Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Mei 2014

MAKNA HIDUP BAGI SEORANG EINSTEIN


Ketika seseorang bertanya kepada Albert Einstein, pertanyaan apa yg akan diajukan kepada Tuhan jika dia diperkenankan mengajukan pertanyaan itu.

Ia menjawab, "bagaimana awal mula jagad raya ini? Karena segala sesuatu sesudahnya hanyalah masalah matematika"

tetapi setelah berfikir beberapa saat dia mengubah pendapatnya, lalu berkata,

"bukan itu, saya akan bertanya, kenapa dunia ini diciptakan?
Karena dengan demikian saya akan mengetahui makna hidup saya sendiri."

Prolog diatas tidak dimaksudkan untuk menjustifikasi pemahaman seorang Einstein ttg hidup dan kehidupan apalagi keyakinannya ttg Tuhan. Dua hal itu adalah hak pribadi yg paling mendasar sehingga hanya Tuhan saja yg memiliki hak prerogatif untuk menganugerahi atau tidak hidayah-Nya kpd seseorang.

Lalu apakah saya harus meletakkan rasa kagum atas persepsi Einstein ttg kehidupan dan penciptaan krn dia -secara implisit- memahami esensi dari eksistensi serta perannya sebagai manusia?

Rasanya tak perlu bahkan tdk tepat.

Krn pd setiap diri manusia, Tuhan menganugerahkan sifat Hanif. Sifat tsb jika diibaratkan receiver, ia akan selalu berusaha mencari dan menangkap sinyal2 ke"Tuhan"an yg dipancarkan oleh transmisi yang Maha Tunggal, baik yg berupa kebenaran atau kebaikan.

Sehingga disadari atau tidak, terlepas dr apapun keyakinannya, setiap jiwa akan mengajukan pertanyan senada Einstein bermonolog untuk memahami makna hidup.

Org yg mengerti makna hidup, akan paham untuk apa ia dicipta serta kemana ia menuju.

Atas dasar itulah saya wajib meletakkan kekaguman saya kpd Tuhan Sang Pencipta sbg wujud kesyukuran yg tak terhingga.

Pernahkah anda merenung sejenak, dari bejuta sel sperma yg berlomba, berenang menuju ovum, kenapa hanya satu saja yg terpilih dan itu adalah anda?

Tuhan pasti punya "misi" atas hidup anda. Jangan pernah lupakan itu atau anda sendiri yg akan membuat hidup tak bermakna.

Ingat, "Tuhan tidak bermain dadu"

Sabtu, 05 Mei 2012

Mendengarkan dan Memahami Perempuan

Perempuan hidup dalam dunia yang didominasi oleh laki-laki. Dominasi selalu membuat pihak lain terkesampingkan atau termarginalkan. Dalam hal ini ada kecenderungan perempuan untuk termarginalkan oleh laki-laki. Laki-laki dari dulu sampai sekarang masih menjadi mayoritas dalam urusan yang berkaitan dengan kehidupan manusia secara keseluruhan. Jumlah presiden, politisi, ilmuwan, ekonom, dokter, teknolog, dan pebisnis yang berjenis kelamin laki-laki sampai saat ini masih lebih banyak jika dibandingkan dengan perempuan. Hal ini menjadikan perempuan tidak dapat menentukan nasib diri mereka secara keseluruhan, karena laki-laki selalu ada untuk memutuskan dan memecahkan masalah ‘bersama’.

Perempuan terkesan dinomorduakan, karena kekurangan penyalur opini yang mampu membuat kebijakan untuk mereka. Hal ini diperparah dengan adanya isolasi sosial antara laki-laki dan perempuan. Perempuan pada dasarnya makhluk yang suka dengan hubungan. Mereka ahli dan menikmati proses membangun hubungan. Hal ini terbukti dari mudahnya mereka mengakrabkan diri dengan berbagai jenis manusia, mulai dari bayi, anak-anak, remaja, sampai orang tua. Mereka selalu membangun dan memperbarui hubungan mereka. Secara hemat seharusnya perempuan membangun hubungan juga dengan laki-laki (dalam hal ini yang berumur dekat) juga, bukan?

Laki-laki seharusnya menjadi partner yang sederajat dengan perempuan, namun ada beberapa faktor yang membuat hal tersebut sulit dilaksanakan. Perempuan dalam taraf tertentu takut berhubungan dengan laki-laki, karena faktor kekuatan dan kebebasan laki-laki itu sendiri. Selama ini laki-laki dianggap lebih dominan (atau kuat) secara fisik maupun mental, namun secara egoistis laki-laki tidak menggunakan dominasi tersebut untuk mendukung perempuan. Alih-alih mendukung perempuan dengan kelebihan dirinya, laki-laki malah sibuk memamerkan kekuatannya. Pamer kekuatan ini bukan jenis pertunjukkan yang dinikmati perempuan, ketika adegan yang muncul bersifat mengganggu perasaan atau mengeksplotisasi mereka, seperti menggoda perempuan tak dikenal, membicarakan hal tentang tubuh perempuan, atau bahkan dalam taraf kriminal sampai pada perkosaan.

Pamer kekuatan ini dengan mudah diartikan sebagai upaya dominasi laki-laki terhadap tubuh perempuan. Upaya ini jelas memarginalkan perempuan. Melihat perempuan hanya dari tubuhnya sama dengan tidak mengakui diri mereka secara utuh: Dimana perasaan lembut mereka? Pemikiran konstruktif mereka? Kesabaran mereka? Laki-laki yang mendekati perempuan hanya untuk menjajah tubuh mereka bukan jenis laki-laki yang mampu menjadi partner bagi perempuan.

Penyalahgunaan yang kedua berkaitan dengan kebebasan laki-laki. Laki-laki secara alamiah bisa berpergian dengan jarak jauh, bahkan sampai tidak kembali kepada pasangannya. Perempuan tidak bisa seperti itu. Dalam hidupnya perempuan selalu berada dalam komunitas yang melindungi mereka, mulai dari keluarga kandung, kelompok pertemanan, sampai keluarga yang dibentuk dengan pernikahan. Perpindahan perempuan selalu dikaitkan dengan izin dari orang lain.

Saat memilih pasangan, perempuan secara sadar (bukan atas paksaan pihak di luar mereka) meminta persetujuan dari orang terdekat perempuan tersebut, seperti ibu mereka, ayah mereka, sahabat mereka, bahkan sampai lingkungan tempatnya berada. Perempuan tidak sebebas laki-laki dalam memilih pasangan. Laki-laki bisa saja selingkuh atau berhubungan dengan perempuan lain secara amoral atau illegal, tetapi pihak yang direndahkan anehnya bukan laki-laki sumber penyelewengan tersebut, tetapi malah perempuan yang menjadi partner penyelewengan laki-laki.

Menjadi playboy seolah kebanggaan bagi laki-laki, bahwa ia punya daya tarik tinggi, tapi menjadi perempuan yang ditaksir laki-laki, diduakan laki-laki, atau memberi kesempatan mudah untuk didekati oleh mereka bukan suatu kebanggaan. Raja yang beristri banyak dianggap hebat, sedangkan perempuan yang punya hubungan dengan laki-laki dianggap – maaf – murahan. Bahkan, dalam hubungan yang legal, perempuan yang sudah pernah berhubungan dengan laki-laki sebelumnya (karena perceraian atau suaminya meninggal) dianggap tidak lagi menarik bagi laki-laki. Dengan alasan tidak masuk akal janda selalu dianggap lebih rendah ketimbang gadis.

Faktor kekuatan dan kebebasan yang disalahgunakan akhirnya membuat perempuan menciptakan tabir dengan laki-laki. Inilah yang membuat mereka menjadi terisolasi dengan laki-laki, karena ada ketakutan dari perempuan akan penyalahgunaan kekuatan dan kebebasan laki-laki. Perempuan sangat menghargai komitmen. Kekuatan yang menghancurkan dan kebebasan yang tidak bertanggung jawab merusak komitmen awal perempuan untuk berhubungan dengan laki-laki.

Isolasi ini memperparah dominasi laki-laki. Kecenderungan kemudian akhirnya perempuan melegalkan dan menganggap wajar dominasi buruk laki-laki tersebut. Bukannya mengungkapkan ketidaknyamanannya, perempuan dalam kelompok mereka malah membebaskan laki-laki untuk berbuat seenaknya. Berapa sering kita mendengar ketika kasus perkosaan, malah perempuan yang dianjurkan menjaga diri? Mengapa tidak ada anjuran bagi laki-laki untuk menjaga hasrat seksualnya? Malah sebaliknya sang korban yang diberi beban lebih untuk melindungi diri.

Sudah saatnya laki-laki berhenti menyalahgunakan kekuatan dan kebebasan yang diberikan Allah SWT. Dia tidak berniat buruk dengan memberikan kekuatan dan kebebasan untuk laki-laki. Dengan kekuatan laki-laki dapat memperjuangkan keluarganya, dan dengan kebebasan mereka dapat mencari nafkah untuk istri tercinta di rumah. Aspek penjajahan terhadap tubuh perempuan harus hilang. Jika laki-laki tidak bisa berhenti, jangan pernah membebani lebih kepada perempuan, tetapi keluarga dan lembaga pendidikan harus mendidik laki-laki untuk memanfaatkan kekuatan dan kebebasannya untuk kepentingan perempuan. Jika laki-laki tidak dapat berhenti, mereka paling tidak dapat dihentikan dengan pendidikan dan pembimbingan menyeluruh.

Masalah isolasi sosial juga harus dihilangkan. Perempuan harus berani mengungkapkan setiap besit ketidaknyamanan mereka terhadap laki-laki. Jika sang laki-laki tidak mau mendengarkan, perempuan dapat bercerita kepada orang tua, wali, polisi, atau pemerintah. Mereka yang dapat melindungi perempuan dari ketidaknyamanan laki-laki harus dicari sampai ditemukan.

Kemudian tugas laki-laki selanjutnya adalah mendengarkan curhat perempuan. Seharusnya ada pendidikan (bisa tersurat atau tersirat) yang mengajarkan laki-laki untuk mendengarkan perempuan. Mereka harus diajarkan untuk nyaman dan membuat nyaman lawan jenisnya. Laki-laki harus sadar bahwa dalam mendegarkan perempuan, mereka tidak perlu memberikan solusi atau merasa tersaingi. Pada dasarnya perempuan bercerita bukan untuk mendominasi laki-laki (meskipun perempuan berhak untuk ‘membalas dendam’ atas dominasi laki-laki di luar sana), tetapi pada dasarnya mereka bercerita untuk meminta pemahaman dan ekspklorasi emosional dari laki-laki.

Laki-laki yang sering dijadikan pemecah masalah dan pengambil keputusan akhirnya selalu terfokus untuk menyelesaikan masalah. Penyelesaian masalah itu terkait erat dengan penggunaan logika. Padahal, yang dibutuhkan untuk mendengarkan perempuan bukan logika, tetapi perasaan.

Banyak laki-laki yang salah sangka, ketika perempuan bercerita kepada mereka. Mereka menganggap perempuan bercerita sebagaimana pelanggan komplain kepada pelayan restoran. Perempuan dianggap mengeluh dengan apa yang dia tidak dapatkan dari laki-laki. Di sisi lain ada juga anggapan bahwa saat perempuan bercerita, mereka tidak tahu bagaimana solusi dari permasalahan. Padahal, semua perempuan bisa menemukan solusi, sebagaimana laki-laki. Tidaklah mungkin semua perempuan yang beberapa di antaranya berpendidikan bercerita untuk  meminta solusi. Lebih mungkin mereka berusaha meminta pemahaman dari pendengarnya.

Laki-laki harus berhenti dari dunia persaingan mereka, ketika mereka berhadapan dengan perempuan, dan mulai memahami perempuan dengan perasaan mereka sendiri. Memang bagi laki-laki butuh penyesuaian, bahkan latihan, namun di sanalah peran keluarga, masyarakat, dan lembaga pendidikan. Berbagai pihak dapat mengajarkan bagaimana kiat mendengarkan yang baik, terutama melalui empati.

Pada akhirnya hubungan antar jenis kelamin tidak berdasarkan pada kesetaraan gender, melainkan pada kesesuaian gender. Dan, kesesuaian gender tidak dimulai dari perempuan, tetapi justru dari laki-laki. Mereka harus sadar pentingnya mendengarkan perempuan dengan hati (bukan dengan logika atau untuk menyelesaikan masalah perempuan).

Sementara laki-laki mendengarkan perempuan, mereka dapat meresapi dan mengekslorasi jiwa perempuan, tanpa harus merasa tersaingi. Semenjak awal hingga pada akhirnya perempuan tidak punya niat untuk bersaing, mereka hanya ingin dipahami dan didengarkan. Ketika laki-laki sadar pentingnya mendengarkan perempuan, sudah bukan waktunya perempuan menjadi partner bagi laki-laki, tetapi laki-laki yang justru harus belajar untuk menjadi partner perempuan.

Oleh: Ahmad Tombak Al Ayyubi, Depok


Sumber: http://www.fimadani.com/mendengarkan-dan-memahami-perempuan/#.T6R2UKYIkXw.facebook

Senin, 16 April 2012

Yang Aku Tahu; Allah Bersamaku


aku percaya
maka aku akan melihat keajaiban
iman adalah mata yang terbuka
mendahului datangnya cahaya


“Aku”.
Jawaban Musa itu terkesan tak tawadhu’. Ketika seorang di antara Bani Israil bertanya siapakah yang paling ‘alim di muka bumi, Musa menjawab, “Aku”. Tapi oleh sebab jawaban inilah di Surat Al Kahfi membentang 23 ayat, mengisahkan pelajaran yang harus dijalani Musa kemudian. Uniknya di dalam senarai ayat-ayat itu terselip satu lagi kalimat Musa yang tak tawadhu’. “Kau akan mendapatiku, insyaallah, sebagai seorang yang sabar.” Ini ada di ayat yang keenampuluh sembilan.

