Sabtu, 13 Agustus 2011

Kunantikan Kau di Pintu Surga

Abil : Assalamu’alaikum Nona Manis . . .
Zainab : Wa’alaikum salam Tuan Rupawan . . .
Abil : Bagaimana kabar Nona hari ini??? Oh ya sebelum Nona menjawab, dari jauh aku pandang2 Nona cantik sangat hari ini . . .


Zainab : Hmmm... ya kabarku baik2 saja sebagaimana Tuan lihat . . . tadi Tuan bilang hari ini aku cantik, jadi sebelumnya aku jelek ya
Abil : Hmm ayolah Nona Manis kau jangan manyun, tadi kan aku hanya bercanda . . . Hmm sebagai permohonan maafku, aku bawakan Nona sesuatu yang sangat Nona sukai . . .


Zainab : Oh ya??? Memang apa yang Tuan bawa???
Abil : Nona tutup mata dulu, nanti setelah barang ini di depan Nona, baru boleh buka mata, setuju???


Zainab : Hmmmmm . . . Iya baiklah aku akan tutup mata . . .
Abil : (ditaruh di tangan Zainab barang itu, dan kemudian Abil suruh Zainab cium barang itu dan menebaknya) Nah sekarang coba cium barang ini, dan tebaklah, Nona pasti tahu . . .
Zainab : (diciumnyalah barang itu dan langsung Zainab bisa menebaknya) Hmmmmm harumnya bunga ini, ini pasti bunga mawar putih, benar kan??? Aku buka mata ya Tuan sekarang???
Abil : Iya Nona buktikan sendiri donk!!!


Zainab : Tuu.. kan benar setangkai bunga mawar putih, aku tak salah kan Tuan???
Abil : Nona masih salah sedikit . . .
Zainab : Apa Tuan, aku masih salah???
Abil : Iya kan tadi Nona bilang bunga mawar putih pada waktu tutup mata, nah setelah buka mata Nona bilang setangkai bunga mawar putih . . .
Zainab : Astaghfirullah Tuan Abil handsome, ternyata kau tak berubah ya, selalu saja menggodaku . . .


Abil : Jadi aku tak boleh menggoda dan bercanda dengan istriku sendiri??? Baiklah besok2 aku akan godain istri tetangga . . .
Zainab : Hmmmmm . . . Awas ya kalau kau berani??? Eits tapi tak apa2 lah karena aku sedang sekarat dan sebentar lagi . . . (belum selesai Zainab bicara, Abil langsung memotongnya)
Abil : Sebentar lagi kau akan sembuh sayang . . .
Zainab : Iya itu kan katamu selama dua tahun pernikahan kita . .


Abil sayang dengarkan aku, apa kau tak bosan dan ingin menikah lagi dengan wanita yang sehat, yang bisa mendampingimu dalam waktu lama??? Tinggalkan saja aku, wanita yang sedang sekarat ini dan tak bisa mendampingimu dalam waktu lama . . .


Abil : Iya aku memang bosan . . . Aku bosan setiap hari kau selalu berkata itu itu saja . . . Zainab sayangku, cintaku, istriku, aku hanya mencintai satu orang wanita dan hanya ingin punya satu istri saja di dunia ini . . . Zainab hai lihatlah aku dan pandanglah mataku . . .


Zainab : Kau mau hipnotis aku ya???
Abil : Sayang, aku serius, aku tak sedang bercanda . . . Apa kau lihat bahwa mata ini tak pernah melirik ke gadis manapun kecuali dirimu seorang . . . Jika aku ingin menikah lagi dan menginginkan wanita yang tidak penyakitan untuk jadi istriku, maka aku tak kan pernah menikahi dirimu, bahkan kau juga tahu kan jika aku sudah tahu bahwa dirimu menderita penyakit kanker tulang belakang??? Tapi aku tak perdulikan itu dan tetap menikahimu . . . Karena apa??? Karena aku sangat mencintaimu, aku cinta padamu apa adanya bukan karena ada apanya Nab . . .


Aku tak perduli dengan kata orang, bahwa aku akan menderita dan menjadi perawat bagi istriku yang penyakitan, jauh sekali dari kebahagiaan dan rizky, tapi apa nyatanya . . . Aku sangat bahagia karena bisa selalu bersama setiap hari setiap detik dengan orang yang sangat aku cintai, selain itu aku juga naik pangkat dan usahaku pun berkembang pesat, jadi menikah denganmu itu merupakan anugerah terindah dalam hidupku . . . Cinta pertamaku . . . Sejak pertama aku melihatmu sampai sekarang, aku tak bisa dan tak sanggup bila tak memikirkanmu, jadi bagaimana bisa dan aku tak kan pernah sanggup bila harus berpisah denganmu . . . Karena kaulah nafas dalam kehidupanku sayang . . .


Zainab : (berlinang dan bercucuranlah air mata Zainab mendengar penjelasan Abil) Iya aku tahu dan aku percaya, aku juga sangat mencintaimu Abil, apa kau mau memelukku??? (kemudian mereka berpelukan dan sama2 menangis)
Abil : Hmmm baiklah sekarang kita tak boleh sedih, kita harus bahagia . . . So dance with me Princes Zainab???


Zainab : Its ok My Prince Abil . . . Tapi apa kau sudah pelupa ya Abil??? Jangankan berdansa, berjalan saja aku tak bisa . . . (sambil meneteskan air mata)


Abil : Aduh sayang makanya jika aku bicara, jangan kau potong dulu, maksudku itu, kau tetap di tempat tidur, dan kau cukup gerakkanlah tanganmu, sedangkan aku akan gerakkan tangan dan kakiku . . . Nah sekarang kita coba pemanasan ya . . . Kau cobalah sekarang ikuti gerakan tanganku . . . (Zainab pun mengikuti gerakan tangan Abil, hmmm mereka kompak sangat) Nah gitu sayang, sekarang aku putar dulu musiknya ya . . . (musikpun segera diputar dan berdansalah mereka berdua, lha orang2 tetangga kamar mereka malah pada datang dan melihat mereka berdansa, ups mereka semua terhanyut juga dalam musik dan kebahagiaan sepasang suami istri tadi, jadi mereka semua ikut berdansa dengan pasangan masing2, ternyata Abil dan Zainab baru sadar setelah satu jam mereka berdansa, wajah mereka pun memerah karena malu tapi juga bahagia karena bisa berbagi kebahagiaan dengan banyak orang di rumah sakit itu)


Abil : Nona manis apa kau senang ???
Zainab : Iya aku senang sangat, bisa lebih segar dari sebelumnya . . . (Zainab langsung mengulas senyum yang manis dan kelihatan lesung pipitnya yang indah sebelah kanan)


Abil : Alhamdullilah kalau gitu, nah sekarang apa kau mau ikut aku ke taman belakang rumah sakit ini??? Di sana banyak sekali mawar putih . . . Kita biarkan saja mereka menari disini . . . Dan kita pacaran di tempat lain . . .
Zainab : Pacaran suami istri model 2011??? Ayolah kalau gitu, siapa takut apalagi ada mawar putih, hehehehehe . . .


Abil : Nah sekarang naiklah ke punggungku, dan kau tak boleh menolak!!!
Zainab : Tapi Abil, lebih baik kau dorong aku pakai kursi roda, daripada kau gendong aku, malu kan dilihat banyak orang . . .


Abil : Ayolah Zainab sayang sekali ini saja kau tak protes dan menyenangkan hatiku!!! Please ya sayang . . . Zainab cantik dech . . . hehehehehe
Zainab : Hmmm kalau ada maunya baru muji . . .
Abil : Hai beneran kok, kamu kan emang cantik . . .


Zainab : Iya ya baiklah, aku menurut saja supaya kau senang, selama ini kan kau selalu menyenangkanku . . .
Abil : Nah gitu donk sayang . . . Ayo naiklah!!! (Segeralah mereka berdua pergi ke taman bunga di belakang rumah sakit itu)


Abil : Alhamdulillah sudah sampai, kita duduk di bawah pohon itu ya, supaya kamu tidak kepanasan . . . Hmmm ternyata kamu masih saja seperti 2 tahun lalu ya masih berat kapuk, hehehe


Zainab : Ye kau meledek atau ngehina nich . . .


Abil : Lho beneran kok sayang . . . Berat badanmu masih sama saat pertama kali kita menikah . . . Masih ringan karena kamu kan makannya kalau pas ingat saja, kalau tak ingat ya tak makan, hehehe


Zainab : Iya seharusnya kamu bersyukur, kamu senang kan selama 2 tahun pernikahan kita kamu tak pernah merasa lelah dan berat menggendongku . . . Benar kan sayang???


Abil : Iya sayang, tapi meski kamu gemuk juga aku tak kan pernah merasa lelah sedikitpun menggendongmu . . .
Zainab : Iya suamiku tercinta, Zainab percaya kok, hehehe Subhanallah indah sangat tempat ini banyak bunga mawar putih . . .
Abil : Oh ya Nona manis tunggu disini sebentar dan jangan kemana – mana, aku akan segera kembali . . .


Zainab : Iya kau tenang saja, aku tak kan kemana – mana, kan tak bisa jalan . . . (Setelah 15menit kembalilah Abil membawa sesuatu untuk Zainab)


Abil : Assalamu’alaikum Nona manis . . . (sambil menutup mata Zainab dari belakang)


Zainab : Wa’alaikum salam Tuan Rupawan, ah kau ini mengagetkan saja, kenapa harus ada acara menutup mataku dari belakang???


