Tampilkan postingan dengan label Ilmiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmiah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Agustus 2012

~` AIR `~

Dari beberapa catatan saya, ternyata thema inilah yang paling menantang. Menjadikan “AIR” sebagai judul, pasti pilihan yang bodoh karena sama sekali tak menarik, begitu awalnya saya berpikir. Tapi, justru disitulah letak tantangannya. Mengubah persepsi atas sesuatu yang “biasa” menjadi “wah” bukan saja pekerjaan tak mudah, tapi juga menimbulkan gejolak batin sederhana antara teruskan atau ganti thema lain.

Butuh beberapa waktu untuk meyakinkan diri sendiri bahwa “AIR” dilihat dan dinilai dari sisi manapun, bisa membuat kita terperangah. Tapi yang jauh lebih sulit dan butuh waktu lebih lama lagi adalah, untuk meyakinkan diri bahwa ternyata kita bisa belajar sesuatu dari air. Barangkali itu sebabnya Allah “merasa perlu” memberitahu agar manusia bukan cuma MEMPELAJARI air tapi juga BELAJAR dari Air:

"Dialah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, kurma, anggur, dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan." (QS. An -Nahl, 16: 10-11)

Ayat inilah sebenarnya yang “menantang” penulis dan menggugah rasa anxiously untuk mengeksplore lebih jauh dan menyelam lebih dalam untuk menelanjangi air – tentu saja dalam hal ini penulis harus mempelajari literatur yang ada dari para pakar dibidang ini.
Perhatikan penekanan pada akhir ayatnya “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan”

Jika kita ingin menjadikan AIR sebagai guru kehidupan yang bisa mengantarkan kita untuk lebih mendekatkan diri kepada Rabb “Penguasa” Kehidupan, tentunya kita harus lebih mengenal dan menyelami terlebih dahulu what’s a water or in a water.

Mari kita ambil poin demi poin dari ayat diatas.
1. menurunkan air hujan dari langit
2. sebagiannya menjadi minuman
3. sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan
4. menggembalakan ternakmu
5. menumbuhkan tanam-tanaman dan segala macam buah-buahan

Ada yang menarik?

Anda tak salah jika menjawab, “ah.. biasa aja tuh, kalau itu sih anak kecil juga tahu”. Apa sih yang istimewa dari hujan apa yang menarik dari air yang menyuburkan dan menumbuhkan dst. Dari sisi ini saya harus bersepakat dengan anda, tapi tunggu dulu bukankah akhir ayat itu ditutup dengan “bagi kaum yang memikirkan”

Jadi boleh juga dong kalau saya bilang, “ente ngomong gitu sebab ente gak mikir sih!”.

“Enak aja bilang ane gak mikir, kan ente juga tadi setuju sama ane, berarti ente juga gak mikir dong!”, jawab yang lagi melototin laptop sewot.

“Tenang sob..., ane-kan lagi nulis sambil baca banyak referensi nih, itu artinye ane lagi mikir,” jawab penulis gak mau kalah.

Pokoknya, silahkan anda keroyok penulisnya rame-rame kalau ternyata sampai di akhir catatan nanti tak ada hal yang menarik dari artikel ini atau setidaknya tak menambah pengetahuan anda tentang air. (tuh kan ente ketipu lagi, kata keroyok itu kan berarti bersama-sama, kok gak protes sih waktu ane sandingkan dengan rame-rame.. hehee..)

Sahabat..., bagi penulis sesuatu yang tidak bisa dielaborasi secara intelektual, sikapi saja dengan dagelan hehee.... yang terpenting adalah kita mau terus berusaha tuk belajar dan belajar karena jika keinginan itu ada, maka mau tak mau kita harus membuka mata hati dan pikiran kita, dan.....hanya dengan cara itu hidayahNya bisa kita raih pada akhirnya hanya dengan bimbingan hidayahNya lah kita bisa mendekat dan merapat kepadaNya meskipun hanya dengan mempelajari dan belajar dari Air.

Itu sebabnya saya terpaksa harus “menyentil” anda terlebih dahulu dengan obrolan “ngawur” diatas agar anda dapat konsentrasi kepada wacana “biasa” dibawah ini, mohon tidak diartikan sebagai sikap jumawa.

1. Hujan
Ketika ayat diatas berbicara tentang hujan, maka semestinyalah catatan ini berbicara juga tentang proses daur/siklus hidrologi, siklus air.

Siklus Air adalah sirkulasi (perputaran) yang tidak pernah berhenti (terus menerus) dari air di bumi dimana air dapat berpindah dari darat ke udara kemudian ke darat lagi bahkan tersimpan di bawah permukaan dalam tiga fasenya yaitu cair (air), padat (es), dan gas (uap air).

Daur air ini terjadi melalui proses evaporasi (penguapan), , kondensasi (pengembunan) dan presipitasi (pengendapan).

Air yang berasal dari sungai, danau, dan sumber air lainnya akan mengalir ke laut. Air yang berada di laut, sungai dan danau akan mengalami penguapan. Penguapan ini menyebabkan air berubah wujud menjadi uap air yang akan naik ke angkasa. Uap air ini kemudian berkumpul menjadi gumpalan awan.

Gumpalan awan yang ada di angkasa akan mengalami pengembunan karena suhu udara yang rendah. Pengembunan ini membuat uap air berubah wujud menjadi kumpulan titik-titik air yang tampak sebagai awan hitam. Titik-titik air yang semakin banyak akan jatuh ke permukaan bumi, yang kita kenal dengan hujan.

Sebagian air hujan akan meresap ke dalam tanah (Infiltrasi) dan yang lainnya akan tetap di permukaan. Air yang meresap ke dalam tanah inilah yang akan menjadi sumber mata air sedangkan air yang tetap di permukaan akan dilarikan ke sungai, danau, dan saluran air lainnya (Run off) . Air permukaan inilah yang akan menguap lagi nantinya membentuk rentetan peristiwa hujan.

Sahabat..., sebenarnya tahapan-tahapan proses terjadinya hujan sebagaimana diatas, secara terperinci telah tertulis dalam Al-Qur’an berabad-abad tahun lalu sebelum informasi mengenai pembentukan hujan disampaikan:

“Allah, dialah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang di kehendakinya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal: lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hambanya yang di kehendakinya, tiba-tiba mereka menjadi gembira.” (QS. Ar-Rum, [40]:48)

Al Qur’an membagi pembentukan hujan dalam tiga tahap.
Pertama, “bahan mentah” hujan naik ke udara (evaporasi).
Kemudian terkumpul menjadi awan (kondensasi).
Akhirnya, tetesan-tetesan hujan pun muncul (presipitasi).

Sekarang, mari kita lihat pada tiga tahapan yang disebutkan dalam Al-Qur’an:

Tahap Pertama: “ Allah, dialah yang mengirimkan angin…..”

Gelembung-gelembung udara yang tidak terhitung jumlahnya dibentuk oleh buih-buih di lautan yang secara terus-menerus pecah dan mengakibatkan partikel-partikel air tersembur ke udara menuju ke langit. Partikel-partikel ini –yang kaya akan garam– kemudian terbawa angin dan bergeser ke atas menuju atmosfer. Partikel-partikel ini (disebut aerosol) membentuk awan dengan mengumpulkan uap air (yang naik dari lautan sebagai tetesan-tetesan oleh sebuah proses yang dikenal dengan “JebakanAir”) di sekelilingnya.

Tahap Kedua : “…..lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang di kehendakinya, dan menjadi bergumpal-gumpal…..”

Awan terbentuk dari uap air yang mengembun di sekitar kristal-kristal garam atau partikel-partikel debu di udara. Karena tetesan-tetesan air di sini sangat kecil (dengan diameter antara 0,01-0,02 mm), awan mengapung di udara dan menyebar di angkasa. Sehingga langit tertutup oleh awan. (Lih. Viskositas – kekentalan -- Ideal Air, diakhir catatan)

Tahap Ketiga : “….lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun....”

Partikel-partikel air yang mengelilingi kristal-kristal garam dan partikel-partikel debu mengental dan membentuk tetesan-tetesan hujan. Sehingga, tetesan-tetesan tersebut, yang menjadi lebih berat dari udara, meninggalkan awan dan mulai jatuh ke tanah sebagai hujan.

Setiap tahap dalam pembentukan hujan disampaikan dalam Al-Qur’an. Terlebih lagi, tahapan-tahapan tersebut dijelaskan dalam runtutan yang benar. Seperti halnya fenomena alam lain di dunia, lagi-lagi Al-Qur’an lah yang memberikan informasi yang paling tepat tentang fenomena ini, selain itu, Al-Qur’an telah memberitahukan fakta-fakta ini kepada manusia berabad-abad sebelum sains sanggup mengungkapnya.

Al-Qur’an tidak hanya memberi informasi penting tentang proses terjadinya hujan saja, didalamnya juga dijelaskan tentang kadar, manfaat dan pengaruh-pengaruhnya.

Informasi ini, yang tidak mungkin diketahui manusia di zamannya, menunjukkan kepada kita bahwa Al-Qur’an merupakan kalam Allah.

Sekarang, mari kita kaji informasi-informasi tentang hujan yang termaktub di dalam Al-Qur’an.

Kadar Hujan
Di dalam ayat kesebelas Surat Az-Zukhruf, hujan dinyatakan sebagai air yang diturunkan dalam “ukuran tertentu”. Sebagaimana ayat di bawah ini:

“Dan yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).” (QS. Az-Zukhruf, (43):11)

“Kadar” yang disebutkan dalam ayat ini merupakan salah satu karakteristik hujan. Kadar dimaksud setidaknya mencakup Volume hujan, Kecepatan hujan, Temperatur (air) hujan.

Volume Air Hujan.
Sahabat....., tahukah anda bahwa secara umum, jumlah hujan yang turun ke bumi atau Volume Hujan selalu sama. Diperkirakan sebanyak 16 ton air di bumi menguap setiap detiknya. Jumlah ini sama dengan jumlah air yang turun ke bumi setiap detiknya. Hal ini menunjukkan bahwa hujan secara terus-menerus bersirkulasi dalam sebuah siklus seimbang menurut “ukuran” tertentu.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa jumlah air di Bumi secara keseluruhan cenderung tetap. Hanya wujud dan tempatnya yang berubah. Persediaan tidak akan habis, Air mengalami daur yang terus berlangsung sejak ribuan tahun lalu. Para ahli sangat yakin bahwa jumlah air sejak 3.000 juta tahun yang lalu hampir selalu sama. Hal ini mungkin sangat mengherankan kita. Akan tetapi, keadaan ini sekaligus memberi rasa aman bahwa dunia tidak akan pernah kehabisan air.

Kecepatan Turunnya Hujan
Pengukuran lain yang berkaitan dengan hujan adalah mengenai Kecepatan Turunnya Hujan. Ketinggian minimum awan adalah sekitar 1.200 meter. Ketika turun dari ketinggian ini, sebuah benda yang yang memiliki berat dan ukuran sebesar tetesan hujan akan terus melaju dan jatuh menimpa tanah dengan kecepatan 558km/jam.

Efek yang ditimbulkan oleh satu tetes air hujan yang jatuh dari ketinggian tersebut sama dengan benda seberat 1 kg yang jatuh dari ketinggian 15 cm. Tentunya, objek apapun yang jatuh dengan kecepatan tersebut akan mengakibatkan kerusakan.

Dan apabila hujan turun dengan cara demikian, maka seluruh lahan tanaman akan hancur, pemukiman, perumahan, kendaraan akan mengalami kerusakan, dan orang-orang pun tidak dapat pergi keluar tanpa mengenakan alat perlindungan ekstra.

Terlebih lagi, perhitungan ini dibuat untuk ketinggian 1.200 meter, faktanya terdapat awan yang memiliki ketinggian sekitar 10.000 meter. Sebuah tetesan hujan yang jatuh pada ketinggian ini tentu saja akan jatuh pada kecepatan super yang mampu merusak apa saja.

Namun tidak demikian terjadinya, dari ketinggian berapapun hujan itu turun, kecepatan rata-ratanya hanya sekitar 8-10 km/jam ketika mencapai tanah.

Hal ini disebabkan karena bentuk tetesan hujan yang sangat istimewa. Keistimewaan bentuk tetesan hujan ini meningkatkan efek gesekan atmosfer dan mempertahankan kelajuan tetesan-tetesan hujan ketika mencapai “batas” kecepatan tertentu. (Saat ini, parasut dirancang dengan menggunakan teknik ini). Allahu Akbar !

Temperatur
Tak sebatas itu saja “pengukuran” tentang hujan. Contoh lain misalnya, pada lapisan atmosferis tempat terjadinya hujan, temperatur bisa saja turun hingga 40oC di bawah nol.
Meskipun demikian, tetesan-tetesan hujan tidak berubah menjadi partikel es. (Hal ini tentunya merupakan ancaman mematikan bagi semua makhluk hidup di muka bumi.)

Alasan tidak membekunya tetesan-tetesan hujan tersebut adalah karena air yang terkandung dalam atmosfer merupakan air murni. Sebagaimana kita ketahui, bahwa air murni hampir tidak membeku pada temperatur yang sangat rendah sekalipun (akan kita bahas kemudian pada sifat Air yang "Melanggar Aturan")

Jadi sebenarnya sob...., hujan merupakan sebuah peristiwa yang menakjubkan di bumi, sekali lagi bagi orang-orang yang mau berfikir. Upss... yang baca langsung pura-pura serius mikir coba deh ane bantu menyimpulkan “keajaiban” hujan berdasarkan fakta ilmiah seperti yang tercantum diatas.

1. Dalam satu detik, kira-kira 16 juta ton air menguap dari bumi, jumlah ini sama dengan jumlah air yang turun ke bumi dalam satu detik. Air terus berputar dalam daur yang seimbang berdasarkan “takaran”. (Para ahli sangat yakin bahwa jumlah air sejak 3.000 juta tahun yang lalu hampir selalu sama)

2. Ketinggian minimum awan hujan adalah 1.200 meter awan hujan pun dapat ditemui pada ketinggian 10.000 meter.

3. Ketika turun dari ketinggian ini (1.200 m), sebuah benda yang yang memiliki berat dan ukuran sebesar tetesan hujan akan terus melaju dan jatuh menimpa tanah dengan kecepatan 558km/jam.

4. Efek yang ditimbulkan oleh satu tetes air hujan yang jatuh dari ketinggian tersebut (1.200 m) dengan kecepatan spt itu, sama dengan benda seberat 1 kg yang jatuh dari ketinggian 15 cm. Apalagi...., jika benda yang sama jatuh dari ketinggian 10.000 m tentu saja akan jatuh pada kecepatan yang mampu merusak apa saja.

5. Namun demikian ternyata rata-rata kecepatan jatuhnya air hujan hanyalah 8-10 km/jam.

6. Air jatuh ke bumi dengan kecepatan yang rendah karena titik hujan memiliki bentuk khusus yang meningkatkan efek gesekan atmosfer dan membantu hujan turun ke bumi dengan kecepatan yang lebih rendah.

7. Andaikan bentuk titik hujan berbeda, atau andaikan atmosfer tidak memiliki sifat gesekan (bayangkan jika hujan terjadi seperti gelembung air yang besar yang turun dari langit), bumi akan menghadapi kehancuran setiap turun hujan.

8. Butiran air hujan berubah bentuk ratusan kali tiap detik.

9. Kalau butiran air hujan itu dibekukan akan membentuk keping kristal yg indah, tidak seperti air biasa yang di bekukan di freezer/kulkas.

10. Setelah hujan turun, tanah, ilalang, rerumputan akan mengeluarkan bau wangi yg khas, senyawa ini dinamakan 'petrichor'.

11. Dan fakta terakhir yang paling misterius dan mengejutkan ilmuan. Hujan memiliki kemampuan untuk menghipnotis manusia untuk me-resonansi-kan ingatan masa lalu. Dan tanpa bisa mendapatkan bukti ilmiah, para ilmuan hanya bisa menyimpulkan “Di dalam hujan, ada lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yg rindu”. Dan pada titik ini, para ilmuan meyakini bahwa manusia biasanya mendapatkan inspirasi.


Sekarang mari kita lihat “keajaiban” air lainnya yakni Kesesuaian Air untuk pembentukan kehidupan.

Ahli biokimia, A. E. Needham, dalam bukunya The Uniqueness of Biological Materials, menunjukkan betapa pentingnya cairan bagi pembentukan kehidupan. Jika hukum alam semesta hanya memungkinkan keberadaan ZAT PADAT atau GAS saja, maka tidak akan pernah ada kehidupan!

Alasannya adalah bahwa atom-atom Zat Padat berikatan terlalu rapat dan terlalu statis dan sama sekali tidak memungkinkan proses molekuler dinamis yang penting bagi terjadinya kehidupan.

Sebaliknya, dalam GAS, atom-atom bergerak bebas dan acak: Mekanisme kompleks bentuk kehidupan tidak mungkin berfungsi dalam struktur seperti itu.

Singkatnya, lingkungan Cair mutlak dibutuhkan dalam proses-proses pembentukan kehidupan. Yang paling ideal dari semua cairan atau tepatnya, satu-satunya cairan ideal untuk tujuan ini adalah AIR.

Sahabat..., kenyataan bahwa air memiliki sifat-sifat yang sangat sesuai untuk kehidupan, menarik perhatian ilmuwan sejak dulu.

Usaha pertama untuk menyelidikinya secara terperinci datang dari seorang naturalis Inggris, William Whewell, dalam bukunya yang diterbitkan pada tahun 1832 Astronomy and General Physics Considered with Reference to Natural Theology.
Disini Whewell telah menguji sifat termal air dan mencermati bahwa beberapa di antaranya tampak MELANGGAR HUKUM ALAM yang diyakini alias Tidak Konsisten !

Anda tahu apa yang menarik dari kesimpulannya pada pengujian ini?
“Ketidakkonsistenan ini (karena dianggap melanggar hukum alam) harus dianggap sebagai bukti bahwa zat ini telah diciptakan khusus demi keberadaan kehidupan”. Allahu Akbar!

Usaha kedua analisis paling komprehensif tentang kesesuaian air bagi kehidupan muncul dari Lawrence Henderson, seorang profesor dari Departemen Kimia Biologi Universitas Harvard, sekitar satu abad setelah buku Whewell. Dalam bukunya, The Fitness of the Environment, yang sebagian orang kemudian menyebutnya "Karya ilmiah paling penting pada perempat pertama abad ke-20"

Salah satu pokok bahasan dalam buku Henderson adalah sifat termal air atau sifat Panas Air yang Luar Biasa – ini yang dianggap Melanggar Hukum Alam.
Henderson menjelaskan bahwa ada lima macam sifat termal air yang “tidak biasa”:

1) Semua zat padat yang dikenal akan menyusut jika semakin dingin. Ini juga terjadi pada semua zat cair yang dikenal: Ketika suhunya menurun, zat cair ini kehilangan volume. Ketika volume berkurang, kekerapan meningkat sehingga bagian yang lebih dingin dari zat cair itu menjadi lebih berat. Ini sebabnya volume bentuk padat suatu zat lebih besar dari-pada bentuk cairnya.

Ada satu kasus di mana "hukum" ini dilanggar: AIR!
Seperti zat cair lain, volume air menyusut ketika suhunya turun, namun ini berlaku hanya sampai pada suhu tertentu (4oC) dan seterusnya- tidak seperti semua zat cair lainnya yang diketahui air tiba-tiba mengembang dan ketika akhirnya air membeku, air semakin mengembang. Sebagai akibatnya, "air padat" lebih ringan daripada "air cair". Menurut hukum fisika normal, air padat, yang disebut es, seharusnya lebih berat daripada air cair, dan seharusnya tenggelam ketika menjadi es; namun ternyata, es mengapung.

2) Ketika es mencair atau air menguap, es atau air menyerap panas dari lingkungannya. Ketika transisi tersebut dibalik (yaitu ketika air membeku atau uap mengembun), panas dilepaskan. Dalam fisika istilah "panas laten (latent heat)" digunakan untuk menggambarkan panas yang dilepaskan tersebut.
Semua zat cair mempunyai panas laten seperti itu namun air termasuk di antara zat cair yang mempunyai panas laten tertinggi. Pada suhu "normal", satu-satunya zat cair dengan panas laten lebih tinggi dari air ketika membeku adalah amonia.
Di sisi lain, dalam kaitannya dengan sifat panas laten pada pengembunan, tidak ada zat cair yang bisa mengimbangi air.

3) "Kapasitas termal" air, yaitu jumlah panas yang diperlukan untuk meningkatkan suhu air per satu derajat, lebih tinggi dari kebanyakan zat cair lainnya.

4) Daya hantar panas air, kemampuannya untuk menghantarkan panas, paling tidak empat kali lebih besar daripada zat cair lainnya.

5) Sebaliknya, daya hantar panas es dan salju rendah.

Sampai di sini Anda mungkin bertanya-tanya, apa gunanya kelima sifat fisik yang tampak begitu teknis ini. Ternyata, setiap sifat itu sangat penting karena kehidupan secara umum dan kehidupan diri kita dimungkinkan di dunia ini terutama karena kelima sifat tersebut demikian adanya.


Sekarang mari kita cermati satu per satu.

Efek Pembekuan "Dari Atas ke Bawah"
Mari kita memikirkan apa yang akan terjadi jika air tidak berperilaku “menyimpang” seperti itu dan sebaliknya berperilaku "normal". Misalkan air menjadi semakin berat ketika suhu semakin rendah, seperti zat cair lainnya, dan es tenggelam. Lantas bagaimana?

Zat cair lain membeku dari bawah ke atas; sedangkan AIR membeku dari atas ke bawah. Ini merupakan sifat pertama yang TIDAK BIASA dari air, dan ini sangat penting untuk keberadaan air di permukaan bumi. Kalau air tidak bersifat demikian, artinya es tidak mengapung, sebagian besar air planet kita akan terperangkap dalam es dan kehidupan tidak mungkin ada di laut, danau, kolam, dan sungai.

Ini keterangan terjadinya proses yang luar biasa tersebut;
Ketika air semakin dingin, air menjadi lebih berat sampai suhunya mencapai 4oC, pada titik ini segala sesuatunya tiba-tiba berubah!

Setelah itu, air mulai mengembang dan menjadi lebih ringan seiring menurunnya suhu. Akibatnya, air bersuhu 4oC tetap di bawah, air bersuhu 3oC berada di atasnya, air bersuhu 2oC berada di atasnya lagi dan seterusnya. Pada permukaan sajalah suhu air benar-benar mencapai 0oC dan di situ air membeku. Namun hanya permukaan yang membeku: Lapisan air bersuhu 4oC di bawah es tetap cair dan itu cukup bagi makhluk hidup dan tanaman bawah air untuk terus hidup.

Mengapa air tidak berperilaku normal?

Mengapa air tiba-tiba mulai mengembang pada suhu 4oC, setelah menyusut sebagaimana mestinya?

Itu adalah pertanyaan yang tak seorang pun mampu menjawabnya. Allahu Akbar!


2. Menjadi minuman
Ketika ayat diatas berbicara fungsi air sebagai minuman maka tentu saja kita diajak berbicara manfaat air bagi tubuh, selain makanan, air sangat diperlukan oleh tubuh kita. Seseorang yang kekurangan makan masih dapat bertahan sampai beberapa hari, tapi kekurangan air bisa berakibat fatal, karena air merupakan bagian terbesar dari komposisi tubuh manusia.

Belahan mana pun dari permukaan bumi yang Anda lihat, Anda pasti akan melihat air di suatu tempat. Bahkan, ruangan tempat Anda duduk pada saat ini barangkali mengandung sekitar empat puluh sampai lima puluh liter air. Lihatlah ke sekeliling. Anda tidak bisa melihatnya? Lihat lagi, lebih cermat, kali ini dengan mengalihkan mata Anda dari tulisan ini dan amatilah tangan, lengan, kaki, serta tubuh Anda. Yaa..., Andalah 40-50 liter air itu!

Andalah, karena sekitar 70% tubuh manusia adalah air. Sel tubuh Anda mengandung pelbagai macam zat tetapi tak ada yang sebanyak atau sepenting air. Bagian terbesar dari darah yang beredar di setiap tempat dalam tubuh Anda tentu saja air.

Volume air dalam tubuh manusia rata-rata 65% dari total berat badannya. Volume tersebut sangat bervariasi bagi setiap orang bahkan juga bervariasi antar bagian-bagian tubuh seseorang.
Beberapa organ tubuh manusia yang banyak mengandung air antara lain, kandungan air dalam otak 74.5%, ginjal 82%, jantung 79%, paru-paru 80%, tulang 22%, otot 75.6% dan darah 83%. Setiap hari kurang lebih 2.272 liter darah dibersihkan oleh ginjal dan sekitar 2.3 ltr diproduksi menjadi urine. Selebihnya diserap kembali masuk kealiran darah.

Bila kandungan air dalam masing-masing organ tersebut tetap dipertahankan sesuai kebutuhan, maka organ tersebut akan tetap sehat. Sebaliknya bila menurun, fungsinya juga akan menurun dan lebih mudah terganggu oleh bakteri, virus, dll. Maka bisa dibayangkan betapa besar peran air dalam tubuh kita.

Untunglah tubuh manusia mempunyai mekanisme dalam mempertahankan keseimbangan asupan air yang masuk dan yang dikeluarkan.

Rasa haus pada setiap orang merupakan mekanisme normal dalam mempertahankan asupan air dalam tubuh. Air yang dibutuhkan tubuh kira-kira 2 – 2,5 l (8 – 10 gelas) per hari. Jumlah kebutuhan air ini sudah termasuk asupan air dari makanan (seperti dari kuah sup, soto, dll), minuman seperti susu, teh, kopi, sirup dll. Selain itu, asupan air juga diperoleh dari hasil metabolisme makanan yang dikonsumsi dan metabolisme jaringan di dalam tubuh.

