Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Agustus 2012

Sepucuk Surat Teruntuk Istriku Tercinta

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh…

Bismillahirrahmanirrahim

 

Istriku Tercinta,

Aku sangat bersyukur kepada Allah atas pernikahan ini, atas dipilihnya engkau sebagai pendampingku atas dipilihnya engkau sebagai kekasihku. Aku juga bersyukur bahwa Allah telah mempertemukan aku dengan mu untuk menjalani sisa kehidupan ini bersamamu.

Istriku Tercinta,

Aku adalah orang asing bagimu, dan engkau adalah orang asing bagiku. Kalau bukan karena mengharap ridha Allah atas pernikahan ini, tentu engkau akan memilih orang dekat yg engkau ketahui latar belakangnya, tapi karena engkau memilih Allah sebagai pelindungmu atas segala bahaya yg akan datang padamu, atas segala nikmat yg akan tercurah kepadamu maka engkau memilih aku sebagai suamimu meskipun aku sangat asing bagimu. Maka dengan itu pula akupun berdoa kepada Allah semoga engkau selamat dari bahaya yg timbul karena menikah denganku dan semoga rahmat Allah dapat tercurah kepadamu melalui pernikahan ini.

Istriku Tercinta...

Aku bukanlah manusia sempurna yang terbebas dari salah. Aku hanyalah seorang hamba yg ingin menyempurnakan separuh agama, melaksanakan sunnah nabi seperti para sahabatku lainnya. Aku hanyalah seorang pengembara yang baru saja menemukan pulau tambatan hati, setelah sekian lama terombang-ambing dalam gelombang kebingungan dan kebimbangan, hingga Allah menurunkan rizkinya kepadaku berupa dirimu, sebagai tempat pelipur lara, sebagai tempat berkasih sayang, sebagai tempat berkeluh kesah, sebagai tongkat penunjuk jalan, sebagai pelita dalam kegelapan, sebagai embun dikala dahaga, sebagai tempat berteduh dikala panas, sebagai selimut dikala dingin, sebagai peredam duka dikala emosi, sebagai tempat berpangku mesra dikala gundah gulana dan sebagai tempat mengadu dikala ragu dan buntu.

Istriku Tercinta....

Aku menyadari siapa diriku, maka aku tak ingin meminta lebih kepadamu, aku tak ingin engkau secantik Zulaikha,atau secerdas Aisyah, atau sezuhud Khadijah atau semulia Maryam. Aku juga tak ingin engkau sesolehah Asiah tetapi bersuamikan firaun. Aku hanya ingin engkau seperti apa adanya, yg menangis dikala sedih, yg marah dikala terluka dan tersenyum dikala bahagia. Aku tidak menginginkan engkau sesempurna istri sang nabi, sebab aku sadar bahwa aku pun tidak sesempurna beliau. Yang aku inginkan adalah bahwa kita saling menjaga agar bisa meneladani sikap mereka.

Istriku Tercinta....
Jika engkau mengharap harta dariku, ketahuilah aku hanyalah seorang pemuda biasa, yg penghasilannya dapat engkau lihat sendiri. Aku juga bukan pengusaha yg mungkin bisa mewujudkan semua impianmu dengan uang mereka. Tapi jika engkau berpendapat bahwa harta dapat membawa kita kepada syurga, atau kefakiran bisa membawa kepada kekufuran, aku setuju dengan mu. Tapi aku bukanlah Abdurrahman bin auf, atau Abu bakar shiddiq atau ustman bin affan, yg dengan hartanya bisa membawa mereka ke pintu syurga. Aku mungkin hanya bisa menjadi Abudzar al giffari, yg hidup dalam kesendirian dan mati dalam kesendirian. Hanya iman yg ia bawa dan istri yg setia yg menemani pada saat-saat terakhirnya.

Istriku Tercinta,...

Justru dengan keberkahan yg insya Allah hadir bersamamu, kita bisa bersama-sama mengumpulkan harta sebagai bekal untuk akhirat kita. Justru dengan pernikahan ini semoga Allah membukakan pintu-pintu rezeki dari arah yg kita tidak sangka-sangka.

Istriku Tercinta,...

Saat mengetahui engkau menerima khitbahku. Aku menangis terharu, bumi yang ku pijak seakan bergoyang. Aku tak kuasa menahan rasa bahagia saat itu, saat engkau menyetujui lamaranku. Penantian panjang dan melelahkan yg menghabiskan hampir separuh nafas para pemuda dan pemudi, yg membuat mereka terbangun dikala malam, mengadukan nasibnya pada illahi rabbi, menangis disela-sela rintihan dan doa seraya bertanya kapan masa itu akan hadir menjemput mereka.

Masa-masa yg menggetarkan jiwa, menyenangkan hati dan membuat orang normal seperti orang kekurang akal, masa yang hakikatnya seperti berjalan diatas titian besi panas hingga mampu menjerumuskan mereka yg tidak sabar akan datangnya masa bahagia itu.Istriku Tercinta,....  tibanya masa itu merupakan rahmat yg tiada tara bagi para hamba yang bersyukur, yang menyadari bahwa pernikahan itu adalah sebuah perjuangan dan bukanlah sebuah permainan.

Sayangku…

Jika engkau mengharapkan ketampanan, kesempurnaan fisik dan penampilan, ketahuilah aku hanyalah seorang manusia biasa, yg lahir dari benih ayah dan ibuku, yang rupa dan bentuk fisiknya tak bisa aku inginkan sesuai mauku. Aku hanya menerima takdir tuhan, beginilah diriku adanya. Aku tidak setampan nabi Yusuf, tidak segagah nabi Daud, tidak sekuat Umar bin khatab, tidak sehalus Usman bin affan, tidak sepintar Ali bin abi thalib, dan aku juga tidak sesabar Abu bakar shiddiq. Jika engkau menginginkan semua sifat itu ada padaku, maka aku berlindung kepada Allah, atas kelemahan diriku. Tapi jika engkau mendoakan aku memiliki salah satu saja sifat mulia mereka, maka aku bersyukur kepada Allah atas doamu itu dan juga atas berlipatnya rizkiku karena menikah dengan manusia pemilik doa sepertimu.

Istriku Tercinta,...

Aku dan engkau akan tahu, kita akan menghadapi masa-masa yang akan datang bersama-sama, masa yang kadang indah untuk dikenang, atau pahit untuk diingat. Semua tergantung seberapa besar hati ini mau melapangkan jalan untuk menerima apapun kondisi itu. Sayangku, Jika salah satu sudut hatimu pada saat ini sudah terisi untukku, maka sudut-sudut yang lain isilah dengan rabb pencipta alam semesta.

Jangan kau isi semua sudut hatimu dengan diriku atau dengan yanglain kecuali Tuhan mu, sebab aku tidak akan sanggup menjaga mu bahkan menjaga hatimu, hanya Allah lah yang bisa menjagamu, menjaga hati dan jiwamu, menjaga fisik dan ragamu. Kamu mungkin bisa melupakan aku jika aku berbuat kesalahan, kamu bisa saja membuang sudut hati tempatku berpijak dan mengganti dengan orang lain yang sesuai dengan keinginanmu, tapi engkau tidak akan bisa melupakan rabb pemilik hatimu. Dan aku lebih nyaman jika hatimu dikuasai oleh pemilik alam semesta, ketimbang dikuasai oleh aku atau apapun itu.

Istriku Tercinta,...

Insya Allah kita akan menjalani tahap-tahap usia pernikahan kita,

Pada tahun pertama perkawinan kita, kuharap engkau mau lebih bersabar, mau memahami lebih dalam perbedaan-perbedaan antara kita, sebab kita adalah dua orang asing yang harus mengayuh perahu bersama, jika kita tidak bisa bekerja sama, aku khawatir perahu ini tenggelam ketika baru saja kita meninggalkan pantai.

Pada tahun kedua hingga tahun kelima, kuharap engkau sudah mengerti tentang diriku, tentang sifat dan tingkah lakuku. Saat itu mungkin anak pertama kita akan lahir dan tanggung jawab kita sebagai orangtua baru dimulai.

Aku berpesan kepadamu,

Kemulyaanmu sebagai seorang ibu baru saja dimulai, jika engkau merasa capek dan lelah janganlah sungkan-sungkan untuk meminta tolong kepadaku. Meski aku tahu pada saat itu mungkin kehidupan kita masih prihatin. Tapi aku yakin anak-anak kita yang masih lucu akan mampu menghapus semua duka lara, letih dan lelah serta rasa capek dan lelah karena tugas kita. Tugasmu sebagai madrasah yang memberi pendidikan agama dan nilai luhur para orang saleh pendahulu kita, dan tugasku membantumu membumikan pendidikan itu.

Pada tahun kelima hingga kesepuluh, mungkin kita akan didera oleh kondisi keuangan karena saat itu kebutuhan kita akan meningkat, anak-anak beranjak ke sekolah dan kebutuhan rumah tangga akan meningkat. Aku memohon kepadamu, bantu aku dengan doa-doamu, dengan dhuha dan tahajudmu dengan zikir dan shodaqohmu, semoga masa-masa sulit segera pergi hingga Allah memenuhi janjinya kepada kita.

Pada tahun kesepuluh hingga keduapuluh, mungkin Allah telah mengalirkan rezeki yang deras kepada kita, kehidupan mulai mapan, kesejahteraan mulai datang, dan anak-anak mulai dewasa. Aku memohon kepadamu, bantu aku menguatkan batin dan jiwaku agar aku tidak terperosok kedalam jurang kenistaan, karena godaan dunia berupa harta tahta dan wanita. Sadarkan aku tentang umur dan usiaku yang mulai menua juga temperamenku yang mulai meninggi dimakan usia. Bantu aku bersahabat dengan anak-anak kita, berikan mereka pengertian tentang arti kehidupan sesungguhnya, karena sebentar lagi mereka akan memilih jalannya masing-masing.

Pada tahun ketigapuluh dan sesudahnya, aku tak tahu apakah kita akan sampai disitu, yang jelas kita akan kembali berdua, anak-anak lelaki kita akan pergi dan anak perempuan akan mengikuti suaminya. Kita hanyalah sepasang manusia renta yang tak bisa melawan takdirnya. Kuingin saat itu, hari-hari kita hanya dipenuhi zikir dan tasbih, dipenuhi munajat dan doa, seraya menunggu utusan Tuhan datang menjemput.

Aku ingin engkau dan aku tetap menjadi pasangan didunia dan akhirat, jadi kumohon kita saling menjaga, saling memberi peringatan dan tausiah agar tujuan pernikahan ini sesuai dengan yang kita harapkan. Terakhir aku ingin kado ku ini menjadi prasasti cinta kita, yang tertanam jauh dilubuk hati, sehingga jika terjadi goncangan, kita selalu kembali ke komitmen awal pernikahan.

Salam bahagia

Suamimu.
By ; Mencari Rezky

Kamis, 22 Maret 2012

KISAH MENGHARUKAN, PEREMPUAN YANG DICINTAI SUAMIKU

Kehidupan pernikahan kami awalnya baik-baik saja menurutku. Meskipun menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario tampak baik dan lebih menuruti apa mauku. Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan pergi kekantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah, mandi, kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit, makannya pun sedikit. Aku pikir dia workaholic.

Dia menciumku maksimal 2x sehari, pagi menjelang kerja, dan saat dia pulang kerja, itupun kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran dia tidak pernah romantis, aku pikir, memang dia tidak romantis, dan tidak memerlukan hal2 seperti itu sebagai ungkapan sayang. Kami jarang ngobrol sampai malam, kami jarang pergi nonton berdua, bahkan makan berdua diluarpun hampir tidak pernah. Kalau kami makan di meja makan berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu kami, bukan obrolan yang terdengar, hanya denting piring yang beradu dengan sendok garpu. Kalau hari libur, dia lebih sering hanya tiduran dikamar, atau main dengan anak2 kami, dia jarang sekali tertawa lepas. Karena dia sangat pendiam, aku menyangka dia memang tidak suka tertawa lepas.

Aku mengira rumah tangga kami baik2 saja selama 8 tahun pernikahan kami. Sampai suatu ketika, disuatu hari yang terik, saat itu suamiku tergolek sakit dirumah sakit, karena jarang makan, dan sering jajan di kantornya, dibanding makan dirumah, dia kena typhoid, dan harus dirawat di RS, karena sampai terjadi perforasi di ususnya. Pada saat dia masih di ICU, seorang perempuan datang menjenguknya. Dia memperkenalkan diri, bernama meisha, temannya Mario saat dulu kuliah.

Meisha tidak secantik aku, dia begitu sederhana, tapi aku tidak pernah melihat mata yang begitu cantik seperti yang dia miliki. Matanya bersinar indah, penuh kehangatan dan penuh cinta, ketika dia berbicara, seakan2 waktu berhenti berputar dan terpana dengan kalimat2nya yang ringan dan penuh pesona. Setiap orang, laki2 maupun perempuan bahkan mungkin serangga yang lewat, akan jatuh cinta begitu mendengar dia bercerita. Meisha tidak pernah kenal dekat dengan Mario selama mereka kuliah dulu, Meisha bercerita Mario sangat pendiam, sehingga jarang punya teman yang akrab. 5 bulan lalu mereka bertemu, karena ada pekerjaan kantor mereka yang mempertemukan mereka. Meisha yang bekerja di advertising akhirnya bertemu dengan Mario yang sedang membuat iklan untuk perusahaan tempatnya bekerja.

Aku mulai mengingat-ingat 5 bulan lalu ada perubahan yang cukup drastis pada Mario, setiap mau pergi kerja, dia tersenyum manis padaku, dan dalam sehari bisa menciumku lebih dari 3x. Dia membelikan aku parfum baru, dan mulai sering tertawa lepas. Tapi disaat lain, dia sering termenung didepan komputernya. Atau termenung memegang Hp-nya. Kalau aku tanya, dia bilang, ada pekerjaan yang membingungkan.

Suatu saat Meisha pernah datang pada saat Mario sakit dan masih dirawat di RS. Aku sedang memegang sepiring nasi beserta lauknya dengan wajah kesal, karena Mario tidak juga mau aku suapi. Meisha masuk kamar, dan menyapa dengan suara riangnya,

” Hai Rima, kenapa dengan anak sulungmu yang nomor satu ini ? tidak mau makan juga? uhh… dasar anak nakal, sini piringnya, ” lalu dia terus mengajak Mario bercerita sambil menyuapi Mario, tiba2 saja sepiring nasi itu sudah habis ditangannya. Dan….aku tidak pernah melihat tatapan penuh cinta yang terpancar dari mata suamiku, seperti siang itu, tidak pernah seumur hidupku yang aku lalui bersamanya, tidak pernah sedetikpun !

Hatiku terasa sakit, lebih sakit dari ketika dia membalikkan tubuhnya membelakangi aku saat aku memeluknya dan berharap dia mencumbuku. Lebih sakit dari rasa sakit setelah operasi caesar ketika aku melahirkan anaknya. Lebih sakit dari rasa sakit, ketika dia tidak mau memakan masakan yang aku buat dengan susah payah. Lebih sakit daripada sakit ketika dia tidak pulang kerumah saat ulang tahun perkawinan kami kemarin. Lebih sakit dari rasa sakit ketika dia lebih suka mencumbu komputernya dibanding aku.

Tapi aku tidak pernah bisa marah setiap melihat perempuan itu. Meisha begitu manis, dia bisa hadir tiba2, membawakan donat buat anak2, dan membawakan ekrol kesukaanku. Dia mengajakku jalan2, kadang mengajakku nonton. kali lain, dia datang bersama suami dan ke-2 anaknya yang lucu2. Aku tidak pernah bertanya, apakah suamiku mencintai perempuan berhati bidadari itu? karena tanpa bertanya pun aku sudah tahu, apa yang bergejolak dihatinya.

Suatu sore, mendung begitu menyelimuti jakarta , aku tidak pernah menyangka, hatikupun akan mendung, bahkan gerimis kemudian. Anak sulungku, seorang anak perempuan cantik berusia 7 tahun, rambutnya keriting ikal dan cerdasnya sama seperti ayahnya. Dia berhasil membuka password email Papa nya, dan memanggilku, ” Mama, mau lihat surat papa buat tante Meisha ?”Aku tertegun memandangnya, dan membaca surat elektronik itu,

Dear Meisha,


Kehadiranmu bagai beribu bintang gemerlap yang mengisi seluruh relung hatiku, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta seperti ini, bahkan pada Rima. Aku mencintai Rima karena kondisi yang mengharuskan aku mencintainya, karena dia ibu dari anak2ku. Ketika aku menikahinya, aku tetap tidak tahu apakah aku sungguh2 mencintainya. Tidak ada perasaan bergetar seperti ketika aku memandangmu, tidak ada perasaan rindu yang tidak pernah padam ketika aku tidak menjumpainya. Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaannya.


Ketika konflik2 terjadi saat kami pacaran dulu, aku sebenarnya kecewa, tapi aku tidak sanggup mengatakan padanya bahwa dia bukanlah perempuan yang aku cari untuk mengisi kekosongan hatiku. Hatiku tetap terasa hampa, meskipun aku menikahinya. Aku tidak tahu, bagaimana caranya menumbuhkan cinta untuknya, seperti ketika cinta untukmu tumbuh secara alami, seperti pohon2 beringin yang tumbuh kokoh tanpa pernah mendapat siraman dari pemiliknya. Seperti pepohonan di hutan2 belantara yang tidak pernah minta disirami, namun tumbuh dengan lebat secara alami. Itu yang aku rasakan.


Aku tidak akan pernah bisa memilikimu, karena kau sudah menjadi milik orang lain dan aku adalah laki2 yang sangat memegang komitmen pernikahan kami. Meskipun hatiku terasa hampa, itu tidaklah mengapa, asal aku bisa melihat Rima bahagia dan tertawa, dia bisa mendapatkan segala yang dia inginkan selama aku mampu. Dia boleh mendapatkan seluruh hartaku dan tubuhku, tapi tidak jiwaku dan cintaku, yang hanya aku berikan untukmu. Meskipun ada tembok yang menghalangi kita, aku hanya berharap bahwa engkau mengerti, you are the only one in my heart.
yours,


Mario


Mataku terasa panas. Jelita, anak sulungku memelukku erat. Meskipun baru berusia 7 tahun, dia adalah malaikat jelitaku yang sangat mengerti dan menyayangiku. Suamiku tidak pernah mencintaiku. Dia tidak pernah bahagia bersamaku. Dia mencintai perempuan lain.

Aku mengumpulkan kekuatanku. Sejak itu, aku menulis surat hampir setiap hari untuk suamiku. Surat itu aku simpan diamplop, dan aku letakkan di lemari bajuku, tidak pernah aku berikan untuknya. Mobil yang dia berikan untukku aku kembalikan padanya. Aku mengumpulkan tabunganku yang kusimpan dari sisa2 uang belanja, lalu aku belikan motor untuk mengantar dan menjemput anak2ku. Mario merasa heran, karena aku tidak pernah lagi bermanja dan minta dibelikan bermacam2 merek tas dan baju. Aku terpuruk dalam kehancuranku. Aku dulu memintanya menikahiku karena aku malu terlalu lama pacaran, sedangkan teman2ku sudah menikah semua. Ternyata dia memang tidak pernah menginginkan aku menjadi istrinya. Betapa tidak berharganya aku. Tidakkah dia tahu, bahwa aku juga seorang perempuan yang berhak mendapatkan kasih sayang dari suaminya ? Kenapa dia tidak mengatakan saja, bahwa dia tidak mencintai aku dan tidak menginginkan aku ? itu lebih aku hargai daripada dia cuma diam dan mengangguk dan melamarku lalu menikahiku. Betapa malangnya nasibku.

Mario terus menerus sakit2an, dan aku tetap merawatnya dengan setia. Biarlah dia mencintai perempuan itu terus didalam hatinya. Dengan pura2 tidak tahu, aku sudah membuatnya bahagia dengan mencintai perempuan itu. Kebahagiaan Mario adalah kebahagiaanku juga, karena aku akan selalu mencintainya.

**********

Setahun kemudian…

Meisha membuka amplop surat2 itu dengan air mata berlinang. Tanah pemakaman itu masih basah merah dan masih dipenuhi bunga.

” Mario, suamiku….


Aku tidak pernah menyangka pertemuan kita saat aku pertama kali bekerja dikantormu, akan membawaku pada cinta sejatiku. Aku begitu terpesona padamu yang pendiam dan tampak dingin. Betapa senangnya aku ketika aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku mencintaimu, dan begitu posesif ingin memilikimu seutuhnya. Aku sering marah, ketika kamu asyik bekerja, dan tidak memperdulikan aku. Aku merasa diatas angin, ketika kamu hanya diam dan menuruti keinginanku… Aku pikir, aku si puteri cantik yang diinginkan banyak pria, telah memenuhi ruang hatimu dan kamu terlalu mencintaiku sehingga mau melakukan apa saja untukku…..


Ternyata aku keliru…. aku menyadarinya tepat sehari setelah pernikahan kita. Ketika aku membanting hadiah jam tangan dari seorang teman kantor dulu yang aku tahu sebenarnya menyukai Mario. Aku melihat matamu begitu terluka, ketika berkata, ” kenapa, Rima ? Kenapa kamu mesti cemburu ? dia sudah menikah, dan aku sudah memilihmu menjadi istriku ?” Aku tidak perduli dan berlalu dari hadapanmu dengan sombongnya. Sekarang aku menyesal, memintamu melamarku. Engkau tidak pernah bahagia bersamaku. Aku adalah hal terburuk dalam kehidupan cintamu. Aku bukanlah wanita yang sempurna yang engkau inginkan.