Di mana letak angkuhnya? Bandingkan struktur bahasa Musa, begitu para musfassir mencatat, dengan kalimat Isma’il putra Nabi Ibrahim. Saat mengungkapkan pendapatnya pada sang ayah jikakah dia akan disembelih, Isma’il berkata, “Engkau akan mendapatiku, insyaallah, termasuk orang-orang yang sabar.”

Tampak bahwa Isma’il memandang dirinya sebagai bagian kecil dari orang-orang yang dikarunia kesabaran. Tapi Musa, menjanjikan kesabaran atas nama pribadinya. Dan sayangnya lagi, dalam kisahnya di Surat Al Kahfi, ia tak sesabar itu. Musa kesulitan untuk bersabar seperti yang ia janjikan. Sekira duapuluh abad kemudian, dalam rekaman Al Bukhari dan Muslim, Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda tentang kisah perjalanan itu, “Andai Musa lebih bersabar, mungkin kita akan mendapat lebih banyak pelajaran.”

Wallaahu A’lam. Mungkin memang seharusnya begitulah karakter Musa, ‘Alaihis Salaam. Kurang tawadhu’ dan tak begitu penyabar. Sebab, yang dihadapinya adalah orang yang paling angkuh dan menindas di muka bumi. Bahkan mungkin sepanjang sejarah. Namanya Fir’aun. Sangat tidak sesuai menghadapi orang seperti Fir’aun dengan kerendahan hati dan kesabaran selautan. Maka Musa adalah Musa. Seorang yang Allah pilih untuk menjadi utusannya bagi Fir’aun yang sombong berlimpah justa. Dan sekaligus, memimpin Bani Israil yang keras kepala.

Hari itu, setelah ucapannya yang jumawa, Musa menerima perintah untuk berjalan mencari titik pertemuan dua lautan. Musa berangkat dikawani Yusya ibn Nun yang kelak menggantikannya memimpin trah Ya’qub. Suatu waktu, Yusya melihat lauk ikan yang mereka kemas dalam bekal meloncat mencari jalan kembali ke lautan. Awalnya, Yusya lupa memberitahu Musa. Mereka baru kembali ke tempat itu setelah Musa menanyakan bekal akibat deraan letih dan lapar yang menggeliang dalam usus.

Di sanalah mereka bertemu dengan seseorang yang Allah sebut sebagai, “Hamba di antara hamba-hamba Kami yang kamu anugerahi rahmat dari arsa Kami, dan Kami ajarkan padanya ilmu dari sisi Kami.” Padanyalah Musa berguru. Memohon diajar sebagian dari apa yang telah Allah fahamkan kepada Sang Guru. Nama Sang Guru tak pernah tersebut dalam Al Quran. Dari hadits dan tafsir lah kita berkenalan dengan Khidzir.

Kita telah akrab dengan kisah ini. Ada kontrak belajar di antara keduanya. “Engkau akan mendapatiku sebagai seorang yang sabar. Dan aku takkan mendurhakaimu dalam perkara apapun!”, janji Musa. “Jangan kau bertanya sebelum dijelaskan kepadamu”, pesan Khidzir. Dan dalam perjalanan menyejarah itu, Musa tak mampu menahan derasnya tanya dan keberatan atas tiga perilaku Khidzir. Perusakan perahu, pembunuhan seorang pemuda, dan penolakan atas permohonan jamuan yang berakhir dengan kerja berat menegakkan dinding yang nyaris rubuh.

Tanpa minta imbalan.

Alhamdulillah, kita belajar banyak dari kisah-kisah itu. Kita belajar bahwa dalam hidup ini, pilihan-pilihan tak selalu mudah. Sementara kita harus tetap memilih. Seperti para nelayan pemilik kapal. Kapal yang bagus akan direbut raja zhalim. Tapi sedikit cacat justru menyelamatkannya. Sesuatu yang ‘sempurna’ terkadang mengundang bahaya. Justru saat tak utuh, suatu milik tetap bisa kita rengkuh. Ada tertulis dalam kaidah fiqh, “Maa laa tudraku kulluhu, fa laa tutraku kulluh.. Apa yang tak bisa didapatkan sepenuhnya, jangan ditinggalkan semuanya.”

Kita juga belajar bahwa ‘membunuh’ bibit kerusakan ketika dia baru berkecambah adalah pilihan bijaksana. Dalam beberapa hal seringkali ada manfaat diraih sekaligus kerusakan yang meniscaya. Padanya, sebuah tindakan didahulukan untuk mencegah bahaya. Ada tertulis dalam kaidah fiqh, “Dar’ul mafaasid muqaddamun ‘alaa jalbil mashaalih.. Mencegah kerusakan didahulukan atas meraih kemashlahatan.”

Dan dari Khidzir kita belajar untuk ikhlas. Untuk tak selalu menghubungkan kebaikan yang kita lakukan, dengan hajat-hajat diri yang sifatnya sesaat. Untuk selalu mengingat urusan kita dengan Allah, dan biarkanlah tiap diri bertanggungjawab padaNya. Selalu kita ingat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Sultan yang dimakan fitnah memenjarakan dan menyiksanya. Tapi ketika bayang-bayang kehancuran menderak dari Timur, justru Ibnu Taimiyah yang dipanggil Sultan untuk maju memimpin ke garis depan. Berdarah-darah ia hadapi air bah serbuan Tartar yang bagai awan gelap mendahului fajar hendak menyapu Damaskus.

Ketika musuh terhalau, penjara kota dan siksa menantinya kembali. Saat ditanya mengapa rela, ia berkata, “Adapun urusanku adalah berjihad untuk kehormatan agama Allah serta kaum muslimin. Dan kezhaliman Sultan adalah urusannya dengan Allah.”

Iman dan Keajaiban yang Mengejutkan


Subhanallah, alangkah lebih banyak lagi ‘ibrah yang bisa digali dari kisah Musa dan Khidzir. Berlapis-lapis. Ratusan. Lebih. Tapi mari sejenak berhenti di sini. Mari picingkan mata hati ke arah kisah. Mari seksamai cerita ini dari langkah tertatih kita di jalan cinta para pejuang. Mari bertanya pada jiwa, di jalan cinta para pejuang siapakah yang lebih dekat ke hati untuk diteladani?

Musa. Bukan gurunya.

Ya. Karena di akhir kisah Sang Guru mengaku, “Wa maa fa’altuhuu min amrii.. Apa yang aku lakukan bukanlah perkaraku, bukanlah keinginanku.” Khidzir ‘hanyalah’ guru yang dihadirkan Allah untuk Musa di penggal kecil kehidupannya. Kepada Khidzir, Allah berikan semua pemahaman secara utuh dan lengkap tentang jalinan pelajaran yang harus ia uraikan pada Rasul agung pilihanNya, Musa ‘Alaihis Salaam. Begitu lengkapnya petunjuk operasional dalam tiap tindakan Khidzir itu menjadikannya sekedar sebagai ‘operator lapangan’ yang mirip malaikat. Segala yang ia lakukan bukanlah perkaranya. Bukan keinginannya.

Beberapa orang yang menyebut diri Sufi mengklaim, inilah Khidzir yang lebih utama daripada Musa. Khidzir menguasai ilmu hakikat sedang Musa baru sampai di taraf syari’at. Maka seorang yang telah disingkapkan baginya hakikat, seperti Khidzir, terbebas dari aturan-aturan syari’at. Apa yang terlintas di hati menjadi sumber hukum yang dengannya mereka menghalalkan dan mengharamkan. Ia boleh merusak milik orang. Ia boleh membunuh. Ia melakukan hal-hal yang dalam tafsir orang awwam menyimpang, dan dalam pandangan syari’at merupakan sebuah pelanggaran berat.

Imam Al Qurthubi sebagaimana dikutip Ibnu Hajar Al ‘Asqalani dalam Fathul Barii, membantah tofsar-tafsir ini. Pertama, tidak ada tindakan Khidzir yang menyalahi syari’at. Telah kita baca awal-awal bahwa semua tindakannya pun kelak bersesuaian dengan kaidah fiqh. Bahkan dalam soal membunuh pun, Khidzir tidak melanggar syari’at karena ia diberi ilmu oleh Allah untuk mencegah kemunkaran dengan tangannya. Alangkah jauh tugas mulia Khidzir dengan apa yang dilakukan para Sufi nyleneh semisal meminum khamr, lalu pengikutnya berkata, “Begitu masuk mulut, khamr-nya berubah menjadi air!”

Tidak sama!

Kedua, setinggi-tinggi derajat Khidzir menurut jumhur ‘ulama adalah Nabi di antara Nabi-nabi Bani Israil. Sementara Musa adalah Naqib-nya para Naqib, Nabi terbesar yang ditunjuk memimpin Bani Israil, seorang Rasul yang berbicara langsung dengan Allah, mengemban risalah Taurat, dan bahkan masuk dalam jajaran istimewa Rasul Ulul ‘Azmi bersama Nuh, Ibrahim, ‘Isa, dan Muhammad.

Maka Musa jauh lebih utama daripada Khidzir.

“Hai Musa, sesungguhnya Aku telah melebihkan engkau dari antara manusia, untuk membawa risalahKu dan untuk berbicara secara langsung denganKu.” (Al A’raaf 144)
Ketiga, Allah memerintahkan kita meneladani para Rasul yang kisah mereka dalam Al Quran ditujukan untuk menguatkan jiwa kita dalam meniti jalan cinta para pejuang. Para Rasul itu, utamanya Rasul-rasul Ulul ‘Azmi menjadi mungkin kita teladani karena mereka memiliki sifat-sifat manusiawi. Mereka tak seperti malaikat. Juga bukan manusia setengah dewa. Mereka bertindak melakukan tugas-tugas yang luar biasa beratnya dalam keterbatasannya sebagai seorang manusia.

Justru keagungan para Rasul itu terletak pada kemampuan mereka menyikapi perintah yang belum tersingkap hikmahnya dengan iman. Dengan iman. Dengan iman. Berbeda dengan Khidzir yang diberitahu skenario dari awal hingga akhir atas apa yang harus dia lakukan –ketika mengajar Musa-, para Rasul seringkali tak tahu apa yang akan mereka hadapi atau terima sesudah perintah dijalani. Mereka tak pernah tahu apa yang menanti di hadapan.

Yang mereka tahu hanyalah, bahwa Allah bersama mereka.

Nuh yang bersipayah membuat kapal di puncak bukit tentu saja harus menahan geram ketika dia ditertawai, diganggu, dan dirusuh oleh kaumnya. Tetapi, sesudah hampir 500 tahun mengemban risalah dengan pengikut yang nyaris tak bertambah, Nuh berkata dengan bijak, dengan cinta, “Kelak kami akan menertawai kalian sebagaimana kalian kini menertawai kami.”

Ya. Nuh belum tahu bahwa kemudian banjir akan tumpah. Tercurah dari celah langit, terpancar dari rekah bumi. Air meluap dari tungkunya orang membuat roti dan mengepung setinggi gunung. Nuh belum tahu. Yang ia tahu adalah ia diperintahkan membina kapalnya. Yang ia tahu adalah ketika dia laksanakan perintah Rabbnya, maka Allah bersamanya. Dan alangkah cukup itu baginya. ‘Alaihis Salaam..

Ibrahim yang bermimpi, dia juga tak pernah tahu apa yang akan terjadi saat ia benar-benar menyembelih putera tercinta. Anak itu, yang lama dirindukannya, yang dia nanti dengan harap dan mata gerimis di tiap doa, tiba-tiba dititahkan untuk dipisahkan dari dirinya. Dulu ketika lahir dia dipisah dengan ditinggal di lembah Bakkah yang tak bertanaman, tak berhewan, tak bertuan. Kini Isma’il harus dibunuh. Bukan oleh orang lain.

Tapi oleh tangannya sendiri.

Dibaringkanlah sang putera yang pasrah dalam taqwa. Dan ayah mana yang sanggup membuka mata ketika harus mengayau leher sang putera dengan pisau? Ayah mana yang sanggup mengalirkan darah di bawah kepala yang biasa dibelainya sambil tetap menatap wajah? Tidak. Ibrahim terpejam. Dan ia melakukannya! Ia melakukannya meski belum tahu bahwa seekor domba besar akan menggantikan sang korban. Yang diketahuinya saat itu bahwa dia diperintah Tuhannya. Yang ia tahu adalah ketika dia laksanakan perintah Rabbnya, maka Allah bersamanya. Dan alangkah cukup itu baginya. ‘Alaihis Salaam..

Musa juga menemui jalan buntu, terantuk Laut Merah dalam kejaran Fir’aun. Bani Israil yang dipimpinnya sudah riuh tercekam panik. “Kita pasti tersusul! Kita pasti tersusul!”, kata mereka. “Tidak!”, seru Musa. “Sekali-kali tidak akan tersusul! Sesungguhnya Rabbku bersamaku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” Petunjuk itupun datang. Musa diperintahkan memukulkan tongkatnya ke laut. Nalar tanpa iman berkata, “Apa gunanya? Lebih baik dipukulkan ke kepala Fir’aun!” Ya, bahkan Musa pun belum tahu bahwa lautan akan terbelah kemudian. Yang dia tahu Allah bersamanya. Dan itu cukup baginya. ‘Alaihis Salaam..

