Selasa, 27 September 2011

Sayap Yang Tak Pernah Patah


Menapaki waktu, mencatat Kisah..

Berbicara tentang orang-orang patah hati. Atau kasihnya tak sampai. Atau cintanya tertolak. Seperti sayap-sayap Gibran yang patah. Atau kisah kasih Zainuddin dan Hayati yang kandas ketika kapal Vanderwicjk tenggelam. Atau cinta Qais dan Laila yang membuat mereka 'majnun' lalu mati. Atau, jangan-jangan ini juga cerita tentang cintamu sendiri, yang kandas dihempas takdir, atau layu tak berbalas.

Itu cerita cinta yang digali dari mata air, air mata. Dunia tidak merah jambu disana. Hanya ada Qais yang telah majnun dan meratap di tengah gurun kenestapaan sembari memanggil burung-burung:

O burung, adakah yang mau meminjamkan sayap
Aku ingin terbang menjemput sang kekasih hati

Kita ikut berbelasungkawa untuk mereka. Mereka orang-orang baik yang perlu dikasihani. Atau jika mereka adalah kamu sendiri, maka terimalah ucapan belasungkawaku, dan belajarlah mengasihani dirimu sendiri.

Tetapi.....

Di alam jiwa, sayap cinta itu sesungguhnya tak pernah patah. Kasih selalu sampai di sana. "Apabila ada cinta di hati yang satu, pastilah ada cinta dihati yang lain," kata Rumi, "sebab tangan yang satu takkan bisa bertepuk tanpa tangan yang lain." Mungkin Rumi bercerita tentang apa yang seharusnya. Sementara kita menyaksikan fakta lain.

Kalau cinta berawal dan berakhir pada Allah, maka cinta pada yang lain hanya upaya menunjukkan cinta pada-Nya, pengejawantahan ibadah hati yang paling hakiki: selamanya memberi yang bisa kita berikan, selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai. Dalam makna memberi itu posisi kita sangat kuat: kita tak perlu kecewa atau terhina dengan penolakan, atau lemah dan melankolik saat kasih kandas karena takdir-Nya. Sebab disini kita justru sedang melakukan sebuah "pekerjaan jiwa" yang besar dan agung: mencintai.

Ketika kasih tak sampai, atau uluran tangan cinta tertolak, yang sesungguhnya terjadi hanyalah "kesempatan memberi" yang lewat. Hanya itu. Setiap saat kesempatan semacam itu dapat terulang. Selama kita memiliki cinta, memiliki "sesuatu" yang dapat kita berikan, maka persoalan penolakan atau ketidaksampaian jadi tidak relevan. Ini hanya murni masalah waktu. Para pencinta sejati selamanya hanya bertanya: "Apakah yang akan kuberikan?" Tentang kepada "siapa" sesuatu itu diberikan, itu menjadi sekunder.

Jadi kita hanya patah atau hancur karena lemah. Kita lemah karena posisi jiwa kita salah. Seperti ini: kita mencintai seseorang, lalu kita menggantungkan harapan kebahagiaan hidup dengan hidup bersamanya! Maka ketika dia menolak untuk hidup bersama, itu lantas menjadi sumber kesengsaraan. Kita menderita bukan karena kita mencintai. Tapi karena kita menggantungkan sumber kebahagiaan kita pada kenyataan bahwa orang lain mencintai kita!

Sayyid Quthb, dalam Risalah ila Ukhti Muslimah, pun memberikan gambaran yang serupa dalam hal pemberian dan pengambilan. Beliau memetaforakannya dari keberanian dirinya untuk menghadapi kematian.

“Aku tidak lagi takut terhadap kematian,” ujarnya, “Meskipun ia datang mendadak. Aku sudah mengambil banyak dari kehidupan ini, yakni ‘sudah memberi’. Adakalanya kamu sulit membedakan antara pengambilan dan pemberian, karena keduanya memberikan pengertian dalam satu alam ruhani. Setiap kali aku memberi, setiap itu pula aku sudah mengambil. Ini bukan berarti ada seseorang yang memberikan sesuatu kepadaku, tetapi maksudku, adalah bahwa aku telah mengambil imbalan atas apa yang aku berikan, karena kepuasan dan kegembiraan yang kudapatkan dengan pemberian itu tidak kurang dari kepuasan dan kegembiraan yang mereka dapatkan.”

Maka, seandainya mencintai itu dimaknai sebagai kesempatan memberi dan diejawantahkan dalam tindakan untuk selalu memberi sesuatu, adanya kekuatan dalam hati bahwa harapan adalah sebuah kesempatan yang datang dan pergi, serta posisi jiwa yang tepat dalam memperlakukan ‘siapa’, maka tidak mungkin ada sayap yang patah.

Terlebih lagi jika sayap yang Tuan dan Nyonya miliki itu adalah sayap yang senantiasa terkepak, yang menahan laju angin dan mengangkangi samudera-samudera, yang menolak bumi dan menopang jasadnya untuk membumbung mengangkasa di langit jiwa, yang menantang matahari dan menembus awan-awan kelabu pengundang hujan badai salju. Maka, sayap itu tidak akan pernah patah, selamanya. Bahkan, ia akan mengangkat, melesat, meninggi, menembus alam ruh di langit ketujuh, dimana hanya ada bahagia dan cinta dalam mencintai.

Oleh: Anis Matta

2 komentar:

  1. sangat sangat bermanfaat terutama bwt diriku yg masih hijau akan hakekat sbh cinta sejati...

    BalasHapus
  2. Terima kasih mas Filatrio Àrt Ìllusìön, atas kunjungannya semoga bermanfaat tuk sahabat lainnya juga.

    BalasHapus