Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Agustus 2012

Mukjizat Nabi Membelah Bulan

 (By:Prof. dr. Zaghlul Al-Najar, salah seorang warga Inggris)


Bismillahirrahmanirrahim 

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, 

 
Berbagai macam mukjizat telah diberikan Allah SWT kepada kekasihNya Rasullah Muhammad SAW, untuk memberi kebenaran atas Kerasulan yang disandangnya. Salah satu mukjizat dari Rasulullah Muhammad SAW, ialah “Membelah Bulan”. Sebagaimana hadits riwayat Abdullah bin Mas`ud Radhiyallahu’anhu berikut ini, ia berkata :

“Bulan terbelah menjadi dua pada masa Rasulullah SAW lalu Rasulullah SAW bersabda : Saksikanlah oleh kalian.” (Shahih Muslim No. 5010) 

Hadist riwayat Anas RA, dia berkata : “Penduduk Makkah meminta kepada Rasulullah SAW untuk diperlihatkan kepada mereka satu mukjizat (tanda kenabian), maka Rasulullah SAW memperlihatkan kepada mereka mukjizat terbelahnya bulan sebanyak dua kali.” (Shahih Muslim No. 5013) 

Dalam temu wicara di televisi bersama pakar Geologi Muslim, Prof. dr. Zaghlul Al-Najar, salah seorang warga Inggris mengajukan pertanyaan kepadanya, apakah ayat dari surat Al-Qamar memiliki kandungan mukjizat secara ilmiah? Maka Prof. dr. Zaghlul Al-Najar menjawabnya sebagai berikut :
“Tentang ayat ini, saya akan menceritakan sebuah kisah. Sejak beberapa waktu lalu, saya mempresentasikan di Univ. Cardif, Inggris bagian barat, dan para peserta yang hadir bermacam-macam, ada yang muslim dan ada juga yang bukan muslim. Salah satu tema diskusi waktu itu adalah seputar mukjizat ilmiah dari Al-Qur’an.” 

Salah seorang pemuda yang beragama muslim pun berdiri dan bertanya :
“Wahai Tuan, apakah menurut anda ayat yang berbunyi “Telah dekat hari kiamat dan bulan pun telah terbelah” mengandung mukjizat secara ilmiah?” 

Maka professor pun menjawabnya : 
“Tidak, sebab kehebatan ilmiah dapat diterangkan oleh ilmu pengetahuan, sedangkan mukjizat tidak bisa diterangkan oleh ilmu pengetahuan, sebab ia tidak bisa menjangkaunya. Dan tentang terbelahnya bulan, maka itu adalah mukjizat yang terjadi pada Rasul terakhir Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam sebagai pembenaran atas kenabian dan kerasulannya, sebagaimana nabi-nabi sebelumnya. 

Dan mukjizat yang kelihatan, maka itu disaksikan dan dibenarkan oleh setiap orang yang melihatnya. Andai hal itu tidak termaktub di dalam kitab Allah dan hadits-hadits Rasulullah SAW, maka tentulah kami para muslimin di zaman ini tidak akan mengimani hal itu. 

Akan tetapi, hal itu memang benar termaktub di dalam Al-Qur’an dan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wassalam. dan memang Allah ta’alaa benar-benar Maha berkuasa atas segala sesuatu”.  

Dan setelah selesai Prof. dr. Zaghlul menyampaikan hadits nabi tersebut, berdirilah seorang muslim warga Inggris dan memperkenalkan diri seraya berkata : “Aku daud Musa Pitkhok, ketua Al-Hizb Al-Islamy Inggris. Wahai tuan, bolehkah aku menambahkan?” 

Prof. dr. Zaghlul Al-Najar menjawab : 
“Dipersilahkan dengan senang hati.” 

Daud Musa Pitkhok berkata : 
“Aku pernah meneliti agama-agama (sebelum menjadi muslim), maka salah seorang mahasiswa muslim menunjukiku sebuah terjemahan makna-makna Al-Qur’an yang mulia. Maka, aku pun berterima kasih kepadanya, dan aku pun membawa terjemahan itu pulang ke rumah. dan ketika aku membuka-buka terjemahan Al-Qur’an itu di rumah, maka surat yang pertama aku buka ternyata Al-Qamar. dan aku pun membacanya : 
“Telah dekat datangnya saat itu dan Telah terbelah bulan [1434]. dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: “(Ini adalah) sihir yang terus menerus”. dan mereka mendustakan (Nabi) dan mengikuti hawa nafsu mereka, sedang tiap-tiap urusan telah ada ketetapannya[1435].” (QS. Al-Qamar : 1-3) 
[1434] Yang dimaksud dengan saat di sini ialah terjadinya hari kiamat atau saat kehancuran kaum musyrikin, dan “terbelahnya bulan”, ialah suatu mukjizat nabi Muhammad SAW. 
[1435] Maksudnya, bahwa segala urusan itu pasti berjalan sampai waktu yang Telah ditetapkan terjadinya, seperti: urusan Rasulullah dalam meninggikan kalimat Allah pasti sampai pada akhirnya yaitu kemenangan di dunia dan kebahagiaan di akhirat. sedang urusan orang yang mendustakannya pasti sampai pula pada akhirnya, yaitu kekalahan di dunia dan siksaan di akhirat. 

Maka aku pun bergumam : “Apakah kalimat ini masuk akal?? Apakah mungkin bulan bisa terbelah kemudian bersatu kembali?? Andai benar, kekuatan macam apa yang bisa melakukan hal itu???” 
Maka, aku pun menghentikan dari membaca ayat-ayat selanjutnya, dan aku menyibukkan diri dengan urusan kehidupan sehari-hari. Akan tetapi Allah-lah Yang Maha Tahu tentang tingkat keikhlasan hamba-Nya dalam pencarian kebenaran. 

Maka aku pun suatu hari duduk di depan televisi Inggris. Saat itu ada sebuah diskusi hangat antara presenter seorang Inggris dan 3 orang pakar ruang angkasa Amerika Serikat. Ketiga pakar antariksa tersebut pun menceritakan tentang dana yang begitu besar dalam rangka melakukan perjalanan ke antariksa. 
Daripada itu, diantara diskusi hangat tersebut adalah tentang turunnya astronot menjejakkan kakiknya di bulan, dimana perjalanan antariksa ke bulan tersebut telah menghabiskan dana tidak kurang dari 100 juta dollar. 

Mendengar hal itu, presenter terperangah kaget dan berkata : “Kebodohan macam apalagi ini, dana begitu besar dibuang oleh AS hanya untuk bisa mendarat di bulan?” 

Mereka pun menjawab : “Tidak! Tujuannya tidak semata menancapkan ilmu pengetahuan AS di bulan, akan
tetapi kami mempelajari kandungan yang ada di dalam bulan itu sendiri, maka kami pun telah mendapat hakikat tentang bulan itu, yang jika kita berikan dana lebih dari 100 juta dollar untuk kesenangan manusia, maka kami tidak akan memberikan dana itu kepada siapapun.” 

Maka presenter itu pun bertanya : “Hakikat apa yang kalian telah capai sehingga demikian mahal taruhannya?” 

Mereka menjawab : “Ternyata bulan pernah mengalami pembelahan di suatu hari dahulu kala, kemudian menyatu kembali!” 

Presenter pun bertanya : “Bagaimana kalian bisa yakin akan hal itu?” 

Mereka menjawab : “Kami mendapati secara pasti dari batuan-batuan yang terpisah dan terpotong di permukaan bulan sampai di dalam (perut) bulan. Maka, kami pun meminta para pakar geologi untuk menelitinya, dan mereka mengatakan, “Hal ini tidak mungkin telah terjadi, kecuali jika memang bulan pernah terbelah lalu bersatu kembali”. 

