Tampilkan postingan dengan label Ramadhan di Mancanegara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ramadhan di Mancanegara. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Agustus 2011

Puasa di Belanda

Saturday, 06 September 2008 20:22Written by Eko Hardjanto
Tahun ini menandai lima kali Ramadhan saya habiskan di negeri tulip dan windmolen. Masyarakat Indonesia lebih mengenal windmolendengan istilah kincir angin, ya betul, kincir angin negeri Belanda, negeri datar yang hampir seluruh daratannya lebih rendah dari permukaan samudra. Di tanah datar ini bunga tulip menyebarkan aroma khas pariwisata ke seluruh penjuru dunia. Tulip adalah Belanda.
Belanda, negara relatif kecil di Eropa Barat, dengan penduduk hampir 17 juta jiwa. Satu juta di antaranya adalah kaum muslimin yang sebagian besar adalah imigran asal Maroko, Turki, Iraq, Somalia, dan juga Indonesia. Tidak dipungkiri, hubungan sejarah Indonesia dan Belanda selama masa kolonial menjadikan pendatang maupun budaya Indonesia cukup mudah ditemui di negeri ini.
Ramadhan di Belanda, sebagaimana di negeri sub tropis lainnya, membutuhkan perjuangan ekstra. Selain kultur budaya dan agama yang berbeda, faktor alam pun membuat banyak perbedaan. Karena letak geografis Belanda jauh di sebelah utara garis katulistiwa, pada musim panas waktu siang jauh lebih panjang dibanding waktu malam. Tahun ini Ramadhan jatuh pada akhir musim panas di mana waktu maghrib tiba hampir pukul 21.00 malam dan subuh pada pukul 4.30 dini hari. Sehingga total waktu berpuasa tahun ini hampir 17 jam, jauh lebih panjang dibanding waktu berpuasa di Tanah Air.
Bagi saya di tahun kelima ini, Ramadhan di Belanda sudah menjadi biasa. Tidak ada lagi rasa kaget dan sepi ketika puasa dan berbuka, yang sering saya rasakan dulu ketika datang pertamakali ke negeri ini. Semarak aktivitas kaum muslimin di negeri Belanda sepanjang Ramadhan membuat saya tetap merasa feeling at home, walau tentu saja ada kerinduan tersendiri mendengarkan suara adzan bersahutan seperti di Tanah Air, karena di Belanda suara adzan umumnya dikumandangkan hanya untuk di dalam masjid.
***
Groningen, kota pelajar di utara Belanda, di sini pertama kali saya habiskan Ramadhan dua tahun pertama. Kota kecil nan damai inilah yang pertamakali merubah rasa sepi, rindu, dan terasing ketika datang ke negeri ini. Komunitas muslim di kota ini luar biasa hangat dan erat. Setiap akhir pekan selama Ramadhan selalu diadakanbuka bersama oleh deGromiest – deGroningen Indonesian Moslem Society, komunitas Muslim yang terdiri dari para mahasiswa, pekerja, maupun mukimin asal Indonesia yang telah lama menetap di sekitar area Groningen.
Tidak jauh dari area Rijks Universiteit Groningen, ada sebuah rumah yang telah lama dijadikan masjid oleh warga muslim Groningen asal Maroko. Masjid ini dapat menampung sekitar 500 jamaah. Selama Ramadhan masjid ini penuh oleh jamaah tarwih maupun tadarrus Qur’an. Kami biasa memanggil masjid ini dengan masjid Selwerd. Selalu saya ingat pertama kali datang ke masjid ini adalah jabat tangan erat dan senyuman khas orang Maroko, sambutan yang biasa mereka berikan sebagai tanda ukhuwah dan persaudaraan.


Masjid Al-Hikmah, Den Haag
Den Haag, kota pemerintahan, tempat sang Ratu Beatrix bermukim dan bekerja. Kota ini identik dengan masyarakat Indonesia karena mudah ditemui rumah makan, toko, maupun warga asal Indonesia. Dekat dengan pusat kota, berdiri megah masjid Al-Hikmah, masjid yang dibangun olehKBRI dan warga Indonesia. Seperti halnya masjid-masjid lain, selama Ramadhan masjid ini pun semarak dengan ibadah shalat, tadarrus, tarwih, dan buka puasa.
Amsterdam, ibu kota Belanda sekaligus ikon pariwisata. Di sana semarak Ramadhan menemukan gairahnya. Sebuah organisasi Islam masayarakat Indonesia setiap tahun melaksanakan aktifitas Ramadhan dan tarwih bersama, tidak tanggung-tanggung, mereka selalu mendatangkan imam dan penceramah dari Tanah Air. Suatu kali seorang imam yang hafidz Qur’an datang dengan bacaan yang indah menggetarkan kalbu.
Karena kagum dengan hafalan dan bacaan Qur’an sang imam asal Indonesia ini, seorang wanita Maroko meminta sang imam untuk menikahinya. Sang imam telah berkeluarga, terimakasih ia ucapkan, dengan sopan ia menolaknya. Sumbangan mengalir deras dari para jamaah untuk sang imam yang memiliki yayasan da’wah dan pendidikan di Indonesia. Satu kali terlihat pula sebuah sepeda motor langsung dihibahkan seorang jama’ah tarwih sebagai infaq bagi perjuangan sang imam di Tanah Air.

Tarawih di Al-Hikmah, Den Haag
Utrecht, kota central di tengah Belanda. Di sini ada Stichting Generasi Baru dan Yayasan Bina Dakwah. Mereka semua yayasan yang didirikan oleh masyarakat mukimin Indonesia di Utrecht. Selama Ramadhan kedua yayasan itu bekerjasama membangun semarak ibadah tarwih dan buka bersama.
 ***
Semarak Ramadhan di Belanda memang luar biasa. Para buleBelanda pun sudah maklum karena intensitas hubungan mereka dengan kaum muslim yang cukup besar. Dalam keseharian, nuansa sinis ala Geert Wilders jarang saya temui, alhamdulillah. Bagi saya sejauh ini, orang Belanda adalah keramahan dan kebebasan beragama.
Suatu pagi, seorang kolega saya di kantor, menawarkan secangkir kopi, minuman penyegar nan hangat yang sangat populer di Belanda. Dalam sehari orang Belanda bisa menghabiskan lima cangkir kopi. Saya tidak suka minum kopi, namun karena sering ditawari, akhirnya sekali-kali saya minum juga. Ini salah satu kebiasaan baik orang Belanda, setiap mereka pergi untuk ambil minum, mereka juga selalu menawarkan minuman untuk orang lain.
‘’Something to drink?’’
‘’No, thanks’’
‘’Are you fasting?, also not drinking? ‘’
Si bule Belanda ini geleng-geleng kepala, rupanya ia pikir saya puasa hanya tidak makan saja, dia sekarang sadar saya pun tidak minum. Sepanjang bulan Ramadhan itu si bule ini selalu melewatkan saya ketika ia pergi untuk minum kopi, sambil tersenyum ia bilang,
‘’Tot volgende maand’’
‘’Sampai (ketemu kopi) bulan depan’’
***
Eko Hardjanto, Eindhoven, 4 Ramadhan 1429 H
Sumber
Muallaf Centre Online --  an nnovation to the truth
http://www.mualaf.com/hikmah-dan-kajian/oase-iman/5571-puasa-di-belanda

Selasa, 16 Agustus 2011

Muslim di Strasbourg Prancis Sambut Ramadhan dengan Miliki Masjid Baru



Umat Islam di Strasbourg, Prancis bisa berbahagia karena masjid yang mereka dambakan akhirnya mulai terbuka dan bisa digunakan di awal bulan suci Ramadhan tahun ini yang jatuh pada tanggal 1 Agustus.

"Komunitas kami harus memliki ruang ibadah, sebuah simbol yang terlihat, yang memperkuat perasaan di kalangan umat Islam atas penerimaan publik," ata Aala Sayed, ketua asosiasi muslim di wilayah tersebut dan terlibat dalam pendirian masjid Strasbourg.

Masjid ini terletak di dekat Katedral Strasbourg di Sungai Ile dan dapat menampung hingga enam ribu jamaah. Perancang masjid adalah arsitek Italia terkenal Paolo Portogezi. Bahwa dia juga perancang masjid di Roma - yang mrupakan masjid terbesar di Eropa, lapor radio RFI.

Perlu dicatat bahwa desain asli masjid telah mengalami perubahan. Ketika rencana pembanguan menara masjid mendapat penentangan dari kelompok sayap kanan di kota tersebut. Namun, saat ini di Strasbourgumat Muslim berharap di masa depan mereka dapat menyelesaikan pembangunan menara masjid.

Biaya pembangunan masjid berjumlah sekitar 9 juta dolar. Seperempat dari jumlah dialokasikan oleh pemerintah kota, dan sisanya dikumpulkan oleh komunitas Muslim setempat dan bantuan dari negara-negara seperti Arab Saudi, Kuwait dan Maroko.(fq/islamnews)

Sumber
http://www.eramuslim.com/berita/dunia/muslim-di-strasbourg-prancis-sambut-ramadhan-dengan-miliki-masjid-baru.htm

Ramadhan Di Krakow-Poland (2)

Suasana berbuka puasa di ruangan muslimah
Usai bertatap muka dengan saudari muslimah lainnya, tentu yang ingin kita lakukan adalah saling mengenal lebih dekat. Itulah yang terjadi pada saya. Dan ternyata, bahasa yang paling ‘populer’ di antara kami adalah bahasa senyuman serta gerakan tangan dan mata. Sebab muslimah asal jazirah arab hanya bisa berbahasa Arab, muslimah asal India dapat berbahasa Inggris sedikit, muslimah asal kota lain di Poland pun hanya berbahasa Polish.

Sedangkan saya satu-satunya muslimah asal Indonesia dan seorang muslimah senior asal Damaskus yang sudah 25 tahun tinggal di Poland, mencoba menengahi dengan sedikit kemampuan berbahasa Inggris, secuil bahasa Arab dan secuil bahasa Polish. Pokoknya bisa juga ‘nyambung deh’, namanya juga persaudaraan dalam Islam, bagaikan tali kencang yang makin hari bisa makin terikat erat, sebab Allah ta’ala yang mengencangkan ukhuwah ini. Insya Allah…

 Roti camilan khas Turkey, dimsk oleh Abu Azzam
Biasanya kalau kita berbuka puasa di tanah air, atau ketika saya tinggal di Bangkok dan Kuala Lumpur, yang sibuk menyiapkan dan menata makanan buat hidangan berbuka adalah kaum ibu. Sedangkan para bapak menjaga anak-anak selagi ibu-ibu sibuk. Di Krakow berbeda, kaum ibu sibuk menemani anak-anak yang saling berkenalan, para bapak malah yang menyiapkan menu berbuka. Termasuk suamiku, ia yang mengadon roti dan memanggangnya sendiri.

Brothers di Krakow tampak sangat mandiri, mereka menata hidangan berbuka dengan rapi, sigap menuangkan sup-sup ke mangkok-mangkok dan diedarkan ke ruangan muslimah, lalu usai makan pun, semuanya bersih dan rapi kembali. Mereka pula yang membersihkan bekas tempat makan anak-anak dan istri. Istilahnya ketika tinggal di Krakow ini, para bapak memang lumayan banyak ‘meng-upgrade’ kemampuan diri.

Hari pertama ifthor jama’i itu adalah hari ketiga ramadhan, ketika waktu maghrib telah tiba, seorang sister menyodorkan kurma buatku. Hampir semuanya mengawali berbuka puasa dengan kurma dan air putih. Semenit usai adzan, iqomat pun terdengar, maka kami mengambil posisi bersiap sholat maghrib. Maghrib di Krakow saat itu pukul setengah sembilan malam.

Usai sholat maghrib dan sholat sunnah dua rakaat, kami pun mulai menyantap hidangan yang tadinya diserahkan oleh para bapak dari ruangan sebelah. Terkadang anak-anak mondar-mandir di ruangan para bapak dan ke ruangan para ibu. Mereka tampak ceria dan mulai akrab.

Ust. Abdul Jabbar & ustadz Hamada Farg
Di hari rabu tersebut, berkesempatan hadir pula ustadz Abdul Jabbar-Katowice dan ustadz Hamada Farg yang merupakan da’i & student dari Al-Azhar Cairo. Biasanya ada lima utusan da’i asal Mesir yang diundang ke Poland (keliling ke kota-kota di Poland) setiap bulan ramadhan.

Ketika adzan isya’, sekitar jam sebelas lewat, semuanya melaksanakan sholat isya berjama’ah dipimpin oleh Abu Azzam. Kemudian dilanjutkan dengan sholat tarawih, dipimpin oleh ustadz Hamada Farg. Setelah usai sekitar pukul setengah satu malam, ustadz Hamada Farg dan ustadz Abdul Jabbar segera kembali ke Katowice.

Setiap berbuka bersama rabu dan sabtu, saya dan anak-anak biasanya segera pulang pukul setengah sepuluh malam dengan taxy, anak-anak sudah sangat mengantuk dan lelah. Ada dua atau tiga muslimah lain yang masih tinggal di masjid, tarawih bersama, dan mereka bersama suami pulang dengan menggunakan kendaraan pribadi.

Suasana ifthar jama’i pertama kalinya di Krakow
Rata-rata brothers yang tiba di rumah (usai tarawih) pukul 1 malam, tidak tidur malam. Setiba di rumah langsung bersiap-siap sahur, sebab sekitar pukul dua lebih, dini hari, adzan subuh sudah berkumandang. Maka, usai sholat subuh, tilawah sesaat, biasanya langsung tidur sampai pukul setengah sembilan pagi. Sekitar jam sembilan atau jam sepuluh, dilanjutkan ke kantor atau kampus masing-masing. 


Demikianlah secuil info tentang kondisi ramadhan di Krakow, tempat kami tinggal saat ini, insya Allah kita sambung kembali di artikel lainnya. Lama berpuasa hampir sama dengan negara-negara berdekatan seperti UK dan Russia, sekitar delapan belas setengah jam atau sembilan belas jam-an dalam sehari, jika bulan ramadhan bertepatan dengan musim panas. Di Indonesia dan negara lain di khatulistiwa cenderung mengalami waktu puasa yang sama.
Brother Haisyam, pimpinan komunitas muslim Krakow
Mari kita gapai segala hikmah di bulan mulia ini, Allah ta’ala mengirimkan kesempatan bagi kita tatkala dapat mengecap kenikmatan ramadhan kembali, guna mempersiapkan bekal di akhirat kelak. Di saat banyaknya kesempatan meraih ‘reward-Nya’ yang berlipat ganda, di saat kita makin bahagia dengan kebersamaan berkumpul dengan saudara-saudari kita, insya Allah hari-hari ramadhan makin bermakna. Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda, "Tidak sempurna keimanan seseorang dari kalian, sebelum ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri" (HR.Bukhari)

Berbahagia menyambut ramadhan
Semoga melalui tulisan ini pula, ukhuwah islamiyah kita makin erat walaupun terpisah jarak nan jauh. Brother Abu Azzam dalam kultumnya mengatakan, “Ramadhan adalah milik kita, tergantung pribadi masing-masing yang membuatnya bermakna…”. Entah kita berada di belahan bumi manapun dan mungkin hanya memiliki saudara sesama muslim berjumlah hitungan jari tangan, tetaplah itu tidak mengurangi keberkahan bulan mulia, tak mengurangi kebahagiaan memasuki bulan perjuangan, pembinaan dan penuh pengampunan.

Azzamkan dalam hati agar senantiasa berharap menjadikan ramadhan ini sebagai ramadhan terbaik kita. Syukur kepada-Mu atas hidayah dan kekuatan untuk istiqomah dalam rambu-rambu islam, Yaa Allah.

Billahi taufiq wal hidayah, Wassalamu ‘alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

(by : bidadari_Azzam, foto-foto : dokumentasi brother Abu Azzam)
http://zamzamgouden-krakow.blogspot.com/ Krakow, Jelang malam 8 Ramadhan 1432 H

Sumber
http://www.eramuslim.com/berita/silaturrahim/ramadhan-di-krakow-poland-2.htm


Senin, 15 Agustus 2011

Ramadhan Di Krakow-Poland (1)

Menerima kunjungan Ustadz Abdul Jabbar dari Katowice
Krakow berbeda dengan kota lain di Poland, kota ini paling tua, disakralkan, dan masih banyak urusan birokrasi dan pelayanan publik yang amat sangat menggunakan aturan amat kaku. Misalnya tatkala orang asing melahirkan di Krakow, sungguh lama mendaftarkan peresmian nama sang bayi, karena ‘heboh-hebohan’ dulu dengan catatan sipil setempat (sebab pihak mereka biasanya ingin memberikan nama bayi yang baru lahir dengan nama tradisional Poland), kalau sudah di’push’ sekitar satu bulan bahkan lebih, barulah urusan birokrasi bisa diproses. Apalagi untuk urusan-urusan ibadah ummat islam, tentu tiga puluh lima tahun bukanlah waktu yang singkat (baca : Cita-Cita Mewujudkan Masjid Krakow).


 Brothers asl Mesir, Maroko & Chechnya yg tinggal di Krakow
Maka di tahun ini, Alhamdulillah, kami di Krakow dapat merasakan suasana berbuka puasa bersama, sholat wajib dan tarawih bersama, situasi yang menakjubkan dan begitu dirindukan bagi ummat Islam yang sejak lama berada di Krakow dan sekitarnya. Kami berusaha mempergunakan ruangan Islamic Centre secara optimal, yang telah secara resmi diserahkan oleh dewan kota, meskipun kondisinya masih lumayan ‘awut-awutan’.
Pertama kalinya saya memasuki ruangan masjid itu, semacam ada getaran hati yang begitu kencang, senang sekali, tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Selama ini, karena belum ada hijab pembatas dan situasi belum memungkinkan, aktivitas di masjid ‘hanya’ sholat jum’at dan sesekali brothers sholat dzuhur berjama’ah (sejak april 2011).

Ruangan utama yang sudah apik dibersihkan
Maka pada hari ketiga ramadhan 1432 H ini, para muslimah pun diundang berkumpul untuk berbuka bersama, dua ruang sudah dibersihkan oleh brothers dan sangat rapi. Usai melaksanakan sholat sunnah, Saya melihat-lihat keadaan masjid kita tersebut, ternyata ini adalah bekas apartemen tua yang sudah lama terabaikan. Ruang utama dan ruang kedua (yang disiapkan buat muslimah) sudah dipasang lampu. Jarak antar-ruang tersebut sekitar tujuh meter. Ada dua ruang kecil yang merupakan WC, dan harus diperbaiki total, tak ada pintu, saluran/pipa, serta toiletnya sudah rusak. Ada satu ruang ber-kran air yang bisa dijadikan dapur, ada jalan setapak kecil antar-ruang yang juga sudah dibersihkan.

Tahun lalu bagi keluarga kami dan tahun-tahun sebelumnya bagi muslim-muslimah lain di Krakow ini bersuasana ramadhan yang lumayan membosankan. Rata-rata setiap maghrib, isya, sholat berjama’ah dengan keluarga masing-masing saja, appartemen kita saling berjauhan, dan jadwal keseharian tak berbeda dengan hari-hari biasanya. Sekitar puluhan mahasiswa muslim yang menimba ilmu disini biasanya pulang kampung ke negara masing-masing karena dalam tiga tahun terakhir ini, ramadhan bertepatan dengan liburan panjang di musim panas. Oleh karena itu, bagi muslim-muslimah disini, “Ramadhan 1432, It’s amazing…”, berkumpul ifthar jama’i (berbuka puasa bersama), merasakan atmosfer berbeda dari tahun sebelumnya dengan suasana ukhuwah islamiyah yang kencang, meskipun ruangan Islamic Centre ini masih ‘tak secantik’ masjid-masjid sederhana di tempat lain, meskipun kami harus mengeluarkan dana lebih buat transportasi untuk berkumpul dua kali seminggu, meskipun berpuasa di musim panas ini hampir 19 jam dalam sehari, subhanalloh, sungguh atas rahmat-Nya, nurani kami amat sangat bahagia, tidak ada keluh kesah selain ingin terus mengungkapkan kesyukuran pada Allah ta’ala.

”Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang akan kamu dustakan?” (QS.Ar-Rahman [55]:13)

Beberapa hari sebelum ramadhan, secara spontan brothers mengadakan rapat ringan usai sholat dzuhur berjama’ah di akhir minggu, seraya kerja bakti lagi ‘beres-beres dan bebersih’ di ulitsza Jana Sobieskiego 10 Krakow tersebut. Saat itu, ada tamu datang dari Katowice (kota kecil sekitar 1,5 jam dari Krakow), beliau adalah ustadz Abdul Jabbar yang merupakan salah satu pimpinan ‘Muslim League’ (Liga Muslim) di Katowice.

Dalam kesempatan berkunjung ke masjid Krakow tersebut, beliau mengucapkan selamat atas hadirnya ‘base-camp’ ummat Islam di Krakow, atas telah terpasangnya aliran listrik, dan beliau memberikan semangat serta motivasi agar secara bertahap, kita bisa memperbaiki kondisi ruangan tersebut dan pelan tapi pasti, suasana di dalam Islamic Centre ini akan makin diupayakan kenyamanan dan ketenangannya sebagai tempat beribadah bagi komunitas muslimin khususnya.

Logo pada paket orderan daging ayam buat muslim Krakow
Pada hari kelima bulan mulia ini, brother Muhammad yang merupakan relawan dalam mensuplai daging halal (beliau menyiapkan waktu dan tenaga untuk menyetir ke luar kota demi mendapatkan daging ayam segar di tempat pemotongan yang sesuai syari’at, buat kami muslim di Krakow) ternyata beroleh tambahan rezeki tercukupinya orderan kami untuk memotong sapi, selama ini kalau mengonsumsi daging sapi (halal), harus beli ke Warszawa atau pesan kornet dari toko online di Jerman. Makanya jarang-jarang saja pesanannya, ongkos kirimnya lumayan mahal. Alhamdulillah, nikmat-Nya luar biasa, anak-anak kami dapat berbuka puasa dengan sedikit menu daging halalan thoyyiban.

Berharap menggapai hikmah ramadhan secara optimal, kami pun bersepakat mengadakan kegiatan berbuka bersama minimal dua kali seminggu, yaitu pada hari rabu dan sabtu. Juga setiap malam-malam ramadhan, telah dilakukan sholat isya dan tarawih (yang mana kalau selain rabu dan sabtu, hanya ada brothers saja, sebab waktu isya disini sekitar pukul 11 malam, tidak memungkinkan bagi para ibu dan anak-anak untuk tinggal di masjid hingga tengah malam). Selain itu, insya Allah pada 10 hari terakhir nanti, akan diadakan i’tikaf.

Tak lupa pula, adanya pengumpulan zakat fitrah dan zakat mal, Insya Allah semua zakat yang terkumpul tahun ini akan diserahkan kepada rakyat Somalia, tatkala mereka kini puasa tanpa sahur jua tanpa berbuka, anak-anak dan orang dewasa mengalami penderitaan amat menggoncangkan jiwa, terluka, tubuh tinggal berbalut kulit, makanan sulit didapat, keadaan negeri makin runyam dan sekarat. Yaa Allah, lindungilah saudara-saudari kami disana dengan penjagaan terbaik-Mu. Amiin Yaa Robbi.

Dari Krakow nun jauh ini, berbeda enam jam lebih lama dari waktu Indonesia bagian barat, kami menyampaikan “Ramadhan Mubarak!”, Selamat meningkatkan kualitas ibadah di bulan ramadhan untuk seluruh saudara-saudari muslim di Indonesia serta di belahan bumi lainnya, semoga Allah ta’ala melimpahkan kekuatan bagi kita agar tetap istiqomah dalam menapaki jalan perjuangan, menggapai cita-cita bahagia hingga tiba di akhirat kelak, amiin yaa Allah.

(by : bidadari_Azzam, narasumber dan foto-foto : brother Abu Azzam & Doktor Haisyam)
http://zamzamgouden-krakow.blogspot.com/ Krakow, malam 7 Ramadhan 1432 H


Sedikit Gambaran Kota Krakow


Main Market Square
Kraków (Polandia, pengucapannya: [krakuf])juga Krakow, atau Cracow (Inggris / krɑkaʊ, kræk-,-oʊ /), dalam info wikipedea adalah yang kedua terbesar dan salah satu kota tertua di Polandia. Terletak di Sungai Vistula (Polandia: Wisła) di wilayah Polandia Kecil, kota aktif kembali abad ke-7, Kraków secara tradisional menjadi salah satu pusat terkemuka kehidupan akademis, budaya, serta artistik Polandia dan merupakan salah satu penyokong yang paling penting bagi ekonomi pusat. Itu adalah ibukota Polandia di tahun 1038-1596, ibukota (Kadipaten) Agung Kraków 1846-1918, dan ibukota Kraków Voivodeship dari abad ke-14 hingga tahun 1999. Sekarang ibukota dari Provinsi Polandia Kecil (sebutannya : Małopolska/ Małopolskie).

Kota ini telah berkembang dari sebuah pemukiman Zaman Batu ke kota kedua Polandia yang paling penting. Ini dimulai sebagai sebuah desa pada Wawel Hill dan sudah dilaporkan sebagai pusat perdagangan yang sibuk ‘Slavonic Europe’ pada tahun 965. Dengan pendirian universitas-universitas baru dan tempat-tempat budaya pada munculnya Republik Polandia dan sepanjang abad ke-20, Kraków menegaskan kembali perannya sebagai pusat akademik dan artistik utama nasional. Luasnya adalah 326,8 km² sedangkan penduduknya berjumlah 757.500 jiwa, di tahun 2004.


Wawel Castle, didalamnya terdapat makam para pahlawan
Setelah invasi Polandia oleh Nazi Jerman pada awal Perang Dunia II, Kraków berubah menjadi pusat pemerintahan bagi ibukota Jerman secara umum. Penduduk Yahudi di kota itu pindah ke sebuah zona khusus (zona berdinding) yang dikenal sebagai Ghetto Kraków, yang kemudian di’kisahkan’ bahwa mereka dikirim ke camp-camp pemusnahan seperti Auschwitz dan kamp konsentrasi di PÅ‚aszów. (Jarak dari pusat kota Kraków ke Auschwitz adalah sekitar satu setengah jam)

Pada tahun 1978, Karol Wojtyla, Uskup Agung Kraków, diangkat menjadi kepausan sebagai Paus Yohanes Paulus II -Slavia paus pertama kalinya, dan Paus non-Italia pertama dalam 455 tahun. Juga pada tahun itu, UNESCO menyetujui the first sites for its World Heritage List (daftar warisan dunia), termasuk seluruh kota tua di dalam seluruh potongan bangunan bersejarah di pusat kota.

St. Peter and Paul Church
Gambar-gambar di atas adalah penulis ambil di tempat area jalan-jalan para turis di Krakow, antara lain : Main Market Square, Wawel Castle (bentuk istana, di dalamnya ada pemakaman para pahlawan Polandia serta yang terbaru adalah makam Presiden Lech Kaczynski yang meninggal pada 10 april 2010 lalu), Barbican, St. Mary's Basilica, St. Peter and Paul Church, Collegium Maius, Narodowy Teatr, dan sekitarnya. Sekitar satu jam-an dari Krakow, ada Auschwitz serta Wieliczka Salt Mine yang pernah penulis ceritakan melalui rubrik oase-iman.

Para turis yang datang ke Krakow biasanya ‘mampir’ pula ke Warszawa, dan kota lain di negara sekitarnya, misalkan ke Praha, Slowakia, dan Lithuania.

Dewasa ini telah makin banyak “misionaris” dari berbagai aliran dan jenis keagamaan, termasuk ‘diistilahkan new age’, atau ada juga ‘agama semu’ yang ternyata atheisme berkembang di berbagai belahan Eropa, termasuk di kota kecil ini. Namun efek lain dari berbagai tanya-jawab ragam agama dan rasa penasaran masyarakatnya, ujung-ujungnya mereka mencari tahu pula tentang Al-Islam, satu-satunya keselamatan dunia dan akhirat. Maka itulah, jumlah muslim/ah terus-menerus bertambah.

Narodowy Teathre, dan sekitarnya
Catatan admin:
Ini adalah catatan pertama dari dua catatan tentang  Ramadhan di Polandia. Note ini berasal dari sahabat muslimah yang tinggal di sana -- "bidadari_Azzam" -- ia kemudian mempostingnya ke eramuslim.com.

Penulis berbintang Gemini ini, amat concern pada bidang pendidikan dan keagamaan, ia juga kreatif dan gemar mencoba-coba katanya, tak heran kalau wanita yang suka Nasyid inipun menyukai bacaan-bacaan seperti Shirah Nabawiyah, Tafsir Al Qur'an, Hadits juga Komik dan Novel-novel  Serial Detective. Tentu saja sebagaimana umumnya wanita (Ibu) iapun punya hobby makan, memasak, bermain dengan anak-anak dan pastinya jg menulis,  ia menulis 'jabatannya' sebagai Spiritual Mother. Adapun yang ia gambarkan tentang dirinya sendiri --seperti yang ia tulis di Blognya-- adalah sebagaimana berikut:
By always trying to create and by making things different to others, we can always be creative. Let's develop ideas, try to make them real, improve our quality, because we are the best ummah!

Minggu, 14 Agustus 2011

Pondok Ban Tan dan Surin Pitsuwan - Thailand

Anies Baswedan
Ya Nabi salam alaika...
Ya Rasul salam alaika...
Ya habibie salam alaika...
Shalawatullah alaika...

 

Sekitar seribu anak-anak menghampar di lapang rumput depan pondok. Lautan kerudung dan peci putih, melafalkan shalawat, khusuk dan menggema.

Suasana pondok Pesantren Ban Tan malam ini terasa unik. Pondok kecil ini dibangun di pedalaman Thailand Selatan. Untuk mencapainya, kita harus terbang dari Bangkok, jaraknya sekitar 750 km ke kota kecil Nakhon Si Thammarat, lalu dari airport yang kecil itu, naik mobil kira-kira satu jam ke pedalaman.
Masuk di tengah-tengah desa-desa dan perkampungan umat Budha, di situ berdiri Pondok Ban Tan. Dibangun awal abad lalu dengan beberapa orang murid. Niatnya sederhana, menjaga aqidah umat Islam yang tersebar di kampung-kampung yang mayoritas penduduknya beragama Budha.

Melihat wajah anak-anak pondok, seperti kita sedang menatap masa depan. Anak-anak yang dititipkan orang tuanya untuk sekolah ke Pondok, untuk menjaga sejarah kehadiran Islam di kerajaan Budha ini. Di propinsi ini mereka berdampingan dengan damai. Sebuah tradisi yang harus dijaga terus.


Malam ini, setelah berliku perjalanannya, seakan jadi salah satu event puncak untuk keluarga pengasuh pondok ini.

Di awal tahun 1967 terjadi perdebatan panjang di antara para guru di Pondok ini. Anak tertua Haji Ismail, pemimpin pondok ini, jadi bahan perdebatan. Anak usia 17 tahun itu memenangkan beasiswa AFS untuk sekolah SMA setahun di Amerika Serikat.
 

Pondok Ban Tan seakan goyah. Tak terbayangkan bagi mereka, dari perkampungan Muslim yang kecil, jauh dari keramaian, dan di pedalaman Thailand di tahun 1960-an, cucu tertua pendiri Pondok akan dikirimkan ke Amerika. Umumnya santri-santri cerdas dikirim melanjutkan sekolah ke Jawa atau Kedah atau Kelantan; jika ada dana mereka akan dikirim ke Makkah atau Mesir. Tapi Amerika?
Tidak pernah terlintas di benak mereka akan mengirim santri belajar ke Amerika. Saat itu para guru di pondok terpecah pandangannya: separuh takut anak ini akan berubah bila dikirim ke negeri kufar (istilah yang digunakan dalam perdebatan itu), mereka tidak ingin kehilangan anak cerdas itu.


Setelah perdebatan panjang, Si Kakek, pendiri Pondok itu, mengatakan, “Saya sudah didik cucu saya ini, saya percaya dia istiqomah dan saya ikhlas jika dia berangkat”.
Ruang musyawarah di pondok itu jadi senyap. Tidak ada yang berani melawan fatwa Sang Guru. Haji Ismail, sang ayah, mengangguk setuju. Tidak lama kemudian berangkatlah anak muda tadi ke Amerika.


Tahun demi tahun lewat. Dan dugaan guru-guru Pondok itu terjadi: anak itu tidak pernah kembali jadi guru pondok. Dia tidak meneruskan mengelola warisan kakek dan ayahnya itu. Dia pergi jauh. Anak muda itu terlempar ke orbit lain.

Malam ini anak yang dulu diperdebatkan itu pulang. Dia pulang bukan sebagai orang asing, dia pulang membawa kebanggaan untuk seluruh keluarga, seluruh pondok dan seluruh rakyat di propinsi kecil ini.

Sekjend ASEAN Surin Pitsuwan
Dia pulang sebagai Sekretaris Jenderal ASEAN. Pondok Ban Tan jadi terkenal, kampung halaman jadi perhatian dunia. Sebelumnya dia adalah menteri luar negeri Thailand, muslim pertama yang jadi Menlu di Negara berpenduduk mayoritas Budha.


Namanya dikenal oleh dunia sebagai Surin Pitsuwan; di kampungnya dia dikenal sebagai Abdul Halim bin Ismail.
 
Malam ini Surin pulang kampung membawa teman dan koleganya. Sekarang seluruh bangunan Pondok ini nampak megah. Setiap bangunan adalah dukungan dari berbagai negara.
Anak ini pulang dengan membawa dukungan dunia untuk Pondok mungil di pedalaman ini. Semua adiknya menjadi guru, meneruskan tradisi dakwah di kampung halamannya.

Saya menyaksikan bahwa sesungguhnya, Surin selalu “hadir” di sini, dia membawa dunia. Dia menjadi jembatan lintas peradaban, dia jadi duta Muslim Thailand di dunia.


Dia tidak pernah hilang seperti ditakutkan guru-gurunya. Dia masih persis seperti kata kakeknya. Sejak pertama kali saya ngobrol dengan Surin, tiga tahun lalu di Hanoi, tutur kata dan pikirannya seakan mengatakan: isyhadu bi ana muslimin.

Ramadhan kemarin, saat kami makan malam - Ifthar bersama - di Bangkok, Surin cerita tentang ASEAN Muslim Research Organization Network (AMRON) conference di Walailak University dan ingin mengundang say ke pondoknya awal Oktober.

Saya jawab tidak bisa karena ada rencana acara di Bandung. Sesudah itu, dia kirim beberapa SMS meyakinkan bahwa ke “Ban-Tan” lebih utama daripada ke “Ban-Dung”.


Saat duduk di Masjid Al-Khalid, bersama ratusan santri, bersyukur rasanya saya mengubah jadwal, dari ke Bandung jadi berangkat ke Ban Tan. Saya sholat Isya’ berjamaah duduk di samping Surin, selesai sholat ratusan tangan mengulur, semua berebut salaman dengannya. Wajah takjub santri-santri itu tidak bisa disembunyikan, mereka semua seakan ingin bisa seperti Surin. Dia seakan jadi visualisasi nyata, dari mimpi-mimpi para santri di kampung kecil di pedalaman Thailand.


Malam itu, di pelataran Pondok Ban Tan dibuatkan panggung utk menyambut. Santri-santri bergantian naik panggung. Mereka ragakan kemahiran bercakap Melayu, Inggris, dan Arab. Sebagai puncak acara mereka tampilkan Leke Hulu (Dzikir Hulu). Tradisi tarikat yang sudah dijadikan seni panggung. Seluruh santri ikut berdzikir, gemuruhnya menggetarkan dada.

Santriwat Ponpes Ban Tan, menunggu saat buka puasa
Besok paginya Syaikhul Islam Thailand, pemimpin Muslim tertinggi di Thailand khusus datang dari Songklah, kota di sisi selatan, untuk sarapan pagi bersama di pondoknya. Kami ngobrol panjang dan saya tanya asal keturunannya, karena garis wajahnya berbeda; dia jawab kakeknya dari Sumatera, tapi dia keturunan Hadramauth.

Hari itu saya bersyukur. Saya katakan itu pada Surin bahwa ini perjalanan luar biasa. Tapi dia belum puas, Surin panggil salah satu alumni pondoknya (seorang doktor ilmu managemen) untuk antarkan saya ke Masjid di kampung-kampung pesisir pantai untuk dikenalkan dengan Ustadz keturunan Minang.


Setelah melewati kampung-kampung dan pasar yang sangat-sangat sederhana, saya sampai di rumahnya yang sangat sederhana, di belakang Madrasah yg dipimpinnya. Kami berdiskusi tentang suasana di sini, tentang Minang, dan tentang kemajuan. Lalu dia ambil bingkai-bingkai dari lemari, dia tunjukkan beberapa foto-foto orangtuanya, ayahnya dipaksa hijrah dari Maninjau di Ranah Minang karena perlawanan pada Belanda. Kira-kira 90 tahun yang lalu, dia sampai di Thailand Selatan dan jadi guru agama. Mengagumkan, anak-anak muda pemberani memang selalu jadi pilar kokohnya Dienul Islam. Mereka hadir dan hidup berdampingan penuh kedamaian.

Lengkap sudah perjalanan kali ini. Dalam satu rotasi ditemukan dengan komunitas yang kontras. Di Kuala Lumpur, berdialog dengan kalangan bisnis dan politik dalam ASEAN 100 Leadership Forum dengan suasana megah, di Thailand Selatan berdialog dengan kaum Muslim minoritas dengan suasana sederhana, sangat bersahaja.

Sekali lagi kita ditunjukkan betapa hebatnya efek pendidikan. Beri fondasi aqidah, bekali dengan modal akhlaqul karimah, lalu biarkan anak muda terbang mencari ilmu, membangun network, merajut masa depan.
Anak muda tidak takut menyongsong masa depan. Kelak ia akan pulang, menjawab doa ibunya, menjawab doa ayahnya dengan membawa ilmu, membawa manfaat bagi kampung halamannya, bagi negerinya dan bagi umatnya.

Di airport kami berpisah. Saya pulang kampung ke Jakarta dan Surin berangkat ke Brussel, memimpin delegasi para kepala pemerintahan ASEAN dalam ASEAN-European Summit.


Hari ini anak yang dulu ditakutkan hilang itu akan memimpin delegasi pemimpin se-Asia Tenggara. Dan pada hari ini juga Ibunya masih tetap tinggal di pondok Ban Tan, sekitar 90 tahun, tetap mendoakan anaknya seperti saat melepasnya berangkat sekolah SMA ke Amerika dulu.

Barakallahu lakum…

Anies Baswedan,
Just landed in Jakarta;  Oct 4, 2010; 00.30 am. (Sekadar catatan pendek, sebuah perjalanan singkat. Ditulis dalam perjalanan pulang ke Jakarta)

Sumber
http://hminews.com/news/pondok-ban-tan-catatan-dari-anies-baswedan/

 Untuk kenal lebih dekat dengan Anies Baswedan, Klik Disini










Selasa, 02 Agustus 2011

Tantangan Ramadhan Kami: Homeschooling!

(Ini adalah catatan Ramadhan terbaru "Icha" di Norwegia, sebuah note yang bernilai plus karena memaparkan upaya gigih seorang ibu dalam mendidik putranya di waktu libur. Semoga bermanfaat)

Fatih (4 tahun) yang sedang belajar di rumahnya
Ramadhan kali ini sangat menyenangkan sekaligus penuh tantangan. Menyenangkan karena aku dan Fatih mulai libur sejak awal Ramadhan. Untuk sementara aku tak perlu mondar – mandir antar jemput dia ke TK-nya, sekaligus bisa berkonsentrasi penuh pada amaliyah Ramadhan. Dia pun bisa beraktivitas di rumah dengan pengawasan sepenuhnya dariku (Ayahnya ’kan sibuk bekerja di kantor).

Tantangannya adalah ini pertama kali aku mencoba menerapkan full homeschooling alias sekolah di rumah untuk anak semata wayang kami.

Setahun belakangan aku memang sudah mulai mengajarinya dasar – dasar keagamaan, seperti beberapa surat pendek Al Qur’an, Rukun Islam, Syahadat, dan budi pekerti Islami. Maklumlah, aku tak bisa berharap banyak dari sistem pendidikan dini di negara ini. Menurutku, kalau situasi luar tidak kondusif, aku harus berusaha menciptakan situasi kondusif di rumah. Selain itu, aku berprinsip bahwa nilai – nilai keagamaan dan moral harus dimulai dari rumah, oleh orang tua.

Nah, beberapa minggu sebelum Ramadhan tiba, aku berpikir dan berdiskusi dengan suami untuk memberikan pendidikan dasar kepada Fatih, yang mencakup mengenal angka dan huruf, kemudian berhitung dan membaca, juga melanjutkan pendidikan Islam, di rumah. Dasar pemikiranku adalah, aku yakin aku mempunyai kemampuan dan semangat untuk mengajari anakku ini. Selain itu, alangkah sayangnya waktu libur si anak kalau hanya dihabiskan dengan menonton TV atau bermain yang kurang terarah.

Lebih jauh lagi, aku ”tak sabar” dengan sistem pendidikan dasar Norwegia di mana anak baru secara resmi mulai diajari mengenal angka dan huruf di sekolah dasar (saat anak berusia 6 tahun). Aku berpikir, mengapa tidak mencuri start dan mulai mengajarinya sekarang? Apalagi dari berbagi pengalaman dengan teman – teman di Indonesia dan Malaysia, rata – rata anak usia 4 tahun ke atas di sana sudah pandai membaca dan berhitung, bahkan mulai lancar mengaji!

Jadi, dengan berbekal informasi dari teman, buku dan internet, aku mulai menyusun ”kurikulum” homeschooling yang sudah kuubahsuai dengan kondisiku dan si kecil. ”Kurikulum” alias jadwal beres, bukan berarti tugas selesai. Justru di sinilah tantangan sebenarnya. Berusaha untuk konsisten dan tetap menjaga semangat belajar sesuai jadwal ternyata bukan hal yang mudah. Belum lagi menghadapi mood anak yang secara alamiah masih ingin lebih banyak bermain daripada belajar. Kesabaranku sebagai seorang ibu dan guru privat betul – betul diuji. Sang guru harus berpikir dan bekerja ekstra keras agar proses belajar mengajar ini bisa berjalan lancar tanpa membuat bosan, tapi ”target” tetap tercapai. Siapa bilang jadi guru itu mudah?

Memasuki hari kedua Ramadhan, alhamdulillah kami masih bisa konsisten pada si jadwal. Mudah – mudahan bisa begitu seterusnya hingga tiba waktu mudik ke Indonesia. Nanti di Indonesia jadwalnya lain lagi. Aku berencana tetap mengajarinya apa yang sudah kuajarkan di sini sewaktu kami berlibur nanti. Setidaknya 1 jam setiap hari dialokasikan untuk belajar. Jangan sampai sepulang liburan nanti semua pelajaran yang sudah tersimpan di otak Fatih lenyap tak berbekas karena baik murid maupun gurunya sama – sama terlena :-).

Fatih and His Viking Friend, taken at  Espira Barnehage, Haugesund
Berikut ini adalah jadwal hariannya selama Ramadhan:

Jadwal Homeschooling Ramadhan Fatih (1-16 Agustus 2011)

07.00 – 09.00: Bangun, Mandi, Sarapan
09.00 – 10.00: Belajar sepeda roda dua; ke taman kompleks
10.00 – 11.00: Belajar: Baca*; Berhitung**
11.00 – 13.00: Bebas" (main apa saja boleh, tanpa TV)
13.00 – 14.00: Makan siang
14.00 – 16.00: Tidur siang
16.00 – 17.00: Belajar: Ngaji***
17.00 – 18.00: Bebas"  (boleh nonton TV, maksimal 30 menit saja)
18.00 – 19.00: Makan malam
19.00 – 20.00: Belajar: Baca; Berhitung
20.00 – 21.00: Belajar: Ngaji
21.00 – 21.30: Nyanyi****
21.30 -          :  Tidur (disertai dongeng pengantar tidur*****)

Menurut pendapatku, 4 jam belajar dalam sehari untuk anak seusia Fatih (4 tahun) cukup masuk akal. Toh diselingi juga dengan banyak waktu untuk bermain, dan sedikit waktu untuk menonton TV (aku termasuk ibu yang berpandangan bahwa terlalu banyak TV membuat anak jadi malas. Buku jauh lebih baik). Aku mengijinkan Fatih untuk menonton TV agar bahasa Norwegia-nya tidak hilang selama liburan, karena kami di rumah 95% berbahasa Indonesia.

Mudah – mudahan sedikit pengalaman yang kubagi ini bisa diambil manfaatnya oleh teman – teman yang berminat memberi pendidikan anak usia dini di rumah. Tentu saja aku akan sangat menghargai dan berterima kasih apabila ada saran dan masukan dari pengalaman kalian semua.



Catatan:

*Baca: Fatih sudah hafal 29 alfabet Norwegia (26 alfabet latin plus huruf khas Norwegia: ø, æ, å). Sekarang dia sudah mulai belajar merangkai huruf dan membaca dengan bantuan alat peraga seperti yang tampak dalam foto di atas.

**Berhitung: aku mengajarinya berhitung dalam dengan angka – angka dalam bahasa Norwegia, sebagai persiapan untuknya memasuki masa SD tahun depan. Alhamdulillah dia sudah mulai lancar berhitung (penjumlahan dan pengurangan) sampai 20 dengan metode mencongak yang kuciptakan sendiri. Dia juga sudah bisa menyebutkan angka dari 1 – 60 dalam bahasa Norwegia.

***Yang kuajari dalam pelajaran mengaji adalah hapalan surat – surat pendek Al Qur’an, Rukun Islam, Rukun Iman, doa – doa singkat, nama – nama Nabi & Rasul serta malaikat, juga kisah – kisah para Nabi & Rasul. Kisah favoritnya adalah kisah Nabi Adam, Nabi Yunus, Nabi Musa & Nabi Daud; karena banyak tentaranya, katanya :-).
Aku juga sudah mulai mengenalkan huruf hijaiyyah padanya, meskipun belum terlalu intensif.

****Nyanyian yang kuajarkan padanya adalah lagu – lagu Indonesia, seperti Indonesia Raya, Kasih Ibu, Indonesia Pusaka, Pergi Sekolah, Bintang Kejora, dan lain – lain. Ini jadi hiburan tersendiri untuk dia dan untukku juga :-).

*****Aku terbiasa mendongeng untuknya; baik membacakan dari buku, maupun dongeng karanganku sendiri. Menurutku kebiasaan mendongeng sejak anak berusia dini sangat bagus karena bisa mengembangkan daya imajinasi dan pikirnya.

 "Pada saat "bebas" ini sang guru bisa melanjutkan kegiatan "pribadi" seperti bebersih rumah, memasak, dan tadarrus Al Qur'an.

Pelajaran moral ceritaku kali ini: Kalau ingin anak rajin belajar, orang tua juga harus mau belajar! 

Salam...

oleh Savitry 'Icha' Khairunnisa pada 02 Agustus 2011 jam 20:59
Icha, suami dan putranya Fatih
Catatan admin:

Bagi sebagian orang liburan berarti lepas dari kesibukan apalagi jika bertepatan waktunya dengan Ramadhan. Tidak demikian halnya dengan Icha, ia bekerja dan berpikir keras tuk mengisi waktu luangnya ini dengan hal-hal yang bermanfaat bagi pendidikan putra sematawayangnya tanpa mengabaikan kekhusyukan amaliyah Ramadhannya. Dengan kata lain tak ada waktu yang terbuang di Ramadhannya selain tuk ibadah-bukankah tidurnya orang berpuasa saja bernilai ibadah?

Kegigihannya dalam menanamkan nilai-nilai kedisiplinan dan benih atau dasar-dasar religius pada putranya Fatih (terinspirasi Mehmet Al Fatih, pejuang Islam dari Ottoman), patut diacungi jempol. Banyak orang yang pandai menyusun program atau jadwal kegiatan -- di bidang apapun -- tapi gagal dalam penerapannya. Karena kunci dalam mendidik adalah ushwah, contoh atau teladan. Bagaimana mungkin kita berharap anak kita akan rajin beribadah atau belajar sementara kita orang tuanya malas melakukannya. Anak adalah lembar kertas putih yang polos, maka isilah dengan dasar keimanan (pengenalan akan Tuhannya), kecintaan, ketulusan dll. baru kemudian hiasi dengan ragam keilmuan untuk bekalnya kemudian.

Semoga catatan mba' Icha diatas, dapat  memotivasi kita untuk lebih giat dalam beribadah di bulan Ramadhan ini sekaligus menjadi pelajaran bagaimana seyogyanya orang tua bersikap dalam mendidik anak-anaknya.

Demikian catatan admin untuk tulisan diatas, semoga ada yang bisa kita petik darinya. Terimakasih untuk mba' Icha yang sudah mau berbagi pengalaman dan ilmunya, semoga ini dapat menjadi catatan kebaikan untuknya. Aamiin.....

Salam dari kami disini untuk keluarga dan sahabat di Norwegia, semoga dapat menunaikan ibadah puasanya dengan baik dan selalu dalam lindungan-Nya.

NB: Untuk sahabat pengunjung/pembaca blog yang ingin mengenal lebih dekat lagi dengan penulis, silahkan klik disini.


Minggu, 31 Juli 2011

Masjid Haji Bayram Pusat Ramadhan di Turki

Deden Mauli Darajat
Mahasiswa Pascasarjana
Universitas Ankara, Turki

Di sekitar masjid digelar panggung musik yang bernapaskan Islami.

Kanan ke kiri: Tegar, Deden, Hasbi (Turki) Putri (si kecil) Desi (Istri) Fifi
Turki merupakan negara dengan mayoritas penduduknya Muslim. Meski demikian, tidak ada yang spesial dalam menyambut Ramadhan di Turki, seperti layaknya di Indonesia. Poster-poster di jalanan atau iklan-iklan untuk menyambut Ramadhan di televisi Turki jarang kami temui. Walaupun begitu, sebagian masyarakat Turki telah mempersiapkan diri untuk menyambut bulan yang mulia ini.

Seperti yang diungkapkan Ali Perdahci (22), mahasiswa Universitas Erciyes, Kayseri, Turki, bahwa ia mempersiapkan bulan Ramadhan dengan kesungguhan. Beberapa pekan sebelum Ramadhan, Ali menambah porsi membaca Alquran dan kitab-kitab Islam. Selain itu, ia juga mengurangi waktu tidur pada malam hari untuk beribadah mendekatkan diri pada Allah SWT. “Saya dan kawan-kawan berdiskusi tentang keislaman pada malam hari,” ungkap Ali.

Kanan ke Kiri: Deden, Dr. Abdul Mukti,  Dr. Jajat Burhanddin
Mahasiswa jurusan ekonomi ini menyatakan, sebelum Ramadhan tiba, banyak pengusaha atau dermawan yang menyiapkan paket sembako untuk orang-orang yang tidak mampu. Paket sembako Ramadhan itu dibagikan di supermarket. Caranya, warga yang kurang mampu dapat memperlihatkan kartu tanda penduduk kepada petugas di supermarket. “Paket itu juga diberikan kepada para mahasiswa,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan Mufid (46), seorang pengemudi taksi di Ankara. Mufid menyambut gembira datangnya bulan suci ini. Meski puasa bulan Ramadhan bertepatan dengan musim panas, ia tetap akan berpuasa. Ramadhan pada musim panas itu lebih panjang waktunya dibandingkan dengan musim dingin. Azan Subuh berkumandang pukul 04.00, sementara azan Maghrib berkumandang pada pukul 20.20 waktu setempat.

Bahkan, musim panas di Turki dapat mencapai mak si mal 45 derajat Celsius. Saat ditanya, bagaimana dengan panas yang menyengat dan waktu yang panjang, Mufid menyatakan, ia tetap kukuh akan berpuasa. “Puasa Ramadhan merupakan perintah agama yang sudah mutlak,” ungkapnya.

Turkish Kebab dan roti canai
Pengalaman saya tahun lalu, meski mayoritas warga Turki adalah Muslim, saat Ramadhan lalu, rumah makan masih banyak yang menyediakan makanan pada siang hari. Pasalnya, tidak ada larangan secara resmi untuk menutup rumah makan selama Ramadhan di Turki. Di jalan-jalan di Ankara masih bisa ditemukan orang yang makan pada bulan Ramadhan.

Meski begitu, Wali Kota Ankara Melih Gokcek sudah menyiapkan 26 titik tenda buka puasa gratis di kota ini yang diperuntukkan bagi orang-orang berpuasa. Ke-26 titik ini tersebar di penjuru Ankara, seperti Terminal Asti, Stasiun Metro, dan Genclik Park atau Taman Pemuda. Paket buka puasa itu terdiri atas empat macam makan malam. Tenda-tenda itu kini sudah mulai didirikan.


Terpusat di masjid

PM Turki Recep Tayip Erdogan
Tahun ini, Pemerintah Ibu Kota Ankara memusatkan kegiatan Ramadhan di Masjid Haji Bayram. Tahun lalu, Taman Pemuda atau Genclik Park dijadikan pusat kegiatan Ramadhan. Masjid Haji Bayram maupun Taman Genclik Park masih dalam satu wilayah, yaitu Ulus. Jarak antara keduanya hanya sekitar satu kilometer.

Masjid Haji Bayram yang didirikan pada 1427 M/831H diresmikan pembaruannya oleh Perdana Menteri Turki Recep Tayip Erdogan pada 14 Februari 2011, bertepatan dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Halaman masjid yang luas itu sudah dibangun stan-stan yang akan menjual buku-buku dan barang lainnya.

Masjid Haji Bayram, gmbr diambil thn 2006
Selain itu, di sekitar masjid juga ada didirikan panggung yang akan diisi oleh para musisi, seperti Sami Yusuf, Ahmet Ozan, serta pelantun musikmusik sufi selama 25 hari di bulan Ramadhan. Bukan hanya itu, di area pusat Ramadhan itu juga dilengkapi dengan berbagai hiburan untuk anak-anak. Sementara itu, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Ankara juga telah menyiapkan beragam acara memeriahkan Ramadhan tahun ini untuk masyarakat Indonesia yang akan dilaksanakan di wisma KBRI. Acara seperti ini merupakan program baru di KBRI Ankara.

Duta Besar Republik Indonesia untuk Turki Nahari Agustini mengatakan, setiap Sabtu, selama Ramadhan, KBRI akan mengadakan buka bersama, pengajian, dan Tarawih di wisma KBRI.ed: khoirul azwar

Sumber:
http://republika.co.id:8080/koran/0/140084/Masjid_Haji_Bayram_Pusat_Ramadhan_di_Turki
(Tulisan ini dimuat di harian REPUBLIKA  terbit Sabtu, 30 Juli 2011, hal. 15 pada rubrik Cahaya Ramadhan)

Deden Mauli Darajat
 Catatan admin tentang penulis:

Kang Deden, begitu admin menyapanya adalah seorang lajang yang santun, cerdas dan bersahaja. Santri yang pernah mondok di Gontor ini, melanjutkan studinya di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta jurusan Komunikasi Penyiaran Islam dan memilih Journalism sebagai bidang yang ditekuninya pada jenjang Pascasarjana di Ankara University, Turki. Saat ini ia tinggal di  Cebeci Erkek Yurdu, Cankaya, Ankara Turki.

Pemuda yang lahir di Rangkasbitung, Banten ini adalah seorang pekerja keras tapi tidak "ngoyo" prinsip atau mottonya adalah: "Sukses itu, manusia yang mengusahakan Tuhan yang Menyetujui.."

"Silakan di share,  tulisan  saya tentang itu baru saja diterbitkan di REPUBLIKA," jawabnya ketika dua hari yang lalu diminta  sumbangsih catatannya tentang pengalaman Ramadhannya di Turki. Dia memang pernah menjadi jurnalis di Harian Umum tersebut beberapa tahun lalu, tidak heran jika tulisan diatas terasa kental nuansa reportasenya.

Sengaja note kang Deden ini baru admin terbitkan hari ini tentunya agar tidak "berlomba" dengan Republika. Dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada penulisnya, admin sengaja menambahkan beberapa foto yang bersumber dari akun pribadinya di situs FB dan tentunya dari mbah Google juga . Hal ini tidak lain karena sejatinya Label Ramadhan di Mancanegara ini merupakan kisah pengalaman pribadi penulisnya dalam menjalankan ibadah puasa di negara yang ditempatinya.

Demikian catatan admin tentang penulis, kami disini sangat berterimakasih atas kesediaan kang Deden tuk berbagi pengalamannya dengan kami, semoga menjadi catatan kebaikan juga tuk penulisnya. Aamiin.


Catatan singkat tentang Mescit Hacii Bayram

Mesjid Haji Bayram, sebuah mesjid kuno yang dibangun pada tahun 1427 oleh seorang filsuf dan alim ulama terpandang negeri itu yang bernama Haji Bayram. Terletak di sebuah distrik tertua di Ankara yang bernama Ulus, mesjid ini didirikan untuk memenuhi kebutuhan beribadah para penduduk kota di abad ke-15. Seiring populasi bertambah, maka mesjid itu diperluas dan dekorasinya dipercantik, serta dipugar oleh cucu Haji Bayram yang bernama Mehmet Baba pada tahun 1714. Arsitektur mesjid itu yang terlihat pada masa kini adalah gaya arsitektur abad ke-17 dengan ciri khas arsitektur Ottoman setelah restorasi. Bagian dalam mesjid dilapisi gips Paris, jendela kaca berwarna buatan Cina, serta keramik. Di sayap selatan mesjid kita temukan makam Haji Bayram yang hingga kini masih diziarahi oleh penduduk setempat.