Istrimu,


Rima”

Di surat yang lain,
“………Kehadiran perempuan itu membuatmu berubah, engkau tidak lagi sedingin es. Engkau mulai terasa hangat, namun tetap saja aku tidak pernah melihat cahaya cinta dari matamu untukku, seperti aku melihat cahaya yang penuh cinta itu berpendar dari kedua bola matamu saat memandang Meisha……”


Disurat yang kesekian,


“…….Aku bersumpah, akan membuatmu jatuh cinta padaku.


Aku telah berubah, Mario. Engkau lihat kan, aku tidak lagi marah2 padamu, aku tidak lagi suka membanting2 barang dan berteriak jika emosi. Aku belajar masak, dan selalu kubuatkan masakan yang engkau sukai. Aku tidak lagi boros, dan selalau menabung. Aku tidak lagi suka bertengkar dengan ibumu. Aku selalu tersenyum menyambutmu pulang kerumah. Dan aku selalu meneleponmu, untuk menanyakan sudahkah kekasih hatiku makan siang ini? Aku merawatmu jika engkau sakit, aku tidak kesal saat engkau tidak mau aku suapi, aku menungguimu sampai tertidur disamping tempat tidurmu, dirumah sakit saat engkau dirawat, karena penyakit pencernaanmu yang selalu bermasalah……. Meskipun belum terbit juga, sinar cinta itu dari matamu, aku akan tetap berusaha dan menantinya……..” Meisha menghapus air mata yang terus mengalir dari kedua mata indahnya… dipeluknya Jelita yang tersedu-sedu disampingnya.


Disurat terakhir, pagi ini…


“…………..Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-9. Tahun lalu engkau tidak pulang kerumah, tapi tahun ini aku akan memaksamu pulang, karena hari ini aku akan masak, masakan yang paling enak sedunia. Kemarin aku belajar membuatnya dirumah Bude Tati, sampai kehujanan dan basah kuyup, karena waktu pulang hujannya deras sekali, dan aku hanya mengendarai motor. Saat aku tiba dirumah kemarin malam, aku melihat sinar kekhawatiran dimatamu. Engkau memelukku, dan menyuruhku segera ganti baju supaya tidak sakit.

Tahukah engkau suamiku,



Selama hampir 15 tahun aku mengenalmu, 6 tahun kita pacaran, dan hampir 9 tahun kita menikah, baru kali ini aku melihat sinar kekhawatiran itu dari matamu, inikah tanda2 cinta mulai bersemi dihatimu ?………”


Jelita menatap Meisha, dan bercerita,


” Siang itu Mama menjemputku dengan motornya, dari jauh aku melihat keceriaan diwajah mama, dia terus melambai-lambaikan tangannya kepadaku. Aku tidak pernah melihat wajah yang sangat bersinar dari mama seperti siang itu, dia begitu cantik. Meskipun dulu sering marah2 kepadaku, tapi aku selalu menyayanginya. Mama memarkir motornya diseberang jalan, Ketika mama menyeberang jalan, tiba2 mobil itu lewat dari tikungan dengan kecepatan tinggi…… aku tidak sanggup melihatnya terlontar, Tante….. aku melihatnya masih memandangku sebelum dia tidak lagi bergerak……” Jelita memeluk Meisha dan terisak-isak. Bocah cantik ini masih terlalu kecil untuk merasakan sakit di hatinya, tapi dia sangat dewasa. Meisha mengeluarkan selembar kertas yang dia print tadi pagi. Mario mengirimkan email lagi kemarin malam, dan tadinya aku ingin Rima membacanya.
========================================================================

Dear Meisha,


Selama setahun ini aku mulai merasakan Rima berbeda, dia tidak lagi marah2 dan selalu berusaha menyenangkan hatiku. Dan tadi, dia pulang dengan tubuh basah kuyup karena kehujanan, aku sangat khawatir dan memeluknya. Tiba2 aku baru menyadari betapa beruntungnya aku memiliki dia. Hatiku mulai bergetar…. Inikah tanda2 aku mulai mencintainya ? Aku terus berusaha mencintainya seperti yang engkau sarankan, Meisha. Dan besok aku akan memberikan surprise untuknya, aku akan membelikan mobil mungil untuknya, supaya dia tidak lagi naik motor kemana-mana. Bukan karena dia ibu dari anak2ku, tapi karena dia belahan jiwaku….  Meisha menatap Mario yang tampak semakin ringkih, yang masih terduduk disamping nisan Rima. Diwajahnya tampak duka yang dalam. Semuanya telah terjadi, Mario.

Kadang kita baru menyadari mencintai seseorang, ketika seseorang itu telah pergi meninggalkan kita.

oleh Wawan M Kunsarwani pada 17 Maret 2012 pukul 16:49

http://www.dikutip.com/2012/02/kisah-mengharukan-perempuan-yang-di.html

Rabu, 16 November 2011

Kisah Perjalananku: Pesan Terakhir Seorang Supir Truk

Tanjakan Padalarang di siang hari

Lega  rasanya hati setelah lepas dari tikungan terakhir di tanjakan Padalarang yang memaksa tanganku menari mengikuti kelokan demi kelokan tajam di jalan yang terus menanjak. Kadang aku terpaksa sabar mengikuti truk yang merayap terengah memuat batu kapur menapaki tanjakan yang cukup terjal, meski hatiku sebenarnya mengumpat,  
  • “Bagaimana mungkin kendaraan yang mengeluarkan asap hitam pekat itu bisa lolos UJI/KIR !” 
  • “Bagaimana pula jika remnya tidak berfungsi  dengan baik ?”
Mengingat asap yang semakin  pekat  hampir tak dapat ditembus lampu halogenku dan aku terlambat menututup jendela  yang sejak awal tanjakan kubuka tuk hirup udara segar, maka beberapakali aku "meminta ijin" untuk mendahului dengan memainkan Dim (lampu jauh) tapi karena jarak antar tikungan cukup pendek, berkali-kali pula sang supir tak mengijinkanku tuk mendahului dengan isyarat lambaian tangannya.
Mereka para supir truk tentu orang yang kenal medan, tindakanku yang spekulatif hanya akan menimbulkan bencana dan aku tak ingin perjalananku berakhir disini.

Kuputuskan untuk menjauh dari “Big Brother” - tulisan yang tertera pada bak belakangnya -    ada juga tulisan lain dengan aksara yang lebih kecil diatasnya  yang setidaknya menghibur kekesalanku dan memaksaku tersenyum sendiri, “Kutunggu Jandamu” dan satu tulisan lagi dibawahnya "Roda Berputar, Dapur Lancar".

Setelah agak lama menjauh sambil mengusir asap yang berbau solar keluar, kutekan power windows tuk menutup semua kaca samping dan ambil ancang-ancang mendahuluinya sebelum tikungan berikutnya, tiba tiba pandanganku terhalang, semua gelap!  Kali ini bukan karena asap hitam tapi seperti kabut pekat.

Ya Tuhan..! aku lupa hidupkan AC, karena terbuai oleh segar dan dinginnya udara pagi pegunungan yang jarang kunikmati. Sambil menurunkan setengah bukaan kaca dan menekan switch AC, aku mengumpat kebodohanku sendiri. Rupanya suhu diluar yang jauh lebih rendah mengundang butiran embun bermain dikaca.

Lamunanku terhenti, ketika melihat traffic light didepan, ada petunjuk jalan yang besar berwana hijau melintang dengan gagah membelah jalan, aku memilih menghindari kota Bandung dan segera belokan stir ke kiri memasuki jalan Tol Padaleunyi (Padalarang-Cileunyi) yang  hanya sekitar 35,6 km panjangnya dan ketika itu belum lama diresmikan . Tak lama beranjak, di depan sudah terlihat gerbang (pembayaran) Tol. Kulirik jam digital pada dash-board menunjukan angka 4. Itu berarti 2 jam sudah menyusuri jalan sunyi, Tol Jagorawi-Ciawi-Puncak-Cianjur-Padalarang

“Hampir subuh”, kataku bergumam, sambil mengurangi kecepatan masuki gerbang tol Padaleunyi yang dibangun Desember 1987 – 30 April 1992 itu.
         
Gerbang Tol Padalarang di siang hari.
Lagi-lagi aku terkejut sekaligus senang melihat pemandangan yang tidak biasa, ketika kuturunkan kaca samping tuk membayar, ternyata penjaga tolnya wanita muda.... cantik pula.
Tidak biasa...? Ya..., bukankah shift malam biasanya untuk laki-laki? Ooh... mungkin ini bagian dari ‘promosi’ untuk Tol yang baru beroperasi, entahlah...

Kulihat spion tengah, ternyata tak ada kendaraan lain selain aku dan sebuah sedan polisi yang siaga diparkir bersebelahan dengan pos/kantor Jasa Marga.

“Amaan....”, pikiran usilku muncul.

Diusiaku yang lebih dari seperempat abad  ketika itu dan belum juga punya “gandengan” rasanya perasaan itu wajar dan normal saja. Yaah.... namanya juga usaha.

“Selamat Pagi pak....”, sapa  si Neneng ramah tapi cukup membelah sunyi, namanya memang tertera jelas diatas saku bajunya.  Tapi rasanya kelembutan suara dan keramahan senyum  Neneng agak “ternoda” karena dia memanggilku dengan sebutan “Pak”.

“Pagi Neng...”  Jawabku datar terganjal kecewa.

 “Ada uang pas, pak...?”, tanyanya masih dengan senyum manisnya.

Hadeeuuh..... “Pak” itu lagi yang kudengar. Kalau saja kau sapa aku dengan panggilan Bang, Mas atau Kak apalagi Aa,  bukan cuma ‘uang pas’ bahkan ‘uang tidak pas’ plus kartu namapun akan rela kuberikan. Apakah hanya itu yang diajarkan ‘bos’mu...., jika pria kau panggil “Pak” dan wanita kau panggil “Bu”. Protes itu cuma kupendam dalam hati karena mungkin menurut Neneng seharusnya aku sudah menjadi bapak.

“Sebentar saya cari,” jawabku singkat.

Disini usilku berperan. Sebenarnya, bukan uang pas yang ku cari, sengaja aku malah  mencari nominal terbesar agar dia sibuk menghitung kembaliaannya. Sementara aku bisa agak berlama-lama menatap wajah manisnya, sambail memasang jerat asmara.

“Maaf Neng, semuanya seperti ini...,” kataku agak jaim sambil sodorkan 100 ribuan padahal hanya tersisa beberapa lembar saja di dompet.

Dia hanya tersenyum menerima uang itu sebaliknya aku malah cemberut, maksud hati “memamerkan” uang licin berbahan plastik (polimer) itu  dengan membeberkannya lebar-lebar, apa daya uang itu pula yang menghalangi kehalusan jemarinya dari tanganku.

Aku kagum dengan keterampilannya bekerja, jemarinya sibuk menari diatas keyboard, matanya  menatatap tajam ke arah monitor sementara mulutnya terus berbicara sambil sesekali melirik kearahku, mungkin sekedar memastikan kalau aku masih ada. Ia pasti berbicara padaku karena tak ada orang lain disitu. Tapi sepertinya aku terlalu khusyu’ menatapnya hingga tak mendengar apapun karena mata dan hatiku sibuk menelusuri inci demi inci paras manis mojang Priangan ini. Selama dia bicara aku hanya menangkap 2 kata: jurang dan truk. Maka ketika ia sodorkan kembalian dan karcis sambil mengatakan,

“Terima Kasih Pak..., selamat jalan”.

