Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Oktober 2011

Beberapa puisi, Diah Maharani.

kala ibu pergi

ibu selepas pergimu
takkan kubiar pelipis ini terus menerus basah
tak kubiar tangis ini tumpah
hingga aku melemah

walau susah
tak kubiar mata ini sembab hingga aku terjerembab
tumpah dan melemah
tak daya dan tak buahkan apa-apa

ibu
tak kubiar tetes air mengalir
basahi dinding kamar
basahi selendang putihmu dalam rindu
takkan kubiarkan lemahku kotori bekas wangi sajadahmu

tak rela kunodai hijau warna kesayanganmu
warna lembut pada jilbabmu
warna ayu pada anggun langkah hidupmu

akan kubasuh dukaku kala pergimu
dengan lirih dawai tasbih yang bergetar dalam hatiku
agar terus sampai keperaduanmu
agar terus terdengar hingga di daun pintu syurga itu

kusimpan slalu rindu dalam hati
ku sirami slalu peluk cium penuh kasih
lewat iringan petuahmu
lewat belai tangan lembutmu

engkau yang teramat kusayang
terus slalu akan kualiri rasa bahagia dan banggamu
lewat untaian alfatihah
lewat sgala amal jariyah
lewat doa-doa rindu
yang akan terus kualiri
hingga mengalir tak terputus
ke pangkuanmu
ibu

_ku cipta sinar untuk hatimu yang  tenang_
(untaian sederhana untuk alm  ibu nyai dan jagoan beliau yg tersayang)

oleh Diah Maharani pada 06 Oktober 2011 jam 15:36





aku rindu ibu

ibu
dengarkah kau?
tetes air jatuh kepelimbahan
adakah kau rasa di hati?

ibu
pekik jerit tertahan
lirih dalam lara
hanya mampu kusimpan dalam-dalam
dalam diam

ibu
aku rindu pelukmu
kasihmu syahdu walau sendu

indah tuturmu dan lembut
penuh belai dan kasih yang hangat
walau engkau dalam lemah

ibuku,
atas kasih di pelupuk mata syahdumu
tak sanggup untukku perlihatkan sgala tangis
tak rela kupangkukan sgala susah di bahu ringkihmu walau kau tegar
tak mampu kutuang sakitku di telapak syurga itu

kubuang jauh sgala gundah dan sedih
lalu kukubur sgala tangis  diam-diam

_aku sayang ibu_


oleh Diah Maharani pada 01 Oktober 2011 jam 15:50







Tuhan! terangilah hati


Tuhan
kali ini aku menangis
dimanakah dapat kubuang segala kaluh dan bengis?

Tuhan
di sini aku kembali meratap
ratap hati yang tak pernah menetap
amat pilu dan pengap

Tuhan
aku luka
lagi-lagi aku rasai bara itu bakarkan raga
panas, tuhan!
panas!

kemarin kupikir inilah syurga
abdiku dalam sajadah indah
tak megah namun bahagia

tapi Tuhan,
samar
semua samar-samar terdengar
samar-samar terlihat

seperti karam yang pecah
karam yang porakporanda
karam yang diporakporanda

sekilas seolah riuh sapa kiamat
sekilas seolah malaikat ridwan yang berkunjung dari syorga
sekilas
ya, terkadang datang hanya sekilas

Tuhan
tak sanggup lagi kulanjutkan cerita
ku adukan saja semua lara dalam senyum walau paksa

terangilah hati ini, Tuhan!
dalam apapun kejadian dan kepedihan

bahagia dan sedihku
teranglah slalu dalam hati!



oleh Diah Maharani pada 01 Oktober 2011 jam 15:24




Sebongkah

ku pecah bongkahan batu hatiku
mengeras keras
tak lepas walau sekalipun bilah pisau menghunus sang hulu
berlalu pergi merpatiku
mencari makna dan arti
dari hidup dan puisi di hidupku

kemanalah akan berlari
sedang pautan hatiku berdiri kokoh di sini
di bilah bambu ia bersandar
tak peduli suka maupun pedih
ia sedih kala ku pedih
ia pedih kala ku tak mampu redakan sedih

kemanalah merpatiku
rebahlah disini
buang jauh sebongkah pedih
dua bongkah
tiga bongkah
dan bahagialah adamu
disini
slalu

**diahkembalibelajarmerabarasalewatderaiderainadadankata*

oleh Diah Maharani pada 11 Agustus 2011 jam 15:32
Tentang Diah Maharani:

Tulisan de' Diah dalam bentuk puisi, pernah di posting ke blog ini, untuk itu, bagi sahabat pengunjung blog yang ingin mengenal lebih dekat lagi dengan sosok wanita  periang ini, silahkan  Klik Disini
(keterangan lengkap tentang penulis ada disana)

Terimakasih de' Diah maharani tuk karya-karyanya, semoga bermanfaat bagi pembaca.

Rabu, 07 September 2011

☆╰♥♥●•☆Untuk Butiran Saljuku ☆╰♥♥●•☆


Bismillahirrohmannirrohim

Dear Butiran Salju,

Assalammualaikum.

Masihkah kau tegar di sana dalam penantianmu?
Atau hatimu kini mulai rapuh seiring waktu?
Letih dengan perjalanan panjang yang masih terselubung tabir?

Dear Butiran Saljuku
Kadang langkahmu mungkin terhenti.
Atau sesaat semangat menguap dari diri.
Dan hujan air mata menjadi temanmu.
Biarlah..... karna kau sedang diuji
Ditempa untuk menjadi pribadi terpuji

Usah ragu akan janji buat hamba-Nya
Jangan menjadi air jika belum waktunya.
Tetap di sana setegar karang diterpa gelombang.

Jangan pertanyakan "Mengapa harus aku?" tapi tanyakan "Sudah ridhokah Dia padaku?"
Karna apapun yang kau lakukan tanpa ridhoNya berarti sia-sia.
Usah berputus asa, karna Dia slalu punya "cara" 'tuk tunjukkan cintaNya.

Jika ingin mengadu, mengadulah padaNya.
Pinta agar dia memudahkan semua urusanmu.
Jangan memaksa! Ikuti aturanNya.
Niscaya bahagia kan menyapa.

Dear Butiran Saljuku
Jangan tergoda dengan sang Angin yang ingin membawamu sekehendaknya.
Jangan terpesona dengar sinar mentari yang membuatmu cair sebelum waktunya.
Tetaplah di sana menanti musim berganti.
Karena musim dingin tak abadi.
Mencairlah dengan izinNya, bukan dengan inginmu!
Sekelebat rasa yang disertai nafsu. Bukan ridho dariNya.

