Sabtu, 10 Mei 2014

BAHAGIA


Tuhan memberi manusia kesanggupan beradaptasi terhadap beragam situasi.

Manusia dianugerahi naluri dan kecerdasan; nurani dan nafsu agar dengannya ia tetap mampu menyelenggarakan kebahagiaan.

Meskipun dgn suku cadang yg terendah nilainya, ia tetap mampu menghasilkan ramuan kedamaian dibalut kebahagiaan yg jauh melebihi taraf kebahagiaan yg dirajut oleh kemewahan.

Keceriaan & Kenyamanan; Kebahagiaan & Kedamaian
tak selalu bergantung pd hal-hal diluar manusia,

Kebahagiaan tak selalu melekat pada kekayaan & kejayaan, kekuasaan & jabatan.
Kebahagiaan jg tak mesti hengkang dari kemiskinan & kepailitan, kelemahan & keterhimpitan.

Sejatinya kebahagiaan muncul dari kedamaian yg melekat erat pada hati yg "kaya" yakni hati yg senantiasa bersyukur atas apapun karunia-Nya serta ridha dan sabar atas segala ujian-Nya seraya berpasrah penuh - setelah berpenuh peluh - kepada-Nya atas apa yg tak kuasa dilaluinya.

Jangan beri kesempatan pada keluhan, umpatan & ratapan kesedihan, ia muncul krn anda mengijinkannya.

Hidup sangat luas dimensi persoalannya, maka diperlukan bukan sekedar wawasan yg luas dan pengetahuan, melainkan juga kearifan sikap dan keluhuran budi yg konsisten dari hari ke hari.

Jadi poinnya, bahagia bukan soal apa dan kenapa, siapa dan dimana, tapi lebih kpd bagaimana anda menyikapi segalanya.

MAKNA HIDUP BAGI SEORANG EINSTEIN


Ketika seseorang bertanya kepada Albert Einstein, pertanyaan apa yg akan diajukan kepada Tuhan jika dia diperkenankan mengajukan pertanyaan itu.

Ia menjawab, "bagaimana awal mula jagad raya ini? Karena segala sesuatu sesudahnya hanyalah masalah matematika"

tetapi setelah berfikir beberapa saat dia mengubah pendapatnya, lalu berkata,

"bukan itu, saya akan bertanya, kenapa dunia ini diciptakan?
Karena dengan demikian saya akan mengetahui makna hidup saya sendiri."

Prolog diatas tidak dimaksudkan untuk menjustifikasi pemahaman seorang Einstein ttg hidup dan kehidupan apalagi keyakinannya ttg Tuhan. Dua hal itu adalah hak pribadi yg paling mendasar sehingga hanya Tuhan saja yg memiliki hak prerogatif untuk menganugerahi atau tidak hidayah-Nya kpd seseorang.

Lalu apakah saya harus meletakkan rasa kagum atas persepsi Einstein ttg kehidupan dan penciptaan krn dia -secara implisit- memahami esensi dari eksistensi serta perannya sebagai manusia?

Rasanya tak perlu bahkan tdk tepat.

Krn pd setiap diri manusia, Tuhan menganugerahkan sifat Hanif. Sifat tsb jika diibaratkan receiver, ia akan selalu berusaha mencari dan menangkap sinyal2 ke"Tuhan"an yg dipancarkan oleh transmisi yang Maha Tunggal, baik yg berupa kebenaran atau kebaikan.

Sehingga disadari atau tidak, terlepas dr apapun keyakinannya, setiap jiwa akan mengajukan pertanyan senada Einstein bermonolog untuk memahami makna hidup.

Org yg mengerti makna hidup, akan paham untuk apa ia dicipta serta kemana ia menuju.

Atas dasar itulah saya wajib meletakkan kekaguman saya kpd Tuhan Sang Pencipta sbg wujud kesyukuran yg tak terhingga.

Pernahkah anda merenung sejenak, dari bejuta sel sperma yg berlomba, berenang menuju ovum, kenapa hanya satu saja yg terpilih dan itu adalah anda?

Tuhan pasti punya "misi" atas hidup anda. Jangan pernah lupakan itu atau anda sendiri yg akan membuat hidup tak bermakna.

Ingat, "Tuhan tidak bermain dadu"