Rabu, 17 Juli 2013

Ramadhan di Norwegia (1)

Jika Ramadhan tahun-tahun sebelumnya blog ini menyajikan catatan Ramadhan dari Mancanegara (Inggris, USA, Jerman, Turki, dll) maka ramadhan tahun ini akan memaparkan kisah, cerita, pengalaman atau suka-duka berpuasa pada musim panas di Norwegia yang akan ditulis berupa jurnal harian oleh sahabat admin  Savitry 'Icha' Khairunnisa sebagaimana yang ditegaskan penulisnya berikut ini:

"Aku akan berusaha membuat jurnal harian Ramadhan di sini setiap harinya. Jadi, buat kalian yang ingin tahu segala suka duka, sepak terjang dan kisah - kisah unik yang kami hadapi selama berpuasa super panjang di sini, pantengin terus ya...." 

* * *

Dan cerita Ramadhan di musim panas tahun ini kami buka dengan kejadian langka: terlewat sahur!
Sepanjang umur 11 tahun pernikahan kami, bahkan sepanjang ingatanku hingga ke masa kanak - kanak, hampir tak pernah aku melewatkan sahur. Bukan sekedar keutamaan sahur di bulan Ramadhan. Tapi selalu ada kekuatan dan "sesuatu" di alam bawah sadar yang membangunkanku untuk sahur, meskipun terkadang hampir di akhir waktu.

Tapi kali ini berbeda.
Alasan terkuat mengapa kali ini sang sahur kami lewatkan adalah sederhana: puncak musim panas!
Di negeri empat musim, terlebih di belahan bumi utara yang hampir mendekati kutub utara seperti negeri ini, matahari di bulan Juni, Juli dan Agustus sangat enggan beranjak turun. 
Pukul 03.40 sudah masuk waktu subuh, sementara sang mentari baru terbenam malu - malu menjelang pukul 23.00. Ya betul: sudah menjadi tradisi kami untuk terjaga hingga menjelang tengah malam demi tidak melewatkan sholat maghrib dan isya'. Dan menjelang pukul 4 dini hari, kami harus bangkit lagi demi menegakkan sang subuh. Begitu selama 3 bulan di musim semi.

Berat memang berat. Tapi beratnya terasa istimewa ketika bulan Ramadhan jatuh pada puncak musim panas seperti tahun ini (dan insya Allah tahun depan pula).
Bagi yang belum pernah menjalankannya, silakan dibayangkan: berpuasa menahan lapar, haus, amarah dan menahan segala sesuatu yang bisa membatalkan puasa selama kurang lebih 19 jam setiap hari.
Praktis waktu malam di mana kita bebas makan, minum dan lain - lain sebagainya hanya 5 jam, dan itu adalah di waktu istirahat malam!
Sungguh berat, namun sungguh nikmat!

Dan sekarang baru 4 jam lebih kami menjalani puasa perdana tahun ini. Masih kurang 15 jam lagi baru kami bisa bertemu minuman dan makanan.

Semoga Allah memberikan kekuatan kepadaku, ibu rumah tangga ini, yang ritmenya hari ini adalah mengurus si bocah yang sedang sakit (sehingga dengan berat hati tidak kami bolehkan ia berpuasa).
Semoga Allah memberikan kekuatan kepada suami tercinta yang sedang mencari nafkah di kota tetangga. Semoga ia tetap berkonsentrasi dan semangat dalam pekerjaannya.


10 Juli 2013

Bagi pembaca yang ingin mengenal lebih dekat dgn penulisnya, silahkan klik  disini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar