Sabtu, 30 Juni 2012

CINTA: Racun ataukah Obat ?

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

ASSALAMUALAIKUM WARAHMATULLAH WABARAKATUH


Setiap manusia pasti mendambakan kebahagiaan. Dan tentu saja untuk memperolehnya diperlukan ikhtiar. Lalu, ikhtiar seperti apakah sehingga kita dapat memperolehnya ? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, simak pengandaian berikut. Diandaikan kepala kita pusing, tentu saja tidak serta merta kita langsung minum obat pusing. Tanpa mengetahui penyebab pusing, sudah pasti jenis berbagai obat pusing belum tentu tepat. Mengetahui penyebab adalah langkah awal sebelum menentukan langkah berikutnya. Begitu pula tentang kebahagiaan. Bertitik-tolak dari hal tersebut, kiranya dapat ditarik rumusan ”apa penyebab manusiaa tidak bahagia ?

Menurut Ibn Miskawaih, bahwa kesedihan manusia lebih disebabkan oleh dua hal, yaitu “Fudhul al-Mahbub wa Fudhul al-Mathlub” (hilangnya yang dicinta, dan lepasnya yang didamba). Setujukah ? Marilah kita selidiki bersama ! Jika kita kehilangan sesuatu yang kita cintai, tentu saja sedih. Dan yang demikian itu tidak salah. Kesedihan menjadi masalah ketika diekspresikan secara berlebihan.

Mengapa seseorang bisa berlebihan dalam mengekspresikan kesedihannya ? Hal itu tidak lain karena kecintaan yang berlebihan pula. Makin tinggi cinta seseorang, maka makin tinggi pula potensi derajat kesedihannya. Karena itu Islam mengajarkan bentuk cinta yang ideal bagi manusia. Rasulullah s.a.w bersabda

Cintailah kekasihmu sewajarnya, karena bisa jadi suatu saat akan menjadi musuhmu. Bencilah sewajarnya, karena bisa jadi suatu saat nanti akan menjadi kekasihmu”  (HR. Tirmidzi)

Terkait cinta yang sewajarnya, menarik untuk disimak pandangan Maulana Jalalauddin Rumi. Suatu hari dia menerangkan kepada muridnya perihal perbedaan obat dengan racun. Menurutnya, perbedaan keduanya sangat tipis, yakni tergantung dosis (ukuran). Jika kita minum segelas air, maka bisa mengobati dari dahaga. Sebaliknya, jika kita minum air bergelas-gelas, maka air berubah menjadi racun bagi tubuh. Begitu pula cinta. Cinta yang over dosis, hanya akan melahirkan penderitaan.

Kecintaan terhadap seseorang/bendawi secara berlebihan hanya akan melahirkan belenggu. Makin dicintai, makin membelenggu. Makin was-was. Makin takut hilang. Apalagi benar-benar hilang. Cinta yang seharusnya menjadi penawar hati, berubah menjadi racun hati.

Sebaliknya, jika kita mencintai Allah sebanyak-banyak, pasti hati menjadi tenang. Mengapa ? Karena Allah tak pernah hilang. Dia Yang Maha Kekal. Mencintai dzat yang tak akan pernah bisa hilang, melahirkan kebahagian yang kekal pula. Rumi melukiskan hubungan Tuhan dengan manusia, ibarat matahari dengan sinarnya. Makin dekat dengan matahari, makin terang (bahagia). Makin jauh dari matahari, makin gelap (sengsara). Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah maka hati akan menjadi tentram (QS.13:28).

~ Senyum menjelang Tahajud ~


Oleh Rossita Khumairah Najwa II 

Apa itu Musibah ?

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

 


I. PENGANTAR

 a). Perhatikan baik-baik Narasi Pertama di bawah ini !

Setelah Iblis tidak mau sujud pada Nabi Adam, Lalu Allah mengusirnya dari Surga. Sebelum Iblis meninggalkan Surga, Iblis berkata kepada Allah:

قال رب بما أغويتني لأزينن لهم في الأرض ولأغوينهم أجمعين  إلا عبادك منهم المخلصين

Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang MUKHLIS di antara mereka"
(QS.15: 39-40).

Dari ayat di atas jelas sekali bahwa hanya orang yg MUKHLIS saja yang tidak bisa ditundukkan Iblis. Semua orang bisa digoda Iblis, kecuali orang yg MUKHLIS.

MUKHLIS artinya orang yg IKHLASH. Pertanyaannya adalah ORANG YANG IKHLAS ITU SEPERTI APA ?

Ada 5 bentuk keikhlasan. Pada kesempatan kali ini aku hanya menguraikan 1 bentuk saja. Selebihnya cari sendiri.


(b). Perhatikan Narasi Kedua di bawa ini !

TIM PENAFSIR DEPAG memberikan tafsiran bahwa YANG DIMAKSUD ORANG MUKHLISIN pada QS.15:39-40 ialah ORANG YANG DIBERI PETUNJUK ALLAH. Pertanyaannya adalah ORANG YANG DIBERI PETUNJUK ALLAH ITU YANG SEPERTI APA ?

Untuk menjawab pertanyaan tsb di atas, simak baik-baik QS. 2: 155-157. Baca berulang-ulang, paling sedikit 3 kali agar meresap di hati sehingga mendapatkan hikmah dan pemahaman.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

”Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada ORANG yg SABAR, (yaitu) ORANG-ORANG yang apabila DITIMPA MUSIBAH, mereka mengucapkan "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun". Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan MEREKA itulah ORANG-ORANG yang MENDAPAT PETUNJUK”. QS.2: 155-157.

Berdasarkan keterangan ayat di atas, kiranya dapat diambil pemahaman bahwa:

1. Orang yg IKHLAS adalah orang yg MENDAPAT PETUNJUK.
2. Orang yang MENDAPAT PETUNJUK adalah MEREKA yg SABAR.
3. Orang yang SABAR adalah MEREKA yg apabila DITIMPA MUSIBAH berkata berkata ”INNA LILLAHI WAINNA ILAHI RAJIUN”.

 Pertanyaannya adalah MUSIBAH ITU APA ?
Dan hakekat INNA LILLAHI WAINNA ILAHI RAJIUN itu apa ?

(c). Perhatikan Narasi Ketiga di bawah ini
Para Fuqaha mendefenisikan MUSIBAH ADALAH SEGALA HAL YANG MENIMPA DIRI KITA.

CONTOH KASUS: terkait kenaikan gaji dan kenaikan jabatan. Banyak orang ketika gajiaannya masih sebatas UMR atau mungkin 3 jutaan, belum begitu sombong. Namun ketika jabatannya naik sehingga gajinya juga ikut naik (misalanya dari 3 juta menjadi 7 juta) maka banyak di antara mereka itu kemudian menjadi sombong dan angkuh.

Gaji dan jabatan naik bukannya makin mendekatkan diri pada Allah, tapi malah macam-macam ulahnya. Bahkan tidak sedikit yg kemudian bermain perempuan. Saat masih gajinya kecil, terlihat santun/murah senyum/suka bergaul dgn tetangga, dll. Namun begitu jabatan dan gaji naik, mulai bertingkah: berlagak seakan tidak mengenali kita lg/ketus, dll.

Berdasarkan hal-hal di atas, kiranya dapat diambil pemahaman bahwa TERNYATA KENAIKAN PANGKAT/GAJI bisa membuat seseorang bisa makin dekat pada ALLAH, namun juga bisa malah sebaliknya. Itu berarti kenaikan pangkat/gaji adalah MUSIBAH. MUSIBAH dalam konteks ini artinya UJIAN.

Jika pandangan tsb kita sepakati maka sesungguhnya: Kecantikan, Ketampanan, Kecerdasaan, Kekayaan, dll adalah MUSIBAH. Betapa banyak orang yg dikasih wajah TAMPAN tetapi ketampanannya disalahgunakan. Ketampananya justru digunakan menjadi Play Boy, sehingga menyakit banyak wanita. Begitupun mereka yg dikasih kecantikan. Tidak sedikit mereka yg berwajah cantik justru kecantikkannya mendatangkan malapetaka bagi orang lain dan dirinya sendiri.

Nah dalam konteks inilah mengapa saat ABU BAKAR ASSHIDIQ dipilih jadi KHALIFAH beliau langsung mengucapakan: ”INNA LILLAHI WAINNA LAHI RAJIUN”. Beliau sadar bahwa jabatan adalah MUSIBAH. Dan di dalam QS.2: 155-157 telah jelas bahwa apabila kita mendapatkan MUSIBAH maka ucapkanlah INNA LILLAHI WAINNA ILAHI RAJIUN.

 
(d). Perhatikan Narasi Keempat di bawah ini !

Apakah hakekat dari kalimat INNA LILLAHI WAINNA ILAHI RAJIUN ?

Secara harfiah kalimat di atas diterjemahkan ”Sesungguhnya semuanya berasal dari Allah, dan kembali pada Allah”. Jika SEMUNYA berasal dari ALLAH, itu artinya SEMUA adalah milik ALLAH. Harta/Jabatan/Kecerdasan/Kecantikan, dll adalah milik ALLAH. Jika semuanya MILIK ALLAH, berarti KITA MISKIN. Hanya ALLAH yg kaya. Apa yg ada pada diri kita hanyalah titipan. Oleh karena titipan maka kelak Jabatan/kecantikan/Kecerdasan/kekayaan, dll semuanya itu nanti dimintai tanggung jawab. Untuk apa jabatan kita gunakan ? Untuk apa kecantikan kita gunakan ? Untuk apa kecerdasan kita gunakan ? Untuk apa kekayaan kita gunakan, dll.

Mengucapkan kalimat INNA LILLAHI WAINNA ILAHI RAJIUN itu mudah. Substansi isi pesan QS.2: 155-157 itu bukan terletak pd ucapan, tapi pada sikap dan perilaku. Apakah perilaku kita menunjukkan kepongahan atau kezuhudan ?

Jika kita mengucapkan INNA LILLAHI WAINNA ILAHI RAJIUN saat mendapatkan musibah (semacam kenaikan pangkat/gaji), tapi pada saat yg bersamaan sikap kita angkuh/sombong, dll maka kita tidak ubahnya seorang artis. Artis itu pandai menyanyi. Tetapi apakah ia akan melaksanakan lirik-lirik lagu yg dinyanyikan ? hmmmmm.....


II.  PENUTUP

Menyadari hal-hal di atas, maka sudah sepatutunya jika kita mendapatkan kenaikan gaji/jabatan dll untuk terus senantiasa bermuhasabah agar tidak lupa diri karenya sesungguhnya semuanya itu adalah musibah (ujian) dari ALLAH

~ SENYUM MENJELANG SUBUH ~

 Oleh Rossita Khumairah Najwa II


Hmmm,...Hanya Sebuah Nasehat

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Bismillahirrahmanirrahim       



1. Jauhilah olehmu banyak bicara (yang tidak bermanfaat) dan jagalah mulutmu dari cerewet. hm… ni yang sulit bagi temen2 yang terbiasa cerewet… tapi kalau kita mau mencoba Insya Allah bisa kok… jadi pendiem.. walau kadang sama temen2 yang udah biasa liat or denger kita cerewet pasti dikomentarin “tumben diem, lagi sakit gigi ya?” seperti itulah kira2 expresi mereka… but take it easy… Allah maha Tau

2. Bacalah Al-Qur’an Al-Kariem, dan berusahalah agar ia menjadi wirid harianmu, juga berusahalah untuk menghafalkannya, buat jadwal minimal sehari 1 jus… kalau lebih Alhamdulilah… great u are…

3. Tidak baik jika kamu membicarakan semua pembicaraan yang telah kamu dengar, sebab yang demikian itu memberi peluang kepadamu untuk jatuh dalam lubang kebohongan. Hmmm… wajib hati2 karena ucapan adalah cermin dari jati diri seseorang

4. Jauhilah sifat sombong dan bangga diri dengan sesuatu yang bukan milikmu karena untuk pamer dan menyombongkan diri di depan manusia. he em… jangan sampe barang orang diakui milik sendiri untuk menyombongkan diri… Naudzubillah…

5. Sesungguhnya dzikir kepada Allah memiliki pengaruh yang agung bagi kehidupan ruh, jiwa, badan, dan sosial seorang muslim. biasakan untuk selalu mengingat Allah, yang lebih utama jika dipagi dan sore hari kita membaca al - ma’surat

6. Jika engkau hendak berbicara janganlah engkau agung-agungkan, jangan engkau fasih-fasihkan, dan jangan pula engkau buat-buat, sebab yang demikian itu adalah sifat yang dibenci oleh Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam. hmm… ingatlah wahai sahabatku berhati - hatilah dalam berbicara terutama di sekitar orang yang buka mahrammu

7. Hendaklah engkau berteladan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam , yang senantiasa lebih banyak diam dan berfikir, tidak memperbanyak tertawa apalagi berlebih-lebihan di dalamnya.

8. Janganlah sekali-kali memutus pembicaraan orang lain atau membantahnya atau menampakkan pelecehan terhadapnya,tetapi jadilah pendengar yang baik yang mendengarkan pembicaraan orang lain dengan sopan (sebagai tanda budi baikmu),

9. Waspadalah sepenuhnya dengan sikap mengejek dan merendahkan dialek pembicaraan orang lain, seperti terhadap orang yang kurang lancar bicaranya atau terhadap mereka yang berbicara dengan tersendat-sendat.

10. Jika engkau mendengar bacaan Al-Qur’an al-Karim, maka hentikan pembicaraanmu apapun masalah yang sedang engkau bicarakan, karena menghormati terhadap kalamullah,

11. Senantiasa menimbang kata-kata (ucapanmu) sebelum diucapkan oleh lisanmu

12. Pergunakanlah lisanmu untuk beramar ma’ruf dan nahyu munkar serta untuk berdakwah kepada kebaikan, karena lisan adalah nikmat Allah yang agung yang telah dikaruniakan kepadamu.

Wallahu a'lam bishawab

By : Mencari Rezky

Jumat, 29 Juni 2012

Nasihat Kematian

           Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh

                                 Bismillahirrahmanirrahim

 


                              
1). Aku adalah tempat yang paling gelap di antara yang gelap, maka terangilah aku dengan TAHAJUD

2). Aku adalah tempat yang paling sempit, maka luaskanlah aku dengan ber SILATURAHMI.

3). Aku adalah tempat yang paling sepi maka ramaikanlah aku dengan perbanyak baca AL-QUR'AN.

4). Aku adalah tempatnya binatang-binatang yang menjijikan maka racunilah ia dengan Amal SHADAQOH,

5). Aku yang menjepitmu hingga hancur bilamana tidak Shalat, bebaskan jepitan itu dengan SHALAT

6). Aku adalah tempat untuk merendamu dengan cairan yang sangat amat sakit, bebaskan rendaman itu dg PUASA..

7). Aku adalah tempat Munkar & Nakir bertanya, maka Persiapkanlah jawabanmu dengan Perbanyak mengucapkan Kalimat "LAILAHAILALLAH"
 
saat kamu membawa Al-Qur'an, setan biasa-biasa saja.
Saat kamu membukanya, syaitan mulai curiga.
Saat kamu membacanya, ia gelisah.
Saat kamu mmahaminya, ia kejang-kejang.
Saat kamu mengamalkan Al-Qur'an dalam kehidupan shari-hari, ia stroke.
Trus dan trus baca & amalkan agar syaitan stroke total, jantungan dan mati.Ketika anda ingin menyebarkan ini, lagi2 syaitan pun mencegahnya.

Syaitan bilang;
"Udahlaaaaaah ngak usah di SEBARIN, ngak penting koq, BUANG-BUANG WAKTU aja, gak akan di baca koq"…

Sekecil apapun amal ibadah, Allah SWT menghargainya puluhan kali lipat..

Wallahu a'lam bishawab

By : Mencari Rezky

KALAU KITA DINASEHATI..., JANGAN MARAH

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Bismillahirrahmanirrahim
 


Sering kita marah-marah padahal Nabi sangat melarang hal ini. Adakalanya kita berdalih dengan alasan kita melakukannya karena agama. Padahal Allah mengutamakan kebaikan akhlak, bukan kekasaran:
"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu." [Ali Imran:159]

Memang ada beberapa kondisi yang mewajibkan kita marah bahkan berperang mengangkat senjata terhadap orang-orang yang sangat zhalim tapi itu ada persyaratan khusus yang biasanya dibahas dalam bab lain khususnya yang berkaitan dengan jihad. 

Di sini kita akan mempelajari tentang marah.
Abdullah bin Umar r.a. mengatakan bahwa Nabi saw bersabda, "Orang Islam itu adalah orang yang orang-orang Islam lainnya selamat dari lidah dan tangannya; dan orang yang berhijrah (muhajir) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah." [HR Bukhari]
"Seorang mukmin bukanlah pengumpat, pengutuk, berkata keji atau berkata busuk." (HR. Bukhari dan Al Hakim)

Dari hadits di atas jelaslah seorang yang pemarah bukanlah orang Islam dan juga bukan orang beriman karena orang-orang takut mendekat dan kena marah olehnya
.
Abu Musa r.a. berkata, "Mereka (para sahabat) bertanya, Wahai Rasulullah, Islam manakah yang lebih utama?" Beliau menjawab, "Orang yang orang-orang Islam lainnya selamat dari lidah dan tangannya." [HR Bukhari]

Ketika marah, kita harus bisa menahan diri.
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Orang kuat itu bukanlah orang yang menang bergulat, tetapi orang kuat ialah orang yang dapat menahan dirinya ketika marah."(HR. Muttafaq Alaihi.)

Orang yang suka marah/zhalim pada orang lain niscaya akan merasa kegelapan pada hari kiamat. Ketika listrik mati di malam hari dan gelap tak ada alat penerang kita tidak suka hal itu. Nah kegelapan hari kiamat jauh lebih buruk dari hal itu dan lebih lama:
Dari Jabir Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Jauhilah kedholiman karena kedholiman ialah kegelapan pada hari kiamat, dan jauhilah kikir karena ia telah membinasakan orang sebelummu." Riwayat Muslim.

Ketika seseorang minta nasehat, Nabi menjawab "Jangan marah" berulangkali:
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa ada seseorang berkata: Wahai Rasulullah, berilah aku nasehat. Beliau bersabda: "Jangan marah." Lalu orang itu mengulangi beberapa kali, dan beliau bersabda: "Jangan marah." (HR. Bukhari.)

Orang yang paling baik akhlaknya yang dekat dengan Nabi. Bukan orang yang pemarah:
Paling dekat dengan aku kedudukannya pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya dan sebaik-baik kamu ialah yang paling baik terhadap keluarganya. (HR. Ar-Ridha)

Orang yang marah karena diingatkan untuk takwa kepada Allah berdosa besar:
Cukup berdosa orang yang jika diingatkan agar bertaqwa kepada Allah, dia marah. (HR. Ath-Thabrani)

Salah satu penyebab yang paling banyak membuat orang masuk neraka adalah mulut yang suka marah. Meski dia rajin sholat, puasa, zakat dan haji tapi jika suka marah tetap masuk neraka:
Rasulullah Saw ditanya tentang sebab-sebab paling banyak yang memasukkan manusia ke surga. Beliau menjawab, "Ketakwaan kepada Allah dan akhlak yang baik." Beliau ditanya lagi, "Apa penyebab banyaknya manusia masuk neraka?” Rasulullah Saw menjawab, "Mulut dan kemaluan." (HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban)

Kebanyakan dosa anak Adam karena lidahnya. (HR. Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)

Tahukah kamu apa ghibah itu? Para sahabat menjawab, "Allah dan rasulNya lebih mengetahui." Beliau bersabda, "Menyebut-nyebut sesuatu tentang saudaramu hal-hal yang dia tidak sukai."(HR. Muslim)

Sulaiman bin Shurad ra., ia berkata: Dua orang pemuda saling mencaci di hadapan Rasulullah saw. lalu mulailah mata salah seorang dari mereka memerah dan urat lehernya membesar. Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya aku tahu suatu kalimat yang apabila diucapkan, maka akan hilanglah kemarahan yang didapati yaitu "Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk". Lelaki itu berkata: Apakah engkau menyangka aku orang gila?. (Shahih Muslim No.4725)

Sering orang marah kepada pembantunya / bawahannya karena dia merasa lebih tinggi sementara pembantunya / bawahannya lebih rendah dan selalu takut kepadanya. Padahal menurut Anas seorang pembantu Nabi, selama 10 tahun dia bekerja dengan Nabi, tak pernah sekalipun Nabi memarahinya meski dia ada salah.

Seorang sahabat berkata kepada Rasulullah Saw, "Pelayan (pembantu rumah tangga) saya berbuat keburukan dan kezaliman." Nabi Saw menjawab, "Kamu harus memaafkannya setiap hari tujuh puluh kali." (HR. Al-Baihaqi)

Biasanya orang marah terhadap pembantu / bawahan karena pekerjaan "kurang/tidak beres". Padahal Nabi memerintahkan untuk memberi pekerjaan hanya sesuai kemampuan mereka dan jika perlu kita harus membantu mereka jika mereka kesulitan. 

Allah memberi ganjaran pahala untuk itu:
Apa yang kamu ringankan dari pekerjaan pembantumu bagimu pahala di neraca timbanganmu. (HR. Ibnu Hibban)

Bagi seorang budak jaminan pangan dan sandangnya. Dia tidak boleh dipaksa melakukan pekerjaan yang tidak mampu dilakukannya. (HR. Muslim)

Pelayan-pelayanmu adalah saudara-saudaramu. Allah menjadikan mereka bernaung di bawah kekuasaanmu. Barangsiapa saudaranya yang berada di bawah naungan kekuasaannya hendaklah mereka diberi makan serupa dengan yang dia makan dan diberi pakaian serupa dengan yang dia pakai. Janganlah membebani mereka dengan pekerjaan yang tidak dapat mereka tunaikan. Jika kamu memaksakan suatu pekerjaan hendaklah kamu ikut membantu mereka. (HR. Bukhari)

Allah melarang kita untuk banyak bicara. Apalagi banyak marah. Karena akan menyebabkan kita masuk neraka:
Sesungguhnya Allah melarang kamu banyak omong, yang diomongkan, dan menyia-nyiakan harta serta banyak bertanya. (HR. Asysyihaab)

Barangsiapa banyak bicara maka banyak pula salahnya dan barangsiapa banyak salah maka banyak pula dosanya, dan barangsiapa banyak dosanya maka api neraka lebih utama baginya. (HR. Ath-Thabrani)

Jika marah, diamlah. Kebanyakan penyebab retaknya rumah tangga / keluarga adalah ketika suami/istri marah, mereka tidak diam. Justru melontarkan perkataan yang menyakitkan hati pasangannya. Padahal dengan diam pun pasangan kita tahu kita sedang marah tanpa membuat dia sakit hati karena perkataan kita:
Bila seorang dari kamu sedang marah hendaklah diam. (HR. Ahmad)

Jika kita marah, maka pahala kita akan diberikan kepada orang yang kita marahi. Jika pahala kita habis, maka dosa orang yang kita marahi dipindahkan Allah ke kita. Inilah orang yang muflis/bangkrut di akhirat. 

Dia mengira akan masuk surga karena rajin beribadah, tapi dia juga rajin menzhalimi/memarahi orang lain hingga akhirnya masuk neraka:
Apabila ada orang yang mencaci-maki kamu tentang apa yang dia ketahui pada dirimu, janganlah kamu mencaci-maki dia tentang apa yang kamu ketahui pada dirinya karena pahalanya untuk kamu dan kecelakaan untuk dia. (HR. Ad-Dailami)

Tahukah kamu siapa orang yang bangkrut? Para sahabat menjawab, "Allah dan rasulNya lebih mengetahui." Nabi Saw lalu berkata, " Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku ialah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan puasa, shalat dan zakat, tetapi dia pernah mencaci-maki orang ini dan menuduh orang itu berbuat zina. Dia pernah memakan harta orang itu. Di akhirat orang-orang yang disakitinya menuntut dan mengambil pahalanya sebagai tebusan. Bila pahalanya habis sebelum selesai ganti rugi atas dosa-dosanya maka dosa orang-orang yang menuntut itu diletakkan di atas bahunya lalu dia dihempaskan ke api neraka." (HR. Muslim)

Jika kita berbuat salah kepada Allah, begitu kita tobat dan minta ampun kepada Allah, niscaya Allah memaafkan. Tetapi jika kita berbuat salah terhadap manusia, misalnya memarahinya, dosa kita tidak akan diampuni kecuali orang yang kita meminta maaf kepada orang yang kita zhalimi.

