Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Maret 2012

Cinta itu Antidot (Semua penyakit ada obatnya dan Cinta adalah obat dari segalanya)


Pagi ini saya merenung. Di tengah gundukan berita-berinta yang nyaris berbau yang menumpuk, ternyata: kita telah dengan tidak sadar sedang dicetak. Dicetak oleh tangan-tangan kita sendiri menjadi sosok-sosok yang menderita. Kita menderita dan mengindap penyakit penyakit Elektismia. Rupa penyakit yang tidak cukup populer. Saya saya sendiri menemukannya secara kebetulan. Dari sebuah buku lama yang kusam tapi pernah menggelegar dan mengguncang. Penyakit ini diketemukan oleh Daniel Goldman, tokoh yang gigih mempromosikan gagasan koleganya yang lebih senior: Howard Gardner. Tokoh terakhir ini kemudian dikenal lewat temuannya tentang EQ.

Elektismia adalah rupa sikap apatisme dan takacuh terhadap situasi dan nasib orang lain. Dengan ungkapan lain: ia adalah penyakit yang mengisolir dan menangkal rasa belas kasih dan empati kepada orang lain. Pada tingkatan yang lebih lanjut, bisa jadi Elektismia itu tidak lain adalah Egoisme. Egoisme yang mendorongnya kepada kesombonan diri dan benar sendiri.

Cinta adalah semangat berbagi. Karena itu Cinta lebih dipahami sebagai sikap memberi dan menerima, toleransi dan tidak menampik sesuatu yang berbeda atau yang lain ( kelompok). Cinta tumbuh dari meraih energi dari sikap-sikap seperti itu. Karena itu Cinta menjadi lawan dari Egoisme.

Tidak ada Cinta ketika Egoisme masih bersinggasana dan berkuasa sendiri. Ungkapan di kalangan para Pencinta Tuhan: Die for Self atau membunuh Egonya sendiri demi Cinta-nya ( Nya ), adalah menakjubkan!

Bila kini agama mulai disebarkan dengan cara-cara menyebar kebencian di masjid-masjid dan bahkan di mimbar-mimbar yang suci: dimana Titah-Nya yang agung dibacakan dan sabda nabi-Nya yang agung diulang-ulang: maka agama telah kehilangan jiwanya. Bukankah Agama dituturunkan sebagai wujud Cinta-Nya yang Bukan Cinta Biasa kepada manusia.

Ribuan tahun manusia meninggali bumi, menatap matahari dan memandangi langit kelam dan bintang gemintang. Manusia terus dihujam keraguan: Siapakah aku ini? Dan Siapakah Dia Yang Mencipta?

Logika tak lebih rupa ladang-ladang yang kita punyai. Kita bisa mengubah ladang2 itu menjadi kebun kacang, kebun jagung atau kebun gandum. Lalu kita menamainya ladang itu seperti yang kita tanami.

Karena itu Logika pun dibangun di atas pijakan yang rapuh dan goyah. Hanya Cinta yang bisa merasakan Kedahsyatan dan Kemahahebatan-Nya bahwa Dialah Sang Pemilik Bukan Cinta Biasa. Dan, Dialah Sumber Hidup, yang sehat dan bahagia bila kita mau mengikuti jalan-jalan-Nya.

Jalan-Jalan Tuhan adalah jalan-jalan cinta yang bersih dari benci dan keji. Jalan-jalan yang bila kita menapakinya hati menjadi tentram dan damai.

Dan itulah kekuatan Cinta sebagai Antidot penyakit jiwa yang menggeragoti dan menggerus, membinasakan sedikit demi sedikit dengan pasti.

Salam untuk Readers of BCB

Oleh:
Tasirun Sulaiman

Rabu, 19 Oktober 2011

Kraton Wedding: Gegap Gempita Pesta Pernikahan Sang Putri Raja


Kalau pada April 2011 lalu di Inggris ada Royal Wedding dengan pengantin Pangeran William dan Catherine Middleton, di Indonesia ada Keraton Wedding dengan pengantin Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara dan Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Yudanegara.
 
Ya, pernikahan putri bungsu Sultan Hamengkubuwono X Yogyakarta, Raden Ajeng Nurastuti Wijayareni (GKR Bendara) dengan Achmad Ubaidillah (KPH Yudanegara) ternyata menarik perhatian Netizen di media sosial. Salah satu alasannya adalah karena pihak Keraton Yogyakarta memang menyiapkan kanal-kanal resmi media sosial untuk menyiarkan prosesi pernikahan ini.
 
Ada beberapa jejaring sosial resmi yang khusus dibuat untuk prosesi pernikahan yang dimulai sejak hari 
Minggu hingga Selasa (16-18 Oktober 2011) tersebut. Para Tweeps bisa mem-follow akun Twitter @KratonWedding untuk memantau jalannya acara pernikahan. Akun yang sudah aktif sejak Juni 2011 ini memiliki 3.762 followers (Senin, 17 Oktober 2011). Menyapa para followers-nya dengan sebutan "kanca-kanca", akun ini memberikan updates seputar prosesi pernikahan dengan tagar #kratonwedding.
 
Para pengguna Instagram juga bisa melihat laporan dokumentasi #kratonwedding ini dengan membuka @KratonWedding. Bagi yang tidak memiliki aplikasi Instagram karena tak menggunakan iPhone, bisa tetap mengakses foto-fotonya di microblog Tumblr KratonWedding.
 
Bisa jadi pernikahan Ubay dan Reni, panggilan akrab mempelai, ini adalah pernikahan pertama kerajaan di Indonesia yang memanfaatkan media sosial sebagai sarana penyebaran informasinya. Publik yang aktif di media sosial pun bisa ikut memantau sekaligus merespon prosesi pernikahan ini.
 
Tampaknya pihak Keraton terinspirasi dari pernikahan Pangeran William dan Kate yang juga memanfaatkan media online secara optimal. Pada saat pernikahan William-Kate, tercatat ada 9.000 posts setiap harinya di berbagai jejaring sosial tentang Royal Wedding tersebut dan sebagian besar konten bersifat positif.
 
Mari kita lihat bagaimana dengan #kratonwedding.
 