Betapa penting asupan air setiap hari, juga bisa dilihat dari banyaknya air yang pasti dikeluarkan dari tubuh setiap hari melalui beberapa mekanisme. Ada yang melalui air seni, tinja, keringat, dan juga melalui saluran pernapasan.

Tubuh kita akan menurun kondisinya bila kadar air menurun dan pengisian kurang cepat dilaksanakan. Jelas, karena ada hubungan yang sangat erat antara kualitas dan kandungan air dalam tubuh dengan respons tubuh kita.

Dr. James M. Rippe, kardiolog dari AS menyarankan untuk minum paling sedikit 1 l lebih banyak dari apa yang dibutuhkan rasa haus kita. Pasalnya, kehilangan 4% cairan saja akan mengakibatkan penurunan kinerja kita sebanyak 22%! Bisa dimengerti bila kehilangan 7%, kita akan mulai merasa lemah dan lesu.

Semakin banyak kita melakukan aktivitas, air akan lebih banyak terkuras dari tubuh. Apalagi orang yang tinggal di negara tropis di mana energi yang dikeluarkan lebih banyak. Sebab itu, para pakar kesehatan mengingatkan agar jangan hanya minum bila terasa haus. Kebiasaan banyak minum, apakah sedang haus atau tidak, merupakan kebiasaan sehat!

Air adalah zat yang dirancang secara khusus untuk menjadi dasar kehidupan Air putih juga bersifat “menghanyutkan” kotoran-kotoran dalam tubuh yang akan lebih cepat keluar lewat urine disamping itu air tidak mengandung kalori, gula, ataupun lemak karena setiap sifat fisik dan kimianya khusus diciptakan untuk kehidupan.

Air dalam tubuh mempunyai fungsi/kinerja:
*Mengangkut semua bahan makanan yang akan dibentuk menjadi sel hidup dalam tubuh
*Mengangkut sel mati ketempat pembuangan
*Jantung sebagai pompa air dalam tubuh agar aliran air tidak terputus dan terus mengalir.
*Jika aliran air dalam tubuh kurang maka akan terjadi penumpukan toksik dan keseimbangan organ tubuh terganggu sehingga akan timbul beberapa penyakit.

Diatas kita sudah membahas sifat air yang “menyimpang” yakni AIR membeku dari atas ke bawah dan manfaatnya bagi kelangsungan kehidupan secara umum.

Sekarang mari kita bahas sifat yang kedua dan ketiga yakni tentang Panas Laten dan Kapasitas Termal dan kegunaannya bagi tubuh untuk itu mari kita bahas tentang Keringat dan Penyejukan

Sifat air kedua dan ketiga yang disebutkan di atas-panas laten yang tinggi dan kapasitas termal yang lebih besar dari zat cair lain-juga sangat penting bagi kita. Kedua sifat tersebut merupakan kunci untuk fungsi tubuh yang penting namun jarang kita pikirkan manfaatnya.
Fungsi itu adalah berkeringat.

Benar, apa gunanya berkeringat?

Untuk memahaminya, Anda harus mendapatkan sedikit latar belakang. Semua mamalia memiliki suhu tubuh relatif sama. Meskipun bervariasi, itu tidak terlalu mencolok dan suhu tubuh mamalia berkisar antara 35o- 40oC. Suhu tubuh manusia sekitar 37oC dalam kondisi normal. Ini merupakan suhu kritis dan mutlak harus dijaga agar tetap konstan.

Jika suhu tubuh Anda menurun hanya beberapa derajat, banyak fungsi vital tubuh akan gagal. Jika suhu tubuh meningkat meskipun hanya beberapa derajat, seperti yang terjadi ketika kita sakit, pengaruhnya bisa membahayakan. Suhu tubuh yang bertahan di atas 40oC dapat membawa kematian.

Singkatnya, suhu tubuh kita memiliki keseimbangan yang sangat kritis dan tidak memungkinkan variasi.

Akan tetapi, tubuh kita memiliki masalah serius: tubuh aktif setiap saat. Semua gerak fisik, seperti halnya gerak mesin, memerlukan produksi energi untuk tetap aktif. Namun kapan saja energi dihasilkan, panas selalu dikeluarkan sebagai produk sampingan.

Anda bisa melihatnya dengan mudah untuk diri sendiri. Tinggalkan artikel ini, dan lari sepuluh kilometer di bawah terik matahari dan lihat betapa panasnya tubuh Anda. (Eeehh... jangan sob cuma bercanda kok... )

Tetapi kenyataannya, jika Anda memikirkannya, Anda akan menyadari bahwa Anda sama sekali tidak menjadi sepanas yang seharusnya.

Satuan panas adalah kalori. Orang normal yang berlari 10 kilometer dalam satu jam akan menghasilkan sekitar 1.000 kalori panas. Panas itu harus dilepaskan dari tubuh. Jika tidak, Anda akan pingsan sampai koma sebelum Anda menyelesaikan kilometer pertama.

Namun bahaya tersebut dihindari oleh ketiga sifat air.
Yang pertama adalah kapasitas termal air. Artinya, untuk meningkatkan suhu air, diperlukan panas yang tinggi. Tubuh kita terdiri atas 70% air, tetapi berkat kapasitas termalnya, air itu tidak menjadi panas dengan cepat. Bayangkan sebuah gerakan yang meningkatkan panas tubuh sebesar 10oC. Jika tubuh kita mengandung alkohol alih-alih air, gerakan yang sama akan meningkatkan suhu tubuh 20oC, dan untuk zat lain dengan kapasitas termal lebih rendah, keadaan bahkan akan lebih buruk: menaikkan 50oC untuk garam, 100oC untuk besi, dan 300oC untuk timbal. Kapasitas termal air yang tinggi lah yang mencegah terjadinya perubahan panas sebesar itu.

Namun, bahkan kenaikan 10oC akan fatal, seperti telah disebutkan di atas. Untuk mencegahnya, sifat kedua air-panas laten-berperan di sini.
Untuk menjaga tubuh tetap sejuk terhadap panas yang dihasilkan, tubuh menggunakan mekanisme keringat. Ketika kita berkeringat, air menyebar di permukaan kulit dan dengan cepat menguap.

Tetapi karena panas laten air sangat besar, penguapan itu membutuhkan panas yang besar pula. Panas tersebut tentu saja diambil dari tubuh sehingga kita tetap sejuk. Proses penyejukan ini begitu efektif sehingga terkadang menyebabkan kita merasa kedinginan meskipun cuaca agak panas.

Karena itulah, seseorang yang telah berlari sejauh sepuluh kilometer akan berkurang suhu tubuhnya sampai 6oC sebagai akibat penguapan air satu liter saja. Semakin banyak energi yang dikeluarkannya, semakin meningkat suhu tubuhnya, namun pada saat yang sama, semakin banyak dia berkeringat dan menjadi sejuk. Di antara faktor-faktor yang membuat sistem pengatur panas tubuh bekerja seluar biasa ini, yang utama adalah sifat termal AIR !

Tidak ada zat cair lain akan menyediakan sistem pengeluaran keringat seefesien air. Contohnya, jika alkohol menggantikan air, pengurangan panas hanya sebesar 2,2oC; bahkan pada amonia, hanya sebesar 3,6oC.

Terdapat aspek penting lain dalam hal ini. Jika panas yang dilepaskan dalam tubuh tidak dibawa ke permukaan, yaitu ke kulit, baik kedua sifat air maupun proses pengeluaran keringat tidak akan berguna. Karena itulah struktur tubuh juga harus menjadi penghantar panas yang baik. Pada poin inilah, satu lagi sifat penting air berperan:

Tidak seperti zat cair lainnya, air memiliki kapasitas sangat tinggi untuk konduktivitas termal, yaitu kemampuan menghantarkan panas. Karena alasan ini, tubuh membawa panas yang dihasilkan di dalamnya ke kulit. (Saluran darah dekat kulit melebar untuk tujuan ini dan itulah sebabnya kita memerah ketika terlalu panas.)

Jika konduktivitas termal air berkurang separo atau sepertiganya, laju penghantaran panas ke kulit akan jauh lebih lambat, dan ini akan membuat bentuk kehidupan kompleks seperti mamalia tidak mungkin hidup.

Semua itu menunjukkan bahwa tiga sifat termal air yang sangat berbeda bekerja sama untuk mencapai tujuan yang sama: mendinginkan tubuh makhluk hidup yang kompleks seperti manusia. Air adalah zat cair yang dirancang khusus untuk tugas ini. Allahu Akbar!

Tiga poin terakhir dari ayat diatas (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, menggembalakan ternak, menumbuhkan tanam-tanaman dan segala macam buah-buahan akan penulis satukan saja agar tidak terkesan bertele-tele.

Sifat-sifat air yang telah kita bahas sampai sekarang adalah SIFAT TERMAL: yaitu sifat-sifat yang berkaitan dengan panas.
Air juga memiliki sejumlah SIFAT FISIK yang ternyata juga sangat tepat bagi kehidupan.
Salah satunya adalah “Tegangan Permukaan Air” yang sangat tinggi.

"Tegangan Permukaan" didefinisikan sebagai sebuah perilaku permukaan-bebas dari zat cair untuk menyerupai kulit elastis di bawah pengaruh tegangan. Perilaku ini disebabkan oleh gaya tarik antara molekul-molekul dalam permukaan zat cair.

Contoh terbaik pengaruh tegangan permukaan dapat dilihat pada air. Bahkan tegangan permukaan air sangat tinggi sehingga menyebabkan beberapa fenomena fisik yang aneh terjadi.

Sebuah cangkir dapat menampung sejumlah air yang sedikit lebih tinggi daripada tinggi cangkir itu sendiri tanpa tumpah. Jarum besi yang secara hati-hati diletakkan di atas permukaan air yang tidak bergerak akan mengambang.

Tegangan permukaan air jauh lebih tinggi daripada tegangan permukaan zat cair lain. Beberapa konsekuensi biologis dari sifat ini sangat penting dan ini tampak jelas terutama pada tanaman.

Pernahkan Anda bertanya-tanya bagaimana tanaman mampu membawa air dari kedalaman tanah bermeter-meter ke atas tanpa pompa, otot, atau semacamnya?

Jawaban untuk teka-teki ini adalah "tegangan permukaan". Saluran dalam akar dan batang tanaman dirancang untuk memanfaatkan tegangan permukaan air yang tinggi. Saluran-saluran ini semakin tinggi semakin mengecil dan menyebabkan air "merayap ke atas" dengan sendirinya.

Yang memungkinkan rancangan sempurna ini adalah tegangan permukaan air yang tinggi. Jika tegangan permukaan air sama rendahnya dengan tegangan pada kebanyakan zat cair lainnya, secara fisiologi tidak mungkin bagi tanaman besar seperti pohon-pohonan untuk hidup di tanah kering.

Konsekuensi penting lain dari tingginya tegangan permukaan air adalah peretakan batu. Karena tegangan permukaannya, air bisa menembus ke celah-celah terdalam melalui retakan-retakan terkecil di mana air membeku ketika suhu turun di bawah nol.

Seperti kita ketahui, air mempunyai sifat tidak normal dengan mengembang ketika membeku. Pengembangan ini menimbulkan tekanan di dalam batu yang akhirnya menyebabkan batu pecah. Proses ini sangat penting karena melepaskan mineral yang terperangkap dalam batu ke dalam lingkungan dan juga membantu formasi tanah.


Sifat-Sifat Kimia Air
Di samping sifat-sifat fisiknya, sifat-sifat kimia air juga sangat sesuai untuk kehidupan.

Di antara sifat-sifat kimia air, yang terutama adalah bahwa air merupakan pelarut yang baik: Hampir semua zat kimia bisa dilarutkan dalam air.

Konsekuensi yang sangat penting dari sifat kimia ini adalah mineral-mineral dan zat-zat yang berguna yang terkandung tanah terlarut dalam air dan dibawa ke laut oleh sungai. Diperkirakan lima milyar ton zat dibawa ke sungai setiap tahun. Zat-zat tersebut penting bagi kehidupan laut.

Air juga mempercepat (mengkatalisis) hampir semua reaksi kimia yang diketahui. Sifat kimia air yang penting lainnya adalah reaktivitas kimianya ada pada tingkat yang ideal. Air tidak terlalu reaktif yang membuatnya berpotensi merusak (seperti asam sulfat) dan tidak juga terlalu lamban (seperti argon yang tidak bereaksi kimia). Mengutip Michael Denton: "Tampaknya, seperti semua sifatnya yang lain, reaktivitas air ideal baik bagi peran biologis maupun geologisnya."

Detail lain tentang kesesuaian sifat-sifat kimia air untuk kehidupan selalu terungkap ketika para peneliti menyelidiki zat tersebut lebih jauh. Harold Morowitz, seorang profesor biofisika dari Universitas Yale, menyatakan:

Beberapa tahun ke belakang telah menyaksikan studi yang berkembang tentang sebuah sifat air yang baru dipahami (yaitu, konduktansi proton) yang ternyata hampir unik bagi zat tersebut, merupakan unsur kunci transfer energi biologis, dan tentu saja penting bagi asal usul kehidupan.