Aku malah balik bertanya, “maaf Neng..., tadi Neng ada sebut jurang dan truk. Ada apa ya..?"

Kali ini si Neng yang melongo, bingung dan pasti kesal, matanya membulat, bibirnya  terkatup rapat. Sumpah... pasti bukan karena terpesona melihat ketampananku (itu fitnah). Dia pasti kecewa merasa diacuhkan, kalau saja boleh marah dia pasti teriak, “Woooii.... dari tadi gue nyerocos, kemane aje loe!”

“Pak...., tadi saya bilang ada kecelakaan, truk yang masuk jurang” katanya tetap berusaha ramah.

Oh ya...., timpalku sekenanya sambil pura-pura sibuk memasukan kembalian kedalam dompet, karena merasa tak enak hati. Tak kulanjutkan tanyaku yang masih banyak tersimpan, dimana? sudah dievakuasi belum?, ada korban apa tidak?, dll.

“Mari Neng....,” aku pamit sambil sambil bersodaqoh dengan senyum.  Ku injak gas perlahan tapi Corolla merah marunku tetap enggan beranjak,  kulihat lampu indikator brake pada panel masih menyala merah tanda rem tangan belum dilepas. Hahaa.. bukan cuma tuanmu, rupanya engkaupun betah berlama-lama disini kali ini kulimpahkan kesalahanku padanya. Berjalan perlahan, kututup rapat kaca samping, menutup malu.

Acara pernikahan kerabat di sebuah desa yang berjarak 300-an km dari tempatku itu memang baru di mulai pkl. 10:00 pagi, tapi targetku adalah 4 jam diperjalanan dan 4 jam untuk istirahat melepas penat, sebelum prosesi akad nikah

Jalan tol Padalenyi di siang hari
   
Sengaja alunan musik yang agak nge-beat kuputar sekedar melepas rasa jenuh,  adapun rasa kantukku sudah hilang di usir senyum si mojang geulis tadi.  Mengemudi seorang diri memang menjemukan, apalagi menyusuri jalan tol yang sepi menjelang subuh seperti ini.

Jarum pada speedometer  hampir menunjukan  angka 120 km/jam. Upss... rupanya hentakan musik ini, tanpa sadar turut menghentak kaki hingga menekan pedal gas agak dalam. Jalan dengan aspal hot-mix yang mulus ini sepertinya disediakan khusus untukku,  hanya ada satu dua mobil yang melintas di seberang jalur  berlawanan yang menuju Jakarta, sedang pada lajurku tak terlihat ada teman, baik di depan atau dibelakang. Lajur kiri masih terlihat basah bekas guyuran hujan, kecepatan seperti ini pasti lebih cepat menuntunku kearah Rumah Sakit.

Kepingan CD kuganti, kali ini mas Ebiet yang mengusik rasaku.
“Perjalanan ini... terasa sangat menyedihkan..... Sayang engkau tak duduk disampingku kawan....” 
Yah... “Berita Kepada Kawan” dan berita yang kudapat dari si Neng tadi rupanya  ampuh meredam kecepatan  menjadi 80 km/jam, cukuplah...

Tak sampai setengah jam aku sudah berada dipintu keluar Tol dekat perempatan Cileunyi. Aku agak menyesal tak menanyakan dimana TKP kecelakaan itu. Kalau ada di arah Cadas Pangeran, aku akan menghindar dengan berbelok ke kanan mengambil jalur Nagrek ke arah Malangbong berputar ke arah Sumedang karena desa yang kumaksud berada diantara keduanya, begitu sebaliknya. Akhirnya kuputuskan tuk lurus ke arah Cadas Pangeran, selain jarak yang lebih singkat, pemandangan yang indah, udara yang sejuk akupun beberapa kali melewati jalur ini disiang hari. Aku merasa akrab dengan jalur ini. 

(Cadas Pangeran adalah nama suatu tempat, kira-kira enam kilometer sebelah barat daya kota Sumedang, yang dilalui jalan raya Bandung—Cirebon. Pemberian nama ini terkait dengan pembangunan Jalan Raya Pos Daendels [Anyer-Panarukan] yang melintasi daerah ini. Karena medan yang berbatu cadas, lima ribuan jiwa pekerja kehilangan nyawanya. Hal ini membuat marah penguasa Kabupaten Sumedang, Pangeran Kusumadinata IX (1791-1828) yang lebih populer dengan sebutan Pangeran Kornel, dan ia memprotes Daendels atas kesemena-menaan dalam pembangunan jalan itu. Lalu terjadilah peristiwa Pangeran Kusumah Dinata bersalaman dengan tangan kiri menyambut tangan kanan Marsekal Daendels, sementara tangan kanan siap menghunus keris; seperti tergambarkan pada patung di Ciherang yang menghiasi jalan raya Bandung – Sumedang memasuki segmen Cadas Pangeran.)
  

“Jalur Maut” begitu julukannya ketika itu, jalan yang sempit dengan tebing batu (Cadas) yang tinggi disatu sisi, dan jurang yang dalam disisi lain dengan banyak tikungan yang “nyaris patah” lebih dari 90 derajat.

Pada siang hari, jika kita menoleh kesisi jurang, hanya ujung pohon tinggi yang terlihat jauh dari jalan entah berapa puluh meter kedalamannya. Sehingga jika ada dua kendaraan besar berpapasan, maka yg berada disisi tebing harus berhenti mengalah dan merapat mampersilahkan kendaraan lain disisi jurang untuk melaju. Pada tanjakan tertentu tak jarang sang kenek harus berlari mengikuti laju mobilnya sambil membawa ganjal dari balok yang besar. Pada waktu itu untuk kendaraan besar, memang tak ada alternatif tersingkat lain untuk  Bandung – Sumedang selain melewati jalur ini.

Sayup-sayup kumandang adzan subuh terdengar.... masih sangat sepi jama’ah shalat subuh di masjid yang terletak dipinggir jalan itu. Padahal ada puluhan tempat kost mahasiswa disekitar situ, mengingat letaknya yang relatif dekat dengan salah satu perguruan tinggi ternama di Indonesia milik Dept. Dalam Negeri, yang kerap diberitakan miring karena kesadisan mahasiswa seniornya.

“Baru ya dek, mampir di mesjid ini,” tanya seseorang sambil menepuk pundakku ketika berjalan kearah pintu keluar  masjid, ba’da shalat subuh.

Ketika menoleh, aku mengenalinya sebagai imam yang tadi memimpin shalat sekitar 20-an jamaah itu. Bacaannya tartil, tajwidnya tepat, makhrojnya pas.  Setidaknya pantas kalau para jamaah yang menyalaminya tadi memanggilnya ustadz. Belum sempat menjawab sapanya, disusul lagi pertanyaan kedua,

“Mau ke arah Sumedang atau ke Jakarta nih”?, dengan logat Sundanya yang medok.
Tadi, pada waktu kubelokan mobilku ke pelataran parkir di depan masjid, sang ustadz memang belum hadir, sehingga ia tak tau dari arah mana aku datang.

“Eeh.. iya ustadz, saya mau ke arah Sumedang,”, jawabku agak gugup diberondong pertanyaan seperti itu.

“Kelihatannya buru-buru ya...?”

“Aah.. nggak juga tadz.”

“Sumedangnya dimana?”

“Di satu desa sebelah tenggara Sumedang yang berbatasan dengan Majalengka.”

“Ooo... paling tinggal satu setengah jam lagi dari sini, kalau nggak buru-buru kita ngobrol aja dulu disini... baru juga jam 5”

Aku cuma mengangguk dan kamipun duduk diberanda mesjid beralas hambal warna hijau.

“Rumah saya yang itu...,” katanya memulai percakapan.

Ooo... ternyata cuma terhalang satu rumah dari mesjid, kataku dalam hati.

“Sebentar saya mau minta bikinin kopi sama gorengan dulu yaa... biar seger “ katanya sambil beranjak.

“Ga usah repot-repot, ustadz”, jawabku basa-basi. Padahal dalam hati bilang “agak cepat ya, Ustadz...”

Langkahnya masih tegap, wajah lumayan ganteng usianya pasti belum sampai 50 thn-an. Begitu ramah, baik dan santunnya ustadz ini. Kalau saja ia punya anak gadis, pasti iapun cantik  pintar dan ramah seperti ayahnya, mudah-mudahan nanti yang menyajikan kopi itu anak gadisnya. Tak perlulah bersolek, karena kata ayahku, “kalau kamu mau melihat wajah asli seorang gadis, lihatlah pada waktu dia baru bangun  tidur”.  Hehehee.... aku senyum-senyum sendiri mengingat nasehat itu, gadis mana yang mau menampakan diri pada saat itu, kecuali ada kebakaran.

Satu lagi nasehat ayahku yang kuingat, “kalau mau  dapat gadis yang sholehah, carilah ditempat yang baik dimesjid, pesantren misalnya jangan dibioskop apalagi diskotiq.  ”Hmm.... gimana kalau di gerbang Tol, ayah.....?”  hehee...  lagi-lagi aku senyum-senyum sendiri. Rupanya udara dingin ini membawa  lamunanku pergi kemana-mana, “ngelantur” istilahnya.

Tapi ada satu nasehat ayahku yang tak pernah kulupa sampai saat ini tentang “strategi menjerat gadis” Ssttt... itu cuma istilahku. “kalau kamu benar-benar ingin dapat wanita yang baik, maka perbaiki dulu dirimu, sebab Allah hanya akan memasangkan laki-laki yang baik/shaleh dengan perempuan yang baik/shalehah.”

Kadang aku merenung agak lama memahami nasehat demi nasehat beliau, yang rupanya tak sabar ingin segera mendapat cucu dariku, entah mengingat usiaku atau karena aku “dilangkahi” dua orang adikku yang telah memberinya 2 orang cucu.

“Maaf..., kelamaan ya dek?”, suara itu datang dari arah depanku. Tidak keras tapi cukup mengejutkanku yang sedang bercengkrama dengan lamunan. Kecewa..., ternyata pak ustadz sendiri yang membawa baki berisi dua gelas kopi dan sepiring gorengan.

“Oh.. nggak kok tadz, maaf nih... saya jadi merepotkan.”, lagi-lagi jawaban klise, karena hatiku sebenarnya mengharap hidangan itu bahkan dibenakku terpikir, kenapa bukan anak gadis ustadz aja yang disuruh.

“Kemarin putri saya yang kuliah di Unpad pulang...” katanya sambil duduk. “Horee....  hatiku bersorak suka cita” ternyata dugaanku benar, ustadz ini punya seorang putri. Kopi dan gorengan yang tadinya siap ku sikat, kulirikpun tidak. Aku pura-pura tenang menyimak meski jantungku gegap gempita. .

