Tampilkan postingan dengan label Cerita Ramadhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Ramadhan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Juli 2013

Catatan Sang -Penakluk Sejarah- Kabar Ramadhan dari Turkey Edisi #1 Bursa

The SecReT of the Team
"PENAKLUK SEJARAH"

Alhamdulillahirabbil Ramadhan 2013 telah hadir menjumpai bumi para khalifah yang penuh berkah ini. Kali ini LKS MIT, resmi MELAUNCHING satu LAMAN KHUSUS “Peta Penakluk

Sejarah.”

Laman ini khusus di buat untuk para kontributor LKS Mit-ers "Penakluk Sejarah" Ramadhan. TIM PENAKLUK SEJARAH terdiri dari Tim Kontributor yang di pilih secara Khusus yang berasal

dari berbagai wilayah di penjuru Turki. Tulisan-tulisan dan kisah-kisah para Kontributor di tulis dan diangkat dari kisah nyata.

Tim Penakluk sejarah memiliki Tim Editor Khusus, dengan pengalaman di bidang kepenulisan yang insya Allah terpercaya. Suka, senang, gembira, canda, tawa namun juga rindu

menyelimuti para sahabat LKS MIT di Turki. Bagaimana kisah-kisah mereka?

Silakan simak kisah para penakluk sejarah modern di berbagai penjuru Bumi Turkey setiap Edisinya.
VISIT our Website : Just Fell Home

=================================


Sumber foto: Admin's Collection
-Nasi Ayam dan Tumis Kol-

‪#‎LKS‬ MIT-ers Tulisan PERDANA Kabar Ramadhan dari Turkey pekan ini, datang dari Tim Khusus LKS Mit-ers Lovers dengan nama Tim
Sang "Penakluk Sejarah"

-Bursa, do you know Bursa?
Bursa adalah kota yang terletak di barat laut turki, di asia bagian barat. Bursa, indah karena gunungnya yang menghijau. meliriknya, adalah hampar keindahan bak rona khatulistiwa.

Menatapnya seakan dirimu tengah berada di tanah air."

--Nasi Ayam dan Tumis Kol--

“Makan itu bukan masalah kenyang, tapi semanfaat apa makanan itu untuk tegakan punggungmu. Makan juga bukan persoalan banyaknya butiran nasi yang masuk ke perut, tapi ia

adalah persoalan sebanyak rasa bersyukurmu atas apa yang kamu dapatkan hari itu.”

Kalimat ini kembali terlintas di kepalaku. Sebuah kalimat sarat makna yang mengajak aku kembali ke kejadian 3 tahun lalu di salah satu kedai makanan saat berbuka puasa. Kami

sering menyebut kedai itu “Laprong” ato terkadang “BuLaprong”, plesetan dari kata “lapar” dan “Bu, Lapar” (terdengar seperti permohonan meminta makan, right?). Kedai langganan

para pejuang shubuh dari sekolahku dulu. Ia selalu tak terpisahkan dari aksi-aksi kami, termasuk aksi serangan tengah malam tiap Ramadhan. Atau terkadang aksi loncat pagar sekolah

gara-gara kami kehabisan uang untuk makan di kantin.

Ketika itu uang kami hampir habis tak tersisa, padahal waktu berbuka tinggal seperempat jam lagi. Dan kami harus berfikir cepat untuk mengisi naga-naga di perut kami yang tengah

meraung kelaparan, juga untuk sahur esok hari. Rata-rata temanku hanya memiliki sekitar 2 ribu rupiah yang menjerit-jerit dari balik saku celana hari itu, berharap segera dikeluarkan

karena tak tahan dengan sumpeknya himpitan kain bahan. Aku sendiri mungkin hanya mampu membeli air. Saku miliku sudah benar-benar mendekati ambang batas. Dalam kondisi

darurat itu terpaksa kami bentuk tim PPKI (Panitia Pengumpulan Komisi Iftar) demi menjaga kelangsungan hidup masing-masing.

Singkat cerita, aku dengan uang seadanya mendapat tugas menjadi ketua komisi pembelian air minum. Sedangkan teman-temanku yang lain, para pejuang shubuh, mencari apa

yang bisa dibeli dengan uang seadanya. Walhasil, kami hanya mendapatkan 2 bungkus nasi ukuran normal, ditambah beberapa potong tahu, juga 4 botol air minum. Dan semua

makanan ini akan kami gunakan untuk berbuka dan makan sahur hari esok hari.

Beduk maghrib berdentum nyaring. Kumandang adzan perlahan berderai merdu menyisakan jejak-jejak pelangi di angkasa. Setelah shalat, kami buka makanan yang kami beli tadi.