"Semakin dalam dipelajari, semakin terkesan sebagian dari kami dengan kesesuaian alam dalam bentuk yang begitu tepat."


Viskositas (kekentalan) Ideal Air
Setiap kali kita memikirkan zat cair, bayangan yang terbentuk dalam pikiran kita adalah zat yang sangat cair. Kenyataannya, zat cair yang berbeda memiliki tingkat viskositas (kekentalan) yang berbeda: Kekentalan ter/aspal, gliserin, minyak zaitun, dan asam sulfat, misalnya, sangat bervariasi. Dan jika kita bandingkan zat-zat cair tersebut dengan air, perbedaannya menjadi lebih jelas. Air 10 juta kali lebih cair daripada aspal, 1.000 kali lebih cair daripada gliserin, 100 kali lebih cair daripada minyak zaitun, dan 25 kali lebih cair daripada asam sulfat.

Seperti yang ditunjukkan oleh perbandingan singkat itu, air memiliki tingkat viskositas yang sangat rendah. Bahkan, jika kita mengabaikan beberapa zat seperti eter dan hidrogen cair, air ternyata berviskositas lebih kecil dari apa pun kecuali gas.

Apakah kekentalan air yang rendah menguntungkan bagi kita? Akan berbedakah keadaan jika zat cair vital ini memiliki kekentalan lebih besar atau lebih kecil?

Michael Denton menjawabnya untuk kita:

Kesesuaian air akan berkurang jika kekentalan air lebih rendah. Struktur sistem kehidupan akan bergerak jauh lebih acak di bawah pengaruh gaya-gaya deformasi jika kekentalan air sama rendahnya dengan hidrogen cair....

Jika kekentalan air sangat lebih rendah, struktur yang rawan akan mudah dikacaukan... dan air tidak akan mungkin mendukung struktur mikroskopik rumit yang permanen. Arsitektur molekular sel yang rawan mungkin tidak akan bertahan.

Jika kekentalan lebih tinggi, gerak terkontrol makromolekul yang besar dan terutama struktur seperti mitokondria dan organel-organel kecil tidak akan mungkin, demikian pula proses-proses seperti pembelahan sel. Semua aktivitas penting sel akan membeku dengan efektif, dan jenis-jenis kehidupan seluler yang jauh menyerupai yang biasa kita kenal akan tidak mungkin ada.

Perkembangan organisme yang lebih tinggi, yang secara kritis bergantung pada kemampuan sel untuk bergerak dan merangkak dalam fase embriogenesis, pasti tidak mungkin terjadi jika kekentalan air sedikit saja lebih tinggi dari kekentalan normal.
Kekentalan air yang rendah tidak hanya penting untuk gerak seluler, namun juga untuk sistem sirkulasi.

Semua makhluk hidup dengan ukuran tubuh lebih dari seperempat milimeter memiliki sistem sirkulasi pusat. Hal ini karena pada ukuran lebih dari itu, tidak mungkin makanan dan oksigen didifusikan ke seluruh tubuh organisme.

Artinya, makanan dan oksigen tidak bisa lagi masuk secara langsung ke dalam sel, dan produk sampingannya pun tidak bisa dibuang begitu saja.

Ada banyak sel dalam tubuh sebuah organisme, karenanya oksigen dan energi yang diambil tubuh perlu didistribusikan (dipompa) ke tubuh melalui "saluran"; dan saluran lain diperlukan pula untuk mengangkut buangan.

"Saluran" ini adalah pembuluh vena dan arteri dalam sistem sirkulasi. Jantung adalah pompa yang menjaga sistem ini agar terus bekerja, sementara zat yang dibawa melalui "saluran" itu adalah cairan yang kita sebut "darah", yang sebagian besar merupakan air, (95 % dari plasma darah-materi yang tersisa setelah sel darah, protein, dan hormon telah dikeluarkan-adalah air.)

Itulah sebabnya kekentalan air sangat penting agar sistem sirkulasi berfungsi efisien.

Jika air memiliki kekentalan seperti aspal misalnya, pasti tidak ada jantung organisme yang dapat memompanya.

Jika air memiliki kekentalan minyak zaitun, yang lebih kecil seratus juta kali daripada aspal, jantung mungkin bisa memompanya, namun akan sangat sulit dan darah tidak akan pernah bisa mencapai miliaran kapiler di seluruh pelosok tubuh kita.

Mari kita cermati kapiler-kapiler tersebut. Tujuannya adalah membawa oksigen, makanan, hormon, dan lain-lain yang penting bagi kehidupan ke setiap sel di seluruh tubuh. Jika sebuah sel berjarak lebih dari 50 mikron (satu mikron adalah satu milimeter dibagi seribu) dari kapiler, maka sel tersebut tidak bisa memanfaatkan "layanan" kapiler. Sel dengan jarak 50 mikron dari kapiler akan mati kelaparan.

Itulah sebabnya tubuh manusia diciptakan sedemikian rupa sehingga kapilernya membentuk jejaring yang menjangkau semua sel. Tubuh manusia normal memiliki sekitar 5 miliar kapiler yang panjangnya, jika dibentangkan, sekitar 950 kilometer. Pada sebagian mamalia, ada sebanyak 3.000 kapiler dalam setiap satu sentimeter persegi jaringan otot. Jika Anda menyatukan sepuluh ribu kapiler terkecil dalam tubuh manusia, hasil jalinannya mungkin setebal isi pensil. Diameter kapiler bervariasi dari 3-5 mikron: sama dengan tiga sampai lima milimeter dibagi seribu.

Jika darah akan menembus jalan sesempit itu tanpa terhambat atau melambat, maka darah harus cair, dan berkat kekentalan air yang rendah, demikian adanya. Menurut Michael Denton, jika kekentalan air sedikit saja lebih besar dari seharusnya, sistem sirkuasi darah sama sekali tidak bermanfaat:

Sistem kapiler akan bekerja hanya jika zat cair yang dipompa melalui seluruh tabungnya memiliki kekentalan yang sangat rendah. Kekentalan rendah sangat penting karena aliran berbanding terbalik dengan kekentalan...

Dari sini mudah dilihat bahwa jika kekentalan air memiliki nilai hanya beberapa kali lebih besar dari seharusnya, memompa darah melalui kapiler akan memerlukan tekanan besar, dan hampir semua jenis sistem sirkulasi pasti tidak akan bekerja…

Jika kekentalan air sedikit lebih besar, dan kapiler terkecil berdiameter 10 mikron alih-alih 3 mikron, maka kapiler harus memenuhi hampir semua jaringan otot agar dapat menyediakan oksigen dan glukosa dengan efektif. Jelas sekali rancangan bentuk kehidupan makroskopik tidak akan mungkin dan sangat terbatasi.... Maka tampaknya kekentalan air harus demikian adanya agar menjadi perantara yang sesuai bagi kehidupan.

Dengan kata lain, seperti semua sifat lainnya, kekentalan air juga "dirancang khusus" untuk kehidupan. Mencermati kekentalan zat-zat cair berbeda, kita lihat antara satu zat dengan yang lain ada selisih hingga miliaran kali. Di antara miliaran itu hanya ada satu zat cair dengan kekentalan yang diciptakan tepat seperti yang diperlukan: AIR.


Kesimpulan
Segala sesuatu yang sudah kita ketahui dalam bab ini sejak awal menunjukkan bahwa sifat termal, fisik, kimia, dan kekentalan air tepat seperti seharusnya demi keberadaan kehidupan. Air dirancang begitu sempurna untuk kehidupan, sehingga dalam beberapa kasus, hukum-hukum alam dilanggar demi tujuan tersebut. Contoh terbaik dari hal ini adalah pengembangan yang tidak terduga dan tidak dapat dipahami pada volume air ketika suhunya turun di bawah 4oC: Jika pengembangan tidak terjadi, es tidak akan mengambang, lautan akan membeku menjadi padatan total, dan kehidupan tidak mungkin ada.

Air "begitu tepat" untuk kehidupan, sampai-sampai tidak dapat dibandingkan dengan zat cair lain. Sebagian besar planet ini, dunia dengan atribut lain (suhu, cahaya, spektrum elektromagnetik, atmosfer, permukaan, dan lain-lain) yang semuanya sesuai untuk kehidupan, telah diisi air dengan jumlah tepat untuk kehidupan. Jelaslah bahwa semua itu bukan kebetulan, dan sebaliknya pasti merupakan rancangan yang disengaja.

Untuk menguraikannya dengan cara lain, semua sifat fisik dan kimia air menunjukkan bahwa dia diciptakan khusus untuk kehidupan. Bumi, yang sengaja diciptakan untuk tempat hidup umat manusia, dihidupkan dengan air yang khusus diciptakan untuk membentuk dasar kehidupan manusia. Dalam air, Allah telah memberi kita kehidupan dan dengannya Dia menumbuhkan makanan yang kita makan dari tanah.

Akan tetapi, aspek terpenting dari semua ini adalah bahwa kebenaran ini (yang telah ditemukan oleh ilmu pengetahuan modern) ternyata diungkapkan dalam Al Quran, yang diturunkan kepada umat manusia sebagai petunjuk empat belas abad yang lalu. Allahu Akbar !

Demikianlah Allah selalu memacu akal dengan firmanNya, memicu jiwa dengan sapaNya agar senantiasa mengacu pada ayat-ayatNya, Baca, Berpikir, Belajar, Beramal, Beribadah, dst.

Sahabat...., sejatinya seperti saya tulis pada bagian awal, catatan ini secara umum akan membahas 2 hal penting yakni Mempelajari Air dan Belajar dari Air. Namun, nampaknya poin pertama saja sudah cukup panjang dan melelahkan padahal masih banyak rahasia air yang belum terungkap seperti manfaat air bagi kesehatan dsb., sehingga akhirnya saya berinisiatif untuk membaginya menjadi dua catatan. Sampai jumpa pada thema tentang air bagian ke 2 yang akan membahas tentang Belajar dari Air.

Jumat, 03 Agustus 2012

"Rahasia Menulis – Salim A. Fillah"

(Penulis besar Pramoedya Ananta Toer pernah berkata, "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari masyarakat dan sejarah")

Berikut ini adalah kulwit #write dari Salim A. Fillah. Di dalamnya terdapat ilmu dan hikmah luar biasa bagi kita, baik yang sudah menulis, tengah menulis, maupun ingin menulis. Alhamdulillah, Bersama Dakwah mendapat izin dari Ust. Salim A. Fillah untuk turut menyebarkan kulwit yang sangat bermanfaat ini. Langsung saja kita ikuti:

Mengapa Menulis ?
1. Menulis adalah mengikat jejak pemahaman. Akal kita sebagai kurniaNya, begitu agung dayanya menampung sedemikian banyak data-data.

2. Tapi kita kadang kesulitan memanggil apa yang telah tersimpan lama; ilmu dahulu itu berkeliaran dan bersembunyi di jalur rumit otak.

3. Maka menulis adalah menyusun kata kunci tuk buka khazanah akal; sekata tuk sealinea, sekalimat tuk se-bab, separagraf tuk sekitab.

4. Demikianlah kita fahami kalimat indah Asy Syafi'i; ilmu adalah binatang buruan, dan pena yang menuliskan adalah tali pengikatnya.

5. Menulis juga jalan merekam jejak pemahaman; kita lalui usia dengan memohon ditambah ilmu dan dikaruniai pengertian; adakah kemajuan?

6. Itu bisa kita tahu jika kita rekam sang ilmu dalam lembaran; kita bisa melihat perkembangannya hari demi hari, bulan demi bulan.

7. Jika tulisan kita 3 bulan lalu telah bisa kita tertawai; maka terbaca adanya kemajuan. Jika masih terkagum juga; itu menyedihkan.

8. Lebih lanjut; menulis adalah mengujikan pemahaman kepada khalayak; yang dari berbagai sisi bisa memberi penyeksamaan dan penilaian.

9. Kita memang membaca buku, menyimak kajian, hadir dalam seminar dan sarasehan; tapi kebenaran pemahaman kita belum tentu terjaminkan.

10. Maka menulislah; agar jutaan pembaca menjadi guru yang meluruskan kebengkokan, mengingatkan keterluputan, membetulkan kekeliruan.

11. Penulis hakikatnya menyapa dengan ilmu; maka ia berbalas tambahan pengertian; kian bening, kian luas, kian dalam, kian tajam.

12. Agungnya lagi; sang penulis merentangkan ilmunya melampaui batas-batas waktu dan ruang. Ia tak dipupus usia, tak terhalang jarak.

13. Adagium Latin itu tak terlalu salah; Verba Volant, Scripta Manent. Yang terucap kan lenyap tak berjejak, yang tertulis mengabadi.