Mendengar paparan itu, ketua Al-Hizb Al-Islamy Inggris mengatakan : “Maka aku pun turun dari kursi dan berkata, “Mukjizat (kehebatan) benar-benar telah terjadi pada diri Muhammad sallallahu alaihi wassallam 1400-an tahun yang lalu. Allah benar-benar telah mengolok-olok AS untuk mengeluarkan dana yang begitu besar, 100 juta dollar lebih, hanya untuk menetapkan akan kebenaran muslimin! Subhanallah.”  
By : Mencari Rezky

Senin, 25 Juni 2012

MUHARRAM

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh


Ini ilmu dari guruku. Semoga bermanfaat buat antum semua.


Saat ABU BAKAR AS-SHIDIQ sakit keras dan ajal hendak tiba, maka ABU BAKAR AS-SHIDIQ menunjuk UMAR BIN KHATTAB menjadi KHALIFAH (Presiden). Perisitiwa itu terjadi tahun 633 Masehi (atau bertepatan dgn semasa pemerintahan Prabu Sudhawarman yg memerintah kerjaan Tarumanegara di Bogor).

Begitu UMAR BIN KHATAB jadi KHALAIFAH, Ia segera meluaskan pengaruhnya. Jika pada masa ABU BAKAR AS-SHIDIQ, kekuasaan Islam masih sebatas di kota Mekah dan Madinah, maka UMAR BIN KHTAAB melebarkan kekuasannya. Ditaklukkannya kawasan Iran, Irak, Palestina, Mesir, Syiria, Afrika Utara, Armenia, dan Romawi.

Dengan makin meluasnya kekuasaan UMAR BIN KHATTAB, mau atau tidak mau diperlukan PENGATURAN ADMINISTRASI YANG BAIK agar MAKIN MEMUDAHAKAN PENGONTROLAN, DAN PELAKSANAAN KOMANDO PEMERINTAHAN. Dan saat UMAR BIN KHATTAB mengecek dokumen-dokumen yg masuk, UMAR BIN KHTTAB mengalami kendala serius. TERNYATA DOKUMEN-DOKUMEN ITU SULIT DIDETEKSI TANGGAL PEMBUATANNYA (hari, tanggal dan tahun). Kalender ARAB sulit untuk dijadikan tolak ukur. Karena Kalender ARAB, tidak ada angka tahunnya.

Untuk memudahkan pemahaman kuberikan ilustrasi sebagai berikut:

"Saya punya Ibu. Suatu hari aku bertanya pada ibuku, kapan ia dilahirkan. Ibuku menjawab bahwa Ia dilahirkan saat orang-orang pakai Karung Goni". --> Waduh, kapan itu adanya karung Goni ? Ibuku tak bisa menjelaskan dengan angka, karena memang tidak sekolah. Tiap-tiap kejadian hanya ditandai dengan kasus. Misalnya, ketika aku bertanya, kapan kakakku lahir ? Ibuku hanya menjawab saat MUSIM TIKUS (maksudnya orang-orang pd membunuhi Tikus). Tapi kapan angkanya, ibuku tak bisa menunjukkan. BEGITU PULALAH KALENDER ARAB, tidak ada angka tahun. Kapan NABI MUHAMMAD LAHIR ? Dijawab Tahun Gajah ? ---> Tahaun gajah itu tahun kapan ???????

Penulisan dokumen Tahun Gajah, tahun Tikus, Tahun Gerhana, dll yg dijumpai UMAR BIN KHATTAB sungguh-sungguh merepotkan KEADMINISTRASIAN NEGARA. Karena itu dipandang penting untuk MEMBUAT KALENDER.

Saat itu salah seorang sahabat Nabi, namanya MUSA AL-ASYARI diangkat oleh UMAR BIN KHATTAB menjadi Gubernur di Kufah (Irak). Suatu ketika MUSA AL-ASYARI mengirimkan surat kepada UMAR BIN KHATTAB. MUSA AL-ASYARI BERKATA bahwa UMAR MENULIS SURAT tanpa ada tanggal, ini sangat merepotkan keadministrasian. Begitu keluhan sang Gubernur.

Di sisi lain UMAR BIN KHATTAB juga sering menerima surat misalnya hanya disebutkan bulan Sya'ban. UMAR pun bingung dan bertanya: Apakah ini Sya'ban yang akan datang atau Sya'ban yang sekarang atau Sya'ban yg sudah lewat ?

Bertitik-tolak dari dua kasus di atas, timbullah tuntutan agar membuat KALENDER, maka UMAR pun mengundang para Sahabat Nabi untuk MUSYWARAH PEMBUATAN KALENDER.

MUSWARAH BERJALAN SERUUUUUUUUU banget. Diperkirakan MUSYAWARAH PEMBUATAN KALENDER bertepatan dgn tahun 640 Masehi.

Dalam rapat itu ALI BIN ABI THOLIB mengusulkan agar peristiwa HIJRAH NABI dijadikan KALENDER ISLAM. Nabi MUHHAMAD HIJRAH bertepatan dgn tanggal 16 Juli 622 Masehi, SEDANGKAN Pembuatan KALENDER thn 640 Masehi.

Usul ALI BIN ABI THOLIB diterima, lalu ditetapkanlah HIJRIAH sebagai KALENDER ISLAM.

Sejak itu pembuatan surat-menyurat langsung menggunakan angka tahun 18 Hijriah (bukan 1 Hijriah, dihitung mundur).

CATATAN:
622 Masehi = 1 Hijriah

Kalender Jawa.

Tidak setiap BANGSA PUNYA KALENDER. Negera AS, Inggris, Perancis, Italia, Rusia, Jerman, Portugis, Belanda, Spanyol, Australia, Afrika, Peru, Brazil, Argentina, Sinegal, Negeria, Malaysia, dll tidak punya KALENDER, tetapi  BANGSA INDONESIA PUNYA KALENDER (kalander Jawa). Itu artinya Kalender jawa adalah Budaya yg tinggi, terbukti hampir semua negara tidak punya kalender. Sayangnya orang Indonesia tidak pandai menghargai budayanya sendiri.

KALENDER JAWA adalah sebuah kalender ISLAMISASI  yg diciptakan SULTAN AGUNG HANYOKRO KUSUMA (Kerjaan Mataram Islam).

Pada tahun 1625 Masehi, Sultan Agung berusaha keras menyebarkan agama Islam di pulau Jawa, salah satu langkah yg ditempuh adalah mengeluarkan dekrit mengubah penanggalan Saka. Sejak saat itu kalender Jawa versi Mataram menggunakan sistem kalender kamariah atau lunar, namun tidak menggunakan angka dari tahun Hijriyah (saat itu tahun 1035 H). Angka tahun Saka tetap dipakai dan diteruskan. Hal ini dilakukan demi asas kesinambungan. Sehingga tahun saat itu yang adalah tahun 1547 Saka, diteruskan menjadi tahun 1547 Jawa, NAMUN PENMAMAAN NAMA BULAN MERUPAKAN ADAPTASI DARI NAMA-NAMA BULAN PADA KALENDER HIJRIAH

Perhatikan nama-nama bulan dalam kalender Jawa

1. SYURA (diambil dari 10 Muharam/hari Asyuro)
2. SAPAR (maksudnya SAFAR, lidah Jawa tidak mengenal F)
3. MULUD (diambil dari peristiwa Maulid Nabi pd Rabbiul Awwl)
4. Bakda Mulud (Setelah Mulud/Rabbiul Akhir)
5. Jumadil Awal (sama
6. Jumadil Akhir (sama)
7. Rejeb (sama)
8. Ruwah (artinya bersih-bersih diri karena mau puasa/Syaaban)
9. Pasa (Puasa/Ramadlln)
10. Sawal (Syawal)
11. Sela (istirahat/Dulkangidah)
12. Besar (Hari Raya Besar, maksudnya Ied/Dzulhijjah)

1 SYURA sama dengan 1 Muharram. Kalender Jawa adalah kalender Budaya Islam. Bukan Hanya milik Jawa, tapi milikik khazanah Islam. Sayangnya Khazanah islam ini tidak dilirik oleh Umat Islam. Disinilah tampak betapa kita membenci ajaran KEMAL MUSTAFA ATTURK, tapi pada saat bersamaan kita mengamalakan ajaran MUSTAFA KEMAL ATTATRUK. Sungguh apa yg disampaikan TAUFIK ISMAIL BENAR ADANYA BAHWA ORANG INDONESIA LUCU-LUCU. hehehhehe

Mungucapkan SELAMAT TAHUN BARU HIJRIAH 1433 ADALAH MUDAh sekali, Yg orang lupa adalah MELAKSANAKAN SPIRIT HIJRAH. MELUPAKAN KHAZANAH BUDAYA ISLAM (termasuk di dalamnya buta terhadap Kalender Jawa) adalah bentuk KETIDAKMAUN DIRI KITA MELAKUKAN HIJRAH. hmmmm... ..*_*

 Oleh AdindaRossita Khumairah NazwaSyakilla  ·

Rabu, 17 Agustus 2011

Jalan Kehidupan M. Natsir

Sudah lebih dari setengah abad lalu Pak Natsir mengingatkan bahwa demokrasi sekuler dapat berujung pada berbagai musibah kemanusiaan. Tanpa intervensi wahyu, manusia dapat terperangkap pada dorongan nafsu hewaniah dan meluncur ke arah anarki, chaos atau faudhau. Pak Natsir amat memahami teori dan praktek demokrasi, tetapi sekaligus melihat dengan jernih keterbatasannya. Theodemokrasi adalah demokrasi yang dibimbing oleh kebenaran wahyu. (M. Amien Rais)

Bangsa Indonesia, seperti halnya bangsa lain, tidak melahirkan banyak negarawan sekalipun memproduksi banyak politikus. Menurut sebuah kasus, negarawan adalah seorang yang memanfaatkan kepemimpinan politiknya secara arif dan waskita tanpa dibarengi kesetiaan sempit.


Sebuah teori kepemimpinan mengatakan negarawan adalah seorang yang memiliki wawasan dan moral yang jernih, konsistensi, persistensi, kemampuan berkomunikasi dan berjiwa besar. Pak Natsir memiliki itu semua.
Indonesia sekarang seakan-akan hidup di sebuah lingkaran setan yang tak terputus: regenerasi kepemim­pinan terjadi, tapi birokrasi dan politik yang bersih, kesejahteraan sosial yang lebih baik, terlalu jauh dari jangkauan. Natsir seolah-olah wakil sosok yang berada di luar lingkaran itu. Ia bersih, tajam, konsisten dengan sikap yang diambil, bersahaja.


Dalam buku Natsir, 70 Tahun Kenang-kenangan Kehidupan dan Perjuangan, ­Ge­orge McTurnan Kahin, Indonesianis asal Amerika yang bersimpati pada perjuangan bangsa Indonesia pada saat itu, bercerita tentang pertemuan pertama yang mengejutkan. Natsir, waktu itu Menteri Penerangan, berbicara apa adanya tentang negeri ini. Tapi yang membuat Kahin betul-betul tak bisa lupa adalah penampilan sang menteri. ”Ia memakai kemeja bertambalan, sesuatu yang belum pernah saya lihat di antara para pegawai pemerintah mana pun,” kata Kahin.


Dia melihat sendiri Natsir mengenakan jas bertambal. Kemejanya hanya dua setel dan sudah butut. Kahin, yang mendapat info dari Haji Agus Salim me­ngenai sosok Natsir, belakangan tahu bahwa staf Kementerian Penerangan mengumpulkan uang membelikan pakaian supaya bos mereka terlihat pantas sebagai seorang menteri.


Mohammad Natsir hidup ketika persahabatan lintas ideologi bukan hal yang patut dicurigai, bukan suatu pengkhianatan. Natsir pada dasarnya antikomunis. Bahkan keterlibatannya kemudian dalam Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), antara lain, disebabkan oleh kegusaran pada pemerintah Soekarno yang dinilainya semakin dekat dengan Partai Komunis Indonesia. Masyumi dan PKI, dua yang tidak mungkin bertemu. Tapi Natsir tahu politik identitas tidak di atas segalanya. Ia biasa minum kopi bersama D.N. Aidit di kantin gedung parlemen, meskipun Aidit menjabat Ketua Central Committee PKI ketika itu.


Dipa Nusantara Aidit, Ketua Comite Central Partai Komunis Indonesia, adalah musuh ideologis nomor satu Mohammad Natsir. Aidit memperjuangkan tegaknya komunisme di Indonesia. Natsir sebaliknya. Tokoh Masyumi itu menginginkan negara dijalankan di atas nilai-nilai Islami. Pertentangan ini membuat keduanya sering berdebat keras di ruang sidang Dewan Perwakilan Rakyat dan Konstituante. Tapi, di luar sidang, keduanya bersahabat.


Inilah sosok multikultural Natsir yang dikenang dengan bangga oleh orang-orang dekatnya. ”Dia tak punya handicap berhubung­an dengan golongan nonmuslim,” ujar Amien Rais. Setelah menyelesaikan studi doktoral di Universitas Chicago pada 1984, Amien yang bekas Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat ini sering menjadi teman ngobrol Natsir. ”Saya kira Pak Natsir banyak menyerap kearifan H.O.S. Tjokroaminoto,” ujar Amien.


Soal hubungan dengan Aidit, Natsir banyak bercerita kepada Yusril Izha Mahendra, Ketua Partai Bulan Bintang. Tatkala masih kuliah di Jakarta, Yusril amat dekat dengan Natsir. Menurut Yusril, Natsir sering tak bisa mengendalikan emosi ketika berdebat dengan Aidit di parlemen. ”Pak Natsir bilang, rasanya dia ingin menghajar kepala Aidit dengan kursi,” kata Yusril.


Tapi, hingga rapat selesai, tak ada kursi yang melayang ke kepala Aidit. Malah, begitu meninggalkan ruang sidang, Aidit membawakannya segelas kopi. Keduanya lalu ngerumpi tentang keluarga masing-masing. Itu terjadi berkali-kali. ”Kalau habis rapat tak ada tumpangan, Pak Natsir sering dibonceng sepeda oleh Aidit dari Pejambon,” Yusril menambahkan.


Mohammad Natsir, sosok artikulatif yang selalu memelihara kehalusan tutur katanya dalam berpolitik, kita tahu, akhirnya tak bisa menghindar dari konflik keras dan berujung pada pembuktian tegas antara si pemenang dan si pecundang. Natsir bergabung dengan PRRI/Perjuang­an Rakyat Semesta, terkait dengan kekecewaannya terhadap Bung Karno yang terlalu memihak PKI dan kecenderungan kepemimpinan nasional yang semakin otoriter. Ia ditangkap, dijebloskan ke penjara bersama beberapa tokoh lain tanpa pengadilan.

Hidupnya tak terlalu berwarna. Apalagi penuh kejutan ala kisah Hollywood: perjuangan, petualangan, cinta, perselingkuhan, gaya yang flamboyan, dan akhir yang di luar dugaan, klimaks. Mohammad Natsir menarik karena ia santun, bersih, konsisten, toleran, tapi teguh berpendirian. Satu teladan yang jarang.

”Kalau aku nanti mati, kalian ikuti Pak Natsir.” Wasiat Kartosoewirjo kepada para pengikutnya.
Majalah Tempo Edisi 21/XXXVII/14 – 20 Juli 2008

Sumber
http://serbasejarah.wordpress.com/2010/02/27/jalan-kehidupan-m-natsir-donlot-biografinya/

Riwayat Hidup Mohamad Natsir, Khadimul Ummah
Mohamad Natsir Da’i Pemandu Umat ( Lahir di Sumatera Barat 17 Juli 1908 – wafat di Jakarta, 6 Februari 1993 )
Mohamad Natsir Datuk Sinaro Panjang, dilahirkan pada tanggal 17 Juli 1908 di di kampung Jambatan Baukia, Alahan Panjang, Kabupaten Solok Provinsi Sumatera Barat. Ia merupakan anak ketiga dari empat bersaudara.
Ayahnya bernama Idris Sutan Saripado, seorang juru tulis kontrolir di masa pemerintahan Belanda. Ibunya bernama Khadijah yang dikenal ta’at memegang nilai-nilai ajaran Islam.
Pada tahun 1934, ia mempersunting Putri Nur Nahar (lahir di Bukittinggi, pada tanggal 28 Mei 1905, dan wafat di Jakarta pada 22 Juli 1991), yang pada pertemuan pertama dengan Bapak Muhammad Natsir adalah salah seorang guru Taman Kanak-Kanak bersubsidi “Arjuna” Bandung dan aktifis JIB. Dari perkawinannya, ia dikarunia 6 orang anak, yakni Siti Mukhlisah (1936), Abu Hanifah (1937), Asma Faridah (1939), Hasnah Faizah (1941), Aisyatul Asriyah (1942), dan Ahmad Fauzi (1944).
Sebagai seorang pegawai bawahan, ayahnya sering berpindah tugas dari satu daerah ke daerah lain. Semula ditugaskan di Alahan Panjang, kemudian dipercaya menjadi asisten demang di Bonjol, menjadi juru tulis kontrolir di Maninjau, lalu dimutasikan sebagai sipir di Bekeru Sulawesi Selatan. Menjelang pensiun, ayahnya dikembalikan lagi ke tempat tugas semula di Alahan Panjang. Kondisi kehidupan orang tuanya yang sering berpindah tugas, ikut mempengaruhi latar belakang pendidikan Mohamad Natsir.
Pada awalnya ia belajar pada Sekolah Rakyat di Maninjau yang memakai bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar. Ketika ayahnya dipindahkan ke Bekeru, ia tinggal bersama paman dan Eteknya Rahim di Padang. Tidak diterima HIS pemerintah, ia masih beruntung dapat mengikuti pendidikan formal di HIS (Hollandsch Inlandschs School) Adabiah, suatu sekolah swasta yang dikelola Haji Abdullah Ahmad dengan sistem pendidikan yang mengacu pada sokolah Belanda yang dilengkapi dengan pelajaran agama Islam.
Lima bulan berselang, ketika di daerah Solok dibuka HIS Negeri, Natsir dipindahkan orang tuanya ke HIS yang baru tersebut dan dititipkan pada Haji Musa seorang saudagar yang cukup terkenal di daerah Solok.
Pada waktu ini, ia tidak hanya belajar di lembaga pendidikan formal. Pada sore hari, ia juga mengikuti pendidikan untuk mendalami pengetahuan agama di Madrasah Diniyah dan pada malam harinya belajar mengaji al-Qur’an di Surau. Disurau itu Mohamad Natsir mulai mempelajari bahasa Arab. Tiga tahun lamanya ia belajar di daerah Solok. Setelah itu, ia pindah ke HIS Padang.
Ketika menamatkan pendidikan di HIS Padang, ia berhasil meraih prestasi yang istimewa sehingga ia diberi kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, yakni MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) dengan mendapatkan beasiswa dari pemerintah Belanda. Di sekolah tersebut, ia belajar bersama-sama dalam satu kelas dengan murid-murid keturunan Belanda. Berangkat dari ketekunannya dalam belajar, akhirnya berhasil merampungkan pendidikannya di MULO Padang dengan prestasi yang memuaskan sehingga ia kembali mendapatkan beasiswa dari pemerintah Belanda. Bea siswa yang diberikan kepada Natsir untuk melanjutkan pendidikan ke AMS (Algemeene Midel school) di Bandung, yakni pendidikan setara SMU untuk jurusan Sastra Barat Kelasik.
Di usianya yang 19 tahun itu ia tinggal di rumah Latifah, eteknya di kota Bandung. Di sekolah ini di samping belajar Bahasa Belanda ia belajar Bahasa Latin dan Kebudyaan Yunani. Di kelas 2 AMS ia sudah sanggup meneliti dan menganalisa “Pengaruh Penanaman Tebu dan Pabrik Gula Bagi Rakyat di Pulau Jawa” dan berani memaparkannya di depan kelas. Menurut Natsir pengaruh itu negatif.
Sebagai seorang yang pernah hidup dalam suasana tradisi religius yang demikian kuat, ia menilai bahwa pola pendidikan yang diterapkan penjajah Belanda tidak sesuai dengan harapannya sebagai pribadi muslim.
Pendidikan
1916-1923 Holland Inlandsche School di Solok/Padang, Madrasah Diniyah di Solok di sore hari.
1916-1924 Melanjutkan ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs), Padang.
1927 – 1930 Algemene Middelbare School, Westers Klasieke Afdeling (AMS A2) Bandung (Lulus dengan nilai tinggi, dan berhak melanjutkan ke Fakultas Hukum di Batavia, sesuai dengan keinginan orang tuanya agar mendapatkan title Mister in de Rechten, atau ke fakultas Ekonomi di Rotterdam, atau menjadi pegawai negeri dengan gaji yang sangat cukup. Tapi ketiganya ditolak oleh Mohamad Natsir, karena ia lebih tertarik kepada masalah-masalah Islam dan gerakan Islam).
1927-1932 Meneruskan studi tentang Islam pada Persatuan Islam Bandung dibawah bimbingan Ustadz A. Hassan.
1931-1932 Kursus guru diploma LO (Lager Onderwijs).
Mohamad Natsir menyelesaikan pendidikan Al-Gemene Middel School di Bandung dalam kajian Kesusastraan Barat Klasik. Sebenarnya beliau punya kesempatan memperoleh beasiswa untuk melanjutkan sekolahnya ke Leiden pada pendidikan yang lebih tinggi.
Namun beliau memilih mendalami kajian keagamaan melalui ustaz A. Hassan yang dikenal dengan ulama yang berpaham radikal dan jadi sesepuh organisasi sosial- keagamaan.
Kesempatan tersebut membawa beliau berkenalan dengan ustaz A. Hassan, tokoh PERSIS (Persatuan Islam) garis keras, yang membimbing beliau melakukan studi tentang Islam. Dengan ustaz ini beliau mengelola majalah “Pembela Islam” sampai tahun 1932.
Beliaupun menolak tawaran bekerja sebagai pegawai negeri pemerintah Hindia Belanda dan lebih tertarik menekuni dunia pendidikan. Obsesi itu membuat ia mendirikan Yayasan Pendidikan Islam di Bandung sekaligus menjabat Direktur dari tahun 1932-1942.
Bahkan dalam masa penjajahan Jepang (1942-1945) pemandu umat ini sempat menjadi sekretaris Sekolah Tinggi Islam (STI) Jakarta. Keluasan wawasannya mencuat ke permukaan setelah dapat menguasai beberapa bahasa asing sebagai alat untuk menggali buku-buku tokoh kelas dunia.
Mohamad Natsir mulai berkecimpung dalam dunia politik praktis setelah menjadi anggota Partai Islam Indonesia pada awal tahun 40-an, memimpin organisasi Majelis Al Islam A’la al-Indunisiya.
Organisasi MIAI makin berkiprah dalam kepemimpinan beliau. Dalam masa Jepang itu pula terbentuk Majelis Syura Muslimin Indonesia atau Masyumi sebagai salah satu wadah perjuangan untuk memerdekakan Indonesia.
Perjuangan, Kemasyarakatan, Pemerintahan dan Luar Negeri