Abil : Nah sekarang buka matamu!!!
Zainab : Subhanallah mahkota terbuat dari mawar putih??? Benarkah ini untukku My Prince???


Abil : Benar sangat mahkota ini kupersembahkan secara special untuk My Princes Zainab, My Lovely Wife . . . hehehe Maka dari itulah ijinkan hamba memakaikan mahkota mawar putih ini di kepala Tuan Putri . . .


Zainab : Iya silahkan Pangeranku . . . hehehe


Abil : Subhanallah kau tambah cantik saja Tuan Putri . . . (dalam hati ia berkata “itu bisa menutupi dan menyegarkan wajahmu yang pucat”)


Zainab : Trimakasih ya Pangeranku . . . (dia langsung memeluk Abil dengan linangan air mata)
Abil : Iya sayang itu kan sudah jadi kewajibanku sebagai seorang suami kepada istrinya . . . Jadi kau tak perlu berterima kasih . . . (Mereka berdua pun bercerita bermacam – macam bahkan sampai menyanyi sampai – sampai Abil pinjam gitar untuk mengiringi istri tercintanya menyanyi) Hmmm bahagianya ya mereka . . .


Enam Bulan Kemudian . . . . . . . . . .


Pagi – pagi sekali Abil sudah menemui dokter yang biasanya memeriksa Zainab, nah apa yang mereka bicarakan ya???


Abil : Dokter kenapa sekarang saya melihat istri saya semakin parah selama enam bulan terakhir ini??? Dia tak bisa lagi bicara dan sulit sekali menggerakkan seluruh anggota badannya??? Harus selalu terbaring di tempat tidur??? Tak bisa menulis lagi, jadi jika dia ingin bicara, dia harus menunjuk satu persatu huruf dalam alphabet??? Astaghfirullah sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan istri saya Dok???


Dokter : Pak Abil saya berharap Anda bisa bersabar, dan Anda harus siapkan mental untuk menerima kejadian paling terburuk yang akan dialami istri Anda . . .


Abil : Apa maksud dokter dengan kejadian paling terburuk???


Dokter : Maaf sebelumnya Pak, kami dari segenap tim dokter di rumah sakit ini telah mempresentasikan bahwa kondisi Ibu Zainab hanyalah tinggal 30% lagi . .


Abil : Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un . . . Benarkah itu dokter??? Tapi saya tak percaya itu karena kalian semua itu bukan Allah yang bisa menentukan umur manusia


Dokter : Itu memang benar Pak, tapi itulah menurut hitungan medis, tetapi kami berharap akan ada keajaiban yang terjadi untuk istri Anda, karena terus terang saja Pak, selama ini tak pernah ada yang selamat dari kanker tulang belakang bila fasenya sudah mencapai seperti yang Ibu Zainab alami . .


Abil : (bagai tersambar petir dirinya mendengarkan penjelasan dokter, air matanya pun langsung berderai, hampir saja dia pingsan, tapi masih kuat untuk bicara) Trimakasih atas penjelasannya dok, tapi saya ada satu permintaan, saya mohon agar istri saya tidak tahu tentang kondisi dia yang sebenarnya .


Dokter : Bapak tenang saja, kami tak akan beritahu apapun kepada Bu Zainab, hmmm beliau beruntung sekali punya suami seperti Anda Pak . . . Yang sabar dan banyak berdo’a semoga ada keajaiban ya Pak . . . Baiklah sekiranya sudah cukup apa yang saya sampaikan, saya harus memeriksa pasien lainnya . . .


Abil : Oh iya trimakasih ya dok . . . (diapun mampir sebentar ke taman bunga belakang rumah sakit, diapun terperanjat ketika melihat semua bunga mawar putih disana layu, tiada satupun yang mekar, mungkin ini menandakan bahwa mereka merasakan juga derita yang dialami Zainab) Inna lillahi wa inna illaihi raaji’un, kenapa semuanya layu, pertanda apa ini, Ya Allah semoga ini bukan pertanda buruk untuk istri hamba . . . (sambil berlinang air matanya) Abil pun tak kuasa lagi melihat bunga – bunga yang layu itu, hatinya tambah hancur, air matanya pun semakin berderai . . .


Kemudian dia ke masjid ambil air wudlu dan sholat dzuhur karena kebetulan sudah memasuki waktu dzuhur, tak lupa ia pun bermunajat kepada Allah untuk kesembuhan istrinya, beginilah munajatnya : Ya Allah hamba tahu Engkaulah Penentu Umur Manusia dan Maha Mengetahui ajal seseorang . . .
Hamba yang tak berdaya ini memohon kepadamu untuk memberikan kesempatan bagi istri hamba untuk hidup sedikit lebih lama di dunia ini . . .
Jika Engkau berkenan, hamba rela menyerahkan sisa umur hamba kepada istri hamba . . .
Setidaknya istri hamba tidak mendahului hamba untuk Kau panggil Ya Allah . . .
Tapi jika memang istri hamba lebih dulu Engkau panggil, ringankanlah kepergiannya dan ampunilah dosa – dosanya Ya Allah karena selama ini dia sudah berjuang keras melawan penyakitnya . . . Hamba serahkan semuanya kepadaMu Ya Rabb, karena hamba yakin dan percaya Engkau Maha Mengetahui yang terbaik untuk hambaMU . . .
Amin Ya Robbal alamin . . . (selama berdo’a air matanya tak henti – hentinya berderai, tapi kemudian dia menenangkan hatinya dan mencuci muka agar nanti istrinya tidak tahu jika dia selesai menangis) Sampailah Abil di kamar istrinya dirawat . Ternyata istrinya tertidur . . .


Dua hari kemudian . . . . . . . . .


Pagi itu awal bulan Juni 2011 langit begitu mendung menyelimuti sebuah rumah sakit dan semua bunga mawar putih yang ada di taman belakang rumah sakit itu tiba – tiba semuanya mati . . .


Abil : Inna lillahi wa inna illaihi raaji’un pertanda apa ini Ya Allah pertanda apa ini, jangan – jangan . . . Astaghfirullah Zainab, Zainab istriku . . . (diapun berlari kencang ke kamar istrinya sambil memanggil – manggil Zainab seperti orang gila)


Abil : Assalamu’alaikum sayang . . .


Zainab : (Wa’alaikumsalam dijawab di dalam hati karena Zainab tak bisa berbicara dan sulit menggerakkan tangannya untuk menulis, maka diapun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, Abil pun mengerti isyarat dari istrinya)


Abil : Kau baik – baik saja kan sayang??? Tapi kenapa kau pucat sekali Zainab???


Zainab : (diapun menjawab dengan menggunakan papan alphabet dan menunjuk satu persatu huruf, Abil pun mengambil catatan untuk merangkai kata2 istrinya dan apabila dirangkai beginilah isinya) Aku cinta sangat padamu . . . Sekarang kau ambillah diaryku di laci itu, bacalah 2 lembar halaman terakhir diary itu, aku sudah tulis semuanya untukmu sewaktu aku masih bisa menulis . . .


Beginilah isinya : Selama dua setengah tahun kita menikah, kau selalu menghiburku, menyenangkan hatiku, membuatku selalu tersenyum setiap hari . . . Kau selalu membimbingku dan menjadi imam yang baik untukku . . . Kau tak pernah mengeluh ataupun marah sedikitpun merawatku dan menemaniku yang sekarat ini . . . Kau juga pernah berkata bahwa kau rela memberikan hidupmu untukku, dan kau telah buktikan, kau tinggalkan keluargamu demi menikah denganku . . . Kau benar – benar suami idaman bagi setiap wanita, aku benar – benar beruntung dan bahagia sangat bisa menjadi istrimu, itu merupakan anugerah terindah dalam hidupku . . . Kau selalu menyemangatiku, tak sedetikpun kau membiarkan aku patah semangat dalam menghadapi penyakitku ini . . . Kau benar – benar motivator terbesar dalam hidupku . . . Tapi aku hanyalah wanita penyakitan, istri yang tak berguna dan selalu menyusahkanmu . . . Bahkan selama 2 tahun lebih kita menikah, aku belum pernah memberimu dan membuatmu bahagia, bahkan selama ini kita tak pernah melakukan hubungan suami istri . . . Kau begitu sangat sabar dan kasih, sangat sayang dan cinta kepadaku . . . Aku benar – benar tak sanggup bila harus berpisah denganmu . . . Tapi waktunya telah tiba Abil, waktunya aku pergi . . . Maafkan aku Abil sayang, maafkan aku . . . I love you so much my lovely husband . . . (selesai membaca tulisan Zainab, Abil pun menangis dengan sejadi – jadinya) diapun langsung bilang I love you too my lovely wife . . .


Abil : Apapun yang kau tulis, itu tak kan merubah apapun sayang, hanya satu hal yang harus kau tahu bahwa sampai kapanpun aku tak kan pernah menikah dengan wanita manapun kecuali denganmu Zainab karena cinta pertama dan cinta terakhirku hanya kau seorang, hanya kau seorang Zainab tak ada yang lainnya . . . Mereka berdua pun berpelukan, dan dalam pelukan Abil, Zainab memejamkan matanya dan dalam hati dia berkata “kunantikan kau di pintu surga, sampai bertemu lagi Abil sayang, aku senang bisa pergi dalam pelukanmu”, kemudian dia menghembuskan nafas terakhir . . .