“Silahkan diminum dulu kopinya dek...,” katanya mempersilahkan, sambil melanjutkan, “nah putri saya ini kebetulan suka masak..., termasuk gorengan ini dia yang bikin.” 
Aku hampir berbarengan mengangkat gelas kopi itu, tapi aku urungkan dan ganti dengan mencomot comro (panganan terbuat dari singkong yang dihaluskan dan isi oncom didalamnya sebelum digoreng) demi mendengar bahwa putrinyalah yang buat. Aku membayangkan tangan halusnya pada comro.

“Kopinya masih panas tadz,  saya coba gorengannya aja dulu.” Kataku berkilah karena ingin segera mencoba gorengan buatan si cantik... tak tahu laah.. dibenakku mojang inipun tak jauh parasnya dari Neneng dan mungkin berjilbab. Ups..... hampir saja comro itu kulepas, ternyata lebih panas dari kopi !

Pak ustadz cuma senyum melihat aku yang dibuat repot oleh comro. Agar tak kelihatan terlalu menggebu hasrat tuk tahu tentang putrinya, aku memperkenalkan diri adapun namanya aku sudah tau jama'ah memanggilnya ust. Rahmat setelah berdiskusi tentang beberapa hal  baru kemudian  kulontarkan pertanyaan sederhana tapi menjurus.

“Emang dah semester berapa sekarang si Eneng tadz?” (Eneng/Neng=Nduk dlm bhs. Jawa)

“Dia baru semester IV, namanya Zahratunnisa..., teman-teman kampus memanggilnya Nisa tapi kalau dirumah biasa dipanggil Zahra atau neng Rara”, anaknya agak pemalu dan manja, ustadz terus melanjutkan celotehnya tapi seperti biasa aku justru sibuk menghitung berapa lama lagi neng Rara siap disunting. Kuperkirakan saja dia ambil S1 maka dengan PPL dan Skripsi setidaknya 2-3 tahun lagi dia sarjana.

Waduuh kelamaan dong nunggunya kata hatiku sedikit kecewa, padahal belum tentu ortu atau si comro eeh.. si Raranya setuju. Hehehee.... akupun tak mengerti padahal belum pernah melihat bunga itu tapi semerbak wanginya seakan-akan menghampiriku. Biarlah tak kudapat cintamu, setidaknya aku telah meluluh-lantakan comromu. Oh..... dasar jomblo eeh.... cinta.

Kembali aku jaim, pura-pura kualihkan pembicaraan pada warning si Neneng tadi.
“Apa ustadz dengar tentang kecelakaan truk yang masuk jurang”? kataku setengah hati. Karena sebenarnya aku masih ingin menggali lebih dalam lagi tentang Rara. Itu pula sebabnya pandanganku sesekali kutujukan pada pintu depan rumahnya. Semoga saja ada bunga yang keluar dari balik pintu.

“Oh ya... emang beritanya sudah sampai Jakarta yaa..? kejadiannya baru kemarin, ditanjakan yang paling terjal di Cadas Pangeran. Saya baru saja pulang mengajar dekat Masjid Agung (Sumedang) kira-kira jam 4-an lah. Biasanya ngga pernah macet seperti itu. Tapi karena saya bawa motor yaa.. bisalah selap-selip. Saya penasaran, kebetulan petugas polisi  yang juga murid saya ada disitu.

"Assalamu'alaikum..., ada apa Dan...?” (Dan maksudnya Komandan.)

"Wa'alaikumsalam.., ada truk yang masuk jurang tadz.”

“Kapan kejadiannya?”

“Persisnya belum ada yang tahu, mereka rombongan 3 truk dari Medan ke Cirebon. Kemudian bongkar muat barang disana dan langsung menuju Bandung. Dari Cirebon memang tidak berbarengan, tapi mereka berjanji tuk berkumpul lagi di Tanjung Sari. Nah.. kedua temannya ini sudah berkumpul disana sejak jam 7 pagi. Merekapun heran kenapa si korban yang jalan duluan ini belum sampai, mereka tunggu sampai jam 12 siang tadi. Nah singkat cerita ditemukanlah jejak roda yang mengarah ke jurang di ujung tanjakan ini. Melihat TKPnya mobil ini bergerak mundur. Mungkin tidak kuat menanjak.

“Korban sudah dievakuasi”?

“Pengemudi sudah ditemukan tewas terjepit, dan sudah di evakuasi. Hanya saja, menurut rekan-rekannya, dia berdua dengan kernet/kenek. Dia yang masih kita cari, apakah dia keluar menyiapkan ganjal ketika menanjak, lalu kabur ketika truk ini mundur tak tertahankan dan jatuh kejurang, atau dia tetap berada didalam truk dan terpental keluar, sebab posisi truk tertahan 2 pohon besar”

“Kenapa supirnya tak berusaha keluar ketika truknya mundur Dan”?

“Dari jejak roda belakang yg merapat ke pohon besar dipinggir jalan itu, sepertinya si supir sudah berusaha membenturkan bak belakangnya ke pohon tadi agar laju truk tertahan. Tapi sepertinya dia juga berusaha mengerem sehingga pada posisi seperti itu dan dengan muatan seberat itu, maka roda depan agak terangkat dan lepas kendali, hingga mobil tidak berbelok mengarah ke pohon tapi melaju lurus kejurang.”

“Innalillahi wa inna ilaihi raajiuun... semoga keluarganya tabah mendengar musibah ini”

“Oh yaa ustadz, bicara soal keluarganya, ada hal yang membuat saya terharu dan sempat meneteskan air mata. Pada waktu korban ditemukan, dia masih menggenggam kertas yang kelihatannya belum lama dia tulis. “ Polisi itu terdiam sejenak menahan haru, kemudian melanjutkan.

“Rupanya korban tidak langsung tewas pada saat itu juga, ia masih sempat menulis wasiat berupa pesan untuk istrinya, awalnya saya juga bingung bagaimana dia bisa menemukan kertas dan pena tuk menulis, ternyata itu dia dapatkan dari bekas wadah sarung yang berisi surat-surat kendaraan lengkap yang dia ikat pada penghalang cahaya diatas kepalanya” (kelengkapan yang ada dipojok kanan atas setiap kendaraan, yang bisa dilipat/diputar dan berguna untuk mereduksi cahaya matahari yang mengarah langsung ke mata pengemudi).

“Dan, karena saya bukan petugas saya mungkin tak boleh tahu apa isi surat yang membuat komandan menitikkan air mata, apakah bisa diceritakan kembali apa poin dari isi pesan surat itu?”

“Ustadz... tak ada yang rahasia saya kira dari isinya malahan bagus untuk kita, surat itu sudah saya titipkan pada teman satu kampungnya sesama supir agar disampaikan pada istrinya, tuuh... teman-temannya sedang duduk warung itu, mari saya antar.” 

Kami berdua menuju tempat yang ditunjuk itu. “Boleh kami pinjam sebentar surat itu...?”, sapa petugas pada teman korban.

“Silahkan pak, saya punya banyak teman pengemudi yang meninggal karena kecelakaan dijalan, saya sedih tapi tak pernah meneteskan air mata seperti sekarang ini.” Kata teman korban sambil serahkan surat itu ke saya.

Cadas Pangeran ketika longsor (sebelum pelebaran jalan)

Aku yang sudah tak sabar, terpaksa memotong cerita ustadz. “Apakah ustadz masih ingat isi pesan dari surat yang ustadz baca kemarin itu?”

“Suratnya cukup panjang, secara persisnya tentu saya tidak hafal tapi poinnya saya ingat. Tapi jangan khawatir, kemarin saya ijin kepada petugas untuk meng’copy’ surat itu yaa... untuk kebutuhan dakwah saya jugalah...”  kata ustadz tersenyum.

Aku tak tahu harus gembira atau terharu mendengarnya. Yang jelas aku tersentak kaget bercampur senang ketika, ustadz memanggil seseorang.

“Neeeng....!”

“Raraaaa..... !” (belum ada jawaban)

“Zahraaaa... !” teriak ustadz agak keras

“Iya abaah..., maaf tadi Rara di dapur” jawab suara dari dalam rumah lembut.

Aku yang sedari tadi miris dan tegang mendengar cerita ustadz, menjadi plooong, lega, kembali relax rasanya seluruh persendian ini. Sepertinya aku baru saja diurut selama dua jam.

“Tolong bawa surat foto copy-an yang kemaren neng....,” kata ustadz dengan suara yang tidak lagi keras. Sementara aku bersiap-siap dengan kejutan selanjutnya, menatap wajahnya.

“Saya biasanya ngobrol pake bahasa sunda sama Rara, tapi kalau ada tamu yang kurang faham bhs. Sunda, yaa pake bahasa Indonesia saja.” begitu kata ustadz sambil menunggu. Sebelumnya aku memang bilang kalau aku kurang faham bhs. Sunda.

“Yang ini abah...”, kata suara lembut dan manja yang baru saja muncul di depan pintu, sambil menunjukan secarik kertas yang sedikit menghalangi wajahnya..  

Aku tidak tertarik dengan kertas yang diacungkannya meski kertas itu yang dari tadi kutunggu, justru risau kenapa kertas itu menghalangi sebahagian wajahnya... dia berjilbab putih dengan gamis biru atau ungu belum jelas.

“Yaa betul.... bawa kesini neng..,”

Hahaaii.... ustadz tau aja apa mauku. Rara berjalan pelan ke arah abahnya dan kertas itupun tak lagi menutupi wajahnya...Subhanallah.... sulit kugambarkan kecantikannya kalau si Neneng tadi nilainya 7, maka yang ini mungkin 8. (Kalau sekarang..., wajahnya itu mirip sekali dengan artis Meyda Sefira pemeran Husna di film KCB.)
Kali ini nasehat ayahku terbukti..”kalau cari pendamping yang shalehah maka carilah di mesjid jangan di bioskop” sayangnya aku memahami nasehatnya secara tekstual ‘apa-adanya’, sehingga aku sering berargumen  dengan canda ‘disana ngga ada wanita yang kudamba yang ada ibu-ibu pengajian plus nenek-nenek yang sudah bau tanah.’ Biasanya ayahku cuma tersenyum menanggapinya.

“Ini abah..., “ tiba-tiba neng Rara sudah berdiri di dekatku kemudian diduduk bersimpuh disebelah abahnya.

Kali ini aku benar-benar mati kutu.., abahnya  duduk tepat berhadapan denganku bagaimana mungkin aku menatap nakal putrinya yang super geulis ini. Sesekali aku memang berusaha curi pandang mojang yang "hobby" menunduk ini sambil kuingat-ingat lagi pesan ayah, kalau mau lihat wajah asli wanita, lihatlah ketika ia baru bangun tidur (maksudnya sebelum bersolek). Si Rara yang bersimpuh disebelah abahnya dan menghadap kearahku ini nampak baru terkena air wudhu saja, tak ada polesan apapun diwajahnya, benar-benar natural. Kalau dalam kondisi seperti ini saja sudah mampu meruntuhkan hatiku entah bagaimana kalau dia sudah berdandan, rontok mungkin jantungku.  

“Kenalkan ini kak Ahmad dari Jakarta”, kata ustadz ramah, menghalau lamunanku

Terus terang aku ragu di tempatku untuk kenalan yaa.. biasa saja berjabat tangan, tapi inikan didepan ustadz yang juga abahnya, ditambah lagi adat sunda biasanya sekedar merapatkan telapak tangan dan mendekatkannya saja tanpa sentuhan bagi yang bukan muhrim. 
Lalu yang mana yang biasa berlaku disini?
Kulihat neng Rara merapatkan kedua telapak tangannya dan dengan sigap akupun mengikutinya tangan kamipun berdekatan mungkin kurang dari 2 cm jaraknya “Zahratunnisa”, katanya pelan.
Kupikir toh dia sudah tau namaku, maka aku cuma pasang senyum sambil bergumam “ustadz please..... salaman biasa aja deh...”

“Kamu mau bacain ceritanya disini neng...,” tanya abah

“Iyalah.... neng aja deh yang baca... ,” aku menimpali sok akrab.

“Ngga ah.. Rara malu takut nangis disini” jawabnya manja.

"Tapi emang semalam Rara nangiskan waktu habis baca ini?" kata si abah menggoda putrinya

Entah pantulan cahaya mentari yang mulai muncul atau memang dia malu digoda abahnya, kulihat wajahnya merona...dihias sungging senyumnya.. Oooh... rasanya pemandangan Sun Rise di gunung Bromo pun tak seindah ini. Mungkin takut digoda lagi Rara segera beranjak pamit:

“Abah..., kak...,  Rara masuk dulu yaa... temenin umi masak”

“Manggaa... neng...,” jawabku sambil mengiringi langkahnya dengan kerling mataku, sementara abahnya cuma mengangguk.

“Silahkan kalau mau dibaca dek, biar saya bereskan ini dulu” kata ustadz sambil mengangkat gelas kopi yang kosong sementara dipiring yang masih tersisa 2 comro, tak diangkatnya. Aduh ustadz kenapa nggak Rara aja yang beresin tadi sekalian kata hatiku. Rupanya itu cuma alasan saja agar ustadz tidak mengganggu kekhusyukanku membaca.  

Kuharap dua comro tersisa buatan Rara ini cukup memupus bayangan wajahnya yang bermain diatas kertas yang akan kubaca. Akupun membalikan badan ke arah kiblat karena khawatir Rara mengintip dan melihatku menitikkan air mata.

Bismillahirrahmanirrahim....
Akupun mulai serius membaca dan merasakan jika aku yang jadi supir truk itu dalam kondisi kaki yang remuk terjepit, darah bercucuran dan sakit tak terperi. Tak ada orang yang tahu apalagi berusaha menolong. Sementara tangan berusaha menggapai kertas dan pena demi pesan terakhir yang akan dia kirim pada istri tercintanya yang beribu km jaraknya.
Betapa dalam dan agung cinta yang dapat mengalahkan semua rasa sakit itu.

Inilah isi surat itu:

Tak ada orang yang ingin menulis surat dalam kondisi seperti ini, tapi aku cukup beruntung memiliki kesempatan untuk mengatakan apa yang sering lupa kukatakan. Aku mencintaimu sayang...

Kamu sering berkelakar bahwa aku lebih mencintai truk dari pada kamu karena aku lebih banyak menghabiskan waktu dengannya. Aku memang mencintai mesin ini – ia baik padaku. Ia menemaniku dalam masa yang sulit di tempat yang sulit. Aku selalu dapat mengandalkannya dalam perjalanan panjang dan ia dapat melaju cepat. Ia tak pernah mengecewakanku.

Tapi tahu tidak? Aku mencintaimu karena alasan yang sama. Kamu juga selalu menemaniku diwaktu yang sulit di tempat yang sulit.

Ingat truk kita yang pertama? Truk rongsokan yang selalu membuat kita bangkrut. Tapi selalu mengumpulkan cukup uang untuk kita makan. Kamu harus mencari pekerjaan supaya kita dapat bayar sewa rumah dan bon tagihan warung. Setiap rupiah yang kuhasilkan dipakai untuk truk, sementara uangmu memberi kita makanan dan atap untuk bernaung.

Aku ingat, aku pernah mengeluhkan truk itu. Tapi aku tak pernah mendengarmu mengeluh waktu pulang kerja dengan lelah. Aku bahkan meminta uang darimu untuk pergi lagi. Seandainyapun kamu mengeluh, mungkin aku tak mendengarnya. Aku terlalu terlena oleh masalahku sendiri sehingga tak pernah memikirkan masalahmu.

Aku memikirkannya sekarang, semua yang kau korbankan untukku, pakaian, liburan, teman, keluarga.  Kamu tak pernah mengeluh dan entah bagaimana aku tak pernah ingat untuk berterima kasih padamu untuk semua pengorbanan itu.

Saat aku duduk minum kopi bersama teman-teman, aku selalu membicarakan trukku, kendaraanku, pembayaranku. Rupanya aku lupa bahwa kamu adalah mitraku meskipun kamu tak berada bersamaku.
Pengorbanan dan keteguhan hati darimu dan dariku jugalah yang akhirnya membelikan kita truk baru. Aku begitu bangga dengan truk itu hingga rasanya ingin meledak. Aku bangga akan dirimu juga, tapi aku tak pernah mengatakannya. Aku menganggap kamu pasti sudah tahu, ketika aku lupa mengatakannya. Bertahun-tahun selama aku mendera aspal, aku selalu tahu do’amu mengiringiku. Tapi kali ini do’a itu tidaklah cukup. Aku cedera parah sayaaang....

Ini perjalananku yang terakhir dan aku ingin mengatakan semua yang harusnya kukatakan sebelumnya. Hal yang terlupakan karena aku terlalu sibuk dengan truk dan pekerjaan. Aku memikirkan ulang tahunmu dan ulang tahun pernikahan kita yang terlupakan. Acara anak kita disekolah dan undangan resepsi teman yang kau hadiri sendirian karena aku sedang di jalanan. Aku memikirkan malam-malam sepi yang kau lewatkan seorang diri, bertanya-tanya dimana aku berada dan bagaimana keadaanku. Aku memikirkan semua saat aku ingin meneleponmu sekedar menyapa, tapi tak pernah jadi.

Aku memikirkan perasaan ku yang damai karena tahu kamu berada dirumah bersama anak-anak menungguku. Tiap kali ada acara keluarga, kau selalu harus menghabiskan seluruh waktumu untuk menjelaskan kepada keluargamu mengapa aku tak dapat hadir. Aku sibuk mengganti oli, aku sibuk mencari onderdil, aku sedang tidur karena harus berangkat pagi esoknya.
Selalu ada alasan, tapi rasanya alasan itu sekarang menjadi tidak penting.

Waktu kita menikah, kamu tak tahu cara mengganti lampu, tapi setelah beberapa tahun kamu malah tahu bagaimana cara memperbaiki genteng, sementara aku dipelabuhan menunggu muatan. Kamu menjadi montir yang cukup baik, membantuku memperbaiki kerusakan. Dan aku bangga sekali akan dirimu saat aku masuk kehalaman dan melihatmu tidur dimobil menungguku.

Apakah itu jam dua pagi atau jam dua siang kamu selalu kelihatan seperti seorang artis bagiku, kamu cantik sekali. Mungkin aku tak mengatakannya akhir-akhir ini tapi kamu memang cantik. Aku banyak berbuat kesalahan dalam hidupku, satu-satunya keputusan terbaik dalam hidupku adalah ketika aku memutuskan tuk melamarmu.

Kamu tak akan bisa mengerti apa yang menyebabkan aku terus mengemudikan truk, sebenarnya aku juga tak mengerti. Tapi itulah cara hidupku.

Masa susah, masa senang kamu selalu ada, aku mencintaimu sayang.... dan aku mencintai anak-anak. Tubuhku sakit..... tapi hatiku jaaaauhh.. lebih sakit karena kamu tak  hadir saat aku mengakhiri perjalanan ini.
Untuk pertama kalinya sejak kita bersama, aku benar-benar sendirian.... dan aku takut.......
Aku sangat membutuhkanmu dan aku tahu sudah terlambat.
Lucu juga yaa..ternyata yang bersamaku mengakhiri perjalanan hidupku sekarang adalah truk ini. 
Truk terkutuk ini yang mengatur hidup kita begitu lama ternyata truk ini tak dapat membalas cintaku.
Hanya kamu yang bisa.... kamu beribu km jauhnya, tapi aku merasakan dirimu bersamaku disini maniiis..

Aku dapat melihat wajahmu dan merasakan cintamu...
dan aku takut melakukan perjalanan terakhir ini sendirian.....
katakanlah pada anak-anak bahwa aku sangat mencintai mereka
dan jangan ijinkan mereka bekerja sebagai supir truk.

Mungkin cuma ini bidadariku.....
Ya Tuhan..... aku benar-benar mencintainya...

Jagalah dirimu dan ingatlah selalu bahwa aku mencintaimu melebihi segala yang ada dalam hidupku.
Aku cuma lupa mengatakannya..... maafkan aku sayaaang.......

Tuhan.... ampuni aku... jaga keselamatannya untukku.... biarkan kami bertemu disurga-Mu

Aku.... yang begitu mencintaimu.

=======================================================================

Cahaya matahari mulai berjalan merambat di karpet hijau mendekatiku,
seolah ingin mengintip apakah aku dapat merasakan kesedihan yang sama.
Aku memang belum berkeluarga tapi ketika kubayangkan bahwa supir itu adalah aku
dan Rara beserta anak-anak dengan setia menungguku nun jauh disana....
tak bisa kubendung airmata ini.

Rara... kalaupun kita ditakdirkan bersama, bisakah aku memiliki cinta seagung itu?
cinta yang mengalahkan derita,
cinta yang mengalahkan rasa sakit tak terperi.
cinta yang masih terkait meski ajal datang menjemput,
cinta yang tak pernah terucap tapi tertancap jauh dilubuk hati.
Ku akui Rara, cintaku baru sebatas kata entah cinta macam apa yang ku punya.
Begitu cepat ia hadir secepat ia pergi.
Seperti nasehat ayahku, sebaiknya aku memantaskan diri dulu untukmu,
agar Allah memilihku untuk mendampingimu kelak.

Yaa Rabb.... aku akan belajar mencintai-Mu dengan tulus.
Sehingga Kau ijinkan aku... miliki cinta yang agung
yang kan kuberikan pada siapapun pendampingku
termasuk jika Kau pilihkan Rara untukku.


Terima kasih abang supir truk...
aku telah belajar banyak darimu, aku janji kan mampir ditempat perjalanan akhirmu nanti, 
dan berdo'a untuk mu disana.

