Kamis, 02 Agustus 2012

Sesungguhnya Kami Ciptakan Manusia Itu Dalam Bentuk Yang Sebaik-baiknya



Assalaamu'alaikum warahmatullaah wabarakaatuh


Bismillahirrahmanirrahim
Kalau kita mau melihat dengan lebih bijak dan arif (bukan berarti selama ini arif kurang bijak..) kita akan melihat kesempurnaan yang indah di dunia ini.

Cobalah lihat surat Al Ma'idah:

"...al yauma akmaltu lakum diinakum wa atmamtu alaikum ni'matii waradliitu lakum islaama diina..."
yang artinya: " ...Pada hari ini telah kusempurnakan agamamu dan kucukupkan nikmatKu kepadamu dan Ku ridhai Islam itu sebagai agamamu...dst."

Berarti agama Islam sempurna kan? dimana kita memeluk agama islam? sejak kita di dunia kan? sampai akhirat ntar.
Nah, berarti ada yang sempurna dong, di dunia..

Lalu simak ayat berikut:

"Laqod kholaqnal insaana fii ahsani taqwiim..." (sesungguhnya Kami ciptakan manusia itu dalam bentuk yang sebaik-baiknya.)

Bentuk yang sebaik-baiknya? apa itu maksudnya? bukankah itu mengandung makna sempurna?
Allah menciptakan kita, manusia, dengan sempurna. dengan kaki kita, tangan kita, kepala kita, otak kita. sifat2 yang tidak dimiliki makhluk lain selain manusia. semuanya untuk kita, manusia.

Berarti, manusia itu sempurna. kenapa sempurna? karena manusia diciptakan oleh Dzat yang Maha Sempurna. Sesuatu yang diciptakan oleh dzat yang Maha Sempurna, tentu saja sempurna. Kalau kita bilang ciptaan Allah tidak sempurna, berarti Allah cacat dong, dalam penciptaannya. Padahal tidak mungkin Allah tidak sempurna.

Hanya saja, kesempurnaan Allah dengan kesempurnaan manusia, tentu bukan hal yang bisa dibandingkan. Allah sempurna - sesempurna - sempurnanya. sedangkan manusia, hanya sempurna sebagai wujud manusia. Ini dua hal yang mutlak berbeda.

Contoh sederhananya saja: anak TK dengan Profesor. anak TK dibilang sempurna ketika dia bisa pipis di tempatnya, bilang "mama" dengan benar, tidak pelat, dsb. tapi seorang profesor dibilang sempurna ketika dia bisa memecahkan kode matematik yang paling rumit sejagat, menciptakan teori super kompleks dari pemikiran sederhana, berdiskusi dengan bahasa antah berantah yang hanay orang2 dengan titel doctor yang mengerti. Keduanya sama2 sempurna, namun tidak bisa dibandingkan.

Itu baru anak TK dengan profesor. Apalagi makhluk dengan pencipta-Nya. Jelas tidak bisa dibandingkan.

Tetapi bagaimanapun juga, Allah menciptakan kita ke dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Seperti apapun kelihatannya.. meski ada orang yang dilahirkan cacat, buta, lumpuh, jelek... Allah tetap menitipkan kesempurnaan itu dalam bentuk manusia. karena selalu ada rahasia besar dibalik semua kejadian. Kita hanya dengan rendah hati berusaha memahaminya, dan dengan tawadu' mengakui kebesaran Allah. Subhanallah...

tetapi jangan lupa, bahwa kemudian ayat ini dilanjutkan dengan;

 "tsumma rodadnaahu asfala saafiliin"
(kemudian Kami kembalikan manusia ke tempat yang serendah - rendahnya)

Tempat yang serendah2nya? dimana itu? dimana lagi kalau bukan neraka. Ini adalah gaya bahasa Al Qur'an. Selalu menarik untuk disimak. Manusia yang semula disanjung dalam ayat sebelumnya, kemudian dijatuhkan sedalam2nya (asfala safiliin).
Tentu tidak bisa disamakan dengan kebiasaan warga Tanjungsari yang suka "memuji setinggi langit dan menjatuhkan sampai ke dasar bumi" tapi ini bahasan lain.:)

Lalu bagaimana bisa manusia yang semula dimulyakan lalu direndahkan serendah2nya? Bagaimana agar kita tidak menjadi sepeti itu?
Tenang saja, karena Al Qur'an juga adalah kitab yang sempurna, tentu Al Qur'an pula yang memberikan solusinya. Ini dijelaskan dalam ayat selanjutnya;

"illalladziina aamanu wa'amilusshoolihaati falahum ajrun gairu mamnuun"

Maka demikianlah, yang dituliskan dalam Al Qur'an "kecuali orang2 yang beriman dan mengerjakan amal sholeh; maka bagi mereka pahala yang tidak ada putus2nya..." maka cara agar kita tetap dimulyakan sebagai manusia tak lain tak bukan adalah dengan beriman dan beramal sholeh.

Jadi, kita, manusia, diciptakan dengan sempurna, diberi akal yang sempurna, hati2 jangan sampai akal kita sendiri membuat kita justru menjadi makhluk yang direndahkan. Karena bermain2 dengan akal bila tanpa dasar iman yang kuat justru malah akan membuat kita menjadi tersesat.
Inilah yang menciptakan aliran2 yang dianggap sesat, karena manusia terlalu mengagungkan akalnya, dan menjalankan agama dengan hanya menggunakan akal.

Pembahasan hal semacam ini bakal panjang lebar. cape nulisnya. kok malah jadi kemana-mana ya...

Beberapa ayat di atas adalah terjemahan bebas sendiri, tapi tentu dengan dasar. Akan tetapi tentu menyadari keterbatasan penulis, kalau ada teman2 yang mau memberikan koreksi dengan dasar yang jelas dan lebih baik, terima kasih sekali.
Karena jangan sampai kita menjadi sesat dan menyesatkan.

(kalau temen2 bingung, tulisan ini dicuekin aja. menakutkan, kalau salah persepsi, beda pemahaman, bisa jadi sesat nanti. Jangan sampe gara2 baca tulisan ini, percaya, trus salah kaprah dengan menganggap dirinya sempurna seperti Allah. Kayak Syeh Siti Jenar yang menganggap dirinya adalah Allah.
Yang penting kita luaskan cara pandang kita, belajar dengan lebih tekun, berguru kepada orang yang benar. Dan sekali lagi; sesempurna apapun kita diciptakan, JANGAN PERNAH MENGAGUNGKAN DIRI KITA. Kita hanyalah manusia, yang diciptakan untuk beribadah kepada Allah)

Kunci dari tulisan ini adalah bahwa kata "sempurna" bisa diartikan dalam berbagai sudut pandang. Tergantung bagaimana kita memandangnya. dan apa atau siapa yang yang kita pandang. Hanya saja pembahasan jadi kemana-mana, hehe..

Sebenernya rada takut juga nulis kayak gini. Semoga tulisan ini ada manfaatnya dan tidak menimbulkan salah faham.

wabillahi taufiq walhidayah,

wallahu a'lam bishawab

By : Mencari Rezky

1 komentar:

  1. bukan syekh siti jenar yg mengatakan Allah tp Allah sendiri yg mengatakannya dalam diri syekh siti jenar... ruh manusia adalah ruh Allah itu sendiri... Hnya orang-orang tertentu yg sanggup menghidupkan ruhnya dibanding lahirnya...

    BalasHapus