Merekalah para guru sejati. Yang kisahnya membuat punggung kita tegak, dada kita lapang, dan hati berseri-seri. Yang keteguhannya memancar menerangi. Yang keagungannya lahir dari iman yang kukuh, bergerun mengatasi gejolak hati dan nafsu diri. Di jalan cinta para pejuang, iman melahirkan keajaiban. Lalu keajaiban menguatkan iman. Semua itu terasa lebih indah karena terjadi dalam kejutan-kejutan. Yang kita tahu hanyalah, “Allah bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.”
Nuh belum tahu bahwa banjir nantinya tumpah
ketika di gunung ia menggalang kapal dan ditertawai
Ibrahim belum tahu bahwa akan tercawis domba
ketika pisau nyaris memapas buah hatinya
Musa belum tahu bahwa lautan kan terbelah
saat ia diperintah memukulkan tongkat
di Badar Muhammad berdoa, bahunya terguncang isak
“Andai pasukan ini kalah, Kau takkan lagi disembah!”
dan kitapun belajar, alangkah agungnya iman
Oleh: Salim A Fillah
Sumber: http://salimafillah.com/yang-aku-tahu-allah-bersamaku/

Rabu, 21 Maret 2012

Dinamika Persangkaan

Oleh Emha Ainun Nadjib

Banyak teman-teman yang suka banget kalau 'ngerjain' saya. Digoda dengan berita, isyu atau rumor macam-macam, lantas mereka diam-diam memperhatikan wajah saya -- apakah ada perubahan atau tidak. Apakah urat syarat di air muka saya menjadi tegang atau mengkerut. Warna wajah saya menjadi memerah atau justru memucat. Semua mereka teliti dan nilai dengan pendekatan ilmu teater panggung sekaligus ilmu kamera film dan sinetron.
  
Isyu, rumor dan berita yang disampaikan ke telinga saya itu bisa soal pribadi dan pergaulan, bisa soal politik, dan soal apa saja. Misalnya ada koran memuat foto besar penyanyi dangdut halus Evie Tamala yang shalihah dan dikasih judul: ''Evie Kecantol Cak Nun''. Sesudah terbit wartawannya bingung sendiri karena sesungguhnya yang dimaksud adalah Ikke Nurdjanah.
  
Di media lain beritanya tentang si Ikke yang juga bukan penyanyi dangdut departemen goyang pinggul yang disebut ''Digaet Oleh Cak Nun''. Padahal yang nyanyi bersama Ikke di acara launching ''Perahu Retak'' adalah Gus Dur. Saya cuma ditodong ikut nyanyi dua kalimat terakhir. Tapi saya yang digosipkan, sedemikian rupa sehingga impian saya untuk segera menikah menjadi hancur berantakan.  
Kaum wartawan adalah utusan Allah swt yang ditugasi untuk menguji iman masyarakat, meneguhkan istiqamah mereka serta memperkukuh ketahanan mereka terhadap segala macam persoalan. Kalau ada hubungan antar manusia atau kalau ada sebuah keluarga yang kisruh berat gara-gara gosip di koran -- itu salah keluarga itu sendiri. Mereka tidak mengerti tugas suci para wartawan yang sebenarnya. Para wartawan tinggi pahalanya, karena kebohongan yang mereka sebarkan sesungguhnya diniati untuk ibadah. 'Kan al-a'malu bin-niyyah. Setiap perbuatan itu ditentukan oleh niatnya.
  
Meskipun kita merampok, asal niatnya untuk beribadah ya insyaallah nilainya tetap merampok...hehehehe...  
Di dunia ini kewajiban utama manusia adalah bergaul dengan persangkaan-persangkaan. Manusia mempergaulkan persangkaan.
  
Ilmuwan-ilmuwan menuliskan skripsi yang mendobrak sangkaan melalui penelitian untuk kemudian berujung pada persangkaan yang baru. Dalam dunia politik entah berapa ribu orang masuk penjara atau meninggal dunia berkat lalulintas persangkaan nasional dan internasional. Baik persangkaan yang hanya bersubstansi kebodohan dan kesombongan, maupun persangkaan yang diskenariokan oleh rekayasa-rekayasa resmi. Banyak sekali peristiwa-peristiwa politik yang sesungguhnya hanya berpangkal di persangkaan dan berujung di persangkaan berikutnya. Demi budaya dan peradaban persangkaan sangat banyak manusia harus mengorbankan hidupnya, airmatanya, penghidupannya, masa depannya, bahkan nyawanya sekalipun.
  
Bahkan persangkaan seringkali juga merupakan muatan utama dari peta pergaulan teologi antar para pemeluk agama maupun aliran-aliran nilai yang dianggap sebagai agama. Tuhan sendiri memakai idiom dhonn, yang berarti persangkaan, untuk menjelaskan sejumlah fenomena kekufuran, kemunafikan, kemusyrikan, dan lain sebagainya, yang terjadi pada mentalitas, batin, pikiran, dan kejiwaan hamba-hambaNya.
  
Adapun yang sesungguhnya ingin saya kisahkan Minggu pagi ini sesungguhnya adalah betapa sejumlah teman 'ngerjain' saya melalui jenis persangkaan yang agak keterlaluan. Persangkaan itu bisa untuk guyon yang mengasyikkan, tapi kalau terpeleset selangkah saja ke garis keberlebihan, akan menjelma fitnah.  
Coba tho, saya ini kan orang yang bisa dikatakan nggak punya profesi.  
Kerja saya ini serabutan saja dan sekenanya. Sudah menyebut 'pekerjaan' di KTP. Satu jenis kegiatan yang saya agak punya kemampuan adalah menulis.
  
Tapi itupun minimal-minimal saja. Misalnya, saya ini nulis puisi -- tapi ya tidak lulus di medan laga perpuisian. Saya nulis banyak buku, tapi tak ada yang ilmiah. Terkadang saya tampil di panggung, tapi saya tak bisa disebut teaterawan, deklamator, mubaligh, da'i atau apapun saja.  
Hampir di semua bidang yang saya geluti itu saya minimal-minimal saja.  
Satu-satunya yang saya agak aktif -- dan itu saya andalkan untuk menghidupi banyak orang, anak-anak yatim, sekolahan dll -- adalah menulis di media. Lha dalam keadaan minimal seperti itu sejumlah teman sengaja mengisyukan kepada saya bahwa ada dua pejabat tinggi pusat di bidang penerangan, yang satu militer lainnya sipil -- yang memperingatkan kepada sejumlah pemimpin media massa agar jangan berani-berani memuat tulisan saya. Menurut isyu atau persangkaan yang menjurus fitnah itu sang pejabat mengatakan: ''Kalau Anda memuat tulisan dia, jangan lupa bahwa saya bisa menandatangani surat yang berakibat dibredelnya media Anda!''.
 
Ini kan jelas persangkaan yang tidak bermutu. Isyu macam ini tak akan laku di manapun. Pembuatnya pasti tidak kenal Republik Indonesia, negeri yang penuh keterbukaan, yang demokrasinya mengalir lancar bagai air sungai, yang sistem hukumnya tegak bagai pohon jati berusia ratusan tahun. Mana mungkin ada pejabat yang over acting macam itu. Kita merdeka sudah lebih setengah abad. Kita sudah dewasa dan matang. Kalau ada pejabat yang berkhayal omong seperti itu, bisa jadi tak sampai sebulan kemudian ia akan terlempar dari kursinya. Ini Indonesia, Bung! Sebenarnya secara pribadi diam-diam saya suka kalau benar ada larangan seperti itu. Saya jadi bisa sedikit menganggur. Tak usah tidur sesudah Subuh. Undangan-undangan yang datang, bisa lebih saya perhatikan dan penuhi. Pada hari ketika isyu itu dilontarkan ke telinga saya, pas saya menerima telpon dari Pare-Pare, Sulsel. Teman-teman prajurit di Korem sana bilang ingin bercengkerama. Saya sangat bersemangat. Sulsel adalah kekasih saya. Dan satu di antara orang yang saya kagumi -- Usman Ballo (loreng) -- adalah sesepuh masyarakat dan prajurit di Pare-Pare. Belum lagi, biasanya, kalau sudah sampai di Pare-Pare -- musti terus ke utara. Khusus untuk sholat di mushalla dan Masjid Jami' waliyullah almarhum Imam Lapeo yang juga lebih saya kagumi lagi. Di desa beliau ini lahir manusia langka macam Baharuddin Lopa.
  
Jadi, daripada saya mengurusi persangkaan, lebih baik saya mendekat ke vibrasi keyakinan: karena bagi saya kepribadian dan kemanusiaan tokoh macam Sang Imam dan Sang Ballo, benar-benar mengajarkan kepada saya keyakinan, bukan persangkaan.  

Untuk mengenal lebih dekat Emha Ainun Najib, Klik
DISINI !
 
Sumber: http://toni.rahayu.tripod.com/emha/emha11.htm



The Politics of Kissing Hands

Oleh Emha Ainun Nadjib 

Seorang pembaca harian ini dari Bogor, yang tulus hatinya dan tegak pikirannya, yang bersahaja hidupnya maupun sangat serius hajinya -- sejak beberapa bulan yang lalu menuntut saya agar menuliskan lewat rubrik ini suatu masalah yang ia sodorkan kepada saya melalui surat. Masalah yang baginya amat sangat penting, dan alhamdulillah bagi saya juga amat sangat penting.
 
 
Lebih alhamdulillah lagi karena Rasulullah Muhammad saw, juga sangat concern terhadap soal ini, terbukti lewat banyaknya sabda beliau yang khusus mempermasalahkannya. Juga bagi Allah swt. sendiri -- sepengetahuan saya -- soal ini juga termasuk tema primer dan prinsipil yang harus diurus oleh hamba-hambaNya secara murni dan konsekuen.
  
Mustahil kalau bagi Allah masalah ini tergolong sekunder. Hal mengenai siapa yang dihormati dan siapa yang menghormati, telah ia informasikan acuan dasar akhlaq atau moralitasnya. Allah tidak memerintahkan agar seorang bapak atau ibu merunduk di depan anak-anaknya, melainkan anak-anak yang dengan prinsip birrul walidain wajib menghormati bapak-ibu mereka.
 
Bukan karena iseng-iseng saja Allah menciptakan adegan di mana ia memerintahkan para malaikat agar bersujud kepada Adam. Episode ini tidak bisa diubah misalnya dengan meletakkan iblis sebagai aktor yang disembah sementara Adam mensujudinya. Menurut salah satu logika tafsir, begitu satu malaikat menolak menyembah Adam, turun derajat atau kualitas malaikat itu -- dari 'cahaya' menjadi 'api'. Ilmu bahasa Alquran kemudian juga berkembang mengacu pada kasus ini, di mana nur (cahaya) selalu dipakai untuk menggambarkan kemuliaan di akhirat, sementara nar (api, neraka) digunakan sebagai simbul dari kehinaan dan kesengsaraan.
  
Padahal nur dan nar berasal dari komposisi huruf dan rumpun kosakata yang sama.  
Iblis ogah menyembah Adam karena alasan feodalisme dan alasan penolakan terhadap regenerasi. Alasan feodalnya, atau bahasa simbolisasi Qur'aniyahnya bernama takabur (gemedhe, sok lebih hebat), karena Iblis merasa dirinya terbuat dari material atau dzat yang lebih tinggi, halus, kualitatif, dan lebih mulia dibanding Adam yang hanya sedikit lebih tinggi dibanding keramik yang sama-sama terbuat dari tanah liat. Padahal Allah sudah menetapkan bahwa Adam itu ahsanu taqwin (sebaik-baik ciptaan), karena manusia dianugerahi 'cakrawala (kemungkinan), sementara malaikat atau iblis hanya memiliki 'tembok statis' (kepastian) untuk baik atau kepastian untuk buruk. Manusia yang mengolah dirinya dalam kebenaran akan berkualitas mengungguli malaikat, sementara manusia yang memperosokkan diri dalam kesesatan akan berderajat lebih rendah dibanding iblis dan setan.  
Sedangkan alasan 'penolakan terhadap sunnah regenerasi' -- maksudnya adalah ketidaksediaan iblis untuk menerima kepemimpinan manusia atas alam semesta. Bagi iblis manusia itu 'anak kemarin sore' kok mau sok memimpin.
  
Emangnya dia sudah pernah ikut penataran P-4 atau memiliki sertifikat Pekan Kepemimpinan HMI atau PMII! Kok berani-beraninya menjadi khalifah! Apakah manusia sudah punya pengalaman dan jam kerja kepemimpinan, sehingga berani sombong mencalonkan diri atau tenang-tenang saja ketika diputuskan oleh Allah untuk menjadi pemimpin?
  
Demikianlah, karena hakekat eksistensi manusia adalah 'pengembaraan ke cakrawala kemungkinan' -- maka ia bisa tiba pada ruang, waktu dan posisi untuk berhak dihormati atau justru wajib menghormati. Para nabi, rasul, dan auliya' sukses memposisikan diri untuk dihormati oleh para malaikat, ditemani oleh makhluk-mahkluk rohaniah itu ke manapun mereka pergi.
  
Sementara banyak manusia lain, misalnya Gendheng Pamungkas, sengaja atau tak sengaja melakukan mengembaraan untuk memposisikan diri agar justru menghormati iblis. Bahkan kita semua ini sesungguhnya diam-diam memiliki dimensi-dimensi nilai empirik yang membuat kita layak menghormati iblis -- berkat suksesnya rekruitmen dan mobilisasi mereka atas kita-kita yang hina ini.
  
Kaum ulama juga terdiri atas manusia-manusia biasa yang menempuh cakrawala. Mereka bisa tiba di suatu maqam tinggi, suatu istiqamah, suatu tempat berdiri nilai -- yang membuat mereka dihormati oleh ummatnya, dihormati oleh umara, didatangi oleh pejabat gubernur, menteri, dan presiden. Namun bisa juga kaum ulama tiba pada suatu derajat yang tidak mengandung kualitas istiqamah apa-apa, tidak memiliki cahaya kemuliaan sebagai golongan yang 'alim -- sehingga justru mereka dalam tatanan struktural keduniaan justru berderajat untuk selalu sowan kepada umara.
  
Lebih mengasyikkan lagi kerena sangat banyak ulama, keulamaan, dan kelembagaan ulama yang legitimasinya berasal dari umara. Derajat mereka sangat rendah, dan tak berkurang kerendahannya meskipun ditutup-tutupi dengan seribu retorika dunia modern mengenai partnership antara ulama-umara atau dengan dalih-dalih dan alibi-alibi apapun.
  
Ulama-ulama jenis ini keadaannya sangat mengenaskan hati. Mereka selalu mengikatkan tangannya pada borgol kekuasaan. Membungkukkan punggungnya di hadapan penguasa dunia, bahkan tidak berkeberatan sama sekali untuk mencium punggung tangan sang penguasa. Di zaman terang dahulu kala terdapat banyak cerita mengenai 'kesombongan' ulama yang tak mau dipanggil penguasa, karena derajat ulama bukanlah ditimbali atau didhawuhi oleh penguasa, melainkan dihormati dan dibutuhkan oleh penguasa. Di zaman bebendhu sekarang ini, banyak ulama bukan saja akan sangat senang kalau dipanggil menghadap ke istana penguasa, tapi bahkan selalu mencari jalan, lobi dan channel bagaimana bisa menghadap penguasa.
  
Sowan ulama kepada umara adalah sebuah mainstream bahasa kolaborasi terhadap kekuasaan. Sowan adalah pernyataan kesetiaan politik ulama kepada umara. Ulama yang membungkuk dan mencium tangan penguasa adalah simbolisasi dari tidak hidupnya etos zuhud di kalangan ulama. Sowan mencerminkan ketergantungan kaum ulama kepada kekuasaan, keamanan politk praktis, dan mungkin juga jatah-jatah ekonomi -- meskipun sekadar arisan naik haji atau dibikinkan satu unit gedung pesantren.
  
Yang paling salah dari episode-episode sejarah semacam ini adalah Anda-anda yang pusing kepala gara-gara tetap saja meyakini bahwa meraka adalah ulama.  

Mengenal lebih dekat Emha Ainun Najib, Klik
DISINI !

Sumber: http://toni.rahayu.tripod.com/emha/emha05.htm

 

Beragama tapi “Atheis”

Beberapa Jamaah Maiyah Gambang Syafaat bertanya kepada saya, “Mas mengapa orang-orang yang pengetahuan dan praktek beragamanya sudah tinggi namun masih juga korupsi?” Saya cukup kaget mendengar pertanyaan tak terduga itu, apalagi teman-teman juga menunjuk bahwa tersangka koruptor wanita kini juga gemar pakai jilbab.

Teman-teman ini tidak mau menunjuk nama para koruptor yang kini disorot media tersebut, namun mereka bilang bahwa para koruptor itu juga ada yang pernah nyantri (jadi “mantan” santri, batin saya), ada yang pernah jadi ketua kelompok perkumpulan organisasi Islam, mereka juga banyak memiliki nama yang juga sangat “Islami”, rajin umroh, rajin berkhotbah, dahinya hitam tanda lebih lama bersujud, bahkan ketika masih menjadi mahasiswa/ketika nyantri merupakan orang yang paling keras berteriak soal korupsi. Namun ketika kini masuk lingkaran kekuasaan, mereka ternyata juga orang yang paling kuat menginjak amanah rakyat dan rajin mencuri dan merampok kekayaan negara. Fenomena apa ini?


Atas pertanyaan “berat” tersebut, saya juga mengeluh, apa salah dan dosa saya hingga harus menerima pertanyaan seperti ini, apalagi saya juga dituntut mampu memberikan jawaban kepada mereka. Tak tahukah mereka bahwa saya ketika mau diajak menemani para jamaah juga hanya karena “kebetulan” saja? Namun bagaimanapun juga saya harus menjawab.

Jawab saya yang masih awam pengetahuan agamanya hanya sederhana: mereka (para koruptor) baru sebatas menjalankan syariat agama. Mesti dipahami, beragama saja tidak menjamin akan dapat membersihkan jiwa. Syariat agama seperti sholat, puasa, zakat, haji, dst, baru sebatas “metoda” dan bukan tujuan. Sialnya orang sudah merasa beragama dan merasa mendapat tiket surga jika ia sudah melaksanakan “metoda” tersebut. Meski tetangganya kiri kanan kelaparan, ia masih asyik rajin ber-umroh dan mendirikan masjid di berbagai tempat. Tentu bukan berarti menjalankan umroh atau mendirikan masjid tidak penting, namun ia harus sampai kepada tataran adil dan proporsional.

Orang beragama yang masih korup, berarti ia belum tauhid. Tauhid bukan berarti meng-Esa-kan Tuhan, namun sebuah upaya untuk menggerakkan diri menggabung ke Tuhan. Kalau ia belum mampu menggabungkan diri ke Tuhan, maka ketika ia berwudlu — misalnya — maka ia juga belum sadar bahwa wudlu itu mestinya tidak saja berarti membersihkan kotoran badan, namun juga harus sampai membersihkan kotoran jiwa. Dalam sholat, umat muslim (apalagi pejabat negara) sudah berjanji: “Sholatku, hidup matiku, ibadahku, dst… hanya untuk Allah semata”. Ketika membaca Al Fatehah dalam sholat, ia juga selalu memohon: “Ya Allah tunjukkan aku ke jalan yang lurus (menegakkan)”, dan permohonan ini dilakukan setidaknya 17 kali setiap hari. Kalau anda menjamu seorang tamu dan ia meminta segelas air, dan anda memberinya, tapi tak dimunum sampai 17 gelas, bahkan lebih, maka kira-kira bagaimana sikap anda terhadap tamu itu? Anda pasti akan mengumpat, orang ini gila. Meminta minum, sudah diberi 17 gelas masih juga tidak diminum dan (lebih gila lagi) ia masih meminta terus. Lalu kira-kira bagaimana sikap Allah ketika umat-Nya dalam sholat minta ditunjukkan jalan yang lurus tapi tetap saja korupsi (misalnya)?

Bukankah dalam sholat kita juga bersumpah tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah? Boleh dan logiskah kita yang mengakui adanya Allah namun menyakiti ciptaan-Nya (memakan harta rakyat, merusak hutan dan tambang, dst)? Bukankah dalam sholat kita juga berjanji akan saling menyelamatkan untuk mengubah “rahmatullah” menjadi “barokah”? Orang juga mesti paham bahwa rahmat Allah akan ditumpahkan kepada siapa saja termasuk para koruptor, namun barokah hanya milik orang yang memiliki “piring dan cangkir” yang bersih. Dengan kata lain, baru mengamalkan satu kalimat seperti: syahadat, assalamualaikum, alhamdulillah, bismillah, dst saja kita tidak mampu, apalagi mengamalkan sebagian besar isi Al-Quran.

Karenanya jika selesai sholat kita korupsi atau menyakiti tetangga, apakah ini berarti kita telah mendirikan sholat? Jawabnya jelas tidak. Dari konstruksi inilah menjadi jelas bahwa mengapa Indonesia yang hampir 96 % penduduknya memeluk Islam, dan bahkan 100 % pejabatnya pernah pergi haji, ternyata juga tetap menjadi negeri paling korup di dunia, dan sebaliknya Swedia dan negara-negara Skandinavia lainnya — meski tidak beragama Islam — namun dicap sebagai negara paling bersih di dunia. Padahal Islam mengajarkan kedisiplinan, kejujuran, kasih sayang, moral, akhlak, dan sebagainya, namun sayang tidak dapat diamalkan oleh umatnya. Kalau baru tingkatan akhlak saja belum sampai, bagaimana kita mau sampai kepada tingkatan taqwa?

Demikian pula ketika seorang pejabat negara yang ketika berhaji melontar jumroh — misalnya. Ia mestinya juga sadar bahwa ia tidak sekadar melempar tugu sebagai benda yang mati, namun harus sadar bahwa ia sedang melempari syetan. Karenanya ketika kembali ke tanah air dan ke kantornya, ia juga tetap harus melempari syetan yang mengajaknya korupsi. Artinya harus mampu menolak segala kebatilan dan kejahatan yang menjauhkan dirinya dari Allah dan Rasulullah. Seorang pejabat yang sangat rajin sholat, tentu harus ingat bahwa ketika sujud, ia merendahkan mukanya, dan justru pantatnya yang lebih tinggi dibanding mukanya. Padahal muka adalah lambang kemartabatan. Namun toh ia masih memuji Allah yang maha tinggi. Tentu jika ia mengamalkan sujud tersebut dalam keseharian, ia akan malu jika martabatnya tercoreng karena korupsi.

Orang beragama yang sudah sampai kepada Allah, pasti akan menggerakkan seluruh ibadah “mahdhoh-nya” untuk menuju kesadaran sejati mengabdi kepada Allah. Setelah sholat misalnya, ia akan menyiapkan segala indranya untuk Allah. Melalui Rasulullah, Allah telah bersabda: “Ketika AKU mencintai seorang hamba, Aku Tuhan adalah telinganya sehingga dia mendengar dengan AKU, aku adalah matanya sehingga ketika melihat dengan AKU, dan aku adalah lidahnya sehingga dia berbicara dengan AKU, dan AKU adalah tangannya sehingga dia mengambil dengan AKU”.

Kalau seseorang telah mampu “menggabungkan” diri ke Allah (tauhid), maka ia juga akan dapat memantulkan 99 nama Allah itu dalam perilaku kehidupannya. Seorang pejabat negara yang sudah sampai taraf ini, ia akan lebih mudah mengamalkan sifat Allah, misalnya al-Adl, yakni adil dalam setiap tindakan. Keadilan adalah titik sentral dari “lingkaran asma Allah”. Kalau dia adil, pasti dia juga akan rahman dan rahim, cinta yang meluas sekaligus mendalam. Tidak mungkin tanpa rahman dan rahim ia akan mampu berbuat adil. Apalagi jika sudah sampai al-mukmin, maka ia harus menjadi indikator utama, bahwa kalau ada dia (sang pejabat itu), maka rakyat akan aman hartanya, jiwanya, dan martabatnya.

Kita juga tidak dapat menyalahkan seratus persen para pejabat yang korup. Semua tentu ada akar masalahnya. Kalau pencurian yang dilakukan rakyat kecil barangkali disebabkan kemiskinan, dan ini berarti ada struktur yang tidak seimbang, maka barangkali, para pejabat yang suka mencuri juga adalah “korban” dari sistem dunia yang cenderung tidak adil dan menghisap. Untuk menjadi pejabat (misalnya) harus disponsori kapitalis (asing), karena biaya politik amat mahal. Ini berarti ada semacam dosa-dosa yang struktural sifatnya. Hanya masalahnya, mengapa para pejabat sebelumnya begitu percaya diri mengaku siap memimpin?

Mestinya setiap hari ia akan “lari” kembali “menggabung” ke Allah jika ia terbentur tembok yang mengajak menjauhkan dari-Nya. Ia harus selalu peka mengasah “radar” jiwa dan batinnya, dan ibadah mahdhoh yang saya sebut tadi sebenarnya adalah metode yang ampuh untuk mengasah “radar” kepekaan tersebut. Ia harus rajin ber-iqra, dan rajin memaksa diri kembali kepada jati dirinya, yakni manusia yang fitri.

Kalau ia sudah beragama, namun masih korup dan berbuat kebatilan, maka ia belum kembali kepada kefitrian dan belum kembali ke rumah Allah. Islam adalah agama dunia sekaligus akherat, dan ini tidak dapat dipisahkan antara tauhid vertikal dan horizontal. Tidak bisa Allah diajak kalkulasi, kita korupsi 10 ribu, jika yang 5 ribu kita sumbangkan ke masjid maka dosa kita terhapus. Karena Islam adalah agama dunia-akherat, maka tidak ada keterpisahan. Dengan kata lain, yang ideal adalah menjalankan segala tugas duniawi (jadi guru, dosen, budayawan, tukang nggamel, pemusik, penyanyi, pejabat, bupati, gubernur, presiden, blantik sapi, tukang ojeg, pengamen, dst) untuk diarahkan selalu ke rumah Allah.

Kata Al Ghazali: “Menjadi sufi itu tidak menolak dunia ini, mereka juga tidak memandang bahwa nafsu duniawi harus dimatikan. Mereka hanya ingin mendisiplinkan keinginan-keinginan yang tidak berkesesuaian dengan kehidupan agama dan perintah suara akal. Mereka tidak melemparkan semua hal itu di dunia ini, mereka juga tidak mengikutinya dengan balas dendam. Lebih dari itu, mereka tahu nilai yang benar dan fungsi segala sesuatu di atas bumi. Mereka menyimpan sebanyak apa yang menjadi kebutuhan. Mereka makan sebanyak yang mereka butuhkan untuk tetap sehat (dan ini berarti adil terhadap dirinya sendiri). Mereka memelihara tubuh mereka dan secara simultan membebaskan hati mereka. Tuhan menjadi titik fokus yang kepadanya seluruh hidupnya terarahkan. Tuhan menjadi obyek pujaan dan perenungan mereka.”

Seorang sufi tengah berdoa dengan tenang. Seorang pedagang yang kebetulan juga memegang jabatan menghampirinya dan menawarkan satu tas berisi dinar emas kepada sufi tersebut. “Sebentar”, kata sang sufi. “Apakah uang ini sah? Apakah kamu masih memiliki lagi uang seperti ini di rumahmu?”. Jawab si pedagang “Tentu saja punya karena saya kaya raya!”. Lalu sang sufi bertanya: “Apakah kau masih mau mencari uang dan harta lagi yang lebih banyak? “Tentu saja, saya akan bekerja lebih keras untuk mencari ribuan keping emas lagi”. Mendengar jawaban itu sang sufi berkata: “Kalau begitu, orang kaya tidak boleh menerima uang dari si miskin. Aku kaya dan kamu masih miskin”. Kaget si pedagang mendengar kata sang sufi, lalu ia bertanya: “Bagaimana engkau menyebut aku si miskin sedangkan uangku segunung di rumah?”

Sang sufi menjawab “Saya adalah orang yang kaya karena aku selalu puas terhadap apa yang Tuhan berikan kepadaku. Engkau masih miskin sebab meski Tuhan telah memberikan uang segunung tingginya, engkau tidak puas dan terus mencarinya”.

Dengan kata lain, orang-orang yang beragama tetapi masih korup adalah orang sebenarnya masih percaya adanya Tuhan, namun ia tidak percaya atau setidaknya melupakan akan janji-janji Tuhan, sifat-sifat Tuhan, keagungan Tuhan, dst. Karenanya ketika disumpah di pengadilan (misalnya), bahkan di bawah kitab suci dan menyebut “demi Allah”, dia tetap berbohong, dan pulang dengan kepala tegak, senyum lebar, melambaikan tangan kepada para wartawan yang mewawancarainya ketika pulang bersaksi di pengadilan, dan esoknya berangkat Umroh!


Mengenal lebih dekat Emha Ainun Najib, Klik Disini
========================================================================
Saratri Wilonoyudho

Saratri Wilonoyudho

Aktif Menemani Jamaah Maiyah Gambang Syafaat. Esais. Peneliti dan Dosen Teknik Sipil Universitas Negeri Semarang. Anggota Dewan Riset Daerah Jawa Tengah. Ketua Koalisi Indonesia untuk Kependudukan dan Pembangunan Jawa Tengah.

Tulisan ini ditulis di Jamaah Maiyah dengan tag Artikel, Budaya, Doa, Esai, Gambang Syafaat, Islam, Jamaah Maiyah, Maiyah.

Sumber: http://www.caknun.com/2012/beragama-tapi-atheis/#more-175

Cak Nun Bukan Tuhan, Jangan Disembah!

Ada Ponari, Poniman, Ponisri, Ponidi, Ponimen, Poniyem, Ponijah, kuda Poni juga ada, ada-ada aja. Lha mosok pada nggak muat otak sadar kewarasan sampean untuk menyadari; mana hidayah, mana hidayati,? Jan podo gak pokro! Jamane jaman lingsir wengi, banyak kekalutan dijadikan rujukan, bertebaran statement gawen-gawen jadi alat bukti, lha yang jelas-jelas alat bukti malah digembok di gudang gelapnya pemikiran.

Ada lagi yang labih majnun! Mosok Cak Nun dikuyo-kuyo supaya mau magang jadi presiden, opo yo mau? Lha wong CN itu bukan barang wadag, bukan jenis manusia umumnya (dia tipe manusia yang hanya mau disuap sama Novia), gek disuruh-suruh ngurusi urusan yang dia paling alergi dengan wilayah kepentingan bathinnya,? Mesakne! Makanan model apa politik kuwi? Ibarat baju, CN terlalu bersih untuk gluteh sama najisnya politik kepentingan sesaat. Saya yakin, CN sudah sangat puas untuk menjadi dirinya sendiri.

Lho mayarakat kita butuh presiden handal untuk membawa perahu Indonesia keluar dari badai krisis? Halah gombal! Siapa bilang kondisi masyarakat Indonesia tertekan, stress, kalut, kalang-kabut, morat-marit, gak jelas jluntrung arah hidupnya, mlarat, krismon? Nggedabruus! Mana stressnya? wong tiap saat bisa nyruput pahitnya berbagai kebijakan yang ndak perpihak dengan manisnya cangar-cengir tata-batin ‘udhma. Mana mlaratnya? Lha wong sepedah montor keluaran terbaru selalu ditunggangi anak-anak mereka sambil nenteng Hp keluaran gress untuk sekedar ngisi absen kelas dari pada dibilang suka bolos.

Sisi lain, fenomena Ponari, bukan potret kekalutan masyarakat Indonesia terhadap kecanggihan medis. Itu hanya sekedar intermezzo ritme hidup, seperti dehemnya calon mantu di depan mertua. Apa sampean berpikir tiap orang dehem pasti sakit? Pasti TBC? Terlalu naif!!! Jangan! jangan samakan diagnosa sampean terhadap rakyat Indonesia yang hidupnya penuh langgam indah ini dengan masyarakat post modernisme amerika (sekali kena badai caterina langsung pada bunuh-diri).

Tengok! betapa kepicuntnya Gusti Allah sama kerabat kami di Aceh, saking kangennya Gusti dengan mereka sampai-sampai bersuka cita mendirikan terop-terop keagungan saat kedayohan lebih dari 125 ribu kekasihNya di penghujung Desember. Nggak! Ndak! Indonesia tidak membutuhkan superman, batman, catwomen, atau apapun yang digdaya. Cukup diperintah manusia, makmurlah Indonesia.

Masalahnya adalah; yang pada pegang kewenangan sedang melepaskan baju kemanusiaannya, cuma pada pakai kaos oblong yang bolong sana-sini, jadi ya wajarlah kalau sampaean gebyah-uyah nglihat Indonesia compang-camping. Karena susah ditemui pemimpin yang lengkap baju aurat kemanuasiannya. Sehingga sampaen ngasih resep rakyat Indonesia dengan sekedar baju penutup kemaluan bagi semua rakyat Indonesia raya! Ngawur!. Sebab yang sering sampean ajak dialog adalah mereka yang telanjang, yang sering menghadiri jamuan makan adalah para petinggi porno.

Cak Nun dalam contect udo-ora-udo, adalah sekian banyak diantara rakyat jelata diantara kami yang berbaja gamis putih bersih, jangankan telanjang, udel-e sendiri saja dia nggak pernah lihat (saking hati-hatinya sama auratnya mungkin). Saya yakin sepenuhnya kalau-pun Allah memilihnya untuk mampir di kekuasaan istana, pasti ia tetap rakyat jelata seperti sekarang. Cak jangan mau disembah! Rakyat Indonesia jangan mau nyembah Cak Nun! Cukup Gusti Allah yang kita ciumi telapak kaki keperkasaannya. Jangan pernah mau menciumi organ tubuh orang lain! Salah-salah panjenengan kena pasal cabul!

Bilik Nusantara I/7 23 feb 2009 00.25 WIB
=======================================================================
Profil


Biografi :

Emha Ainun Nadjib atau yang akrab dipanggil Cak Nun, dikenal sebagai budayawan dan intelektual muslim asal Jombang, Jawa Timur. Pria kelahiran 27 Mei 1953 itu juga dikenal sebagai musisi yang banyak melantunkan lagu-lagu dakwah.

Cak Nun, yang merupakan anak keempat dari 15 bersaudara itu, menempuh pendidikan formalnya di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM), meski hanya dilalui satu semester saja. Namun sebelumnya dia pernah menjalani pendidikan di Pondok Modern Gontor-Ponorogo dan menamatkan pendidikannya di SMA Muhammadiyah I Yogyakarta.

Antara 1970-1975, Cak Nun, menjalani hidupnya di Malioboro-Yogyakarta. Kemudian banyak menekuni aktivitas seni dan menggelar pementasan. Beberapa pementasan spektakuler yang digelarnya di antaranya, Geger Wong Ngoyak Macan (1989), Patung Kekasih (1989), Keajaiban Lik Par (1980), Mas Dukun (1982), Santri-Santri Khidhir (1990), Lautan Jilbab (1990), Kiai Sableng dan Baginda Faruq (1993) dan Perahu Retak (1992).

Selain itu ia juga pernah mengikuti lokakarya teater di Filipina (1980), International Writing Program di Universitas Iowa, AS (1984), Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda (1984) dan Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman (1985).

Hingga kini Cak Nun aktif 'berbaur' dengan masyarakat dan melakukan aktivitas berkesenian, agama, pendidikan politik dan sinergi ekonomi. Ia tetap rutin menjadi narasumber pengajian bulanan dengan komunitas Masyarakat Padang Bulan, di berbagai daerah.

Sementara aktivitas bermusiknya dilalui bersama kelompok musik arahannya, Musik Kiai Kanjeng. Kelompok musik ini membawakan lagu-lagu sholawat nabi dan syair-syair religius yang bertema dakwah.

Selain itu suami aktris Novia Kolopaking ini, adalah seorang penulis buku dan menulis beberapa naskah theater. Di antara bukunya yang populer adalah Lautan Jilbab (1989, Puisi), Seribu Masjid Satu Jumlahnya (puisi, 1990), Cahaya Maha Cahaya (puisi, 1991), Sastra Yang Membebaskan (1985), Slilit Sang Kiai (1991), Sudrun Gugat (1994), Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai (1995), dll.

Sebelum menikah dengan Novia, Cak Nun pernah menikah dan dikaruniai seorang anak yang kini menjadi vokalis grup band Letto, Noe. Sedangkan dari pernikahannya dengan Novia, Cak Nun dikaruniai empat anak.

Sumber: http://selebriti.kapanlagi.com/indonesia/e/emha_ainun_nadjib/

“PANGGILLAH SI-EMPUNYA ANJING”

KH. Imam Zarkasyi
Pidato KH. Imam Zarkasyi --salah satu dari 3 orang (Tri Murti) pendiri Pondok Modern Daarussalam Gontor, Lahir, Gontor 21 Maret 1910 Wafat, Madiun 30 April 1985 -- dihadapan para santri.

K.H. Imam Zarkasyi: “Ketika suatu saat, anak-anakku, akan masuk ke rumah seseorang, tetapi di pintu pagar rumah orang itu, anak-anakku dihalang-halangi oleh seekor anjing, apa yang akan kalian lakukan ? Memukuli anjing itu untuk mengusirnya ? Melemparinya dengan batu ?” Inilah beberapa pertanyaan yang diajukan oleh K.H. Imam Zarkasyi, di sela-sela pidatonya di depan para santri. Para santri memang kemudian menjawab pertanyaan beliau, tentunya dengan suara yang hiruk pikuk, dengan bermacam-macam jawaban sekehendak mereka. Ada yang menjawab : “Ambil kayu, pukuli saja !”, “Lempari anjing itu dengan batu !”, “Pura-pura duduk seakan-akan mau melemparinya, maka anjing itu akan pergi”, “Cari pentungan, pentungi !”. Suasana di BPPM (Balai Pertemuan Pondok Modern) Gontor menjadi gaduh, memang. Dan, K.H. Imam Zarkasyi, tentu tidak bisa mendengar jawaban para santrinya satu persatu. Biasanya beliau hanya bergumam sambil tertawa-tawa kecil : “Hmmm … ya …, bagaimana …? Ya ….”.

Di tengah riuh rendahnya para santri yang berusaha menjawab pertanyaannya, beliau kemudian menyela jawaban mereka seraya berkata : “Baik, baik, baik, dengarkan. Kalau kalian lakukan itu, maka anjing itu pastilah akan mengamuk dan menggigit kalian. Kalian tidak akan mampu mengatasi anjing itu.” Para santripun semakin penasaran menunggu jawaban yang benar dari beliau. Ini adalah dialog. Salah satu cara beliau membuat daya tarik pidato, sehingga para santri merasakan asyik, terlibat secara aktif dalam setiap poin pembicaraan beliau. Inilah tehnik “retorika” ala beliau, yang beliau aplikasikan di depan para santrinya, sebuah metode yang ditemukan oleh seorang filosuf “Socrates” yang lebih dikenal dengan “thariqah tahaawuriyyah”, “thariqatus su-al”, tehnik bertanya, metode dialogis. Metode pendekatan publik seperti ini didasarkan pada prinsip “At-Tajahul as-Suqrathiy” (Berpura-pura bodoh ala Socrates).

Tehnik ini sangatlah bagus dipakai di depan publik pendengar bahkan yang jumlahnya banyak sekalipun, sekedar mencapai tujuan yang terutama antara lain :
a. Meningkatkan keterlibatan public pendengar kepada materi pembicaraan,
b. Menggali potensi pengetahuan objek pendengar sehingga dia akan berusaha untuk melakukan eksplorasi pengetahuannya sebanyak dan seluas mungkin,
c. Mempertahankan konsentrasi mereka kepada subjek materi pembicaraan sehingga mereka akan selalu fokus kepada masalah dan tidak terganggu dengan memikirkan hal-hal lain di luar subjek pembicaraan.

K.H. Imam Zarkasyi sangatlah ahli dalam memakai tehnik-tehnik seperti ini dalam banyak pidato beliau. Tak ayal lagi, beliau memang sosok komplit sebagai seorang retorik ulung, yang seperti sering diungkapkan beliau sendiri : “Jadilah seperti presiden Sukarno, John F. Kennedy, presiden Amerika, atau Anwar Sadat, presiden Mesir.” Retorika beliau, memang, sepertinya mengandung indikasi adanya kolaborasi dari model-model pidato mereka itu.

“Kalau kalian diganggu oleh anjing itu, dan tetap dihalang-halangi oleh anjing itu untuk masuk ke rumah tersebut, janganlah kalian mengusirnya sendiri, tidak akan bisa. Janganlah kalian memukulinya atau melemparinya dengan batu. Justru kalian akan diterkamnya dan digigitnya. Apa yang akan anak-anak lakukan ?” Demikianlah, beliau semakin membuat para santri bertanya-tanya dan penasaran. “Panggillah si-empunya anjing. Bilang kepada si-pemilik anjing itu : Ini anjing kamu mengganggu saya.” “Maka, dengan sangatlah mudah, dengan kode dan ucapan tertentu yang sudah dilatihkannya, anjing itu akan langsung berbalik arah dan masuk ke dalam rumah itu. Anak-anakku akan dengan aman bisa memasuki rumahnya, tanpa diganggu oleh anjing itu.”

Begitulah, dalam dialog ringkas ini, sebenarnya apa yang akan beliau doktrinkan kepada para santrinya adalah tehnik mengatasi masalah dalam hidup, yang tidak dengan mengatasinya sendiri, apalagi dengan sikap arogansi dan menonjolkan kemampuan diri, yang mungkin dirasakan secara optimistis akan dapat mengatasi masalah. Namun ketanyaannya yang sering terjadi, bukan masalah dapat diatasi, tapi justru akan memunculkan masalah-masalah lain yang lebih keruh dan ruwet dari masalah yang ada. Makanya, K.H. Imam Zarkasyi, untuk mengakhiri dialog ini, membawa para santri pada kesimpulan : “Jadi, kalau anak-anakku dimusuhi oleh seseorang, difitnah oleh orang lain, diancam olehnya dan lain sebagainya, tidak perlulah kalian menjawabnya sendiri, tidak perlulah mengatasinya sendiri. Panggillah, siapa pemilik dan penguasa orang tersebut ? Allah ! Panggillah Allah, pasrahkan kepada-Nya. Laporkan kepada Allah, bahwa si-fulan berniat jahat kepadamu. Allah akan dengan sangat mudah mengatasi masalah ini. Biarkan Allah bertindak dengan kehendak dan keamauanNya. Allah Maha Tahu. Allah Maha Adil. Allah Maha Bijaksana.”

Mengatasi sendiri masalah dengan melibatkan diri pada konflik yang ditimbulkan oleh masalah tersebut memang terkadang bisa membawa hasil, namun tak jarang tidak membawa hasil. Dalam kondisi berhasil maupun tidak berhasil sekalipun, yang sering terjadi, masalah yang satu justru akan menimbulkan masalah-masalah lain yang baru. Problem yang satu akan menimbulkan problem lainnya. Memasrahkan diri kepada Allah untuk penyelesaian akhir sebuah masalah dan problema adalah jalan terbaik.

Seorang muslim-mukmin harus mempunyai jiwa “tawakkal”, pemasrahan diri yang penuh kepada Allah dalam segala hal di dalam hidupnya. Mengembalikan semua persoalan kepada Allah dengan memohon dan mengharap petunjukNya dalam setiap detik kehidupannya. Allah pastilah akan menentukan jalan pemecahan masalah apapun dengan cara terbaik. Pemasrahan diri kepada Allah sebenarnya secara internal akan membangun jiwa optimisme dan positivisme yang sangat efektif untuk menimbulkan kemapanan dan kestabilan diri. Seorang yang tinggi rasa tawakkalnya akan terhindar dari ancama rasa takut, hawatir dan kelemahan diri yang berlebihan. Sebaliknya, dia akan selalu dengan penuh keberanian dan keyakinan, akan melakukan apa saja, bahkan akan melakukan sesuatu yang tidak masuk akal (irrasional) sekalipun, hanya dengan bermodalkan rasa pasrah dan tawakkal bahwa Allah akan memberinya jalan pemecahan yang terbaik.
Beberapa ayat alqur’an berikut ini akan memberi kita petunjuk, bagaimana seharusnya seorang hamba Allah itu senantiasa bertawakkal dan memasrahkan urusan dirinya kepada Allah, satu-satunya Dzat yang Maha Kuasa, dalam setiap langkah hidupnya.

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا، وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا   --الطلاق : 2
Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ، إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ   --آل عمران : 159-160
Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.

إِنَّ رَبَّكَ يَقْضِي بَيْنَهُمْ بِحُكْمِهِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ، فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّكَ عَلَى الْحَقِّ الْمُبِين  -- النمل : 79
Sesungguhnya Tuhanmu akan menyelesaikan perkara antara mereka dengan keputusan-Nya, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Sebab itu bertawakallah kepada Allah, sesungguhnya kamu berada di atas kebenaran yang nyata.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ هَمَّ قَوْمٌ أَنْ يَبْسُطُوا إِلَيْكُمْ أَيْدِيَهُمْ فَكَفَّ أَيْدِيَهُمْ عَنْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ (المائدة : 11)
Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kamu akan nikmat Allah (yang diberikan-Nya) kepadamu, di waktu suatu kaum bermaksud hendak menggerakkan tangannya kepadamu (untuk berbuat jahat), maka Allah menahan tangan mereka dari kamu. Dan bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang mukmin itu harus bertawakal.

وَمَا كَانَ لَنَا أَنْ نَأْتِيَكُمْ بِسُلْطَانٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ، وَمَا لَنَا أَلَّا نَتَوَكَّلَ عَلَى اللَّهِ وَقَدْ هَدَانَا سُبُلَنَا وَلَنَصْبِرَنَّ عَلَى مَا آَذَيْتُمُونَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ   --إبراهيم : 11-12
Dan tidak patut bagi kami mendatangkan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah. Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang mukmin bertawakal. Mengapa Kami tidak akan bertawakal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakal itu berserah diri.

Apa yang kemudian diwariskan oleh K.H. Imam Zarkasyi kepada para santrinya dari pidato beliau di atas sebenarnya adalah sebuah dzikir dan amalan. Beliau meminta para santri untuk membiasakan diri membaca dzikir itu pada setiap selesai shalat, beberapa kali bahkan sampai 100 kali atau lebih, lebih-lebih ketika datang cobaan, fitnah, intimidasi, ancaman, permusuhan dan lain-lain dari beberapa pihak. Dzikir itu adalah :

حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الوَكِيْلُ، نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ، وَلاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِىِّ الْعَظِيْمِ.
Cukuplah bagi kami Allah, Dia sebaik-baik dzat yang dapat kami mewakilkan diri, Dia sebaik-baik tempat kami memasrahkan diri dan sebaik-baik dzat penolong kami. Tiada daya dan kekuatan hanyalah pada Allah yang Maha Tinggi dan Maha Agung.

Wallahu'alam.

Oleh: Ust. Saifurrahman Nawawi
=======================================================================
Beberapa Nasehat KH. Imam Zarkasyi:
A. Jangan kecil hati menghadapi “masa depan” (khususnya dalam hal usaha mencari “sandang – pangan” atau “nafqah hidup”.)
Sumber – sumber rizqi masih amat banyak sekali , yang banyak itu mungkin selama ini sudah diketahui, tetapi tidak diperhatikan.
Maka terlebih dahulu kami ingatkan :
Jangan fanatik kepada salah satu pekerjaan, atau salah satu jalan mencari rizqi yang halal itu, sekali lagi jangan fanatic.
Kefanatikan kepada sesuatu itulah yang sering menutup mata, sehingga tidak mau memperhatikan kepada yang lain. Padahal selain yang difanatiki itu, masih amat banyak, dan lebih baik dan lebih cepat.
Fanatik pasar umpamanya, juga tidak baik. Karena fanatik itu, mata tidak mau melihat pada yang lain, jika yang fanatiki itu terhalang, atau gagal, maka menjadi kecewa. Kecewanya karena sudah fanatik menjadi terlalu. Terlalu kecewa bisa merusak badan, bisa merusak pikiran, salah bisa menjadi gila. Begitulah pula terhadap pada sesuatu pekerjaan.
Sekiranya ada yang fanatik menjadi pegawai negeri, maka sekira tidak berhasil, atau berhasilnya kecil, dia merasa dunianya gelap atau sempit.
Ini suatu perasaan dan pendapat yang sangat salah.
Jadi andaikata menemui rintangan atau menemui jalan buntu sama sekali, jangan bingung, dan jangan buta. Bukalah matamu, pandanglah dunia ini masih luas.

B. Jangan kecil hati menghadapi kehidupan

Marilah kita hadapi kehidupan ini dengan segala kesadaran dan keberanian. Jadi namanya berani hidup.
Keberanian ini bukan berarti keberanian yang ngawur (asal berani), akan tetapi dengan keberanian yang sudah diperhitungkan.
Supaya selalu diingat bahwa sumber – sumber rizqi, kunci – kunci usaha masih amat banyak. Sebagian kecil akan kamu lihat dalam rihlah. Meskipun nanti akan kamu lihat beratus – ratus perusahaan tetapi itu sebagian kecil.
Dengan usaha – usaha itu orang bisa berhasil untuk hidup bahkan bisa sampai menjadi kaya raya.
Mengapa takut hidup ?
Mengapa kecil hati ?
Ingat modalmu cukup :
a. Tubuhmu masih utuh, tidak kurang.
b. Otakmu masih waras, bahkan sudah berilmu.
c. Pribadimu dan kehormatan itu masih utuh, belum tercela.
d. Sifat kejujuranmu masih utuh pula.
Mengapa takut hidup ?
Sekarang yang kamu bina adalah mentalmu. Mental yang mau bekerja, mental yang tidak cari enak saja.
Mental kejujuran, jadilah “WIRA” dimana saja.

C. Mencari Bahagia
Yang biasa pada umunya yang dicari ada ialah kebahagiaan. Dalam hal ini lebih dahulu kita harus mengerti bahwa kebahagiaan di dunia ada dua :
1. Kebahagiaan lahir / kemakmuran lahir.
2. kebahagiaan batin / Kemakmuran batin.
Untuk mencapai kebahagiaan lahit memerlukan kemakmuran atau kebendaan. Kemakmuran atau kekayaan harta benda, tidak mutlak dapat menjadi kebahagiaan yang sebenarnya.
Orang tidak merasa aman dan tenteram, umpamanya yang selalu terasa terancam atau dikejar – kejar musuh, yang tampak dan yang tidak tampak juga yang tidak putus dirundung kemalangan, berupa penyakit fisik atau penyakit rohani dan seterusnya, tidak akan dapat merasakan kebahagiaan yang sebenarnya.
Adapun modal untuk mencari kemakmuran batin ialah Iman. Didunia ini memang kenyataannnya ada orang kaya yang hartanya banyak dan ada orang miskin atau tidak kaya, hartanya sedikit.
Seorang yang berbudi atau yang mu’min, tidak iri atau dengki, tetapi berkata pada dirinya sendiri :
“Biarkan kami miskin harta, asal jangan miskin jasa”
“Biar kami miskin benda lahiriyah, asal jangan miskin budi, jasa atau amal”.
Seorang mu’min akan merasa bahagia, apabila ia beramal dan merasa bahagia kalau telah dapat untuk kebaikan masyarakat.
Seorang mu’min selalu merasa bersyukur karena menyadari karunia Allah yang amat banyak, atau dirasakan sangat banyak. Jadi setiap hari haruslah bersyukur dan gembira.

D. Jangan Mengandalkan Orang Tua
Kalau ada orang yang kaya, belum tentu anaknya akan menjadi kaya juga. Kita bisa melihat kenyataan yang sebaliknya didalam masyarakat. Orang tua bisa kaya karena mental dan ilmunya. Apabila mental dan ilmunya tidak diwariskan bagaimana sang anak akan menjadi kaya.
Barang siapa yang menjadi anaknya orang kaya jangan sembrono,”ojo ndumeh” mentang – mentang anaknya seorang kaya raya akan menjadi kaya juga tidak !! sebaliknya anak orang miskin, dengan mental yang kuat dan meningkat dan dengan pendidikan kesederhanaannya tidak mustahil akan menjadi orang yang kaya raya.

E. Harapan Kami 
Adapun harapan kami, setingkat lebih dari itu semuanya. Anak – anakku ini, kami timang – timang kami harap – harapkan dalam bahasa jawanya kami golo–golokan supaya menjadi pemuda yang diandalkan sebagai pemuda pejuang yang mempunyai rasa tanggung jawab atas kesejahteraan umat dan kemajuan agama yang tidak untuk diri sendiri.

Dalam kehidupan akan kita temui hama – hama perjuangan, yang lazim berbentuk harta, wanita, tahta atau pangkat. Ini seperti wereng manusia.

Semoga anak – anakku dapat berjuang benar – benar, dapat diandalkan dan tahan wereng.

Wassalam


Selasa, 06 Maret 2012

Tolong Menolong

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh>

Sahabatku,, begitu banyak hadist yang menerangkan bahwa memang benar pertolongan itu datang nya dari Allah....namun tentunya dengan jalan.

Apakah kita akan mengabaikan kesempatan berbuat amal kebaikan dan menghilangkan kesempatan menjadi hamba yang dicintai Allah karena keengganan kita membantu saudara semuslim yang sedang kesulitan dan meminta pertolongan dari kita?
Apa yang membuat kita menjadi enggan memberikan pertolongan, bukankah semua, segala sesuatu yang kita miliki sebenarnya dari Allah, lalu mengapa saat Allah mengirimkan hamba-Nya yang kesulitan datang pada kita, kita berpaling dan tidak menghiraukan? 

Dari Abu Hurairah ra, Nabi SAW, bersabda: “Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba Nya selama hamba Nya itu suka menolong saudaranya”. (HR. Muslim, lihat juga Kumpulan Hadits Arba’in An Nawawi hadits ke 36).
Apabila kita mengetahui bahwa sebenarnya kita mampu berbuat sesuatu untuk menolong kesulitan orang lain, maka segeralah lakukan, segeralah beri pertolongan. Terlebih lagi bila orang itu telah memintanya kepada kita. Karena pertolongan yang kita berikan, akan sangat berarti bagi orang yang sedang kesulitan. Cobalah bayangkan, bagaimana rasanya apabila kita berada di posisi orang yang meminta pertolongan pada kita, Dan sungguh Allah SWT sangat mencintai orang yang mau memberikan kebahagiaan kepada orang lain dan menghapuskan kesulitan orang lain.

Berikut beberapa hadits yang menerangkan tentang keutamaan menolong dan meringankan beban orang lain:

Pada suatu hari Rasululah SAW ditanya oleh sahabat beliau : “Ya Rasulullah, siapakah manusia yang paling dicintai Allah dan apakah perbuatan yang paling dicintai oleh Allah ? Rasulullah SAW menjawab : “Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah manusia yang paling banyak bermanfaat dan berguna bagi manusia yang lain; sedangkan perbuatan yang paling dicintai Allah adalah memberikan kegembiraan kepada orang lain atau menghapuskan kesusahan orang lain, atau melunasi hutang orang yang tidak mampu untuk membayarnya, atau memberi makan kepada mereka yang sedang kelaparan dan jika seseorang itu berjalan untuk menolong orang yang sedang kesusahan itu lebih aku sukai daripada beri’tikaf di masjidku ini selama satu bulan ” ( Hadits riwayat Thabrani ).

Setiap gerakan pertolongan merupakan nilai pahala ” Siapa yang menolong saudaranya yang lain maka Allah akan menuliskan baginya tujuh kebaikan bagi setiap langkah yang dilakukannya ” (HR. Thabrani ).
Memberikan bantuan juga dapat menolak bala, sebagaimana dinyatakan ”Sedekah itu dapat menolak tujuh puluh pintu bala ” (HR Thabrani ).

Pertolongan Allah kepada seseorang juga tergantung dengan pertolongan yang dilakukannya antar manusia. “Sesungguhnya Allah akan menolong seorang hamba-Nya selama hamba itu menolong orang yang lain“. (HR Muslim, Abu daud dan Tirmidzi)
Lebih hebat lagi, membantu orang yang susah lebih baik daripada ibadah umrah, sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih berikut ini:

”Siapa yang berjalan menolong orang yang susah maka Allah akan menurunkan baginya tujuh puluh lima ribu malaikat yang selalu mendoakannya dan dia akan tetap berada dalam rahmat Allah selama dia menolong orang tersebut dan jika telah selesai melakukan pertolongan tersebut, maka Allah akan tuliskan baginya pahala haji dan umrah dan sesiapa yang mengunjungi orang yang sakit maka Allah akan melindunginya dengan tujuh puluh lima ribu malaikat dan tidaklah dia mengangkat kakinya melainkan akan dituliskan Allah baginya satu kebaikan, dan tidaklah dia meletakkan tapak kakinya untuk berjalan melainkan Allah angkatkan daripadanya, Allah akan ampunkan baginya satu kesalahan dan tinggikan kedudukannya satu derajat sampai dia duduk disamping orang sakit, dan dia akan tetap mendapat rahmat sampai dia kembali ke rumahnya ” (HR Thabrani ).

Memberikan bantuan juga dapat memadamkan kemarahan Tuhan, perhatikan hadits berikut ini:

“Sesungguhnya sedekah yang sembunyi-sembunyi akan memadamkan kemarahan Allah, dan setiap perbuatan baik akan mencegah keburukan dan silaturrahmi itu akan menambah umur dan menghilangkan kefaqiran dan itu lebih baik daripada membaca laa haula wa laa quwwata illaa billah padahal dengan membacanya saja akan mendapat perbendaharaan surga dan dengan berbuat baik itu juga dapat menyembuhkan penyakit dan menghilangkan kegelisahan ” (HR. Thabrani ).

Menolong orang lain juga dapat mengampuni dosa.
“Siapa yang berjalan untuk membantu saudaranya sesama muslim maka Allah akan menuliskan baginya suatu kebaikan dari tiap langkah kakinya sampai dia pulang dari menolong orang tersebut. Jika dia telah selesai dari menolong saudaranya tersebut, maka dia telah keluar dari segala dosa-dosanya bagaikan dia dilahirkan oleh ibunya, dan jika dia ditimpa kecelakaan (akibat menolong orang tersebut) maka dia akan dimasukkan ke dalam surga tanpa hisab “ (HR. Abu Ya’la ).

Allah SWT akan memberikan pelayanan surga kepada orang yang menolong meringankan beban hidup orang lain. Perhatikan hadits berikut ini:
”Sesiapa yang bersikap ramah kepada orang lain dan meringankan beban hidupnya baik sedikit maupun banyak maka kewajiban bagi Allah untuk memberikan kepadanya pelayanan dengan pelayanan surga ” (HR Thabrani ).

Orang yang menolong orang yang sakit laksana berada dalam taman surga, seperti dinyatakan oleh hadits:

“Siapa yg mengunjungi seseorang yang lain maka dia mendapatkan rahmat Allah dan siapa yang mengunjungi orang yang sakit maka dia seperti berada di dalam taman-taman (raudhah) surga” (HR Thabrani ).
Membantu orang lain juga merupakan ibadah shalat dan sedekah, sebagaimana dalam hadtis disebutkan :” Amar Makruf dan mencegah kemungkaran yang kamu lakukan adalah shalat. Menolong orang yang susah juga merupakan shalat. Perbuatan menyingkirkan sampah dari jalan juga shalat dan setiap langkah yang engkau lakukan menuju tempat shalat juga merupakan shalat “ (HR. Ibnu Khuzaimah ).

Setelah kita mengetahui keutamaan membantu dan meringankan kesulitan orang lain, masih enggankah kita memberikan bantuan dan meringankan kesulitan orang lain? Terlebih lagi bila orang yang kesulitan, telah meminta langsung pertolongan kepada kita, pantaskah kita sebagai orang beriman mengabaikan permintaan pertolongan yang dimohonkan? Padahal kita mempunyai kemampuan dan kesanggupan untuk membantunya.

Kita harus ingat, bahwa kita ini berada dalam pengawasan Allah, jiwa, harta dan segala sesuatu yang kita miliki berada dalam genggaman-Nya. Sebaiknya kita selalu mengusahakan agar dalam hidup, kita tidak mengundang murka dan azab Allah. Bila ada orang datang memohonkan suatu bantuan, mungkin saja Allah SWT sedang menguji kita melalui orang tersebut.
Perhatikan sabda Nabi Muhammad SAW berikut ini: ”Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla berfirman di hari kiamat,” Wahai anak Adam, dulu Aku sakit tetapi engkau tidak menjenguk-Ku.” Manusia bertanya,” Tuhanku, bagaimana kami dapat menjenguk-Mu sedangkan Engkau adalah Tuhan alam semesta?” Tuhan menjawab,” Tidak tahukah engkau bahwa si fulan sakit, tetapi engkau tidak menjenguknya? Tidak tahukah engkau jika engkau menjenguknya, engkau pasti dapati Aku ada di sisinya.” Tuhan berfirman lagi,” Wahai anak Adam, dulu Aku minta makan kepada engkau tetapi engkau tidak memberi Aku makan.” Manusia bertanya,” Tuhanku, bagaimanakah aku dapat memberi-Mu makan sedangkan Engkau adalah Tuhan alam semesta?” Tuhan menjawab,” Tidak tahukah engkau bahwa hamba-Ku si fulan meminta makan kepadamu dan engkau tidak memberinya makan? Tidak tahukah engkau bahwa jika engkau memberinya makan, engkau pasti dapati ganjarannya ada di sisi-Ku.” Tuhan befirman,” Wahai anak Adam, dulu Aku minta minum kepadamu dan engkau tidak memberi-Ku minum.” Manusia bertanya,” Tuhanku, bagaimanakah aku dapat memberi-Mu minum sedangkan Engkau adalah Tuhan alam semesta?” Tuhan berfirman,” Hamba-Ku fulan meminta minum padamu dan engkau tidak memberinya minum. Apakah engkau tidak tahu bahwa seandainya engkau berikan ia minum engkau pasti dapati ganjarannya ada di sisi-Ku.” ( HR. Muslim dari Abu Hurairah ra)

Perhatikan hadits Rasulullah SAW diatas dengan seksama, Allah SWT bersama orang-orang yang menderita, kepiluan hati mereka adalah kepiluan Tuhan. Rintihan mereka pada manusia adalah suara Tuhan. Tangan mereka yang menengadah adalah tangan Tuhan. Ketika seseorang memberikan derma kepada fakir miskin atau seseorang memberikan bantuan atas kesulitan orang lain, sebelum sedekah dan sebelum pertolongan tersebut sampai di tangan orang yang membutuhkan, tangan Tuhanlah yang pertama-tama menerimanya.

Namun kadang ada dari kita yang masih lebih ”mempercayai apa yang ada ditangan kita, ketimbang apa yang ada ditangan Allah.” Hingga kadang seseorang merasa sangat sulit sekali untuk bisa memberikan suatu bantuan pertolongan betapapun sebenarnya ia mampu. Ini mungkin karena orang itu lebih memikirkan kedepannya nanti bagaimana, kalau ia memberikan pertolongan. Ini yang disebut dengan ”lebih mempercayai apa yang ada ditangannya sendiri, ketimbang apa yang ada ditangan Allah” padahal seluruh hidupnya, jiwa raganya, ada ditangan Allah. Tapi dia masih lebih mempercayai apa yang ada ditangannya, ketimbang apa yang ada ditangan Allah. Orang ini masih lebih mempercayai akal pikiran /logika nya. Padahal Allah SWT lah Yang Maha Menggenggam segala sesuatu, Allah SWT lah Yang Maha Lebih mengetahui segala sesuatu yang akan terjadi nantinya, seperti, apa yang akan terjadi bila ia memberikan pertolongan dan apa yang akan terjadi bila ia tidak memberikan pertolongan, yang sebenarnya ia mampu untuk menolong. Allah SWT Maha Memudahkan, Maha Menyulitkan, Maha Menyaksikan, Maha Mengatur segalanya. Maha Meninggikan, Maha merendahkan. Allah SWT lah yang Maha Kuasa Memberikan apa saja kepada siapapun yang dikendaki-Nya dan menarik atau mengambil apa saja, dari siapapun yang dikendaki-Nya. Kekuasaan Allah SWT tidak terbatas dan tidak terhingga.

Karena itu, bila ada seseorang yang datang atau menghubungi kita meminta suatu pertolongan dan kita mengetahui bahwa kita mampu memberikan pertolongan yang diminta, maka segeralah berikan pertolongan. Sebaiknya kita menjadi seorang hamba yang benar-benar bisa ”mempercayai apa yang ada ditangan Allah, ketimbang apa yang ada ditangan kita sendiri”. Dan sebaiknya kita benar-benar bisa menjadi hamba Allah yang lebih mempercayai Ilmu Pengetahuan Allah yang Maha Meliputi segala sesuatu, ketimbang akal pikiran/logika kita yang sangat terbatas, agar kita tidak ragu terhadap segala kemungkinan yang terjadi bila kita memberikan bantuan pertolongan terhadap seseorang.

Sadarilah segera, bahwa semua, seluruh hidup kita ini, berada dalam genggaman-Nya, Allah yang Menggenggam segala sesuatu, Mengatur segala sesuatu. Jangan sampai akal pikiran kita yang terbatas serta kecemasan kita memikirkan ”bagaimana atau apa yang akan terjadi pada kita, kedepannya nanti bila kita memberikan pertolongan” membuat kita menjadi hamba Allah yang tidak perduli dan enggan memberikan pertolongan walau sebenarnya kita mampu. Janganlah mengundang kesulitan dalam hidup kita, jangan mempersempit urusan kita, dan jangan mengundang azab dan murka Allah. Tapi undanglah kemudahan, kelapangan urusan, cinta, kasih sayang dan pertolongan dari Allah, dengan memberikan bantuan, pertolongan kepada orang yang membutuhkannya.

Wallahua'lam....

Wassalamu a'laykum,warahmatullah,wabarakatuh,,

Minggu, 22 Januari 2012

Prinsip-Prinsip Akhlak Pengusaha Muslim

Agama Islam adalah agama yang sangat menekankan kepada umatnya agar berakhlak mulia. Karena ia merupakan buah dari aqidah yang lurus dan ibadah yang benar sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.  Tanda-tanda kesempurnaan seorang muslim juga diukur dari akhlaknya yang baik. Bahkan akhlak yang baik dapat menempatkan seseorang pada tingkat tertinggi di hadapan manusia. Hal ini bisa kita buktikan ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dipuji oleh Allah ta’ala karena akhlaknya yang mulia. Allah ta’ala berfirman:
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4)

Setiap pengusaha muslim hendaknya berkomitmen dengan akhlak dan adab Islam. Karena dengan akhlak dan adab Islam, Allah akan turut membantunya dengan membukakan hati hamba-Nya yang lain sebagai pintu rezeki yang dianugerahkan kepadanya. Dan pintu itu tidak mungkin terbuka kecuali atas kehendak-Nya.
Dalam kajian kali ini, kita akan menyebutkan secara global beberapa prinsip akhlak dan adab Islam yang semestinya dimiliki oleh setiap pengusaha muslim.

Pertama, jujur. Jujur adalah sifat utama dan akhlak muslim yang tinggi nilainya. Seorang pengusaha muslim hendaknya memegang teguh akhlak mulia ini dalam setiap urusan dan persoalan. Allah ta’ala berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzaab: 70-71)

Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
“Hendaklah kalian berlaku jujur, sebab kejujuran itu akan mengantarkan kepada kebaikan. Dan kebaikan itu akan mengantarkan ke dalam surga. Dan seseorang senantiasa berlaku jujur, dan membiasakan diri dengan kejujuran, hingga dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur.” (HR. Bukhari no.5743 dan Muslim no.2607).

Di antara bentuk kejujuran dalam bisnis adalah seorang pedagang berkomitmen dengan memberikan penjelasan yang transparan kepada konsumen –dalam proses jual beli- tentang barang-barangnya hingga menjadikan konsumen merasa yakin dan puas untuk membelinya. Cara inilah yang akan membawa keberkahan di sisi Allah ta’ala. Selain itu, ia akan diangkat derajatnya di dalam surga, setingkat dengan para nabi, orang-orang yang jujur, dan para syuhada. Berdasarkan riwayat Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu anhu dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Seorang pedagang yang jujur akan bersama dengan para nabi, orang-orang jujur, dan para syuhada.” (HR. At-Tirmidzi no.1130).

Dari Hakim bin Hizam, dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:
“Kedua orang yang melakukan transaksi jual beli boleh memilih selama mereka belum berpisah. Jika mereka berdua jujur dan menjelaskan dengan jelas (keadaan barang dagangannya, pent), maka Allah memberkahi jual beli mereka. Dan jika mereka berdusta dan menyembunyikan sesuatu, maka Allah mencela dan tidak memberkahi jual beli mereka.” (HR. Bukhari no.1973 dan Muslim no.1532)

Kedua, amanah. Merupakan hal yang wajib bagi setiap pengusaha muslim untuk menghiasi dirinya dengan sifat amanah sehingga dapat dipercaya oleh manusia.
Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata: “Tidaklah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menasehati kami kecuali beliau berpesan,
“Tidaklah beriman seseorang yang tidak bisa amanah dan tidaklah dianggap beragama orang yang tidak bisa memegang perjanjian.” (HR. Ahmad no.12406. Syu’aib al-Arnauth berkata, “Hadits ini hasan”.)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sebelum hijrah ke kota Madinah telah bergelar al-amin (orang yang terpercaya). Ketika hendak hijrah, beliau meminta anak pamannya, Ali bin Abi Thalib agar mengembalikan semua barang titipan kaum Quraisy yang dititipkan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam walaupun mereka mengusir beliau dari tanah kelahirannya.

Di antara bentuk amanah dalam bisnis adalah tidak mengurangi takaran dan timbangan dari barang-barang dagangannya, sehingga tidak merugikan konsumen. Allah ta’ala berfirman:
“Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil.” (QS. Al-An’aam: 152)
Allah ta’ala berfirman pula:
“Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.” (QS. Ar-Rahmaan: 9)

Dan Allah ta’ala berfirman pula:
“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. (Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan. Pada suatu hari yang besar. (Yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadapa Tuhan semesta alam.” (QS. Al-Muthaffifiin: 1-6)

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma berkata: “Suatu saat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menemui kami dan bersabda:
“Wahai para Muhajirin, ada lima hal yang jika kalian mengalaminya –aku berlindung kepada Allah ta’ala semoga kalian tidak akan mengalaminya- tidaklah nampak zina pada suatu kaum hingga mereka terang-terangan melakukannya, kecuali akan tersebar penyakit Tho’un dan penyakit lain yang belum pernah ada sebelumnya. Dan tidaklah mereka mengurangi timbangan dan takaran, kecuali mereka akan dilanda kekeringan dan kurang pangan serta penguasa yang zhalim. Dan tidaklah suatu kaum menolak mengeluarkan zakat, kecuali akan ditahan hujan dari langit. Kalau bukan karena hewan ternak, maka tidak akan turun hujan. Dan tidaklah mereka mengkhianati janji Allah dan Rasul-Nya, kecuali Allah akan membuat mereka dikuasai oleh musuh dari luar mereka sehingga mereka merampas semua yang mereka miliki. Dan tidaklah para imam (pemimipin) meninggalkan untuk berhukum dengan kitab Allah dan memilih selain yang diturunkan oleh Allah, kecuali Allah akan menjadikan mereka saling memusuhi.” (HR. Ibnu Majah no.4155)
Termasuk dalam makna amanah adalah seorang pedagang mengatakan cacat dari barang yang dia jual kepada pembelinya, bila memang ada cacatnya.

Diriwayatkan, bahwa Jarir al-bajali radhiyallahu anhu bila hendak menjual barang dagangannya kepada pembeli, dia meneliti barang-barangnya terlebih dahulu. Kemudian beliau memilahkannya dan mengatakan, “Jika anda mau, maka belilah barang ini. Jika tidak, maka tinggalkanlah.” Kemudian orang tersebut mengatakan, “Semoga Allah merahmatimu. Sesungguhnya jika engkau melakukan ini, maka barang daganganmu tidak akan habis.” Lalu beliau menjawab, “Sesungguhnya kami telah berbai’at kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam untuk saling menasehati kepada sesama muslim.” (HR. ath-Thabrani no.2447)

Dari Uqbah bin Amir radhiyallahu anhu,
“Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Seorang muslim adalah saudara muslim lainnya. Tidak halal bagi seorang muslim untuk menjual barang yang cacat kepada saudaranya tanpa memberitahukan cacatnya.” (HR. Ibnu Majah no.14291)

Pada prinsipnya, menawarkan barang kepada pembeli dengan menyembunyikan cacat yang ada pada barang tersebut tidaklah akan menambah rezeki seseorang. Harta tidak akan bertambah dengan berlaku khianat sebagaimana juga tidak akan berkurang karena berlaku jujur. Satu rupiah yang diberkahi oleh Allah –dan barangkali ia akan menjadi sebab kebahagiaannya di dunia dan akhirat- jauh lebih baik daripada jutaan rupiah yang dicela dan dijauhkan dari berkah yang barangkali menjadi sebab kehancuran bagi pemiliknya di dunia dan akhirat.

Orang yang berakal lebih tau bahwa keuntungan akhirat adalah keuntungan hakiki nan abadi. Dan hal itu jauh lebih baik daripada keuntungan dunia dan seisinya. Keuntungan harta dunia hanya akan habis dengan habisnya umur manusia, sementara kezhaliman seseorang dan dosanya akan tetap abadi. Dan sumber kebaikan itu hanya ada pada keselamatan agama.

Ketiga, toleran. Sikap toleran adalah pembuka pintu rezeki dan jalan untuk memperoleh kehidupan yang mapan dan aman. Di antara manfaat bersikap toleran adalah dipermudah dalam transaksi, dipermudah dalam interaksi, dan dipercepat perputaran modalnya oleh Allah ta’ala. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
“Allah akan mencurahkan rahmat-Nya kepada orang yang toleran ketika menjual, toleran ketika membeli, dan toleran ketika menagih hutang.” (HR. Bukhari no.1970)

Di antara makna toleran adalah mempermudah dalam proses transaksi jual beli. Seorang muslim tidak akan meninggikan harga barang di atas kewajaran ketika dia menjadi seorang penjual. Sebab dia paham bahwa tindakan tersebut berarti zhalim terhadap saudaranya sesama muslim dan juga mempersempit ruang kehidupan baginya.

Termasuk makna toleran juga adalah ketika seorang pengusaha muslim dalam posisinya sebagai penjual, mau menerima permintaan atau membolehkan seorang pembeli yang ingin mengembalikan barang yang telah dibelinya. Dia melakukan hal itu karena menyadari bahwa seorang pembeli tidak akan meminta atau mengembalikan barang yang telah dibelinya itu kecuali dia merasa kecewa dan merasa dirugikan. Maka hendaknya seorang pengusaha muslim tidak rela jika dirinya merugikan saudaranya. Justru yang lebih utama adalah berupaya menghilangkan kesempitan dan kesulitan saudaranya, sebab dengannya dia akan mendapatkan pahala yang besar.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa yang meringankan kesulitan dari saudaranya muslim, maka Allah akan meringankan kesulitannya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim no.2699)

Di antara makna toleran juga adalah ketika seorang pengusaha muslim berupaya melunasi hutang yang dia miliki. Dia tidak ingin tergolong dalam orang-orang yang memakan harta orang lain dengan cara batil. Dia berusaha keras untuk melunasi hutang-hutangnya pada waktu yang telah dijanjikan.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, “Dikisahkan bahwa ada seseorang yang mempunyai piutang satu unta berumur satu tuhan pada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Kemudian sang pemilik datang menagihnya dengan sedikit memaksa. Kemudian Rasulullah mengatakan (kepada para sahabat, pent), “(Carilah unta berumur satu tahun, pent) dan berikanlah haknya.” Kemudian mereka mencari unta yang umurnya satu tahun, namun tidak didapatkannya. Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengatakan lagi (kepada para sahabat, pent), “(Carilah unta berumur satu tahun, pent) dan berikanlah haknya.” Lalu si penagih tersebut berkata, “Engkau telah memenuhi hutangmu, maka semoga Allah memenuhi janji-Nya kepadamu.” Kemudian Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik dalam menunaikan haknya.” (HR. Bukhari no.2182).

Jika seorang pengusaha merasa kesulitan dalam melunasi hutangnya, maka dia tidak boleh banyak beralasan. Hendaknya dia tetap meniatkan diri untuk melunasi hutangnya.
Dalam sebuah riwayat disebutkan, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
“Apabila seorang muslim berhutang dengan suatu hutang dan Allah mengetahui bahwa dia hendak melunasinya, maka Allah akan menolongnya untuk melunasinya di dunia.” (HR. Ibnu Majah no.2408, Ath-Thabrani no.19558, dan Ahmad no.26859 tanpa lafazh ‘di dunia’. Syu’aib al-Arnauth berkata, “Hadits ini shahih berdasarkan syawahid (hadits-hadits penguat lainnya).

Di antara makna toleran adalah ketika seorang pengusaha muslim memberikan kemudahan kepada para penghutang yang kesulitan. Dia berusaha untuk tetap bersikap baik kepada mereka. Pada satu waktu, dia bias memberikan toleransi dengan menghapus sebagian, dan sesekali dia memberikan perpanjangan waktu atau pengunduran waktu.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa yang ingin diselamatkan dari azab di hari kiamat, maka hendaknya dia meringankan beban orang yang kesulitan atau membebaskan hutangnya.” (HR. Muslim)

Keempat, menepati janji. Islam adalah agama yang sangat menganjurkan umatnya untuk selalu menepati akad dan perjanjian dan semua bentuk komitmen yang telah disepakati. Allah berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu.” (QS. Al-Maa-idah: 1)
Dan Dia berfirman pula: “Dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’: 34).

Islam menegaskan agar setiap muslim memenuhi janjinya, selama perjanjian tersebut sesuai dengan garis-garis ajaran syariat. Hal ini dibuktikan ketika Islam menganjurkan agar setiap muslim mencari berbagai macam metode tautsiq (menetapkan kepercayaan) termasuk di dalamnya dengan tulisan. Allah ta’ala berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya…” (QS. Al-Baqarah: 282)

Allah berfirman pula:
“…Dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya..” (QS. Al-Baqarah: 282)
Juga dengan tanggungan (ar-Rahn) sebagaimana Allah berfirman:
“…Maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang)…” (QS. Al-Baqarah: 283)
Atau dengan cara jaminan (adh-dhoman), sebagaimana Allah berfirman:
“…Dan aku menjamin terhadapnya.” (QS. Yusuf: 72)

Dengan demikian, memperkuat perjanjian dan menuliskannya, mengambil saksi atasnya, dan meminta jaminan untuk memeliharanya, merupakan langkah yang sangat penting dalam rangka melanggengkan proses transaksi dan pemenuhan hak. Dan hal-hal di atas juga berguna untuk menutup celah persengketaan dan perselisihan antar individu. Allah telah memberikan pengecualian untuk perdagangan tunai yang umumnya membutuhkan kecepatan dan kemudahan. Allah berfirman:
“…(Tulislah mu’amalahmu itu), kecuali jika mu’amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya…” (QS. Al-Baqarah: 282)

Kelima, tidak berbisnis pada barang-barang atau jasa yang dilarang syari’at. Maksudnya adalah hendaknya para pengusaha muslim hanya berbisnis pada barang-barang yang baik yang dihalalkan oleh Allah ta’ala. Allah berfirman:
“Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang Telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat.” Demikianlah kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang Mengetahui.” (QS. Al-A’raaf: 32)

Allah juga berfirman:
“Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, Maka bertakwalah kepada Allah Hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al Maa-idah: 100)

Berdasarkan dalil di atas, maka setiap pengusaha muslim dituntut untuk berinteraksi hanya di wilayah yang baik lagi halal saja. Mereka tidak diperbolehkan berbisnis pada barang-barang yang diharamkan oleh Allah seperti khamr, narkoba, patung (gambar makhluk bernyawa), alat-alat musik, dan semisalnya. (tentang beberapa bentuk bisnis haram telah kami bahas pada Majalah Pengusaha Muslim edisi 2 volume 1/Februari 2010, dalam rubrik kajian kita dengan judul ‘Bisnis Pembawa Petaka’ (hal.40-42). Silakan dibaca kembali).

Keenam, tidak memakan harta dengan cara batil. Islam sangat memerintahkan umatnya agar bekerja dalam rangka mencari rezeki dengan cara yang halal dan diridhoi oleh Allah. Demikian sebaliknya, Islam sangat melarang umatnya memakan harta yang diperolehnya dengan cara batil. Allah berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu.” (QS. An Nisaa’: 29)

Di antara bentuk memakan harta orang lain dengan cara batil ialah hal-hal berikut ini:
Riba, penipuan, perjudian, penimbunan barang, monopoli, persaingan yang tidak sehat, dan lain sebagainya. (tentang ancaman riba, hukum dan bentuk-bentuk judi, dan penimbunan barang telah kami bahas pada Majalah Pengusaha Muslim edisi 2 volume 1/Februari 2010. Sedangkan tentang persaingan bisnis yang tidak sehat maka kami bahas dalam edisi kali ini dalam rubrik motivasi. 
Silakan dibaca dan dipahami). [Majalah PM]