Jakarta, 161111
AS


(Sebenarnya masih panjang kisah perjalanan ini, tapi berhubung ku letakkan di Label Cerpen, terpaksa dibuat per-segmen. Jadi, sampai jumpa di Thema yang sama dengan Judul yang berbeda)

Kamis, 03 November 2011

Kisah inspiratif untuk para istri dan suami

(Sesal dan kecewa memang selalu datang terlambat, tapi sebagaimana pepatah "It's never too late to mend" tak ada kata terlambat tuk memperbaiki diri atau bertobat maka semoga cerita di bawah ini membuat kita mampu belajar bersyukur/mensyukuri atas apa yang kita miliki)

Foto diambil dari: http://www.weberita.com/kisah-paling-sedih.html

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.

Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi,  ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. 

Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. 

Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat  pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya  dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”

Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. 

Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.


Sumber:
http://bundaiin.blogdetik.com/2011/10/07/kisah-inspirasi-untuk-para-istri-dan-suami/

Sabtu, 13 Agustus 2011

Kunantikan Kau di Pintu Surga

Abil : Assalamu’alaikum Nona Manis . . .
Zainab : Wa’alaikum salam Tuan Rupawan . . .
Abil : Bagaimana kabar Nona hari ini??? Oh ya sebelum Nona menjawab, dari jauh aku pandang2 Nona cantik sangat hari ini . . .


Zainab : Hmmm... ya kabarku baik2 saja sebagaimana Tuan lihat . . . tadi Tuan bilang hari ini aku cantik, jadi sebelumnya aku jelek ya
Abil : Hmm ayolah Nona Manis kau jangan manyun, tadi kan aku hanya bercanda . . . Hmm sebagai permohonan maafku, aku bawakan Nona sesuatu yang sangat Nona sukai . . .


Zainab : Oh ya??? Memang apa yang Tuan bawa???
Abil : Nona tutup mata dulu, nanti setelah barang ini di depan Nona, baru boleh buka mata, setuju???


Zainab : Hmmmmm . . . Iya baiklah aku akan tutup mata . . .
Abil : (ditaruh di tangan Zainab barang itu, dan kemudian Abil suruh Zainab cium barang itu dan menebaknya) Nah sekarang coba cium barang ini, dan tebaklah, Nona pasti tahu . . .
Zainab : (diciumnyalah barang itu dan langsung Zainab bisa menebaknya) Hmmmmm harumnya bunga ini, ini pasti bunga mawar putih, benar kan??? Aku buka mata ya Tuan sekarang???
Abil : Iya Nona buktikan sendiri donk!!!


Zainab : Tuu.. kan benar setangkai bunga mawar putih, aku tak salah kan Tuan???
Abil : Nona masih salah sedikit . . .
Zainab : Apa Tuan, aku masih salah???
Abil : Iya kan tadi Nona bilang bunga mawar putih pada waktu tutup mata, nah setelah buka mata Nona bilang setangkai bunga mawar putih . . .
Zainab : Astaghfirullah Tuan Abil handsome, ternyata kau tak berubah ya, selalu saja menggodaku . . .


Abil : Jadi aku tak boleh menggoda dan bercanda dengan istriku sendiri??? Baiklah besok2 aku akan godain istri tetangga . . .
Zainab : Hmmmmm . . . Awas ya kalau kau berani??? Eits tapi tak apa2 lah karena aku sedang sekarat dan sebentar lagi . . . (belum selesai Zainab bicara, Abil langsung memotongnya)
Abil : Sebentar lagi kau akan sembuh sayang . . .
Zainab : Iya itu kan katamu selama dua tahun pernikahan kita . .


Abil sayang dengarkan aku, apa kau tak bosan dan ingin menikah lagi dengan wanita yang sehat, yang bisa mendampingimu dalam waktu lama??? Tinggalkan saja aku, wanita yang sedang sekarat ini dan tak bisa mendampingimu dalam waktu lama . . .


Abil : Iya aku memang bosan . . . Aku bosan setiap hari kau selalu berkata itu itu saja . . . Zainab sayangku, cintaku, istriku, aku hanya mencintai satu orang wanita dan hanya ingin punya satu istri saja di dunia ini . . . Zainab hai lihatlah aku dan pandanglah mataku . . .


Zainab : Kau mau hipnotis aku ya???
Abil : Sayang, aku serius, aku tak sedang bercanda . . . Apa kau lihat bahwa mata ini tak pernah melirik ke gadis manapun kecuali dirimu seorang . . . Jika aku ingin menikah lagi dan menginginkan wanita yang tidak penyakitan untuk jadi istriku, maka aku tak kan pernah menikahi dirimu, bahkan kau juga tahu kan jika aku sudah tahu bahwa dirimu menderita penyakit kanker tulang belakang??? Tapi aku tak perdulikan itu dan tetap menikahimu . . . Karena apa??? Karena aku sangat mencintaimu, aku cinta padamu apa adanya bukan karena ada apanya Nab . . .


Aku tak perduli dengan kata orang, bahwa aku akan menderita dan menjadi perawat bagi istriku yang penyakitan, jauh sekali dari kebahagiaan dan rizky, tapi apa nyatanya . . . Aku sangat bahagia karena bisa selalu bersama setiap hari setiap detik dengan orang yang sangat aku cintai, selain itu aku juga naik pangkat dan usahaku pun berkembang pesat, jadi menikah denganmu itu merupakan anugerah terindah dalam hidupku . . . Cinta pertamaku . . . Sejak pertama aku melihatmu sampai sekarang, aku tak bisa dan tak sanggup bila tak memikirkanmu, jadi bagaimana bisa dan aku tak kan pernah sanggup bila harus berpisah denganmu . . . Karena kaulah nafas dalam kehidupanku sayang . . .


Zainab : (berlinang dan bercucuranlah air mata Zainab mendengar penjelasan Abil) Iya aku tahu dan aku percaya, aku juga sangat mencintaimu Abil, apa kau mau memelukku??? (kemudian mereka berpelukan dan sama2 menangis)
Abil : Hmmm baiklah sekarang kita tak boleh sedih, kita harus bahagia . . . So dance with me Princes Zainab???


Zainab : Its ok My Prince Abil . . . Tapi apa kau sudah pelupa ya Abil??? Jangankan berdansa, berjalan saja aku tak bisa . . . (sambil meneteskan air mata)


Abil : Aduh sayang makanya jika aku bicara, jangan kau potong dulu, maksudku itu, kau tetap di tempat tidur, dan kau cukup gerakkanlah tanganmu, sedangkan aku akan gerakkan tangan dan kakiku . . . Nah sekarang kita coba pemanasan ya . . . Kau cobalah sekarang ikuti gerakan tanganku . . . (Zainab pun mengikuti gerakan tangan Abil, hmmm mereka kompak sangat) Nah gitu sayang, sekarang aku putar dulu musiknya ya . . . (musikpun segera diputar dan berdansalah mereka berdua, lha orang2 tetangga kamar mereka malah pada datang dan melihat mereka berdansa, ups mereka semua terhanyut juga dalam musik dan kebahagiaan sepasang suami istri tadi, jadi mereka semua ikut berdansa dengan pasangan masing2, ternyata Abil dan Zainab baru sadar setelah satu jam mereka berdansa, wajah mereka pun memerah karena malu tapi juga bahagia karena bisa berbagi kebahagiaan dengan banyak orang di rumah sakit itu)


Abil : Nona manis apa kau senang ???
Zainab : Iya aku senang sangat, bisa lebih segar dari sebelumnya . . . (Zainab langsung mengulas senyum yang manis dan kelihatan lesung pipitnya yang indah sebelah kanan)


Abil : Alhamdullilah kalau gitu, nah sekarang apa kau mau ikut aku ke taman belakang rumah sakit ini??? Di sana banyak sekali mawar putih . . . Kita biarkan saja mereka menari disini . . . Dan kita pacaran di tempat lain . . .
Zainab : Pacaran suami istri model 2011??? Ayolah kalau gitu, siapa takut apalagi ada mawar putih, hehehehehe . . .


Abil : Nah sekarang naiklah ke punggungku, dan kau tak boleh menolak!!!
Zainab : Tapi Abil, lebih baik kau dorong aku pakai kursi roda, daripada kau gendong aku, malu kan dilihat banyak orang . . .


Abil : Ayolah Zainab sayang sekali ini saja kau tak protes dan menyenangkan hatiku!!! Please ya sayang . . . Zainab cantik dech . . . hehehehehe
Zainab : Hmmm kalau ada maunya baru muji . . .
Abil : Hai beneran kok, kamu kan emang cantik . . .


Zainab : Iya ya baiklah, aku menurut saja supaya kau senang, selama ini kan kau selalu menyenangkanku . . .
Abil : Nah gitu donk sayang . . . Ayo naiklah!!! (Segeralah mereka berdua pergi ke taman bunga di belakang rumah sakit itu)


Abil : Alhamdulillah sudah sampai, kita duduk di bawah pohon itu ya, supaya kamu tidak kepanasan . . . Hmmm ternyata kamu masih saja seperti 2 tahun lalu ya masih berat kapuk, hehehe


Zainab : Ye kau meledek atau ngehina nich . . .


Abil : Lho beneran kok sayang . . . Berat badanmu masih sama saat pertama kali kita menikah . . . Masih ringan karena kamu kan makannya kalau pas ingat saja, kalau tak ingat ya tak makan, hehehe


Zainab : Iya seharusnya kamu bersyukur, kamu senang kan selama 2 tahun pernikahan kita kamu tak pernah merasa lelah dan berat menggendongku . . . Benar kan sayang???


Abil : Iya sayang, tapi meski kamu gemuk juga aku tak kan pernah merasa lelah sedikitpun menggendongmu . . .
Zainab : Iya suamiku tercinta, Zainab percaya kok, hehehe Subhanallah indah sangat tempat ini banyak bunga mawar putih . . .
Abil : Oh ya Nona manis tunggu disini sebentar dan jangan kemana – mana, aku akan segera kembali . . .


Zainab : Iya kau tenang saja, aku tak kan kemana – mana, kan tak bisa jalan . . . (Setelah 15menit kembalilah Abil membawa sesuatu untuk Zainab)


Abil : Assalamu’alaikum Nona manis . . . (sambil menutup mata Zainab dari belakang)


Zainab : Wa’alaikum salam Tuan Rupawan, ah kau ini mengagetkan saja, kenapa harus ada acara menutup mataku dari belakang???


Abil : Nah sekarang buka matamu!!!
Zainab : Subhanallah mahkota terbuat dari mawar putih??? Benarkah ini untukku My Prince???


Abil : Benar sangat mahkota ini kupersembahkan secara special untuk My Princes Zainab, My Lovely Wife . . . hehehe Maka dari itulah ijinkan hamba memakaikan mahkota mawar putih ini di kepala Tuan Putri . . .


Zainab : Iya silahkan Pangeranku . . . hehehe


Abil : Subhanallah kau tambah cantik saja Tuan Putri . . . (dalam hati ia berkata “itu bisa menutupi dan menyegarkan wajahmu yang pucat”)


Zainab : Trimakasih ya Pangeranku . . . (dia langsung memeluk Abil dengan linangan air mata)
Abil : Iya sayang itu kan sudah jadi kewajibanku sebagai seorang suami kepada istrinya . . . Jadi kau tak perlu berterima kasih . . . (Mereka berdua pun bercerita bermacam – macam bahkan sampai menyanyi sampai – sampai Abil pinjam gitar untuk mengiringi istri tercintanya menyanyi) Hmmm bahagianya ya mereka . . .