Sumber Catatan:
http://www.salingsilang.com/baca/kanal-media-sosial-pernikahan-kraton-yogyakarta-kratonwedding
 

Semarak 'Royal Wedding' Kraton Yogyakarta

Putri bungsu Sri Sultan Hamengkubuwono X, Gusti Kanjeng Ratu Bendara atau GRay Nurastuti Wijareni menikah dengan Kanjeng Pangeran Haryo Yudanegara atau Achmad Ubaidillah di Yogyakarta, hari ini, Minggu (16/10/2011). Meski acara puncak baru dilakukan hari ini, sejumlah prosesi tradisional sudah digelar kerabat kraton sejak beberapa waktu lalu. (Foto: ANTARA/ Noveradika)


Rombongan kereta Kraton Yogyakarta bersiap menjemput KPH Yudanegara di Regol Magangan, Kraton Yogyakarta, Minggu (16/10).Foto: ANTARA/ Noveradika


KPH Yudanegara (tengah) turun dari kereta Kyai Puspitomanik saat tiba di Regol Magangan, Kraton Yogyakarta, Minggu (16/10). Foto: ANTARA/ Noveradika 

KPH Yudanegara (2 kanan) berjalan menuju Bangsal Kasatriyan, Kraton Yogyakarta, Minggu (16/10). Foto: ANTARA/ Noveradika 

KPH Yudanegara (kiri) melambaikan tangan saat disambut oleh GKR Hemas (kanan) di Regol Magangan, Kraton Yogyakarta, Minggu (16/10). Foto: ANTARA/ Noveradika 

KPH Yudanegara berserta keluarga tiba di Bangsal Kasatriyan untuk kemudian menjalani prosesi nyantri, Kraton Yogyakarta, Minggu (16/10). Foto: ANTARA/ Noveradika 

GKR Bendara saat memulai prosesi pingitan jelang pernikahan di bangsal Sekar Kedaton, Kompleks Kraton Yogyakarta, Yogyakarta, Minggu (16/10). Foto: ANTARA/ Puspa Perwitasari 


Ritual Siraman Kraton Yogyakarta

Hari kedua prosesi pernikahan antara putri bungsu Sri Sultan Hamengkubuwono X, Gusti Kanjeng Ratu Bendara atau GRay Nurastuti Wijareni dengan Kanjeng Pangeran Haryo Yudanegara atau Achmad Ubaidillah dilanjutkan dengan prosesi siraman hari ini, Senin (17/10/2011). Prosesi tersebut digelar di dua tempat berbeda. Untuk pengantin pria prosesi siraman digelar di bangsal Kesatrian, sementara untuk mempelai putri di Bangsal Sekar Kedhaton. Lihat videonya di sini. (Foto: REUTERS)


Sejumlah pengiring pengantin membawa cermin dan berbagai perlengkapan prosesi siraman lainnya di Kraton Yogyakarta, Senin (17/10/2011). Foto: REUTERS/ Beawiharta 


Keterangan dibawah


GKR Hemas menuangkan air pada putrinya, GKR Bendara, saat prosesi siraman jelang pernikahan dengan KPH Yudanegara di Kraton Yogyakarta, Senin (17/10/2011). Foto: REUTERS/ Puspa Perwitasari 


GKR Hemas menuangkan air pada putrinya, GKR Bendara, saat prosesi siraman jelang pernikahan dengan KPH Yudanegara di Kraton Yogyakarta, Senin (17/10/2011). Foto: REUTERS/ Puspa Perwitasari 

Berdo'a setelah siraman


Nurbaeti Helmi menuangkan air pada putranya, KPH Yudanegara, saat prosesi siraman jelang pernikahan dengan GKR Bendara di Yogyakarta, Senin (17/10/2011). Foto: REUTERS/ Beawiharta 

KPH Yudanegara berjalan keluar ruangan usai prosesi siraman di Kraton Yogyakarta, Senin (17/10/2011). Foto: REUTERS/ Beawiharta 

GKR Bendara Jalani Prosesi Malam Midodareni

Calon pengantin, GKR Bendara menjalani prosesi malam Midodareni di Bangsal Sekar Kedaton, Keraton Yogyakarta, Senin (17/10/2011) malam. Malam midodareni adalah malam terakhir masa lajang putri yang hanya ditemani saudara dan kerabat perempuannya menjelang hari pernikahannya keesokan harinya. FOTO: ANTARA/Regina Safri.

Sri Sultan Hamengku Buwono X menyerahkan liontin dari KPH Yudanegara kepada GKR Bendara saat malam Midodareni di Keraton Yogyakarta, Senin (17/10/2011) malam. FOTO: ANTARA/Regina Safri
GKR Bendara (tengah) bersama saudara perempuannya GRAJ Nur Abra Juwita (kiri) dan GKR  Maduretno (kanan) saat malam Midodareni di Yogyakarta, Senin (17/10/2011) FOTO: ANTARA/Regina Safri


Calon pengantin GKR Bendara saat malam Midodareni di Bangsal Sekar Kedaton, Keraton Yogyakarta, Senin (17/10/2011) malam. FOTO: ANTARA/Regina Safri.

Gegap Gempita Pesta Pernikahan Sang Putri Raja

Acara puncak pernikahan antara putri bungsu Sri Sultan Hamengkubuwono X, Gusti Kanjeng Ratu Bendara atau GRay Nurastuti Wijareni dengan Kanjeng Pangeran Haryo Yudanegara atau Achmad Ubaidillah digelar di Yogyakarta, hari ini, Selasa (18/10/2011). Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beserta 20 menteri dan 40 Raja dari berbagai pelosok Nusantara turut hadir dalam acara tersebut. (Foto: REUTERS)


Sejumlah abdi dalem berjalan di dekat kendaraan lapis baja polisi saat upacara pernikahan antara GKR Bendara dengan KPH Yudanegara di Yogyakarta, Selasa (18/10/2011). Foto: REUTERS/ Beawiharta

Sultan Hamengkubuwono X berjalan saat upacara pernikahan antara putrinya GKR Bendara dengan KPH Yudanegara di Masjid Kraton Yogyakarta, Selasa (18/10/2011). Foto: REUTERS/ Beawiharta

Suasana akad nikah antara GKR Bendara dengan KPH Yudanegara di Yogyakarta, Selasa (18/10/2011). Foto: REUTERS/ Beawiharta

KPH Yudanegara memberi hormat kepada Sri Sultan Hamengkubuwono X di Yogyakarta, Selasa (18/10/2011). Foto: REUTERS/ Beawiharta

Sungkem setelah prosesi akad nikah. Sumber: kratonwedding.tumblr.com

KPH Yudanegara berjalan saat upacara pernikahannya dengan GKR Bendara di Yogyakarta, Selasa (18/10/2011). Foto: REUTERS/ Dwi Oblo

Suasana pesta pernikahan antara GKR Bendara dengan KPH Yudanegara di Kraton Yogyakarta, Selasa (18/10/2011). Foto: REUTERS/ Beawiharta

Suasana pesta pernikahan antara GKR Bendara dengan KPH Yudanegara di Kraton Yogyakarta, Selasa (18/10/2011). Foto: REUTERS/ Beawiharta

GKR Bendara mencuci kaki KPH Yudanegara di Kraton Yogyakarta, Selasa (18/10/2011). Foto: REUTERS/ Beawiharta

GKR Hemas, permaisuri Sri Sultan Hamengkubuwono X | #kratonwedding @kratonwedding (Taken with instagram)

Sri Sultan Hamengkubuwono XI #kratonwedding @kratonwedding (Taken with instagram)

Jeng Reni | #kratonwedding @kratonwedding (Taken with instagram)

Bapak Presiden Republik Indonesia beserta Ibu Negara | #kratonwedding @kratonwedding (Taken with instagram)

Presiden SBY berbicara dengan Sri Sultan Hamengkubuwono X saat upacara pernikahan antara GKR Bendara dengan KPH Yudanegara di Yogyakarta, Selasa (18/10/2011). Foto: REUTERS/ Beawiharta


Antusiasme Masyarakat

Gerbang Kesatriyan

Regol donopratopo

Abdi dalem edan edanan. Sumber: http://kratonwedding.tumblr.com

Antusias nya masyarakat #jogjaistimewa menunggu mas Ubay dan jeng Reni saat kirab.. #kratonwedding #iphonesia @kratonwedding (Taken with instagram)

Dirangkum dari beragam sumber:

http://kratonwedding.tumblr.com/
http://www.facebook.com/KratonWedding
http://www.salingsilang.com/baca/kanal-media-sosial-pernikahan-kraton-yogyakarta-kratonwedding
http://foto.vivanews.com/read/4733/64891-gegap-gempita-pesta-pernikahan-sang-putri-raja

Rabu, 12 Oktober 2011

Gurindam 12

Karangan Raja Ali Haji

INILAH GURINDAM DUABELAS NAMANYA

Segala puji bagi Tuhan seru sekalian alam serta shalawatnya Nabi yang akhirul jaman serta keluarganya dan sahabatnya sekalian adanya.