14. Tapi bagi kita, makna keabadian karya bukan hanya soal masyhurnya nama; ia tentang pewarisan nilai; kemaslahatan atau kerusakan.

15. Andaikan benar bahwa Il Principe yang dipersembahkan Niccolo Machiavelli pada Cesare de Borgia itu jadi kawan tidur para tiran...

16. ..seperti terisyu tentang Napoleon, Hitler, dan Stalin; akankah dia bertanggungjawab atas berbagai kezhaliman nan terilham bukunya?

17. Sebab bukan hanya pahala yang bersifat 'jariyah'; melainkan ada juga dosa yang terus mengalir. Menjadi penulis adalah pertaruhan.

18. Mungkin tak separah Il Principe; tapi tiap kata yang mengalir dari jemari ini juga berpeluang menjadi keburukan berrantai-rantai.

19. Dan bahagialah bakda pengingat; huruf bisa menjelma dzarrah kebajikan; percikan ilhamnya tak putus mencahaya sampai kiamat tiba.

20. Lalu terkejutlah para penulis kebenaran, kelak ketika catatan amal diserahkan, "Ya Rabbi, bagaimana bisa pahalaku sebanyak ini?"

21. Moga kelak dijawabNya, "Ya, amalmu sedikit, dosamu berbukit; tapi inilah pahala tak putus dari ilham kebajikan nan kau tebarkan."

22. Tulisan sahih dan mushlih; jadi jaring yang melintas segala batas; menjerat pahala orang terilham tanpa mengurangi si bersangkutan.

23. Menulis juga bagian dari tugas iman; sebab makhluq pertama ialah pena, ilmu pertama ialah bahasa, dan ayat pertama berbunyi "Baca!"

24. Tersebut di HR Ahmad dan ditegaskan Ibn Taimiyah dalam Fatawa, "Makhluq pertama yang diciptaNya ialah pena, lalu Dia berfirman...

25. .."Tulislah!" Tanya Pena; "Apa yang kutulis, Rabbi?" Kata Allah; "Tulis segala ketentuan yang Kutakdirkan bagi semua makhluqKu."

26. Adapun ilmu yang diajarkan pada Adam dan membuatnya unggul atas malaikat nan lalu bersujud adalah bahasa; kosa kata. (QS 2: 31)

27. Dan "Baca!"; wahyu pertama. Bangsa Arab nan mengukur kecerdasan dari kuatnya hafalan hingga memandang rendah tulis-baca, Sebab...

28. ..menulis -kata mereka- ialah alat bantu bagi yang hafalannya di bawah rata-rata, tiba-tiba meloncat ke ufuk, jadi guru semesta.

29. Muhammad hadir bukan dengan mu'jizat yang membelalakkan; dia datang dengan kata-kata yang menukik-menghunjam, disebut 'Bacaan'.

30. Maka Islam menjelma peradaban Ilmiah, dengan pena sebagai pilarnya; wawasan tertebar mengantar kemaslahatan ke seantero bumi.

31. Semoga Allah berkahi tiap kata yang mengalir dari ujung jemari kita; sungguh, buku dapat menggugah jiwa manusia dan mengubah dunia.

32. Bagaimana sebuah tulisan bisa mengilhami; tak tersia, tak jadi tragika, dan tak menjatuhkan penulisnya dalam gelimang kemalangan?

3 Kekuatan Menulis
33. Saya mencermati setidaknya ada 3 kekuatan yang harus dimiliki seorang penulis menggugah; Daya Ketuk, Daya Isi, dan Daya Memahamkan.

Daya Ketuk
34. Daya Ketuk ini paling berat dibahas; yang mericau ini pun masih jauh & terus belajar. Ia masalah hati; terkait niat & keikhlasan.

35. Pertama, marilah jawab ini: 1) Mengapa saya harus menulis? 2) Mengapa ia harus ditulis? 3) Mengapa harus saya yang menuliskannya?

36. Seberapa kuat makna jawaban kita atas ke-3 tanya ini, menentukan seberapa besar daya tahan kita melewati aneka tantangan menulis.

37. Alasan kuat tentang diri, tema, dan akibat dunia-akhirat jika tak ditulis; akan menggairahkan, menggerakkan, membakar, menekunkan.

38. Keterlibatan hati dan jiwa dengan niat menyala itulah yang mengantarkan tulisan ke hati pembaca; mengetuk, menyentuh, menggerakkan.

39. Tetapi; tak cukup hanya hati bergairah dan semangat menyala saja jika yang kita kehendaki adalah keinsyafan suci di hati pembaca.

40. Menulis memerlukan kata yang agung dan berat itu; IKHLAS. Kemurnian. Harap dan takut hanya padaNya. Cinta kebenaran di atas segala.

41. Allah gambarkan keikhlasan sejati bagai susu; terancam kotoran dan darah, tapi terupayakan; murni, bergizi, memberi tenaga suci...

42. ...dan mudah diasup, nyaman ditelan, lancar dicerna oleh peminum-peminumnya, menjadi daya untuk bertaat dan bertaqwa (QS 16: 66).

43. Maka menjadi penulis yang ikhlas sungguh payah dan tak mudah, ada goda kotoran dan darah, kekayaan dan kemasyhuran, riya' dan sum'ah.

44. Jika ia berhasil dilampaui; jadilah tulisan, ucapan dan perbuatan sang penulis bergizi, memberi arti, mudah dicerna jadi amal suci.

45. Sebaliknya; penulis tak ikhlas itu; tulisannya bagai susu dicampur kotoran dan darah, racun dan limbah; lalu disajikan pada pembaca.

46. Ya Rabbi; ampuni bengkoknya niat di hati, ampuni bocornya syahwat itu dan ini, di tiap kali kami gerakkan jemari menulis dan berbagi.

47. Sebab susu tak murni, tulisan tak ikhlas, memungkinkan 2 hal: a) pembaca muak, mual, dan muntah bahkan saat baru mengamati awalnya.

48. Atau lebih parah: b) pembaca begitu rakus melahap tulisan kita; tapi yang tumbuh di tubuhnya justru penyakit-penyakit berbahaya.

49. Menulis berkeikhlasan, menabur benih kemurnian; agar Allah tumbuhkan di hati pembaca pohon ketaqwaan. Itulah daya ketuk sejati.

50. Daya sentuh, daya ketuk, daya sapa di hati pembaca; bukan didapat dari wudhu' dan shalat yang dilakukan semata niat menoreh kata..

51. ...Ia ada ketika kegiatan menghubungkan diri dengan Dzat Maha Perkasa, semuanya, bukan rekayasa, tapi telah menyatu dengan jiwa..

52. ...lalu menulis itu sekedar satu dari berbagai pancaran cahaya yang kemilau dari jiwanya; menggenapi semua keshalihan nan mengemuka.

Daya Isi
54. Setelah Daya Ketuk, penulis harus ber-Daya Isi. Mengetuk tanpa mengisi membuat pembaca ternganga, tapi lalu bingung berbuat apa.

55. Daya Ketuk membuat pembaca terinsyaf dan tergugah; tapi jika isi yang kemudian dilahap cacat, timpang, rusak; jadilah masalah baru.

56. Daya Isi adalah soal ilmu. Mahfuzhat Arab itu sungguh benar; "Fakidusy Syai', Laa Yu'thi: yang tak punya, takkan bisa memberi."

57. Menjadi penulis adalah menempuh jalan ilmu dan berbagi; membaca ayat-ayat tertulis; menjala hikmah-hikmah tertebar. Tanpa henti.

58. Ia menyimak apa yang difirmankan Tuhannya, mencermati yang memancar dari hidup RasulNya; dan membawakan makna ke alam tinggalnya.

59. Dia fahami ilmu tanpa mendikotomi; tapi tetap tahu di mana menempatkan yang mutlak terhadap yang nisbi; mencerahkan akal dan hati.

60. Penulis sejati memiliki rujukan yang kuat, tetapi bukan tukang kutip. Segala yang disajikan telah melalui proses internalisasi.

61. Penulis sejati kokoh berdalil bukan hanya atas yang tampak pada teks; tapi disertai kefahaman latar belakang dan kedalaman tafsir.

62. Dengan proses internalisasi; semua data dan telaah yang disajikan jadi matang dan lezat dikunyah; pembacanya mengasup ramuan bergizi.

63. Sebab konon 'tak ada yang baru di bawah matahari'; tugas penulis sebenarnya memang cuma meramu hal-hal lama agar segar kembali.

64. Atau mengungkap hal-hal yang sudah ada, tapi belum luas dikenali. Diperlukan ketekunan untuk melihat satu masalah dari banyak sisi.

65. Atau mengingatkan kembali hal-hal yang sesungguhnya telah luas difahami; agar jiwa-jiwa yang baik tergerak kuat untuk bertindak.

66. Maka dia suka menghubungkan titik temu aneka ilmu dengan pemaknaan segar dan baru, dengan tetap berpegang kaidah sahih dan tertentu.

67. Dia hubungkan makna nan kaya; fikih dan tarikh; dalil dan kisah; teks dan konteks; fakta dan sastra; penelitian ilmiah dan sisi insaniyah.

68. Dia menularkan jalan ilmu untuk tak henti menggali; tulisannya tak membuat orang mengangguk berdiam diri; tapi kian haus mencari.

69. Ia bawakan pemaknaan penuh warna; beda bagi masing-masing pembaca; beda bagi pembaca sama di saat lainnya. Membaru, mengilhami selalu.

70. Maka karyanya melahirkan karya; syarah dan penjelasan, catatan tepi dan catatan kaki, juga sisi lain pembahasan, dan bahkan bantahan.

Daya Memahamkan
71. Seorang penulis menggugah memulai Daya Memahamkan-nya dengan satu pengakuan jujur; dia bukanlah yang terpandai di antara manusia.

72. Sang penulis sejati juga memahami; banyak di antara pembacanya yang jauh lebih berilmu dan berwawasan dibandingkan dirinya sendiri.

73. Maka dalam hati, dia mencegah munculnya rasa lebih dibanding pembaca: "Aku tahu. Kamu tidak tahu. Maka bacalah agar kuberitahu."

74. Setiap tulisan dan buku yang disusun dengan sikap jiwa penulis "Aku tahu! Kamu tak tahu!" pasti berat dan membuat penat saat dibaca.

75. Kadang senioritas atau lebih tingginya jenjang pendidikan tak tersengaja lahirkan sikap jiwa itu. Sang penulis merasa lebih tahu.

77. Sikap jiwa kepenulisan harus diubah; dari "Aku tahu! Kamu tak tahu!" menjadi suatu rasa nan lebih adil, haus ilmu, dan rendah hati.

78. Penulis sejati ukirkan semboyan, "Hanya sedikit ini yang kutahu, kutulis ia untukmu, maka berbagilah denganku apa yang kau tahu."

79. Penulis sejati sama sekali tak berniat mengajari. Dia cuma berbagi; menunjukkan kebodohannya pada pembaca agar mereka mengoreksi.

80. Penulis sejati berhasrat tuk diluruskan kebengkokannya, ditunjukkan kelirunya, diluaskan pemahamannya, dilengkapi kekurangannya.

81. Penulis sejati jadikan dirinya seakan murid yang mengajukan hasil karangan pada guru; berribu pembaca menjelma guru berjuta ilmu.

82. Inilah yang jadikan tulisan akrab dan lezat disantap; pertama-tama sebab penulisnya adil menilai pembaca, haus ilmu, dan rendah hati.

83. Pada sikap sebaliknya, kita akan menemukan tulisan yang berribu kali membuat berkerut dahi, tapi pembacanya tak kunjung memahami.

84. Lebih parahnya; keinginan untuk tampil lebih pandai dan tampak berilmu di mata pembaca sering membuat akal macet dan jemari terhenti.

85. Jika lolos tertulis; ianya jadi kegenitan intelektual; inginnya dianggap cerdas dengan banyak istilah yang justru membuat mual.

86. Kesantunan Allah jadi pelajaran buat kita. RasulNya menegaskan surga itu tak terbayangkan. Tapi dalam firmanNya, Dia menjelaskan.

87. Dia gambarkan surga dalam paparan yang mudah dicerna akal manusia; taman hijau, sungai mengalir, naungan rindang, buahan dekat..

88. ..duduk bertelekan di atas dipan, dipakaikan sutra halus & tebal, pelayan hilir mudik siap sedia, bidadari cantik bermata jeli..

89. Allah Maha Tahu, tak bersombong dengan ilmu; Dia kenalkan diriNya bukan sebagai Ilah awal-awal, melainkan Rabb nan lebih dikenal.

90. Penulis sejati hayati pesan Nabi; bicaralah pada kaum sesuai kadar pemahamannya, bicaralah dengan bahasa yang dimengerti mereka.

91. Penulis sejati mengerti; dalam keterbatasan ilmu nan dimiliki, tugasnya menyederhanakan yang pelik, bukan merumitkan yang sahaja.

92. Itupun tidak dalam rangka mengajari; tapi berbagi. Dia haus tuk menjala umpan balik dari pembaca; kritik, koreksi, dan tambah data.