Ada satu kisah seorang ayah menyuruh anaknya yang pemarah untuk memaku beberapa paku ke pagar. Meski paku-paku itu dicabut, namun lubang bekas paku itu tetap ada. Begitulah jika kita memarahi orang. Meski kita sudah minta maaf, namun bekas luka di hati orang yang kita marahi akan tetap ada.

Kita harus yakin bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Mendengar. Sehingga Allah mengetahui jika kita sedang menzhalimi seseorang. Kita juga harus yakin bahwa segala ucapan dan tindakan kita selalu dicatat oleh dua malaikat, yaitu Roqib dan ‘Atid dan akan dihitung di hari Kiamat nanti. Oleh sebab itu hindarilah segala ucapan dan perbuatan yang buruk.

Jangan mencaci/menghina orang lain dengan sebutan yang anda sendiri tidak suka:
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri (maksudnya saudaramu) dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan" [Al Hujuraat:11]

Tips agar tidak marah:


  • >>>Baca ta'awudz (a'udzubillahi minasy syaithoonir rojiim) sebab setan membisikkan manusia untuk berbuat dosa termasuk marah. Berlindunglah terhadap Allah.
  • >>>Bersabarlah. Tahan kemarahan anda
  • >>>Diamlah
  • >>>Jika anda berdiri, duduklah.
  • >>>Jika masih marah, berwudlu-lah
  • >>>Jika terpaksa bicara, beritahu cara yang benar. Misalnya: Kalau melakukan ini caranya begini sambil memperagakannya. Jangan panjang-panjang cukup 2x. Kalau kesalahan masih terulang, ulangi lagi nasehat tersebut. Hindari menggelari orang dengan sebutan yang anda sendiri tidak suka seperti bodoh, dan sebagainya.



Wallahu a'lam bishawab

By : Mencari Rezky

Kamis, 28 Juni 2012

RIZKI YANG TAK DISANGKA-SANGKA

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Bismillahirrahmanirrahim

 

Berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, saya dipertemukan dengan hamba-Nya yang satu ini. Beliau adalah seorang leader yang selalu mengayomi, memberikan bimbingan, semangat, inspirasi, ide dan gagasan segar. Beliau seorang pemimpin yang mampu menggerakkan ratusan hingga ribuan anak buahnya. Beliau seorang guru yang memiliki lautan ilmu, yang selalu siap ditimba oleh anak-anaknya dan bagai tiada pernah habis.

Saat ini beliau memiliki berbagai macam bidang usaha, di antaranya sebagai supplier dan distribusi alat dan produk kesehatan, kontraktor, hotel dan rumah sakit, puluhan hektar tambak, puluhan hektar ladang, berpuluh rumah kos, ruko, stand penjualan di mall, apartemen dan lain-lain. Pernah saya mencoba menghitung, penghasilan beliau bisa mencapai Rp 15 Milyar per bulannya (kita krus dalam Rupiah). Sebuah pencapaian luar biasa bagi saya dan kebanyakan orang lain.

Pertemuan antara saya dan beliau yang saya ceritakan di bawah ini terjadi beberapa tahun yang lalu, di saat penghasilan beliau masih berkisar Rp 200 juta per bulan (kita krus dalam Rupiah). Bagi saya, angka ini pun sudah bukan main dahsyatnya. Sengaja saya tidak menyebutkan namanya, karena cerita ini saya publish belum mendapatkan ijin dari beliau. Kita ambil wisdomnya saja ya.

Suatu hari, terjadilah dialog antara saya dengan beliau di serambi sebuah Hotel Adlon Kempinski Unter den Linden 77, Berlin, Jerman. Saya ingat, beliau berpesan bahwa beliau senang ditanya. Kalau ditanya, maka akan dijelaskan panjang lebar. Tapi kalau kita diam, maka beliau pun akan “tidur”. Jadilah saya berpikir untuk selalu mengajaknya ngobrol. Bertanya apa saja yang bisa saya tanyakan.

Sampai akhirnya saya bertanya secara asal, “Pak, Anda saat ini kan bisa dibilang sukses. Paling tidak, lebih sukses daripada orang lain. Lalu menurut Anda, apa yang menjadi rahasia kesuksesan Anda?”
Tak dinyana beliau menjawab pertanyaan ini dengan serius.
“Ada empat hal yang harus Anda perhatikan,” begitu beliau memulai penjelasannya.

RAHASIA PERTAMA
“Pertama. Jangan lupakan orang tuamu, khususnya ibumu. Karena ibu adalah orang yang melahirkan kita ke muka bumi ini. Mulai dari mengandung 9 bulan lebih, itu sangat berat. Ibu melahirkan kita dengan susah payah, sakit sekali, nyawa taruhannya. Surga di bawah telapak kaki ibu. Ibu bagaikan pengeran katon (Tuhan yang kelihatan).

Banyak orang sekarang yang salah. Para guru dan kyai dicium tangannya, sementara kepada ibunya tidak pernah. Para guru dan kyai dipuja dan dielukan, diberi sumbangan materi jutaan rupiah, dibuatkan rumah; namun ibunya sendiri di rumah dibiarkan atau diberi materi tapi sedikit sekali. Banyak orang yang memberangkatkan haji guru atau kyainya, padahal ibunya sendiri belum dihajikan. Itu terbalik.

Pesan Nabi : Ibumu, ibumu, ibumu… baru kemudian ayahmu dan gurumu.
Ridho Allah tergantung pada ridho kedua orang tua. Kumpulkan seribu ulama untuk berdoa. Maka doa ibumu jauh lebih mustajabah.” Beliau mengambil napas sejenak.

RAHASIA KEDUA
“Kemudian yang kedua,” beliau melanjutkan. “Banyaklah memberi. Banyaklah bersedekah". Allah berjanji membalas setiap uang yang kita keluarkan itu dengan berlipat ganda. Sedekah mampu mengalahkan angin. Sedekah bisa mengalahkan besi. Sedekah membersihkan harta dan hati kita. Sedekah melepaskan kita dari marabahaya. Allah mungkin membalas sedekah kita dengan rejeki yang banyak, kesehatan, terhindarkan kita dari bahaya, keluarga yang baik, ilmu, kesempatan, dan lain-lain.

Jangan sepelekan bila ada pengemis datang meminta-minta kepadamu. Karena saat itulah sebenarnya anda dibukakan pintu rejeki. Beri pengemis itu dengan pemberian yang baik dan sikap yang baik. Kalau punya uang kertas, lebih baik memberinya dengan uang kertas, bukan uang logam. Pilihkan lembar uang kertas yang masih bagus, bukan yang sudah lecek. Pegang dengan dua tangan, lalu ulurkan dengan sikap hormat kalau perlu sambil menunduk (menghormat). Pengemis yang Anda beri dengan cara seperti itu, akan terketuk hatinya, ‘Belum pernah ada orang yang memberi dan menghargaiku seperti ini.’ Maka terucap atau tidak, dia akan mendoakan Anda dengan kelimpahan rejeki, kesehatan dan kebahagiaan.

Banyak orang yang keliru dengan menolak pengemis yang mendatanginya, bahkan ada pula yang menghardiknya. Perbuatan itu sama saja dengan menutup pintu rejekinya sendiri.

Dalam kesempatan lain, ketika saya berjalan-jalan dengan beliau, beliau jelas mempraktekkan apa yang diucapkannya itu. Memberi pengemis dengan selembar uang ribuan yang masih bagus dan memberikannya dengan dua tangan sambil sedikit membungkuk hormat. Saya lihat pengemis itu memang berbinar dan betapa berterima kasihnya.

RAHASIA KETIGA
“Allah berjanji memberikan rejeki kepada kita dari jalan yang tidak disangka-sangka,” begitu beliau mengawali penjelasannya untuk rahasia ketiganya. “Tapi sedikit orang yang tahu, bagaimana caranya supaya itu cepat terjadi? Kebanyakan orang hanya menunggu. Padahal itu ada jalannya.”

Benar di Al Quran ada satu ayat yang kira-kira artinya :  
Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya diadakan-Nya jalan keluar baginya dan memberinya rejeki dari jalan/pintu yang tidak diduga-duga”, (QS Ath Thalaq 2-3).