Abil : Zainab, sayang apa kau sedang tidur??? Tapi kenapa kau dingin sekali??? Jangan2 . . . Zainab, Zainab, sayang bangunlah sayang, bukalah matamu, aku mohon bukalah matamu . . . Dokter, dokter, dokter . . . (dokter pun segera datang dan memeriksa kondisi Zainab, ternyata benar Zainab telah berpulang ke Rahmatullah)


Dokter : Maaf Pak, kami sudah berusaha, tapi kami hanya manusia biasa, istri Anda sudah pergi . . .


Abil : Apa dokter??? Itu tak mungkin . . . Zainab bangun sayang, bangun, sayang jangan tinggalkan aku . . . Inna lillahi wa inna illaihi raaji’un . . . (diapun berurai air mata) Iya ini mungkin yang terbaik untuknya, agar Zainab tak lagi merasakan sakit lagi, selamat jalan istriku sayang, sekarang kau sudah bebas dan tak kan menderita lagi, nantikanlah aku di pintu surga . . .


Dua tahun kemudian . . . . . . .


”Hai Abil apa kau tak mau menikah lagi dan ingin punya keturunan???” kata Ibu Abil ”Bagiku hidup hanya satu kali, mati hanya satu kali, jadi menikahpun juga hanya sekali Bu . . . jadi cukuplah satu wanita yang bernama Zainab untuk menjadi istriku dan menjadi ibu bagi anak – anakku” ”Tapi Nak, kau kan tak punya keturunan???” ”Siapa bilang saya tak punya keturunan Ibu??? Bukankah anak – anak di panti asuhan Sayang Bunda, adalah keturunanku dengan Zainab, mereka adalah anak – anak yang kami bimbing selama Zainab masih hidup hingga sekarang . . .


Dialah semangat hidupku Ibu, katanya tidak setiap jalan ada kebahagiaan, dan hidup tak selamanya selalu mudah dan bahagia, jika kita tak meninggalkan kehidupan, kenapa harus meninggalkan cinta . . .


Kau tahu Ibu, setiap kututup mataku dan kubayangkan dia, lalu kubuka mataku lagi, diapun muncul di hadapanku . . .“ ”Hmmm ternyata kau benar – benar setia dan sangat mencintai Zainab, baiklah terserah apa yang akan kau lakukan asalkan kau bahagia . . . “


Semoga berkenan membacanya . .

Oleh Aidah Fachria

Sumber:
http://www.eramuslim.com/oase-iman/aidah-fachria-kunantikan-kau-di-pintu-surga.htm

Tujuh tips untuk menghadapi pelbagai ujian kehidupan

Tiap ujian telah diukur kadarnya
takkan pernah melampaui
apa yang bisa ditampung hati, ditanggung jiwa.
Jadi yang diuji-Nya dari diri,
bukanlah KEMAMPUAN, melainkan KEMAUAN....
Maka tiap penghalang dijalan kehidupan tertakdir,
ada untuk satu alasan sederhana:
Mengetahui sebesar apa tekad kita untuk melampauinya,
dan meloncat kepeluk cinta-Nya

"Laa yukallifullaahu nafsan illa wus'ahaa" (Al Baqarah:286)

 
Pertama, 
Yakinlah bahwa ujian itu merupakan ekspresi cinta Allah pada hamba-Nya. Allah Swt memberikan cobaan agar kita menjadi lebih dewasa dan matang dalam mengarungi kehidupan. Abu Hurairah r.a. berkata, bahwa Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang dikehendaki Allah menjadi orang yang baik maka dia akan diberi-Nya cobaan.” (H.R.Bukhari)
 
Kedua, 
Yakinlah bahwa semakin besar dan banyak cobaan yang Allah turunkan kepada kita, makin besar pula pahala dan sayang Allah yang akan dilimpahkan kepada kita. Dengan syarat, kita dapat menyelesaikan setiap ujian itu secara baik. Anas r.a. berkata: Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnya besarnya pahala itu tergantung pada besarnya cobaan. Sesungguhnya apabila Allah Ta’ala itu mencintai suatu kaum maka Dia mengujinya. Barang siapa yang rela menerimanya, dia mendapat keredhaan Allah, dan barang siapa yang murka, maka dia pun mendapat kemurkaan Allah” (H.R.Tirmidzi)
 
Ketiga, 
Yakinlah bahwa ujian itu akan menghapuskan dosa-dosa yang pernah kita kerjakan. Abu Said dan Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda: “Seorang muslim yang ditimpa penderitaan, kegundahan, kesedihan, kesakitan, gangguan, dan kerisauan, bahkan hanya terkena duri sekalipun, semuanya itu merupakan kafarat (penebus) dari dosa-dosanya "(H.R. Bukhari dan Muslim)
 
Keempat, 
Selalu berfikir positif bahwa apapun yang menimpa diri kita akan menjadi kebaikan. Abu Yahya Shuhaib bin Sinan r.a. berkata, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Sungguh menakjubkan sikap seorang mukmin itu, segala keadaan dianggapnya baik dan hal ini tidak akan terjadi kecuali bagi seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka itu lebih baik baginya, dan apabila ditimpa penderitaan, dia bersabar, maka itu lebih baik baginya.”(H.R.Muslim)
 
Kelima, 
Yakinlah bahwa setelah kita ditimpa kesulitan, maka akan ada kemudahan. Fakta menunjukkan bahwa ide–ide yang hebat sering muncul ketika kita berada di puncak kesulitan.  Prof. Dr. Hamka (Buya Hamka) menulis Tafsir Al-Azharnya ketika beliau berada dalam sel tahanan, dan banyak contoh lainnya. "Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (Q.S. Alam Nasyrah 94: 5- 6)

Keenam, 
Selalu optimistik bahwa kita bisa menyelesaikan setiap ujian yang Allah berikan, karena Allah tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan hamba-Nya. Optimis dapat melahirkan tenaga yang tersembunyi dalam diri kita, kerana itu optimis bisa menjadi bahan bakar untuk menyelesaikan segala persoalan. "Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan dia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.” (Q.S. Al-Baqarah 2 : 286)

Ketujuh, 
Menghadapi ujian dengan usaha dan doa. Kerahkan segala ikhtiar untuk menyelesaikan ujian dan follow-up usaha itu dengan doa. Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. "Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap” (Q.S. Alam Nasyarh 94 : 7 – 8). "Berdoalah kepada-Ku, nescaya akan Aku kabulkan doamu.” (Q.S. Al-Mu’min 40: 60)
Wassalam

Sehelai Baju Koko


Lagi-lagi ini catatan Ramadhan beberapa tahun silam..namun kenyataan yang ada anak-anak di Ambon masih rentan dan kondisinya masih sangat memprihatinkan, mereka masih menjual kantong kresek (shopping bag) dipasar/kedai, menurut mereka jauh lebih baik daripada mengemis..kunjungan April lalu yaa belum ada perubahan dan tahun ini merekapun tetap mengharapkan bisa beli baju baru untuk Lebaran..

Syahdan...

Berkali kali aku gagal menelpon Ambon, kalau tidak kak Ipa yang sedang kepasar atau teleponnya sibuk bicara, sampai akhirnya aku berhasil berbicara dengannya.

"Afwan teteh..tadi kita masih dipasar kita juga mau berLebaran niih" gurau kak Ipa yang akhir akhir ini sibuk mengurus ifhtaran dan mendistribusikan zakat fitrah, hadiah lebaran dari sadaqah kepada para yatim, janda dan para dhuafa.

"Jadi limapuluh ribu itu dibelikan apa kak Ipa..? tanyaku dengan rasa penasaran.

" Mereka belikan baju Koko teh dan itu cuma atasannya saja. Kalau satu stel ya seratusan harganya " jawab kak Ipa.

" Terus bawahannya pake apa dong? aku tambah penasaran lagi,

" Ya pake sarung saja teh, itupun mereka senang yang penting mereka ke mesjid pake baju baru kan"' ahh.. jembar juga hatiku.

Hatiku mulai tersayat, fikiranku menerawang jauh, membayangkan diri ada bersama mereka, pergi kepasar Batu Merah atau Ampelas, di Ambon, belanja bersama mereka atau ..atau membawakan segoni baju dan sepatu sendal untuk yatim yatim itu.

Tapi nuraniku malah tersiksa karena aku tak mampu melakukannya, aku tengah menyesali diri, aku mengutuk diriku sendiri. Diri ini terdzalimi sendiri karena kabar tentang dana zakat itu begitu lambat disampaikan. Dana itu baru dikonfim Ahadnya, jadi Senin atau Selasa mereka baru mendapatkan bagian mereka. Kenapa tidak lebih dini, kenapa tidak lebih awal, kenapa tidak jauh jauh hari disiapkan??

Aku berusaha meredam rasa frustrasi dan kecewa ini.

Suara lengang..terputus sementara aku jauh mengkhayal berada disana, tiba tiba..

'Kalau anak anak asuh kita lumayan teh mereka bisa beli sepatu sandal baru. Dari uang tabungannya, habis mereka sepatunya sudah rusak sekali..' sambung ka Ipa, tambahan berita sungguh membuatku bungah.