Kami hanya mengeluarkan 1 bungkus nasi dan 2 potong tahu, serta satu botol air. Ini menu berbuka kami berenam hari ini.
Setelah masing-masing mendapat satu teguk air untuk melepas dahaga yang menjangkit selama 13 jam, kami kemudian beralih ke makanan berat. Satu bungkus nasi yang akan

dikeroyok oleh 6 orang pemuda yang kelaparan.

Pembagian makanan pun terjadi di antara kami. Awalnya terbagi rata, namun akhirnya cekcok terjadi. Bukan saling caci atau saling rebut, tapi malah tawaran-tawaran ‘aneh’ yang

dilakukan oleh para pemuda ini, termasuk aku. Kalimat-kalimat “silahkan, ini buatmu aja. Keliatannya kamu lebih lapar,” Atau “aku belum terlalu lapar. Untukmu saja,” atau ada juga

celetukan –yang kufikir aneh– terlontar dari sahabatku, “ah buka kali ini aku gak akan makan nasi. Aku alergi nasi. Buat kamu saja,” menjadi backsound tempat makan lesehan kami,

meski akhirnya –karena perdebatan yang tak kunjung selesai– kami memakan jatah kami masing-masing.

Waktu pun berlalu. Hingga tiba waktu sahur, dan kejadian ini berulang. Sama persis, hanya jumlah air minum yang lebih banyak. 3 botol air. Jadi seorang bisa meneguk setengahnya.

Tapi tetap saja, kericuhan itu kembali terdengar. Dan sekali lagi, kejadian itu tetap terulang. Lalu salah satu temanku berkata, seperti kalimat pertama yang kutulis di awal catatanku ini.

Bahwa makan, bukanlah mengenai kenyang atau tak kenyang, melainkan seberapa banyak rasa syukur kita atas apa yang telah Allah berikan.

Kini, terhitung genap 3 tahun dari hari itu. Sahur pertamaku dihiasi dengan ujian yang serupa, namun kali ini bukan mengenai kuantitas makanan yang tersaji, namun kualitas.

Dengan teman-teman yang berbeda, suasana yang berbeda, juga relung-relung kerinduan yang terasa menguat dari hari ke-hari. Rindu akan suasana ramadhan tanah air, keluarga,

juga rindu pada para pejuang shubuh itu.

Dengan kondisi yang sama ketika uang tidak ada sama sekali, ditambah kabar terbaru tentang kelangsungan beasiswa kami yang katanya tidak akan turun selama 2 bulan kedepan

[beasiswa non pemerintah Turki]. Semoga saja itu tidak terjadi.

Kali ini aku bersyukur, ketika satu panci besar nasi ayam terhidang di hadapanku, juga tumis kol yang menggugah selera (namun jika ada tahu, tentu aku akan memilih tahu sebagai

kawan makan, hehe). Sengaja nasi itu kusebut nasi ayam, agar lebih enak didengarnya, meski rasanya jauh dari yang diharapkan.

Ya, nasi itu nasi ayam, nasi yang berbahan dari pakan ayam. “kirik pirinc” begitu tulisanya, “nasi rusak” kalau dalam bahasa kita. Kadang aku geli sendiri, ketika kami membeli beras itu

ke supermarket. Terkadang kuamati wajah pelayan kasir, dia tertawa renyah bercampur ekspresi heran. Mungkin ia berfikir, “ini ada apa? Kok bule beli nasi rusak?” atau mungkin dia

malah berfikir kalau kami tengah beternak ayam di negaranya.

Namun sekali lagi, makan itu bukan soal kenyang, tapi semanfaat apa makanan itu mampu menegakan tulang punggungmu. Juga bukan masalah jumlah makanan atau kualitas

yang tersaji, tapi tentang seberapa banyak rasa syukur yang kau panjatkan atas apa yang Allah telah berikan padamu hari ini. tapi tetap, kualitas makanan juga penting. So, cari yang

berkualitas dulu, kalo gak ada, baru boleh niru, hehe..

Uhibbukum Fillah. Aku mencintai kalian karena Allah.

Salam
‪#‎Team‬ Sang PENAKLUK SEJARAH
Muhammad Al-Fatih, Bursa.


LKS MIT-ers lovers
Note : Keindahan Mesjid Emir Sultan di Malam Hari..
Tulisan merupakan kiriman dari Tim "Penakluk sejarah"



Jumat, 19 Juli 2013

Ramadhan di Norwegia (9)

M u d i k

Bismillaahirrohmanirrohiim...

