jujurlah melihat diri sendiri apa adanya,
kenalilah potensi diri yang dianugerahkan-Nya
Dan duniapun akan menampakkan realitanya
yang selama ini tersembunyi dibalik penilaian-penilaianmu

TINDAKANMU ADALAH CERMIN BAGAIMANA KAU MELIHAT DUNIA

Bila kau takut menghadapi dunia, sesungguhnya kau takut menghadapi diri sendiri

Maka hakekatnya...

jika kau berbohong, kau sedang menipu dirimu sendiri
jika kau berkhianat, kau sedang mengubur kepercayaan orang-lain atas dirimu
jika kau benci saudaramu/temanmu, kau sedang memupus harapanmu
jika kau dendam pada sesama, kau sedang mengumpulkan sekam tuk bakar kebaikanmu
jika kau iri/dengki, kau sedang memendam potensi diri dan tunjukan ketidak-berdayaanmu
jika kau bersumpah serapah pada orang lain, kau sedang mempertontonkan kebusukan hatimu

Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu:
Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Hindarilah oleh kamu sekalian berburuk sangka karena buruk sangka adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kamu sekalian saling memata-matai yang lain, janganlah saling mencari-cari aib yang lain, janganlah kamu saling bersaing (kemegahan dunia), janganlah kamu saling mendengki dan janganlah kamu saling membenci dan janganlah kamu saling bermusuhan tetapi jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara (Shahih Muslim No.4646)

So...

Jangan lakukan itu wahai jiwa yg cinta damai...

Jika tak dapat hargai dirimu, bagaimana bisa hargai orang-lain maka jangan pernah berharap orang-lain menghargimu, apatah lagi Tuhanmu.

Jika tak dapat sayangi dirimu, bagaimana bisa sayangi orang lain maka jangan pernah berharap orang-lain menyayangimu, apatah lagi Tuhanmu.

Hargai dirimu, sayangi dirimu.....

(Nasehat tuk diri, semoga berguna tuk sahabat)

Cipayung, 110911

Oleh: AS


Sabtu, 10 September 2011

Surat dari Ankara


(Dimuat/dibaca di Radio PPI Dunia pada acara Bahasa Jiwa, Sabtu 10 September 2011)

Oleh: Deden Mauli Darajat (Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ankara, Turki/Dewan Penasehat, Perhimpunan Pelajar Indonesia [PPI] Turki )

Tiba-tiba penyiar Radio PPI Dunia, Mas Susanto yang murah senyum itu mengirim pesan di Facebook agar saya menulis satu artikel yang akan dibaca di acara “Bahasa Jiwa” di radio online milik mahasiswa Indonesia di luar negeri ini. Tentu saja saya tidak bisa menolaknya meski tak tahu apa yang harus saya sampaikan dalam tulisan ini, karena saya juga bukanlah siapa-siapa.

Alkisah, seorang pengemis datang ke rumah Nasruddin Hoja untuk meminta sumbangan. Si pengemis mengetuk pintu rumah dan keluarlah Nasruddin lalu lama terdiam. Melihat aksi Nasruddin yang terdiam si pengemis itu lalu memperjelas kedatangannya bahwa ia meminta sumbangan untuk dirinya agar dapat bertahan hidup.

Bukannya memberikan sumbangan, malahan Nasruddin Hoja mengajak si pengemis untuk naik atap rumahnya. Setelah keduanya naik atap rumah itu, Nasruddin meminta si pengemis untuk menengadahkan tangannya laiknya orang meminta atau berdoa. Lalu Nasruddin berujar kepada si pengemis, “Kalau anda meminta sesuatu mintalah kepada Tuhan Sang Maha Pemberi,” ujarnya singkat dan kemudian turun meninggalkan si pengemis yang terheren-heran.

Nasruddin bukanlah pelit dalam memberi, meski ia pun tak kaya. Nasruddin yang dimakamkan di kota Aksehir, Konya, Turki itu mengajarkan kita agar dalam hidup dan menjalani kehidupan janganlah kita meminta-minta kepada sesama manusia yang juga banyak kekurangan. Tapi, mintalah sesuatu kepada Tuhan yang Maha Pengasih.

Ulama sufi yang kondang dengan leluconnya ini juga mengajak kita agar hidup ini tidak hanya meminta-minta tapi juga berusaha sekuat tenaga tanpa lelah. Usaha merupakan modal utama dalam meraih sesuatu yang kita impikan dan angan-angankan.

Seperti halnya anak kecil yang sedang belajar berjalan. Ia tak pernah patah semangat walaupun ia merasakan bagaimana sakitnya jatuh. Dan bukan hanya sekali jatuh namun berkali-kali jatuh hingga tak terhitung berapa kali ia jatuh. Namun, setelah berkali-kali jatuh itu ia pun tak lelah untuk bangkit dan belajar berjalan lagi hingga ia bisa berjalan dengan lancar.

Atau seperti halnya ulat bulu yang berubah menjadi kepompong yang sangat menjijikan dan kemudian berubah menjadi kupu-kupu yang sangat indah dipandang mata. Perubahan dari ulat menjadi kepompong lalu kupu-kupu tidak terjadi secara instant tapi ada usaha yang kuat di dalamnya. Sang kepompong harus kuat berpuasa secara konsisten agar dapat meraih impiannya menjadi kupu-kupu.

Hidup kita pun begitu, tak ada impian atau harapan kita yang dapat kita raih tanpa usaha yang maksimal. Tak ada juga impian yang diraih hanya dengan berpangku tangan atau bermalas-malasan. Selalu ada harga yang mesti kita bayar untuk meraih impian dan harapan kita.

Artinya bahwa, sebuah kesuksesan akan dapat diraih dengan usaha yang kuat. Dan akhirnya selalu ada jawaban dari apa yang kita usahakan. Ada kata mutiara mengatakan bahwa, dimana ada keinginan di sana ada jalan, bisa saya tambahkan, dimana ada keinginan dan usaha yang kuat di sana ada jalan yang lebih besar.

Kyai saya di Ponorogo, Jawa Timur, pernah mengatakan, kesuksesan itu milik orang yang berpikir keras, berusaha keras dan berdoa keras. Bisa dipahami bahwa dalam meraih impian dan tujuan hidup yang mulia kita harus berpikir bagaimana cara yang terbaik dan cerdas untuk melangkah dan meraih impian itu. Jadi, tidak hanya asal-asalan saja kita dalam melangkah untuk meraih impian.

Kedua, seperti yang diulas di atas, kita juga mesti bekerja keras tanpa lelah dan tanpa menyerah. Karena kegagalan itu adalah ketika kita berhenti dalam sebuah perjuangan meraih impian. Setelah berpikir keras dan berusaha keras, kita pun jangan lupa menyertakan Tuhan dalam usaha kita agar kita tidak sombong.

Maka berdoa keras adalah usaha terakhir yang mesti juga kita lakukan dengan konsisten, tidak hanya sekali dua kali saja kita berdoa. Namun, kita mesti berdoa setiap hari setiap waktu. Karena terkadang Tuhan menguji terhadap doa kita, apakah serius atau main main. Berdoa keras juga agar kita bisa bersyukur dengan apa yang kita dapatkan dan agar kita bersabar dengan apa yang luput dari kita. *wallahu ‘alam bishshawab*

Salam hangat, Ankara, 4 September 2011

Deden Mauli Darajat

Dari admin tentang penulis:

Tulisan kang Deden pernah di posting ke blog ini lengkap dengan data diri penulisnya. Untuk mengenal lebih dekat lagi dengan penulis, silahkan Klik judul tulisannya yang lalu dibawah ini.

Jumat, 09 September 2011

" WHEN KAHLIL GIBRAN TALKED ABOUT LOVE "

Ketika Al-Mustofa berbicara tentang cinta .. ia menengadahkan kepala dan memandang orang-orang yang terdiam ..

Sesaatpun dia berkata:

'' Bila cinta mendatangimu , ikuti dia ,walaupun jalannya sulit dan terjal ,
Dan ketika sayapnya mengembang dan mengundangmu ,walaupun pedang yang tersembunyi di antara ujung sayapnya dapat melukaimu.
Dan ketika ia b'kata padamu utk mempercayainya , walaupun suaranya serak dalam mimpimu bagaikan angin utara yang menghembus di kebun.
Bahkan ketika cinta memahkotaimu, ia akan mengikatmu.
Saat ia menaiki puncakmu dan membelai lembut rantingmu yang bermandi matahari,maka ia akan turun sampai ke akarmu dan mengguncangnya dari tanah.
Ia melucutimu sampai membuatmu telanjang.
Ia mengayakmu untuk membebaskanmu dari sekam.
Ia menggilingmu sampai memutih , meremasmu sampai liat.
Semua ini akan dilakukan oleh cinta agar kau mengetahui rahasia dalam hatimu, dan dalam pengetahuan itu menjadi bagian dari hati Kehidupan .
Tetapi bila dalam ketakutanmu kau hanya mencari kedamaian dan kesenangan hati ,
lalu lebih baik bagimu untuk menutup ketelanjanganmu dan melewati ambang lantai cinta .
Dalam dunia tanpa musik dimana kau tertawa, namun tidak semua tawamu, dan menangis , namun tidak semua airmatamu.
Cinta memberi kesia2an , tetapi mengambil kesia-siaan juga.
Cinta tidak akan memiliki kecuali bila cinta di miliki.
Karena cinta tidak cukup hanya untuk cinta
Jangan berpikir kau dapat langsung menuju cinta..
karena bila cinta menganggapmu berharga , ia akan mendatangimu ..
Cinta tidak memilliki keinginan lain kecuali untuk memenuhi dirinya sendiri .
Tetapi bila cinta dan keharusan butuh memiliki keinginan , biarkanlah ini menjadi keinginanmu.
Untuk mengetahui rasa sakit dari kelembutanmu.
Untuk dilukai oleh pemahaman atau cintamu sendiri.
Untuk terbangun saat senja dengan hati bersayap dan berterimakasih atas hari yang penuh cinta.
Untuk beristirahat saat tengah hari dan menikmati kenikmatan cinta
Untuk pulang ke rumah saat ombak menghantam dengan penuh rasa terima kasih
Dan untuk tidur dengan sebuah doa bagi mereka yang dicintai oleh hati dan sebuah lagu di bibirmu . ''

Bagi diriku sendiri.. cinta itu rasa ter DAHSYAT yang ALLAH anugerahkan kepada setiap orang yang di kehendakiNYA ...
meski ketika cinta itu sulit tuk di tempuh ,,
cinta itu tetap rasa yg dititipkan ALLAH kepada kita ..
Tak usah ragu tuk menikmati rasa  itu ..
Tinggal berdoa dan berbuat sesuatu ...
INSYAALLAH .... cinta kita tetap menjadi berkah .

oleh Naang Obhicam 'uuz' pada 07 September 2011 jam 23:22

Kahlil Gibran
Ingin tahu riwayat hidup sang Maestro ?
Silahkan Klik Disini


Rabu, 07 September 2011

☆╰♥♥●•☆Untuk Butiran Saljuku ☆╰♥♥●•☆


Bismillahirrohmannirrohim

Dear Butiran Salju,

Assalammualaikum.

Masihkah kau tegar di sana dalam penantianmu?
Atau hatimu kini mulai rapuh seiring waktu?
Letih dengan perjalanan panjang yang masih terselubung tabir?

Dear Butiran Saljuku
Kadang langkahmu mungkin terhenti.
Atau sesaat semangat menguap dari diri.
Dan hujan air mata menjadi temanmu.
Biarlah..... karna kau sedang diuji
Ditempa untuk menjadi pribadi terpuji

Usah ragu akan janji buat hamba-Nya
Jangan menjadi air jika belum waktunya.
Tetap di sana setegar karang diterpa gelombang.

Jangan pertanyakan "Mengapa harus aku?" tapi tanyakan "Sudah ridhokah Dia padaku?"
Karna apapun yang kau lakukan tanpa ridhoNya berarti sia-sia.
Usah berputus asa, karna Dia slalu punya "cara" 'tuk tunjukkan cintaNya.

Jika ingin mengadu, mengadulah padaNya.
Pinta agar dia memudahkan semua urusanmu.
Jangan memaksa! Ikuti aturanNya.
Niscaya bahagia kan menyapa.

Dear Butiran Saljuku
Jangan tergoda dengan sang Angin yang ingin membawamu sekehendaknya.
Jangan terpesona dengar sinar mentari yang membuatmu cair sebelum waktunya.
Tetaplah di sana menanti musim berganti.
Karena musim dingin tak abadi.
Mencairlah dengan izinNya, bukan dengan inginmu!
Sekelebat rasa yang disertai nafsu. Bukan ridho dariNya.

Dear Butiran Saljuku
Menangislah karenaNya
Tersenyumlah karenaNya
Berikan segenap Cinta pada makhluknya, bukan sekadar manusia
Bukankah hidupmu dikelilingi Cinta?

Masihkah rasa resah itu ada?
Singkirkanlah! Percaya akan keputusanNya
Memberilah semampumu
Tapi usah meminta selain kepadaNya.
Karna hanya Dialah Pemilik alam semesta.

Dear Butiran Saljuku
Masihkah kau ragu?
Biarkan Dia yang mengatur langkahmu
Rasakan cintaNya dalam tiap helaan nafasmu.
Meski kadang letih menerpa dan rasa sakit tak terelakkan
Itu hanya ujian di dunia, akherat masih menantimu.
Cukupkah bekalmu untuk menemuiNya?
Ridhokah Dia padamu?

Kumohonkan sebait doa agar Dia slalu menjagamu
Aku akan baik-baik saja slama kau menggunakan akal & ilmumu dengan bijak
Senandungkan syair cinta kepadaNya
Buat dirimu kembali jatuh cinta saat pertamakali kau mengenalNya
Pegang erat janjimu, karna tak ada satu hal pun yang terlewatkan olehNya.

Aku kan terus mengirimkan surat-surat Cinta, tanda kasihku padamu
Pejamkan mata maka aku akan slalu ada untukmu atas izinNya
Entah berapa banyak surat kukirim kepadamu
Yang kulakukan karna cintaku padamu, aku tak berharap kau akan membalasnya. 
Karna cukuplah jika kau tahu bahwa aku mencintaimu.



Senin, 05 September 2011

SURAT DARI BAYI ABORSI


-- Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarrakatuh untuk Bundaku tersayang...... 

Dear Bunda...

Gambar ini didapat dari Om Google, sekedar illustrasi.
_____Bagaimana kabar bunda hari ini? Smoga bunda baik-baik saja...nanda juga di sini baik-baik saja bunda... Allah sayang banget deh sama nanda. Allah juga yang menyuruh nanda menulis surat ini untuk bunda, sebagai bukti cinta nanda sama bunda....

Bunda, ingin sekali nanda menyapa perempuan yang telah merelakan rahimnya untuk nanda diami walaupun hanya sesaat... Bunda, sebenarnya nanda ingin lebih lama nebeng di rahim bunda, ruang yang kata Allah paling kokoh dan paling aman di dunia ini, tapi rupanya bunda tidak menginginkan kehadiran nanda, jadi sebagai anak yang baik, nanda pun rela menukarkan kehidupan nanda demi kebahagiaan bunda. Walaupun dulu, waktu bunda meluruhkan nanda, sakit banget bunda....
badan nanda rasanya seperti tercabik-cabik... dan keluar sebagai gumpalan darah yang menjijikan apalagi hati nanda, nyeri, merasa seperti aib yang tidak dihargai dan tidak diinginkan.   Tapi nanda tidak kecewa kok bunda... karena dengan begitu, bunda telah mengantarkan nanda untuk bertemu dan dijaga oleh Allah bahkan nanda dirawat dengan penuh kasih sayang di dalam syurga Nya.
 Bunda, nanda mau cerita, dulu nanda pernah menangis dan bertanya kepada Allah, mengapa bunda meluruhkan nanda saat nanda masih berupa wujud yang belum sempurna dan membiarkan nanda sendirian di sini? Apa bunda tidak sayang sama nanda? Bunda tidak ingin mencium nanda? Atau jangan-jangan karena nanti nanda rewel dan suka mengompol sembarangan? Lalu Allah bilang, bunda kamu malu sayang... kenapa bunda malu? karena dia takut kamu dilahirkan sebagai anak haram... anak haram itu apa ya Allah? Anak haram itu anak yang dilahirkan tanpa ayah...
Nanda bingung dan bertanya lagi sama Allah, ya Allah, bukannya setiap anak itu pasti punya ayah dan ibu? Kecuali nabi Adam dan Isa?
Allah yang Maha Tahu menjawab bahwa bunda dan ayah memproses nanda bukan dalam ikatan pernikahan yang syah dan Allah Ridhoi. Nanda semakin bingung dan akhirnya nanda putuskan untuk diam.   Bunda, nanda malu terus-terusan nanya sama Allah, walaupun Dia selalu menjawab semua pertanyaan nanda tapi nanda mau nanyanya sama bunda aja, pernikahan itu apa sih? Kenapa bunda tidak menikah saja dengan ayah? Kenapa bunda membuat nanda jadi anak haram dan mengapa bunda mengusir nanda dari rahim bunda dan tidak memberi kesempatan nanda hidup di dunia dan berbakti kepada bunda? Hehe,,,maaf ya bunda, nanda bawel banget... nanti saja, nanda tanyakan bunda kalau kita ketemu   Oh ya Bunda, suatu hari malaikat pernah mengajak jalan-jalan nanda ke tempat yang katanya bernama neraka. Tempat itu sangat menyeramkan dan sangat jauh berbeda dengan tempat tinggal nanda di syurga. Di situ banyak orang yang dibakar pake api lho bunda...minumnya juga pake nanah dan makannya buah-buahan aneh, banyak durinya...yang paling parah, ada perempuan yang ditusuk dan dibakar kaya sate gitu, serem banget deh bunda.   Lagi ngeri-ngerinya, tiba-tiba malaikat bilang sama nanda, Nak, kalau bunda dan ayahmu tidak bertaubat kelak di situlah tempatnya...di situlah orang yang berzina akan tinggal dan disiksa selamanya. Seketika itu nanda menangis dan berteriak-teriak memohon agar bunda dan ayah jangan dimasukkan ke situ.... nanda sayang bunda... nanda kangen dan ingin bertemu bunda... nanda ingin merasakan lembutnya belaian tangan bunda dan nanda ingin kita tinggal bersama di syurga... nanda takut, bunda dan ayah kesakitan seperti orang-orang itu...   Lalu, dengan lembut malaikat berkata... nak,kata Allah kalau kamu sayang, mau bertemu dan ingin ayah bundamu tinggal di syurga bersamamu, tulislah surat untuk mereka... sampaikan berita baik bahwa kamu tinggal di syurga dan ingin mereka ikut, ajaklah mereka bertaubat dan sampaikan juga kabar buruk, bahwa jika mereka tidak bertaubat mereka akan disiksa di neraka seperti orang-orang itu.   