" Masya Allah...seneng sekali mereka tentunya..? aku begitu eksiting.

" Ya tahun ini mereka senang sekali bisa pake baju baru dan sendal baru sedang ibunya bisa menyediakan kue lebaran serta ketupat dan lauknya..' terasa pula senyum kak Ipa dari tone nada suaranya.

Kak Ipa menerangkan tentang isi paket untuk ibu ibu janda ini sambil mengeluh juga bahwa daging lembu mahal sekali sampai limapuluh ribu per kilonya.

" Tapi teh saya merasa kasihan..ternyata masih ada ibu ibu yang belum kebagian, padahal rasa rasanya sudah saya bagi kupon, tapi rupanya ada yang tidak terdaftar. Tadi pagi ada 6 ibu datang kerumah, dibawa yatimnya, mereka minta bagian...wah saya tidak enak, karena memang dananya habis" kak Ipah mengeluh.

Kak Ipa mengatakan bahwa mereka harus menunggu sampai siang hari karena dananya belum ada dari Inggris, teman teman masih tunggu orang orang yang bayar zakatnya.

Ibu ibu janda pulang dengan tangan hampa. Kaki-kaki mereka terasa berat menelapak dan menyaruk tanah.Mereka tengah shaum pula. Kecewa. Tak terbayang betapa sumpeknya dada mereka, dirasakan, betapa berat menanggung rasa kecewa itu. Pahit dikatakann oleh kak Ipa dan pahit pula ditelan oleh para ibu janda. Namun masih tersisip sebersit harapan didada ibu ibu..dan pulanglah mereka ke gubug pengungsian...sambil berharap kalau disore hari mereka akan mendapat kabar gembira, mendapat secuil rejeki dari para pemilik hati...yang baru saja mentas menjalankan shaum mengharapkan kefitrian.

***

Yang anehnya tak ada rasa galau dari pihak kak Ipa, dia tengah menyiapkan semuanya untuk Lebaran yang dia sendiri baru kepasar pagi itu, hari Rabu itu. Konon pasar penuh sesak, penuh dan berdesakan, karena hampir setiap mereka berbelanja dihari yang sama. Sementara aku tengah bergelut dengan selaksa rasa duka...memikirkan ibu ibu yang belum mendapatkan bagian, membayang wajah wajah yatim yang tengah meringis..

"Ada sepuluh ibu janda yang menunggu ya..? Aku mulai mencoba lagi bertanya.

" Ya teteh sekitar sepuluh ibu.." jawabnya.

"Sebetulnya saya masih menunggu dana zakat fitrah lainnya, sedang dari KBRI biasanya baru terima di hari H-nya. Gimana kalau kita tambah satu setengah juta kak Ipa, tolong bagikan kepada mereka sekarang juga ya" aku membujuk kak Ipa. Kak Ipa setuju untuk segera memberikan dana itu bagi ibu janda yang belum menerima bagian.

Aku sudah membayangkan kesiapan suaminya untuk siap membawa amplop amplop berisikan dana zakat dengan motornya, pergi ke ruko ruko pengap atau kam kamp pengungsian. Suami yang senantiasa mensupport kegiatan istrinya dengan sepenuh jiwa dan raganya. Subhanallah semoga Allah mencurahkan rakhmatNya kepada mereka berdua.

" Kak Ipa... aku berjanji tahun depan untuk menyiapkan semuanya jauh lebih baik, lebih dini dan lebih giat mencari dana agar semua yang fakir bisa berbahagia di hari Lebaran..'

"Iya teteh..." suara kak Ipa sayup mengihlang, terselang oleh angin.

" Daah gitu aja ya kak Ipa ..Minal aidin wal faidzin salam untuk semua teman teman..".

Kumatikan telefon, lalu kudiam merenung...tiba tiba terasa seperti sebuah sembilu menyayat nuraniku, airmata menyeruak dari kedalaman hati yang mengharap kefitrian di penghujung Ramadhan ini. Aku tak sengaja untuk mengecewakan mereka. Aku menangisi betapa ibu ibu janda, para dhuafa yang jelata ini senantiasa dan sangat menyandarkan harapan pada kita kita ini.

Aku menyesali diriku karena tak mampunya aku, kita, untuk lebih me-intesifkan kerja, menyiapkan semuanya di jauh hari.dan lebih baik.

Setiap kita begitu sibuk, sibuk dengan dunia dan tugas masing masing, hampir tak ada waktu barang sekejapun, hampir larut dan hanyut dikesibukan kita sampai kita melupakan kewajiban kita, sampai kita baru melakukannya pada detik detik terakhir...

Mereka, para dhuafa, para fakir... sesungguhnya telah menolong kita untuk membersihkan jiwa, menggugurkan daun daun kesalahan dan khilaf kita, mengusap karat karat dosa lewat zakat fitrah, zakat maal atau sadaqah jariah kita. Padahal kita tahu sekali kita melemparnya maka mengalirlah hikmah dan manfaatnya untuk diri kita sendiri.

Dan sesungguhnya kitalah yang membutuhkan anak anak yatim. "Anak anak yatim mempunyai kedudukan istimewa si sisi Allah swt dan Rasulullah saw.."

***

Yatim di Acehpun telah menerima dana dan telah mereka belikan baju baru, mereka ke kedai-kedai di Banda Aceh bersama kakak asuh mereka.

Begitu juga Ternate, baru tadi malam mereka dapat kabar gembira bahwa para janda syuhada yang juga mengharap dan menanti lama, setidaknay mereka mendapatkan kebahagiaan yang sama walau cuma sepiring ketupat lengkap dengan sambalan, sedang anak-anaknya mendapatkan sehelai baju Koko baru.

***
 

Aku sudah tak sempat lagi memikirkan kue putri salju, kastangel, opor ayam, naastar, walau ketupat sudah siap dimakan dan dicoba tadi malam karena dikira 1 Syawal jatuh pada hari Rabu. Aku siap sholat Eid di Masjid Besar di Regent Park, London lalu berhalal bi halal di Hamstead, rumah Bapak dan Ibu Dubes yang konon baru tiba di London..

Limpahkan maaf & hampura bila ada kata kata yang tak berkenan...Selamat Lebaran



Detik detik akhir menggapai kefitrian.
London, Rabu 2 November 2005

Al Shahida

Catatan admin:

Ini memang catatan lama Teteh Nizma Agustjik, yang diterbitkan jelang Idul Fitri tahun 2005.

Tapi, bukankah tak ada kata terlambat tuk senantiasa mengajak pada kebaikan? Maka mengingat pentingnya pesan yang dibawa oleh sebuah NOTE ini yakni mengetuk hati para dermawan agar  mau berbagi dan bersedekah ( terlebih di bulan Ramadhan ini) maka sengaja catatan ini diterbitkan agak awal, agar yatim piatu, para janda dan fakir miskin dapat terbantu oleh mereka yang terketuk hatinya. Menarik sekali penekanan yang diberikan oleh Teh Nizma pada catatan ini,  Dan sesungguhnya kitalah yang membutuhkan anak anak yatim. "Anak anak yatim mempunyai kedudukan istimewa si sisi Allah swt dan Rasulullah saw.."  karena mengabaikan mereka juga berarti melalaikan kewajiban kita dan mengabaikan perintah-Nya. Yaa.. Rabb di bulan suci ini, sucikanlah hati kami, agar kami juga mau dan mampu mensucikan segala titipanMu termasuk harta yang Kau titipkan pada kami. Aamiin... 

Terimakasih Teteh Nizma, do'akan kami agar juga bisa berbagi dan bermanfaat bagi sesama melalui apapaun yang kami bisa, dengan apapun yang kami punya.

Bagi yang ingin mengenal penulisnya silahkan Klik Disini


Minggu, 07 Agustus 2011

Ketika Zahra Kecil Ingin Menjadi Sebuah Laptop

“Mana mama..?” Bu Euis bertanya dengan lembut pada Zahra kecil yang manis berkerudung dengan renda indah namun nampak jelas bahwa kerudung itu terstrika dengan asal-asalan alias tidak licin. Namun kemanisan wajah Zahra yang berusia 7 tahun tidak mengurangi keinginan Bu Euis untuk menjawil pipinya sedikit.

Zahra memang anak yang manis, dan berperangai lembut, dia suka menyendiri dan bercakap-cakap sendiri entah dengan siapa di pojok kelas. Menurutnya di rumah juga bila semua orang sibuk, “aku sudah bisa mengajak semua benda becakap-cakap, ada pintu yang besar dan gagah dan melindungiku dengan tertutup kuat, ada juga tempat tidur berseprai putih yang membuatku nyaman dan selimut yang menutupiku dikala aku kedinginan. Selain itu ada juga boneka-boneka yang pastinya berbicara dan berdansa sendiri bila malam hari aku tidur, maka itu Bu Euis aku tidur cepat, seperti yang bu Euis sarankan, yaitu setelah sholat Isya, agar Zahra bisa memberi kesempatan bagi semua mainannya untuk bangun, main dan berkeliling ruangan ketika Zahra sudah tertidur.”

Zahra yang lembut hati, ingin semua mainannya memiliki kebebasan seperti dirinya, sungguh sebuah impian anak-anak, namun ada nilai positif dalam dirinya, yaitu: ingin berbagi pada yang lain.