Perjalanan panjang mudik kami tahun ini pun dimulai pagi ini. Karena kota kami ini sungguh mungil, kami harus berangkat melalui kota tetangga bila bepergian ke negara di luar Eropa. Dimulai dengan bus antarkota, menyeberang selat dengan feri, hingga dilanjutkan dengan pesawat terbang. Itulah moda transportasi yang kami manfaatkan. Banyak, ribet, dan bakal melelahkan. Tapi semua itu sungguh seimbang dengan keriaan yang akan temui di kampung halaman nantinya. Prinsip kami, apapun kendaraannya, mudik tetap asyik! 

Sudah terbayang nikmatnya sahur dan berbuka puasa bersama keluarga besar, tarawih berjamaah di masjid, menjajali pasar kaget khas Ramadhan, ngabuburit yang selalu bervariasi dan sangat mengasyikkan, hingga sekedar bercengkerama ngalor - ngidur bersama orang - orang tercinta yang hanya bisa kami temui setahun sekali.

Total durasi perjalanan yang akan kami tempuh hampir sehari semalam. Untuk itu tentunya kami sudah tergolong sebagai musafir, yang dalam bulan Ramadhan ini mendapat dispensasi untuk tidak berpuasa. Namun tadi kami sekeluarga sudah sahur seperti biasa. Niatnya kami akan tetap berpuasa di perjalanan (si bocah tetap akan berbuka waktu dhuhur), semampu kami. Semoga saja dimudahkan segalanya. 

Buat sahabat yang juga akan mudik (mungkin masih terlalu dini ya membicarakan mudik sekarang?), aku ucapkan selamat menantikan waktu mudik. Bagi yang tidak mudik, selamat menikmati waktu bersama keluarga dan sahabat. Silaturrahim tetap bisa jalan kan meskipun tidak di kampung halaman? 

Doakan semoga perjalanan kami diberi keselamatan dan keberkahan oleh-Nya ya sobat.

Sampai jumpa di cerita Ramadhan berikutnya! Aku pamit dulu ya... 

Haugesund, 18 Juli 2013

* Bagi rekan yang ingin mengenal lebih dekat dengan penulisnya, silahkan klik disini

Rabu, 17 Juli 2013

Ramadhan di Norwegia (8)

H-1: Bye Bye Fish!

Menjelang mudik, suasana di rumah mungil kami mendadak meriah dan kami semua jadi semakin sumringah. Koper - koper mulai diturunkan, pakaian dan perlengkapan yang akan dibawa mulai dipilah dan dipilih. Kulkas juga tak ketinggalan, ikut dibersihkan dari bahan makanan yang mudah busuk bila kami tinggal selama sebulan nanti.

Untuk urusan eksterior, agenda hari ini adalah merapikan rumput di halaman depan bersama si bocah, juga pesan ke tetangga sebelah untuk membantu menyiram beberapa tanaman di pot luar seminggu sekali. Di negeri barat yang katanya sangat individualistis ini, aku bersyukur memiliki para tetangga yang ramah dan sangat peduli satu sama lain.

Hari ini, mungkin karena pengaruh hawa mudik, aku merasa malas berkutat lama - lama di dapur. Inginnya masak yang gampang saja. Kurma dan kolak pisang nangka untuk berbuka, nasi uduk sederhana (hanya dengan lauk teri, telur dadar, irisan timun dan sambal), plus mie instant untuk sahur. Mie instant? Jangan skeptis dulu... Keluarga kami memang terbiasa dengan menu sehat padat gizi, namun yang namanya mie instant tidak lantas kami masukkan dalam daftar hitam. Mengonsumsinya sekali seminggu, dengan mengurangi bumbu instant-nya, plus tambahan lauk dan sayuran, jadinya lumayan sehat juga kan  .

Lalu kenapa aku pasang foto ini? Nah... inilah momen terakhir si bocah dengan ketiga ikan peliharaannya. Biasanya setiap mudik ikan - ikan ini kami titipkan ke tetangga atau sahabat kami yang tinggal tak jauh dari rumah. Namun karena tahun ini mereka semua sedang sibuk dan ada yang akan pindah ke kota lain, jadilah kami memutuskan untuk menyerahkan (lebih tepatnya: mengembalikan) ikan - ikan ini ke toko tempat kami membeli mereka dulu. Meskipun sedih dan berat hati, si bocah akhirnya menyetujui opsi ini. Karena dengan menyerahkan mereka kembali ke toko, para ikan itu akan dirawat dengan jauh lebih baik, dan mereka akan lebih senang karena mendapat banyak "teman" baru  .
Jadi kemarin setelah belanja keperluan harian, para ikan itu pun berpindah tangan. Raut sedih nampak di wajah si bocah. Namun sebentar kemudian dia pun gembira lagi melihat ikan yang berwarna - warni di aquarium berbagai ukuran. 
Dan sebelum pergi, inilah yang dia ucapkan: bye bye fish!

Sekarang si bocah masih tidur setelah merampungkan sahur, sikat gigi, lalu sholat subuh berjamaah.
Rentetan tugasku sudah menanti. Jadi cukup sekian dulu ceritaku kali ini ya sobat!

Tetap dengan semangat Ramadhan Kariim!

Haugesund, 16 Juli 2013

* Bagi rekan yang ingin mengenal lebih dekat dengan penulisnya, silahkan klik disini

Ramadhan di Norwegia (7)

Edisi Home Schooling

Kalau anak sekolah di Indonesia tetap bersekolah di sebagian besar bulan Ramadhan, anak sekolah di Norwegia justru sudah mulai libur sejak pertengahan Juni lalu hingga pertengahan Agustus nanti. Tentu liburan panjang ini tak ada hubungannya dengan Ramadhan dan Lebaran, melainkan karena Norwegia menerapkan sistem liburan musim panas yang panjang selama dua bulan penuh! Kebetulan saja tiga Ramadhan terakhir bertepatan dengan musim panas. Jadi keluarga kecil kami selalu bisa mudik menjelang Lebaran tanpa terlalu banyak mengorbankan waktu sekolah si bocah.

Beruntunglah teman - teman muslim di mana anak - anak mereka bisa memanfaatkan momen Ramadhan dengan pesantren Ramadhan dan program religius lainnya, jadi orang tua tak perlu pusing menyiapkan materi sendiri untuk itu. Di sini? Tentu saja jauh berbeda. Jangankan pesantren Ramadhan, mencari guru mengaji pun susahnya bukan main. Sebagai orang tua, sebaiknya kondisi minimalis ini bukan jadi penghalang untuk tetap memperhatikan kebutuhan religius anak, bukan?

Dengan berbekal berbagai buku panduan pengajaran agama Islam untuk anak yang kudapat dari hasil berburu setiap mudik, dan juga bermacam buku penunjang belajar sekolah, buku cerita dan lainnya, menjelang libur panjang sekolah biasanya aku mulai menyusun jadwal kegiatan harian si bocah, yang mencakup bermain dan belajar (dengan porsi yang kurang lebih seimbang).

Bagaimana materi dan kurikulumnya?
Aku jelas bukan pendidik atau psikolog anak secara profesi, jadi jujur saja aku tak akrab dengan berbagai metode pedagogik rancangan ahli manapun. Bisa dibilang metode yang kupakai adalah a la Bunda Icha, yang sudah disesuaikan dengan kebutuhan pribadi si bocah. Inilah keuntungan punya anak semata wayang: bisa fokus sepenuhnya untuk perkembangan si anak. 

Sistem yang kurancang sederhana saja. Biasanya jadwal belajar dimulai setelah si bocah bangun dan mandi pukul 10.00. Dimulai dengan mengaji (berbekal buku Iqro') selama 30 menit. Kemudian istirahat sekitar 10 menit. Dilanjutkan dengan belajar matematika selama 30 menit, setelah itu si bocah boleh bermain apapun selama 2 jam (kecuali menonton TV atau bermain iPad karena itu ada waktu tersendiri yang kubatasi). Jam istirahat ini biasa kumanfaatkan untuk sholat dhuha dan tadarrus.
Setelah berbuka puasa dan ba'da sholat dhuhur, dia kuharuskan istirahat siang selama 2 jam.
Bangun tidur, dia boleh main dan nonton TV atau lainnya selama 1 jam. Setelah itu lanjut dengan menggambar, melukis, membaca atau menulis apapun yang dia inginkan (baik untuk melatih konsentrasi dan kemampuan motoriknya). Selesai dengan kegiatan yang satu ini, kalau cuaca memungkinkan, dia boleh main di sekitar rumah (naik sepeda, mencari serangga, atau bermain di taman kompleks). 
Setelah dia makan malam, jadwal selanjutnya adalah sholat 'asar, kembali mengaji, dan belajar matematika lagi. Hari ditutup dengan sesi "bedtime stories" yang bergantian kami lakukan. Kadang aku yang mendongeng, kadang si bocah mendongengi bundanya.

Di mana si ayah? Beliau bekerja mencari nafkah, tentu saja. Ayah tetap berperan, dengan meluangkan waktu juga untuk bermain dan mengajari si bocah pengetahuan lain (terutama dunia fauna dan sains).
Atas kesepakatan bersama, tugas "sekolah di rumah" adalah tugas Bunda. Dan hal ini dengan senang hati kujalani. Nikmat lho menjadi guru untuk anak sendiri. Banyak seninya. Berdasarkan pengalaman singkatku menjadi guru TK di negeri ini, mengajari anak sendiri terkadang lebih sulit daripada mengajari anak orang. Harus lebih disiplin namun harus tetap menyenangkan. Istilahnya tarik ulur begitu.

Sobat, metodeku ini belum tentu bisa diterapkan oleh orang lain, yang tentunya berbeda situasi dan kondisinya. Namun ini hanya sebagai gambaran, bahwa orang tua manapun bisa menjadi guru bagi anaknya sendiri. Selagi sarana dan prasarana memadai, tinggal kemauan dan konsistensi orang tua sajalah penggerak utamanya.

Walaupun kemungkinan besar hasil pengajaranku tertinggal jauh dengan hasil pengajaran a la sekolah atau guru mengaji profesional, tapi aku bersyukur bisa menjalani peran yang satu ini selagi aku mampu, selagi si anak masih sangat lentur dan kemampuan otaknya masih luar biasa potensial. Ada rasa syukur dan bangga terbersit di sanubari ini, setiap kali ada yang bertanya, "siapa yang mengajarimu membaca, berhitung (termasuk menghitung uang!), sholat dan mengaji?", dan si bocah selalu menjawab "Bunda". Paling tidak aku (dan suami) sudah bisa menegakkan prinsip "pendidikan sejati dimulai dari rumah", dan "ibu adalah guru bagi generasi penerus bangsa". Aku yakin sangat banyak sahabat di luar sana yang juga sudah menerapkan metode mereka sendiri untuk mendidik anak, dan malah sudah bisa pula melihat hasil positifnya.

Aku yakin kita semua bisa ya menjadi guru terbaik bagi anak - anak kita? Harus yakin dan semangat dong! Insya Allah bisa.


Haugesund, 15 Juli 2013

* Bagi rekan yang ingin mengenal lebih dekat dengan penulisnya, silahkan klik  disini

Ramadhan di Norwegia (6)

Edisi Sahur

Meskipun terkantuk - kantuk, akhirnya si bocah beringsut juga dari tempat tidurnya. Setelah kuusap wajahnya dengan air, dia langsung melek dan sedikit lebih cerah.

Demi menghidupkan suasana sahur yang sepi tanpa acara Sahur a la TV di Indonesia, aku dan ayah bergantian menceritakan pengalaman - pengalaman lucu tentang sahur ketika kami kecil dulu. Lumayan berhasil, matanya semakin melek.

Tapi kemudian si bocah berkata: "Bunda, aku mau kembali".
"Kembali ke mana?" tanyaku, seraya berpikir mungkin dia sedikit mengigau.
Ini jawabannya: "aku mau kembali ke kamarku. Abis sahur aku mau tidur, gak usah pakai sholat gak pa-pa ya Bunda?"
Wah... ini dia kesempatan emas bagiku untuk ceramah 
Lalu kujelaskan padanya, bahwa si bocah boleh kembali ke kamarnya untuk tidur, setelah dia menghabiskan makanannya, minum air yang cukup, sikat gigi, berwudhu dan sholat subuh.
Penjelasanku berikutnya adalah bahwa puasa tanpa sholat adalah sia - sia karena tidak akan dapat pahala kecuali lapar dan haus. Dalam Rukun Islam pun kedudukan sholat lebih tinggi dibandingkan puasa. Sebagai penutup, kutegaskan padanya bahwa orang puasa itu tidak boleh malas sholat atau malas - malasan, malah harus rajin...

Belum tuntas aku berbicara, dia langsung menyanyikan urutan Rukun Islam yang memang sudah dia hapalkan sejak kecil. Ayahnya tersenyum sambil manggut - manggut. 

Sekarang dia sudah betul - betul terisi baik jiwa dan raganya. Semangkuk corn flakes, sebuah pisang cavendish dan segelas kecil air pun sudah dia tandaskan. Sholat subuh berjamaah sudah ditegakkan. Akhirnya sambil membaca doa tidur, dia merapatkan selimut yang memang sudah dia nantikan sejak tadi.

Niat hari ini dan hari - hari berikutnya adalah berpuasa sampai masuk waktu dhuhur. Semoga Dia mudahkan segalanya bagi si bocah.

Untuk para sahabat, semoga kita semangat kita untuk mengajarkan nilai - nilai kebaikan kepada anak - anak kita tak pernah padam. Seperti halnya semangat Luqman yang saleh, atau Bunda 'Aisyah, Bunda Fatimah kepada anak - anaknya, dan tentunya junjungan kita tercinta Rasulullah, Salallaahu 'Alaihi Wasalaam. Insya Allah bisa ya? Meskipun tidak akan sesempurna para panutan itu, setidaknya tetap berusaha untuk menjadi benteng dan pondasi terkuat bagi generasi penerus kita, aamiin... — bersyukur 


Haugesund, 14 Juli 2013

* Bagi rekan yang ingin mengenal lebih dekat dengan penulisnya, silahkan klik  disini

Ramadhan di Norwegia (5)

Beginilah tatanan meja makan kami sehari - hari, selama bertahun - tahun. Tak terkecuali di bulan Ramadhan seperti ini. Semua makanan sudah tertata rapi per porsi untuk setiap anggota keluarga, untuk dua kali makan (berbuka dan sahur, di bulan puasa).

Konsep di balik sistem ini sederhana saja: kepraktisan. Hidup tanpa asisten rumah tangga di mana segala sesuatu dikerjakan sendiri, membuatku harus menemukan taktik yang pas untuk urusan dapur. Tanpa mengurangi kualitas rasa maupun kuantitas masakan, aku menemukan bahwa penyediaan makanan per porsi seperti ini sungguh praktis dari segi apapun. Makanan sudah tersaji di piring (a la restoran) dengan porsi yang pas (sebagai ibu aku sudah tahu persis porsi yang pas untuk setiap anggota keluarga), dan yang terpenting: tak ada cucian piring yang menggunung setelah makan karena tambahan piring saji yang berbeda untuk setiap lauk - pauk. Praktis bukan?

Khusus di bulan Ramadhan, biasanya aku mulai memasak pukul 18.00 dan selesai pukul 19.30. Masakan yang sudah matang dan tertata di meja aku tutup rapat dengan plastik film. Hawa sejuk di Norwegia membawa keuntungan, karena makanan awet beberapa jam tanpa perlu ditaruh di kulkas. Pada saat akan berbuka (pukul 23.00), kami cukup menghangatkan makanan di microvawe selama 1 - 2 menit. Praktis lagi, karena tak perlu panci atau periuk khusus untuk menghangatkan makanan. Begitu juga halnya untuk makan sahur. Tak perlu panik atau repot menata meja lagi karena semua sudah siap tersaji, cukup menghangatkan sebentar saja. Praktis praktis dan praktis! Itulah kata kunci yang selalu kupegang. Lebih baik daripada sibuk mengurusi urusan dapur yang tak ada habisnya, 'kan?

Menu kami semalam: iftar dengan kurma dan es cendol nangka. Lalu dilanjutkan dengan makan malam: nasi dengan gulai ayam Padang, balado telur dan lalapan. Menu sederhana, nikmat dan sehat. Dan yang pasti: tak berlebihan. Sesuai dengan jiwa Ramadhan!

Bagaimana tradisi kalian, kawan?

Haugesund, 14 Juli 2013

* Bagi rekan yang ingin mengenal lebih dekat dengan penulisnya, silahkan klik disini

Ramadhan di Norwegia (4)

Salah satu perbedaan mendasar yang kurasakan bertahun - tahun menjalankan ibadah puasa Ramadhan di negeri rantau (khususnya negeri Barat) adalah tiadanya kemeriahan dan hiruk - pikuk Ramadhan a la kampung halaman.

Meskipun jumlah kaum muslimin di negeri Barat terus meningkat secara signifikan, suasana Ramadhan masih jauh dari meriah. Ramadhan ya seperti hari biasa saja. Kalau kita jalan ke pusat kota, orang - orang santai saja makan - minum di jalan. Restoran tetap buka seperti biasa, sehingga aroma makanan menguar ke segala penjuru. Di musim panas seperti ini, biasanya ada bonus: cuaca yang hangat sudah cukup membuat orang lokal secara spontan memakai baju sangat minimalis di tempat umum. Dan ini bisa disaksikan ke manapun mata memandang. Jadi kali ini tantangan puasanya berlipat ganda: menahan lapar dan haus, juga menahan pandangan. 

Untunglah waktuku kuhabiskan sebagian besar di dalam rumah. Tiadanya bazaar Ramadhan, pasar wadai maupun program - program ngabuburit membuatku nyaman memaksimalkan ibadah di rumah dan meminimalisasi godaan dari luar rumah. Nikmat rasanya!

Namun... kemeriahan Ramadhan khas kampung tetap kurindukan. Dan penantian itupun kunikmati dengan sabar dan hikmat. 
Aku bersyukur setiap Ramadhan bisa kujalani di dua negeri yang sungguh berbeda dalam segala hal: Barat dan Timur. Perbedaan itu senantiasa bisa membuka cakrawala berpikirku, betapa sesungguhnya perbedaan itu tidak harus membuat kita mengeluh atau membuat semangat menjadi kendur. Memang begutlah hakikat dunia ini kan: penuh perbedaan yang indah dan berwarna. Dan perbedaan itulah yang ingin kubagi dengan sobat - sobatku di manapun berada! 