Amma ba’du daripada itu maka tatkala sampailah Hijratun Nabi 1263 Sanah kepada dua puluh tiga hari bulan Rajab hari Selasa mana (…..) telah ta’ali kepada kita yaitu Raja Ali Haji mengarang satu gurindam cara Melayu yaitu yang boleh juga jadi diambil faedah sedikit-sedikit daripada perkataannya itu pada orang yang ada menaruh akal maka adalah banyaknya gurindam itu hanya duabelas pasal di dalamnya.

Syahdan

Adalah beda antara gurindam dengan syair itu aku nyatakan pula bermula arti syair Melayu itu perkataan yang bersajak yang serupa dua berpasang pada akhirnya dan tiada berkehendak pada sempurna perkataan pada satu-satu pasangnya bersalahan dengan gurindam.

Adapun arti gurindam itu yaitu perkataan yang bersajak juga pada akhir pasangannya tetapi sempurna perkataannya dengan satu pasangannya sahaja jadilah seperti sajak yang pertama itu syarat dan sajak yang kedua itu jadi seperti jawab.

Bermula inilah rupanya syair.

Dengarkan tuan suatu rencana
Mengarang di dalam gundah gulana
Barangkali gurindam kurang kena
Tuan betulkan dengan sempurna

Inilah arti gurindam yang di bawah syatar ini

Persamaan yang indah-indah
Yaitu ilmu yang memberi faedah
Aku hendak bertutur
Akan gurindam yang beratur

1
INI GURINDAAM PASAL YANG PERTAMA
Barang siapa tiada memegang agama
Segala-gala tiada boleh dibilang nama
Barang siapa mengenal yang empat
Maka yaitulah orang yang ma’rifat
Barang siapa mengenal Allah
Suruh dan tegaknya tiada ia menyalah
Barang siapa mengenal diri
Maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri
Barang siapa mengenal dunia
Tahulah ia barang yang terpedaya
Barang siapa mengenal akhirat
Tahulah ia dunia mudharat
2
INI GURINDAM PASAL YANG KEDUA
Barang siapa mengenal yang tersebut
Tahulah ia makna takut
Barang siapa meninggalkan sembahyang
Seperti rumah tiada bertiang
Barang siapa meninggalkan puasa
Tidaklah mendapat dua termasa
Barang siapa meninggalkan zakat
Tiadalah hartanya beroleh berkat
Barang siapa meninggalkan haji
Tiadalah ia menyempurnakan janji
3
INI GURINDAM PASAL YANG KETIGA
Apabila terpelihara mata
Sedikitlah cita-cita
Apabila terpelihara kuping
Khabar yang jahat tiadalah damping
Apabila terpelihara lidah
Niscaya dapat daripadanya faedah
Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan
Daripada segala berat dan ringan
Apabila perut terlalu penuh
Keluarlah fi’il yang tidak senonoh
Anggota tengah hendaklah ingat
Di situlah banyak orang yang hilang semangat
Hendaklah peliharakan kaki
Daripada berjalan yang membawa rugi
4
INI GURINDAM PASAL YANG KEEMPAT
Hati itu kerajaan di dalam tubuh
Jikalau zalim segala anggota tubuh pun rubuh
Apabila dengki sudah bertanah
Datanglah daripadanya beberapa anak panah
Mengumpat dam memuji hendaklah pikir
Di situlah banyak orang yang tergelincir
Pekerjaan marah jangan dibela
Nanti hilang akal di kepala
Jika sedikitpun berbuat bohong
Boleh diumpamakan mulutnya itu pekung
Tanda orang yang amat celaka
Aib dirinya tiada ia sangka
Bakhil jangan diberi singgah
Itulah perompak yang amat gagah
Barang siapa yang sudah besar
Janganlah kelakuannya membuat kasar
Barang siapa perkataan kotor
Mulutnya itu umpama ketor
Di manakah salah diri
Jika tidak orang lain yang berperi
Pekerjaan takbur jangan direpih
Sebelum mati didapat juga sepih
5
INI GURINDAM PASAL YANG KELIMA
Jika hendak mengenal orang berbangsa
Lihat kepada budi dan bahasa
Jika hendak mengenal orang yang berbahagia
Sangat memeliharakan yang sia-sia
Jika hendak mengenal orang mulia
Lihatlah kepada kelakuan dia
Jika hendak mengenal orang yang berilmu
Bertanya dan belajar tiadalah jemu
Jika hendak mengenal orang yang berakal
Di dalam dunia mengambil bekal
Jika hendak mengenal orang yang baik perangai
Lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai
6
INI GURINDAM PASAL YANG KEENAM
Cahari olehmu akan sahabat
Yang boleh dijadikan obat
Cahari olehmu akan guru
Yang boleh tahukan tiap seteru
Cahari olehmu akan isteri
Yang boleh menyerahkan diri
Cahari olehmu akan kawan
Pilih segala orang yang setiawan
Cahari olehmu akan abdi
Yang ada baik sedikit budi
7
INI GURINDAM PASAL YANG KETUJUH
Apabila banyak berkata-kata
Di situlah jalan masuk dusta
Apabila banyak berlebih-lebihan suka
Itu tanda hampirkan duka
Apabila kita kurang siasat
Itulah tanda pekerjaan hendak sesat
Apabila anak tidak dilatih
Jika besar bapanya letih
Apabila banyak mencat (mencacat?) orang
Itulah tanda dirinya kurang
Apabila orang yang banyak tidur
Sia-sia sajalah umur
Apabila mendengar akan kabar
Menerimanya itu hendaklah sabar
Apabila mendengar akan aduan
Membicarakannya itu hendaklah cemburuan
Apabila perkataan yang lemah lembut
Lekaslah segala orang mengikut
Apabila perkataan yang amat kasar
Lekaslah orang sekalian gusar
Apabila pekerjaan yang amat benar
Tidak boleh orang berbuat onar
8
INI GURINDAM PASAL YANG KEDELAPAN
Barang siapa khianat akan dirinya
Apalagi kepada lainnya
Kepada dirinya ia aniaya
Orang itu jangan engkau percaya
Lidah suka membenarkan dirinya
Daripada yang lain dapat kesalahannya
Daripada memuji diri hendaklah sabar
Biar daripada orang datangnya kabar
Orang yang suka menampakkan jasa
Setengah daripadanya syirik mengaku kuasa
Kejahatan diri disembunyikan
Kebajikan diri diamkan
Ke’aiban orang jangan dibuka
Ke’aiban diri hendaklah sangka
9
INI GURINDAM PASAL YANG KESEMBILAN
Tahu pekerjaan tak baik tetapi dikerjakan
Bukannya manusia yaitulah syaitan
Kejahatan seorang perempuan tua
Itulah iblis punya penggawa
Kepada segala hamba-hamba raja
Di situlah syaitan tempatnya manja
Kebanyakan orang yang muda-muda
Di situlah syaitan tempat bergoda
Perkumpulan laki-laki dengan perempuan
Di situlah syaitan punya jamuan
Adapun orang tua(h) yang hemat
Syaitan tak suka membuat sahabat
Jika orang muda kuat berguru
Dengan syaitan jadi berseteru
10
INI GURINDAM PASAL YANG KESEPULUH
Dengan bapa jangan derhaka
Supaya Allah tidak murka
Dengan ibu hendaklah hormat
Supaya badan dapat selamat
Dengan anak janganlah lalai
Supaya boleh naik ke tengah balai
Dengan kawan hendaklah adil
Supaya tangannya jadi kapil
11
INI GURINDAM PASAL YANG KESEBELAS
Hendaklah berjasa
Kepada yang sebangsa
Hendak jadi kepala
Buang perangai yang cela
Hendaklah memegang amanat
Buanglah khianat
Hendak marah
Dahulukan hujjah
Hendak dimalui
Jangan memalui
Hendak ramai
Murahkan perangai
12
INI GURINDAM PASAL YANG KEDUABELAS
Raja mufakat dengan menteri
Seperti kebun berpagarkan duri
Betul hati kepada raja
Tanda jadi sebarang kerja
Hukum adil atas rakyat
Tanda raja beroleh inayat
Kasihkan orang yang berilmu
Tanda rahmat atas dirimu
Hormat akan orang yang pandai
Tanda mengenal kasa dan cindai
Ingatkan dirinya mati
Itulah asal berbuat bakti
Akhirat itu terlalu nyata
Kepada hati yang tidak buta