Dear Butiran Saljuku
Menangislah karenaNya
Tersenyumlah karenaNya
Berikan segenap Cinta pada makhluknya, bukan sekadar manusia
Bukankah hidupmu dikelilingi Cinta?

Masihkah rasa resah itu ada?
Singkirkanlah! Percaya akan keputusanNya
Memberilah semampumu
Tapi usah meminta selain kepadaNya.
Karna hanya Dialah Pemilik alam semesta.

Dear Butiran Saljuku
Masihkah kau ragu?
Biarkan Dia yang mengatur langkahmu
Rasakan cintaNya dalam tiap helaan nafasmu.
Meski kadang letih menerpa dan rasa sakit tak terelakkan
Itu hanya ujian di dunia, akherat masih menantimu.
Cukupkah bekalmu untuk menemuiNya?
Ridhokah Dia padamu?

Kumohonkan sebait doa agar Dia slalu menjagamu
Aku akan baik-baik saja slama kau menggunakan akal & ilmumu dengan bijak
Senandungkan syair cinta kepadaNya
Buat dirimu kembali jatuh cinta saat pertamakali kau mengenalNya
Pegang erat janjimu, karna tak ada satu hal pun yang terlewatkan olehNya.

Aku kan terus mengirimkan surat-surat Cinta, tanda kasihku padamu
Pejamkan mata maka aku akan slalu ada untukmu atas izinNya
Entah berapa banyak surat kukirim kepadamu
Yang kulakukan karna cintaku padamu, aku tak berharap kau akan membalasnya. 
Karna cukuplah jika kau tahu bahwa aku mencintaimu.



Minggu, 24 Juli 2011

Puisi-puisi Jamal Al-Haydar

~<Dibawah Gerimis Aku berdoa >~

Dimalam sepi hamba bersujud padaMU
bermunajat mengharap maghfiroh dan cintaMU
disepertiga malam ini hamba mentasbihkan cinta dibawah mighrabMU
Aku pasrahkan segala cinta dan mencinta kepada hambaMU
Ampunkan aku bila cinta ini melebihi cintaku kepadaMU
Dan bimbinglah cinta ini agar tidak kesesatan dari jalan yang Engkau ridhoi..
Ya Allah lindungi aku dan limpahkanlah dengan bekal iman agar tabahku menghadapi segala kejadian..
Malam ini ku brdoa kepadaMU
suara rintikan gerimis mengiringi
setiap untaian doa penuh pengharapan kepada cintaMU yang maha segalanya...

Bandar lampung,januari 2011

oleh Jamal Faturrahman Assyeban Al-Haydar pada 08 Januari 2011 jam 2:04


~<Puisi dalam cinta>~

Akulah cinta...
aku tercipta dari sang maha cinta lalu turun ke bumi hadir ke setiap hati yang rindu kepada pasangan jiwa
laksana adam rindukan siti hawa disurga...
Ada apa dengan cinta?

cinta ini hadir dalam setiap jiwa dan trsembunyi di relung hati yang rindukan insan yang bernama kekasih...
Ketika cinta bertasbih
mengagungkan sang pemilik cinta yang abadi mensucikan asmaNYA...

Atas nama cintaMU
ku ingin cinta yang terindah menghiasi perjalanan dakwah ini
melafazkan janji suci menjemput bidadari surga dan menjalani jejak perjuangan sang nabi mati syahid atw hidup mulia...

Ayat-ayat cinta-MU
menggetarkan kepada setiap jiwa melantunkan ayat demi ayat penuh kehadiran illahi robbi...
Dlm mighrab cinta-MU...

aku bersujud disepertiga malam menghambakan diri kepada sang penggenggam jiwa berdoa dan mencurahkan isi hati betapa cintaMU yang agung melebihi cinta-cinta yang ada di dunia ini yang dulu pernah singgah di hati...

Duhai Allah cintaMU begitu suci nan abadi kasihMU begitu indah untuk umatMU ini..
Duhai Allah cintaMU hakiki tak pernah pudar walawpun banyak yang melupakanMU
Duhai Allah munajat cintaku kepadaMU mengharap maghfiroh dan ampunan dari segala dosaku..

Sajadah cintaku hanya kepadaMU mengharap kasih suci yang abadi
sampai daku pulang nanti...

 Bandar lampung,Januari 2011

oleh Jamal Faturrahman Assyeban Al-Haydar pada 11 Januari 2011 jam 1:32

 

~<Itulah Dirimu>~

Hadirmu tanpa aku sadari
ketika dikala aku rindu seorang teman
lembut tutur bicaramu memikat hati
untuk mendekati hatimu
kesopananmu menarik hati
dan mendamaikan dihati
kesholehanmu memancarkan kecantikan sang bidadari surga..
Kepintaranmu laksana pena sang penulis yang tak pernah abis dimakan oleh waktu
itulah dirimu...

Bandar lampung,januari 2011


*Goresan Puisi teruntuk ibunda almarhumah Ustadzah Yoyoh Yusroh*


Ibunda kami,....
kau trsenyum saat syahid menjemputmu,...
itu yang selalu kau rindukan
dalam harapan dan doa kepada robb penggenggam jiwa ini,
Disela waktu saat kau berjuang dijalanNYA..Ibunda kami,...

kaulah sahabat kaulah mujahidah kami,
mungkin Allah lebih sayang kepadamu daripada kami..
Ya Allah.... pertemukanlah ia dengan ibunda khodijah dan aisyah dlm surgaMU,
dan jadikan ia bidadari penghuni surga yng trindah disisiMU,
kami bersaksi dialah mujahidahMU tentara Allah berjuang dengan tulus ikhlas krnMU..
Ibunda kami...Tersenyumlah kau disana dengan kedamaian setelah kau berjuang di dunia ini...
Selamat jalan ibunda kami,selamat beristirahat penuh dengan kebahagiaan...
Ibunda kami....Senyumanmu,tutur lembutmu selalu terukir di hati kami
,dalam sejuta kenangan dakwahmu bersama kami...

Jamal Al-Haydar,bandar lampung 2405201


oleh Jamal Faturrahman Assyeban Al-Haydar pada 25 Mei 2011 jam 0:21

Catatan admin tentang Jamal al-Haydar :

Sosok pria yang lahir tanggal 21 Maret ini memang masih lajang, tapi menilik tulisan dan pekerjaannya tentulah dia seorang yang humble dan mature. Info tentang pribadinya tak begitu banyak admin dapat selain sekolah dan pekerjaannya sekarang. Kang Jamal yang memimpin Tanzim Ukhuwah Islamiyah Indonesia sebagai direktur ini adalah lulusan SMA Persada dan Universitas Teknokrat 2002 (Itu jawabnya singkat ketika ditanya latar belakang pendidikannya).
Saking minimnya info tentang penulis admin tidak menemukan catatan dari mana ia berasal, tapi dari setiap puisi yang ditulisnya tertera "Lampung" sebagai tempat / kota dimana ia tuliskan puisi tsb, maka admin pun berkesimpulan bahwa kang Jamal ini berasal dari atau setidaknya tinggal di Lampung.
Karena data yang minim inilah admin mencoba menilainya dari tulisan-tulisannya baik yang berbentuk puisi atau catatan singkatnya. Agak terkejut ketika pertama admin membaca beberapa judul puisinya karena mirip dengan judul Novel karya Habiburrahman El Shirazy, tapi setelah melihat kontennya ternyata berbeda, admin cuma menyimpulkan bahwa kang Jamal ini mungkin sekedar mengidolakan atau terinspirasi olehnya. 
Begitulah sekilas info tentang penulis, dan alhamdulillaah hari ini dia menulis surat undangan di statusnya sbb:

sahabat2ku FB
"MOHON DOA RESTUNYA"
tgl 31 juLi aku mau nikah..
Maaf ya mendadak dan hanya bisa ngundang lwt FB
aku harap kalian semua bisa datang dan kita bisa berkumpul dihari bahagia aku ini walaupun mungkin terlalu cepat dan tanpa pemberitahuan sebelumnya
Admin juga sahabat-sahabat pembaca tentu juga mengirimkan do'anya, semoga pernikahannya yang akan diselenggarakan 1 hari menjelang Ramadhan ini berjalan dengan baik sebagaimana yang diharapkan dan untuk kedua calon mempelai pada akhirnya akan dapat membina dan mengarungi bahtera rumah tangganya dengan Sakinah, Mawaddah wa Rahmah. Aamiin....
Selamat kang Jamal, terus berkaryalah atas namaNya , agar dapat bermanfaat tuk sesama dan agama.

Minggu, 17 Juli 2011

10 APRIL 1997 - 10 APRIL 2011

Praha Republik Ceko

Kau adalah warna
Diciptakan untuk melengkapi panoramaku
Bersama kita ciptakan warna-warna lain
Berbaur, menjadi sebuah pelangi

Kau adalah karma
Jelmaan dari karma para raja
Bersama kita ciptakan karma-karma baru
Yang kelak akan melahirkan karma-karma lain

Kau adalah takdir
Yang sudah tertulis di lauful mahfudz
Kepadaku Tuhan mengirimmu
Dan hanya untukku Tuhan menciptakanmu

Kau adalah mimpi
Yang bertahun-tahun menghantui malamku
Dan pada suatu hari menjelma   rupa
Lalu merubah mimpiku menjadi kisah nyata

Kau adalah harapan
Yang mampu membangkitkan hasrat
Untuk menerima takdir
untuk menjalani karma
untuk membangun mimpi
dan untuk menciptakan pelangi

Dan pada akhirnya
kau adalah aku
aku adalah kau
melebur menjadi satu
bersama mengisi ruang dan waktu
menempati satu bilik kosong hidup kita
menghiasinya dengan pelangi, mimpi dan harapan

Dan akan terus begitu
Selamanya
Kau dan aku
Bersama dua makhluk
Hasil persemaian cinta kita


(Puisi adalah kebebasan jiwa untuk mengungkap semua yang dirasa)
Satu jam menjelang 10 April 2011, Sparrstr.2 Berlin 13353
Memperingati 14 tahun kebersamaan kita plus 4 tahun perkenalan kita

 oleh Dee Fika pada 10 April 2011 jam 4:04

Gesund Brunen Center Berlin. winter 2010
 Catatan Admin tentang Dee Fika :

Sahabat admin yang satu ini  lahir tanggal  09 juni 1971 di Jepara. Layaknya orang jepara, diapun pandai "mengukir" kata, lihat saja bait puisinya diatas yang ia persembahkan tuk Sang Arjuna (mas Syafiq Hasyim) di hari jadi pernikahannya (10 April 1997) yang ke 14 di Sparrstr.2 Berlin 13353, Jerman. 

Dari pernikahannya itu, mereka telah dikaruniai 4 orang putra (tanggung Dee... 2 lagi biar bisa bikin team Futsal, he he...).
Dee hijrah kesana sejak april 2010 dan dalam rangka menemani suami yang ambil Phd.,.dia sendiri ambil kursus bahasa jerman. Sosok yang ramah dan bersahaja ini, ternyata punya hobby menulis catatannya dalam bentuk puisi banyak admin temui di FB. Puisinya tidak terlalu berat tuk dicerna tapi dalam bermakna filosofis, lihat saja bagaimana cara Dee menuangkan sesalnya atas bunga:


Pernah suatu kali
Aku campakkan bunga pemberianmu
Tanpa sempat kucium harum aromanya
Awan kelabu menggelantung di matamu
Kau coba menahan gerimis yang hampir jatuh
Seperti surya aku berseteru dengan hujan
Tak ingin pisah pohon dari dedaunan

Aku manusia bodoh
Telah kupasung keluhuran cintamu
Kukubur bersama raga yang telah membatu
Kematian telah lama menyelubungi hidupku
Pusaraku rindu pada wewangian bungamu
Ke manakah kau bawa bunga yang dulu aku campakkan?

(Puisi adalah kebebasan jiwa untuk mengungkap semua yang dirasa)
Sparrstr.2 Berlin 13353, 21.03.11


Alhamdulillah..., ditengah kesibukan membantu suami yang tengah menyelesaikan disertasinya, Dee akhirnya bersedia juga berbagi pengalamannya pada kita tentang suka duka Ramadhan di Berlin. InsyaAllah ramadhan kali ini lebih bernuansa dan bermakna. Semoga kita tetap diberi kesehatan dan kekuatan dalam menjalaninya.

Terimakasih Dee Fika tuk kesediaan dan waktunya semoga bermanfaat tuk kita semua. Aamiin..

Rabu, 13 Juli 2011

LAFAZ CINTA 1-2

Kasih...
 
Kutulis namamu dilangit..

namun awan telah menghapus nya..
 
Kutulis namamu diembun..

namun angin telah meniupnya..
 
Kutulis namamu dipantai..

namun ombak telah menghempaskanya..
 
Kuukir namamu dibatu..

namun hujan telah mengikisnya..

Namun kini ku ukir namamu dihati ini..

agar tak satupun yg dapat menghapusnya...

Bila aku tak dapat terlihat oleh matamu..

maka lihatlah aku dalam mimpimu..
 
Bila aku tak dapat tersentuh oleh jemarimu..

maka sentuhlah aku dalam angan anganmu..
 
Bila aku tak akan dapat bertemu denganmu..

maka simpanlah aku dalam hatimu...





 Dan KuLafazkan pada Cinta..


Selamat datang cinta..

Selamat menyemai benih-benih kerinduan dan kasih sayang dalam qalbuku..
TUMBUHKAN JIWA JIWA PENGORBANAN 

untuk membahagiakan Sang Cinta..


SELIMUTI KEBEKUAN HATI 

dengan hangat dan SANTUNNYA tutur katamu..


Keteduhan senyuman dan raut wajahmu 

membuat sejuk dalam hatiku...


PUPUKLAH CINTA itu 

dengan keCintaanmu kepada-Nya Sang Kekasih abadi..


PERINDAHLAH LATAR BELAKANG KEISLAMANMU 

dengan pakaian keimanan dan ketaqwaan...


PERCANTIKLAH CINTAMU 

dengan indahnya lantunan ayat-ayat Al-Quran..


SEBARKAN BENIH BENIH KERINDUAN 

akan keindahan harumnya Syurga..


PERBANYAKLAH SUJUDMU..

untuk terkabulnya permohonan doa..


PERHARUMLAH CINTAMU 

dengan kesabaran dan keikhlasan..


Walau cinta kadang menyesakkan dada..

dan tak jarang kebencian menghalangi tumbuhnya cinta..


Jagalah cintamu..rawatlah dia..

bahagiakanlah Dia.. dan peluk eratlah Dia..
Mohonlah perlindungan-Nya..

Untuk mengharumkan CINTA..
''SELAMAT DATANG CINTA''

Oleh : Dirtha Yhm

Selasa, 12 Juli 2011

Puisi-puisi Dessy



~~* untukMU *~~

kembali.. ku jumpai MU...
di sela sunyi dlm sujudku..
kembali, ku temui MU..
Di antara dzikir dan lirih do'aku..
inilah waktu senggangMU..
detik di mana ku cumbui MU..
Masa di mana ku memuja MU,.
Mengeluh mengadu dan menghadapMU.
kembali..ku luruhkan air mataku..
menyadarkan diri atas dosaku..
dan disini di peraduanMU..
ku pasrahkan diri tuk memohon ampunanMU.
menebas sepi tuk menyandarkan diri..di dlm HARIBA MU...
YAA ROBB.. hanyalah untuk MU..
hanyalah MilikMU.. hidup Serta matiku..

oleh Dessy Susanti pada 04 Maret 2010 jam 21:44

 

* renungan jiwa..*

 

Ya Roob...
Kadang tangan ini..ta pernah jera mlakukan salah..
menggenggam sstu yg tak semestinya ku sentuh..
Yaa Roob..kadang...kaki ini bgitu tegak..mlangkah..
namun bkn ketempat dimana disana ilmu akan ku rengkuh..
namun kadang maksiat yg tertuju...
Yaa Roob...
Kadang mata ini bgitu jelas memandang..
mlihat segala sesuatu dengan amat jelas..
namun bkn utk smakin pandai mlihat ayat2Mu..
malah terpana oleh indahnya duniaMu yg semu..
Yaa Roob...
Kadang hati ini bgitu bersedih..merana tak terkendali..
namun smua bkn karna ku rindu akan kasihMu yaa Illahi..
namun lbh banyak karna insan yg kau hadirkan disisi ini...
Sungguh...begitu nyatanya aku kufur akan nikmatMu
yaa Roob..
bahkan bgitu nyata rasanya ku mengingkari sgl Anugrah yg KAU beri...
Butanya aku...hingga ta lagi mrasa takut mlihat AzabMu...
Bekunya Kalbu..yang tak lagi terenyuh dgn siksaanMu..
Yaa Roob...
Perbaikilah sgl urusanku..
Hidupkanlah jiwa dgn AsmaMu..
sungguh ku Ingin kembali..pada Ke Esa anMU yg Hakiqi... 

oleh Dessy Susanti pada 22 Juni 2011 jam 20:35

 

"Puisi Untuk Papa"

 

Papa.... Mungkin tiada mampu ku ungkapkan,tentang betapa tulusnya rasa kasih ini Untukmu... Mungkin pula tiada pernah jelas ku katakan..bhw di hatiku sll ada cinta untukmu...cinta nan suci pemberian Illahi..yg terdawam di lembah nurani yg kelabu...
Papa....
Tiada pertemuan yg ta mungkin berakhir...karna Takdir mengisyaratkan bhw yg datang pastikan pergi,..namun yakinlah papa...bhw di manapun kau berada,takan pernah sirna doa dari lisan dan jiwa untukmu... Untuk kebaikanmu..utk kebahagiaanmu,utk segenap cita2 yg ingin kau raih dalam hidupmu...krn ku yakin Alloh tau doaku,tau Tulusku,tau kesungguhanku..dan aku ta pernah Ragu..utk sll meminta padaNYA.
Papa....
Doaku di dalam langkahmu...
Kami mencintaimu... 

oleh Dessy Susanti pada 30 Desember 2010 jam 8:03

 

Kalam Pagi..