“Nah, ingin tahu caranya bagaimana agar kita mendapatkan rejeki yang tidak diduga-duga?,” tanya beliau.


“Ya, bagaimana caranya?” jawab saya. Saya pikir cukup dengan bertaqwa, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, maka Allah akan mengirim rejeki itu datang untuk kita.

“Banyaklah menolong orang. Kalau ada orang yang butuh pertolongan, kalau ketemu orang yang kesulitan, langsung Anda bantu!” jawaban beliau ini membuat saya berpikir keras. “Saat seperti itulah, Anda menjadi rejeki yang tidak disangka-sangka bagi orang itu. Maka tentu balasannya adalah Allah akan memberikan kepadamu rejeki yang tidak disangka-sangka pula.”

“Walau pun itu orang kaya?” tanya saya.

“Ya, walau itu orang kaya, suatu saat dia pun butuh bantuan. Mungkin dompetnya hilang, mungkin ban mobilnya bocor, atau apa saja. Maka jika Anda temui itu dan Anda bisa menolongnya, segera bantulah.”

“Walau itu orang yang berpura-pura? Sekarang kan banyak orang jalan kaki, datang ke rumah kita, pura-pura minta sumbangan rumah ibadah, atau pura-pura belum makan, tapi ternyata cuma bohongan. Sumbangan yang katanya untuk rumah ibadah, sebenarnya dia makan sendiri,” saya bertanya lagi.

“Ya walau orang itu cuma berpura-pura seperti itu,” jawab beliau. “Kalau anda tanya, sebenarnya dia pun tidak suka melakukan kebohongan itu. Dia itu sudah frustasi karena tidak bisa bekerja atau tidak punya pekerjaan yang benar. Dia itu butuh makan, namun sudah buntu pikirannya. Akhirnya itulah yang bisa dia lakukan. Soal itu nanti, serahkan pada Allah. Allah yang menghakimi perbuatannya, dan Allah yang membalas niat dan pemberian Anda.”

RAHASIA KEEMPAT
Wah, makin menarik, nih. Saya manggut-manggut. Sebenarnya saya tidak menyangka kalau pertanyaan asal-asalan saya tadi berbuah jawaban yang begitu serius dan panjang. Sekarang tinggal satu rahasia lagi, dari empat rahasia seperti yang dikatakan beliau sebelumnya.

“Yang keempat nih, Mas,” beliau memulai. “Jangan mempermainkan wanita”.

Hm… ini membuat saya berpikir keras. Apa maksudnya. Apakah kita membuat janji dengan teman wanita, lalu tidak kita tepati? Atau jangan biarkan wanita menunggu? Seperti di film-film saja.

“Maksudnya begini. Anda kan punya istri, atau suami. Itu adalah pasangan hidup Anda, baik di saat susah maupun senang. Ketika anda pergi meninggalkan rumah untuk mencari nafkah, dia di rumah menunggu dan berdoa untuk keselamatan dan kesuksesan Anda. Dia ikut besama anda di kala anda susah, penghasilan yang pas-pasan, makan dan pakaian seadanya, dia mendampingi anda dan mendukung segala usaha anda untuk berhasil.”

“Lalu?” saya tak sabar untuk tahu kelanjutan maksudnya.

“Banyak orang yang kemudian ketika sukses, uangnya banyak, punya jabatan, lalu menikah lagi. Atau mulai bermain wanita (atau bermain pria, bagi yang perempuan). Baik menikah lagi secara terang-terangan, apalagi diam-diam, itu menyakiti hati pasangan hidup anda. Ingat, pasangan hidup yang dulu mendampingi anda di kala susah, mendukung dan berdoa untuk kesuksesan anda. Namun ketika anda mendapatkan sukses itu, anda meninggalkannya. Atau anda menduakannya.”

Oh… pelajaran monogami nih, pikir saya dalam hati.

“Banyak orang yang lupa hal itu. Begitu sudah jadi orang besar, uangnya banyak, lalu cari istri lagi. Menikah lagi. Rumah tangganya jadi kacau. Ketika merasa ditinggalkan, pasangan hidupnya menjadi tidak rela. Akhirnya uangnya habis untuk biaya sana-sini. Banyak orang yang jatuh karena hal seperti ini. Dia lupa bahwa pasangan hidupnya itu sebenarnya ikut punya andil dalam kesuksesan dirinya,” beliau melanjutkan.

Hal ini saya buktikan sendiri, setiap saya datang ke rumahnya yang di Saint Johns Wood, Newham, United Kingdom , saya menjumpai beliau punya seorang ayah dan ibu yang bijaksana, dan mempunyai 1 orang adik perempuan.

Perbincangan ini ditutup ketika kemudian ada tamu yang datang

By : Mencari Rezky

Ayo Makan dari Hasil Keringat Sendiri.

 Asslamualaikum warahmatullah wabakatuh
 Bismillahirrahmanirrahim


Kita di umat muslim disuruh buka usaha sendiri, perhatiakan Hadits di bawah ini:

....dari Aisah(RA) berkata; Rasulullah saw bersabda:
"Sesungguhnya sebaik-baiknya yang dimakan seseorang hasil kerja sendiri" (HR. Bukhari Dan Muslim)

Rasulullah saw bersabda :
"Tidaklah seseorang bekerja suatu pekerjaan yang lebih suci daripada hasil kerja tanganya, dan apa-apa yang ia belanjakan untuk dirinya, keluarganya, anak-anaknya dan pembantuknya maka itu merupakan sedekah" (HR. Bukhari dan Muslim)

Makna dari hadits diatas
- Orang yang makan dari keringatnya sendiri itu jauh lebih baik daripada hasil meminta-minta, hasil sumbangan atau hasil kejahatan
- Orang yang bekerja itu lebih baik dari pada mengantungkan hidup dari orang lain
-Kita Disuruh buka usaha sendiri
- Kita disuruh mencari rezeki sendiri bukan cara meminta-minta
- Hasil kerja yang di belanjakan untuk menghidupi keluarga dan pembantu merupakan sedekah

Islam memiliki pandangan tersendiri terhadap rezeki, nikmat dan makanan yang pada hakikatnya semua berasal dari Allah SWT. Konsep ini mengandung arti bahwa Allah SWT adalah satu-satunya Dzat pemberi nikmat bagi setiap makhluk hidup yang ada diseluruh dunia ini.

Allah SWT melimpahkan nikmatnya pada hamba-hambanya yang mau berusaha dan menggunakannya demi untuk memenuhi janji-janjinya kepada Allah SWT. Bagaimanapun juga Allah SWT tidak akan melimpahkan nikmat dan rahmatnya pada orang-orang yang berusaha mendapatkan kekayaan dengan cara yang tidak halal dan membelanjakannya dengan cara yang tidak bertanggung jawab.

Manusia hanyalah sarana bagi Allah SWT untuk melimpahkan nikmatnya. Nikmat Allah SWT yang diperuntukkan bagi manusia tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan makan atau hanya sekedar untuk menyambung hidup. Allah SWT menghendaki kehidupan yang nyaman dan tentram bagi umat manusia.

Allah SWT menyatakan bahwa Dia hanya melimpahkan karunianya bagi hamba-hambanya yang mau berusaha dan bekerja keras. Semakin keras mereka bekerja, akan semakin bertambah pula nikmat Allah SWT yang dilimpahkan kepadanya. Umat islam tidak hanya dianjurkan untuk bekerja keras, tetapi dianjurkan juga untuk mempotensikan akal mereka supaya mendapatkan pengetahuan dan keterampilan sebanyak mungkin dan bahkan jika diperlukan, mereka dianjurkan untuk melakukan hijrah ke setiap penjuru dunia supaya mereka menemukan dan mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan penghasilan mereka.

Nabi Muhammad SAW juga telah bersabda :
"Tak ada sesuatupun yang dimakan seseorang yang lebih baik kecuali apa-apa yang dihasilkan dari jerih payah keringatnya sendiri.Nabi Daud ra makan dari hasil keringatnya sendiri." (HR Bukhari Muslim) 

Sungguh sangat rasional jika islam memberikan sanksi yang berat pada orang-orang yang malas karena ini menyangkut keberadaan ciptaan Allah SWT dimuka bumi yang tak terhitung jumlahnya yang semua itu diperuntukkan bagi manusia supaya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Bagi orang-orang yang malas mereka tidak hanya dianggap sebagai orang yang tidak mnesyukuri nikmat Allah SWT, tetapi mereka juga dianggap telah gagal menerima karunia Alllah SWT yang diperuntukkan baginya supaya dapat hidup produktif sehingga mereka bisa menciptakan kemakmuran dimuka bumi ini.

Allah SWT juga telah memberikan kemudahan bagi manusia untuk mengeksploitasi sumberdaya alam yang telah diciptakan secara melimpah ruah diseluruh hamparan muka bumi ini. Meskipun Allah SWT menjamin rezekinya bagi semua umat manusia, tetapi Allah SWT telah menyatakan dengan jelas bahwa hanya orang-orang yang berbuat kebaikan dan mensyukuri nikmatnya sajalah yang akan dikaruniai dengan nikmat yang lebih besar. Ini merupakan pahala yang diberikan Allah SWT secara langsung didunia fana ini dan bahkan pahala yang lebih besar akan deberikan kelak di akherat.

Satu pertanyaan yang mungkin patut diajukan adalah: mengapa justru orang-orang yang kejujurannya diragukan dan keimanannya dangkal justru mendapatkan kekayaan yang banyak? Jawaban sederhana atas pertanyaan ini adalah mungkin kekeyaan itu tidak diridhai oleh Allah SWT karena bias saja Allah SWT memberikan nikmatnya dengan atau tanpa ridhanya. Konsep tentang nikmat Allah SWT dianggap sangat penting dalam islam karena sebagai orang islam kita dianjurkan memiliki keseimbangan antara pemenuhan kewajiban akherat dan dunia. Rezeki yang diridhai oleh Allah SWT akan memberikan keamanan dan kedamaian bagi umat islam sehingga mereka dapat menjalankan kewajiban-kewajiban spiritualnya. 

Berdekatan dengan Allah SWT akan membuat mereka biasa mendapatkan rezeki yang lebih diberkahi.

Allah SWT menyatakan bahwa tidak semua orang dilahirkan kedunia ini dengan kemampuan yang sama. Beberapa diantara mereka memiliki kemampuan dan motivasi yang lebih bagus sehingga mereka bisa mendapatkan rezeki yang lebih besar.

Kesimpulan:

Karunia yang diberikan oleh Allah SWT menurut pandangan agama islam mencakup beberapa elemen, diantaranya:

1. Umat islam dianjurkan mencari rezeki dengan giat dan dalam cara-cara yang halal.

2. Allah SWT akan melimpahkan nikmatnya yang tak terhingga kepada orang-orang yang mau bekerja keras dan jujur.

3. Rezeki yang dihasilkan dengan cara-cara yang halal merupakan kepercayaan yang diberikan langsung Allah SWT.

4. Rezeki atau penghasilan yang halal digunakan lebih jauh untuk membantu orang-orang yang kurang mampu dan untuk membantu kelangsungan perkembangan islam dan Negara

By : Mencari Rezky

Belajar Dari Filisofi Burung Dalam Mencari atau Menjemput Rezeki


Asslamualaikum warahmatullah wabakatuh,...

Bismillahirrahmanirrahim…

"Sungguh, seandainya kalian bertawakal kepada Allah sebenar-benar tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana rezeki burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang" (HR.At.Tirmidzi)


1] Burung selalu bangun pagi: Cara Mendapatkan Rezeki.

Tiada ada burung yang bangunnya kesiangan, kecuali burung yang sakit atau burung malam(burung hantu). Namun jika dilihat secara umum, burung selalu bangaun pagi. Ia bangun dengan penuh optimisme, riang dan gembira tanpa ada rasa khawatir sedikitpun akan makan apa hari ini, tidak pernah khawatir akan rezeki yang pasti sudah disiapakan oleh Allah. Bahkan di celah persiapannya, dia sambil sibuk bernyanyi dan membangunkan manusia, seolah dia menujukkan kepada kita akan rezeki Allah yang selalu siap kita jemput. Seolah dia menujukkan kepada kita bagaimana ia selalu bertasbih kepada Allah, melalui kicauannya.
Contohlah burung saat ia bangun pagi, ia selalu menyempatkan diri untuk bersyukur, memuji Allah yang Maha Pemurah, dan bertasbih kepada Allah melalui nyanyiannya. Kita diberi infrastrukur jauh lebih istimewa daripada burung, mari kita gunakan waktu kita untuk bangun pagi, bersyukur, bertasbih dan bermunajat kepada allah, seperti yang dilakukan oleh burung.

2] Burung Berusaha beridiri, persiapan. sebelum terbang.

Dalam usaha mencari rezeki, kita juga harus melakukan "pemanasan" persiapan fisik maupun mental, maupun fikiran guna kesempurnaan ikhtiar kita.

3] burung terbang dan mengepakkan sayap melawan gravitasi bumi.
 
Dalam usaha mencari rezeki, jarang sekali tanpa hambatan ataupun kesulitan yang kita hadapi, seperti burung saat terbang dia berusaha sekuat tenaga untuk melawan gravitasi bumi, agar tidak jatuh.
seperti kita, di setiap usaha ada saja penolakan, kelelahan, kebuntuan fikiran yang kadang kita temui, namun yakinlah, bahwa semua itu akan membantu kita menjadi lebih taft, lebih tangguh, lebih ahli di kemudian hari, seperti otot-otot sayap burung, karena setiap hari melawan kuatnya gravitasi bumi, dia akan menjadi lebih kuat dan lebih kuat lagi, hingga jika dalam cuaca ekstrim sekalipun, dia telah terbiasa. Jika kita telah terbiasa dengan "hujan badai" sulitnya mencari rezeki, maka disaat ada cuaca normal, semua kondisi wajar, kita akan dengan mudah menaklukan tantangan kehidupan tersebut.

4] Saat terbang selalu yakin dan tak pernah ragu.

Dalam firma Allah Ta'ala, yang artinya:
"Dan barang siapa bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya"(QS.Ath Tholaq:3)
Saat kita berdo'a, dan bertawakal kepada Allah, makan jangan pernah ragukan hasilnya, karena yakinlah, Allah telah mempersiapkan rezeki untuk kita. Burung tidak pernah ragu saat terbang, dia selalu yakin, disana ada harapan, yang telah dipersiapan oleh Allah.

5] Terbang denga Insting, ke tempat yang rimbun dan subur.

Dalam berusaha mencari rezeki, diperlukan "ilmu" yang relevan, guna menunjang kesempurnaan ikhtiar. Jika burung hanya dibekali isting oleh Allah, untuk mencari tempat-tempat yang rimbun dan subur, maka kita diberi panca indra dan akal fikiran yang luar biasa oleh Allah, yang bisa kita gunakan menganalisa dimana yang tempat-tempat subur dan rimbun akan rezeki Allah.

6] Setelah makan, dia bawah pulang sebagian rezekinya.

Saat mencari rezeki, jangan pernah lupa beban amanah keluarga, anak istri(kedua orang tua yang belum keluarga serta saudara-saudarnya) yang selalu menanti hasil ikhtiar yang kita lakukan.

7] Jika mengambil makanan, Burung tidak pernah merusak.

Saat mengambil makanan, burung selalu dengn cara yang indah dan santun, tidak ia pernah melakukan perusakan adalam proses pencarian makanan, bahkan ada beberapa jenis burung membantu proses pembuahan tanaman.
 

Malu rasanya, jika kita dalam proses mencari rezeki kita, harus merugikan orang, harus merusak hak-hak orang, harus menyakiti dan mengecewakan orang lain

"Barang siapa yang merasa lelah di sore hari karena mencari rezeki dengan tangannya, maka akan diampuni dosa-dosanya"(HR.Thabroni)

Wallahu 'alam bishawab
By : Mencari Rezky


Rabu, 27 Juni 2012

Allah SWT Mengawasi Manusai Dengan Tiga Cara

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Bismillahirrahmanirrahim


Karena takut didatangi pencuri, maka warga suatu perumahan menyewa penjaga atau hansip. Tetapi terkadang pencurian masih terjadi walau hansip sudah dibayar. Hal ini bisa terjadi bila hansip tersebut lengah atau ketiduran, sehingga si pencuri bisa melakukan aksinya. Hansip juga manusia!

Bagaimana dengan Yang Maha Mengetahui? Allah SWT mengawasi manusia 24 jam sehari atau setiap detik tidak ada lengah. Didalam melakukan pengawasan, ada 3 cara yang dilakukan Allah SWT:

1]
Allah SWT melakukan pengawasan secara langsung. Tidak tanggung-tanggung, Yang Menciptakan kita selalu bersama dengan kita dimanapun dan kapanpun saja. Bila kita bertiga, maka Dia yang keempat. Bila kita berlima, maka Dia yang keenam

Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al Mujadilah 7). 

Bahkan Allah SWT teramat dekat dengan kita yaitu lebih dekat dari urat leher kita.
"Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya." (QS. Qaaf 16)

2]
Allah SWT melakukan pengawasan melalui malaikat.

"ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri" (QS. Qaaf 17)

"Kedua malaikat ini akan mencatat segala amal perbuatan kita yang baik maupun yang buruk; yang besar maupun yang kecil. Tidak ada yang tertinggal. Catatan tersebut kemudian dibukukan dan diserahkan kepada kita "

Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: "Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang jua pun".(QS. Al Kahfi 49).

3]
Allah SWT melakukan pengawasan melalui diri kita sendiri. Ketika kelak nanti meninggal maka anggota tubuh kita seperti tangan dan kaki akan menjadi saksi bagi kita. Kita tidak akan memiliki kontrol terhadap anggota tubuh tersebut untuk memberikan kesaksian sebenarnya.

"Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan"(QS. Yaasiin 65)

Kesimpulannya, kita hidup tidak akan bisa terlepas dimanapun dan kapanpun saja dari pengawasan Allah SWT. Tidak ada waktu untuk berbuat maksiyat. Tidak ada tempat untuk mengingkari Allah SWT. Yakinlah bahwa perbuatan sekecil apapun akan tercatat dan akan dipertanyakan oleh Allah SWT dihari perhitungan kelak.

Wallahu alam bishawab.

“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (QS. Qoof: 16).

Semoga tulisan berikut bisa menjawab kerancuan di atas. Hanya Allah yang memberi taufik dan kemudahan.

Apa yang Dimaksud Kedekatan Dalam Ayat Ini?

Para ulama ahli tafsir berselisih pendapat mengenai makna kedekatan dalam ayat di atas, apakah yang dimaksud adalah kedekatan Allah atau kedekatan malaikat.

Abul Faroj menyebutkan bahwa ada dua pendapat ketika mengartikan kedekatan dalam ayat di atas.

Pertama adalah kedekatan para malaikat.

Kedua adalah kedekatan Allah dengan ilmu-Nya, sebagaimana yang disebutkan dari Abu Sholih, dari Ibnu ‘Abbas.

Namun ingat, mereka sama sekali tidak memaksudkan kedekatan di situ adalah kedekatan Dzat Allah ‘azza wa jalla, yaitu Dzat Allah dekat dengan urat leher dari seorang hamba. Jadi, jika ulama tersebut menafsirkan kedekatan di situ bukan kedekatan para malaikat, maka mereka mereka akan menafsirkan bahwa kedekatan tersebut adalah kedekatan dengan ilmu dan qudroh (kekuasaan) Allah. –Demikian penuturan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah-[1]

Jadi, perlu diperhatikan bahwa tidak ada satu pun ulama Ahlus Sunnah yang mengartikan kedekatan Allah dengan kedekatan Dzat-Nya, sehingga jika kedekatan-Nya dimaknakan Allah berada di mana-mana, ini adalah makna yang jelas-jelas keliru.

Tafsiran yang Lebih Tepat

Dari dua tafsiran ulama mengenai “kedekatan” dalam surat Qaaf ayat 16, kedekatan yang lebih tepat adalah kedekatan para malaikat bukan kedekatan ilmu Allah. Alasannya adalah:

Pertama: Melihat kelanjutan surat Qaaf ayat 16 yang membicarakan tentang malaikat.[2]

Selengkapnya Allah Ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ, إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf: 16-18).
Konteks ayat ini membicarakan tentang malaikat.


Kedua: Yang dimaksudkan “al insan (manusia)” dalam surat Qaaf ayat 16 adalah umum, baik mukmin ataupun kafir. Jika kita menyatakan yang dimaksudkan dalam ayat itu adalah kedekatan Allah, maka ini sangat bertentangan. Kedekatan Allah tidak mungkin pada orang kafir. Kedekatan Allah hanya pada orang beriman saja. Sehingga yang lebih tepat kita katakan, maksud ayat ini adalah kedekatan para malaikat.[3]

Mungkin ada yang mengatakan bahwa dalam surat Qaaf ayat 16 digunakan kata ‘Kami (nahnu)’, “Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya”, namun kenapa yang dimaksudkan adalah malaikat dan adakah contoh yang semisal?

Jawabannya, ada contoh ayat yang semisal. Sama-sama menggunakan kata ‘Kami (nahnu)’, namun yang dimaksudkan adalah kedekatan malaikat. Contohnya firman Allah Ta’ala,

لا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ , إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ

“Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Qur'an karena hendak cepat-cepat (menguasai) nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.” (QS. Al Qiyamah: 16-17).
Yang dimaksud dengan “Kami” di sini adalah Malaikat Jibril. Allah menyandarkan perbuatan Jibril pada diri-Nya karena Jibril adalah utusan-Nya. Sebagaimana dalam surat Qaaf ayat 16 Allah menyandarkan kedekatan malaikat pada diri-Nya karena malaikat adalah utusan-Nya. Hal itu dibuktikan dalam ayat,

أَمْ يَحْسَبُونَ أَنَّا لا نَسْمَعُ سِرَّهُمْ وَنَجْوَاهُمْ بَلَى وَرُسُلُنَا لَدَيْهِمْ يَكْتُبُونَ

“Apakah mereka mengira, bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan (malaikat-malaikat) Kami selalu mencatat di sisi mereka.” (QS. Az Zukhruf: 80)[4].

Sehingga pendapat yang lebih tepat, yang dimaksud kedekatan dalam ayat tersebut adalah kedekatan malaikat sebagaimana pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.


Begitu pula jika kita temukan dalam ayat lainnya yang menyebutkan kedekatan secara umum (mencakup mukmin dan kafir), maka yang dimaksudkan adalah kedekatan para Malaikat.[5]

Kedekatan Allah dengan Orang Beriman

Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa makna kedekatan bisa dua kemungkinan yaitu kedekatan Allah atau kedekatan malaikat-Nya, dan bukan berarti mengkonsekuensikan Allah ada di mana-mana. Begitu pula perlu dipahami bahwa kedekatan Allah di sini adalah hanya khusus untuk orang beriman dan bukan dengan orang kafir. Namun apakah kedekatan Allah dengan orang beriman dalam segala keadaan?

Jawabannya, kedekatan Allah di sini hanya dalam beberapa keadaan. Contoh kedekatan Allah adalah:

Pertama: Ketika berdo’a

Sebagaimana hal ini terdapat dalam ayat berikut.

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), “Aku itu dekat”. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al Baqarah: 186)

Begitu juga terdapat dalil dalam Shohih Muslim pada Bab ‘Dianjurkannya merendahkan suara ketika berdzikir’, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالَّذِى تَدْعُونَهُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ عُنُقِ رَاحِلَةِ أَحَدِكُمْ

“Yang kalian seru adalah Rabb yang lebih dekat pada salah seorang di antara kalian daripada urat leher unta tunggangan kalian.”[6]

Kedua: Ketika sujud

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

“Tempat yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia sujud, maka perbanyaklah do’a ketika itu.”[7]

Jadi kedekatan Allah adalah ketika seorang mukmin beribadah dan ketika seorang mukmin berdo’a. Adapun kedekatan secara umum adalah kedekatan para malaikat, sebagaimana pendapat yang lebih kuat.[8]


Akibat Salah Paham

Di antara akibat salah memahami kedekatan surat Qaaf ayat 16 tersebut adalah berkeyakinan Allah menyatu dengan makhluk atau Allah berada dalam makhluk.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Hal ini berbeda dengan pemahaman orang yang menyimpang. Mereka menyangka bahwa Tuhan mereka bercampur dengan darah dan daging manusia. Akibatnya mereka pun menyatakan bahwa manusia tidaklah semata-mata disebut makhluk. Mereka mengatakan bahwa Pencipta dan makhluk itu satu. Menurut sangkaan keliru mereka, Allah sebagai sesembahan berada di dalam dan luar urat leher manusia. Jadi menurut mereka, Allah itu bercampur dengan makhluk". [9]
Maha Suci Allah dari sangkaan buruk mereka.


Allah Tetap Berada Di Atas Langit

Walaupun dalam pembahasan kali ini kami membahas kedekatan Allah, namun sekali lagi jangan dipahami bahwa maksud kedekatan di sini melazimkan Allah ada di mana-mana sebagaimana anggapan sebagian orang yang salah kaprah. Tidak ada satu pun ulama Ahlus Sunnah yang berjalan di atas kebenaran yang menyatakan seperti itu. Allah tetap berada di atas langit sesuai dengan sifat yang layak bagi-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berada di atas ‘Arsy, terpisah dengan makhluk-Nya. Keyakinan inilah yang menjadi konsensus (ijma’) para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah.[10]

Dalil-dalil yang mendukung keberadaan Allah di atas seluruh makhluk-Nya amatlah banyak, sampai-sampai ulama besar Syafi’iyah mengatakan bahwa ada 1000 dalil yang mendukung hal ini. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Sebagian ulama besar Syafi’iyah mengatakan bahwa dalam Al Qur’an ada 1000 dalil atau lebih yang menunjukkan Allah itu berada di ketinggian di atas makhluk-makhluk-Nya. Sebagian mereka mengatakan ada 300 dalil yang menunjukkan hal ini.”[11]

Di antara dalil yang menunjukkan bahwa Allah berada di atas langit, di atas seluruh makhluk-Nya adalah:

Pertama: Ayat tegas yang menyatakan Allah beristiwa’ (bersemayam) di atas ‘Arsy. ‘Arsy adalah makhluk Allah yang paling tinggi dan paling besar.

Contoh ayat tersebut adalah,

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“(Yaitu) Rabb Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas 'Arsy .” (QS. Thaha: 5)

Kedua: Dalil yang menanyakan di manakah Allah. Seperti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya pada seorang budak, “Di mana Allah?” Budak itu menjawab, “Di atas langit.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi, “Siapa saya?” Budak tersebut menjawab, “Engkau adalah Rasulullah.” Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Merdekakanlah dia karena dia adalah seorang mukmin.” (HR. Muslim)

Adz Dzahabi mengatakan, “Inilah pendapat kami bahwa siapa saja yang ditanyakan di mana Allah, maka akan dibayangkan dengan fitrohnya bahwa Allah di atas langit. Jadi dalam riwayat ini ada dua permasalahan: [1] Diperbolehkannya seseorang menanyakan, “Di manakah Allah?” dan [2] Orang yang ditanya harus menjawab, “Di atas langit”.” Lantas Adz Dzahabi mengatakan, “Barangsiapa mengingkari dua permasalah ini berarti dia telah menyalahkan Musthofa (Nabi Muhammad) shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [12]

Ketiga: Dalil yang menyatakan bahwa Allah menceritakan mengenai Fir’aun yang ingin menggunakan tangga ke arah langit agar dapat melihat Tuhannya Musa. Lalu Fir’aun mengingkari keyakinan Musa mengenai keberadaan Allah di atas langit. Allah Ta’ala berfirman,

وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا هَامَانُ ابْنِ لِي صَرْحًا لَعَلِّي أَبْلُغُ الْأَسْبَابَ (36) أَسْبَابَ السَّمَاوَاتِ فَأَطَّلِعَ إِلَى إِلَهِ مُوسَى وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ كَاذِبًا

“Dan berkatalah Fir'aun: "Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta".” (QS. Al Mu’min: 36-37)

Ibnu Abil ‘Izz mengatakan, “Mereka jahmiyah yang mendustakan ketinggian Dzat Allah di atas langit, mereka itu termasuk pengikut Fir’aun. Sedangkan yang menetapkan ketinggian Dzat Allah di atas langit, merekalah pengikut Musa dan pengikut Muhammad.” [13]

Begitu pula empat imam madzhab bersepakat mengenai hal ini. Bahkan keyakinan ini adalah keyakinan semua nabi. Syaikh Abdul Qodir Al Jailani mengatakan, “Keyakinan bahwa Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy-Nya telah disebutkan dalam setiap kitab suci yang Allah turunkan pada para nabi.”[14]

Memang Betul Ilmu Allah Di Mana-Mana, Namun Bukan Dzat Allah

Jika dikatakan ilmu Allah di mana-mana, itu memang benar. Namun jika dikatakan bahwa Dzat Allah ada di mana-mana, maka perkataan seperti ini berarti telah mendustakan 1000 dalil dalam Al Qur'an. Lihatlah perkataan imam madzhab dan para ulama.

Abdullah bin Nafi’ berkata bahwa Malik bin Anas mengatakan, “Allah berada di atas langit. Sedangkan ilmu-Nya berada di mana-mana, segala sesuatu tidaklah lepas dari ilmu-Nya.”[15]

Imam Ahmad bin Hambal pernah ditanyakan, “Apakah Allah ‘azza wa jalla berada di atas langit ketujuh, di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya, sedangkan kemampuan dan ilmu-Nya di setiap tempat (di mana-mana)?” Imam Ahmad pun menjawab, “Betul sekali. Allah berada di atas ‘Arsy-Nya, namun setiap tempat tidaklah lepas dari ilmu-Nya.”[16]

Dari ‘Ali bin Al Hasan bin Syaqiq, dia berkata, “Aku berkata kepada Abdullah bin Al Mubarok, bagaimana kita mengenal Rabb kita ‘azza wa jalla. Ibnul Mubarok menjawab, “Rabb kita berada di atas langit ketujuh dan di atasnya adalah ‘Arsy. Tidak boleh kita mengatakan sebagaimana yang diyakini oleh orang-orang Jahmiyah yang mengatakan bahwa Allah berada di sini yaitu di muka bumi.” Kemudian ada yang menanyakan tentang pendapat Imam Ahmad bin Hambal mengenai hal ini. Ibnul Mubarok menjawab, “Begitulah Imam Ahmad sependapat dengan kami.”[17]

Penutup

Dengan demikian seharusnya kita dapat mengkompromi antara dalil yang menyatakan Allah berada di atas langit dan dalil kedekatan atau kebersamaan Allah karena tidak mungkin ayat Al Qur’an satu dan lainnya saling bertentangan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al Aqidah Al Wasithiyah mengatakan, “Kedekatan dan kebersamaan Allah yang disebutkan dalam Al Kitab dan As Sunnah tidaklah bertentangan denga ketinggian Allah Ta’ala. Tidak ada sesuatu pun yang semisal dengan-Nya dalam setiap sifat-sifat-Nya. Allah Maha Tinggi, namun dekat. Dia Maha Dekat, namun tetap berada di ketinggian.”

Kesimpulan:


Allah berada di atas ‘Arsy sesuai dengan sifat yang layak bagi-Nya.
Allah juga selalu dekat dengan hamba-Nya yang beriman, namun bukan berarti Dzat Allah di mana-mana.
Ilmu Allah di mana-mana, namun Dzat Allah tetap di atas ‘Arsy-Nya.
Tidak ada satu pun ulama Ahlus Sunnah yang mengatakan kedekatan Allah dengan kedekatan Dzat-Nya sehingga berarti Allah ada di mana-mana.
Allah Maha Tinggi, namun dekat. Dia Maha Dekat, namun tetap berada di ketinggian.
Sesuatu yang mustahil bagi makhluk, tidak mustahil bagi Allah. Makhluk tidak mungkin dikatakan berada di tempat yang tinggi tetapi dekat, namun hal itu mungkin saja bagi Allah. Karena Allah Maha Besar, segala sesuatu sangat mungkin bagi Allah.
Menurut pendapat yang lebih tepat, pada surat Qaaf ayat 16 (Kami lebih dekat dari urat leher), yang dimaksud adalah kedekatan malaikat. Jika ingin dimaknakan kedekatan Allah, maka yang dimaksudkan adalah kedekatan Allah dengan ilmu-Nya dan bukan berarti Dzat Allah di mana-mana.

Semoga Allah senantiasa memberikan hidayah dan taufik-Nya kepada setiap muslim yang mengkaji risalah ini.

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

By : Mencari Rezky