93. Penulis sejati juga tahu; yang paling berhak mengamalkan isi anggitannya adalah dirinya sendiri. Daya Memahamkan berhulu di sini.

94. Sebab seringkali kegagalan penulis memahamkan pembaca disebabkan diapun tak memahami apa yang ditulisnya itu dalam amal nyata.

95. Begitulah Daya Memahamkan; dimulai dengan sikap jiwa yang adil, haus ilmu, dan rendah hati terhadap pembaca kita, lalu dikuatkan..

96. ..dengan tekad bulat tuk menjadi orang pertama nan mengamalkan tulisan, dan berbagi pada pembaca dengan hangat, akrab, penuh cinta.

97. Kali ini, tercukup sekian ya Shalih(in+at) bincang #Write. Maafkan tak melangkah ke hal teknis, sebab banyak nan lebih ahli tentangnya:)

98. Kita lalu tahu; menulis bukanlah profesi tunggal dan mandiri. Ia lekat pada kesejatian hidup sang mukmin; tebar cahaya pada dunia.

99. Maka menulis hanya salah satu konsekuensi sekaligus sarana bagi si mukmin tuk menguatkan iman, 'amal shalih, dan saling menasehati.

100. Jika ada 'amal lain yang lebih kuat dampaknya dalam ketiga perkara itu; maka kita tak boleh ragu: tinggalkan menulis menujunya.

Demikian kulwit #write dari Salim A. Fillah. "Rahasia Menulis – Salim A. Fillah" hanyalah judul yang diberikan Bersama Dakwah untuk memudahkan pembaca, mohon maaf jika malah mengurangi daya ketuk, daya isi, dan daya memahamkan kulwit ini. Kepada Ustadz Salim A. Fillah kami sampaikan jazaakallah khairan katsir, jazaakallah ahsana jazaa atas izin dan ilmunya.

Selasa, 26 Juni 2012

Kecerdas Spiritual Menurut Islam

Asslamualaikum warahmatullah wabakatuh
Bismillahirrahmanirrahim


"Orang yang cerdas adalah mereka yang mampu mengendalikan nafsunya dan beramal (berbuat) untuk masa sesudah mati, sedang orang yang lemah ialah mereka yang mengikuti nafsunya dan berangan-angan kepada Allah". (HR. Imam Ahmad)

Menurut Hadist ini, kecerdasan sesorang dapat diukur dari kemampuannya dalam mengendalikan hawa nafsunya (cerdas emosi) dan mengorientasikan semua amalnya pada kehidupan sesudah mati (cerdas spiritual). Mereka yakin bahwa ada kehidupan setelah kematian, mereka juga percaya bahwa setiap amalan di dunia sekecil apapun akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah swt.

Keyakinan tentang keabadian, menjadikannya lebih berhati-hati dalam menapaki kehidupan di dunia ini, sebab mereka percaya bahwa kehidupan ini tidak sekali di dunia ini saja, tapi ada kehidupan yang lebih hakiki. Dunia adalah tempat menanam, sedangkan akhirat adalah tempat memanen. Siapa yang menanam padi akan menuai padi. Siapa yang menanam angin akan menuai badai.

Tidak hanya bersikap hati-hati, orang yang cerdas spiritual nya lebih bersemangat, lebih percaya diri dan lebih optimis. Mereka tidak pernah ragu-ragu berbuat baik, sebab jika kebaikannya tidak bisa dinikmati saat di dunia mereka masih bisa berharap mendapatkan balasannya di akhirat nanti. Jika tidak bisa dinikmati sekarang, amal kebaikan itu akan berubah menjadi tabungan atau deposito secara otomatis yang kelak akan dicairkan justru pada saat mereka sangat membutuhkan di alam kehidupan sesudah mati.

Saat menanam pohon, misalnya mereka sangat antusias. Mereka yakin jika pohon tersebut nantinya berbuah tidak ada yang sia-sia sekalipun buahnya dimakan burung atau dimakan orang lain. Sekalipun ia tidak menikmati buah itu di dunia ini, ganjaran nya akan dipetik di akhirat nanti.

Orang-orang ini, ketika melihat ketidakadilan di dunia tidak segera putus asa. Sekalipun para koruptor bebas berkeliaran, sedang orang-orang sholeh justru dipenjarakan, mereka tetap memandang dunia dengan pandangan yang positif. Mereka tetap berjuang menegakan keadilan, sekalipun keadilan yang hakiki barus dirasakan kelak di akhirat. Di depan mahkamah Illahi tidak ada barang bukti yang hilang atau sengaja dihilangkan. Mulut dikunci dan semua anggota tubuh bersaksi.

Ciri orang yang cerdas sebenarnya telah tampak jelas dalam derap langkahnya, ketika mereka membuat rencana, saat mengeksekusi rencananya dan pada saat melakukan evaluasi. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari saat sendirian atau dalam interaksi sosialnya nampak wajah nya yang senantiasa bercahaya , memancarkan energi positif, menjadi magnet power, penuh motivasi, menjadi sumber inspirasi, dan berfikir serta bertindak positif. Mereka akan bersikap baik dan benar baik ketika ditengah keramaian maupun disaat sendirian karena dimanapun dia berada merasa dilihat oleh Allah.

Orang seperti ini mempunyai integritas, sesuai antara hati, kata dan perbuatannya, selaras antara apa yang ada dalam hatinya, ucapan dan perbuatannya.

Orang yang cerdas emosi dan spiritual enak diajak bergaul, karena mereka telah terbebas dari su’udzon (buruk sangka, hasad (iri atau dengki) dan takabur (menyombongkan diri). Orang-orang inilah yang memiliki potensi untuk meraih sukses di dunia sekaligus sukses menikmati kehidupan surgawi di akhirat nanti.

Semoga Allah SWT menganugrahi kepada kita gabungan tiga kecerdasan sekaligus, yaitu kecerdasan intelektual, kecerdasan spiritual dan kecerdasan emosional. 

Aamiin

By: Mencari Rezeky

Kamis, 03 November 2011

Haruskah Shaum Arafah Sama Harinya dengan Wukuf?

T. Djamaluddin
Anggota Badan Hisab Rukyat Kementerian Agama RI


Terkait dengan perbedaan Idul Adha, saya sudah menjelaskan sebab-sebabnya di


Namun yang masih sering ditanyakan adalah “mengapa kita tidak mengikuti saja wukuf di Arafah?” Persoalan yang paling mendasar adalah apakah ada dalil yang secara tegas memerintahkan shaum Arafah bersamaan saat jamaah haji berwukuf? Menurut kaidah fikih, suatu ibadah hanya dilaksanakan bila ada dalil yang memerintahkannya.

Dalil yang ada (merujuk pada situs HTI) hanya ini:

«فِطْرُكُمْ يَوْمَ تُفْطِرُوْنَ وَأَضْحَاكُمْ يَوْمَ تُضَحُّوْنَ، وَعَرَفَةُ يَوْمَ تُعَرِّفُوْنَ»

Hari Raya Idul Fitri kalian adalah hari ketika kalian berbuka (usai puasa Ramadhan), dan Hari Raya Idul Adha kalian adalah hari ketika kalian menyembelih kurban, sedangkan Hari Arafah adalah hari ketika kalian (jamaah haji) berkumpul di Arafah. (HR as-Syafii dari ‘Aisyah, dalam al-Umm, juz I, hal. 230).

Tidak ada seorang pun yang mengingkari hadits ini bahwa wukuf dilaksanakan pada hari Arafah. Hari Arafah hanya penamaan 9 Dzulhijjah, sama halnya dengan Yaum Nahar untuk 10 Dzulhijjah, dan Yaum Tasyrik untuk 11-13 Dzulhijjah. Karena Yaum Arafah hanya penamaan hari, maka sebagian besar ulama di Indonesia dan Malaysia serta beberapa negera lainnya memahaminya bahwa hari itu bisa ditentukan secara lokal tergantung kondisi hilalnya.

Di wilayah sekitar Arafah, shaum Arafah dilaksanakan bersamaan dengan wukuf karena di sana pun 9 Dzulhijjah. Di tempat lain, shaum Arafah juga dilaksanakan pada hari Arafah (artinya 9 Dzulhijjah) yang ditentukan secara lokal, namun belum tentu bersamaan dengan wukuf. Kalau pelaksanaan shaum Arafah yang tidak bersamaan dengan wukuf dianggap kesalahan, anggapan itu haruslah didukung dalil qath’i yang tegas memerintahkan shaum Arafah saat jemaah haji sedang wukuf. Sayangnya dalil qath’i (tegas) seperti itu tidak ada atau belum saya temukan.

Belum lagi masalah beda waktu untuk wilayah yang jauh dengan Arab Saudi yang juga harus difahami. Tidak sekadar menyamakan hari (misalnya Senin wukuf, shaum juga harus Senin) yang pada dasarnya merujuk pada definisi hari garis tanggal internasional (hasil konvensi manusia), bukan hari menurut garis tanggal qamariyah (murni aturan Allah sesuai sunnatullah). Tanpa pemahaman fisik bulatnya bumi, kita bisa terjebak pada konsep kesamaan hari konvensi buatan manusia dengan mengabaikan hakikat hari menurut kaidah qamariyah. Dengan kata lain, karena ketidaktahuan konsep fisisnya, niat ikhlas menerapkan syariat bisa terbelokkan oleh penafsiran manusiawi yang mementingkan kesamaan hari dalam konsep garis tanggal internasional dan mengabaikan konsep hari menurut garis tanggal qamariyah.

Perbedaan pemaknaan hari Arafah dan implementasinya bisa berdampak pada perbedaan penentuan hari Idul Adha. Hari Idul Adha adalah tanggal 10 Dzulhijjah, arinya keesokan hari setelah Hari Arafah.

Sumber:
http://tdjamaluddin.wordpress.com/2010/11/16/haruskah-shaum-arafah-sama-harinya-dengan-wukuf/

Memahami Perbedaan Idul Adha 1431/2010 dan Keseragaman Idul Adha 1432/2011

Thomas Djamaluddin
Profesor Riset Astronomi Astrofisika/Peneliti Utama IVe di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dan Anggota Badan Hisab Rukyat Kementerian Agama.


Perbedaan Idul Fitri 1432/2011 baru lalu telah mendorong keingintahuan masyarakat tentang sebab terjadinya perbedaan. Walau awalnya banyak memicu ketidaksukaan dengan kritik keras atas kriteria wujudul hilal yang masih diamalkan saudara-saudara kita di Muhammadiyah, namun keriuhan itu ada juga dampak posisitifnya. Masyarakat makin banyak yang menyadari bahwa perbedaan hari raya bukan disebabkan oleh perbedaan metode hisab (perhitungan) dan rukyat (pengamatan), tetapi oleh perbedaan kriteria hisab-rukyat. Di kalangan intern Muhammadiyah  juga mulai tumbuh kesadaran untuk memahami hakikat hisab yang tidak sekadar bertaqlid pada hisab wujudul hilal (asal hilal di atas ufuk), tetapi memungkinkan juga hisab imkanur rukyat (kemungkinan bisa dirukyat).

Untuk penetapan Idul Adha 1432/2011, perbedaan Idul Fitri baru lalu seolah masih terbawa. Banyak dugaan bahwa karena Idul Fitri berbeda, maka Idul Adha mestinya berbeda juga. Nyatanya tidak ada perbedaan. Kok bisa?  Ya, potensi keseragaman Idul Adha 1432/2011 dapat diprakirakan jauh-jauh hari sebelumnya. Metode hisab (baik wujudul hilal maupun imkan rukyat) memang bisa menghitung posisi dan kondisi ketampakan hilal. Jadi, bukan hanya ormas Muhammadiyah yang dapat menghitung jauh hari sebelumnya, tetapi juga semua ormas Islam lainnya. Saat ini hisab hanya memerlukan pengetahuan dasar soal komputer, walau untuk pendalaman nantinya perlu juga pemahaman konsep astronomi. Perangkat lunak astronomi yang dimanfaatkan oleh ahli dan peminat hisab kini mudah diperoleh, baik yang gratis diunduh di internet maupun yang bersifat komersial.

Untuk memahami terjadinya perbedaan dan keseragaman penentuan hari raya, khususnya dalam penentuan Idul Adha yang melibatkan Arab Saudi, berikut ini dibahas hasil hisab awal Dzulhijjah 1431/2010 dan 1432/2011. Visualisasi dalam bentuk kontur hasil hisab menggunakan peta garis tanggal dari perangkat lunak hisab “Accurate Time” oleh Mohammad Odeh yang ditampilkan di dalam situs ICOP (Islamic Crescents Observation Project).


Pertama kita kaji penetapan awal Dzulhijjah 1431/2010. Garis ketinggian bulan nol ditandai dengan kontur yang memisahkan wilayah berarsir merah dan wilayah tanpa arsir. Wilayah berarsir merah merupakan wilayah yang mustahil untuk melihat hilal karena pada saat maghrib bulan telah berada di bawah ufuk. Di wilayah tanpa arsir, bulan telah berada di atas ufuk, tetapi tidak mungkin bisa dirukyat karena cahaya hilal terganggu cahaya senja. Garis merah yang ditambahkan adalah garis ketinggian bulan 2 derajat yang menjadi kriteria imkan rukyat yang disepakati di Indonesia. Atas dasar kontur posisi bulan (atau hilal) tersebut, Muhammadiyah menetapkan bahwa pada saat maghrib 6 November 2010 hilal sudah di atas ufuk (wujudul hilal) sehingga 1 Dzulhijjah 1431 jatuh pada 7 November 2010 dan Idul Adha 10 Dzulhijjah 1431 jatuh pada 16 November 2010. Sementara menurut kriteria imkan rukyat, hilal yang terlalu rendah itu tidak mungkin bisa terlihat dan dibuktikan juga dengan hasil rukyat saat maghrib 6 November 2010 yang tidak berhasil sehingga 1 Dzulhijjah 1431 jatuh pada 8 November 2010 dan Idul Adha jatuh pada 17 November. Itulah keputusan Pemerintah RI saat sidang itsbat. Maka di Indonesia terjadi perbedaan Idul Adha 1431/2010 karena perbedaan kriteria.

Pada sisi lain, Arab Saudi menerima kesaksian pada maghrib 6 November 2010, walau secara astronomi itu tidak mungkin terjadi.Atas dasar klaim rukyat itu, Arab Saudi menetapkan 1 Dzulhijjah 1431 jatuh pada 7 November 2011 sehingga wukuf pada 15 November 2010 dan Idul Adha pada 16 November 2010. Saudara-saudara kita yang merayakan Idul Adha berdasarkan penetapan Idul Adha di Arab Saudi juga melaksanakan Idul Adha 16 November 2010, berbeda dengan penetapan Pemerintah RI. Maka berbedaan Idul Adha juga bisa disebabkan oleh perbedaan penetapan dengan Arab Saudi. Perlu diketahui bahwa di Indonesia sebagian besar ulama berpendapat bahwa shaum (puasa) Arafah dan Idul Adha ditentukan secara lokal. Nama shaum Arafah tidak harus dikaitkan dengan wukuf di Arafah, karena hari Arafah dimaknai secara umum sebagai 9 Dzulhijjah. Sama dengan penamaan hari lainnya, seperti hari Tarwiyah pada 8 Dzulhijjah, hari Nahar (qurban) pada 10 Dzulhijjah, dan hari Tasyriq pada 11 – 13 Dzulhijjah. Pada hari Arafah di wilayah Arafah (di Arab Saudi) dilaksanakan wukuf, sedangkan di tempat lain dilaksanakan shaum Arafah, tidak harus bersamaan harinya, tetapi bersamaan tanggal qamariyahnya 9 Dzulhijjah.


Bagaimana garis tanggal awal Dzulhijjah 1432/2011? Hasil hisab menunjukkan bahwa garis ketinggian hilal 0 derajat dan garis imkan rukyat 2 derajat jauh di sebelah Utara Indonesia. Di wilayah Indonesia ketinggian hilal sudah cukup tinggi, sekitar 6 derajat. Berdasarkan kriteria astronomi, pada saat maghrib 27 Oktober 2011 hilal memungkinkan untuk bisa dirukyat, walau memerlukan alat optik seperti teleskop. Dan itu terbukti dengan hasil pengamatan di Gresik yang saksinya disumpah Pengadilan Agama setempat. Ada saksi lain di Cakung Jakarta Timur dan Bas Mall Jakarta Barat yang tidak disumpah Pengadilan Agama. Dengan hasil hisab dan rukyat itu, Pemerintah pada sidang itsbat menetapkan awal Dzulhijjah 1432 jatuh pada 28 Oktober 2011 sehingga Idul Adha jatuhn pada 6 November 2011. Garis tanggal tersebut juga menunjukkan potensi hasil rukyat di Arab Saudi sama dengan di Indonesia. Dengan demikian seperti diduga sebelumnya keputusan Arab Saudi menetapkan awal Dzulhijjah 1432 jatuh 28 Oktober 2011, wukuf di Arafah pada 5 November 2011, dan Idul Adha pada 6 November 2011.

Alhamdulillah tahun ini Idul Adha seragam, baik secara nasional di Indonesia, maupun bila dibandingkan dengan Arab Saudi. Tetapi suatu saat nanti kita akan dipusingkan lagi dengan potensi perbedaan selama kriteria yang digunakan ormas-ormas Islam berbeda. Marilah kita mencari titik temu kriteria hisab rukyat, sehingga keseragaman hari raya dan awal Ramadhan benar-benar keseragaman yang hakiki, bukan karena posisi bulan yang cukup tinggi yang jauh dari potensi perbedaan. Sedangkan perbedaan dengan Arab Saudi, mungkin suatu saat akan terjadi lagi karena ketampakan hilal bisa saja berbeda antara Indonesia dan Arab Saudi. Tetapi itupun hanya masalah Indonesia lebih dahulu atau belakangan, tidak mungkin sama waktunya dengan Arab Saudi.

Sumber:
http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/11/02/memahami-perbedaan-idul-adha-14312010-dan-keseragaman-idul-adha-14322011/

Rabu, 05 Oktober 2011

Kita Kritisi Wujudul Hilal, Tetapi Kita Semua Mencintai dan Menghormati Muhammadiyah

Oleh: Prof. DR. Thomas Djamaluddin
Profesor Riset Astronomi-Astrofisika LAPAN

Kali ini saya ingin menulis hal non-teknis, karena saya banyak disalahpahami terkait kritik saya terhadap hisab wujudul  hilal Muhammadiyah. Kritik demi kebaikan bersama pernah juga saya sampaikan kepada saudara-saudara kita di NU dan ormas-ormas Islam pengamal rukyat ketika ada hasil rukyat kontroversial saat sidang itsbat penentuan awal Dzulhijjah 1422/Februari 2002. Saat itu posisi bulan sangat rendah dan dari 34 lokasi pengamatan di seluruh Indonesia tidak ada yang melaporkan terlihatnya hilal, kecuali di Cakung. Padahal cuaca di Jakarta mendung dan sempat gerimis sore itu. Namun, saat itu kriteria imkan rukyat tidak digunakan secara ketat. Maka rukyat diterima oleh forum, dengan keberatan dari saya dan wakil Persis. Pada saat itu Menteri Agama terpaksa mengubah keputusan hari libur Idul Adha sehari lebih cepat yang sempat menimbulkan kebingungan bagi pelaku bisnis yang terikat perjanjian yang tiba-tiba terkendala akibat berubahnya hari libur Idul Adha. Tetapi setelah itu NU mau berubah, kembali menerapkan imkan rukyat seperti tahun 1418/1998. Pada Idul Fitri 1427/2006, 1428/2007, dan 1432/2011 NU menolak kesaksian Cakung yang sering kontroversial karena tidak mungkin ada rukyat saat bulan terlalu rendah. Bahkan NU kini sudah melengkapi diri dengan fasilitas hisab-rukyat yang canggih seperti NUMO (NU Mobile Observatory) dan fasilitas lainnya untuk menghindari salah lihat dalam mengamati hilal.

***
Sebaliknya Muhammadiyah tidak pernah berubah. Kalau diumpamakan, saat ini Muhammadiyah ibarat anak bandel yang keras kepala. Wajar, karena beberapa saudara  lainnya dalam keluarga  sebenarnya pernah juga bandel dan keras kepala, tidak patuh pada ayah-ibunya. Ketika hari istimewa, keluarga menginginkan semua berseragam dengan baju baru yang sama supaya suasana kebersamaan dan persaudaraan lebih terasa. Namun anak bandel yang keras kepala ini menolaknya, bersikeras memakai baju usang. Katanya itulah yang pas ukurannya dan enak memakainya, tidak perlu direpotkan dengan aturan memakai baju baru. Saudara-saudaranya menghendaki keseragaman. Saya ibaratnya hanyalah bocah kecil yang senang bantu-bantu di rumah itu yang suka mengkritisi anggota keluarga itu. Saya turut memberi masukan untuk mengganti baju usang itu dengan baju baru yang sudah dipakai saudara-saudara yang lain. Ayah-ibunya yang mengakomodasi semua pendapat menginginkan juga adanya keseragaman. Keputusan ayah-ibunya tersebut tidak dipatuhi oleh “anak bandel yang keras kepala” itu.

Memang benar, “anak bandel yang keras kepala” itu sebenarnya baik dan banyak prestasinya bagi keluarga. Namun soal baju usang, dia terlanjur menganggapnya hal prinsip yang seolah tidak bisa diganggu oleh yang lain. Bahkan saran untuk menggantinya ditanggapinya berlebihan, seolah itu sebagai sikap membenci. Memang lucu, pada penentuan hari istimewa itu si anak dengan sopan minta izin untuk berbeda.  Walau nyata tidak patuh pada ibu-bapaknya, namun tetap meminta hak-haknya sebagai anak untuk dilindungi dari kemungkinan ulah jahil saudara-saudaranya.
Sebagai satu keluarga, tidak mungkinlah ayah-ibunya dan saudara-saudaranya membencinya. Saran untuk mengganti baju usangnya dengan baju baru yang seragam hanya demi kebaikan bersama, supaya para tetangga melihat kesan kebersamaan. Memang benar, sebenarnya baju yang berbeda-beda kan tidak masalah, karena itu bukan masalah prinsip. Tetapi kalau bisa berseragam pada hari istimewa itu tentulah akan lebih baik. Tetangga pun akan melihat keharmonisan keluarga secara lebih nyata. Indah sekali. Saran untuk mengganti baju usang dengan baju baru bukan berarti membenci. Kita semua tetap mencintai dan menghormati. Kecintaan dan penghormatan akan lebih menguat kalau di dalam keluarga itu bisa berseragam pada hari istimewa. Ya, hanya keseragaman pada hari istimewa, bukan keseragaman dalam segala hal.

(Peran dalam ibarat perumpamaan  tersebut di atas: Ummat IslamIndonesia ibarat satu keluarga. Pemerintah ibarat ayah-ibu yang mengayomi. Ormas-ormas Islam ibarat anak-anak yang kadang bandel dan keras kepala, tidak patuh pada ayah-ibu, tetapi tetap minta perlindungan ayah-ibu. Kriteria hisab-rukyat ibarat baju yang ingin diseragamkan dengan kesepakatan. Saya pada kisah ini hanyalah ibarat bocah kecil yang suka bantu-bantu, namun perannya tidak seberapa dibandingkan anggota keluarga lainnya. Ummat lain ibarat para tetangga.)
***

Jadi, kritik soal kriteria wujudul hilal yang usang dan saran untuk menggantinya dengan kriteria imkan rukyat yang lebih baru, bukanlah bentuk kebencian. Kita semua mencintai dan menghormati Muhammadiyah yang sudah banyak berkontribusi bagi bangsa ini. Mengapa persatuan ini penting saat ini? Ketika tekanan masalah sosial semakin berat, kesenjangan dan perbedaan mudah disulut untuk menjadi bibit permusuhan. Lihatlah kenyataan saat ini. Hal-hal sepele bisa jadi pemicu tawuran pelajar antarsekolah, tawuran pemuda antarkampung, tawuran mahasiswa antarfakultas, dan perang terbuka antaretnis. Padahal kalau kita lihat di masyarakat awam, masalah hari raya adalah masalah halal-haram yang sangat prinsip. Masyarakat yang awam fikih mudah menyatakan pihak lain melakukan pelanggaran agama. Saudara-saudara kita yang berbuka lebih dahulu bisa dianggap melanggar aturan puasa. Sementara saudara-saudara yang lain yang masih berpuasa bisa dianggap melakukan hal haram karena berpuasa pada hari idul fitri.

Dari perbedaan itu awalnya mungkin sekadar saling ledek dalam gurauan. Tetapi siapa bisa menduga hal sepele seperti itu bisa memicu pertengkaran yang lebih hebat. Beberapa tahun lalu saya mendengar cerita dari seorang hakim agung peradilan agama bahwa di Sulawesi dulu (sekitar 1930-an) pernah terjadi keributan gara-gara perbedaan hari raya. Kita tidak boleh menyederhanakan hal-hal yang berpotensi menimbulkan konflik, walau kita juga tidak boleh membesar-besarkannya. Namun mencegah konflik lebih baik daripada memeliharanya. Dengan adanya perbedaan kriteria, kita sudah bisa memprakirakan tahun-tahun yang berpotensi terjadi perbedaan.

Saya masih terus akan mengangkat tema ini untuk menyadarkan kita semua, bahwa potensi perbedaan akan terus terjadi selama masalah perbedaan kriteria tidak diselesaikan. Kalau khilafiyah (perbedaan) hisab dan rukyat kini bisa diatasi dengan titik temu hisab-rukyat dengan kriteria imkan rukyat, mengapa hisab kriteria wujudul hilal yang antirukyat tetap dipertahankan? Kalau kita bisa bersatu, mengapa kita harus memelihara perbedaan? Kita mengkritisi kriteria wujudul hilal Muhammadiyah, tetapi kita semua tetap mencintai dan menghormati Muhammadiyah. Tokoh-tokoh Muhammadiyah yang biasa juga mengkritik mestinya memahami fungsi kritik demi kebaikan. Jadi tak perlu merasa “kebakaran jenggot” dengan menyebut pengkritik sebagai provokator. Semoga kita bisa bersatu demi ummat.

Sumber
http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/10/05/kita-kritisi-wujudul-hilal-tetapi-kita-semua-mencintai-dan-menghormati-muhammadiyah/

Minggu, 04 September 2011

Kenapa Ada Dua Hari Raya?: Suatu Kajian yang Menelisik Akar Permasalahan


(Catatan ini memang mengenai lebaran thn 2007, tapi mengingat kejadian yang cukup meresahkan ini kembali terulang di thn 2011, maka saya merasa perlu untuk menggali akar permasalahannya agar kita bisa secara bijak menyikapinya dan dapat sedikit berkontribusi dengan ajukan solusinya tentang bagaimana pendapat para pakar mengatasi hal ini, pada postingan berikutnya - Admin)
Lebaran di tahun 2007 atau tahun 1428 Hijriah ini lagi-lagi umat Islam di Indonesia dihadapkan pada pilihan dua hari raya Idul Fitri yang berbeda. Sebuah ormas Islam telah menetapkan sejak awal Ramadhan bahwa Idul Fitri akan jatuh pada tanggal 12 Oktober. Sedangkan pemerintah, meskipun baru akan mengumumkan setelah sidang Isbat tanggal 11 Oktober malam, namun kalender yang telah beredar telah ’terlanjur’ berwarna merah di tanggal 13 Oktober. Ketika tulisan ini dibuat, sidang Itsbat telah dilaksanakan tadi malam dan pemerintah telah mengumumkan bahwa hari raya Idul Fitri akan jatuh pada tanggal 13 Oktober 2007 (seperti yang telah diperkirakan oleh hampir semua umat Islam di Indonesia). Sebelumnya saya telah sering bersu’uzon alias berburuk sangka pada pemerintah maupun orang-orang yang selalu memutuskan lebaran setelah genap 30 hari Ramadhan atau tepat di tanggal merah kalender. Karena dari yang pernah saya baca, Rasulullah hampir tidak pernah berpuasa hingga 30 hari. Tapi setelah menemukan beberapa artikel astronomi tentang hilal saya akhirnya tahu bahwa sebenarnya memang bukannya tidak mungkin ada dua pendapat jatuhnya hari raya (antara 29 atau 30 hari Ramadhan) dan dua-duanya sama-sama memiliki landasan dalil yang kuat. Bagaimana sebenarnya yang terjadi sampai bisa lahir dua pendapat yang berbeda? Apa sih hilal itu dan apa yang dilihat para pengamat hilal sampai bisa memutuskan dua pendapat yang tidak sama?
Bulan di tahun Hijriah dihitung berdasarkan peredaran bulan terhadap bumi atau satu bulan sama dengan satu kali bulan mengelilingi bumi. Awal bulan ditandai dengan munculnya hilal atau bulan baru berbentuk bulan sabit tipis yang tiap hari akan semakin membulat hingga terjadi bulan purnama di tengah bulan. Setelah itu bulan akan kembali berbentuk sabit hingga tiba di akhir bulan yang dinamakan dengan bulan mati atau bentuk sabit yang paling tipis.


Jalur peredaran bulan mengelilingi bumi hampir sejajar dengan matahari. Sehingga suatu saat bulan bisa berada di antara bumi dan matahari atau suatu saat berada di belakang bumi yang menghadap matahari. Seperti kita ketahui, bulan purnama terjadi karena sisi bulan yang menghadap bumi mendapat sinar matahari seluruhnya. Pada saat ini posisi matahari, bumi dan bulan berurutan sehingga juga berpotensi terjadi gerhana bulan jika posisinya persis sejajar (bumi menghalangi sinar matahari ke bulan). Sedangkan bulan sabit terjadi ketika bulan berada di antara bumi dan matahari sehingga juga berpotensi gerhana matahari jika posisinya persis sejajar (bulan menghalangi cahaya matahari ke bumi). Itulah mengapa kadang kita bisa melihat bulan di siang hari, karena memang posisinya sedang berada satu langit dengan matahari kalau dipandang dari bumi. Nah, bulan baru adalah ketika posisi matahari, bulan dan bumi berada segaris (yang kalau bulan persis menghalangi matahari maka akan terjadi gerhana matahari) yang dalam astronomi disebut dengan istilah konjungsi atau ijtimak kalau dalam Islam. Atau tepatnya, konjungsi itu terjadi ketika dua benda langit tersebut (dalam hal ini bulan dan matahari) berpapasan. Jadi usia satu bulan adalah mulai dari ijtimak (bulan berpapasan dengan matahari) sampai ijtimak lagi. Namun, Ijtima itu sendiri tidak dapat dijadikan patokan penentuan bulan baru karena perbandingan ukuran piringan bulan dan piringan matahari tidak tetap. Jadi digunakan patokan lain, yaitu garis ufuk atau horizon. Yaitu setelah terjadi ijtimak, setelah matahari tenggelam, maka bulan baru akan muncul di atas ufuk (tanpa melihat berapa derajat ketinggiannya dari ufuk). Itulah hilal.






Seperti kita ketahui, bulan terbit di timur dan tenggelam di barat, sama seperti matahari. Begitu pula saat bulan bertemu matahari, bulan dan matahari juga terbit dari timur dan kemudian tenggelam di barat. Namun ternyata, bulan semakin lama semakin lebih timur dari matahari karena lebih dekat dengan bumi sehingga memiliki gerak semu ke timur yang lebih cepat dari matahari (matahari juga bergerak semu ke timur terhadap bumi). Sehingga suatu saat bulan akan menyalip (melewati atau berpapasan dengan) matahari. Yang sebelumnya bulan lebih barat maka bulan akan menyalip matahari dan menjadi lebih timur atau menjadi lebih terlambat terbit dan tenggelamnya (hingga suatu saat nanti di sekitar tanggal 14-15 hijriah bulan yg sudah jadi purnama benar-benar baru terbit setelah matahari tenggelam). Nah, sebelum bulan menyalip matahari atau sebelum terjadi konjungsi atau ijtimak, bulan disebut dengan bulan mati atau akhir bulan. Namun begitu bulan berhasil menyalip matahari dia akan menjadi bulan baru.

Pada tanggal 11 Oktober kemarin, ijtimak atau konjungsi bulan dan matahari (dan juga bumi) terjadi kira-kira pukul 12 siang di Indonesia bagian barat (WIB) atau sekitar pukul 14 WITA. Beberapa jam kemudian saat matahari tenggelam dan bulan juga sama-sama tenggelam (ketinggian hilal 0o atau bulan saat itu masih berpapasan dengan matahari) posisinya adalah persis di tengah-tengah Indonesia. Artinya, saat bulan belum mulai menyalip matahari, posisinya masih di timur Indonesia, dan ketika berhasil menyalip, mereka telah berada di barat Indonesia. Jadi ketika para pengamat hilal menantikan munculnya bulan baru saat matahari tenggelam di Yogya (termasuk bagian barat Indonesia), bulan belum lama menyalip matahari, sehingga ketinggiannya bahkan belum mencapai 1o dari ufuk/horizon (ketinggian diukur dari sudut bulan terhadap pengamat dan ufuk. Bukan jarak langsung antara ufuk dan bulan) sebelum akhirnya tenggelam. Atau dengan kata lain bulan belum jauh lebih timur dari matahari. Bahkan di Jayapura (sebelah timur Indonesia), bulan sudah keburu tenggelam lebih dulu sebelum matahari tenggelam (belum sempat menyalip matahari). Sehingga menurut salah satu kriteria rukyatul hilal (melihat hilal) yang mensyaratkan ketinggian ufuk di atas 2o maka saat itu belum dianggap terjadi bulan baru. Jadi malam hari itu pun dianggap belum memasuki 1 Syawal (menurut penanggalan Hijriah, awal hari adalah setelah matahari tenggelam alias setelah Maghrib) dan bulan Ramadhan pun menjadi genap 30 hari untuk seluruh Indonesia yang merupakan satu kesatuan hukum.
Hilal 11 Oktober 2007 di Jayapura

Hilal 11 Oktober 2007 di Yogyakarta
Lalu bagaimana dengan yang memutuskan 1 Syawal jatuh di hari Jumat tanggal 12 Oktober. Dan bagaimana pula di Arab Saudi seringkali lebih bisa mengatakan telah melihat bulan baru dan memutuskan lebaran lebih dulu padahal Indonesia terletak lebih timur sehingga seharusnya Arab Saudi tidak mungkin melihat bulan baru duluan. Kembali ke penjelasan sebelumnya, sebenarnya memang Indonesia telah menyaksikan bulan baru lebih dulu. Hanya saja saat matahari tenggelam, bagian barat Indonesia hanya sempat menyaksikan bulan yang baru saja menyalip matahari sebentar saja. Atau dengan kata lain, saat bulan baru saja menyalip matahari, posisinya sudah hampir tenggelam (kurang dari 1o tingginya dari ufuk). Bahkan di Jayapura yang lebih timur lagi bulan sudah keburu tenggelam duluan. Jadi malam tersebut masih dianggap belum termasuk ke dalam awal bulan berikutnya atau belum memasuki Syawal. Nah, di Arab Saudi yang lebih barat, matahari dan bulan lewat di atas langit mereka lebih telat daripada di Indonesia. Karena selisih sekitar empat jam, ijtimak atau konjungsi terjadi sekitar pukul delapan pagi. Jadi kalau di Indonesia bulan baru berhasil menyalip matahari di sore hari beberapa saat setelah matahari tenggelam, di Arab Saudi bulan sudah berhasil menyalip matahari lebih siang. Sehingga saat matahari tenggelam mereka masih bisa dengan mudah melihat hilal atau bulan baru yang masih tinggi di atas ufuk sebelum bulan tersebut akhirnya juga tenggelam. Akhirnya, mereka pun dapat menetapkan bahwa bulan baru telah muncul dan malam tersebut adalah malam 1 Syawal.
Kemudian para umat Islam di Indonesia yang biasa mengikuti Arab Saudi akan mengikuti ketetapan tersebut dan berlebaran di hari Jumat. Atau hal ini bisa juga terjadi di Idul Adha karena kita juga disunnahkan berpuasa di hari yang sama saat jamaah haji berwukuf di Arafah pada 9 Dzulhijah atau sehari sebelum hari raya Idul Adha. Selain itu, ada lagi yang dinamakan prinsip atau kriteria wujudul hilal. Kalau sebelumnya kita membahas keputusan yang didapat dari melihat (rukyat) hilal secara langsung, maka ada lagi yang menafsirkan perintah melihat yang sesuai hadist Nabi itu dengan melihat secara akal atau melalui perhitungan astronomi. Karena teknologi sekarang sudah memungkinkan untuk memperkirakan kapan hilal akan muncul, meskipun tidak nampak oleh mata atau kurang dari 3 derajat dari ufuk maka dengan prinsip wujudul hilal akan ditetapkan bahwa hilal telah nampak. Karena wujud bulan sudah berupa hilal atau bulan baru.
Jadi inilah yang mengakibatkan adanya perbedaan penetapan 1 Syawal atau sebenarnya dalam setiap penetapan awal bulan di tahun Hijriyah. Selain karena masalah penglihatan yang kadang terhalang mendung, para penganut rukyatul hilal juga harus mememuhi beberapa kriteria penglihatan hilal yang di antaranya adalah jarak ketinggian bulan dari ufuk. Sedangkan untuk wujudul hilal, asalkan bulan telah berwujud bulan baru di manapun posisinya maka sudah dinyatakan sebagai bulan baru.
Dua pendapat ini sepengetahuan saya adalah hasil dari ijtihad yang sama kuatnya karena dilandasi dalil-dalil yang sama-sama shahih. Sehingga umat Islam yang telah memilih salah satu bisa dikatakan benar dan tidak berhak menyalahkan pendapat yang lain. Memang, harapannya dalam satu negara atau wilayah hukum ada satu keputusan saja. Seperti yang terjadi di Malaysia atau Arab Saudi sendiri, meskipun ada yang menyatakan melihat, tidak melihat atau menyatakan wujud, tapi tetap hanya ada satu keputusan mengenai bulan baru yang diikuti oleh seluruh umat Islam di negeri tersebut. Semoga suatu saat nanti di Indonesia pun bisa terjadi persatuan umat seperti itu.
Sumber :

http://rukyatulhilal.org/index.html

http://ananta.wordpress.com/2007/10/01/seputar-penetapan-1-syawal/

http://yulian.firdaus.or.id/2007/10/05/wujudul-hilal/

http://rinto.wordpress.com/2007/10/12/kenapa-ada-dua-hari-raya/
Dan artikel-artikel lain dalam website-website di atas