 

ku bersujud di pagi sunyi.. menyandarkan diri padaMU ROBBY.. ta ingin lidah mengeluh..krn ku malu sll mengadu. ku tengadahkan pinta padaMU ILLAHI.. bkn untk mengharap yg lebih.. tp mungkin krn ku merasa.. hanya ENGKAU tpt kembali.
seiring wkt berlalu pasti.. mengemban TAKDIR yg pnh janji, kami ta prn tau apa yg kan terjadi, dan sgl apa yg kau beri di hari ini.. namun 1 yg ku yakin.. inilah yg trbk bg kami. YA ALLOH tuntun kami, agr trus dpt memperbaiki diri. mjdi hamba yg ta luput dr kasih sayang MU, dan jua petunjukMU.. Permudahlah sgl urusan kami, jauhkanlah dr datangnya fitnah, yg ta kami siap untk memikulnya. YA ILLAHI.. Kami berserah diri..

oleh Dessy Susanti pada 18 Maret 2010 jam 8:01



* ~Jangan menangis..anakku ~*

Jika mampu..ku tahan lajunya waktu..memutar hari yg menyakitimu..pastinya kan ku halau detik itu.. detik di mana kau luruhkan air matamu..
andai dapat ku ulang menit yg berlalu..di mana kala itu ku lihat tangismu, pasti jua kan ku hentikan menit itu. agar ta ku dgr isak dr bibirmu.
duhai anakku sayang.. permata hati bunda yg rawan. senyumlah untukku pelita..agar ku kuat hadapi cobaan.. ENGKAU penawar dukaku.. ENGKAU pengobat lukaku..tiadakah kau mengerti..bhw tangismu menghancurkan duniaku.
sabarlah anakku..
tegarlah wahai tonggak kalbuku.. di sini bunda kan menjagamu, dan mendoakan tiap langkahmu..di setiap waktu.
jangan menangis..anakku.. esok kan ku ukir bahagia. direlung hatimu..
ALLOHUMMA AMIIN YAA ROBB..

oleh Dessy Susanti pada 23 Maret 2010 jam 7:55

Catatan Admin tentang Dessy Susanti :

Dessy, yang bekerja di Radio Gema Annisa sebagai Marketing A/E dan PT. Mizan Dian Semesta ini merupakan sosok wanita muslimah yang sederhana, ramah juga humoris. Dilihat dari puisinya diatas ia juga seorang yg simple- to the point senang berkarya, juga sering instrospeksi diri, lihat saja kumpulan puisinya cukup banyak tapi singkat isinya cukup bagus dan kontemplatif,  lihat juga mottonya:
"JANGAN ENGGAN UNTUK BELAJAR.. JGN MALU UNTUK BERKARYA.. TAK ADA KATA TERLAMBAT UNTUK MEMPERBAIKI DIRI DAN TAK ADA KATA NANTI UNTUK MEMULAI HIDUP YG BARU.." 
Si Neng yang tinggal di Cikarang, Bekasi ini lahir 10 Desember 1981, ia amat menyukai warna Ungu, ia juga sosok yg  religius salah satu bacaan favoritnya adalah  Kitab Bulughul Maram Min Adillatil Ahkam karya Ibnu Hajar Al 'Asqolani, (kumpulan hadits yg membahas masalah-masalah hukum yang berkenaan dengan fikh), acara TV yang ia suka selain OVJ adalah Mamah Dedeh. Admin berdo'a semoga kelak ia menjadi generasi penerusnya. Aamiin.

Senin, 04 Juli 2011

MATAHARIKU

Sejuk dan tenang kurasakan...
Saat semilir angin menghembus di antara helaian mahkotaku...
Sepi dan sunyi kurasa...
saat ku ingin mengetahui kemana arah angin berhembus...
Seperti saat kuingin mengetahui petunjuk yang diberikan oleh NYA...
Hangat sinarnya saat pertama kulihat...
sejenak kurasakan hangatnya yang membuat detakan ini selalu ingin tetap ada...
panas dan terik sinarnya...
saat ia berada tepat di atas dan jauh dariku...
Dingin dan beku kurasa saat ia tak tampak olehku...
Malam dan gulita kiranya saat ini...
Tetes air dari surga menyelimuti bumi yang kupijak ini...
Seolah menyuruhku untuk menunduk dan menyadarkanku dimana kuberada...
Tetes air surga menyelimuti bumi untuk menyadarkanku...
Betapa kuat dan kokoh tempatku berpijak...
Dingin dan beku merasuk hingga ketulangku...
Kiranya ku rindu sinar itu...
Kutengadahkan wajah ini dan kulihat ada sinar di tengah gulita itu...
Kurasa itu ia…sinarnya benderang di tengah kegelapan...
Kurasa itu ia yang menerangiku
Tidak,…tidak hangat…
tidak membuat detak ini terpacu untuk ada...
hangat,.. sangat hangat hingga kurasakan hangat itu oleh terangnya sinar di kegelapan itu...
ku lafadzkan lantunan keEsaan NYA...
kuberharap dapat melihat dan merasakan cahaya kehangatan itu...
ku nikmati waktu menunggunya…
ke ufuk timur kulihat seberkas cahaya mulai muncul...
kuhitung waktu menunggunya terlihat jelas...
ialah yang aku tunggu...
ialah yang ragaku butuh dan jiwaku inginkan...
segala darinya yang aku butuhkan...
walaupun ingin rasanya kuhindari amarahnya...
yang ia munculkan lewat terik dan panas yang juga menyengat kulit ini...
silau cahayanya semakin membuatku terkagum akan apa yang adapadanya...
semakin aku terkagum pada sang maha maestro penciptanya...
saat berada di ufuk barat...
kubertanya apa slahku hingga ia mulai meninggalkanku lagi...
hingga kegelapan datang lagi...
ku kira cahaya itu tercipta untukku...
ku kira permohonanku terkabul...
hingga akhirnya membuatku tersadar...
seperti itulah ia tercipta tampak hebat saatku dapat melihat luas...
tampak tak berguna saat aku dalam kegelapan dan kegalauan...
tak mampu aku untuk bersanding dengannya...
kilaunya begitu silau...
panasnya begitu terik...
hangatnya begitu menyebar...
sinarnya begitu terang membuatku lenyap seketika bila didekatnya...
membuat kulitku terasa terbakar bila ia tepat melihat ubun-ubunku...
membuatku mati bila ditinggalkannya...
itu bukan salahnya...
ini bukan salahku...
begini kami tercipta...
paling tidak ku bersyukur dapat mengenal nya...
petujuk yang diberikan Sang Maha dari segala Maha...
bila ia tercipta seperti itu berjalan antara timur hingga barat...
maka biarkanlah jiwaku terkubur bersama raga ini...
agar ku tak dapat melihatnya lagi...
ada ataupun tidak aku...
sedikitpun tak mempengaruhinya bergerak 86.400 detik timur menuju barat setiap tempuhnya...
Dibalik raga ini ku berdoa agar Ia mempertemukanku dengan kehangatan seperti itu lagi...
namun yang dapat berada di sisiku setiap saat...
Kelak bila aku tercipta lagi....