Haugesund, 13 Juli 2013

* Bagi rekan yang ingin mengenal lebih dekat dengan penulisnya, silahkan klik disini

Ramadhan di Norwegia (3)

Ini dia salah satu dari dua masjid kecil di kota kecilku, Haugesund. Yang ini namanya Masjid Falah Ul-Muslimeen. Sekilas tidak tampak seperti masjid ya? Seperti mushola pun tidak. Apalagi kalau kita bandingkan dengan masjid, mushola atau surau di Indonesia yang rata - rata tampak indah, atau paling tidak menampakkan identitas mereka sebagai tempat beribadah kaum muslimin.

Pendirian masjid ini diprakarsai oleh beberapa imigran asal Sri Lanka sekitar 20 tahun yang lalu. Bangunannya sendiri sudah berdiri sejak lama. Berjejer di antara toko busana pengantin, toko kamera, dan berseberangan dengan gereja dan juga toko penjual bahan makanan Asia, masjid ini memang tidak mudah dikenali sebagai masjid karena memang tak ada papan tanda pengenal. Sejatinya bangunan ini adalah semacam ruko. Lantai bawah gedung dimanfaatkan sebagai masjid, sedangkan lantai atas adalah tempat kost para pengurus masjid.

Seperti halnya ruko, masjid yang terletak di tengah kota Haugesund ini memiliki jam buka tertentu, yaitu pada waktu - waktu sholat. Kalau kita hendak berkunjung atau sekedar mampir melepas lelah di luar jam sholat, kita hanya akan melihat bangunan yang terkunci rapat dan sepi dari kegiatan Islami.

Jangan harap mendengar kumandang adzan dari masjid ini atau masjid manapun di Norwegia karena memang tak ada izin untuk itu. Bagi kaum muslimin di sini, sudah diizinkan memiliki masjid dan bebas mengerjakan ritual kegamaan (selagi tidak mengganggu ketertiban umum) di negeri ini sudah patut disyukuri. 

Yang aku dengar dari beberapa teman muslim di sini, sebetulnya ada ta'jil bersama dan sholat tarawih berjamaah selama Ramadhan di masjid ini maupun di masjid yang lain, El Salaam (yang ini khusus untuk imigran asal negeri Arab). Hati kecil ini pun sebetulnya ingin bergabung dengan kemeriahan khas bulan suci ini. Tapi karena waktu yang menjelang tengah malam, sementara tak mungkin kami meninggalkan si bocah sendirian di rumah, jadilah kami beribadah tarawih berjamaah di rumah saja. Tak apa. Tak perlu dipaksakan. Buat kami yang paling penting esensinya tetap dijalani dengan hikmat dan penuh semangat. Bukan begitu sobat? 

Haugesund, 12 Juli 2013


* Bagi rekan yang ingin mengenal lebih dekat dengan penulisnya, silahkan klik disini

Ramadhan di Norwegia (2)

Syukur alhamdulillah... episode Terlewat Sahur kemarin dapat kami lalui dengan selamat. Berpuasa nyaris 24 jam itu ternyata sesuatu sekali! Percayalah, hal ini terdengar lebih berat dibandingkan menjalankannya sendiri. Memang, badan terasa lemas dan kepala terasa pusing lima keliling karena kurangnya asupan energi sehari semalam. Tapi aku percaya kekuatan niat dan doalah yang menyebabkan ibadah puasa di musim panas ini terasa ringan. 

Sholat dhuha, jalan-jalan dengan si bocah, tadarrus Qur'an, bebersih rumah, masak, bercengkerama dengan keluarga kecilku, sampai jadwal mengaji dan belajar si bocah, bisa terlaksana dengan baik. Dan ternyata masih banyak waktu luang yang tersisa. Kupakai saja untuk tidur. Bukankah tidurnya orang yang berpuasa itu berpahala? Asalkan... tidur itu dikerjakan untuk menyimpan energi demi melaksanakan ibadah-ibadah Ramadhan, bukan tidur sekedar bermalas-malasan atau karena tidak ada kerjaan lain ya...

Menjelang tengah malam, berbekal jadwal kalender Ramadhan yang tertempel di dinding, aku dan suami berbuka puasa. Anehnya, tak ada rasa kalap ingin menghabiskan hidangan satu meja! Cukup segelas air, tiga butir kurma ajwah dan segelas es melon serut, plus seporsi kecil nasi beserta lauk - pauknya sudah membuatku kenyang, tidak terlalu kenyang hingga badan terasa berat diajak sholat maghrib, isya' dan tarawih berjamaah berdua dengan suami. Lega rasanya hari puasa perdana kemarin terlewati dengan hikmat dan tanpa mengeluh.

Alhamdulillah tadi bisa sahur dengan waktu yang cukup; berkat strategi "pasang tiga alarm di samping tempat tidur"!

Dan saat ini aku sedang menemani si bocah sarapan. Mungkin besok dia mulai bisa belajar puasa lagi. Agenda hari ini terfokus untuk tadarrus dan "homeschooling" matematika dan mengaji bersama si bocah kesayangan ayah bunda.

Matahari bersinar cerah, sahur cukup, istirahat cukup, kesehatan prima, insya Allah puasa kami hari ini dan seterusnya berjalan lebih baik dan lebih bersemangat dibanding hari sebelumnya.

Doa dan semangat yang sama ingin kutularkan juga untuk semua teman dan sahabatku di belahan dunia manapun kalian berada!

11 Juli 2013

* Bagi rekan yang ingin mengenal lebih dekat dengan penulisnya, silahkan klik disini

Ramadhan di Norwegia (1)

Jika Ramadhan tahun-tahun sebelumnya blog ini menyajikan catatan Ramadhan dari Mancanegara (Inggris, USA, Jerman, Turki, dll) maka ramadhan tahun ini akan memaparkan kisah, cerita, pengalaman atau suka-duka berpuasa pada musim panas di Norwegia yang akan ditulis berupa jurnal harian oleh sahabat admin  Savitry 'Icha' Khairunnisa sebagaimana yang ditegaskan penulisnya berikut ini:

"Aku akan berusaha membuat jurnal harian Ramadhan di sini setiap harinya. Jadi, buat kalian yang ingin tahu segala suka duka, sepak terjang dan kisah - kisah unik yang kami hadapi selama berpuasa super panjang di sini, pantengin terus ya...." 

* * *

Dan cerita Ramadhan di musim panas tahun ini kami buka dengan kejadian langka: terlewat sahur!
Sepanjang umur 11 tahun pernikahan kami, bahkan sepanjang ingatanku hingga ke masa kanak - kanak, hampir tak pernah aku melewatkan sahur. Bukan sekedar keutamaan sahur di bulan Ramadhan. Tapi selalu ada kekuatan dan "sesuatu" di alam bawah sadar yang membangunkanku untuk sahur, meskipun terkadang hampir di akhir waktu.

Tapi kali ini berbeda.
Alasan terkuat mengapa kali ini sang sahur kami lewatkan adalah sederhana: puncak musim panas!
Di negeri empat musim, terlebih di belahan bumi utara yang hampir mendekati kutub utara seperti negeri ini, matahari di bulan Juni, Juli dan Agustus sangat enggan beranjak turun. 
Pukul 03.40 sudah masuk waktu subuh, sementara sang mentari baru terbenam malu - malu menjelang pukul 23.00. Ya betul: sudah menjadi tradisi kami untuk terjaga hingga menjelang tengah malam demi tidak melewatkan sholat maghrib dan isya'. Dan menjelang pukul 4 dini hari, kami harus bangkit lagi demi menegakkan sang subuh. Begitu selama 3 bulan di musim semi.

Berat memang berat. Tapi beratnya terasa istimewa ketika bulan Ramadhan jatuh pada puncak musim panas seperti tahun ini (dan insya Allah tahun depan pula).
Bagi yang belum pernah menjalankannya, silakan dibayangkan: berpuasa menahan lapar, haus, amarah dan menahan segala sesuatu yang bisa membatalkan puasa selama kurang lebih 19 jam setiap hari.
Praktis waktu malam di mana kita bebas makan, minum dan lain - lain sebagainya hanya 5 jam, dan itu adalah di waktu istirahat malam!
Sungguh berat, namun sungguh nikmat!

Dan sekarang baru 4 jam lebih kami menjalani puasa perdana tahun ini. Masih kurang 15 jam lagi baru kami bisa bertemu minuman dan makanan.

Semoga Allah memberikan kekuatan kepadaku, ibu rumah tangga ini, yang ritmenya hari ini adalah mengurus si bocah yang sedang sakit (sehingga dengan berat hati tidak kami bolehkan ia berpuasa).
Semoga Allah memberikan kekuatan kepada suami tercinta yang sedang mencari nafkah di kota tetangga. Semoga ia tetap berkonsentrasi dan semangat dalam pekerjaannya.


10 Juli 2013

Bagi pembaca yang ingin mengenal lebih dekat dgn penulisnya, silahkan klik  disini