Jumat, 26 Juli 2013

Catatan Sang -Penakluk Sejarah- Kabar Ramadhan dari Turkey Edisi #1 Bursa

The SecReT of the Team
"PENAKLUK SEJARAH"

Alhamdulillahirabbil Ramadhan 2013 telah hadir menjumpai bumi para khalifah yang penuh berkah ini. Kali ini LKS MIT, resmi MELAUNCHING satu LAMAN KHUSUS “Peta Penakluk

Sejarah.”

Laman ini khusus di buat untuk para kontributor LKS Mit-ers "Penakluk Sejarah" Ramadhan. TIM PENAKLUK SEJARAH terdiri dari Tim Kontributor yang di pilih secara Khusus yang berasal

dari berbagai wilayah di penjuru Turki. Tulisan-tulisan dan kisah-kisah para Kontributor di tulis dan diangkat dari kisah nyata.

Tim Penakluk sejarah memiliki Tim Editor Khusus, dengan pengalaman di bidang kepenulisan yang insya Allah terpercaya. Suka, senang, gembira, canda, tawa namun juga rindu

menyelimuti para sahabat LKS MIT di Turki. Bagaimana kisah-kisah mereka?

Silakan simak kisah para penakluk sejarah modern di berbagai penjuru Bumi Turkey setiap Edisinya.
VISIT our Website : Just Fell Home

=================================


Sumber foto: Admin's Collection
-Nasi Ayam dan Tumis Kol-

‪#‎LKS‬ MIT-ers Tulisan PERDANA Kabar Ramadhan dari Turkey pekan ini, datang dari Tim Khusus LKS Mit-ers Lovers dengan nama Tim
Sang "Penakluk Sejarah"

-Bursa, do you know Bursa?
Bursa adalah kota yang terletak di barat laut turki, di asia bagian barat. Bursa, indah karena gunungnya yang menghijau. meliriknya, adalah hampar keindahan bak rona khatulistiwa.

Menatapnya seakan dirimu tengah berada di tanah air."

--Nasi Ayam dan Tumis Kol--

“Makan itu bukan masalah kenyang, tapi semanfaat apa makanan itu untuk tegakan punggungmu. Makan juga bukan persoalan banyaknya butiran nasi yang masuk ke perut, tapi ia

adalah persoalan sebanyak rasa bersyukurmu atas apa yang kamu dapatkan hari itu.”

Kalimat ini kembali terlintas di kepalaku. Sebuah kalimat sarat makna yang mengajak aku kembali ke kejadian 3 tahun lalu di salah satu kedai makanan saat berbuka puasa. Kami

sering menyebut kedai itu “Laprong” ato terkadang “BuLaprong”, plesetan dari kata “lapar” dan “Bu, Lapar” (terdengar seperti permohonan meminta makan, right?). Kedai langganan

para pejuang shubuh dari sekolahku dulu. Ia selalu tak terpisahkan dari aksi-aksi kami, termasuk aksi serangan tengah malam tiap Ramadhan. Atau terkadang aksi loncat pagar sekolah

gara-gara kami kehabisan uang untuk makan di kantin.

Ketika itu uang kami hampir habis tak tersisa, padahal waktu berbuka tinggal seperempat jam lagi. Dan kami harus berfikir cepat untuk mengisi naga-naga di perut kami yang tengah

meraung kelaparan, juga untuk sahur esok hari. Rata-rata temanku hanya memiliki sekitar 2 ribu rupiah yang menjerit-jerit dari balik saku celana hari itu, berharap segera dikeluarkan

karena tak tahan dengan sumpeknya himpitan kain bahan. Aku sendiri mungkin hanya mampu membeli air. Saku miliku sudah benar-benar mendekati ambang batas. Dalam kondisi

darurat itu terpaksa kami bentuk tim PPKI (Panitia Pengumpulan Komisi Iftar) demi menjaga kelangsungan hidup masing-masing.

Singkat cerita, aku dengan uang seadanya mendapat tugas menjadi ketua komisi pembelian air minum. Sedangkan teman-temanku yang lain, para pejuang shubuh, mencari apa

yang bisa dibeli dengan uang seadanya. Walhasil, kami hanya mendapatkan 2 bungkus nasi ukuran normal, ditambah beberapa potong tahu, juga 4 botol air minum. Dan semua

makanan ini akan kami gunakan untuk berbuka dan makan sahur hari esok hari.

Beduk maghrib berdentum nyaring. Kumandang adzan perlahan berderai merdu menyisakan jejak-jejak pelangi di angkasa. Setelah shalat, kami buka makanan yang kami beli tadi.

Kami hanya mengeluarkan 1 bungkus nasi dan 2 potong tahu, serta satu botol air. Ini menu berbuka kami berenam hari ini.
Setelah masing-masing mendapat satu teguk air untuk melepas dahaga yang menjangkit selama 13 jam, kami kemudian beralih ke makanan berat. Satu bungkus nasi yang akan

dikeroyok oleh 6 orang pemuda yang kelaparan.

Pembagian makanan pun terjadi di antara kami. Awalnya terbagi rata, namun akhirnya cekcok terjadi. Bukan saling caci atau saling rebut, tapi malah tawaran-tawaran ‘aneh’ yang

dilakukan oleh para pemuda ini, termasuk aku. Kalimat-kalimat “silahkan, ini buatmu aja. Keliatannya kamu lebih lapar,” Atau “aku belum terlalu lapar. Untukmu saja,” atau ada juga

celetukan –yang kufikir aneh– terlontar dari sahabatku, “ah buka kali ini aku gak akan makan nasi. Aku alergi nasi. Buat kamu saja,” menjadi backsound tempat makan lesehan kami,

meski akhirnya –karena perdebatan yang tak kunjung selesai– kami memakan jatah kami masing-masing.

Waktu pun berlalu. Hingga tiba waktu sahur, dan kejadian ini berulang. Sama persis, hanya jumlah air minum yang lebih banyak. 3 botol air. Jadi seorang bisa meneguk setengahnya.

Tapi tetap saja, kericuhan itu kembali terdengar. Dan sekali lagi, kejadian itu tetap terulang. Lalu salah satu temanku berkata, seperti kalimat pertama yang kutulis di awal catatanku ini.

Bahwa makan, bukanlah mengenai kenyang atau tak kenyang, melainkan seberapa banyak rasa syukur kita atas apa yang telah Allah berikan.

Kini, terhitung genap 3 tahun dari hari itu. Sahur pertamaku dihiasi dengan ujian yang serupa, namun kali ini bukan mengenai kuantitas makanan yang tersaji, namun kualitas.

Dengan teman-teman yang berbeda, suasana yang berbeda, juga relung-relung kerinduan yang terasa menguat dari hari ke-hari. Rindu akan suasana ramadhan tanah air, keluarga,

juga rindu pada para pejuang shubuh itu.

Dengan kondisi yang sama ketika uang tidak ada sama sekali, ditambah kabar terbaru tentang kelangsungan beasiswa kami yang katanya tidak akan turun selama 2 bulan kedepan

[beasiswa non pemerintah Turki]. Semoga saja itu tidak terjadi.

Kali ini aku bersyukur, ketika satu panci besar nasi ayam terhidang di hadapanku, juga tumis kol yang menggugah selera (namun jika ada tahu, tentu aku akan memilih tahu sebagai

kawan makan, hehe). Sengaja nasi itu kusebut nasi ayam, agar lebih enak didengarnya, meski rasanya jauh dari yang diharapkan.

Ya, nasi itu nasi ayam, nasi yang berbahan dari pakan ayam. “kirik pirinc” begitu tulisanya, “nasi rusak” kalau dalam bahasa kita. Kadang aku geli sendiri, ketika kami membeli beras itu

ke supermarket. Terkadang kuamati wajah pelayan kasir, dia tertawa renyah bercampur ekspresi heran. Mungkin ia berfikir, “ini ada apa? Kok bule beli nasi rusak?” atau mungkin dia

malah berfikir kalau kami tengah beternak ayam di negaranya.

Namun sekali lagi, makan itu bukan soal kenyang, tapi semanfaat apa makanan itu mampu menegakan tulang punggungmu. Juga bukan masalah jumlah makanan atau kualitas

yang tersaji, tapi tentang seberapa banyak rasa syukur yang kau panjatkan atas apa yang Allah telah berikan padamu hari ini. tapi tetap, kualitas makanan juga penting. So, cari yang

berkualitas dulu, kalo gak ada, baru boleh niru, hehe..

Uhibbukum Fillah. Aku mencintai kalian karena Allah.

Salam
‪#‎Team‬ Sang PENAKLUK SEJARAH
Muhammad Al-Fatih, Bursa.


LKS MIT-ers lovers
Note : Keindahan Mesjid Emir Sultan di Malam Hari..
Tulisan merupakan kiriman dari Tim "Penakluk sejarah"



Tidak ada komentar:

Posting Komentar