oleh Intan Wijayanti pada 26 September 2010 jam 13:05                                               
                                           
Catatan admin tentang Intan Wijayanti dan Puisinya:

Perkenalan dengan de' Intan ini pernah ditulis pada catatan admin sebelumnya jadi bagi yang penasaran klik aja judul tulisannya dibawah ini:
Masih ingat tulisan berjudul: Kelembutan Bernama Perempuan ?  Masih ingat catatan admin tentang penulis yang tak berfoto? Ya... inilah penulis dan fotonya.
Usaha tuk "memboyong" fotonya keblog ini tak sia-sia, setelah ucap salam tanya kabar dan utarakan maksud posting puisinya, admin pun pasang jurus memelas: "and please.... kali ini sekalian your Pic. yaa..."   Mau tahu jawabannya: "waalaikum salam.... alhamdulillah baik..... posting yang mana lagi... jamaah...oh... jamaah..... ingin tau admin merayu minta ijin share catatannya.... heheheehehehe....." , jawabnya berseloroh. "Jangan2 ini bukan foto aslinya...", kata yang lagi 'mlototin gambarnya penasaran.  "Foto terbaru 1 bulan kemarin", jawab Intan waktu admin ajukan pertanyaan yg kurang lebih sama.
Sebetulnya masih banyak "stock" catatan si mba' yg ramah ini, tapi karena postingan yg lalu berbentuk tulisan, maka kali ini sengaja diambil yg berbentuk puisi, berjudul: MATAHARIKU.

Ijinkan admin untuk sedikit berpanjang-lebar dalam berprolog sebelum mengulas "Matahariku" Intan, hal ini guna membantu membaca dan memahami alur pemikiran serta menyelami ungkapan rasa yang ia tuangkan dalam puisinya tersebut. 

"Iqra..!" setidaknya ada 3 ayat dlm Al-Qur'an yg diawali dgn kata ini.  
1. "Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu." (Al Israa':14)
2. "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan," (Al 'Alaq:1)
3. "Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,"

Banyak orang yg bisa membaca tapi tak mendapat apapun (hidayah/petunjuk) dari apa yg dibacanya, itu karena mereka hanya menerapkan semangat membacanya saja (dengan nalar) tanpa mengikut sertakan hati dan penciptanya. Pada QS-Al Israa':14 diatas misalnya ada beberapa message yg dpt kita ambil, diantaranya; Allah menyuruh kita tuk bisa 'melihat kedalam' diri agar kita lebih 'tahu diri'. Lho... kenapa?, untuk apa?

Ada ungkapan  bijaksana bahwa MAN 'ARAFA NAFSAHU FAQAD'ARAFA RABBAHU'  (Barang siapa yang tahu  dirinya maka dia akan tahu Tuhannya) Artinya, kesadaran orang akan keterbatasan dirinya adalah akibat kesadarannya akan ketidak terbatasan dan kemutlakan Tuhan. Jadi tahu diri sebagai terbatas adalah isyarat tahu tentang Tuhan sebagai Yang Tak Terbatas, yang bersifat serba Maha.

Dalam tingkah laku nyata, “tahu diri” itulah yang membuat orang juga rendah hati. Dan sikap rendah hati itu adalah permulaan adanya sikap jiwa yang suka menerima atau receptive terhadap kebenaran. Inilah pangkal iman dan jalan menuju Kebenaran.

Sekarang mari kita mencoba melihat keluar "membaca" lingkungan sekitar.
Sikap rendah hati dan tahu dirilah yang dapat dijadikan modal bagi kita untuk dapat cerdas "membaca" tanda2 kekuasaan-Nya. Sikap tersebut mendorong kita untuk bersikap terbuka dengan kata lain sikap terbuka itu sendiri adalah bagian dari sikap”tahu diri”, yaitu tahu bahwa diri sendiri mustahil mampu meliputi seluruh pengetahuan akan kebenaran. 

Hidayah memang bukan hadiah meski ia berada dimana-mana termasuk pada matahari seperti yang "didapat" oleh Intan. Hidayah harus dijemput dan dicari layaknya rizqi dan untuk itulah kita butuh sikap terbuka. Terbuka seluruh indra, hati, akal dan budi dalam membaca ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan-Nya). Hal ini ditegaskan dalam Firman-Nya:

Maka berilah kabar gembira kepada hamba-hamba-Ku. Yaitu mereka yang mendengarkan perkataan, kemudian mengikuti mana yang terbaik. Mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk oleh Alloh, dan mereka itulah orang-orang yang berakal budi ( “ulu al-albab” ) (QS. Al-Zumar/39:17-18).

Jadi dalam firman itu dijelaskan bahwa salah satu orang yang memperoleh petunjuk atau hidayah Allah ialah bahwa ia suka belajar mendengarkan perkataan ( al-qawl )- yang kata al Razi dan al-Thabari dapat meliputi sabda-sabda Nabi dan firman Ilahi , serta pendapat sesama manusia, kemudian dia berusaha memahami apa yang dia dengar itu   dan mengikuti mana yang terbaik. Disebutkan pula dalam firman itu bahwa orang-orang yang berperilaku demikian itu orang-orang yang berakal budi.

Puisi Intan diatas adalah cermin puisi bernuansa hidayah, ini pula yg pernah dilakoni kakek moyang kita Ibrahim AS, dalam "wisata spiritual"nya tatkala mencari Tuhan yang diabadikan dalam Al-Qur'an pada surat ke 6 (Al An'aam 75-79) berikut ini:

75. Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin.

76. Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku" Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam".

77. Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat".

78. Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar", maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.

79. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.

Jelaslah bahwa hanya orang-orang yang cerdas membaca ayat2-Nya dan bersikap terbukalah yg bisa mendapat hidayah-Nya.

Intan mencoba mengikuti jejak kakek moyangnya , diapun mencoba "membaca" matahari dan menelusurinya lewat goresan puisi. Namun tidak selayaknya puisi yg bermain diranah rasa bertilam hati, kali ini Intan merangkul logika tuk sisipkan bahasa jiwa sehingga memaksa pembaca tuk juga bermain diranah nalar. Lihat saja bagaimana ia mengamati perjalanan sang Matahari  dari ufuk timur ke barat dalam bilangan detik, kemudian ia sandingkan dengan fungsinya sebagai sumber energi bagi makhluk dibumi selain juga sebagai pedoman waktu tuk beribadah kepadaNya.
Sinergi akal dan budi yang ia tuangkan dalam puisi inilah yang pada akhirnya dapat meredam panasnya matahari setelah terhujam kesadaran diri demi mendapat petunjuk Ilahi. Itu sebabnya ia dapat meramu do'a disela bait-bait puisinya. Lihat juga bagaimana ia bercengkrama dengan fenomena alam lainnya yg selalu berpasangan semilir udara sejuk dengan kemarahan matahari yg terik menyengat, terangnya siang dengan gelapnya malam. 
Puisinya juga menggambarkan bahwa proses Intan dalam gapai hidayahNya memang tidak seperti kakek moyangnya Ibrahim. 
Cermati saja reaksinya ketika ternyata sang Matahari perlahan redup dan tenggelam ditelan waktu.
Ibrahim: 
Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar", maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.

Intan:
saat berada di ufuk barat...
kubertanya apa slahku hingga ia mulai meninggalkanku lagi...
hingga kegelapan datang lagi...
ku kira cahaya itu tercipta untukku...
ku kira permohonanku terkabul...
hingga akhirnya membuatku tersadar...

Sangat tak bijak memang mambandingkan Ibrahim dengan Intan, namun yg ingin admin katakan adalah begitulah hidayah didapat, selalu berproses seiring waktu maka merugilah orang yg mengacuhkannya. Tapi yang terlebih penting adalah sebagaimana Ibrahim menyadari kekeliruannya:
Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.
Intanpun mendapatkan petunjukNya:
silau cahayanya semakin membuatku terkagum akan apa yang adapadanya...
semakin aku terkagum pada sang maha maestro penciptanya...

Sepertinya, Intan mencoba mencampur semua yang ia punya, menaburkan semua yang ia bisa demi tuk 'hormati' matahari tuk kemudian diracik menjadi adonan puisi yg bukan saja mewah menggugah selera tapi juga dalam bermakna. Bermakna? ya... karena pada akhrirnya ia bukan saja mengenal penciptanya tapi juga kagum dan menghamba dihadapan-Nya.

Begitulah admin 'membaca' puisinya, bukan sekedar puisi tapi membawa misi perenungan diri akan kuasa Ilahi. Semoga hidayahNya senantiasa menyertai dan mengisi relung hati.

Terimakasih de' Intan tuk puisinya, tetap berkreasi agar Allah lebih sibuk lagi menggelontorkan pahalanya bagi orang yang mau berbagi dan mengisi untuk kemashlahatan sesama dan agama atas namaNya. Aamiin....

NB:
Mohon maaf jika ulasan admin ternyata lebih banyak dari puisinya de' Intan, tak ada maksud apapun selain niat tulus tuk saling berbagi dan mengisi. Semoga bermanfaat.

Wassalam

Minggu, 26 Juni 2011

Paket do'a di hari jadi Sang Adik

Adikku....

Bacalah dengan mata hatimu
Lihatlah kata-kata yang berjejer dihadapanmu
Mereka berdesak tuk tampil berpesona
Bersolek genit berceloteh manja
Masing-masing mencoba jelaskan makna tersirat
Meski  lewat guratan tersurat
Gaduh.... Riuh.....  Rusuh.... menerobos ruang imaji
Memecah kesunyian hati

Sssstt...., diam kataku !
Ini hari jadi adikku
Tak patut kalian beranjak  jika hanya membawa sesak
Bukankah kita bersepakat  tuk letakan bahagia
diatas hamparan harap
Mereka terdiam, tertunduk dan tersipu malu.

Entah mengapa....
Dibenakku tersimpul berjuta bayang
Dikalbuku terpintal beribu angan
Tuk kuurai menjadi butiran kata indah mengawang
Atau  kurajut menjadi pujian nan elok menawan

Hening...... tanyapun tercipta
Haruskah kupupus makna
Hari jadimu yang gempita
Hanya dengan hamburkan kata
Hilangkan do’a, acuhkan alpa, lupakan dosa?

Sejenak ku terpaku
Diam membisu
Membawa janji  diatas hari
Menghitung diri dalam sepi
Satu... sepuluh.... oooohh...... bahkan beratus
Sahabat dan kerabatmu menyajikan baki kata berbalut do’a
Ada yang berhias puji ada yang merangkai janji
Bahkan....
Ada pula yang coba rajut cinta suci dibaki saji
Yaaa.... kau memang layak mendapatkannya
Amat layak.....

Aku masih terpaku
Diam membisu
Purnama tlah beranjak bersama pekat
Baki-baki  berisi do’a, puja dan cinta
Yang baru saja ditinggal empunya bersama potongan waktu
Kini teronggok direlung hatimu penuhi dinding harimu

Tidaaak....... Jangan kau reguk itu adikku....!
Karena do’a, puja, dan cinta semata milik Sang Maha Pencipta
Biarkan mereka terbang bersama embun pagi
Agar diganti oleh-Nya dengan ceria dan bahagia
Yang kan dikirim lewat mentari
Ke khatulistiwa hati

Aku masih terpaku
Diam membisu
Tersirat keengganan dalam hati
Tuk coba memutar jalan kehidupan ini
Dengan  tak membawa baki, puji dan janji
Hanya membawa diri
Dan kesadaran akan janji Ilahi

Aku mencoba eksplolasi hati, bertanya diri
Jika aku tak punya baki...
Apa kiranya yang pantas kusaji di hari jadi.....
L i l i n k a h.....?
Ha..ha..ha..ha.... nalarku terpingkal dan berkata
Bukankah kau lupa tuk tanya dia
Berapa  l i l i n  yg harus kau bawa..?

Hatiku tersenyum kecut mengumpat sesal
sambil menghunus alasan dia bergumam:
“Aaahh.... bukankah lilin hanya memancar cahaya dusta
Takkanku biarkan adikku meniup lilin-lilinya dengan hembusan harap
Yang ia gantungkan pada redup cahaya semata.
Bukankan ia hanya boleh berharap pada Sang Pencipta Cahaya Semesta?”

Nalarku yg belum terjaga sepenuhnya pun menimpali:
“Betul.... akupun tak tega melihat pipinya yang kemerahan tambah merona
Karena hembuskan banyak harap dan titipkan asa pada fatamorgana”

Sudaaaah.........., cukup kataku...!
Kompromimu tak menjawab tanya
Apa yg aku punya....?