Bu Euis maklum dan hanya tersenyum mendengar cerita Zahra. Maklum karena Zahra adalah anak tunggal tak ada saudara, kakak maupun adik. Oh ya, Zahra juga sholat Isya berjamaah dengan mainan mobil-mobilan abang yang besar, boneka beruang dan  boneka kelinci yang buntutnya sudah lepas, kemarin Zahra lem buntutnya dengan selotip.

Zahra, tidak punya siapa-siapa dirumah, mbok juga terlalu tua dan senangnya di dapur dan setelah selesai mengerjakan ini dan itu, mbok senangnya masuk kamar, kata mbok tulang mbok sakit jadi mbok senangnya dikamar yang kecil dan bau balsam. Tangan mbok juga gak enak kalau megang mainan Zahra atau bersihkan kamar, maka semuanya jadi bau bawang.

Ayah dan ibu sibuk, hari biasa pulang malam, hari libur ada pengajian, bahkan arisan, undangan dan Zahra jarang diajak, karena acaranya buat orang dewasa semua.   Ibu hanya mencium sesekali dan Ayah lebih banyak diam, ayah dan ibu tidak pernah marah, jangankan marah, ngomong saja juga jarang, sibuk sekali dengan laptop, blackberry dan handphone yang menyala terus-menerus.

“Kadang-kadang, Zahra pengen disulap jadi laptop, agar ayah sering melihat dan membawa Zahra kemana-mana, haha..”  Zahra tertawa sendiri. Dan Bu Euis mengerjapkan matanya dan menahan haru dihati, ketika membaca keinginan Zahra yang simple namun mengharukan.

Ketika itu ada pelajaran Bahasa Inggris, dan semua murid diminta menulis apa saja keinginanya dalam Bahasa Inggris sebanyak maksimal 3 kalimat. Dan kalau ada kata yang salah kata akan dibantu oleh Bu Euis, “jadi tulis saja kalau salah tidak apa apa,” demikianlah Bu Euis yang pandai memotivasi anak-anak untuk percaya diri dalam berbahasa Inggris.  Bu Euis berlinang air matanya tanpa dapat dicegah, ketika Zahra mengungkapkan keinginannya untuk menjadi sebuah laptop,“ I wish to be a laptop, to make me close to ayah, and ayah will bring me everywhere.” Zahra yang cantik ingin menjadi laptop. Agar bisa dekat dengan ayah dan dibawa kemana-mana, dilihat dengan lama, dan dibersihkan bila ada debu.

Ah, Zahra, bila ayahmu tahu, bahwa dirimu lebih berharga dari sebuah laptop, maka akan dicampakkan olehnya barang mahal itu, demi menatap anaknya lebih lama, karena dia tahu betapa berharga anaknya, yang ditangannya ada do’a dan di dalam dirinya terdapat  amal jariyah.

Sumber
http://jisc.eramuslim.com/wp/ketika-zahra-kecil-ingin-menjadi-sebuah-laptop/

Salam Cinta, Mam Fifi
(Founder and Conceptor of
Integrated Islamic International School)

Catatan Admin:

Pada situs eramuslim.com, terdapat satu page dengan label Jendela Hati, admin tidak akan berpanjang lebar memaparkannya karena keterangan tentang hal itu, tercantum dibawah ini. 

Jendela Hati

Motto: The Power of Love
Bercerita tentang hikmah atau apapun yang ceritanya diambil dari masalah keseharian, hasil perenungan, juga pengalaman baik pribadi maupun orang lain, supaya dapat diambil hikmahnya.

Diasuh oleh seorang ibu yang memiliki tiga anak kandung dan anak didik hampir mencapai 1500 sejak 5 tahun berdirinya Jakarta Islamic School — JISc, sebuah sekolah yang dibangun karena cinta. Beliau merupakan konseptor, educator, teacher, trainer dan penggagas awal terciptanya sebuah sekolah "Integrated Islamic Internasional School di Indonesia" yang memiliki kurikulum terpadu (Islam, Indonesia dan Internasional) pertama di Indonesia. Dan harapnya dengan adanya rubrik hikmah yang dinamakan : "Jendela Hati", setiap pembaca mampu mengambil hikmah dan setiap hari lebih baik sebagai insan yang mencintai anak karena ALLOH.

Dengan Islam Kupinang Cinta: Melihat Dan Menangani Cinta Dengan Psikologi Islam

“Ketika kau terpikat cinta, Islamikanlah dia. Ketika sayapnya merengkuhmu, serahkanlah dia pada Al-Qur’an. Jadikanlah virus yang tersembunyi di balik sayapnya dan vaksin di hatimu.

Seumpama kita sesak napas terdekap olehnya, Al-Qur’an akan melapangkan kita, hingga kita menjadi sabar dan tegar. Dan kemudian, Allah akan menyinari pelayaran cinta kita dengan cahaya-Nya, hingga kita siap menjadi penyelam suci yang memancarkan kekudusan Tuhan.”

Kita tidak pernah mengerti, bagaimana cinta bisa hadir dalam diri. Cinta serasa datang begitu saja, tanpa aba-aba, tanpa rencana matang, lantas dengan polos cinta mengetuk pintu hati kita memberi kabar yang membuat kita kelu tak tentu arah.

Namun, makna cinta yang tersimpul dari kajian psikologi selama ini, telah menghadapkan kita pada dua jalan: Jalan kedewasaan ataupun gairah, serasa tidak ada Islam di dalamnya. Karena itu Freud pernah berujar bahwa libido adalah roda yang menggerakkan jati diri.

Selain itu, dengan triangular of love-nya, Sternberg pun mengalami benturan. Rasa-rasanya Triangular of Love ala J. Sternberg belum mampu menjelaskan konsep cinta antara anak dan orangtuanya, adik dan ayahnya. Sebab pada esensinya Konsep cinta Sternberg mengacu kepada cinta kepada pasangan dan komitmen mempertahankannya, belum lah menyertakan makna keislaman yang mendalam.

Cinta Dalam Islam
Sekarang problemnya adakah payung ilmu yang bisa menahan arti cinta secara menyeluruh. Apakah ada penjelasan cinta komperhensif dan bisa dibaca dari segala arah bagi kita sebagai umat muslim? Jawabannya? Mari kita lihat bagaimana Islam sebagai agama kita menjelaskan tentang tauhidi makna cinta yang amat mendalam.

Kata cinta dalam Al Qur’an disebut Hubb (mahabbah) dan Wudda (mawaddah), keduanya memiliki arti yang sama yaitu menyukai, senang, menyayangi.

Sebagaimana dalam QS Ali Imron : 14 “Dijadikan indah dalam pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (syurga).” Dalam ayat ini Hubb adalah suatu naluri yang dimiliki setiap manusia tanpa kecuali baik manusia beriman maupun manusia durjana.

Adapun Wudda dalam QS Maryam : 96 “ Sesungguhnya orang-orang beriman dan beramal sholeh, kelak Allah yang maha pemurah akan menanamkan dalam hati mereka kasih sayang.” Jadi Wudda (kasih sayang) diberikan Allah sebagai hadiah atas keimanan, amal sholeh manusia.

Dipertegas lagi dalam QS Ar Rum: 21 ketika Allah berfirman, “ Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah ia menciptakan untukmu dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung merasa tentram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”

Dalam ayat inipun Allah menggambarkan ‘cenderung dan tentram’ yang dapat diraih dengan pernikahan oleh masing-masing pasangan akan diberi hadiah (ja’ala) kasih sayang dan rahmat.

Dalam fil gharibil Qur’an dijelaskan bahwa hubb sebuah cinta yang meluap-luap, bergejolak. Sedangkan Wudda adalah cinta yang berupa angan-angan dan tidak akan terraih oleh manusia kecuali Allah menghendakinya, hanya Allah yang akan memberi cinta Nya kepada hamba yang dkehendakiNya.

Allah yang akan mempersatukan hati mereka. Walaupun kamu belanjakan seluruh kekayaan yang ada di bumi, niscaya kamu tidak akan mendapatkan kebahagiaan cinta jika Allah tidak menghendakiNya. Oleh karena itu terraihnya cinta—wudda pada satu pasangan itu karena kualitas keimanan ruhani pasangan tersebut. Semakin ia mendekatkan diri kepada sang Maha Pemilik Cinta maka akan semakin besarlah wudda yang Allah berikan pada pasangan tersebut.

Cinta inilah yang tidak akan luntur sampai di hari akhir nanti sekalipun maut memisahkannya, cinta atas nama Allah, mencintai sesuatu atau seseorang demi dan untuk Allah.

Problematika Cinta

Kita mungkin pernah sama-sama merasakan, ada suatu fase dalam hidup kita saat dimana pikiran, hati, kaki, tangan, dan jiwa kita ditentukan oleh cinta, bagaimana segala kebahagiaan itu ditentukan dari kesuksesan cinta dalam balutan standar manusia. Pada konten ini kemudian cinta berubah menjadi sayembara yang kerap melontarkan kata-kata penjara jiwa seperti “Hidupku akan mati jika diputus oleh kekasih” atau “Kita tidak bisa hidup tanpa kekasih”. Sedangkan, remaja kerap berkata, “Jika mempunyai kekasih, belajar akan lebih termotivasi”. Malah bisa jadi ada sumpah serapah yang terlontar kepada laki-laki atau perempuan yang telah mengkhianati cinta? Dan sebelum itu ketika saya kuliah, ada kawan berujar serius .”Akhi, pacaran adalah keniscayaan untuk merasakan cinta. Lo harus nyoba, kalau memang mau paham cinta”.

Saat itu saya tertegun, meretas senyum kepadanya, dan melambungkan mata ke atas untuk mengeri arti cinta sejati. Tanpa disadari kita sudah meletakkan sesuatu yang pasti kepada manusia yang lemah, individu yang tak tahu masa depan itu sendiri

Ketika kita mulai menjajakan cinta dan pada akhirnya kita gantungkan harapan cinta itu kepada manusia, pasti yang ada kekecewaan, karena kemampuan manusia terbatas. Ia tidak bisa memastikan, ia tidak bisa menjadi penentu pasti, manusia tetaplah manusia dengan segala kelemahannya. Adagium, sepandai-padaninya tupai melompat akhirnya jatuh juga, tidak bias makhluk, dan bukan sekedar pepatah dalam rangka mengingatkan ikhtiar manusia, karena pada kenyatannya, Allah telah menggariskan kemampuan manusia jauh sebelum adagium itu hadir. Sehubungan ini Allah SWT berfirman:

“Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah.”(QS. An-Nisa, 28).

“Allah telah menciptakan kalian lemah, kemudian menjadi kuat, lalu setelah kuat kalian menjadi lemah dan tua.” (QS. Rum, 54).

Masih banyak ayat lainnya yang menjelaskan hal serupa, mirip, dan memiliki kesamaan. Bahkan jauh melompat dari kedua ayat di atas, pada momentum ayat yang lainnya, Allah terang-terangan mengidentifikasikan manusia dalam keadaan yang begitu rentan terhadap hati. Dalam surah ke 70 ayat 19, Allah berfirman: “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir”,

Tidak berakhir disitu, kemudian Allah menjelaskan lagi perihal makhluk hidup ini yang akan membuat kita terangsang untuk lekas mengintropeksi diri, muhasabah, dan kembali kepada khittah kehidupan cinta, yakni firman yang berbunyi selang dua ayat berikutnya, “dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir”.
Problematika cinta manusia, sudah jauh di lukiskan dengan amat baik oleh Ibnu Qayyim. Dikaji mendalam oleh Imam ghazali, dan mundur ke belakang di tulis dengan amat menyentuh oleh Ibnu Taimiyyah. Tentu kapasitas penulis teramat jauh dengan kemampuan ulama besar itu yang kerap dikaji pada tiap malam di sebuah mesjid indah di Depok, dengan kitab Fenomenal Tazkiyatunnufus.
Ada banyak varian dari timbulnya problematika cinta, salah satunya bagaimana kita salah mengelola qalbu dalam cinta. Qolbu adalah wilayah yang urgen dalam kehidupan, hingga Rasulullah pernah mengeluarkan hadisnya yang menyentuh,
“Ketahuilah sesungguh dalam jasad ada segumpal darah. Jika ia baik seluruh jasad akan baik pula. Jika ia rusak maka seluruh jasad akan rusak. Ketahuilah bahwa itu adalah qalbu.”
Banyaknya manusia yang terpuruk dalam cinta dan dikuasai hawa nafsu tak lepas karena kita mengingkari kesucian qolbu, hati, dan nilai-nilai fitrah dalam diri. Wilayah sensitif ini menjadi lupa untuk kita perhatikan karena sudah demikiannya kita jauh dari Allah, dan merasa diri sombong dengan meletakkan ayat-ayat ilahi sebagai prioritas kedua dalam mengarungi cinta. Naudzubillah.

Kekuatan Hati

Saudaraku, percayalah, hati yang cemas, kikir, gelisah, kotor, dan merasa lelah menjalani hidup, dikarenakan kita sudah meletakkan standar-standar duniawi sebagai syarat kebahagiaan hakiki. Kita rela menyiksa hidup dengan syarat-syarat wahn yang sebenarnta tak bisa kita lakukan. Kalau kita mau jujur saja, secara hakiki, kesemua itu malah jauh dari sumber kebahagiaan yang sebenarnya, yakni ketenangan batin bagaimana kita selalu dekat dengan Allah.

Saudaraku, Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu pernah berkata bahwa “Tidak sempurna keselamatan qalbu seorang hamba melainkan setelah selamat dari lima perkara: syirik yg menentang tauhid bid’ah yang menyelisihi As-Sunnah, syahwat yg menyelisihi perintah kelalaian yg menyelisihi dzikir dan hawa nafsu yang menyelisihi ikhlas.” Hamba yg memiliki qalbun salim akan selalu mengutamakan kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia yg mana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mempersiapkan tempat di surga.

Saudaraku, salah satu kunci kenyamanan hidup dimulai dari bagaimana kita mampu membangun suasana hati. Jika hati kita ikhlash dan bersih dengan penuh ketawadhuan, sesuatu yang kita pandang hina jadi sedemikian mulia, yang tadinya kita pandang kurang ternyata teramat cukup, sesuatu yang kita lihat kecil dan tak berdaya berubah jadi sangat besar dan penuh makna, dan apa yang kita lihat sedikit, dan ternyata terlampau banyak. Dan itu di mulai dari hati.

Sekarang apakah kita mau melepaskan segala ego, kesombongan, dan sebongkah egoisme besar dalam diri kita. Kini, apakah kita juga rela berhenti sejenak melepas atribut keduniawian kita untuk menghadap one by one dengan Allah dengan berkata jujur di depan SinggasanaNya. Jika kita berani, rasakanlah ada aliran kesejukan dan ketenangan yang sebelumnya tidak kita rasakan. Ia menetramkan. Ia pun mampu merubah paradigma kita tentang cinta, hidup, dunia, ujian, psikologis, dan sebagainya.

Jika tidak itu kembali kepada diri pribadi, apakah kita masih ingin bertahan lama pada topeng-topeng yang khusus diciptakan Allah untuk menguji keimanan kita? Demi Hidup yang digenggam olehNya, peracayalah itu kembali kepada kita.

“Maka apabila hari kiamat telah datang. Pada hari ketika manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya. Dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada tiap orang yang melihat. Adapun orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia maka sesungguh nerakalah tempat tinggalnya. Dan adapun orang yang takut kepada kebesaran Rabb dan menahan diri dari keinginan hawa nafsu maka sesungguh surgalah tempat tinggalnya.” (An Naziat ayat 34-42). Allahua'lam. (pz)

Sumber
Eramuslim - Media Islam Rujukan
http://www.eramuslim.com/berita/analisa/dengan-islam-kupinang-cinta-melihat-dan-menangani-cinta-dengan-psikologi-islam.htm

Sabtu, 06 Agustus 2011

Wahai Jiwa- Jiwa Yang Ikhlas...

Betapa banyak orang yang terpenjara dalam sempitnya sangkar hati yang begitu sangat membelenggunya. Sedangkan kunci untuk memerdekakan hidup dan batinya tersebut hanyalah dengan ikhlas. Namun keadaannya masih juga belum berubah. Semua karena keengganan atau rasa separuh hati yang menuruti perhitungan untung rugi yang dikatakan logikanya. 

Maka ditangguhkannya kemerdekaan jiwanya tersebut dan dinikmatinya kesakitan yang berkepanjangan. Jika semua sudah sampai pada titik puncak, sayang sekali bahwa dia lalu melanjutkan kemarahan dan penghujatan tiada henti kepada Allah, karena merasa telah didholimi-Nya. 

Tidak, sama sekali tidak, Allah adalah sang maha penyayang atas hambaNya.

Sejenak lihatlah betapa telah jelas terbukti bahwa alangkah kerugian dan kesempitan yang menyita batin manusia jika dia tidak mau atau tidak mau tahu tentang keberadaan aturan tuhannya. Dan betapa pandai manusia ketika dia dapat menghebatkan batinnya untuk tertuntun dalam keteduhan jalan Allah. salah satu nilai kehebatan itu terkandung dalam Ikhlas. Bukan hanya kesediaannya menyerahkan jiwa kepada tuntunan kehendak Allah, namun ikhlas adalah tentang memohon untuk yang terbaik,berusaha untuk hasil terbaik sampai batas akhir sebuah kekuatan yang kemudian hasilnya kita terima dengan penuh syukur,dan atau kemudian lebih berusaha lagi demi yang lebih baik.

Jiwa yang ikhlas tidak terlalu cerewet bertanya tentang keberlakuan takdir Allah atasnya, melainkan jiwanya berkata bahwa Allah yang paling tahu atas kebutuhan hidupnya. Dibesarkannya pemikiran positif atas sang maha pengatur hidupnya itu, karena kepastian diberikan dan dipenuhinya kepentingan atas hidup dan keberlangsungannya.

Jiwa yang ikhlas akan berhenti hanya bertanya, tanpa bersungguh-sungguh mencoba. Dipertebal rasa malunya untuk memerintah sang maha kuasa guna mengharuskan mudahnya kebaikan itu datang baginya, sebelum dia ikhlas berupaya.

Jiwa yang ikhlas akan menghentikan rengekan atas permintaan jaminan penghargaan oleh para makhluk ataupun dari penciptanya, karena kuatnya keyakinannya bahwa kebaikan adalah jaminan kepastian bagi yang ikhlas.