Tamatlah gurindam yang duabelas pasal yaitu
karangan kita Raja Ali Haji
pada tahun Hijrah Nabi kita seribu dua ratus enam puluh tiga
kepada tiga likur hari bulan Rajab
Selasa jam pukul lima
Negeri Riau Pulau Penyengat

Sumber
http://anak-kepri.blogspot.com/2009/12/gurindam-12_12.html

Untuk mengetahui Biografi Raja Ali Haji, kunjungi situs dibawah ini:
http://www.rajaalihaji.com/id/biography.php
atau
http://duniabaca.com/biografi-raja-ali-haji-lengkap.html

Selasa, 27 September 2011

Oleh-oleh dari makam Bung Karno

Pelataran Makam Bung Karno  (gambar 1)
Catatan ini merupakan oleh-oleh seorang sahabat -mba' Intan Wijayanti- dari ziarahnya ke makam Bung Karno yang terletak dikelurahan Bendogerit, Kecamatan Sananwetan, sekitar 2 km ke arah utara pusat Kota Blitar. Makam ini didominan oleh arsitektur 'Joglo'. Bergaya Jawa Timuran dan dikombinasi dengan gerbang candi Bentar. Selain bangunan utama yang berupa cungkup makam Bung Karno, kompleks makam ini juga dilengkapi dengan bangunan-bangunan pendukung yaitu; Gapura Agung, Masjid dan Bangsal; yang dapat membuat para pengunjung betah untuk berziarah dilokasi ini. Ada juga bangunan pelengkap yang terdiri rumah pengurus makam, tempat peristirahatan umum, halaman parkir, dan pertamanan. Kesannya sangat megah, sebesar beliau sewaktu masa hidupnya.

Keterangan diatas sebenarnya bukan hal yang ingin diceritakan oleh Intan, baginya ada yang lebih menarik perhatian untuk di-share kepada pembaca blog ini, yaitu tulisan dibawah yang didapat dari ziarahnya itu.

Tulisan ini -meski berbahasa jawa- menurutnya agak sulit untuk difahami bahkan olehnya sendiri yang nota bene orang Jawa Timur. "Bahasanya tinggi kang", jawabnya singkat ketika admin meminta Ibu Dosen ini untuk menerjemahkan poin demi poin pada tulisan tsb. "Aku terpaksa minta bantuan beberapa orang untuk bantu terjemahkan", ujarnya lagi.

Karena setidaknya ada 2 versi terjemahan, dan admin tidak faham betul bahasanya maka diputuskan untuk mencantumkan keduanya. Itu sebabnya ada "a" dan "b", dimana hasil terjemahan bapak Bambang Hardjono (Yogyakarta) ditandai dengan "a", sedang hasil terjemahan bapak Noegroho Dewo ditandai dengan "b" adapun cak Mat, "c" hanya menyelesaikan beberapa saja krn kondisi beliau yg kurang sehat.

Untuk itu admin menghaturkan rasa terima kasih kepada beliau semua yang sudi meluangkan waktu tenaga dan pikirannya untuk berbagi dengan pembaca.

Catatan:

Patung Bung Karno (gambar 2)
* Mengingat nara sumbernya terdiri dari beberapa orang, maka tentunya hasil terjemahan dibawah ini tidak sepenuhnya sama. Meski demikian semoga satu dan lainnya bisa saling melengkapi sehingga dapat pembaca pahami.
* Diantara pembaca tentunya ada yang mengerti maksud atau makna dari tulisan dibawah, untuk itu jika terdapat kesalahan baik penulisan ataupun makna dari terjemahannya, mohon maklum adanya. Jauh lebih penting tentu adalah koreksinya sehingga bacaan ini menjadi lebih lugas dan membumi.
* Terjemahan ditulis miring



"HAMBANGUN KAPRIBADEN BANGSA KANTHI BUDAYA BUCENG GUYUP"
(MEMBANGUN KEPRIBADIAN BANGSA DENGAN BUDAYA HIDUP RUKUN)


1. Jumbuh kalian dhawuh para Nabi, para Wali dan para bentuah suhada' dalah Gurune kang nyebarake ngelmu Pangeran Kang Maha Suci Meling mring putu buyut leluhur mulyane mulyo dudu bandha donya ingkang angantheni sowan marang Pangeran.

1a. Berpegang pada perintah para Nabi, wali dan para guru yang menyebarkan ilmu kebaikan kepada Allah terhadap anak cucu akan kemuliaan sesungguhnya bukanlah harta dunia yang membimbing kita menghadap Allah.

1b. Sehubungan dengan perintah Nabi dan para wali yang menyebarkan ajaran Tuhan yang maha suci kepada para keturunannya..kemuliaan itu bukan harta dunia yang di bawa kehadapan Tuhan YME


1c. Mengingat petunjuk Rasul dan para ulama tentang Ilmu dari Allah Swt, kemuliaan sejati bukan harta yang bisa mempertemukan hamba dng Allah.

2. Pra Leluhur sowan ngarso Gusti luwih mulya nalika anulat urioe anak turune kang tansah guyup rukun reruntungan tulus ing ati. tan ono sesongkrahan serta tindak dudu tulung tinulung sapadha. tinebihna saking niat srei, drengki luputa ing panadhang.

2a. Para leluhur menghadap Allah lebih mulia jika melihat anak keturunannya rukun tanpa ada perpecahan dan saling tolong menolong kepada sesama, dijauhkan dari iri dengki.

2b. Para leluhur menghadap kepada Tuhan YME lebih mulia ketika memperhatikan keturunannya yang hidup dengan rukun dan damai tanpa ada gesekan yang membahayakan serta hidup saling tolong menolong tanpa di sertai cemburu dan dengki

3. Buceng guyub tansah mengku werdi tandha gegayuhanne wong tuwa. nggayuh guyub nak turune lelambang wohing tuwuh teuwuhan lumahing bumi. ono pala kesempar uga pala gandul, pala pendhem uga sarto rinakit wujud bebucengan sayekti nuwuhne kesantosan.

3a. Kebersamaan selalu jadi harapan orang tua yang menghendaki kerukunan selayaknya pepohonan yang memberi pengayoman, dan menjadikan kesentosaan.

3b. Hidup rukun menjadi doanya dan harapan orang tua......artinya.. seperti buah yang jatuh pun kan jatuh ke tanah..kalau buah terkena kaki/ke tendangpun juga tetap jatuh ke tanah...itu semua harus menuju pada kehidupan yg sentosa...

4. Ana maneh kudu di sarati mawa kurban sato belehan kewan darat wujutanne tambahan kewan banyu beriberan ojo nganti kari. sarono ngedohke balak. raharja jinangkung sumber pitu ujukannya mundhut saking sumur tangga kanan kering.

4a. Ada syarat yg harus dipenuhi yaitu sembelihan hewan korban dan ikan jangan ketinggalan guna menjauhkan dari malapetaka ( tolak bala ), termasuk air 7 sumur dari tetangga .

4b. Syarat berikut..harus menyembelih hewan dan ikan jangan sampai lupa ini adalah untuk menjauhkan kemalangan...juga ambil air sumur dari 7 sumber dari tetangga sebelah menyebelah

5. Panyuwunan kanthi muja-muji marang Gusti maga kasembadan kepenak urip burine, umpama sugih mbrewu bennya golek kudu nastiti, aja mung angger nabrak lali saru siku, elingo marang piwulang sapa nandur bakal ngundhuh tembe mburi kuwi lakonne kodrat.

5a. Memohon dengan doa kepada Allah agar enak hidupnya, semisal kaya biar tetap hati-hati dan hemat jangan sampai asal grusa grusu dan memalukan, ingatlah pada pepatah " siapa menabur dia akan menuai " itulah hukum alam.

5b. Memohon pada Tuhan YME agar di beri hidup tentram kelak..kalau hidup kaya ya jgn sombong..jgn asal2an...ingat kpada SIAPA YG MENANAM..DIA YG MEMETIK....itu adalah kodrat.

6. Mula tansah paring sembah Gusti, Gusti ingkang akarya jagad awujud bebucengane kang aran buceng guyub kang kadamel kanggo mranani guyube keluarga, trusing anak putu, tangga teparo diundang bareng saperlu ngamini guyube kasembadan.

6a. Maka selalu bersujud menyembah kepada Allah yang memiliki jagad raya agar menjadikan kehidupan keluarga selalu rukun sampai ke anak cucu, tetangga kiri kanan diundang untuk mengamini setiap permohonan yang kita sampaikan kepada Allah agar diijabah.

6b. Oleh karena itu selalu berdoa kpd Tuhan YME yang membuat dunia ini agar tentram untuk anak cucu dan keluarga tetangga..dan tetangga diajak untuk mengamini doa tsb...


Intan Wijayanti  (gambar 3)
Catatan tentang Intan Wijayanti

Banyak catatan mba' Intan yang pernah posting ke blog ini, karenanya admin tak perlu repot-repot lagi memperkenalkannya. Jangan kaget kalau dari beberapa notenya yang ada di blog ini tak satupun fotonya yang sama (Ssstt.. jangan bilang-bilang yaa.... meski sudah ijin tapi admin mengambil foto yang  terbaru dan belum pernah ditempel diblog, mumpung banyak stocknya... hehee..)
Oh.. yaa mba' Intan juga berpesan agar disampaikan ucapan terimakasihnya kepada orang yang telah membantunya menerjemahkan tulisan diatas, ini ucapannya: "terima kasih kepada bapak yang sudah ku anggap orangtuaku Bambang Hardjono, pak Noegroho Dewo, dan cak Mat... yang membantu menerjemahkan.... tulisan ini".

Ucapan yang sama telah admin ungkapkan diatas, sehingga pada kesempatan ini admin ingin menghaturkan rasa terimakasih pada mba' Intan Wijayanti, yang tengah malam kemarin direpotkan admin untuk tulisan ini, "Matur suwun, mba'...."



Sumber Foto:
Gambar 1 : baguspewe.wordpress.com
Gambar 2 : mbah Google
Gambar 3 : Akun FB Intan Wijayanti

Kamis, 07 Juli 2011

Megatruh Rendra: “Memutus Ruh”

PENGANTAR

Ya. Inilah judul pidato kebudayaan saya malam ini. Megatruh. Megat-ruh. Megat artinya memutus. Jadi: megatruh adalah memutus ruh. Suasana dukacita yang mendalam. Bukan suasana perasaan semata, tetapi suasana ruh yang putus dan berada dalam alam kelam.
****

Para hadirin yang terhormat, … 

Perkenankanlah saya mengulang apa yang sudah saya ucapkan dalam beberapa wawancara dengan pers. Adalah kodrat manusia bahwa ia mengandung Daulat Alam dan Daulat Manusia di dalam dirinya. Kebudayaan yang kita warisi dari leluhur banyak merenungkan dan menghayati Daulat Alam di dalam kehidupan: kelahiran, kematian, perjodohan, nasib rezeki, penghayatan pancaindra, penghayatan badan dan penghayatan alam semesta.

Tetapi merenungkan Daulat Manusia tidak pernah tuntas. Daulat manusia terbatas sekali oleh sifat alam dalam dirinya. Terutama sekali terbatas oleh kelahirannya. Kalau lahir sebagai orang bawah, sebagai orang miskin, sebagai orang tanpa pendidikan, atausebagai orang perempuan, sukar untuk meningkat keatas, karena tatanan masyarakat diatur seperti tatanan didalam alam: yang tikus tetap tikus, yang kucing tetap kucing, yang kambing tetap kambing, yang macan tetap macan. Hanya para jagoan saja yang bisa menerobos tatanan masyarakat yang seperti itu. Misalnya Ken Arok, si anak jadah dan kriminal jalanan yang akhirnya bisa menjadi raja itu; atau Gajah Mada, tukang pukul yang akhirnya bisa menjadi mahapatih; atau Untung Surapati, seorang hamba sahaya yang bisa meningkat menjadi pahlawan atau jagoan; atau Ir. Soekarno, seorang anak guru yang bisa menjadi Presiden Indonesia yang pertama; atau orang-orang melarat yang bisa menjadi konglomerat. Oh ya, akhirnya banyak juga jagoan-jagoan dalam berbagai bidang bisa muncul. Tetapi kejagoannyalah yang membuat ia mampu mendobrak tatanan hidup yang resmi, yang sebenarnya tidak banyak memberi hak kepada khalayak banyak untuk memperkembangkan Daulat Manusia mereka.

Para pemimpin bangsa kita, dari sejak zaman raja-raja dahulu kala, memang tidak pernah menaruh perhatian kepada pengembangan Daulat Manusia pada umumnya. Saat Aristoteles, filsuf Yunani (384-322 SM) menulis buku “Politica”, menerangkan hak rakyat untuk memilih pemimpin bangsanya, dan tidak membenarkan adanya tirani kekuasaan, para pemimpin bangsa kita masih hidup dalam kegelapan sejarah dan jelas tidak berminat pada filsafat. Dan pada waktu Raja John dari Inggris mengesahkan Undang-Undang yang disebut
orang sebagai Magna Carta, yaitu tahun 1215, raja mengakui kejelasan hak-hak bangsawan bawahannya dan juga hak-hak rakyat yang harus ia hormati dan tak mungkin ia langgar.

Jawa pada saat itu berada dalam pemerintahan Tunggul Ametung yang sebentar lagi akan digantikan oleh Ken Arok. Kedua penguasa dari Jawa itu tak pernah memikirkan atau mengakui UU apapun. Sabdaraja itulah UU bagi rakyat. Sebagaimana dalam alam bahwa yang kuat itu yang menang. Maka tatanan masyarakat leluhur kita itupun berlandaskan kenyataan bahwa yang kuat itu yang benar (might is right). Dan yang terkuat dalam di dalam masyarakat tentunya raja. Jadi sabda raja (dekrit raja atau Kepraj, yaitu keputusan raja) yang menjadi sumber kebenaran.

Tentu saja seorang raja Jawa tidak diperkenankan untuk sewenang-wenang. Ia diharapkan untuk Ambeg Paramarta serta menghayati Hasta Brata. Tetapi bila ternyata raja tidak memenuhi harapan itu, dan kejamseperti Amangkurat Tegalarum atau menjijikkan seperti Amangkurat II, ya tidak ada sanksi apa-apa sebab ia kuat, ia raja.
****

Selanjutnya pada 1295 Raja Edward dari Inggris memperbaiki hak-hak parlemen. Dia mengatakan bahwa hanya parlemen yang bisa mengubah hukum. Hal ini bersamaan dengan saat akhir pemerintahan Kertanegara dari Singasari dan munculnya Majapahit dibawah pimpinan Raden Wijaya. Kedua penguasa itu, boro-boro punya parlemen, punya kitab UU sebagai landasan pemerintahannya pun tidak. Sabda raja tetap unggul di atas segala-galanya. Hal itu bukan pertanda kebudayaan bangsa kita rendah. Lihatlah candi- candi yang indah, seni membuat keris, syair-syair dari Empu Kanwa, Empu Sedah, Empu Panuluh. Raffles mengagumi karya sastra leluhur kita. Waktu pulang ke Inggris, setelah selesai tugasnya di Jawa, ia membawa 30 ton benda sastra dan seni dari Jawa. Kemudian dengan rasa kagum ia laporkan dan dikupas dalam bukunya “The History of Java”. Tetapi didalam kebudayaan Jawa yang tinggi itu, para pujangga dan para rajanya ternyata tak pernah sadar akan perlunya hak-hak konstitusional bagi rakyatnya, yang dilindungi oleh pelaksanaan UU yang berlaku.

Di zaman pemerintahan Hayam Wuruk, menurut buku Negarakertagama yang ditulis oleh Empu Prapanca, pada pupuh 73 digambarkan bahwa Hayam Wuruk bersifat adil dalam melaksanakan UU Agama, yang sebenarnya dituliskan dalam kitab yang berjudul Kutara Manawadharmasastra. Bahkan Demung Sora, seorang menterinya dihukum mati karena telah membunuh Mahisa Anabrang yang tak berdosa. Dengan begitu Demung Sora telah melanggar pasal Astadusta dari Kitab UU Kutara Manawadharmasastra itu. Namun begitu, tidak tercantum di dalam Kitab UU itu hak rakyat untuk punya perwakilan dan ikut menentukan jalannya pemerintahan. Sementara itu di Inggris pada 1649 Raja Charles I dihukum pancung karena dianggap melecehkan parlemen, dan untuk sementara Lord Cromwell diangkat menjadi pelindung parlemen dengan gelar Lord Protector pada 1653.

Itulah tahun-tahun berkuasanya Amangkurat I yang kejam, yang sibuk membina kekuasaan yang absolut dan pemerintahan yang ketatn dan memusat, yang membuat kehidupan masyarakat menjadi sumpek dan akhirnya dibenci oleh rakyat. Dan waktu John Locke, filsuf dan sastrawan Inggris menulis dua esai tentang pemerintahan yang ideal, yang menghormati hak milik warganegara dan berkewajiban melindungi segala milik warganegara itu, di Mataram berkuasa Amangkurat II yang memerintah di Karta Sura dengan sewenang-wenang, sombong, kekanak-kanakan, pengecut dan keras kepala.
Ia telah membunuh bapaknya Amangkurat I yang tengah sekarat di Tegalarum. Lalu mengkhianati sahabatnya Trunojoyo. Menggadaikan Semarang kepada VOC. Dan menyewakan tebang hutan dari beberapa wilayah kepada para cukong. Lalu para cukong menjual kayunya atau hak tebang hutannya pada VOC. (Saya teringat pada sistem HPH dewasa ini.

Ternyata pelopornya adalah Amangkurat II dengan asprinya yang bernama Adipati Suranata).
Ya, Amangkurat II inilah pelopor kebangkrutan Mataram, yang sebenarnya memang sudah salah membangun sejak rajanya yang pertama yaitu Panembahan Senopati. Sebab raja-raja pendahulu Dinasti Mataram ini salah mengira bahwa stabilitas negara itu adalah pemusatan kekuasaan.
Tetapi di Inggris, sejak zaman Ken Arok, Kertanegara atau Raden Wijaya, para penguasanya atau raja-rajanya mau mengakui daulat hukum disamping daulat raja, bahkan pada akhirnya, sejajar dengan zaman Majapahit, raja Inggris mau mengakui adanya daulat rakyat, ternyata negaranya terus stabil. Bukan berarti tanpa pergolakan.

Wah, justru banyak pergolakan politik di sana. Tetapi kepastian hidup rakyat makin lama makin stabil. Dan ternyata dinasti raja- raja mereka tetap lestari bergengsi sampai zaman ini, sehingga negaranya bisa maju. Sebab kemajuan negara itu tidak mungkin diciptakan penguasa. Paling jauh penguasa itu hanya bisa menyeret
bangsanya maju setahap saja, tetapi perkembangan bertahap-tahap seperti di Inggris (dari tahap pertanian ke tahap filsafat, perdagangan, ilmu pengetahuan, teknologi modern, industri dan kebudayaan cybernetic) hanyalah bisa dicapai dengan kemampuan rakyat yang selalu maju berkat dukungan daulat rakyat, yang dilindungi oleh daulat hukum. Tidak ada contohnya dalam sejarah dunia bahwa pemerintahan yang totaliter bisa memajukan bangsa dalam tahap-tahap perkembangan budaya. Di kala dipimpin oleh pemerintah yang totaliter, meskipun sudah mencapai teknologi tinggi, seperti Jepang, Korea dan Jerman, rupanya budaya filsafat, sosial dan ekonomi macet. Baru setelah daulat hukum dan daulat rakyat berlaku, maka ketiga negara itu bisa melewati berbagai tahap budaya dengan pesat, hingga kini harus diperhitungkan sebagai kekuatan yang ikut menentukan perkembangan budaya dunia.

Sebaliknya para raja Mataram yang maniak akan sentralisasi kekuasaan itu, tidak pernah bisa membawa kemajuan kepada rakyat Jawa. Dipandang dari segi kepentingan rakyat, raja-raja Mataram adalah raja-raja yang gagal. Tidak ada kharisma mereka, sehingga gagal menyatukan Jawa.
****

Sebelum ada Mataram, menurut laporan orang Portugis Jono de Barros, orang Jawa itu angkuh, berani, berbahaya dan pendendam. Kalau tersinggung perasaannya sedikit saja, terutama kalau disentuh kepala atau dahinya, terus mengamuk membalas dendam. Seorang Portugis yang lain, Diego de Couto melaporkan bahwa ia mengagumi kecakapan berlayar orang-orang Jawa, bahasa Jawa yang selalu berkembang dan punya aksara sendiri, namun mereka begitu angkuh sehingga menganggap bangsa lain lebih rendah. Maka kalau orang Jawa lewat di jalan, dan melihat ada orang bangsa lain yang berdiri di onggokan tanah atau suatu tempat lain yang tinggi dari tanah tempat ia berjalan, apabila orang itu tidak segera turun dari tempat semacam itu, maka ia akan dibunuh oleh orang Jawa itu. Sebab ia tidak akan memperkenankan orang lain berdiriditempat yang lebih tinggi. Juga orang Jawa tak akan mau menyunggi beban di atas kepalanya, biarpun ia diancam dengan ancaman maut.

Mereka adalah pemberani dan penuh keyakinan diri dan hanya karena penghinaan kecil saja bisa melakukan amuk untuk balas dendam. Dan meskipun ia telah ditusuk-tusuk dengan tombak sampai tembus, mereka akan terus merangsek maju sehingga dekat kepada lawannya. Bagaimanapun ekstremnya gambaran itu, pada intinya orang-orang Jawa itu terlihat tangkas, berani, berstamina, dan percaya pada diri secara luar biasa. Dan nyatanya di zaman kerajaan Demak dan Banten, saat kedua laporan itu ditulis, orang-orang Jawa menguasai setiap jengkal dari tanahnya. Tak ada kekuatan asing yang bisa melecehkan kedaulatan tanah air mereka. Banten dan Demak bebas dari kekuasaan asing. Semarang dan Jepara menjadi tempat galangan kapal yang memprodusir kapal-kapal besar dan kecil dalam produktivitas yang tinggi. Arsitektur mengalami perkembangan yang besar. Atap Limasan, gandok, pringgitan dan pendopo joglo yang lebih besar diciptakan (sebelumnya pendopo itu kecil seperti gazebo). Orkestrasi gamelan berkembang karena diciptakannya gambang penerus, bonang penerus dsb. Variasi kendang-kendangpun bertambah. Lalu tembang-tembang Mocopat muncul sebagai eksperimen baru. Pertunjukan wayang kulit ditambah dengan kelir dan blencong.

Santan dan minyak goreng ditemukan. Begitu pula krupuk, trasi dan penganan-penganan dari ketan bertambah variasinya. Masakan pepes dan kukus juga diketemukan. Lalu soga untuk pewarna kain batik, genting dari tanah liat, dan baju yang berlengan dan berkancing. Semua itu tentu saja merupakan pengaruh asing. Barangkali pengaruh dari Cina dan Campa. Tetapi daya adaptasi dan mencerna rakyat terhadap unsur-unsur baru sangat kreatif. Keunikan sastra suluk di zaman itu lebih lagi membuktikan kemampuan orang-orang Jawa untuk beradaptasi tanpa kehilangan diri, bahkan bisa unik.

Mereka penuh harga diri dan pasti diri. Ini semua karena mereka merasa punya jaminan kepastian hidup. Dan kepastian hidup ada arena adanya daulat hukum yang tertera dalam kitab “Salokantara” dan “Jugul Muda” ialah kitab UU Demak yang punya landasan syari’ah agama islam, yang mengakui bahwa semua manusia itu sama derajatnya, sama-sama khalifah Allah di dunia. Raja-raja Demak sadar dan ikhlas dikontrol oleh kekuasaan para wali. Raja- raja Demak berkuasa hanya selama 65 tahun. Tetapi mereka adalah pahlawan bangsa yang telah memperkenalkan daulat hukum kepada bangsanya, yang akan terus membekas sampai kepada Mohammad Syafei, HOS Cokroaminoto dan tokoh-tokoh pembela hak azazi manusia (HAM) dewasa ini.
****

Sayang, begitu muncul Panembahan Senopati, rasa hormat pada daulat hukum itu dilecehkan. Sultan bergelar Sayidin Panatagama, dan terus sampai kepada seluruh keturunannya, kefanatikan terhadap kekuasaan raja yang mutlak dan sentralisasi kekuasaan itu dipertahankan. Rakyat disebut kawula (abdi) dan bukan warganegara. Hidup rakyat tidak pasti. Inisiatif mereka mulai terbatas. Banyak larangan untuk ini dan itu. Rakyat tak bisa mengontrol atau memberi tanggapan kepada kekuasaan. Maka daya hidup rakyat merosot. Yacob Couper, panglima tentara Belanda, menganggap daya tempur tentara Mataram sangat rendah. Sangat jauh dari deskripsi yang dilukiskan oleh Jono de Borros ataupun Diego de Couto. Sebenarnya saya sudah sering melukiskan perbedaan antara Mataram dan Demak ini berulang kali dalam wawancara- wawancara dengan pers. 

Tetapi sekarang, maafkanlah, perlu saya ulang lagi demi kejelasan argumentasi pembicaraan saya malam ini. Raja yang melecehkan daulat rakyat, akhirnya juga melecehkan daulatnya sendiri. Sebab daulat rakyatlah yang mendukung daulat raja. Sebagaimana daulat rakyat Inggris yang memungkinkan daulat
raja Inggris bergema di seluruh dunia.

Dan menurunnya wibawa daulat rakyat Mataram juga menyebabkan daulat raja mereka semakin merosot. Sultan Agung tidak pernah bisa menjamah Batavia. Anaknya Amangkurat I lari terbirit-birit oleh pemberontakan Trunojoyo. Lalu pergi ke Tegal untuk mengemis perlindungan kepada VOC. Raja yang tidak mau berbagi kekuasaan dengan rakyat itu, malah mau berlindung dibawah ketiak orang asing yang bernama VOC. Belum sampai ke Tegal ia sudah sekarat. Dalam keadaan sekarat, ia diracun oleh anaknya yang punya sifat menjijikkan dipandang dari segi kemanusiaan yang beradab, yang kemudian menggantikannya dan bergelar Amangkurat II. Dan raja yang congkak, yang gila kekuasaan, si Amangkurat II ini suka berdandan seperti Belanda, secara diam-diam dileceh oleh Gubernur Cornelius Speelman sebagai “anak emas kompeni”. Raja yang tambun ini menyebut Gubernur “Eyang” dan menyebut komandan militer lokal Belanda dengan sebutan “Romo”. Lebih jauh lagi, nanti salah satu keturunannya yang bernama Paku Buwono II, ternyata telah
melecehkan harga dirinya sendiri. Meskipun ia melecehkan daulat rakyat, ternyata ia tidak segan menulis perjanjian dengan Kompeni Belanda pada tahun 1749 yang bunyinya sebagai berikut: “Inilah surat perkara melepaskan serta menyerahkan terhadap keraton Mataram, dari kanjeng Susuhunan Paku Buwana Senapati Panatagama, ialah dikarenakan oleh perintah Kanjeng Kumpeni yang agung itu, keratuan ini diserahkan kepada Kanjeng Tuwan Gupernur serta direktur di tanah Jawa Djohan Andrijas Baron Van Hogendorf.

Hamba, Kanjeng Susuhunan Pakubuwana Senapati Hing Ngalaga Ngabdulrahman Sayidin Panatagama …………..”  Begitu dan seterusnya ia tanpa malu-malu merendahkan dirinya dan mengangkat-angkat penguasa asing dengan cara yang berlebihan. Sungguh karikatural. Masa pemerintahan Kartasura dan Surakarta adalah masa yang sangat memalukan bagi sejarah Mataram dan sejarah orang Jawa.

Kesenian yang dilahirkan adalah kesenian manis seperti permen. Penuh rasa haru tetapi tidak punya ketajaman olah pikiran. Ada seorang pujangga yang istimewa: ialah Raden Ronggowarsito yang muncul jauh setelah Mataram sirna. Tetapi ia tidak dihargai oleh para penguasa saat itu, meski sangat dicintai oleh rakyat kebanyakan. Ekonomi kacau. Utang kepada Kompeni menumpuk. Amangkurat II menggadaikan Semarang dan hutan-hutan. Pakubuwana II menggadaikan kerajaan. Sedangkan di Inggris, di masa yang sezaman dengan Amangkurat II, karena rakyat Inggris punya kedaulatan yang jelas, yang dilindungi UU, maka karena informasi mengenai jalannya ekonomi kerajaan Inggris bersifat transparan, dan kepastian hukum bisa bersifat vertikal, tidak horisontal, sehingga perencanaan dagang dan ekonomi bisa lebih aman diatur, maka pada tahun 1694 Bank of  England sudah mulai didirikan.

Kekuatan dan bonafiditas perbankan suatu bangsa adalah bonafiditas kemampuannya membangun dan berencana. Kekuatan dan bonafiditas semacam itu hanyalah mampu dihasilkan oleh daulat rakyat yang kuat dan terus dibina. Tujuan dari pidato saya ini adalah untuk secara jujur melakukan instropeksi budaya. Negara kita akhirnya sudah merdeka, tetapi kenapa bangsa Indonesia masih belum juga sepenuhnya bisa merdeka? Bukankah tanpa hak hukum yang bisa berfungsi vertikal suatu bangsa tidak bisa benar-benar merdeka?
Sejarah menunjukkan lubang-lubang dari daya pertahanan kita sebagai suatu bangsa sebagaimana nampak dalam sejarah Mataram. Namun ada juga kenyataan bisa punya harapan apabila menilik kepada sejarah Demak.

Hadirin sekalian.

KESADARAN ADALAH MATAHARI
KESABARAN ADALAH BUMI
KEBERANIAN MENJADI CAKRAWALA
DAN
PERJUANGAN
ADALAH PELAKSANAAN KATA-KATA

 
http://indonesiana.multiply.com




Biografi WS Rendra

WS Rendra Maestro Seni Indonesia
Nama Pena:
WS Rendra
Nama Lengkap:
Willibrordus Surendra Broto Rendra
Tarikh Lahir:
Solo, 7 Nopember 1935
Agama:
Islam
Isteri:
Ken Zuraida
Pendidikan:
- SMA St. Josef, Solo
- Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gajah Mada, Yogyakarta
- American Academy of Dramatical Art, New York, USA (1967)

Karya-Karya
 
Drama:
- Orang-orang di Tikungan Jalan
- SEKDA dan Mastodon dan Burung Kondor
- Oedipus Rex
- Kasidah Barzanji
- Perang Troya tidak Akan Meletus
- dll
  
Sajak/Puisi:
- Jangan Takut Ibu
- Balada Orang-Orang Tercinta (Kumpulan sajak)
- Empat Kumpulan Sajak
- Rick dari Corona
- Potret Pembangunan Dalam Puisi
- Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta
- Pesan Pencopet kepada Pacarnya
- Rendra: Ballads and Blues Poem (terjemahan)
- Perjuangan Suku Naga
- Blues untuk Bonnie
- Pamphleten van een Dichter
- State of Emergency
- Sajak Seorang Tua tentang Bandung Lautan Api
- Mencari Bapak
- Rumpun Alang-alang
- Surat Cinta
- dll
Kegiatan Lain:
Anggota Persilatan PGB Bangau Putih
Penghargaan:
- Hadiah Puisi dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (1957)
- Anugerah Seni dari Departemen P & K (1969)
- Hadiah Seni dari Akademi Jakarta (1975)

Biodata:
W.S Rendra dilahirkan di Solo, 7 November 1935. Beliau mendapat pendidikan di Jurusan Sastera Barat Fakultas Sastra UGM (tidak tamat), kemudian memperdalam pengetahuan mengenai drama dan teater di American Academy of Dramatical Arts, Amerika Syarikat (1964-1967).
Sekembali dari Amerika, beliau mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta dan sekaligus menjadi pemimpinnya. Tahun 1971 dan 1979 dia membacakan sajak-sajaknya di Festival Penyair International di Rotterdam. Pada tahun 1985 beliau mengikuti Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman. Kumpulan puisinya; Ballada Orang-orang Tercinta (1956), 4 Kumpulan Sajak (1961), Blues Untuk Bonnie (1971), Sajak-sajak Sepatu Tua (1972), Potret Pembangunan dalam Puisi (1980), Disebabkan Oleh Angin (1993), Orang-orang Rangkasbitung (1993) dan Perjalanan Aminah (1997).