Bukankah segala sapa, janji dan puja tlah ku kirim untuk-Nya
Sang Maha Penpicta lewat cinta di sepertiga malam
Karena memang hanya Dia yg berhak mendapatkannya..
Dan karenanya, tak tersimpan janji, tak tersisa puja dalam genggam
Apa yang aku punya?

Tiba-tiba nuraniku menyeruak dan berkata:
“Bukankah kau membawa serombongan kata
dikemas rasa, berbingkai  asa, berukir bahagia
yang hendak kau untai dalam do’a?”
Yaa...DO’A .....
Hanya itu yang kupunya


Adikku...


Hari ini..... hari jadimu
Ijinkan ku ganggu mimpi indahmu
bukan hendak reguk bahagiamu 
dan menukarnya dengan lara
apatah lagi airmata
Tapi akupun tak ingin janjikan bahagia semu semata
Yang menghablur bersama airmata
Kebatas cakrawala asa diujung masa
Menelikung Sang Maha Pencipta

Berikan saja bening hatimu tuk kuuntai  dengan do’a
Karena ku tak sanggup bersendiri panjatkan pinta beralas dosa
Bersamamu...
Semoga do’a kita dikabulkan-Nya
Mari berserah diri dan hadapkan hati kewajah-Nya.....


Oh.. Tuhan yang Maha Rahman, Rabb yang Maha Pengampun
Hari ini kami bersimpuh persembahkan puja dan pinta
Disela himpunan dosa yang terus meraja
Hakekatnya usia kami berkurang jua
Sementara amal tak beranjak jumlahnya
Entah bekal apa yg kami bawa
Jika  ajal menjemput nyawa

Kami tahu...
Pada waktunya langit kan meminta catatan
Tentang siapa yang kami Agungkan
Tentang apa yang kami lakukan
Tentang apa yang kami amalkan
Tentang apa yang kami dustakan
Bertahun-tahun Kau pinjamkan nafas cintaMu
Hanya tuk disia dan dinista

Yaa Rabb.... Yang Maha Rahim
Kesadaran hamba akan dosa
Dan janji ampunanMu pada hamba
Telah menggugah harap memupuk asa
Tuk beringsut mendekati-Mu
Tanpa malu tanpa ragu


Yaa Rabb ... Sang Pemilik Masa
Dihari jadi adikku ini
Ijinkan kami yang terpuruk dalam rasa dosa
Tuk bersimpuh terendap lara
Memohon sedikit masa
Bukan sekedar tuk  tatap sang surya
Tapi...
Benahi hati, sesali diri dan basahi nurani  dengan tetes airmata ini
Untuk...
akui segala dusta, sadari segala alpa, pupus segala dosa dihari lalu
Agar....
Kami dapat merekonstruksi Iman dan mereproduksi Amal Shaleh  
Hingga kami tak tergolong hambaMu yang merugi di masa datang

Namun  yaa Rabb, hamba hilang jejak cinta-Mu
Maka berilah setetes cinta-Mu pada hamba
Sebagaimana cinta yg Kau berikan pd orang tua hamba
Yang tulus mencintai hamba  tanpa batas
Agar hamba dapat mencintai-Mu dengan ikhlas
Mencintai RasulMu di setiap desah nafas
Dan mencintai orang tua yang tlah membesarkan hamba tanpa  berharap balas


Yaa Rabb... Tambatan Segala Asa
Sebagaimana telah Kau sempurnakan raga
Sempurnakan jualah hati hamba
Agar tegar hindari dosa
Agar pandai syukuri karunia
Agar istiqomah dalam ibadah
Agar lurus dalam melangkah
Meniti jalanMu ...
Harapkan RidhaMu...

Yaa Rabb tautan segala harap
Jangan jadikan diri hamba sebab
Bagi kesulitan, kepedihan, kebencian dan kesedihan sesama
Jadikanlah diri ini sebab
Bagi bagi kerinduan, kedamaian, kecintaan dan kebahagian mereka
Mereka.. yang telah berbagi asa
Mereka... yang telah berpeluh raga
Mereka... yang telah berkubang rasa
Mereka... yang telah berkumur do’a
Demi diriku
Demi bahagiaku
Atas ijin dan perkenanMU

Yaa Rabb... Pemilik Samudra Cinta
Diakhir pintaku ini....
Ijinkan hamba melarung keluh dan kesah
diatas cawan cintaMu tuk arungi samudra ampunanMu
agar gapai seberkas cahayaMu guna terangi hatiku
yang pekat terhijab nafsu,  gelap terselubung rindu
bukan padaMu, bukan pula pada RasulMu
hingga kerap terombang-ambingkan ragu bahkan dihempas malu
hamba tersesat ... dalam lara  
dipantai cintaMu



Yaa Rabb Pemilik Cahaya diatas Segala Cahaya
Sebagaimana Kau terangi siang dengan mentari
Kau sinari kelamnya malam dengan purnama
Sinari juga gelap dan kelamnya hati dengan hidayahMu
Agar tertutup lembar kusam dihari lalu
Agar hamba dapat lurus meniti jalanMu
Agar tak keliru letakan cinta pada selainMU
Agar tak ada lagi duka karena selalu mengingatMu
Agar segenap bahagia hadir karena Kau selalu sertai jalanku
Aamiin......

Ingat dan yakinlah adikku....
Jika adik dapat mencerna kata dan maknai ayat-Nya
menyelaminya dengan segenap rasa didada
mengiringinya dengan sesal dan derai air mata
Hanya karna-Nya....
Hanya untuk-Nya....
Kan ringan dada terasa
Kan mudah kaki melangkah
Kan hadir bahagia yang nyata
Bukan semata maya yang dilingkup fatamorgana
Bahagia di dunia
Dan kelak diakhir masa.

Akhirnya kututup do’a dengan ucap dan harap,
Selamat tunaikan hari jadi
Semoga bahagia selalu menyertai
Semoga sukses terus  mengiringi
Semoga Allah selamanya melindungi
Semoga petunjukNya senantiasa menaungi
Semoga temukan tambatan hati yang parsahkan nurani demi cinta Ilahi
Semoga orang tua tetap kau hormati dan cintai
Semoga hanya uswah Nabi yang kau teladani
Semoga hanya jalan-Nya yang kau tapaki
....................Semoga.....................

Kakakmu