Jumat, 26 Juli 2013

-Pesona Kabar Ramadahan dari Turkey- Catatan Sang -Penakluk Sejarah- Kabar Ramadhan Edisi #8

Foto : suasana Kota Kayseri pada musim dingin,
tram way [kendaraan kota dengan sistem listrik]
 Kabar Ramadhan Edisi #8 from Turkey kali ini ditulis oleh salah satu Kontributor team yang berasal dari kota kecil yang tenang dan unik. Nuansa ramadhan yang kental. Membacanya,

haru, gembira, plus bangga menjadi bagian yang terlahir sebagai anak-anak indonesia, plus ikut rindu tanah air ‪#‎aisshh‬ dahh -Selamat Membaca temani serampung santap berbuka Puasa-


RAMADHAN DI ANADOLU-TURKI
Oleh : Dhika Suci

Ramadhan tiba.. ramadhan tiba...

Itulah kata pertama yang terucap dari mulutku saat memasuki bulan ramadhan, bulan yang dinanti oleh seluruh muslim di dunia. Walaupun ini adalah ramadhan keduaku di negara

orang, tapi tetap saja terasa berbeda. Ramadhan kali ini, aku jalankan di sebuah kota yang terletak di bagian anadolu Turki, atau kota yang berada di bagian tengah Turki. Kota itu

bernama Kayseri.

Berbeda sekali dengan Ramadhan tahun lalu di Istanbul, disini cuaca terasa lebih panas dan gersang. Bahkan pada suatu hari cuaca disini mencapai 34 derajat celcius. Namun begitu,

suasana ramadhan dapat dirasakan disini. Bila kita berjalan-jalan d pusat keramaian misalnya, jarang kita temui orang orang yang makan atau minum saat waktu berpuasa.

Menariknya, mungkin karena cuaca yang begitu panas, maka banyak sekali masyarakat terutama kaum pria yang tidur di taman-taman kota sambil menunggu waktu berbuka.

Ramadhan tahun ini tidak kujalani sendiri, semua teman putri yang berasal dari Indonesia tidak pulang ke Indonesia. Kami memang berkeinginan untuk pulang bersama tahun depan

insya Allah. Amin.

Normalnya, kami tinggal di rumah bersama teman-teman Turki lainnya. Namun, karena teman Turki kami semua pergi ke kampung halaman di kota lain, maka kami pun dipindahkan

untuk tinggal di asrama. Awalnya kami sempat takut untuk tinggal di asrama, karena untuk sahur, biasanya mereka tidak menyediakan sajian untuk santap sahur. Namun

Alhamdulillah, kami ditempatkan di asrama yang memiliki dapur sendiri di setiap ruangannya. Walhasil, kami pun menyusun menu sahur dan tentunya masakan Indonesia. Uang

untuk membeli bahan- bahan pun kami kumpulkan secara ‘patungan’. Beruntungnya, kami mempunyai teman yang jago memasak, jadilah sedikit demi sedikit rindu akan kampung

halaman terobati.

Makanan Indonesia seperti pempek, gulai ayam, sop, sambal goreng kentang, sambal terasi, es buah bahkan onde onde pun masih dapat kami cicipi. Ibadah sahalat terawih pun masih

bisa kami jalani. Uniknya umat muslim disini menganut mazhab hanafi. Akhirnya kami memutuskan untuk berjamaah tarawih sendiri di ruang asrama dengan penuh rasa syukur.

Ada satu kejadian lucu, ramadhan kali ini jatuh pada musim panas dan beberapa sekolah memiliki program summer school. Tahun lalu, summer school di kota ini berakhir sebelum

ramadhan tiba. Namun tahun ini summer school berakhir pada minggu kedua ramadhan. Sebagian anak-anak pun mengeluh dan enggan masuk sekolah pada bulan ramadhan. Tiga

hari sebelum ramadhan aku bertanya pada satu anak “Dek, kamu akan puasa di bulan ramadhan kan?” dia pun menggeleng, aku terkejut dan kembali bertanya “loh kenapa?” dia

menunjukan luka bkar kecil yang ada d lengannya “aku gak puasa kak, abis tangan aku sakit” aku terkejut dan merasa geli apa hubungannya sakit luka bakar dengan berpuasa?

Kemudian aku bertanya pada satu anak lagi dan kali ini pun dia menjawab dia tidak akan berpuasa. “aku gak akan kuat puasa kak, aku bisa pingsan, bahkan bisa mati” aku tersenyum

dan sambil menceritakan tentang anak-anak di Indonesia yang tetap berpuasa walaupun harus pergi ke sekolah. Dan ia berkata, “wah hebat ya mereka!”

Ramadhan kali ini mengandung banyak makna bagi diriku pribadi. Berpuasa di negara orang, membuat kita dapat lebih merasakan arti puasa sesungguhnya. Yaitu arti berbagi

kegembiraan kepada teman-teman lain. Dan tenteng ari kesabaran, kesabaran menahan kerinduan untuk pulang ke tanah air, serta arti sebuah persahabatan yang erat layaknya

seperti sebuah keluarga.

Tulisan disusun oleh Tim "Penakluk sejarah"
LKS Mit-ers

Tidak ada komentar:

Posting Komentar