1928-1932 Ketua Jong Islamiten Bond Bandung (dari sinilah Bapak M.Natsir bertemu dengan Mr. Kasman Singodimejo, Mr. Moh.Roem, Prawoto Mangkusasmito yang sering bersama-sama menemui Haji Agus Salim untuk konsultasi, diskusi menimba ilmu.
Disini pula ia bertemu dengan Nur Nahar, aktifis pandu puteri “Natipij” yang kemudian dinikahinya di Bandung pada 20 Oktober 1934 dan menjadi teman pendamping hidup beliau dan perjuangan beliau sampai akhir hayatnya).
1932-1942 Direktur Pendidikan Islam (Pendis) Bandung.
1940-1942 Anggota Dewan Kabupaten Bandung.
1942-1945 Kepala Biro Pendidikan Kotamadya Bandung (Bandung Syiakusyo).
1945-1946 Anggota Badan Pekerja KNIP.
1946-1949 Menteri Penerangan RI untuk tiga kabinet. Kiprah politiknya semakin menanjak ketika tampil menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat tahun 1945-1946. Pada tahun 1948 ditunjuk menjadi Menteri Penerangan Republik Indonesia.
Prestasi spektakuler Natsir terekam dalam sejarah. Ketika Indonesia menjadi negara serikat sebagai produk dari KMB (Komperensi Meja Bundar), melalui sidang RIS tahun 1950, Natsir tampil dengan melontarkan statemennya yang dikenal dengan “Mosi Integral Natsir”.
Implikasi dari mosi itu, Indonesia yang sudah terpecah kedalam 17 negara bagian dapat bersatu kembali ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Atas jasanya ini, Soekarno mengangkatnya sebagai Perdana Menteri RI. Kedudukan ini merupakan karier politik tertinggi yang pernah dicapainya. Pada saat itu, usianya baru 42 tahun.
1946-1950 Mohamad Natsir menjabat Ketua Umum Partai Masyumi, Selaku Ketua Fraksi Masyumi dalam DPR-RIS.
Pada 3 April 1950, ia mengajukan mosi dalam Parlemen RIS, untuk mendorong RI yang tadinya telah terpecah-belah menjadi 17 negara bagian BFO, sehingga memungkinkan utuhnya kembali Negara Kesatuan Republik Indonesia yang wilayahnya membentang dari Sabang hingga Merauke. Mosi ini oleh sejarah bangsa kemudian dikenal dengan Mosi Integral Natsir dan kawan-kawan, yang diterima secara aklamasi oleh DPR-RIS.
1950 – 1951 Mohamad Natsir ditunjuk menjadi Perdana Menteri RI pertama setelah RI kembali menjadi Negara Kesatuan. Dalam menjalankan roda pemerintahan, Natsir menghadapi berbagai tekanan.
Diantara yang menonjol masa kabinet Mohamad Natsir, seperti masalah persenjataan yang masih ada di tangan sukarelawan dari berbagai ideologi pasca perjuangan pisik. Mereka antara lain Darul Islam, PKI, gerombolan MMC (Merapi Merbabu Compleks), dan Laskar Harimau Liar.
Masalah lainnya adalah persoalan otonomi Aceh dan sikap PNI yang tidak bersahabat. Sikap PNI yang demikian, di sebabkan sakit hati karena tidak masuk pada kabinet yang di dirikannya dan perbedaan pendapat antara Soekarno dan Natsir tentang persoalan Irian Barat.
Soekarno ingin mengambil Irian Barat secara paksa, dan Natsir konsisten melaksanakan keterikatan diplomatik perjanjian KMB.
Perbedaan pendapat ini menjadikan Soekarno merasa harga dirinya sebagai presiden diremehkan. Kemudian, Soekarno tidak memberi kesempatan lagi kepada Natsir untuk membuktikan kemampuan dalam memimpin kabinet yang dibentuknya. Akibat berbagai kepungan psikologis yang dilakukan PNI, PKI, dan Soekarno, akhirnya Kabinet Natsir jatuh dalam usia 7 bulan.
Memang ada berbeda pendapat antara Natsir dan Soekarno. Natsir selalu berusaha menjaga jarak dengan Soekarno, sambil tetap memimpin fraksi Masyumi di Parlemen 1950-1958 dan anggota Konstituante 1956-1958.
1952 Melakukan kunjungan ke beberapa Negara di Timur Tengah, sebagai Pemimpin Partai Masyumi setelah meletakkan jabatan sebagai Perdana Menteri RIS.
1950-1958 Anggota Parlemen RI dari Fraksi Masyumi.
1956 Memimpin Sidang Muktamar Alam Islami yang berlangsung di Damascus Syria dalam membahas agresi Israel ke Palestina.
Pada tahun itu juga mengerahkan solidaritas masyarakat Indonesia untuk membantu perjuangan kemerdekaan di Afrika Utara.
1956-1958 Anggota Konstituante RI.
Januari 1957 Menerima bintang Nichan Istikhar (Grand Gordon) dari Presiden Tunisia, Lamine Bey atas jasa-jasa Beliau dalam membantu perjuangan kemerdekaan rakyat Afrika Utara.
1958-1960 Anggota PRRI.
Perbedaan kembali memuncak ketika secara sepihak, mulai berlaku Demokrasi Terpimpin. Soekarno “menguburkan” semua partai yang ada. Natsir melihat sikap ini merupakan bias dari gelagat PKI untuk mengendalikan semua partai.
Menyikapi hal yang demikian Natsir bersikap oposisi sehingga pada akhirnya ia terpaksa bergabung ke dalam PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) bersama dengan Syafroeddin Prawiranegara yang berpusat di Sumatera Barat.
Pada tanggal 17 Agustus 1959, Soekarno secara sepihak membubarkan Masyumi dan memaklumkan pengampunan pada Natsir dan kawan-kawan. Maklumat ini merupakan jebakan Soekarno untuk menangkap Natsir dan kawan-kawan atas tuduhan terlibat Pemberontakan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) dan Permesta.
Ada beberapa alasan yang memicu munculnya PRRI.
Pertama, Pemerintahan Pusat di bawah Perdana Menteri Djuanda dipandang tidak sah karena pembentukannya dilakukan oleh Presiden dan dianggap telah menyimpang dari konstitusi.
Kedua, Sikap dan kebijakan pemerintah pusat yang terkesan sangat toleran dengan Komunis.
Ketiga, Pembangunan terkesan hanya dipusatkan di pulau Jawa dan mengabaikan daerah-daerah lainnya di Indonesia.
Mohamad Natsir baru kembali setelah pemerintah RI mengeluarkan amnesti dan abolisi pada tahun 1961. Kemudian, Natsir diasingkan ke Batu Malang, Jawa Timur (1960-1962) dan menjadi “tahanan politik” di Rumah Tahanan Militer (RTM) Keagungan Jakarta (1962-1966).
1962 – 1964 Dikarantina di Batu (Jawa Timur) oleh Orde Lama.
1964 – 1966 Ditahan di RTM/Keagungan Jakarta.
Juli 1966 Dibebaskan tanpa pengadilan, setelah Orde Lama ditumbangkan oleh massa dan kesatuan-kesatuan aksi.
Pada tanggal 1 Juli 1966, Natsir akhirnya dibebaskan tanpa melalui proses pengadilan. Dengan demikian kesalahan yang dituduhkan padanya tidak pernah dapat dibuktikan secara hukum.
Pergantian orde lama ke orde baru bagi Mohamad Natsir tidak banyak maknanya dalam politik. Hakikatnya secara politik Mohamad Natsir masih terbelenggu. Meskipun begitu, kecintaan beliau kepada negara kesatuan republik dan bangsa Indonesia yang ikut diperjuangkan beliau sejak masa remaja tidak pernah berkurang.
Secara fisik semasa Soekarno berkuasa, Mohamad Natsir dikarantina dibalik terali di Batu Malang dan di RTM Jakarta dan baru bebas secara fisik dari penjara dimasa Soeharto mulai berkuasa. Namun pada masa orde baru itu, beliau yatanya masih terkarantina dalam makna politik karena tidak boleh berpolitik praktis.
Di awal masa kekuasaan orde baru itu, Mohamad Natsir pernah diminta bantuan oleh Soeharto untuk memulihkan hubungan Indonesia dan Malaysia.
Ketika itu, beliau menulis surat khusus yang dialamatkan kepada YAB. Tengku Abdul Rahman, perdana menteri Malaysia masa itu. Surat tersebut dibawa oleh Ali Moertopo. Hasilnya adalah, konfrontasi kedua negara yang telah ada di masa Soekarno mulai mencair kembali.
Begitu pula halnya, ketika pemerintah Soeharto kesulitan dalam meminta bantuan modal asing, Mohamad Natsir kembali berinisiatif memuluskan bantuan Jepang serta beberapa negara Timur Tengah untuk keperluan pembangunan Indonesia. Di masa orde baru itu, partai Masyumi tidak dapat direhabilitasi. Ketika itu, Natsir memilih medan dakwah.
Bapak Mohamad Natsir, didampingi Umi Nur Nahar serta sebagian anak-cucu, bersama Umi Fatimah Ismail (istri Buya Datuk Palimo Kayo), serta ibu-ibu muslimah badan penyantun RSI Ibnu Sina dan pembina anak yatim Budi Mulia di Sumatera Barat (Dok.HMA)
Setelah pemerintahan Orde Baru berkuasa, Mohamad Natsir dibebaskan dan semenjak itu ia tidak pernah lagi melibatkan diri secara langsung dalam kegiatan politik praktis.
Dalam usia tua, ia memilih wadah perjuangan melalui aktivitas dakwah Islamiah, yakni melalui organisasi yang didirikan dan dipimpinnya sendiri bernama Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia berkedudukan di Jakarta. Sebagai seorang tokoh, pengaruh dan pemikirannya terlihat masih diperlukan umat, baik didalam negeri maupun di dunia internsional.
Pebruari 1967 Bersama dengan para Ulama dan zuama dengan bertempat di Masjid Al Munawarah Kp. Bali Tanah Abang Jakarta membentuk Yayasan Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia. Dan sejak tahun itu diangkat menjadi Ketua Dewan Da’wah yang dijabat beliau sampai akhir hayatnya.
1967 Vice President World Muslim Congress (Markas di Karachi) Pakistan.Selama tahun 1967, sangat menonjol kunjungan-kunjungan ke Timur Tengah atas undangan pemerintah dari negara tersebut.
1967 Beliau menggerakkan Solidaritas Islam untuk pembebasan Masjidil Aqsha dan Pembebasan Muslim Palestina.
Dalam dunia internasional karirnya masih sempat melejit dengan dipercaya memegang beberapa organisasi Islam Internasional.
Di antaranya pada tahun 1967, ia menjadi wakil Presiden Muktamar Alam Islami yang bermakas di Karachi (Pakistan) dan anggota Liga Muslim Dunia yang bermarkas di Makkah. Pada tahun 1972, ia diangkat menjadi anggota Kehormatan Majelis Ta’sisi Rabithah al-Alam Islami yang berkedudukan di Mekah Saudi Arabia.
1969 Anggota Muslim World League (Rabithah Alam Islamy) berkedudukan di Makkah al Mukarramah, sebagai anggota Majlis Ta’sisi (Pendiri) dari Badan Islam Internasional yang bergengsi ini.
1976
Anggota Majlis A’la Al-Alamy lil Masajid (Dewan Mesjid Sedunia) yang bermarkas di Makkah al Mukarramah bersama-sama dengan Sheikh Harakan dan Sheikh Abdullah bin Baz.
Dengan wawasan politik dan agama yang luas, mengantarkan Natsir untuk memimpin sidang Muktamar Alam Islami di Damaskus pada tahun 1957, bersama syekh Maulana Abul A’ la al-Maududi (Lahore) dan Hasan al-Nadawi (Lucknow).
Pebruari 1980 Mohamad Natsir menerima Penghargaan Jaa-izatul Malik Faishal al-Alamiyah di bidang pengkhidmatan kepada Islam selama tahun 1400 Hijriyah, dari “King Feisal Foundation”, Riyadh. Penghargaan yang sama juga diterima oleh Sheik Abul Hasan an-Nadwi.
Atas jasa-jasanya dalam memimpin organisasi dimaksud, maka pada tahun 1980 Kerajaan Arab Saudi memberikan penghargaan “Faisal Award” sebagai penghormatan atas jasa dan pengabdianya pada Islam.
Tokoh yang tidak pernah absen dalam sejarah ini telah memberi warna tersendiri dalam dunia perpolitikan di negara iklim tropis ini.
1970 Ketua Badan Penasehat Yayasan Pesantren Pertanian Darul Fallah, Ciampea Bogor.
Meskipun tidak melibatkan diri dalam politik praktis, namun ia masih aktif menuangkan pemikiran dalam memberikan kontribusi menciptakan atmosfir politik yang lebih kondusif.
5 Mei 1980 Menandatangani Petisi 50, yang kemudian harus menerima pencekalan selama pemerintah Suharto dimasa Orde Baru.
Mohamad Natsir ikut menandatangani “Pernyataan Keprihatinan” yang belakangan lebih populer disebut dengan Petisi-50. Adapun yang mendorongnya melakukan “Pernyataan Keprihatinan” merupakan salah satu bukti kepeduliannya terhadap nasib bangsa pada umumnya dan nasib umat Islam khususnya.
Setelah “petisi 50“ di tahun 1980, Mohamad Natsir dicekal ke luar negeri. Pada dekade ini Natsir aktif melawan kehendak ordebaru yang ingin mengasastunggalkan Pancasila sebagai dasar semua organisasi politik dan organisasi sosial kemasyarakatan serta keagamaan. Tampaknya dengan dibolehkannya organisasi Islam mencantumkan dalam anggaran dasarnya kalimat berakidah islam, perkara asas itu diterima dan keluarlah UU No. 5 untuk Orpol dan No. 8 untuk Ormas pada tahun 1985.
1986 Anggota Dewan Pendiri The International Islamic Charitable Foundation, Kuwait.
1987 Anggota Dewan Pendiri The Oxford Center for Islamic Studies, London, Inggris, Anggota Majelis Umana’ International Islamic University Islamabad, Pakistan.
Mohammad Natsir merupakan tokoh pendidik, penulis produktif, pendakwah, politisi-negarawan, pemikir, ulama dan pembela Islam. Secara umum kehidupannya telah diserahkan sebagai pemandu umat.
1Agust 1989 Bersama K H Masykur mendirikan Forum Ukhuwah Islamiyah (FUI), menghimpun ulama zuama berbagai golongan dan partai.
Pada saat disebarkannya buku Pendidikan Moral Pancasila yang banyak mengandung ketidak sesuaian dengan pemikiran ummat Islam Indonesia antara lain menyatakan semua agama sama. Mohamad Natsir secara gamblang mendudukan persoalan itu dan menolak apa yang tercantum dalam buku PMP tersebut. Pada akhirnya buku itu direvisi kembali oleh pemerintah. Di dalam perjalanan hidupnya di zaman Orde baru beliau senantiasa dimusuhi dalam politik namun beliau tetap membantu pemabangunan Indonesia.
Dalam bidang akademik, Natsir menerima gelar Doktor Honoris Causa bidang Politk Islam dari Universitas Islam Libanon (1967) dalam bidang sastra dari Universitas Kebangsaan Malaysia dan dalam bidang pemikiran Islam dari Universitas Saint dan Teknologi Malaysia (1991).
1991 Menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Kebangsaan Malaysia Kuala Lumpur dan dari Universitas Science Penang Malaysia, dalam bidang pemikiran Islam.
Kedua penghargaan dan penghormatan akademik internasional ini tidak bisa dihadiri oleh Bapak DR. Mohamad Natsir, karena dilarang oleh Pemerintah Orde Baru (Suharto).
Bapak Mohamad Natsir memang punya peran khusus yang tidak bisa dilupakan oleh sejarah, umat Islam, bangsa dan negara.
Sumber Data : H Mas’oed Abidin
Dok. HMA BAPAK MOHAMAD NATSIR DALAM SATU PERTEMUAN DENGAN PENGURUS YARSI SUMATERA BARAT DI PADANG.
( Tulisan ini bagian dari Buku “Pesan-Pesan Dakwah Mohamad Natsir”, yang ditulis oleh H Mas’oed Abidin, dibawah judul Dakwah Konprehensif, dan belum lagi sempat dicetak atau diterbitkan )

Sumber
http://akmal-muballigh.blogspot.com/2011/01/mohammad-natsir-merupakan-tokoh.html


Jumat, 17 Juni 2011

Nasution, Soekarno, Soeharto

Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jaleswari Pramodhawardani, menulis, "Tak sekali pun terlintas di benak Kepala Staf Angkatan Darat Mayor Jenderal A.H. Nasution bahwa konsep dwifungsi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia memberikan peluang ‘tak terbatas’ kepada angkatan bersenjata untuk terjun ke pemerintahan sipil di kemudian hari" (Tempo, 23 Mei 2010).
Sebagai orang yang lama mempelajari buah pikiran serta tingkah laku politik Jenderal Nasution, saya sepakat dengan pendapat ini.

Saya akan mulai uraian ini dengan membandingkan dua jenderal yang memimpin TNI pada masa awal: Abdul Haris Nasution dan Tahi Bonar Simatupang. Berbeda dengan Jenderal T.B. Simatupang yang berwatak pemikir, Nasution adalah praktisi dan militer lapangan tulen.

Karena bukan pemikir, dalam membuat konsep Nasution hanya memikirkan kebutuhan sesaat dengan tujuan menanggapi persoalan yang sedang dihadapi ketika itu. Cara ini biasanya tidak menghiraukan nasib jangka panjang konsep itu dan tidak memperhitungkan dinamika lingkungan dan waktu.

Sebagai seorang didikan Akademi Militer Belanda, pada dasarnya Nasution adalah penganut doktrin supremasi sipil. Itu terlihat jelas dalam tulisan-tulisannya ketika nonaktif dari tentara pada 1952-1955, yang kemudian terbit sebagai buku dengan judul Tjatatan-Tjatatan Politik Militer.

Sikap inilah yang menjelaskan mengapa dalam Peristiwa 17 Oktober 1952 – kendati militer sangat sengit kepada politikus sipil – gagasan kudeta tidak terpikirkan sama sekali. Alih-alih mengambil alih kekuasaan, Nasution dan para kolonelnya malah memohon Presiden Soekarno, seorang tokoh sipil yang karismatis mengambil alih kekuasaan, membubarkan parlemen dan secepatnya menggelar pemilihan umum.

Persoalan yang muncul antara militer dan politikus pada awal 1950-an bukan soal baru bagi Nasution, yang sudah menjadi salah seorang pemimpin tentara sejak di Yogyakarta (1947-1949). Di Yogyakarta dan di Jakarta pada dekade 1950, Soekarno adalah lambang sipil dalam hubungan sipil-militer.

Ketika pada 1949 Panglima Besar Sudirman bertentangan pendapat dengan Soekarno dalam soal penyelesaian konflik Indonesia-Belanda, Sudirman tidak memobilisasi staf atau para panglima untuk mendesakkan posisinya kepada pemerintah. Dengan gaya flamboyan plus cucuran air mata, Sudirman malah meminta Soekarno memberhentikannya dari jabatan panglima besar sekaligus dari dinas militer.

Dalam Peristiwa 17 Oktober, Nasution bertindak sedikit lebih berani. Ia datang ke Istana bukan saja dengan didampingi sejumlah pemimpin Angkatan Darat namun juga bersama serombongan pengunjuk rasa. Pada saat yang sama, sejumlah meriam diarahkan ke Istana oleh Mayor Kemal Idris. Semua "gertakan" ternyata tidak mengecilkan nyali Soekarno. Yang jadi korban malah Nasution. Ia diberhentikan dari posisi pemimpin Angkatan Darat untuk kemudian diinterogasi oleh Kejaksaan Agung.

Kekuatan sipil (baca: Soekarno) itu membuat Nasution berhati-hati bermain politik ketika ia kembali menjadi pemimpin Angkatan Darat pada 1955. Nasution baru mulai berani menyerang politikus sipil ketika Presiden Soekarno sendiri telah bosan dengan partai-partai dan mulai mengkampanyekan Konsepsi Presiden (1957) yang berwatak antipartai.

Dalam konteks inilah lahir doktrin "Jalan Tengah" lewat pidato Nasution dalam dies natalis Akademi Militer Nasional Magelang, November 1958. Pidato itu jelas tidak tampil sebagai ancaman tentara kepada kekuatan politik sipil. Malah pidato itu merupakan tawaran atau imbauan pemanfaatan, mengutip Nasution, "perorangan-perorangan yang menjadi eksponen daripada organisasi kita".

Perlu diketahui bahwa yang diharapkan Nasution sebenarnya sudah dipraktekkan Presiden Soekarno. Jauh sebelum pidato Nasution di Magelang, Soekarno telah melibatkan beberapa perwira militer ke dalam kabinet.
Jadi, hingga pidato "Jalan Tengah" diucapkan, yang memainkan peran dominan dalam memberikan peran politik kepada tentara secara legal sebenarnya adalah Soekarno. Legitimasi peran politik militer itu didasarkan Soekarno pada konsep kekaryaan yang dikembangkannya sebagai alternatif untuk memperkecil partai politik.

Dalam proses politik menjelang dan setelah kembalinya Indonesia ke Undang-Undang Dasar 1945, Nasution perlahan-lahan terkooptasi oleh Soekarno, yang telah menggunakan tentara untuk melawan partai politik. Dengan dukungan militer, Soekarno berhasil menyingkirkan partai-partai, dan untuk itu-sebagai upahnya-tentara menjadi kekuatan politik legal sebagai bagian dari Golongan Karya. Di mata Nasution, posisi baru militer tersebut tidak bertentangan dengan doktrin supremasi sipil.

Sadar akan pentingnya peran politik tentara yang legal di bawah konstitusi baru, Soekarno tidak ingin Nasution menjadi pesaingnya dalam menguasai tentara. Dengan menggunakan posisi sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Perang (Pangti), Soekarno berangsur-angsur menjadikan dirinya sebagai pemimpin tentara.

Pada Juni 1962, Soekarno sudah cukup kuat untuk menyingkirkan Nasution dari kedudukan pemimpin Angkatan Darat. Selanjutnya, sampai pensiun sebagai jenderal bintang empat, Nasution tidak pernah lagi diberi kesempatan memegang posisi komando.

Mantan Panglima Kostrad Soeharto berkuasa pada akhir Orde Lama, ketika peran politik tentara sudah sangat menonjol. Ini akibat dinamika politik yang menyisakan hanya tiga kekuatan yang berhadap-hadapan: Soekarno, TNI, dan Partai Komunis Indonesia. Ketika PKI kemudian dihancurkan tentara, Soekarno berangsur kehilangan peran. Maka tampillah tentara, selama 32 tahun, sebagai kekuatan dominan di atas pentas politik Indonesia.

Pada masa Orde Baru, Nasution tampil sebagai pengkritik dwifungsi. Yang tampaknya tidak pernah disadari Nasution adalah jauh sebelum Soeharto berkuasa, Presiden Soekarno telah mengambil alih kepemimpinan politik militer dan memanipulasinya untuk kepentingan politik Soekarno sendiri. Bentuk yang sudah dimanipulasi itulah yang diwarisi, ditafsirkan kembali, dan dimanfaatkan Soeharto untuk kepentingan dan kelanggengan kekuasaannya. ***

Oleh: 
Salim Said


Untuk mengenal lebih jauh dengan penulis diatas silahkan klik namanya  Salim Said


Wawancara dengan Westerling

Masih ingat Kapten Raymond Westerling? Ketika masih menjadi wartawan Majalah "Ekpres" di tahun 1969, saya pernah mewawancarai tokoh militer Belanda yang dikenal paling bengis ini. Bengis, karena ia telah melakukan pembunuhan massal di Sulawesi Selatan pada jaman perang kemerdekaan.
Saya menemuinya di sebuah restoran di Amsterdam, Belanda. Pada waktu itu, saya mendapat kesempatan mengikuti training jurnalistik di Utreech, Belanda. Tapi, kami tinggal di Amsterdam karena di situ ada International Centre, ada asrama dan tempat belajar. Yang dididik di situ, selain orang dari dunia ketiga yang diberi beasiswa oleh Belanda, juga ada orang Belanda yang akan bertugas di negara dunia ketiga.

Sebagai wartawan dan orang Sulawesi Selatan, saya tanya-tanya di mana tokoh itu tinggal. Lalu, seseorang memberitahu saya nomor telepon Westerling. Saya kemudian menelepon; dan dia bersedia bertemu. Dia bahkan memberi saya alamat sebuah restoran di Amsterdam dan menentukan waktu pertemuan.

Pada saat yang ditentukan, saya datangi restoran itu. Tentu saja saya membekali diri dengan tape recorder. Sebelum masuk restoran, ada orang yang memeriksa dan menggeledah saya. Saya bilang, saya tidak bersenjata. Mungkin, mereka tahu saya dari Sulawesi Selatan dan takut saya bawa apa-apa, jadi diperiksa dulu.

Restoran itu cukup ramai. Westerling duduk di salah satu sudut ruangan. Begitu saya masuk, dia berdiri dan langsung menyalami saya. Wajah Westerling memang terkesan kejam, tampangnya kayak serigala.

Saya pun membuka pembicaraan dengan bercerita. “Anda hampir saja membunuh bapak saya dan sudah membunuh paman saya,” begitu saya bilang. Dia hanya menjawab dingin, “Well Mr Said. It’s a war.”

Sejumlah pertanyaan lanjutan pun saya lontarkan. Salah satunya, saya tanyakan berapa banyak orang yang sebenarnya mati dalam perang itu, apa betul 40.000. Dia bilang, “Tanyakan kepada Pak Sarwo Edhie Wibowo, berapa banyak orang yang bisa dibunuh oleh pasukan khusus. Seingat saya 463 orang.”

Waktu saya tanyakan alasan Westerting membunuh orang-orang itu dia bilang: Mereka ekstremis. Dia menyebut satu nama orang yang dia sudah tangkap tapi tidak dibunuh. Kalau tidak salah Mayor Latief. Alasan Westerling tidak membunuhnya karena dia anggota TNI, organisasai resmi. Mereka yang dia bunuh adalah orang-orang yang tidak masuk dalam organisasi resmi. Itulah yang dia maksud sebagai ekstremis.

Kalau sekarang, mungkin namanya teroris. Jadi, menurut Westerling, yang dia bunuh itu adalah para ekstremis yang tidak merupakan bagian institusi organisasi. TNI, kata dia, jelas organisasinya. Mereka inilah pejuang-pejuang dan para tokoh politik.

Dia kemudian mencoba menjelaskan bahwa pembunuhan itu dilakukannya karena banyak kekacauan, banyak perampokan, dan banyak tindakan kriminial. Itu yang dijadikan alasan Westerling. Jadi, kesimpulan saya, dia menganggap itu kriminal. Tapi, menurut Westering, tentu saja yang dibunuh bukan sepenuhnya ekstremis.

Saya sempat menanyakan tentang informasi yang tersebar bahwa dia bisa menghilang. Tapi, informasi itu dibantahnya. Dia bilang, “Saya tentara biasa.” Tapi dia mengaku sebagai pasukan komando yang memang jago tembak. Keahlian menembaknya didemonstrasikan di depan rakyat, sehingga rakyat takut. Dengan kehebatan ini, kemudian diciptakan mitos bahwa dia punya “kekuatan supranatural”.

Tentu saja dia membantah kebenaran “mitos” itu. Tapi hanya mengaku memiliki insting yang tajam. Dengan insting itulah, ia punya kebiasaan untuk menjejerkan pasukannya sebelum berperang. Setelah menatap satu persatu wajah pasukannya, dia akan menunjuk sejumlah orang yang tidak diikutkan perang. “Kalau dipaksakan ikut berperang, mereka akan mati,” katanya.

Westerling memang tokoh militer yang sangat kejam. Ia adalah pembunuh berdarah dingin. Tapi dia juga manusia manusia biasa. Saat saya mengakhiri wawancara dan beranjak dari restoran, Westerling tetap bersikap cukup ramah. Dia bahkan mengantar saya sampai di luar restoran. ***

Oleh: 
Salim Said
Salim Said lahir di Pare-pare, Sulawesi Selatan, 10 Nopember 1943.
Ia berlatar belakang pendidikan ATNI (1964-1965), S-1 di Fakultas Psikologi dan jurusan Sosiologi Fakultas Sosial dan Politik Universitas Indonesia Jakarta (1976). Gelar MA-nya diraih dari jurusan Hubungan Internasional di Ohio University, Athens, Ohio, Amerika Serikat (1980) dan gelar PhD-nya didapat dari jurusan Ilmu Politik di Ohio State University, Columbus, Ohio, Amerika Serikat (1983).
Awalnya ia di kenal sebagai wartawan sekaligus penulis. Ketajaman tulisannya dalam mengulas film Indonesia menyebabkan dia ‘kurang disukai’ oleh para produser film. Aktif dalam berbagai kegiatan yang berhubungan dengan dunia film antara lain, hingga awal 1980-an sebagai Kepala Urusan (desk) Film & Luar Negeri di Majalah TEMPO.
Pengamat militer dan juga seorang diplomat ini pernah menjadi Ketua Bidang Luar Negeri Pantap FFI (1988-1992), anggota Dewan Film Nasional selama dua periode (1989-1995), dan pada tahun 1990 terpilih sebagai ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan dipilih kembali pada tahun 1993.
Menikah dengan Herawaty Said, Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Ceko sejak tahun 2007 itu juga pernah mendapat penghargaan Satya Lencana Penegak Republik Indonesia dan Satya Lencana Dwidyasista.***