Saat mendengar itu, segera saja nanda menulis surat ini untuk bunda, menurut nanda Allah itu baik banget bunda.... Allah akan memaafkan semua kesalahan makhluk Nya asal mereka mau bertaubat nasuha... bunda taubat ya? Ajak ayah juga, nanti biar kita bisa kumpul bareng di sini... nanti nanda jemput bunda dan ayah di padang Mahsyar deh... nanda janji mau bawain minuman dan payung buat ayah dan bunda, soalnya kata Allah di sana panas banget bunda... antriannya juga panjang, semua orang sejak jaman nabi Adam kumpul disitu... tapi bunda jangan khawatir, Allah janji, walaupun rame kalo bunda dan ayah benar-benar bertaubat dan jadi orang yang baik, pasti nanda bisa ketemu kalian.   Bunda, kasih kesempatan buat nanda ya.... biar nanda bisa merasakan nikmatnya bertemu dan berbakti kepada orang tua, nanda juga mohon banget sama bunda...jangan sampai adik-adik nanda mengalami nasib yang sama dengan nanda, biarlah nanda saja yang merasakan sakitnya ketersia-siaan itu. Tolong ya bunda, kasih adik-adik kesempatan untuk hidup di dunia menemani dan merawat bunda saat bunda tua kelak.  Sudah dulu ya bunda... nanda mau main-main dulu di syurga.... nanda tunggu kedatangan ayah dan bunda di sini... nanda sayang banget sama bunda....muach!



 oleh Annisa Davina pada 04 September 2011 jam 23:22



Dari admin tentang Annisa Davina:

Upss.... jangan salah, bukan ini bunda yang dimaksud.
Dari mba' Annisa Davina  inilah catatan ini diposting,
setidaknya ini kali kedua admin memposting catatannya.
Pada tulisan terdahulu admin sudah memperkenalkannya
dengan foto dan nama yang berbeda- Annisa Nur Aisya,
tapi percayalah ini adalah orang yg sama dengan catatan yang berbeda.
Jangan tanya kenapa atau kapan ia berganti nama,
karena adminpun tak diundang tuk cicipi bubur merahnya. Hehee..

Untuk kenal lebih dekat lagi dengan mba' Annisa  silahkan Klik judul tulisannya yg lalu berikut ini: TANDA-TANDA GAGAL RAMADHAN