Jiwa yang ikhlas tidak akan gampang menyalahkan Allah atas kelemahan dan kealpaannya. matanya akan melihat dan kemudian berpikirbahwa ternyata banyak orang lain yang tidak sekuat dia namun akhirnya lebih berhasil dari padanya karena keikhlasannya.

Jiwa- jiwa yang ikhlas menyadari dan mengakui serta menetapkan hati bahwa Allah subahanahu wata'ala adalah maha dalam segalanya. sungguh, ketetapan itu tidak diterimanya kecuali dengan damai.diperkuatnya kesungguhan,maka batinnya akan berkata bahwa Allah yang akan menghebatkan sekecil-kecil kekuatan,untuk merampungkan sebesar-besar tugas dan kepentingan hidupnya.

Lihatlah, jiwa- jiwa yang ikhlas terlihat tampil lebih besar dari ukuran kemanusiannya. Sendirian dia bisa melakukan tugas dari seribu orang. Dia melihat yang tiada mampu dilihat manusia lain, dan dia dapat mendengar atas sesuatu yang tak tersuarakan. dia dapat mempelajari dan mengambil hikmah lebih banyak dari pada para batin manusia lain yang terlalaikan. Kelebihan kesaktian tersebut pasti akan dilebihkan oleh Allah sebagai sebuah harga yang lebih dari pantas. Jiwa yang ikhlas adalah jiwa yang sakti.

Dan sesungguhnya Allah tidak akan pernah mencukupkan satu bahasa cukup untuk menggambarkan keindahan kehidupan bagi jiwa yang ikhlas, karena ikhlas adalah bagai sebuah siklus tanpa akhir yang membahagiakan dan memerdekakan manusia.

(Syahidah/voa-islam.com)


Sumber:
Voice of al-Islam on South East Asia (www.voa-islam.com)
http://m.voa-islam.com/news/article/2011/08/05/15728/wahai-jiwajiwa-yang-ikhlas/

Nizma Agustjik muda, ketika menjadi relawan di Ambon
Dari admin tentang penulis:

Diatas tertera penulisnya adalah Syahidah, beliau sebenarnya adalah sosok yang tak asing diblog ini, si teteh yang amat bersahaja ini adalah kakak sekaligus guru bagi admin bahkan untuk tulisan sebagus itupun beliau merasa tidak perlu menonjolkan identitasnya. Tulisannya banyak dimuat di situs-situs muslim bergengsi lainnya seperti Era Muslim dll. Wanita yang amat peduli dengan anak-anak yatim, janda dan orang-orang terlantar ini, tinggal di London, tapi kepeduliannya seolah tidak dibatasi lingkup tempat dan waktu. Itu sebabnya beliau mendirikan semacam lembaga donasi yang peduli dan menaungi mereka.  Betul Syahidah adalah nama lain dari seorang Nizma Agustjik, bagi yang ingin mengenalnya silahkan Klik Disini

 

Mengenal lebih dekat VOA-ISLAM.COM:

Dipercaya Umat, VOA-ISLAM.COM Gelar Program 'Bedah Rumah Muallaf & Dhuafa'

GENAP berusia dua tahun, voa-islam.com mendapat kepercayaan lebih dari umat. Tidak hanya akses berita, opini dan dakwahnya saja, kini diberi amanah menyalurkan dana renovasi rumah sederhana untuk para muallaf dan kaum dhuafa. Semoga di tahun ketiga ke depan, voa-islam.com benar-benar menjadi aset umat Islam.

Setelah sukses menggalang dana untuk biaya pengobatan dan pelunasan hutang puluhan janda muallaf Korea, kini voa-islam.com diberi amanah menyalurkan dana renovasi rumah sederhana oleh komunitas Muslim Indonesia di Australia (Indonesian Islamic Association INC).

Bantuan tunai diterima langsung oleh Pemimpin Redaksi voa-islam.com, M Abdul Gani, disampaikan oleh H Insan Mokoginta (Wencelclaus) yang bulan sebelumnya melakukan dakwah di Australia selama sepekan. Untuk tahap pertama, voa-islam.com diberi amanah untuk menyalurkan bantuan renovasi empat rumah.
Rumah pertama yang direnovasi voa-islam.com berlokasi di Kampung Bulu, Tambun Kabupaten Bekasi. Rumah berukuran 6 x 7 meter ini di survey langsung oleh Pemred voa-islam.com dan Ustadz Badrul Tamam, pengasuh rubrik Islamia.

Kelayakan rumah untuk direnovasi, karena rumah mungil ini dihuni oleh keluarga aktivis Islam berisi delapan jiwa, salah satu di antaranya adalah seorang akhwat hafizhah (penghafal Al-Qur'an).
Ketiadaan dapur, kamar mandi dan WC, menambah rumah di pinggir kali ini semakin layak untuk direnovasi. Fasilitas rumah ini pun serba kekurangan: tak ada instalasi listrik, tak ada dipan atau ranjang, tidur hanya beralas tikar seadanya di lantai.

Fasilitas termewah dalam rumah ini adalah sebuah pesawat radio untuk mendengarkan siaran taklim on air dan pompa air manual untuk kebutuhan sehari-hari.
Dengan bantuan uang tunai sepuluh juta rupiah, renovasi pun dilakukan, dibawah pengawasan Ustadz Badrul Tamam.
Renovasi dimulai dengan memperlebar bangunan dua meter ke samping untuk ruang musholla keluarga, dan meninggikan lantai setinggi 30 cm untuk menahan banjir di musim hujan. Selama ini, air hujan selalu membanjiri rumah, terutama saat hujan lebat.
Tahap selanjutnya adalah memperluas bangunan 3 meter ke belakang. Peluasan ini dilakukan untuk membuat kamar mandi, WC dan dapur.

Alhamdulillah, berkat dana bantuan komunitas Muslim Indonesia yang berdomisili di Australia, delapan orang penghuni rumah ini bisa beribadah lebih khusyuk dan beraktivitas harian dengan nyaman.
Bayangkan, selama ini rumah mungil yang dihuni 8 orang itu menyatu dengan dapur. Kemudian untuk buang hajat, mandi, cuci pakaian dan sebagainya dilakukan di kamar mandi belakang rumah yang sangat tidak memadai. Kamar mandi plus WC berada di ruang terbuka tak beratap, hanya beberapa tiang kayu yang dililit kain dan sarung bekas yang diikat ke pepohonan di sekitarnya.  Dengan kain bekas yang bolong-bolong itu, bisa anda bayangkan ketika mereka mandi atau buang hajat? Astaghfirullah...

Kini mereka sudah memiliki musholla, kamar tamu yang lebih lega, kamar yang lebih luas, kamar mandi dan WC yang representatif. Para penghuni rumah sangat bersyukur kepada para donatur. Mereka bisa memasak di dapur, bersuci di kamar mandi, shalat di mushalla, dan tidur di kamar yang layak.

Semoga Allah SWT membalas kebaikan para donatur dengan pahala dan kebaikan berlipat di dunia dan akhirat. Insya Allah dari tiap rakaat shalat di mushalla, para donatur dapat menuai pahalanya di akhirat nanti. Amiin ya Robbal ‘alamin.

Sayangnya, dalam pengamatan Pemred voa-islam.com, sepuluh juta belum cukup untuk finishing bangunan rumah tersebut. Rumah masih berdiri kasar, tanpa dicat dan tanpa dipelur halus. Karena semen sudah habis, padahal pasir masih banyak tersisa.

Masih banyak kaum dhuafa yang hidup di rumah tak layak. Anda berminat membantu mewujudkan baiti jannati bagi kaum dhuafa? Hubungi redaksi voa-islam.com: 08777.9060700 atau 0812.1980.8500.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa memberikan pertolongan kepada hajat saudaranya, maka Allah selalu memberikan pertolongan kepada hajat orang itu. Dan barangsiapa melapangkan seseorang Muslim akan satu kesusahannya, maka Allah akan melapangkan untuknya satu kesusahan dari sekian banyak kesusahan pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang menutupi cela seseorang Muslim maka Allah akan menutupi celanya pada hari kiamat" (Muttafaq 'alaih). bersambung [taz, badru]

Selasa, 02 Agustus 2011

Tantangan Ramadhan Kami: Homeschooling!

(Ini adalah catatan Ramadhan terbaru "Icha" di Norwegia, sebuah note yang bernilai plus karena memaparkan upaya gigih seorang ibu dalam mendidik putranya di waktu libur. Semoga bermanfaat)

Fatih (4 tahun) yang sedang belajar di rumahnya
Ramadhan kali ini sangat menyenangkan sekaligus penuh tantangan. Menyenangkan karena aku dan Fatih mulai libur sejak awal Ramadhan. Untuk sementara aku tak perlu mondar – mandir antar jemput dia ke TK-nya, sekaligus bisa berkonsentrasi penuh pada amaliyah Ramadhan. Dia pun bisa beraktivitas di rumah dengan pengawasan sepenuhnya dariku (Ayahnya ’kan sibuk bekerja di kantor).

Tantangannya adalah ini pertama kali aku mencoba menerapkan full homeschooling alias sekolah di rumah untuk anak semata wayang kami.

Setahun belakangan aku memang sudah mulai mengajarinya dasar – dasar keagamaan, seperti beberapa surat pendek Al Qur’an, Rukun Islam, Syahadat, dan budi pekerti Islami. Maklumlah, aku tak bisa berharap banyak dari sistem pendidikan dini di negara ini. Menurutku, kalau situasi luar tidak kondusif, aku harus berusaha menciptakan situasi kondusif di rumah. Selain itu, aku berprinsip bahwa nilai – nilai keagamaan dan moral harus dimulai dari rumah, oleh orang tua.

Nah, beberapa minggu sebelum Ramadhan tiba, aku berpikir dan berdiskusi dengan suami untuk memberikan pendidikan dasar kepada Fatih, yang mencakup mengenal angka dan huruf, kemudian berhitung dan membaca, juga melanjutkan pendidikan Islam, di rumah. Dasar pemikiranku adalah, aku yakin aku mempunyai kemampuan dan semangat untuk mengajari anakku ini. Selain itu, alangkah sayangnya waktu libur si anak kalau hanya dihabiskan dengan menonton TV atau bermain yang kurang terarah.

Lebih jauh lagi, aku ”tak sabar” dengan sistem pendidikan dasar Norwegia di mana anak baru secara resmi mulai diajari mengenal angka dan huruf di sekolah dasar (saat anak berusia 6 tahun). Aku berpikir, mengapa tidak mencuri start dan mulai mengajarinya sekarang? Apalagi dari berbagi pengalaman dengan teman – teman di Indonesia dan Malaysia, rata – rata anak usia 4 tahun ke atas di sana sudah pandai membaca dan berhitung, bahkan mulai lancar mengaji!

Jadi, dengan berbekal informasi dari teman, buku dan internet, aku mulai menyusun ”kurikulum” homeschooling yang sudah kuubahsuai dengan kondisiku dan si kecil. ”Kurikulum” alias jadwal beres, bukan berarti tugas selesai. Justru di sinilah tantangan sebenarnya. Berusaha untuk konsisten dan tetap menjaga semangat belajar sesuai jadwal ternyata bukan hal yang mudah. Belum lagi menghadapi mood anak yang secara alamiah masih ingin lebih banyak bermain daripada belajar. Kesabaranku sebagai seorang ibu dan guru privat betul – betul diuji. Sang guru harus berpikir dan bekerja ekstra keras agar proses belajar mengajar ini bisa berjalan lancar tanpa membuat bosan, tapi ”target” tetap tercapai. Siapa bilang jadi guru itu mudah?

Memasuki hari kedua Ramadhan, alhamdulillah kami masih bisa konsisten pada si jadwal. Mudah – mudahan bisa begitu seterusnya hingga tiba waktu mudik ke Indonesia. Nanti di Indonesia jadwalnya lain lagi. Aku berencana tetap mengajarinya apa yang sudah kuajarkan di sini sewaktu kami berlibur nanti. Setidaknya 1 jam setiap hari dialokasikan untuk belajar. Jangan sampai sepulang liburan nanti semua pelajaran yang sudah tersimpan di otak Fatih lenyap tak berbekas karena baik murid maupun gurunya sama – sama terlena :-).

Fatih and His Viking Friend, taken at  Espira Barnehage, Haugesund
Berikut ini adalah jadwal hariannya selama Ramadhan:

Jadwal Homeschooling Ramadhan Fatih (1-16 Agustus 2011)

07.00 – 09.00: Bangun, Mandi, Sarapan
09.00 – 10.00: Belajar sepeda roda dua; ke taman kompleks
10.00 – 11.00: Belajar: Baca*; Berhitung**
11.00 – 13.00: Bebas" (main apa saja boleh, tanpa TV)
13.00 – 14.00: Makan siang
14.00 – 16.00: Tidur siang
16.00 – 17.00: Belajar: Ngaji***
17.00 – 18.00: Bebas"  (boleh nonton TV, maksimal 30 menit saja)
18.00 – 19.00: Makan malam
19.00 – 20.00: Belajar: Baca; Berhitung
20.00 – 21.00: Belajar: Ngaji
21.00 – 21.30: Nyanyi****
21.30 -          :  Tidur (disertai dongeng pengantar tidur*****)

Menurut pendapatku, 4 jam belajar dalam sehari untuk anak seusia Fatih (4 tahun) cukup masuk akal. Toh diselingi juga dengan banyak waktu untuk bermain, dan sedikit waktu untuk menonton TV (aku termasuk ibu yang berpandangan bahwa terlalu banyak TV membuat anak jadi malas. Buku jauh lebih baik). Aku mengijinkan Fatih untuk menonton TV agar bahasa Norwegia-nya tidak hilang selama liburan, karena kami di rumah 95% berbahasa Indonesia.

Mudah – mudahan sedikit pengalaman yang kubagi ini bisa diambil manfaatnya oleh teman – teman yang berminat memberi pendidikan anak usia dini di rumah. Tentu saja aku akan sangat menghargai dan berterima kasih apabila ada saran dan masukan dari pengalaman kalian semua.



Catatan:

*Baca: Fatih sudah hafal 29 alfabet Norwegia (26 alfabet latin plus huruf khas Norwegia: ø, æ, å). Sekarang dia sudah mulai belajar merangkai huruf dan membaca dengan bantuan alat peraga seperti yang tampak dalam foto di atas.

**Berhitung: aku mengajarinya berhitung dalam dengan angka – angka dalam bahasa Norwegia, sebagai persiapan untuknya memasuki masa SD tahun depan. Alhamdulillah dia sudah mulai lancar berhitung (penjumlahan dan pengurangan) sampai 20 dengan metode mencongak yang kuciptakan sendiri. Dia juga sudah bisa menyebutkan angka dari 1 – 60 dalam bahasa Norwegia.

***Yang kuajari dalam pelajaran mengaji adalah hapalan surat – surat pendek Al Qur’an, Rukun Islam, Rukun Iman, doa – doa singkat, nama – nama Nabi & Rasul serta malaikat, juga kisah – kisah para Nabi & Rasul. Kisah favoritnya adalah kisah Nabi Adam, Nabi Yunus, Nabi Musa & Nabi Daud; karena banyak tentaranya, katanya :-).
Aku juga sudah mulai mengenalkan huruf hijaiyyah padanya, meskipun belum terlalu intensif.

****Nyanyian yang kuajarkan padanya adalah lagu – lagu Indonesia, seperti Indonesia Raya, Kasih Ibu, Indonesia Pusaka, Pergi Sekolah, Bintang Kejora, dan lain – lain. Ini jadi hiburan tersendiri untuk dia dan untukku juga :-).

*****Aku terbiasa mendongeng untuknya; baik membacakan dari buku, maupun dongeng karanganku sendiri. Menurutku kebiasaan mendongeng sejak anak berusia dini sangat bagus karena bisa mengembangkan daya imajinasi dan pikirnya.

 "Pada saat "bebas" ini sang guru bisa melanjutkan kegiatan "pribadi" seperti bebersih rumah, memasak, dan tadarrus Al Qur'an.

Pelajaran moral ceritaku kali ini: Kalau ingin anak rajin belajar, orang tua juga harus mau belajar! 

Salam...

oleh Savitry 'Icha' Khairunnisa pada 02 Agustus 2011 jam 20:59
Icha, suami dan putranya Fatih
Catatan admin:

Bagi sebagian orang liburan berarti lepas dari kesibukan apalagi jika bertepatan waktunya dengan Ramadhan. Tidak demikian halnya dengan Icha, ia bekerja dan berpikir keras tuk mengisi waktu luangnya ini dengan hal-hal yang bermanfaat bagi pendidikan putra sematawayangnya tanpa mengabaikan kekhusyukan amaliyah Ramadhannya. Dengan kata lain tak ada waktu yang terbuang di Ramadhannya selain tuk ibadah-bukankah tidurnya orang berpuasa saja bernilai ibadah?

Kegigihannya dalam menanamkan nilai-nilai kedisiplinan dan benih atau dasar-dasar religius pada putranya Fatih (terinspirasi Mehmet Al Fatih, pejuang Islam dari Ottoman), patut diacungi jempol. Banyak orang yang pandai menyusun program atau jadwal kegiatan -- di bidang apapun -- tapi gagal dalam penerapannya. Karena kunci dalam mendidik adalah ushwah, contoh atau teladan. Bagaimana mungkin kita berharap anak kita akan rajin beribadah atau belajar sementara kita orang tuanya malas melakukannya. Anak adalah lembar kertas putih yang polos, maka isilah dengan dasar keimanan (pengenalan akan Tuhannya), kecintaan, ketulusan dll. baru kemudian hiasi dengan ragam keilmuan untuk bekalnya kemudian.

Semoga catatan mba' Icha diatas, dapat  memotivasi kita untuk lebih giat dalam beribadah di bulan Ramadhan ini sekaligus menjadi pelajaran bagaimana seyogyanya orang tua bersikap dalam mendidik anak-anaknya.

Demikian catatan admin untuk tulisan diatas, semoga ada yang bisa kita petik darinya. Terimakasih untuk mba' Icha yang sudah mau berbagi pengalaman dan ilmunya, semoga ini dapat menjadi catatan kebaikan untuknya. Aamiin.....

Salam dari kami disini untuk keluarga dan sahabat di Norwegia, semoga dapat menunaikan ibadah puasanya dengan baik dan selalu dalam lindungan-Nya.

NB: Untuk sahabat pengunjung/pembaca blog yang ingin mengenal lebih dekat lagi dengan penulis, silahkan klik disini.