Enam Bulan Kemudian . . . . . . . . . .


Pagi – pagi sekali Abil sudah menemui dokter yang biasanya memeriksa Zainab, nah apa yang mereka bicarakan ya???


Abil : Dokter kenapa sekarang saya melihat istri saya semakin parah selama enam bulan terakhir ini??? Dia tak bisa lagi bicara dan sulit sekali menggerakkan seluruh anggota badannya??? Harus selalu terbaring di tempat tidur??? Tak bisa menulis lagi, jadi jika dia ingin bicara, dia harus menunjuk satu persatu huruf dalam alphabet??? Astaghfirullah sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan istri saya Dok???


Dokter : Pak Abil saya berharap Anda bisa bersabar, dan Anda harus siapkan mental untuk menerima kejadian paling terburuk yang akan dialami istri Anda . . .


Abil : Apa maksud dokter dengan kejadian paling terburuk???


Dokter : Maaf sebelumnya Pak, kami dari segenap tim dokter di rumah sakit ini telah mempresentasikan bahwa kondisi Ibu Zainab hanyalah tinggal 30% lagi . .


Abil : Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un . . . Benarkah itu dokter??? Tapi saya tak percaya itu karena kalian semua itu bukan Allah yang bisa menentukan umur manusia


Dokter : Itu memang benar Pak, tapi itulah menurut hitungan medis, tetapi kami berharap akan ada keajaiban yang terjadi untuk istri Anda, karena terus terang saja Pak, selama ini tak pernah ada yang selamat dari kanker tulang belakang bila fasenya sudah mencapai seperti yang Ibu Zainab alami . .


Abil : (bagai tersambar petir dirinya mendengarkan penjelasan dokter, air matanya pun langsung berderai, hampir saja dia pingsan, tapi masih kuat untuk bicara) Trimakasih atas penjelasannya dok, tapi saya ada satu permintaan, saya mohon agar istri saya tidak tahu tentang kondisi dia yang sebenarnya .


Dokter : Bapak tenang saja, kami tak akan beritahu apapun kepada Bu Zainab, hmmm beliau beruntung sekali punya suami seperti Anda Pak . . . Yang sabar dan banyak berdo’a semoga ada keajaiban ya Pak . . . Baiklah sekiranya sudah cukup apa yang saya sampaikan, saya harus memeriksa pasien lainnya . . .


Abil : Oh iya trimakasih ya dok . . . (diapun mampir sebentar ke taman bunga belakang rumah sakit, diapun terperanjat ketika melihat semua bunga mawar putih disana layu, tiada satupun yang mekar, mungkin ini menandakan bahwa mereka merasakan juga derita yang dialami Zainab) Inna lillahi wa inna illaihi raaji’un, kenapa semuanya layu, pertanda apa ini, Ya Allah semoga ini bukan pertanda buruk untuk istri hamba . . . (sambil berlinang air matanya) Abil pun tak kuasa lagi melihat bunga – bunga yang layu itu, hatinya tambah hancur, air matanya pun semakin berderai . . .


Kemudian dia ke masjid ambil air wudlu dan sholat dzuhur karena kebetulan sudah memasuki waktu dzuhur, tak lupa ia pun bermunajat kepada Allah untuk kesembuhan istrinya, beginilah munajatnya : Ya Allah hamba tahu Engkaulah Penentu Umur Manusia dan Maha Mengetahui ajal seseorang . . .
Hamba yang tak berdaya ini memohon kepadamu untuk memberikan kesempatan bagi istri hamba untuk hidup sedikit lebih lama di dunia ini . . .
Jika Engkau berkenan, hamba rela menyerahkan sisa umur hamba kepada istri hamba . . .
Setidaknya istri hamba tidak mendahului hamba untuk Kau panggil Ya Allah . . .
Tapi jika memang istri hamba lebih dulu Engkau panggil, ringankanlah kepergiannya dan ampunilah dosa – dosanya Ya Allah karena selama ini dia sudah berjuang keras melawan penyakitnya . . . Hamba serahkan semuanya kepadaMu Ya Rabb, karena hamba yakin dan percaya Engkau Maha Mengetahui yang terbaik untuk hambaMU . . .
Amin Ya Robbal alamin . . . (selama berdo’a air matanya tak henti – hentinya berderai, tapi kemudian dia menenangkan hatinya dan mencuci muka agar nanti istrinya tidak tahu jika dia selesai menangis) Sampailah Abil di kamar istrinya dirawat . Ternyata istrinya tertidur . . .


Dua hari kemudian . . . . . . . . .


Pagi itu awal bulan Juni 2011 langit begitu mendung menyelimuti sebuah rumah sakit dan semua bunga mawar putih yang ada di taman belakang rumah sakit itu tiba – tiba semuanya mati . . .


Abil : Inna lillahi wa inna illaihi raaji’un pertanda apa ini Ya Allah pertanda apa ini, jangan – jangan . . . Astaghfirullah Zainab, Zainab istriku . . . (diapun berlari kencang ke kamar istrinya sambil memanggil – manggil Zainab seperti orang gila)


Abil : Assalamu’alaikum sayang . . .


Zainab : (Wa’alaikumsalam dijawab di dalam hati karena Zainab tak bisa berbicara dan sulit menggerakkan tangannya untuk menulis, maka diapun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, Abil pun mengerti isyarat dari istrinya)


Abil : Kau baik – baik saja kan sayang??? Tapi kenapa kau pucat sekali Zainab???


Zainab : (diapun menjawab dengan menggunakan papan alphabet dan menunjuk satu persatu huruf, Abil pun mengambil catatan untuk merangkai kata2 istrinya dan apabila dirangkai beginilah isinya) Aku cinta sangat padamu . . . Sekarang kau ambillah diaryku di laci itu, bacalah 2 lembar halaman terakhir diary itu, aku sudah tulis semuanya untukmu sewaktu aku masih bisa menulis . . .


Beginilah isinya : Selama dua setengah tahun kita menikah, kau selalu menghiburku, menyenangkan hatiku, membuatku selalu tersenyum setiap hari . . . Kau selalu membimbingku dan menjadi imam yang baik untukku . . . Kau tak pernah mengeluh ataupun marah sedikitpun merawatku dan menemaniku yang sekarat ini . . . Kau juga pernah berkata bahwa kau rela memberikan hidupmu untukku, dan kau telah buktikan, kau tinggalkan keluargamu demi menikah denganku . . . Kau benar – benar suami idaman bagi setiap wanita, aku benar – benar beruntung dan bahagia sangat bisa menjadi istrimu, itu merupakan anugerah terindah dalam hidupku . . . Kau selalu menyemangatiku, tak sedetikpun kau membiarkan aku patah semangat dalam menghadapi penyakitku ini . . . Kau benar – benar motivator terbesar dalam hidupku . . . Tapi aku hanyalah wanita penyakitan, istri yang tak berguna dan selalu menyusahkanmu . . . Bahkan selama 2 tahun lebih kita menikah, aku belum pernah memberimu dan membuatmu bahagia, bahkan selama ini kita tak pernah melakukan hubungan suami istri . . . Kau begitu sangat sabar dan kasih, sangat sayang dan cinta kepadaku . . . Aku benar – benar tak sanggup bila harus berpisah denganmu . . . Tapi waktunya telah tiba Abil, waktunya aku pergi . . . Maafkan aku Abil sayang, maafkan aku . . . I love you so much my lovely husband . . . (selesai membaca tulisan Zainab, Abil pun menangis dengan sejadi – jadinya) diapun langsung bilang I love you too my lovely wife . . .


Abil : Apapun yang kau tulis, itu tak kan merubah apapun sayang, hanya satu hal yang harus kau tahu bahwa sampai kapanpun aku tak kan pernah menikah dengan wanita manapun kecuali denganmu Zainab karena cinta pertama dan cinta terakhirku hanya kau seorang, hanya kau seorang Zainab tak ada yang lainnya . . . Mereka berdua pun berpelukan, dan dalam pelukan Abil, Zainab memejamkan matanya dan dalam hati dia berkata “kunantikan kau di pintu surga, sampai bertemu lagi Abil sayang, aku senang bisa pergi dalam pelukanmu”, kemudian dia menghembuskan nafas terakhir . . .


Abil : Zainab, sayang apa kau sedang tidur??? Tapi kenapa kau dingin sekali??? Jangan2 . . . Zainab, Zainab, sayang bangunlah sayang, bukalah matamu, aku mohon bukalah matamu . . . Dokter, dokter, dokter . . . (dokter pun segera datang dan memeriksa kondisi Zainab, ternyata benar Zainab telah berpulang ke Rahmatullah)


Dokter : Maaf Pak, kami sudah berusaha, tapi kami hanya manusia biasa, istri Anda sudah pergi . . .


Abil : Apa dokter??? Itu tak mungkin . . . Zainab bangun sayang, bangun, sayang jangan tinggalkan aku . . . Inna lillahi wa inna illaihi raaji’un . . . (diapun berurai air mata) Iya ini mungkin yang terbaik untuknya, agar Zainab tak lagi merasakan sakit lagi, selamat jalan istriku sayang, sekarang kau sudah bebas dan tak kan menderita lagi, nantikanlah aku di pintu surga . . .


Dua tahun kemudian . . . . . . .


”Hai Abil apa kau tak mau menikah lagi dan ingin punya keturunan???” kata Ibu Abil ”Bagiku hidup hanya satu kali, mati hanya satu kali, jadi menikahpun juga hanya sekali Bu . . . jadi cukuplah satu wanita yang bernama Zainab untuk menjadi istriku dan menjadi ibu bagi anak – anakku” ”Tapi Nak, kau kan tak punya keturunan???” ”Siapa bilang saya tak punya keturunan Ibu??? Bukankah anak – anak di panti asuhan Sayang Bunda, adalah keturunanku dengan Zainab, mereka adalah anak – anak yang kami bimbing selama Zainab masih hidup hingga sekarang . . .


Dialah semangat hidupku Ibu, katanya tidak setiap jalan ada kebahagiaan, dan hidup tak selamanya selalu mudah dan bahagia, jika kita tak meninggalkan kehidupan, kenapa harus meninggalkan cinta . . .


Kau tahu Ibu, setiap kututup mataku dan kubayangkan dia, lalu kubuka mataku lagi, diapun muncul di hadapanku . . .“ ”Hmmm ternyata kau benar – benar setia dan sangat mencintai Zainab, baiklah terserah apa yang akan kau lakukan asalkan kau bahagia . . . “


Semoga berkenan membacanya . .

Oleh Aidah Fachria

Sumber:
http://www.eramuslim.com/oase-iman/aidah-fachria-kunantikan-kau-di-pintu-surga.htm