Minggu, 04 September 2011

Ber-Qiyyamul Lail di Masjid Regent PK, London


Yang Tertinggal...dan tertunda.

Jumat sore, 26 Ramadhan London diguyur hujan. Kukayuh citroen biru tuaku menuju masjid pusat di London kota.

Kemacetan Jumat sore masih bisa di tolelir, namun kusalah berhitung. Aku telat.. Untuk berbuka di masjid tidak tergapai hingga aku terpaksa berhenti di pinggir jalan untuk meneguk air putih sekadarnya, memecahkan puasaku..lalu lanjut menelusur Grosvenor Street, Hyde park dan lanjut ke Park Road dimana masjid berada.

Sambil ber-sms dan mencoba telepon para ibu-ibu yang sudah janji untuk amprokan (ketemuan), namun seperti biasa kalau sudah masuk ruangan, sang telp berada di tas...atau tertutup oleh bisingnya manusia hingga nyaris tak ada yang merespon. Ah biarlah, ku bergumam. Akhirnya aku tiba disebelah masjid kudapatkan tempat untuk parkir.

Ku berlari ke masjid, bagian wanita, di basement...yeep penuh. Full. Sholat maghrib segera kulakukan. Nampak ibu-ibu dan anak-anak tengah duduk lesehan Menikmati makan malam. Usai sholat aku mencoba mendekati meja untuk mendapatkan nasi kotak berupa nasi Biriyani gratis yang disediakan oleh masjid.

Aku mencoba antri, didepanku ada 3 orang ibu sedang dimeja cuma ada 1 kotak nasi. Mungkin jatah sudah habis, otakku mulai bertanya. Kupandang si kotak nasi ...duuh milik siapa nih nasi? Dengan sabar dan sopan kutunggu.

Dari kejauhan seorang ibu berkulit kuning bersih datang mendekat lalu menarik tanganku: ‘Come with me...’ dipapahnya aku. Ku melangkah dengan hati-hati karena dimana mana ibu-ibu sekeluaga sedang menikmati makan mereka. ‘Sit down darling..please help yourself..? ujarnya. Oh wow...Birriyani..chiken curry? Aku tidak percaya. Sungguh.

Aku masih tidak percaya ..‘Come on darling eat..dua ibu memintaku untuk memulai mengeduk nasi..’ look this is chicken curry, chapatti..burger..go on’ Kupandang wajah mereka dan aku bilang,’ Mum I have been craving (kepingin berat, kaya orang ngidam) and wanting this biriyani rice for the whole Ramadhan, this is a miracle to me..thank you’, ujarku. Aku menikmati sang nasi biriyani lengkap dengan chicken curry.

Usai makan aku pamit dan mengucap terima kasih dan aku diijinkan pergi. Mataku mulai nanar mencari ..barangkali ada wajah yang kukenal atau dua ibu untuk amprokan di diruang itu, uni Ita dan ka Fadhila..satu persatu wajah kucermati hingga habis semua sudut kucari, tak nampak..lalu ku sms dan telephone, tak menjawab.

Aku keruang atas tempat sholat wanita... betul saja ibu yang kucari ada disana, dipojokan yang rasa-rasanya mustahil untuk gabung.

Luar biasa padatnya dan terasa pengap..seakan kita kehabisan oksigen akhirnya aku memutuskan untuk balik kebawah karena disana lebih adem, luas dan bertilamkan tikar rafia.

Akhirnya kutemukan spasi disalah satu pinggiran tikar, dekat dengan meja tempat makanan. Aku merasa tenang berada disitu, sedang disebelahku ibu asal Bangladesh yang hampir tak pandai berbasa basi Inggris. Ah begini lebih baik, jai aku bisa mengurus diri saja, bungkam untuk tidak bicara.

Malam itu niatannya memang untuk kontemplasi diri, refleksi diri, berqiyyamul lail sekaligus ingin menyaksikan suasana ramadhan di masjid yang belum sempat kukunjungi selama Ramadhan ini.

Azan mulai berkumandang, kami siap untuk sholat isya dan tarawih. Uhh tiba-tiba datang dua orang sister muda yang nampak bingung mencari tempat untuk sholat. Hatiku terusik dan merasa hiba...akhirnya kutawarkan:
‘sister stand beside me and you can stand in my left hand side’ kataku pada mereka. Karena yang disebelahku kiriku tidak dapat tilam/tikar akhirnya kucarikan tissue untuk bagian sujudnya saja, sehingga ia bisa sujud sedikit nyaman. Sholatpun berlangsung dengan hidmatnya lalu disambung dengan sholat tarawaih dengan ayat-ayat yang cukup panjang. 

Usai sholat barulah kami berkenalan dan berbincang.
‘My name is Can.. tapi nyebutnya Jan, saya dari Turki’ ia memperkenalkan diri.
‘ I am Siew from Malaysia’ tak terasa, keakraban terjadi, persaudaraan muncul dihati kami, akhirnya kami membentuk kelompok. Bertiga. Sambil menawarkan makanan kecil, dan minum kami ters mengobrol. Jan doyan makan..dan Siew kalem, lembut dan malu-malu.Mereka tamnpak senang dapat tempat untuk sholat dan teman pula untuk berbincang..tak hentinya mereka mengucap terima kasih.

Sambil menunggu sholat malam atau qiyyamul lail mereka bertanya sedang apa kita disini, terus apa itu Laylatul qadar sampai kepada soal sholat malam... kami juga berbincang tentang masing-masing. Ketika kutanya tentang Siew yang rupanya baru saja masuk Islam dibulan Ramadhan ini aku sungguh tercengang.
‘Kami berteman di college, kami ini orang-orang Finance yang lagi mencari pekrjaan ‘, ujar Jan.
‘Niiih Siew selalu tanya tentang ISLAM, saya sendiri tidak punya pengetahuan agama tapi bisa saya jawab seadanya’ lanjutnya.
‘Jadiii...’ tambahnya..’Lets do fasting together, shall we?’ (Yu kita puasa bareng) saya ajak Siew untuk puasa... eeh ko dia mau? Ya sudah kami puasa bareng’, Jan bercerita.

‘ Wow...ko bisa Jan’ kataku. Siew seperti menurut saja dengan ajakan Jan. Ternyata Siew bisa melakukan puasa tanpa masalah, ini cukup fenomenal mengingat ia seorang pemula baik Islamnya apalagi untuk berpuasa yang cukup panjang. Rupanya hari pertama puasa teman2nya mentraktir dia untuk berbuka di restaurant, ‘special’ ujarnya. Dari penjelasannya Siew sudah cukup lama belajar dan membaca Islam dan rajin membaca terjemahan Al-Quran. Menurutnya begitu ia baca Al Quran saya merasa ada ketenangan.

Buatku menarik..rencana yang mau menyendiri, kontemplasi, meng-evaluasi diri..eh tiba-tiba aku disodori seseorang yang ternyata perlu bimbingan. Yang lebih menariknya lagi Siew yang nota bene belum bersyahadat secara resmi sudah bisa dan mampu berpuasa penuh, subhanallah, bahkan mereka membawa Al Quran (copy-an) dari perpustakaan. Tebal dan berat.

‘Sis .. gimana acaranya, ngapain aja kita nanti?’ mereka bertanya. Sholat malam dilakukan lewat tengah malam, akan panjang karena surat panjang dan raka’at bisa banyak hingga menjelang sahur. Mereka saling memandang.

‘Gimana? Kita pulang atau minap disini, tanya Jan. Tapi ini dah jam 11 lewat..dah gak ada tube, paling night bus’, Tanya Jan.

Aku membujuknya untuk tinggal dan ikutan sholat, kahn ini kesempatan, tahun depan belum tentu kita bisa ikutan, ‘aku meyakinkam mereka. Sambul aku menawarkan makan sahur. Akhirnya mereka mengangguk setuju. Kemudian kusebut sate ayam dan nasi serta salad dan sambel, Siew nampak exciting dan senyum sumringahnya menyungging. ‘ Ohh I miss Malay food..’

(Ceritanya cukup menarik yang perlu ditulisi tersendiri tentang kisah Siew masuk masuk Islam).

Saat kami sholat mataku sempat melihat bagaimana Siew melakukan gerakan fisik yang memang perlu di benahi dari saat kita ruku, menaruh tangan disaat kita duduk dan macam2. Siew perlu bimbingan, begitu ada kesempatan kuberi tahu cara yang benar dan tepat..iapun menerima.

Saat kami rehat kami banyak bincang dan Siew banyak bertanya tentang agama serta makna setiap gerakan fisik, atau berbagai kegiatan ritual sampai kita bicara masalah sikap Muslim yang sering ia temui tidak bersahabat, tidak memberi kesan baik bahkan jahat, menurutnya.

‘Siew jangan tengok muslimya sebagai inidvidu tapi lihat Islamnya’ begitu nasihatku. Rupanya ia punya pengalaman buruk karena perlakuan yang rasist prejudice hanya kebetulan dia ber-etnis Chinese..namun ia meng-iya-kan dan setuju dengan saranku.

Hah..lucu sekali malam itu aku ko malah jadi Daiyah. Sementara Jan sibuk mencari cemilan yang kerjanya bolak balik ke meja karena memang tak hentinya sumbangan makanan dan minuman dan buah2an mengalir terus.

Aku membawa seikat leaftlet CFC..dan dengan rasa ingin tahu mereka membaca sang leaflet ‘Ramadhan Appeal’ ‘Ko banyak sekali, mau di-apain niih? tanya Jan an Siew. Akhirnya mereka menawarkan diri ‘ sist shall we distribute these to those people..’ Yess please sweetheart ‘ Subhanallah, aku macam dikirim bala bantuan dari langit.

Siew, Nizma Agustjik dan Jan
Akhirnya mereka kembali dan berbincang lagi denga hal2 yang lainnya sambil saling tukar alamat email dan no hape lalu kami berjanji untuk jumpa kembali sambil kujanjikan untuk membimbing dia...hingga saat sahur tiba. Siew sungguh menikmati sate yang kubawa dari rumah berserta ‘devil sambal’ yang rupanya di rindukan begitu lama.

Entahlah..rencana untuk menyendiri, me-refleksi diri, berdiam diri malah aku banyak bicara dan seperti setnegah ceramah. Sulit untuk tidak berbicara dan ber-interaksi dengan manusia, da kita tidak bias membiarkan hambaNya yang tengah bingung disaat mereka membutuhkan uluran tangan kita sedang kita bisa dan mampu menolongnya.

Laylatul Qadar ? Entah berada diufuk di horizon mana..tidak kuresahkan lagi, aku cuma berharap biasnya bisa singgah direlung hatiku, berharap di hadiahi bashirah yang lebih peka atau tajam sehingga mampu membedakan antara yang haq dan bathil..komitku kepada sang pencipta dan Islam kian kokoh dan sambil berharap bisa jumpa kembali Ramadhan tahun mendatang. Amin

Aku mengucap selamat jalan dan untuk berjumpa lagi buat Jan dan Siew..lalu kubergegas menuju cetroeunku yang setia menantiku. Alhamdulilah masih utuh walau si bagasi tIdak bisa dikunci. 

Kutelusuri London dikeremangan pagi, lengang dan sunyi, subahanllah sepanjang jalan yang kujumpa adalah lampu hijau dan hijau dan hijau hingga tiba dirumah. Cuma limapuluh menit aku tiba dirumah. Maha Besar Allah dengan segala kekuasaan dan kebesaranNya.

London, 27 Ramadhan 1432.

Oleh Nizma Agustjik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar